The call of the tattoos
Part 4
-the lullaby-
aku terduduk di depan gerbang rumah itu. . . rumah itu tertutup bayangan salju yang semakin deras turunnya. .
"kenapa harus aku? Kenapa?" pikirku dalam hati
*cring*
Suara lonceng kecil yang sudah biasa kudengar berbunyi lagi di kepalaku. . dengan cepat ku mengangkat kepalaku. .
Aku melihat sebuah tangan tepat berada di depanku, aku memandangi tangan itu sambil perlahan melihat pemilik tangan itu. . . aku terdiam. . .
"Y. . .yuu. ." kataku perlahan
Wajah Yuu bersinar sinar, dan ia tersenyum. . .
Aku meneteskan air mata, aku segera berdiri dan ingin memeluknya. . .
Tiba tiba,
*cring cring*
Aku melihat wajah Yuu mulai terlihat pucat, tato yang mirip seperti milikku menjalar dari tangan sampai wajah Yuu. . .
"aaaaaaaaaaaaargh... Reiiiiii" jerit Yuu
"Yuu! Kmu kenapa? YUU!" kataku sambil memegang kedua tangannya
"aaargh!" jerit Yuu
Yuu mendorongku hingga terjatuh. . . ia tetap berteriak bersamaan dengan tato itu menyebar sampai seluruh wajahnya. . .
"Yuu! Tidaaak.."
Aku melihat sebuah bayangan berbentuk tangan muncul dari balik punggung Yuu, tangan itu merangkulnya dari belakang..
"YUU!" jeritku
Aku kembali berdiri dan mencoba meraih tangan Yuu, begitu pula Yuu yang berusaha meraih tanganku. . . namun, sesaat sebelum aku dapat meraihnya, sebuah bayangan berwujud wanita dengan rambut yang panjang muncul dari balik tubuh Yuu. . . ia menarik Yuu menjauh dariku dan kemudian menghilang ke dalam gerbang rumah itu. . .
"Yuu! "
Aku segera mendobrak masuk pintu rumah itu. . .
*cring*
Semua gelap dan sunyi, namun yang menangkap perhatianku ialah secercah cahaya biru yang menyala nyala di sebelah pintu masuk tersebut. . .
Sinar itu ternyata datang dari lentera biru yang dahulu aku jatuhkan saat aku diserang wanita misterius tersebut.
"lentera ini. . ."
Tiba tiba aku teringat akan foto gadis kecil yang membawa lentera tua saat mncoba mencari tahu tentang keberadaan rumah tua ini di net. . . aku mengangkat lentera itu dan melihat secara detail. . . lentera itu berbentuk segi enam, dengan ukiran seperti ular berwarna kuning pucat dengan sebuah lilin biru di dalamnya. . . aku dapat melihat sebuah ukiran kecil di bagian bawah lentera itu. . .
"Reika. . .Yuukishiro. . ." kataku mencoba membaca ukiran itu. .
*ting* . . .. *ting*
suara seperti benda logam yang dipukulkan mulai terdengar samar samar di telingaku. Perlahan lahan suara itu semakin jelas terdengar dan semakin keras. Udara di sekitarku tiba tiba menjadi sesak. . .
aku memegang dadaku sambil berusaha memperbaiki nafasku. Aku dapat mendengar sekumpulan suara yang membentuk seperti alunan syair atau lagu. . semakin lama suara itu semakin jelas. .
aku mencoba mencari sumber dari suara tersebut, akhirnya aku tiba di ruangan tengah, tempat dahulu aku pernah diserang. . aku menarik nafas panjang dan membuka pintu kayu itu secara perlahan. .
*cring* *cring*
Aku membuka pintu tersebut, aku terdiam kaku. . . ruangan itu berbeda. . sinar matahari dapat terliha menembus dari ventilasi kecil, perapian terlihat rapi dan apinya menyala. . seorang wanita berambut panjang dan mengenakan yukata hijau tua terlihat sedang membereskan sesuatu di pojok ruangan. . aku dapat melihat perut wanita itu buncit, seperti sedang mengandung. .
Tiba tiba seorang pria datang dari pintu tempat aku masuk tadi. . pria itu berdiri di sebelahku. . .
"pssst. . . Kirue?" kata pria itu berbisik
Wanita itu berbalik badan, aku kaget. . wanita itu wajahnya mirip sekali dengan sosok menyeramkan yang menyerangku kemarin. .
"Hiroshi? Sedang apa kau disini? Kamu tahu kan aturan di rumah ini laki laki dilarang berada di tempat ini!" kata wanita itu
Tiba tiba pria itu memeluknya dan meraba perut buncit wanita itu. .
