The call of tattoos part 12
-The Twin Sisters-
Kami berdua berjalan menyelusuri hutan kembali menuju susunan bebatuan yang mirip seperti altar tersebut. Tempat itu Nampak berbeda dengan yang tadi, semua tampak sepi dan gelap, tanpa suara teriakan ataupun keramaian orang seperti tadi.
"lewat sini rei. . jangan terlalu berisik agar kita tidak ketahuan. ." bisik kei
Kami berjongkok dan berjalan perlahan dari balik semak semak di jalan setapak itu, hingga pada akhirnya kami turun sampai ke desa tersebut. Rumah rumah itu Nampak sangat tua, beberapa sudah mulai rusak bahkan ada yang sudah hancur menyatu dengan tanah.
"apa yang terjadi disini?"pikirku sambil melihat puing puing bangunan yang beberapa sudah hancur
Aku dapat melihat 'seorangpun' berada di desa itu, semua terasa seperti desa yang telah ditinggalkan.
*cring*
Seekor kupu kupu merah muncul dari belakang kami, dan terus terbang melewati kami.
"he. .hei kei. . lihat itu. ." kataku
"hah? Kupu kupu merah itu. . " kata kei
"ada apa dengan hal itu? Aku juga tadi melihatnya saat di bukit. ." bisikku
"mio. . mio pernah menggambarkan sesuatu dengan tangannya saat aku mengunjunginya di rumah sakit. . ia menggambar seekor kupu kupu di kertas tersebut. ." kata kei sambil terus memperhatikan kupu kupu itu.
".. . ."
"ayo rei. . kita harus mengikuti kupu kupu itu!" kata kei sambil menarik tanganku
"he. . hey tunggu sabar. ." kataku
Kei tidak menghiraukanku dan terus menarik tanganku sambil mengejar kupu kupu itu. Kami berlari masuk ke dalam desa itu, kupu kupu it uterus mengepakkan sayapnya tanpa berhenti. Rumah demi rumah, tikungan demi tikungan kami lewati. Hingga pada akhirnya kupu kupu itu terbang menuju sebuah bangunan kecil berwarna putih dengan gembok besar di depannya.
"haah . .haah. . lihat kei. . kupu kupu itu terbang ke balik bangunan itu. ." kataku sambil menunjuk sebuah gang kecil di samping bangunan itu
Tanpa berkata kata lagi, kei langsung berjalan menuju gang itu, aku pun perlahan mengikutinya dari belakang.
"Siapa. . disana?"
Aku dan kei terdiam sejenak setelah mendengar suara itu. . suara itu terdengar sangat halus dan sepertinya suara seorang pria.
"hei. . hei jangan pergi. . aku mohon, kemarilah. . jangan pergi . ." katanya
Aku dan kei sambil menelan liur, berjalan perlahan kea rah belakang bangunan itu. Sesampainya di belakang, aku dapat melihat sebuah jendela kecil yang terbuka dan berhiaskan jeruji besi yang tebal. Seorang pria berdiri di balik jendela tersebut, badannya lumayan tinggi, rambut yang pendek berwarna putih, dan wajah yang sangat manis.
". . . si. . siapa kalian?" Tanya pria itu sambil menatap kami berdua. .
"a. . aku rei. . dan ini kei. ." kataku perlahan sambil memperkenalan diri
". . aku itsuki. . itsuki tachibana. . yasudah lupakan saja. . aku mendengar kericuhan tadi, apakah sae dan yae selamat?"Tanya itsuki
"si. .siapa? aku ingin bertanya tentang mio dan mayu, 2 orang gadis yang pernah datang kemari. ." kata kei
"apakah sae dan yae berhasil melarikan diri?" kata itsuki
"hey! Jangan becanda, dimana kamu sembunyikan mio dan mayu?" kata kei sambil mengangkat kerah baju itsuki dari balik jendela
"kei. . kei! Tahan dulu, kita pasti akan menemukan mio dan mayu. . sekarang kita harus menenangkan diri dahulu dan dengarkan pria ini. .siapa tahu ia bisa membantu. ." kataku sambil melerai kei dan itsuki
Aku langsung teringat saat aku baru tersadar akan tempat ini, aku mendengar suara teriakan wanita, sebelum orang orang yang beramai ramai itu datang.
