The call of the tattoos part 10

-Burst Into Reality-

"bangun. . . Rei. . ."

"yuu. .. kau kah. .itu?"

Perlahan aku membuka kedua mataku, perlahan lahan penglihatanku mulai jelas dan terang. Aku menyadari bahwa aku telah berada di atas sebuah ranjang lengkap dengan selimut putih tipis yang membalut seluruh tubuhku. Beberapa saat aku memandangi langit langit ruangan itu, akhirnya aku memutusknan untuk bangun dari ranjangku.

"aduh!"

Aku merasakan sakit dan pusing yang hebat ketika aku mencoba untuk bangun. Aku mencoba meraba kening dan kepalaku, nampaknya ada sebuah balutan kain kasa penutup luka yang melingkari seluruh bagian kepalaku.

"ini.. dimana?" pikirku sesaat sambil kembali memandang langit langit

"rei? Kamu sudah bangun?"

Beberapa saat kemudian miku muncul menghampiriku. Ia Nampak sibuk membawa nampan dengan makanan lengkap di atasnya.

"miku? Ini dimana?"tanyaku perlahan

"di rumah sakit. . kamu jatuh pingsan beberapa hari yang lalu, jadi kamu harus dirawat disini. Lihat itu kepalamu sampai luka begitu. . kamu terantuk apa sampai begitu?"Tanya miku heran

"emm. . . beberapa hari yang lalu? Sudah berapa lama aku pingsan?"

"sekitar 2 hari rei. . namun dokter tidak menemukan tanda tanda berbahaya dari lukamu, jadi kamu akan baik baik saja." Kata miku sambil tersenyum.

"hah? 2hari? Kamu becanda?" teriakku sambil berusaha bangun

"he. .hei rei. . jangan bangun dulu, lukamu belum sembuh total!" kata miku sambil menahan tubuhku

"huuft. . kamu tau kan hal yang paling aku tidak suka adalah diam dan menunggu . . sangaaaaat mem. .bo. .san. .kan. ." kataku sambil cemberut

Aku melihat miku memasang headsetnya sambil mulai bernyanyi dan menghiraukan keluhanku.

"ah? Kenapa rei?" Tanya miku sesaat dia menyadari aku yang menatapnya dengan tatapan penuh niat untuk membunuh

"ga!" kataku sambil cemberut dan memalingkan wajahku.

Miku hanya tertawa kecil dan tetap tersenyum manis.

Sekitar 3 hari aku dirawat di rumah sakit, pada akhirnya dokter memperbolehkan aku untuk pulang ke rumah, namun dokter menyarankan untuk tidak melakukan aktivitas berlebihan terlebih dahulu.

"miku? Bagaimana dengan dirimu? Kamu sudah merasa sehat?" tanyaku

"hmm. . aku tidak merasakan apa apa lagi semenjak hari itu rei, namun bekas luka itu tidak menghilang." Kata miku sambil menunjukkan tangannya dengan bekas luka.

"maafkan aku. . miku. .aku. ."

"sst. . sudahlah rei, tidak apa apa. ." kata miku sambil berdiri dari sofa dan berjalan menuju dapur.

Miku mulai mengambil bahan makanan dan mulai menghangatkannya. Dia sangat senang memasak sambil beryanyi, oleh karena itu, ia selalu mengenakan headset dan menyalakan lagu favoritenya sambil bernyanyi..

Aku memandangi miku yang bernyanyi sambil menari kecil.

"apa jadinya aku, kalau tidak ada miku di rumah ini?" pikirku sesaat sambil tersenyum melihat miku.

"apa. . jadinya aku. . tanpa. . Yuu disini. ." pikirku sambil melihat keluar jendela.

Aku termenung, sambil memandangi hujan yang mewarnai sore itu.

"sleep. . priestess. . lie in peace"

Aku terkejut. . suara itu berasal dari arah dapur. Dengan cepat aku membalikkan tubuhku dan memandangi miku

"sleep. . priestess. . lie in peace"

Miku hanya berdiri saja disana sambil bernyanyi seperti itu dengan nada yang menyeramkan.

"mi. . miku?" tanyaku

Miku hanya diam sambil tetap mengulang lagu itu.

"miku!" teriakku sambil berusaha untuk berdiri.

"sudah. . waktunya. . ."

Suara miku berubah menjadi menyeramkan, bersamaan dengan rasa sakit dari luka di kepalaku.

