Part 2

-The Call-

Pagi itu aku menceritakan semua kepada miku, yang kebetulan tinggal serumah denganku.. Miku meyakinkan aku bahwa itu semua hanyalah mimpi dan dia meminta ijin untuk mencari sumber berita baru..

Pagi itu, sekitar pukul 10, aku kembali turun ke lantai bawah.. Aku melihat sebuah memo kecil dari miku bertuliskan

"Rei, aku sudah membuatkan pancake aku letakkan di atas meja, hangatkan selama 30 detik, oh iya jangan lupa mencetak foto rumah kemarin"

Ampuuun, miku sudah seperti mamaku haha.. Maklum aku memang orangnya agak berantakan, dan tomboy.. Bisa dilihat dari gaya rambutku yang potong pendek dan tomboy. . .

Setelah aku memakan pancake ku, aku segera menuju ruang cuci film.. Ku mencuci beberapa foto hasil rumah kebakaran kemarin.. Sekilas aku teringat foto lorong rumah itu. . .

Dengan cepat kucari film foto itu dan kucuci..

Sesuai dugaan, foto itu terlihat agak buram, dn sesosok pria mirip Yuu itu memang terlihat berdiri di lorong rumah itu..

Dengan segera aku menelpon miku dan menyuruhnya pulang, Sesampainya di rumah, aku menjelaskan semua kepada miku, miku terdiam.. Dia tidak dapat berkata kata lagi. . . Wajahnya tampak pucat..

"Miku? Ada apa?" Kataku.

"Eh? Tidak, tidak apa2 rei. . . Aku mau ke kamar sebentar ya. ." Kata miku sambil naik ke kamarnya..

Aku yakin.. Pasti mimpi kemarin ada kaitannya dengan Yuu.. Tapi apa?

Malam harinya, aku terbaring di ranjangku.. Memikirkan bagaimana caranya mencari koneksi antara kematian Yuu dan rumah tua tersebut..

Hari semakin larut, dan aku pun tertidur lelap di tempat tidurku..

Tepat sesuai dugaanku..

Aku kembali ke dalam rumah tua tersebut.. Kali ini aku terbangun di taman rumah dan terdapat pohon yang sangat besar di tengahnya..

"Taman ini . . ." Kataku sambil memegang kepalaku.. Aku menyadari bahwa di tanganku ada sebuah lentera biru yang menyala. .

Belum sempat aku memandang sekitarku, tiba tiba . . .

*cring* *cring*

Suara lonceng itu terdengar kembali, aku segera melihat ke segala arah untuk mencari sumber suara tersebut..

"Yuu? Dimana kamu?" Kataku sambil melihat sekelilingku..

Sampai akhirnya kutemukan Yuu.. Tepat di jendela lantai 2 yang terbuka. . . Yuu masih menatapku dengan wajah pucat dan tatapan kosong. . .

"Yuu. . Sudah cukup. . Aku mohon..."

Yuu memalingkan muka dan menutup jendela itu. . .

Tanpa pikir panjang lgi, aku segera berlari memasuki rumah itu. .

Sesampainya di dalam, semua terasa gelap.. Beruntung aku tetap menggenggam lenteraku.. Semua tampak samar.. Perabotan kuno, lengkap bersama hiasan jepang kuno, menghiasi tembok rumah itu, sayang sudah rusak dan berdebu..

Aku tidak lagi mendengar suara lonceng itu.. Semua sepi..

Aku mencoba mencari jalan untuk naik ke lantai atas.. Namun yang ada hanya lorong panjang dan ruangan besar.. Aku berjalan menelusuri lorong tersebut..

Di ujung lorong tersebut, aku menemukan sebuah ruangan besar dengan tungku kuno di tengahnya..

aku memandang sekitarku. . Semua tetap berdebu, dan beberapa genteng rusak sehingga salju berjatuhan ke dalam..

Aku mencoba mengangkat lenteraku agar bisa melihat seisi ruangan.. Di pinggir ruangan itu terdapat sebuah tangga yang besar..

"Mungkin aku lebih baik segera naik ke atas" pikirku..

Aku segera berjalan menaiki tangga tersebut.. Hembusan angin dari genteng yang berlubang itu mengenai tubuhku..

Kali ini aku bisa merasakan dinginnya salju itu mengenai sekujur tubuhku..

Belum sempat ku menapakkan kaki di ujung tangga tersebut, sesosok wanita dengan pakaian lusuh berlari di depanku..

"Pergiiii sana! Tinggalkan aku!" Katanya sambil berlari memasuki pintu di ujung ruangan..