"hey. . hey itsuki. . aku mendengar suara teriakan saat datang kemari, ia berkata sesuatu tentang Yae. . nampaknya seseorang terjatuh dari bukit tersebut. ." kataku
"hah? Apa kamu bilang? . . ."kata itsuki
Itsuki terdiam sambil menundukkan kepalanya. Kami berdua memandang satu sama lain dengan wajah yang kebingungan.
"berarti. . yae berhasil melarikan diri, dan sae sepertinya tertangkap oleh para penduduk desa. ." kata itsuki
"umm. . . apa ada yang bisa kami bantu?" kataku perlahan
"kalau begini.. . kalau begini. . sae akan menjalani ritual itu. . sendirian. ." kata itsuki
"ritual? Ritual apa?" Tanya kei
"di desa ini. . sebuah ritual dijalankan. . apabila terlahir sepasang anak kembar. . di saat mereka sudah mendekati kedewasaan,mereka harus menjadi satu . . salah. . satu dari mereka. . harus dikorbankan." Kata itsuki
". . . apa?" kata kei perlahan sambil memandang wajah itsuki yang terlihat sedih
"sekarang ialah giliran sae. . dan saudari kembarnya. . yae. . aku mencoba membantu agar mereka bisa melarikan diri, namun disinilah aku. . tertangkap oleh penduduk desa, dan sekarang sae juga sepertinya telah tertangkap. Maka ritual itu harus tetap segera dijalankan." Kata itsuki
"m. . mio . . dan mayu. . 2 keponakanku. . mereka adalah saudara kembar. . "kata kei perlahan
Aku dan itsuki terkejut sambil langsung melihat Kei. Kei mengepalkan tangannya sambil merapatkan giginya.
"takkan . . takkan kubiarkan penduduk desa ini menjalankan ritualnya pada mio dan mayu. . tidak akan. ." kata Kei
". . . mungkin belum terlambat.. lebih baik kamu cepat. . ke rumah keluarga kurosawa. . disana kami menjalankan ritualnya. . sama seperti aku dulu. . dengan mutsuki. . saudara kembarku. ." kata itsuki.
Kami berdua terdiam. . sambil menundukkan kepala kami, begitu pula itsuki yang menatap kami dengan mata berkaca kaca. .
*duuaaaaarrr!*
Sebuah suara yang mirip seperti ledakan mengagetkan kami itu datang dari arah yang berlawanan dengan letak kami. Sekumpulan kabut yang berwarna sangat gelap naik ke langit, persis seperti asap dari kawah gunung berapi yang meledak.
"a. . apa itu?" kataku. .
"aku. . tidak tahu. . ." kata Kei
"ritual . . itu. . sudah dimulai. . untuk sae. . " kata itsuki sambil mulai meneteskan air mata.
Kami berdua memandangi itsuki yang terus menundukkan kepalanya.
"maafkan aku. . sae. . aku gagal. ." kata itsuki
"AAAAAAARGHHHH! OAAAARGGGGGGH!"
Kami semua dikejutkan kembali oleh suara teriakan teriakan dari arah datangnya asap itu, aku mendekatkan diriku pada kei. . suara suara itu semakin lama semakin redup dan akhirnya sunyi kembali.
"itsuki. . katakana padaku suara suara apa itu?" kata kei
"mungkin. . lebih baik kalian cepat pergi ke rumah kurosawa. . sebelum. . semuanya terlambat. . kalian akan membutuhkan emblem dari kepala keluarga utama disini. . Osaka. . kiryuu. . dan keluargaku. . tachibana. . dan satu emblem lagi dari keluarga kurosawa. . jika kalian ingin masuk ke tempat ritual pengorbanan itu. . " kata itsuki
"Osaka. . kiryu. . tachibana. . dan kurosawa. . okay aku akan segera mencarinya!" kata kei sambil bersiap siap berlari dari sana
"umm. . terima kasih banyak itsuki. . kamu yakin tidak apa apa berada disini? Kami akan mencari cara untuk melepaskanmu setelah ini. . tunggu kami. ." kataku
Itsuki hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya, maka aku dan kei pun mulai berjalan menuju rumah rumah yang disebutkan itsuki tadi.