"Arrrrrrgh!" jeritku sambil memegang kepalaku

*cring* *cring*

Aku melihat ada 2 orang wanita yang bertelanjang dada namun mengenakan bagian bawah yukata dengan tangan yang penuh dengan benda semacam duri yang sangat banyak dan panjang sampai menembus tangan wanita itu.

"mi. .ku. ." kataku

Kedua wanita itu menghampiri miku. Mereka mengeluarkan tali panjang dan mulai memasangnya di tangandan kaki miku.

"he. . hey! Lepaskan miku! Uugh . ." teriakku sambil menahan sakit di kepalaku.

*kret*

"AAAAAAAAAAA!"teriak miku ketika kedua wanita itu mulai menarik tali yang terikat dengan tangan miku.

"STOOOP!" teriakku sambil kembali mencoba untuk berdiri.

Kedua wanita itu tetap menarik tali itu sampai tangan miku benar benar terbuka lebar.

"Rei! Tolong!"teriak miku

Aku berjalan perlahan sambil menjaga keseimbanganku

"AAAAA rei!" teriak miku

"bertahanlah miku! Aku akan menolongmu. ." kataku sambil masuk ke dapur

Wanita itu kembali menarik sambil kali ini diiringi gumam seperti berdoa.

Aku memaksakan diri untuk sedikit berlari dan dengan cepat aku mengambil sebuah pisau dari meja dan dengan segera memotong tali itu.

*cring* *cring*

Miku terjatuh ke dekapanku.

"haah. . hah. . apa apaan itu?" katanya sambil berusaha mengatur nafas

"haah. . aku tidak tahu. . aku tidak pernah melihat yang seperti itu, bahkan di mimpiku.

"aku. . juga. ." kata miku.

Dengan segera aku mengecek tangan miku.

"mi. . miku, tanganmu. ." kataku sambil menunjukkan tangan miku.

Sebuah bekas seperti terjerat tali muncul di tangan miku. Mula mula berwarna kemerahan, lalu semakin lama semakin menggelap menjadi kebiruan. Aku segera kembali bangun dan mencuci sebuah lap kecil dengan air dingin dan segera membalut tangan miku.

"aduh. . ssh. ." jerit miku

"tahan miku. . bagaimana hal seperti ini bias terjadi?" kataku

Miku hanya menggelengkan kepalanya.

Malam itu aku memutuskan untuk menemani miku. Luka di tangan miku agak membengkak dan masih tetap kebiruan, miku telah terlelap dalam tidurnya. Aku beberapa saat menggantikan compress di tangan miku.

"huft. . kenapa jadi seperti ini semakin lama. . mereka yang ada dalam mimpiku. . semakin nyata. ." kataku sambil duduk di sebuah kursi kecil di sebelah miku.

Aku menundukkan kepalaku sesaat. .

"rumah itu.. semua hantu disana.. wanita bertato itu.. yashuu. .kirie himuro. . mafuyu. . wanita dengan duri tadi siang. . kutukan tato ini. .Yuu. . semua hal itu. . kenapa aku? Kenapa harus aku?" pikirku

Tiba tiba kepalaku mulai terasa sakit lagi secara perlahan sampai benar benar sakit. .

*cring* *cring*

"uuugh. . "

Aku memegangi kepalaku, kepalaku terasa bagaikan terantuk sesuatu. Aku memandang sekitarku, nampaknya aku kembali lagi ke rumah itu.

"nona reika!"

Aku mendengar teriakan itu dari arah depan. .

Aku melihat sebuah benda kayu yang berbentuk seperti baling baling ada di pangkuanku.

"nona reika baik baik saja?"

Sesaat aku melihat wajah orang itu, wajah itu adalah wanita yang dahulu aku bertemu di rumah ini.

"aku. . tidak apa apa. . umm" kataku

"kirue nona. . ini kirue. ." kata wanita itu

"kak. . maaf. ."

Seorang gadis kecil muncul dari balik kirue, rupanya itu kozue. . anak dari kirue dan hiroshi, suaminya yang sudah meninggal karena yashuu.

"tidak apa apa kozue, ini. . apakah ini milikmu?" kataku sambil memberikan baling baling tersbeut.

"i. . iya kak. . te. .terima kasih. ." katanya sambil perlahan mengambil mainan itu dari tanganku.

Aku dibantu untuk berdiri oleh kirue sambil memegangi kepalaku.

"apa yang kamu lakukan di ruangan bawah ini reika?" Tanya kirue

"ah? Ini dimana?" tanyaku

"ini ruang penyimpanan reika. . tepat di bawah taman kuburan." Kata kirue

Aku kembali meraba kepalaku sambil mengingat ingat rumah ini beserta seluruh ruangan ruangan yang pernah aku kunjungi.

