The call of tattoos

-The Victim -

"rei. ."

"i. .iya?" tanyaku sambil memandang miku

"aku mendapatkan foto korban waktu itu. ." kata miku sambil menunjukkan sebuah foto

Foto itu menggambarkan seorang wanita yang wajahnya mrip pada paspor yang kutemukan di rumah itu, hanya saja, wajahnya sudah dipenuhi tato dan kulit yang putih pucat..

"ini foto yang diambil ketika yoshino menghembuskan nafas terakhirnya beberapa hari yang lalu.. setelah itu jasad yoshino menghilang begitu saja meninggalkan bercak hitam seperti tinta di kasurnya. . aneh bukan?" Tanya miku sambil memandangku heran

Aku teringat kembali kejadian hari itu saat aku bertemu yoshino. . .

"pergi! Tidak biarkan aku pergi!" kata kata yoshino kembali terdengar dikepalaku. .

"rei? Rei?!" kata miku sambil menepuk pundakku.

"apamungkin. . yoshino terjebak di dalam rumah itu. . ." gumamku sendiri

"rumah? Rumah apa rei?" Tanya miku semakin heran

"miku. . beritahu aku, sepertinya kamu pernah bilang kamu mendengar seperti alunan lagu lullaby dri dalam mimpimu kan?" tanyaku

"i. . iya rei, lagu itu selalu terdengar di kepalaku setiap aku terbangun dari tidurku. . knp?" kata miku

"rumah tua dan sekelilingnya turun salju?" tanyaku

"iya. . disana memang turun salju, lalu banyak terdapat lorong panjang. . lilin. . meja batu. . dan mafu. . ah lupakan saja. ." miku memotong pembicaraannya

"mafu? Siapa?" tanyaku

"ah iya! Aku harus segera beli susu lagi, nampaknya kita sudah kehabisan stok susu. ." kata miku sambil bergegas mengambil tas belanja dan pergi

Belum sempat aku memanggilnya kembali, miku sudah menghilang begitu saja

"kenapa dengannya?" pikirku bingung

Aku menghela nafas panjang akuberpikir panjang tentang semua kejadian ini,mengapa semua makhluk di rumah itu menunjukkan kisah mereka kepadaku? Kenapa harus menahanku di dalam sana? Kenapa yuu tetap berada di rumah itu?

*cring**cring*

"ugh.." keluhku sambil mengusap kepalaku. .

Nampaknya aku akan mulai terbiasa dengan hal ini.. aku terbangun di sebuah ruangan tempat kyouka beristirahat. Hanya saja tidak ada kimono satupun yang menggantung disana..

Kali ini pintu ruangan itu sudah tidak terkunci lagi, aku segera keluar dari ruangan itu, di luar ruangan tersebut terdapat lorong panjang dengan anak tangga menuju ke bawah dank e atas. Karena aku merasa pernah datang dari arah bawah, maka aku memutuskan untuk tetap naik ke atas.

Lorong lorongitu terlihat lebih redup dari biasanya, lilin ang tampaknya tidak ada habisnya tetap menyala meskipun angin bertiup cukup kencang yang menembus dinding rumah yang berlubang..

"AAAARGGGGHH! STOP!"

Suara teriakan yang sangat lantang membuatku terkaget. .

"suara itu? Yoshino?" pikirku

Aku dengan segera berjalan kembali ke ruangan utama di rumah itu. Sesaat sebelum aku masuk ruangan itu, aku kembali berpikir. . bagaimana kalau aku kembali diserang seperti bberapa hari yang lalu di ruangan itu?

*cring*

Tiba tiba aku melihat kilauan cahaya biru redup dari arah ventilasi kecil yang terletak di bawah tembok tersebut.

Aku mencoba berjongkok untuk melihat sumber cahaya itu. .

"lentera itu. . bagaimana bisa jatuh ke bawah sana?" pikirku.

Ventilasi itu tertutup sebuah jeruji yang terbuat dari kayu yang nampaknya sudah mulai rusak dan tua. Aku mulai mencoba menarik kayu itu untuk merusaknya.

*krak*

"aaah!" teriakku sambil terjatuh kebelakang

"nampaknya aku terlalu banyak mengeluarkan tenaga. ." kataku sambil mencoba berdiri dan membersihkan celanaku yang kotor akibat debu.

Tanpa membuang banyak waktu lagi, aku mencoba masuk melewati lubang di ventilasi itu,karena ruangannya sempit, aku bahkan harus sampai merangkak untuk memasukinya..

Lorong itupenuh dengan debu, sarang laba laba, dan berbagai macam jenis dedaunan tua yang berserakan.

"biarkan. . .. aku. . pergi. ."