"tu. . tunggu Rei. ." kata itsuki
"iya? Ada apa itsuki?" kataku sambil berjalan kembali ke depan jendela kecil itu
"apabila. . kalian bertemu dengan gadis kecil. . mengenakan kimono berwarna merah dan lonceng di tangannya, aku mohon sampaikan salamku ini. . . bilang saja itsuki minta maaf karena tidak dapat menepati janjinya. ." kata itsuki
Aku menganggukan kepalaku, tanda mengerti. Maka kami berdua pun berangkat dari bangunan itu. Rumah tiap rumah kami mencari, dimana saja rumah yang ditinggali keluarga bernama Osaka,kiryu,tachibana, dan kurosawa tersebut.
Pada akhirnya kami menemukan rumah keluarga. . pada awalnya kami tidak mengalami gangguan apa apa, dan kami dapat menemukan emblem keluarga Osaka dengan mudah, karena disimpan di ruang utama di sebuah kotak kayu yang berhiaskan ukiran bergambarkan seperti kupu kupu.
Kami tanpa menunda waktu lagi segera mencari rumah dari ketiga kepala keluarga lainnya.
"Kei. . kei! Ini rumah kiryuuu. . " kataku
"hah? Bagus rei. . ayo kita masuk" kata kei sambil berjalan ke arahku.
Rumah itu berukuran lumayan besar dan tentu saja sudah hancur di beberapa bagiannya. Aku berharap emblem itu tidak berada di bawah puing puing itu.
Kami berdua masuk melalui pitu depan yang sudah bobrok dan berlubang dan masuk ke ruang utama dari rumah itu. Bagian dalam rumah itu tidaklah sehancur yang terlihat dari luar.
"rei. . .rei. . ."
"ap. . WHoaaaaa!" jeritku ketika melihat kei membawa sebuah potongan boneka bagian wajah dan mendekatkan ke kepalaku.
"hahahhaa. . maaf maaf, aku tidak bermaksud mengerjaimu seperti itu. ." kata kei sambil mengulurkan tangannya
Aku pun menangkap tangannya dan berusaha untuk berdiri.
"apa apaan itu? Dimana kamu menemukannya?" tanyaku sambil membersihkan celanaku
"di ruangan sebelah, nampaknya keluarga ini adalah seorang pembuat boneka tradisi jepang ataupun boneka seperti ini." Katanya sambil masih memandangi potongan kepala itu.
"sudah. . buang benda itu. .semakin lama aku melihatnya, jadi semakin menyeremkan.." kataku sambil cemberut.
Kami memasuki sebuah ruangan dimana banyak sekali terdapat boneka kecil yang digantung ke langit langit. .
"nampaknya orang ini memang sangat terobsesi sekali dengan boneka. ." pikirku
*cring**cring*
"per. . gi. ."
"hah?kamu bilang apa Kei?" tanyaku sambil melihat Kei yang sibuk mengobrak abrik laci
"aku . . tidak ada bilang apa apa. ." kata kei
Kami berdua saling menatap degan wajah yang kebingungan.
"pergi. . .sebelum akane. ."
suara itu kembali terdengar dari arah langit langit ruangan itu. Kali ini aku yakin bahwa itu bukanlah suara Kei, namun suara itu ialah suara seorang pria.
"a. . akane?" kataku perlahan
Kei hanya bisa terdiam dengan wajah yang kebingungan.
"cepat. . . pergi. . ."
*cring*
Sebuah tangan jatuh ke pundak Kei. .