"disinilah. . tempat para tukang yang membangun rumah ini beristirahat." Kata kirue

Aku melihat sekitarku. . tiba tiba kepalaku kembali terasa sakit

*cring* *cring*

"hah? Haah. . haah. ."

Aku mulai mengatur nafasku yang tiba tiba terasa sesak. Seluruh ruangan itu bergetar, ruangan itu dipenuhi oleh kabut berwarna gelap yang membuatku berpikir panjang lagi, aku segera melarikan diri dari ruangan itu. Sesampainya di atas, aku melihat taman dengan pohon yang besar dan beberapa kuburan di sekitarnya, persis yang aku kunjungi beberapa waktu lalu saat pertama sampai rumah ini.

"cepat! Kita harus menahan kutukan itu agar tidak tersebar!cepat segel!"

Aku membalikkan badanku. . aku melihat 9 orang pria yang mengenakan baju berwarna putih seperti sedang membangun sesuatu di depan sebuah pintu. Aku dapat melihat kabut gelap itu keluar dari sisi dan lubang di pintu tersebut.

"cepat! Atau master kuze akan marah!" teriak salah seorang pria yang mengenakan topeng dan membawa semacam pisau besar. Dan pria lainnya dengan cepat menahan pintu tersebut sambil lainnya menambal lubang lubang tempat kabut itu keluar.

Pria bertopeng itu membalikkan tubuhnya. Tiba tiba rubuhku ditembus seseorang yang berjalan dari arah belakangku. Aku yang terkejut sampai melompat mundur dari posisiku tadi.

"aaah!" jeritku sambil melompat mundur

Tiba tiba pria bertopeng itu segera menunduk dan menghormat.

"master kuze. . kami sudah menyegel kuil tempat pendeta dan kuil tempat penanaman tato." Kata pria itu.

Aku hanya terdiam saja mendengar pembicaraan mereka. Nampaknya orang ini ialah pemimpin keluarga kuze yang amat sangat dihormati, namun aku dapat melihat orang itu bukanlah yashuu kuze. Tiba tiba angina bertiup sangat kencang menabrak wajahku sampai aku menutup rapat mataku.

"aaargh! Apa apaan ini?" kataku sambil menghadang angina tersebut.

*cring* *cring*

Aku mengusap mataku yang sakit akibat angin tadi. .

"hah?"

Aku terkejut kembali,aku telah berada di sebuah ruangan kecil yang diisi kesepuluh pria berpakaian putih tadi. 8 pria itu berdiri dan berbaris ke samping dan pria bertopeng itu diam menghadap mereka.

"master kuze ingin memastikan segel kita tadi aman. . untuk itu beliau ingin kita melakukan pengorbanan untuk mengamankan segel itu." Kata pria bertopeng tersebut.

"pngorbanan apa? Kita sudah cukup berkorban untuk membangun ini semua. ." kata seorang pria dari kumpulan orang itu

"maafkan aku kawan. . ini untuk memastikan tidak ada yang tahu tentang apa yang terjadi di rumah ini. . ." kata pria bertopeng itu

Dengan cepat pria bertopeng itu mengangkat pisau besarnya, dan menyambar ke leher pria tersebut.

*JRATT*

"hah!?" pikirku sambil menganga melihat kejadian tersebut

"te. . tengai! Apa yang kamu lakukan?" kata pria lain

"maaf.. ini perintah tuan kuze. ." kata pria bertopeng yang bernama tengai itu.

Tengai kembali mengangkat pisau besar itu. .

Karena tidak kuat melihat kejadian seperti itu lagi, aku memejamkan mataku sambil menutup telingaku. . semua suara teriakan, jeritan, berpadu dengan suara cipratan dan suara pisau yang diayun ayunkan. . aku terjongkok sambil tetap menutuk telinga dan mataku.

"cukup. . kumohon. ." kataku perlahan

Semakin lama, suara di ruangan itu mulai meredup. . dan akhirnya kembali sunyi. . sampai aku dapat mendengar suara nafas terengah engah dari pria bertopeng tersebut.

"haah. .haah.. master kuze. . aku akan segera membangun pilar pengorbanan dengan tubuh kesembilan kawanku ini.

aku masih belum berani untuk membuka mataku, aku hanya bisa menangis sambil memohon untuk segera berakhir. .

*cring*

"reika? Nona reika?"

"hah?" aku terkejut dan tersadar kembali

Kirue sudah ada di depanku sambil mengusap kepalaku.