Aku terdiam, suara itu berasal dari arah belakang. Aku mencoba membalikkan pandanganku, namun tidak ada siapa siapa.

*kresek*

"hah? Siapa disana!?" kataku sambil membalikkan kepalaku mencari sumber suara tersebut.

"tolong. . . aku. . ." bisikan itu kembali muncul

"kamu siapa? Biarkan aku membantumu! Katakana padaku" teriakku

Sebuah tangan meraih rambutku dari belakang dan menariknya dengan kuat.

"aaargh! Tidaaaak! Lepaskan aku!" aku menjerit sambil berusaha menarik rambutku.

Aku berusaha memegang tangan itu dan melemparkannya ke arah depan.

*brak*

Sesosok wanita dengan rambut yang lumayan panjang terjatuh mengenai pilar kayu penyangga di lorong sempit itu.

"haah. . haah. . siapa kamu?" kataku perlahan

Wanita itu berbalik badan dengan sangat cepat dan segera memposisikan dirinya sama seperti diriku, hanya saja lebih rendah. . . jauh lebih rendah, seperti seekor laba laba yang merayap.

"gah! Biarkan aku bebas!" teriak wanita itu sambil merayap menjauh dariku secepat kilat.

Aku hanya terdiam. . wanita itu tidak berpenampilan sama skali seperti penghuni kuil lainnya.. apakah ia memang meninggal disini? Ataukah sama seperti yoshino?

Tanpa berpikir panjang lagi, aku kembali merangkak maju dan meraih lentera biru itu.

"disini kamu rupanya. . " pikirku sambil berusaha mengangkat lebih tinggi untuk menerangi lorong itu.

Di ujung ruangan tersebut terdapat tatami yang terbuka (penutup lantai untuk sebuah ruangan) dan ada cahaya muncul dari atasnya. Aku memutuskan untuk melanjutkan menelusuri lorong menuju tatami yang terbuka tersebut.

Lubang tatami itu ternyata tepat berada di ruangan dibalik pintu yang terkunci itu, sebelum naik ke ruangan itu, aku mencoba melihat sekitarku dengan lentera biru itu. Ruangan itu tampak kosong, dengan segera aku naik ke atas. . karena aku merasa wanita tadi akan muncul, maka aku menutup tatami yang terbuka itu. .

"Apa yang kamu lakukan?"

*cring**cring*

Tiba tiba suara itu muncul dari belakangku.. secara perlahan aku membalikkan badanku. . ruangan yang gelap dan suram itu kemudian berubah menjadi terang dengan lilin di sepanjang dindingnya dan perapian di tengah ruangan yang menyala

Seorang wanita dengan yukata coklat tua menyapaku sambil membawa peralatan makan yang banyak.

Aku hanya memandangi wanita itu tanpa berkatakata. .

"hm? Reika? Kmu kenapa?" Tanya wanita itu sambil memandangi wajahku dengan kebingungan..

Reika? Reika? Kenapa wanita itu memanggil aku reika? Sekilas aku memandangi lentera yang selalu kupegang di tanganku. Lentera itu tampak lebih terang dari biasanya. Apakah karena aku membawa lentera reika ini?

"reika? Reika!?" kata wanita itu membuyarkan lamunanku.

"eh? i. . iya aku tidak apa apa. ." kataku perlahan

Wanita itu segera meletakkan peralatan makan tadi ke meja yang berada di dkat kita berdua. .

"kak reikaaaa. .."

Tiba tiba seorang anak kecil melompat naik ke punggungku. .

Aku menoleh kebelakang, seorang anak kecil yang sekiranya berumur 4 tahunan dengan potongan rambut pendek sedang asik memeluk punggungku. .

"kozue. . jangan seperti itu hayoo. . sini turun. ." kata wanita itu

Anak kecil itu langsung turun dan berjalan di depanku. . aku memandangi mereka berdua. .tiba tiba aku teringat akan mereka. . mereka ialah sepasang ibu dan anak yang beberapa hari yang lalu menyerangku. . nampaknya akibat lentera ini, mereka tidak menyerangku dan menganggap aku salah satu dari mereka. .

"reika? Kamu yakin baik baik saja? Apakah perlu aku buatkan the?" Tanya wanita itu

"oh tidak. .tidak perlu. . umm. ."

"kirue. . kirue fukuzawa,reika. . kamu memang seorang yang pelupa haha . ." kata wanita itu sambil tertawa.

Aku hanya tersenyum saja tanpa berkata kata. . kozue memegangi tanganku dan memperhatikannya. .

"kak reika . ."

"i. . iya kozue?" kataku sambil tersenyum memandangi anak manis itu.

"bagaimana bisa kakak memiliki rambut yang sangat panjang? Bagaimana bisa juga kulit kaka sangat putih dan indah?" Tanya kozue sambil mengelus telapak tanganku. .