"whoa!" teriak Kei sambil menepis tangan tersebut.
Tiba tiba sesosok pria muncul dari belakang kami. .
"a. . akane. . cepat. . pergi. ." kata pria itu
"kamu siapa?" tanyaku perlahan
"sebelum. . ia menemukan. . kalian. ." katanya
Pria itu membalikkan tubuhnya
"he . hei. . apakah kamu anggota keluarga kiryu?" tanyaku
Pria itu terdiam sesaat sambil membalikkan pandangannya kepada kami.
"aku . . yoshitatsu . . kiryu. . " katanya sambil perlahan lahan menghilang dari pandangan kami.
Kami berdua tak dapat mengalihkan pandangan kami dari sesosok gadis kecil tepat dibelakang pria yang bernama yoshitatsu itu.
"PERGI!" kata yoshitatsu tepat sebelum seluruh tubuhnnya menghilang.
Kami berdua hanya memandangi gadis kecil di ujung ruangan tersebut. Rambutnya berwarna gelap dan sangat panjang
". . kalian. . .apakan. . ayah?" kata gadis itu
*klak**klak*
Gadis itu terus melangkah mendekati kami. Gadis itu bergerak sangat kaku seperti sebuah manekin bergerak.
"dimana. . azami?" kata gadis itu
"ke. . kei. . kita harus segera pergi. ." kataku sambil menarik tangan kei.
Kami berdua berbalik badan untuk berlari keluar dari ruangan tersebut.
"ka. .lian. . mau. .kemana. ."
Kami melihat seorang gadis lagi yang berpenampilan sama dengan gadis kecil di belakang kami tadi.
"hah? Me. .mereka ada dua?!"kata Kei sambil berbalik badan dan mengamati gadis yang di belakang kami.
"a. .zami. . kiryu. ." kata gadis yang berada di depanku
"akane. . kiryu" kata gadis yang berada di belakangku.
Mereka berdua mulai bergerak mendekati kami berdua. . akane terlihat sangat kaku ketika berjalan mendekati kami.
"Kei. . kita harus lari. ." bisikku pada kei
"a. . aku akan menahan akane. . kamu cepat lari dari sini ok?" kata kei
"hah? Lalu. . kamu?"
"cepaaaat!" teriak kei sambil mendorongku menjauh dari dirinya.
"uh, Kei!" jeritku sambil hampir terjatuh
"temukan emblem itu. .cepat!" teriak kei sambil berlari ke arah akane.
Aku segera berlari melewati mereka berdua tanpa menoleh kebelakang untuk mengecek azami kiryu. Aku berlari jauh dari ruangan tersebut, lekukan lorong, belokan, pintu demi pintu aku masuki, rumah itu seperti tidak ada habisnya.
"haaah. . hah. . hah. " gumamku sambil mengatur nafasku karena kelelahan.
Aku tiba di sebuah ruangan yang lumayan besar dengan berbagai jenis boneka kayu yang digantung di langit langitnya.
"haah. . ru. .ruangan apa ini?" pikirku
*krek*
"kenapa. . akane. ."
Azami tiba tiba muncul dan melompat naik ke punggungku.
"aaaagh! Lepaskan aku!" kataku sambil meronta mencoba meronta untuk melepaskan genggaman azami
"kenapa! Kenapa akane? Kenapa bukan aku?" teriak azami sambil mulai mencekik leherku dari belakang
"uhuk. . aaaagh tolong! " jeritku sambil menahan sakit di leherku
Meskipun azami merupakan gadis kecil yang mungkin berumur sekitar 8 – 9 tahun, ukuran tenaga azami tidaklah kalah dengan orang dewasa.
"uhuk. . lepaskan aku! Azami. ." jeritku
"tidak! Kamu harus mati. . semua gara gara kamu. . !" teriak azami
Azami kembali mencekik leherku dengan kuat. Nafasku mulai tidak beraturan, padanganku mulai kabur, dan tenagaku semakin lama semakin terkuras.