"aku hanya ingin menengok kamu dan keadaan anak kita ini"
Kirue tampak terdiam dan tersenyum manis sambil memeluk hiroshi. Tiba tiba semuanya menjadi gelap, sekitarku berubah seketika menjadi malam hari. . . pandanganku tertuju pada sebuah keranjang kecil, dimana ada seorang bayi mungil yang sedang tertidur pulas. .
Aku dapat melihat wanita bernama Kirue itu sedang terduduk pucat sambil megaduk kayu bakar agak perapian itu tetap menyala. .
*Brak!*
Aku membalikkan badanku. . 2 orang pria berpakaian serba putih muncul sambil membawa pria yang bernama hiroshi masuk ke dalam ruangan. . hiroshi terlihat lemas dan berlumuran darah. . orang yang terakhir masuk membuatku terkaget sampai menutup mulutku. . ia adalah wanita yang dahulu berbicara denganku saat pertama kali bertemu. . tato di pundakku mulai terlihat kembali. .
"HIROSHIIIIIII..." jerit Kirue sambil terjatuh tepat di tempat dia berdiri. . .
Wanita tua itu menjambak rambut hiroshi sambil menegakkan kepalanya. . .
"Aturan di rumah ini... tidak ada lelaki selain pendeta yang boleh masuk" kata wanita tua itu. .
"Master Yashuu. . aku mohon. . ampunilah dia. . dia tidak tahu. ." kata Kirue sambil menangis dan menyembah wanita tua yang bernama Yashuu tersebut.
"Ki. .Rue. ."
"bawa pria ini ke rift. . . siapapun yang melanggar aturan di rumah ini, harus mati. ." kata Yashuu
"tidaaaaaaaaak! Hiroshiii!" jerit Kirue sambil berlari ke arah Yashuu.
Pria itu diseret keluar oleh kedua pendeta pria tersebut. . darah hiroshi berceceran di lantai ruangan itu, sampai di pintu. . disusul dengan Yashuu yang ikut keluar ruangan. .
Aku terdiam sambil menutup mulutku. .
*cring* *cring*
Keadaan ruangan itu berubah seketika. . aku memandangi pintu ruangan itu kembali menjadi berdebu dan turun salju dari lubang di genting tepat di atasnya. . . aku jga dapat melihat bekas darah yang terseret menuju pintu keluar. .
"apa apaan itu barusan? Tidak mungkin aku bermimpi di dalam mimpiku" pikirku
Namun belum sempat aku berpikir lebih jauh, aku mendengar suara isak tangis seorang wanita. . dengan cepat aku membalikkan badanku. . . aku dapat melihat wanita dengan kimono hijau tua tadi terduduk di depanku sambil menangis dan menutupi wajahnya. .
"ki. .Kirue?" kataku sambil perlahan ingin menepuk pundaknya. .
"hiks. .hi. . ro. .Shi. ." kata wanita itu sambil menangis. . .
Tiba tiba tanganku digenggam olehnya. . dia membuka tangannya dan tampak, wajah wanita itu pucat putih, dengan mata dan mulut yang terbuka lebar dan mengeluarkan darah. .
"HIROSHIIIIIIIII!" jerit Kirue sambil mencoba menarikku
"aaaaaaa. . . . tidaaaaaaak! Jangan!" jeritku sambil meronta mencoba melawan genggaman Kirue.
Tangan kirue elepaskan tanganku, dan berpindah menuju leherku. . . ia mulai mencekikku sambil tersenyum lebar. . .
"ma..ti kau.. Ku..ze.."kata Kirue. .
"uhuk.. Kirue. . lepaskan. . .uhuk"
Tiba tiba lentera biru di tanganku bersinar. . reflek aku mengangkat lentera itu ke dekat wajah Kirue. .
"aaaaaaaaaaaargh.." jerit kirue sambil melayang pergi. .
"uhuk. .uhuk . ."
Aku mencoba untuk berdiri, namun kakiku terasa lemas. .aku berpikir bahwa menggunakan lentera itu menghabiskan energiku. . aku segera mencoba sekuat tenaga untuk bangkit. . sambil memegangi kakiku. .
*ting* *ring*
Suara dentingan logam itu mulai terdengar lagi. . kali ini berasal dari ujung ruangan itu. .
Aku berusaha mengatur nafasku. . samnil menahan lemas kakiku. . aku tidak yakin dengan apa yang akan muncul dari balik pintu di ujung ruangan tersebut. .
Suara lagu yang mereka nyanyikan kini semakin jelas. .
"sleep. . priestess lie in peace. . . Sleep Priestess lie in peace. . . if the priestess wakes from her dreams. . ."
Begitulah sebagian lirik dari lagu yang mereka nyanyikan. .
