The call of tattoos part 9
-Please. .let . .me. .go. .-
"miku. . ."
Kataku sambil memberikan secangkir teh. Miku terduduk di sofa dengan tubuh yang terbalut selimut.
Karena miku tidak merespon,aku meletakkan cangkir itu di atas meja di depan kami.
"R. .rei?" kata miku perlahan
"ah? Iya miku?" kataku sambil menatap miku
"apakah. . ini semua. . salahku?" kata miku
". . . tidak miku. . tidak. ." kataku
Miku menundukkan kepalanya sambil mulai menangis lagi.
"mafuyu. . .hiks. " kata miku sambil mengusap wajahnya
Di saat yang bersamaan aku memperhatikan lengan miku, terdapat seperti luka memar yang sangat besar.
"miku! Sebentar. . tanganmu kenapa?" kataku sambil menangkap tangan miku.
Aku memandangi bekas luka di lengan miku tersebut, luka tersebut semakin berwarna gelap dan gelap.
"ini. . . mafuyu. ." kata miku sambil memandangi lengannya
"miku!kita harus segera ke rumah sakit sekarang!" kataku
aku meraih selimut miku dan menariknya dari tubuh miku. Aku terkejut, luka memar itu kembali muncul pada lengan satunya dan kedua betis kakinya.
Aku kembali teringat saat terperangkap dalam mimpi bersama miku, saat miku diangkat mafuyu.
"Re. .Rei?" kata miku
"miku. . kita harus segera ke rumah sakit. ."
"ini⦠akibat. .kesalahanku . ." kata miku
"Miku! Ini tidak ada hubungannya, kamu hanya sakit!" ketaku sambil meraih tangan miku
Tanpa berpikir panjang lagi, aku membawa miku menuju rumah sakit. Dokter di rumah sakit menjelaskan bahwa miku harus dirawat disana, karena penyakitnya yang masih belum dapat dipastikan.
Aku duduk di ruang tunggu tepat di luar ruang pemeriksaan. Aku menghela nafas panjang sambil mengusap keningku.
"rumah itu. . mimpi itu. . kenapa miku juga bisa masuk?" pikirku sesaat.
Tiba2 pintu ruanganitu terbuka, aku mengangkat kepalaku sambil memandanginya. Seorang perawat keluar menghampiriku.
"Rei kurosawa kah?" Tanya perawat tersebut.
"i. .iya?" jawabku
"Nona Miku Hinasaki menitipkan ini untukmu, katanya ia lupa memberikannya padamu. ." kata perawat itu sambil memberikan aku sebuha amplop surat.
"terima kasih" kataku sambil menerima surat itu
Perawat itu hanya tersenyum dan kembali masuk ke ruangan pemeriksaan.
"surat? Dari Kei?" pikirku sambil membuka amplop itu perlahan.
Kei sudah pernah kuceritakan sebelumnya, ia adalah rekan kerja Yuu, seorang penulis novel misteri dan sangat gila akan hal yang berbau mistis. Begitu pula dengan mafuyu dan Yuu. Dan sedihnya, Kei tidak pernah mencantumkan alamatnya, serta ia juga tidak mengetahui, bahwa Yuu, sahabatnya telah tiada.
"Yuu. . kau tahu, aku menemukan sepotong berita tentang seorang wanita yang meninggal akibat terjebak di lemari rumahnya setelah berbagai macam kejadian menimpanya. Orang sekitar berkata wanita yang bernama kiriko asanuma 19 tahun itu selalu menjerit pada malam hari, selalu mengeluhkan tentang rumah tua, mimpi, hantu semenjak kekasihnya meninggal, aneh bukan? Lalu berita mengatakan wanita itu ditemukan tewas di dalam sebuah lemari yang sangat kecil. Kata para saksi semata, wanita itu memang sempat berteriak minta tolong, namun warga yang sudah terbiasa mendengar jeritannya tersebut tidak melakukan apa apa. Akhirnya polisi setempat menemukan jasad kiriko beberapa hari kemudian beserta rumahnya yang habis dirampok penjahat tersebut. Tertarik untuk mengikuti kasus ini? Balas suratku ini. . Kei Amakura"
Begitu isi surat dari Kei, ingin sekali aku membalas suratnya dan mengatakan bahwa Yuu sudah tiada, namun Kei tidak mencamtunkan alamat tempat tinggal maupun nomer telefon, Bodoh. . .