"a. . zami. ." katakku perlahan
"Rei!" teriak kei sambil menarik tubuh azami dariku
Azami menjerit kencang memenuhi seluruh isi ruangan itu.
Kei membantuku berdiri sambil menyandarkan bahunya untuk tanganku.
"kamu tidak apa apa rei?" Tanya kei perlahan
"huft . .tidak apa apa. . terima kasih kei. ." kataku
"uh. . rei?" kata kei sambil menunjuk ke tanganku
Tato itu kembali muncul sepanjang lengan bawahku dan leherku, namun kali ini tanpa rasa sakit.
"i. . itu apa rei?" Tanya kei
"ugh. . nanti akan kujelaskan kei. .sekarang kita harus cepat temukan emblem itu. ." kataku sambil meraba tanganku yang penuh dengan tato.
Kami melanjutkan pencarian ke sebuah ruangan yang tampaknya ialah sebuah kamar. Di kamar tersebut terdapat sebuah boneka kayu tua yang mirip seperti azami dan akane, namun boneka itu terlihat tua, dan rusak di beberapa bagiannya.
"rei. . apakah mungkin kiryu meletakkan emblemnya di dalam boneka tersebut?" kata kei
"hmm. . "
Aku dan kei secara perlahan lahan mendekati boneka lusuh tersebut. Pernyataan kei tidak salah, emblem itu terdapat di dalam kepala dari boneka yang rusak tersebut.
"akhirnya. . tinggal 2 emblem lagi dan kita akan dapat menyelamatkan mio." Kata kei sambil tersenyum
Tiba tiba tanganku dan seluruh punggungku mulai terasa sakit. Tato tato itu kembali bersinar dengan terang.
"aaaaaargghh!" teriakku
"re. . rei kamu tidak apa. ."
*Brak*
Belum sempat kei menyelesaikan kata katanya, kei seperti terpental ke arah samping dari boneka tersebut dan kepalanya menabrak tembok sampai ia pingsan.
"ke. . kei!" kataku
Sesosok wanita muncul dari arah belakang tempat kei berdiri tadi. wanita berambut panjang. . yang tubuhnya dipenuhi oleh tato.
Aku melangkah mundur sambil menahan rasa sakit dari tato tersebut.
"he. .hei. .si. . siapa kamu?" kataku
"Rei. . ka. .kuze. ."
Saat itu pertama kalinya aku dapat mendengar suara dari wanita yang telah memberikan aku kutukan ini.
"ap. . apa maumu?"tanyaku
Wanita itu hanya tersenyum. . rambut panjangnya menutupi hampir seluruh wajah wanita itu.
"hh. . hahaha. ." kata wanita itu
Wanita itu kemudian berbalik badan dan menghilang di dalam kegelapan.
"he. .hey!" kataku sambil melangkah maju mencoba mengejar wanita itu.
"kamu. . . apakan. . aka. . ne?"
Tiba tiba suara aneh muncul bersamaan dengan tangan yang menggenggam erat lenganku. .
"aaaaagh! Azami. . tidaaak!" jeritku sambil menahan sakit akibat genggaman gadis itu.
*cring**cring*
Semua ruangan itu bersinar terang. . kotoran, sarang laba laba, debu. . semua secara perlahan semakin memudar dan kayu yang rusak nampaknya kembali ke keadaan sebelumnya. aku berdiri di ruangan tersebut sambil memandangi sekitarku.
"azamiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii. . ."
Aku mendengar teriakan seorang gadis kecil dari arah belakangku. Tiba tiba sepasang gadis kecil berambut panjang berlari lari di sekitarku. Mereka ialah si kembar kiryu, dan seorang pria dengan rambut putih yang sedang menutup jendela rumah itu.
"ayah. . ayah. . mengapa ayah membawa kita kemari?" Tanya azami.
Pria itu membalikkan badannya, ternyata pria itu adalah yoshitatsu kiryu, pria yang menampakkan dirinya kepadaku dan kei.