"kamu kenapa menangis reika?" tanyanya

"umm. . ti. .tidak apa apa kirue. ." jawabku

Aku memandang sekitarku,aku kembali berada di taman dengan pohon besar itu, namun kali ini Nampak berbedadengan yang itu sangat gelap dan hanya diterangi oleh lilin yang dibungkus kotak kayu seperti lampu yang ditancapkan di berbagai sisi taman tersebut. Namun yang paling mencuri perhatianku ialah pilar yang terletak di depan pintu yang tadi sempat aku lihat disegel oleh 9 pria berbaju putih tersebut. Pilar itu berjumlah 10, berjejer berdampingan di depan pintu tersebut.

"kirue. . pilar ini. ." kataku..

"i. .iya reika. . ini adalah pilar pengorbanan oleh tengai narumi. . dan kesembilan kawannya" kata kirue sambil memandang pilar itu dengan wajah yang sedih.

Kirue menghapus air mata yang jatuh dari pinggir matanya. Aku memandangi kirue dengan wajah yang heran.

"hi. .hiroshi. ." kata kirue sambil mengusap air matanya

"hiroshi? Suamimu?" tanyaku

"hiks. .dia. . salah satu dari kawan Terumi. .hiks. ." kata kirue

". . . maaf. . kirue. ." kataku sambil mengusap bahu kirue

"hiroshi berhasil melarikan diri dan bersembunyi di ruanganku untuk beberapa saat.. namun yashuu dan tengai berhasil menemukan dia dan membunuhnya dan menjadi salah satu dari pilar tersebut.. hiks. ." kata kirue

Aku kembali teringat saat aku kembali ke masa lalu kirue dan hiroshi dimana hiroshi diseret oleh pria berbaju putih dan yashuu di depan kirue. Aku dengan lembut memeluk kirue yang masih penuh dengan air mata. Kami berdua bercucuran air mata di depan pilar pilar itu. Aku memandangi pilar di tengah itu terlihat sedikit berbeda. Tiba tiba muncul suara di kepalaku yang mirip seperti suara tengai tadi.

"semua ritual pengorbanan pilar telah selesai, sekarang diriku sendiri yang akan menjadi pengorbanan terakhir untuk pilar ini"

Aku kembali memejamkan mata sambil membayangkan tengai membunuh dirinya sendiri dan dijadikan pilar kesepuluh di ruangan itu.

Kirue melepaskan pelukanku sambil menatapku.

"maafkan aku nona. . sampai menangis begini. ." katanya sambil mengusap air matanya

"hiks. . tidak apa apa kirue. . aku juga. ."

Kirue memberikan sebuah kain kecil kepadaku. .

"ini nona, gunakan ini untuk mengusap air matamu. ." kata kirue

"i. .iya. . terima kasih kirue. ." kataku sambil menerima kain itu

Tiba tiba. .

"Awaaaas kak reika!" teriak kozue

Belum sempat aku merespon teriakan itu

*prak*

Sebuah mainan baling baling itu kembali menabrak kepalaku dengan sangat keras sampai sampai aku terjatuh kebelakang dan tak sadarkan diri.

*cring* *cring*

Aku membuka mataku secara perlahan. .

"hah?!" kataku sambil dengan cepat mendudukan diriku

Aku kembali ke kamar miku, namun langit sudah memperlihatkan matahari yang masih belum terlalu tinggi. Untuk beberapa saat aku melihat matahari itu dari jendela kamar miku yang terbuka sedikit. aku memandang miku, ia masih tertidur pulas, nampaknya aku terbangun lebih awal dari biasanya.

"sepertinya aku biarkan saja miku untuk bangun lebih siang lagi. ." begitu pikirku

Sesaat sebelum aku mencoba berdiri, sebuah benda jatuh dari perutku dan selmbar kain yang menempel di dadaku.

Aku memandangi kain itu sejenak. .

"ini. . . HAH?! Kain dari kirue tadi!" pikirku

Dengan cepat aku meraih benda yang terjatuh tersebut. . a;angkah kagetnya aku, sambil gemetaran aku memandangi benda itu..

"ini.. mainan kozue. ." pikirku

Aku terdiam sejenak sampai kepalaku mulai terasa sakit kembali..

"aduh!" jeritku sambil memegangi kepalaku

Apa apaan ini? Itu semua hanyalah mimpi. . kenapa bisa ada disini? Kenapa kepalaku terasa sakit setelah terantuk mainan kozue ini?

Semua. . semua hal tentang rumah itu. . . . mulai

Menjadi nyata. . .

To be continued part 11

"Kei Amakura"