"kiriko. . asanuma. . mengeluhkan rumah tua? Mimpi? Setelah suaminya meninggal. ." pikirku
*cring**cring*
"hah? Tidak lagi. ."
Aku terbangun kembali di rumah tua itu, aku memandangi sekitarku, nampaknya aku berada di ruangan yang baru, yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. Ruangan itu dipenuhi dengan boneka kecil yang ditempel ke tembok. . . menggunakan paku dari kayu.
"ruangan. . apa ini?" kataku.
"reika?"
Aku terdiam sambil mencoba membalikkan pandanganku. . aku melihat seorang anak kecil dengan rambut yang terikat dua dan membawa palu.
"rei. .ka?"katanya
"i. .iya?" kataku
"apa yang kamu lakukan disini?" Tanya anak kecil itu
"hmm. . .mm. ." gumamku sambil memandangi anak itu
"pasti kamu sudah lupa lagi denganku, hihi. . aku amane, reika. ." katanya sambil tertawa kecil.
"hehe. . maafkan aku. . amane. ." kataku perlahan
"lagipula apa yang kamu lakukan disini? Kamu tau sendiri nanti kalau master yashuu tau, beliau akan marah besar. ." kata amane
"boneka boneka ini. . untuk apa amane?" tanyaku penasaran
"boneka itu? Untuk latihan . . agar aku dapat melakukan tugasku untuk ritual dengan lancer." Kata amane
". . . ."
"reika? Sebaiknya kamu cepat pergi sebelum master yashuu mengetahui kamu keluar dari kandangmu.." kata amane sedikit panik.
"ah? Iya amane. . aku pergi dulu" kataku sambil memegang gagang pintu yangukurannya jauh lebih kecil dari tinggi badanku.
Amane hanya tersenyum saja sambil menuliskan sesuatu pada sebuah buku kecil miliknya.
Dibalik pintu tersebut terdapat sebuah lorong panjang dengan penerangan seadanya yang tetap tidak setinggi ukuran rang dewasa, sehingga aku harus agak membungkuk untuk melewatinya.
Aku melihat ada cahaya berwarna biru di kejauhan.
"itu. .lentera itu?" kataku
*kresek*
"hah? Siapa disana?" kataku sambil memperhatikan bagian belakangku.
"tolong. . . biarkan. . aku. . . pergi. ."
Sebuah suara dengan nada menyeramkan terdengar dari belakangku.
Tiba tiba sebuah bayangan hitam dengan cepat merayap dan menangkap kedua kakiku.
"aaargh! Apa ini?" jeritku
Dua buah tangan berwarna putih kepucatan menangkap dan menarik kedua kakiku hingga aku terjatuh.
"aaaaaa!" teriakku
Tangan itu kembali merayap kea rah pinggangku dan pundakku, sambil menunjukkan wujud asli di balik asap hitam itu.
Ternyata itu adalah wanita merayap yang muncul di mimpiku sebelumnya.
"mau apa kamu! Pergi!" teriakku sambil mencoba meronta dari genggamannya.
"biarkan. . aku. . be. .bebas!" teriak wanita itu
Dengan cepat aku mencoba melawan genggamannya dan menendang tubuh wanita itu menjauh dariku.
"aaargh!" jerit wanita itu sambil terjatuh ke lantai di lorong tersebut.
"haah. . haah. . siapa kamu? " kataku sambil berusaha mengatur nafasku.
"hraah!" teriak wanita itu sambil berbalik badan dan merangkak pergi.
"tunggu!hey!" teriakku, namun percuma tidak ada jawaban sedikitpun.
aku melihat sebuah benda terjatuh di saat aku melempar wanita itu, nampaknya seperti sebuah buku, yang didalamnya terdapat banyak coretan dan sobekan. Aku mendekati dan meraih buku tersebut.
"buku apa ini?" kataku sambil membuka buku itu perlahan.
Nampaknya buku itu seperti catatan harian, namun tidak bertuliskan tanggal maupun waktu.
"ki. .riko. . asanuma. ." kataku membaca nama pemilik yang tertulis di buku tersebut.
Aku menyadari bahwa wanita itu ialah kiriko asanuma, sama dengan yang diceritakan pada surat dari Kei .
"disini gelap, aku ketakutan, tolong seseorang tolong aku. ."
"aku dapat mendengar suara suara di luar lemari, nampaknya mereka sedang mencari sesuatu"
"Shino. .aku harap kamu ada disini. ."