"Hey? Hey! Tunggu. . . Kamu siapa?" Teriakku..

Aku memutuskan untuk mengejar wanita itu.. Tiba tiba pintu itu terkunci..

Aku berusaha mengetuk pintu itu

"Hey! Kau di dalam? Bukakan pintunya.. Aku tidak akan melukaimu.." Kataku

Tidak ada jawaban dari dalam.. Aku tetap berusaha mengetuk namun tidak ada jawaban jga..

Ruangan itu hanya ada 1 pintu dan tangga untuk pergi ke ruangan besar

sebelumnya..

Aku terpaksa memilih mencari jalan lain.. Sewaktu aku membalikkan badan..

*cring* *cring*

Aku terdiam..

Terdapat sebuah kain menyerupai kertas di atas kakiku..

"Haah.. Huuft.. Tenang Rei, itu hanyalah sebuah kertas" pikirku..

Aku mengambil kertas tersebut. .

Kertas itu bertuliskan " R" namun dengan huruf jepang kuno..

"Ayah? Apa maksudnya?"

Aku terlahir tanpa seorang ayah, dan ibuku meninggal saat aku masih sangat kecil. Sehingga membuatku agak bingung dengan kertas itu..

Aku memasukkan kertas itu ke dalam saku celanaku dan menuju ruangan bawah..

Baru kusadari ternyata ada sebuah pintu tepat di bawah tangga itu.. Hembusan angin mulai terasa lagi, namun kali ini semakin keras..

Bisa kurasakan dan kudengar suara ranting pohon yang tertiup angin, membuat rumah itu semakin menakutkan..

Dengan cepat aku segera berlari menuju pintu tersebut.. Namun, saat kusentuh gagang pintunya.. Semuanya hening.. Tidak ada suara angin dan ranting yang berjatuhan lagi..
Sesaat sebelum aku mencoba membukanya, sebuah suara merdu namun menyeramkan, masuk ke dalam telingaku..

"Kau.. Kah... Itu? Hi.. Hiroshi?"

Aku terdiam.. Matakku terbelalak memandangi pintu tersebut... Keringatku bercucuran.. Saat aku mencoba untuk menengok kebelakang..

Ternyata . . .Tidak ada siapa siapa. . .

Jantungku berdegup kencang. . Keringatku semakin banyak.. Aku memandangi ruangan itu.. Memang tidak ada apa apa..

"Huuft tenang Rei.. Hanya khayalanmu.."

Setelah menenangkan diri beberapa saat, aku berbalik ke arah pintu tersebut..

Aku menggenggam gagang pintu itu. . Mencoba untuk membukanya..

"A. . Yah. . . Ada. . Di.. . Mana?. . ."

Suara lain muncul kembali.. Dan aku yakin. . Suara it terdengar sangat jelas. . . Aku gemetaran. . Sesaat stelah aku mendengar suara itu, "Aaaaaaaaaaa! " Teriakku. Aku menengok kebawahku.

Sesosok gadis kecil dengan wajah pucat dan berdarah darah muncul di bawahku..

Bayangan putih muncul melingkari leherku.. Aku semakin ketakutan dan tetap menjerit. .

"Hi. . Roshi? Di. . . Mana?"

Sesosok wanita dengan rambut panjang sebahu yang mengenakan kimono muncul di belakangku sambil merangkul leherku..

Aku mendorong diriku menjauh dari pintu hingga terjatuh.. Aku melihat 2 sosok itu menghilang dan muncul kembali di hadapanku.. Semakin lama semakin dekat..

" Pergi kalian! Pergi!" Jeritku sambil menutup mataku..

Wajah mereka berubah, mata dan mulutnya menjadi hitam dan membesar.. Mereka melayang layang mendekatiku..

Aku menjerit sambil menutup mataku.. Aku tak bisa membayangkan kejadian berikutnya apa yang akan tejadi..

Sampai akhirnya, tiba tiba lenteraku menyala terang. . .

Kedua sosok itu tampak kesakitan..

"Huh? Ada apa ini?" Kataku kebingungan. .

Aku menggunakan kesempatan itu, aku segera berlari menuju pintu itu saat kedua sosok gaib itu masih tertahan kesakitan..

Aku tiba di sebuah lorong panjang dan gelap.. Aku ingat lorong ini tempat pertama aku datang ke rumah ini..

Aku berlari berusaha menuju pintu rumah besar tersebut.. Namun tanpa kusadari, kakiku tersandung suatu benda dan membuatku terjatuh keras.. Aku segera melihat kebelakang..