Pintu itu terbuka. . aku dapat melihat keempat orang gadis kecil masuk ke ruangan itu sambil bernyanyi. . seempatnya membawa palu yang dipukulkan ke arah paku yang juga mereka bawa. . yang terakhir muncul ialah, seorang wanita dengan rambut panjang dan tubuhnya dipenuhi tato berwarna biru tua dan menyala. .
Tiba tiba pundakku terasa sangat sakit. . tato itu dengan cepat menyebar dari pundak sampai ke lengan dan leherku. .
"aaaaaaaargh...stop!" jeritku sambil menahan sakit...
Wanita bertato itu benjulurkan tangannya kedepan, dan tiba tiba, Yuu muncul di depan mereka semua dan tepat di depanku. .
Karena tak kuasa menahan sakit, aku terjatuh sambil memandangi Yuu. .
Tubuh Yuu terlihat lemas dengan wajah tertunduk sama seperti hiroshi tadi. .
"Yuu! Kamu kenapa? Aaargh..." kataku menahan sakit..
Wanita bertato itu menjulurkan tangannya lagi.. dan keempat gadis itu berjalan ke arah Yuu. . .
"mau apa kalian? Huuft.. kalian apakan Yuu?" jeritku
Gadis gadis itu mulai bernyanyi semakin keras dan lantang. . paku besi yang mereka bawa, mereka tempelkan di punggung Yuu. .
"hey! Tidaaaaaaaaaaak. . Jangaaaaaaan!" jeritku
Rasa sakit ini membuatku tidak dapat berdiri dengan kedua kakiku. . aku terus berusaha melawan sambil meronta di lantai kayu tua itu. . aku memandangi Yuu, keempat gadis kecil itu, dan wanita misterius bertato itu. .
"Re. .i"
Mendengar suara itu, aku berhenti meronta. . air mataku jatuh, saat aku melihat wajah Yuu ang pucat sambil mengeluarkan darah dari bibirnya. .
"Y. .Yuu. ." kataku sambil terkapar di lantai dan berusaha menjulurkan tanganku untuk meraih wajah Yuu. .
Gadis gadis itu mengangkat palu mereka secara serentak. . dan wanita bertato itu mulai menjulurkan tangannya lagi. .
"Re. .i. . .maafkan. . . ak" kata Yuu
Palu palu itu diturunkan secara serentak dan cepat. .
"Yuuuuuuuuuuuuuuuu!"
*ting*
Suara dentingan paku itu terdengar bersamaan dengan suara jeritan Yuu. .
*Ting*
"hah? Hmmh. . haadh. ."
Aku kembali terbangun di kasurku. . nafasku terengah engah. . aku mencoba membenarkan nafasku sambil merapikan rambut dan memegang kepalaku yang penuh keringat. .
"Yuu. . ." kataku sambil menghapus air mataku. . .
Aku mencoba untuk meraih air minum di seberang kasur dekat pintu kamarku. . namun sesaat sebelum aku berhasil meraihnya. .
"sleep priestess. .lie in peace. . . sleep priestess. . ."
Seseorang ada yang bernyanyi dari arah lantai bawah. . dengan cepat aku menengok dari atas tangga kamarku. . . ternyata suara itu ialah suara miku. . . aku terdiam. . bagaimana miku bisa tahu tentang lagu itu?
Aku memutuskan untuk berjalan ke lantai bawah untuk menghampirinya. .
"tidak bisa tidur miku?" tanyaku. . .
"oh. . Rei-san. . maaf. . aku telah membangunkanmu. ." kata miku sambil menundukkan kepala. .
"tidak apa apa, kamu tau lagu yang barusan kamu nyanyikan dari mana miku?"
"lagu yang mana Rei-san?" tanya miku kebingungan. .
"itu yang sleeping sleeping itu. ." tanyaku
"aku mendengarnya lewat mimpiku Rei. . lagu Lullaby itu selalu muncul di setiap mimpiku. .seakan akan lagu itu menghantuiku. ."
Aku terdiam sambil memasang wajah kebingungan.
"sudahlah Rei-san. . sudah larut, miku ijin ke kamar dulu ya. ."
Aku hanya mengangguk saja tanpa berkata kata. . miku pun berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. . aku terduduk di sofa sambil memandangi gerimis hujan yang turun di halaman rumah. .
"bagaimana bisa, lagu Lullaby yang kudengar di mimpiku bisa sama persis dengan yang barusan kudengar dari miku? Lalu kemana sebenarnya hiroshi dibawa? Mengapa wanita bertato itu slalu menghantui di setiap mimpiku? Lalu ada apa dengan lentera biru itu?"
To be continued part 5