"meskipun di dalam sini, aku masih dapat memimpikan rumahitu, Shino, dan Wanita bertato itu"
"aku lapar. . gelap. .kini semuanya sunyi"
"tolong aku shino. . aku berteriak sepanjang hari namun tidak ada yang menjawab"
"aku menghitung stiap detik jam, setiap berapa kali jamku berbunyi"
"sudah hamper 96x aku mendengar suara jam dindingku. . aku semakin lemas"
"tolong. . . biarkan aku. . pergi. ."
Begitulah isi tulisan tulisan di buku tersebut, sisanya hanyalah coretan dan sobekan kertas yang tidak bisa dibaca.
"shino? Suami kiriko?" pikirku
*krreeeeeek*
Sepasang tangan tba tiba merayap dari balik punggungku sampai ke leherku, dan mulai mencekiknya dengan kuat.
"AAaaaargh!" jeritku sampai terjatuh kedepan
Kiriko sudah ada di punggungku sambil terus mencekikku dari belakang.
"uhuk . . tidak. . kiriko. .uhuk" kataku sambil mencoba menahan cekikan kiriko.
Kiriko menatapku, wajahnya mulau berwarna kepucatan serta keluar darah dari hidung dan mulutnya.
"lepaskan. . . biarkan aku pergi!" teriak kiriko sambil mengangkat dan menjatuhkan kepalaku kembali ke lantai.
*brak**brak*
Kepalaku terus menerus di pukul ke lantai oleh kiriko.
"aargh. . kiriko. .ampun. . dengarkan aku. ." kataku perlahan sambil menahan sakit
"DIAAAAM! Kamu. . sama saja. . seperti orang lain. . tidak ada yang menolongku!" teriak kiriko
"uhuk!tidak. . kiriko. . dengarkan aku tolong!" teriakku sambil memegang tangan kiriko di leherku
Percuma, tenaga kiriko sangatlah kuat, aku tidak dapat menahan dan melepaskan tangannya dari leherku, aku hanya bisa terbatuk batuk sambil berusaha melepaskan tangan kiriko. Pandanganku mulai kabur, nafasku mulai tidak teratur. . aku semakin melemas.
"inikah akhir . . bagiku?" pikirku
Tanganku mulai tidak dapat melawan genggaman kiriko, semakin lama semakin terjatuh dari tangannya. .
"uhuk. . uhuk. ."
*brak*
"aaaaaaaaaaagh!" teriakkiriko sambil melepaskan genggamannya.
Aku membuka lebar mataku, memastikan apa yang terjadi. . aku mengatur jalan nafasku, mencoba meraih kembali kesadaranku. Aku melihat kiriko terguling guling sambil berteriak.
"reika. .cepat raih tanganku!"
Suara itu terdengar entah berasal dari mana. Tiba tiba lenganku terangkat dan seluruh badanku terseret. Sedikit demi sedikit menjauh dari kiriko yang masih terlihat kesakitan itu.
"reika. . bertahanlah. ."
Aku menoleh ke atas, ternyata itu amane. .
"a. . mane. ." kataku perlahan.
Amane membawaku kembali ke ruangan penuh boneka itu. Aku berusaha untuk duduk sambil memegangi kepalaku yang masih terasa sakit.
"kepalamu kenapa?" Tanya amane. .
"tidak. .tidak apa apa amane. ." kataku.
"oh iya reika, lenteramu tertinggal saat kamu pergi tadi. " kata amane sambil memberikan aku lentera biru tersebut.
"ah? i. .iya amane. . terima kasih. ." kataku sambil meraih lentera itu
Baru sekejap aku bersentuhan dengan lentera itu. .
*cring**cring*
"hah?"
Aku tersadar kembali, pemandangan rumah tua itu berubah menjadi sebuah rumah yang sepertinya lebih modern namun segala isi rumah itu berhamburan dimana mana.
"Tidak! Jangan!"
Aku mendengar suara teriakan dari ruangan sebelah. Secara perlahan aku menempelkan diriku ke tembok dan mencoba melirik ke ruangan di sebelah melalui pintu geser yang berlubang.
Kiriko! Kiriko ada di ruangan sebelah tersebut dengan 2 orang pria yang menggunakan topeng. . kiriko sedang terduduk di atas meja sambil kedua pria bertopeng itu seperti menyergapnya.