Aku melihat sosok wanita yang menggunakan baju lusuh tadi..

aku berusaha menahan sakit dan ketakutanku..

Wanita itu tampak panik sambil menangis.. Dan dia juga berbicara sendiri dalam bahasa jepang sangat cepat hingga tak sempat kumengerti..

Aku memberanikan diri untuk menyapanya..

"Hey? Kamu tidak ap. . . .

"Whoaaaaa!"

Belum sempat aku menyelesaikan pertanyaanku, wanita itu menjerit dan berlari ke arah dalam rumah tersebut..

"Hey! Hey! Jangan pergi..." Kataku

Percuma sepertinya, dia sudah menghilang.. Aku melihat dia menjatuhkan kertas di dekatku..

Segera aku mengambil kertas itu dan membukanya.. Isinya sebuah copian passport yang terlihat modern dengan nama "Yoshino T. . . ." Nama belakangnya tertutup bekas terbakar..

"Ini? Passport?bagaimana bisa ada dsni?" Pikirku

Belum sempat ku selesai berpikir, tiba tiba nafasku sesak.. Aku mencoba memasukkan kertas itu ke kantong celanaku lagi..

Aku terdiam.. suasana tiba tiba terasa begitu sunyi. .

Pandanganku tak bisa luput dari sosok yang berdiri di ujung lorong tersebut..

Sesosok wanita dengan kulit biru tua, dan badannya dipenuhi coretan seperti tato..

"Hah.. Haah.. si.. Siapa?.. Haah" kataku sambil berusaha memperbaiki nafasku..

Wanita itu berjalan.. Tanpa berkata kata.. Lilin lilin di sekitarnya padam.. Meninggalkan lorong di belakangnya menjadi tak terlihat. . .

"Huuf.. Haah.."

Badanku tidak dapat bergerak.. Kakiku gemetaran, nafasku sesak.. Semua terasa sunyi.. Aku dapat merasakan suara tidak keluar dari bibirku..

Wanita itu berjalan kemudian semua lilin di lorong itu padam.. Menyisakan lilin di tempatku sampai pintu keluar..

Aku terdiam. . .

Pandanganku terpaku pada lorong yang tadinya remang remang, sekarang sama skali tak terlihat lagi..

Sosok itu muncul dengan cepat. . . Tepat di depan wajahku..

Wajahnya penuh dengan coretan tato, dan matanya yang terbuka lebar berwarna kuning dan besar..

"AAAAAAa!" Teriakku..

Aku bergegas untuk berlari menuju pintu keluar itu. . .

Wanita itu mengejarku..

Aku berlari sambil melihat kebelakang untuk mengetahui apakah ia masih mengejarku..

Aku dapat melihat, sosok itu tak memakai baju, hanya yukata bagian bawah, sedangkan tubuh bagian atas penuh tato... Tangannya terdapat lubang ckup besar begitu pula dengan kakinya..

Aku tetap berlari, berusaha menjauh darinya..

Ia tetap berusaha meraihku dengan tangannya..

Hingga sbelum sampai di pintu kluar, aku merasakan jari wanita itu menyentuh pundak kananku..

*cring* *cring*

Perlahan tpi pasti, aku dapat mendengar suara samar dari sosok itu..

"Biarkan. . . Aku. . . Tidur. . .se. . Lamanya"

*cring*

Aku terbangun dari tidurku.. Hari sudah siang dan saat aku dapat melihat, diriku telah kembali ke kamarku. . .

Aku teringat akan kata kata yang terakhir kudengar..

"Biarkan aku tidur selamanya?" Pikirku..

Tiba tiba pundak kananku terasa sakit.. Aku melihat bercak hitam mulai muncul dan menyebar di pundak kananku seperti tato..

"Aaaaaargh!" Jeritku kesakitan. .

Tato itu berhenti menyebar pada lengan kananku. .

"Haah haah.." Kataku menahan sakit itu..

Tato itu menyala kemudian menghilang..

"Haah.. Apa ini? Haah.." Kataku..

Tato itu hilang seketika, begitu pula dengan rasa sakitnya. . . Aku mencoba memegang kepalaku. . . Dan sesaat sbelum aku bangun, 2 buah kertas terjatuh dari dalam kantong celanaku. . .

"Hm? Apa ini?" Kataku sambil meraih kertas itu. . .

"A. . .Apa? Ti. . Tidak mungkin!" Kataku sambil menutup mulutku..

Kertas bertuliskan "FATHER" dan sebuah copian passport itu. . .ada di genggaman tanganku. . .

Tidak mungkin. . .

To be continue part 3
"The Tattoos"