"umm . uh. ." aku bingung harus berkata apa padanya, rambutku tidaklah panjang sama skali. .

"nona reika. . saya permisi dulu ya. . saya takut nanti master yashuu akan marah kalau saya tidak berada di tempat saya. ." kata kirue sambil membungkukkan badannya padaku.

"oh. .iya. ." kataku perlahan

"ayo kozue. . kita kembali ke dapur. ." kata kirue sambil menggandeng tangan putrinya.

*cring**cring*

Ruangan itu kembali menjadi gelap dan rusak dalam sekejap. .

Aku menghela nafas panjang sambil berusaha melihat sekitarku..

Aku menemukan anak tangga yang menuntunku ke tempat pertama kali aku bertemu yoshino. Maka dengan tanpa berpikir panjang lagi, aku segera menaiki anak tangga itu.

Sesampainya di atas anak tangga itu, aku mulai mendengar seperti seorang wanita sedang bergumam sendirian. Aku mencoba mendekati arah sumber suara tersebut.

"beberapa hari yang lalu, pintu ini Nampak terkunci" pikirku sambil kembali mengingat saat pertama melihat yoshino, pintu itu terkunci.

*klik* *kriiiet* nampaknya pintu ini terbuka kali ini, aku segera membukanya secara perlahan

Di belakang pintu tersebut terdapat sebuah lorong dengan 2 ruangan besar di sisi kiri dan kanannya. Aku mengangkat lenteraku sambil berhati hati berjalan masuk.

"tidak. . aku tidak bersalah. . aku tidak melakukan apa apa. ."

Suara yoshino kembali terdengar perlahan dari ruangan di sebelah kanan. Aku menggeser pintu ruangan itu . yoshino tampak terduduk di ujung ruangan tersebut sambil memegangi kedua pundaknya.

"yo. .shino?" aku memberanikan diri untuk memanggilnya. .

Dengan cepat yoshino menatapku. .

"siapa kamu?" katanya perlahan sambil gemetaran…

"namaku rei. . tenang saja. . aku tau tentang dirimu. . aku tidak akan menyakitimu. ." kataku sambil menunduk dan berjongkok di depan yoshino

"aku tidak bersalah!aku tidak tahu apa apa!" yoshino berteriak sambil mendorongku

"aah!" jeritku sambil terjatuh kebelakang.

Yoshino kembali menggeser badannya ke ujung ruangan.

Aku kembali terduduk sambil memandanginya. .

"uuh. . yoshino. . tenang saja! Aku disini bukan untuk menyakitimu. . aku disini ingin menolongmu. ." kataku memastikan tujuanku untuknya.

"tidak ada yang bisa keluar. . tidak ada yang selamat. . tidak ada yang hidup. ." kata yoshino

"yoshino. . jangan takut padaku. . biarkan aku membantunmu. ." kataku sambil menjulurkan tanganku padanya.

"aku. . tidak takut padamu. . . tapi. . .pada mereka . ."

Sesosok bayangan hitam muncul dari balik punggungku dan mendorong perutku menjauh dari yoshino. .

"aaargh!" jeritku sambil terseret menjauh ke arah pintu ruangan tersebut sambil terguling guling.

"huuf. . haah. ."

Aku berusaha menahan sakit di perutku sambil menoleh kea rah yoshino, aku terkaget. . sosok bayangan hitam kira kira ada 4 bayangan hitam muncul dan melayang layang di sekitar yoshino.

"tidaaak! Aku tidak bersalaaaaaah! " teriak yoshino sambil terjongkok dan menutup telinganya.

"huuf. . yoshino!" teriakku sambil berusaha untuk bangun.

"kenapa. . kamu. . selamat. . ." "kenapa. . kamu tidak. . mati. ." "kenapa. ."

Suara suara muncul dari bayangan bayangan tersebut. .

"tidaaak!aku sudah mati! Dari pesawat itu!" jerit yoshino

"yoshino! Pergi dari sana!" teriakku. .

"DIAM!" teriak salah seorang bayangan tersebut sambil memelototiku, matanya yang tampak berwarna putih menyala membuatku terdiam.

"rei. . tolong. . aku. .aku tidak ingin. . mati. ." kata yoshino perlahan

Aku dengan cepat berdiri dan mencoba berlari sambil memegangi perutku karena sakit. . bayangan bayangan itu kembali menghadap padaku. .

"kamu. . berani menentang. . orang yang sudah mati?" kata salah seorang bayangan tersebut

Aku tidak menghiraukanya sambil tetap berlari kea rah yoshino. . dan pada akhirnya aku berhasil meraih tangan yoshino.