"katakan dimana suamimu menyimpan surat penting itu?" kata pria itu
"aku tidak akan memberikannya kepada kalian! Aku sudah berjanji pada shino. ." kata kiriko
"nampaknya kamu memilih jalan yang kasar. .hahahaha" kata pria itu sambil tertawa
". . ." kiriko hanya memandangi pria itu sambil menangis
"pegangi dia! Kita harus mendapatkan surat itu cepat atau lambat atau bos akan marah. ."
Aku hanya bisa memandangi kejadian tersebut, tubuh kiriko mulai ditunggingkan di atas meja tersebut dan kedua tangannya dipegangi oleh pria bertopeng satunya. Lalu pria tersebut mulai membuka celananya secara perlahan.
"hahaha. . nampaknya kita akan pesta mala mini kawan. . sex gratis. ." kata pria itu kepada temannya
"shino. . . maafkan aku . ." kata kiriko perlahan sambil menahan tangis.
Tangan pria itu mulai mengangkat baju kiriko.
"hoohhohoho. . ayo kita lihat bagaimana indah tubuhmu nona. ." kata pria itu. .
"hah? Jangan. ." kataku
Aku tidak menyadari bahwa suaraku nampaknya terdengar oleh mereka berdua.
"hah? Siapa itu!? " kata pria itu sambil memakai celananya.
"aduh. . matilah aku. ." pikirku
Dengan cepat namun tetap tersembunyi, aku melarikan diriku ke lantai atas melalui tangga yang ada di dekat ruanganku.
"aaarh!" teriak kiriko sambil berlari menuju ruangan lain saat kedua pria itu sibuk mencariku.
Tanpa berpikirpanjang aku segera menyembunyikan diriku di dalam lemari pakaian. Sekitar beberapa menit aku terdiam di dalam ruangan itu. Mula mula aku mendengar suara gaduh dari luar lemari, dan sesekali aku mendengar seperti benda benda dibanting.
Setelah beberapa jam aku diam disana, suara itu mulai memudar dan akhirnya benar benar sepi dan gelap. Aku berpikir kedua pria itu sudah lelah mencari dan pergi.
Secara perlahan aku keluar dari lemari itu dan berjalan ke lantai bawah.
"tolong. . .seseorang. . tolong aku. ."
Aku mendengar suara rintihan dari arah sebuah lemari kecil di ruangan utama.
"ki . . riko?" tanyaku perlahan
"ah?siapa disana? Tolong aku! Aku terkunci disini sempit sekali. ." kata kiriko
Tanpa berpikir panjang lagi, aku segera membuka kunci pintu lemari kecil tersebut. Kiriko merangkak keluar sambil terbatuk batuk dan berkeringat.
"kiriko?" tanyaku
"haah. .haah. . uhuk. .kmu. . siapa?" tanyanya perlahan
"aku rei. .tenang saja. .sekarang sudah aman. ."
Tiba tiba kiriko memelukku sambil menangis. Posisi tangannya persis seperti tadi ia mencekikku, namun kali ini benar benar berbeda. Kiriko terus menangis dan tak kunjung berhenti mengucapkan terima kasih padaku.
"terima kasih. . rei. ." kata kiriko sambil menatapku.
Tiba tiba tubuh kiriko mulai bercahaya dan seperti melayang.
"ki. .riko?" tanyaku sambil memandang heran
"terima. . kasih rei. ." katanya sesaat sebelum seluruh tubuhnya menghilang dan memunculkan cahaya yang sangat terang sampai sampai pandanganku menjadi gelap.
"rei? Rei!"
"ah? Hah?" kataku tersadar dari tidurku.
Aku memandangi sekitarku. . aku telah kembali di ruang tunggu rumah sakit. Dengan miku berada di sebelahku.
"miku?" tanyaku
Miku mengenakan semacam perban pada kedua lengan dan kakinya.
"rei. . kamu kenapa?maaf menunggu lama. ." Tanya miku
Aku memandangi wajah miku yang tersenyum namun masih terlihat pucat itu.
"umm. . rei? Ada sesuatu di kepalamu. ." kata miku
"ah? Apa?" kataku sambil mencoba meraih bagian belakang kepalaku.
Darah. . . . . .
"rei! Kamu kenapa? Suster! Tolong. ." teriak miku panic
"ini. . . darah. . ." kataku
Dalam sekejap tubuhku menjadi lemas. . aku terjatuh dari kursi di ruang tunggu tersebut kemudian tak sadarkan diri. .
"rumah itu. . semua kejadian di rumah itu. . semakin lama. . semakin nyata. . ."
To be continued part 10
"Burst Into Reality"