"azami. . akane. . ada yang harus ayah bicarakan kepada kalian berdua." Kata yoshitatsu
"tentang apa ayah?" Tanya akane
"kalian akan tahu nanti. . ayo kita ke rumah keluarga kurosawa" ajak yoshitatsu
*cring*
Semua pemandangan tadi berubah menjadi gelap. . aku melihat azami yang sdang menggenggam tubuh akane yang terlihat lemas sambil menangis.
"ritualnya berhasil. . beranggalah kiryu. . kamu sudah berbuat sesuatu yang benar untuk desa"
"bukannya mereka masih terlalu kecil?"
"maafkan aku akane. . ayah tidak bermaksud untuk ini"
"buang tubuhnya ke lubang pengorbanan. ."
Suara suara itu muncul di dalam kepalaku, dan semua yang terlihat hanyalah bayangan azami yang memeluk tubuh akane.
Bayangan baru kembali muncul, yoshitatsu seperti sedang memotong dan menyusun kayu, nampaknya ia sedang membuat sebuah boneka. Semakin lama susunannya menjadi berbentuk dan semakin jelas, yositatsu membuat sebuah boneka yang mirip dengan akane. yoshi kemudian membacakan semacam doa kepada boneka itu, dan memasukkan emblem kiryu di dalamnya.
"lihat ini azami. . ayah membawakan kamu akane. ." kata Yoshi sambil memberikan boneka dengan ukuran sama seperti tubuh anaknya dan wajah yang sangatlah mirip.
Azami terlihat sangat senang,aku dapat melihat dari bayang bayang azami sedang bermain dengan boneka akane sambil berbicara padanya seakan akan boneka itu benar benar akane.
*cring* *cring*
"hah?"
Aku tersadar kembali, aku melihat ruangan di sekitarku masih sama seperti tadi, hanya saja lebih gelap.
"aaaaargh! Tidak !"
Aku mendengar suara teriakan seorang pria dari arah ruangan sebelah. Dengan segera aku mendekati pintu di ujung ruangan tersebut dan membukanya, namun percuma, pintu itu seperti ditahan untuk tidak bisa digeser. Akhirnya aku memutuskan untuk melubangi pintu itu dengan jariku dan mengintip dari lubang yang kubuat.
Aku melihat yoshitatsu terkapar di lantai, dan sesosok figur seperti azami atau akane yang berdiri di depannya dengan pisau. .
"a. . akane. . maafkan ayah. ." kata Yoshi
"di. . am. . Diam! Gara gara ayah, aku tidak bisa pergi tenang, dan akhirnya terjebak. . di tubuh mengerikan ini. ."kata gadis itu
Aku dapat melihat tubuh gadis itu berruas ruas seperti kayu dan memang, itu adalah boneka kayu akane. . yang dibuat oleh Yoshi.
"ma. .maafkan ayah. . semua untuk saudarimu. ." kata Yoshi smbil menutup wajahnya
"untuk azami? UNTUK AZAMI? Lalu bagaimana aku ayah? Kenapa ayah memaksaku untuk mati? Kenapa bukan azami?" teriak akane sambil menusuk perut Yoshi dengan pisau itu
"aaargh! Tidaaaaaaaaaaak!" teriak Yoshi. .
"agh. . tidak. ." pikirku sambil menutup mulutku
*cring*
Semua ruangan itu kembali gelap. .sangat gelap hingga aku tidak bisa melihat apa apa.
"akane. . kamu mau apa?" Tanya azami
"bebaskan aku. . dan ikutlah denganku azami. . kita bisa bermain bersama. . selamanya. ." kata akane
"i. . iya. . kakak. ." kata azami perlahan
*cring*
Ruangan itu semakin terang dan alangkah kagetnya aku ketika melihat kedua gadis itu. . tergantung di sebuah lorong di rumah itu dengan tubuh yang lemas dan mata yang terbuka lebar.
"kembar kiryu. . ." kataku perlahan sambil menutup mulutku karena terkejut.
*cring* *cring*
To be continued part 13
"The Crest, The Bell, and The Crimson Kimono"