"yoshino. . ayo kita pergi. ." kataku sambil meraih tangannya

Yoshino menatapku, kali ini tatapannya tampak beda dari sebelumnya., yoshino berusaha untuk bangun seiring dengan tarika tanganku.

"tolong. . bangunan . . aku. ." kata yoshino perlahan

Aku merangkul yoshino sambil membantunya untuk berjalan. .

"kita akan keluar dari sini. . bersama sama. ." kataku sambil tersenyum

Belum sempat kami berjalan jauh, bayangan itu muncul kembali di depan kami. .

"yo. . shino. ." kata bayangan tersebut

"biarkan kami pergi! Yoshino tidak ada hubungannya dengan kematian kalian semua!" kataku sambil berusaha mengangkat yoshino yang terlihat lemas.

Bayangan itu kembali melayang dan menabrakku dari depan tepat d bagian perutku. .

*buk*

"aargh!" jeritku

Bayangan itu menembus tubuhku, namun rasanya seperti dipukul dengan sangat keras.

Aku kembali terjatuh dan tertunduk, sedangkan yoshino tetap berdiri lemas di sebelahku.

"saatnya. . kamu ikut mati bersama kami. ." kata bayangan itu. .

Bayangan bayangan itu mulai menembus nimbus badan yoshino. Yoshino menjerit kesakitan sambil berdiri,kepalanya terdongak ke atas dengan mulut yang terbuka lebar.

"yoshino. .tidak. ." kataku perlahan. .

*cring**cring*

Suara lonceng itu membuatku menyadari bahwa lenteraku yang terjatuh tidak jauh dari tempat kami berada itu menyala dengan sangat terang.

"lentera itu. . " pikirku

Aku mencoba meraih tangan yoshino sambil menariknya menuju kea rah lentera tersebut sambil merangkak karena rasa sakit di perutku.

"bertahanlah yoshino. ." kataku sambil merangkak dan menarik yoshino.

Yoshino tetap berteriak dan bayangan itu kembali menembus tubuhnya tanpa berhenti.

Perlahan lahan kaki yoshino berubah menjadi gelap, dan mulai menghilang menjadi asap bayangan gelap. .

"tidak. .yoshino bertahanlah!" kataku sambil menatap yoshino. .

Aku mencoba meraih lentera itu, namun lentera itu tertembus sosok bayangan itu sehingga tergeser menjauh.

Aku kembali mencoba merangkak untuk menggapainya. .

Aku menengok kebelakang, sudah hampir setengah tubuh yoshino telah menjadi bayangan hitam yang tidak berwujud. Aku mempercepat gerakanku untuk mencegah kematiannya.

"rei. . . tolong. . aku. ." gumam yoshino perlahan di tengah tengah jeritan kesakitannya.

Dengan cepat aku segera meraih lentera tersebut dan mengangkatnya ke arah keempat bayangan itu. .

"aargh! Tidak. ." jerit bayangan itu

Lentera itu menyala sangat terang seperti kilat yang memenuhi ruangan itu sehingga aku tidak dapat melihat apa apa karena sangat terang.

*cring**cring*

"haah!"

Aku terbangun dan dengan segera terduduk. . dengan cepat aku mengenali tempat itu. . ini kamarku. .

Aku mengusap keningku sambil memejamkan mataku. .

"te. .rima. . kasih. . rei. ."

Alangkah kagetnya aku, aku dapat merasakan tangan kananku seperti ada yang meraba. . aku melihat sesosok wanita terduduk di sebelah kasur dengan kulit putih pucat dan wajah yang mirip dengan yoshino. .

Aku tidak dapat berkata apa apa sambil memelototi sosok tersebut. .

"te. . rima. .ka. .sih. . rei. " kata sosok tersebut sambil tersenyum

Belum sempat aku mengeluarkan kata kata, sosok itu kemudian menghilang . .

aku kemudian memegang kepalaku, berusaha untuk menyatukan kesadaranku. .

*cring*

"aaargh!" jeritku. .

Tato itu kembali muncul dari bahu belakang kananku, kemudian menyebar sampai daerah punggung dan pinggangku. .aku menahan rasa sakit yang diakibatkan tato sampai sekitar pinggang bawahku, tato itu bersinar perlahan kemudian menghilang.

"haah,. . haah. . apa apaan ini. . kenapa tato itu menyebar lagi?" kataku sambil berkeringat karena menahan rasa sakit itu. .

Sejujurnya aku terlupaakan tato yang menyebar di tubuhku tersebut. Apakah ini merupakan kutukan itu? Lalu apa yang terjadi apabila tatoku sudah menyebar sampai ke seluruh tubuhku? Apakah aku harus seperti reika?apakah aku harus menjalani ritual tersebut?

To be continued part 8

"brother. . "