The call of tattoos part 13
- The Crest, The Bell, and The Crimson Kimono –
"Rei. . Rei!"
"ugh. . kei?" kataku sambil memegang kepalaku yang masih terbalut perban
"rei. . kamu mendapatkannya?" Tanya kei
Aku memandangi sekitarku. . nampaknya semua kembali seperti semula. Aku mencoba untuk berdiri dengan bantuan kei.
"oh. . i. .ini" kataku sambil menunjukkan emblem kiryu dari tanganku.
"bagus. . dengan ini sisa 2 emblem lagi yang harus kita temukan" kata kei
"i. . iya kei. ." kataku sambil memegangi perutku
"kemari rei. . aku akan membantumu" kata kei sambil mengalungkan lenganku ke lehernya.
Sesaat aku melihat wajah kei saat itu sangat ceria dan bersinar. Kei menuntunku keluar dari rumah tua tersebut.
"um. . rei. . mungkin sebaiknya kita beristirahat dahulu?" Tanya kei
"ti. . tidak kei, aku tidak apa apa. ." kataku sambil melepaskan gandengan kei
"um. . kamu yakin?"
"ya. . rei orang yang kuat!" kataku sambil tersenyum kepadanya
Kei membalas senyumanku dengan bibir tipisnya dan tulang pipi yang membuatnya tampak manis. Kami berdua berjalan menuju rumah brikutnya untuk mencari emblem keluarga tachibana.
"tachi. . bana. . nama keluarga dari itsuki. ." kataku perlahan
"iya. . itsuki tachibana. . aku harap emblem tersebut tidak susah untuk didapatkan. ." kata kei sambil memandangi kedua emblem kiryu dan Osaka di tangannya.
Kami berdua sampai di depan rumah tachibana, rumah tersebut terlihat sangat besar dan tua dengan bertuliskan "tachibana" di pintu masuknya.
"kamu sudah siap rei?" Tanya kei yang Nampak memperhatikan kepalaku
Aku hanya mengangguk sambil mengehela nafas panjang. Maka kami berdua pun masuk ke dalam rumah tua itu. Rumah itu tidaklah berbeda dari rumah lainnya. Kami pertama tama masuk di sebuah teras dengan beberapa perabotan yang sudah tua dan rusak. Karena nampaknya kami tidak dapat menemukan apa apa, maka dengan cepat kami melanjutkan pencarian ke ruangan berikutnya. Rumah ini Nampak lebih rapi daripada rumah kiryuu sebelumnya.
"rei. . coba kamu cek di laci itu" kata kei sambil menunjuk sebuah laci
Tanpa berkata kata aku segera membuka sebuah meja laci kecil yang terletak di tengah sebuah altar di tengah ruangan tersebut. Aku menemukan sebuah kotak kecil yang berisikan tulisan tachibana di atasnya.
"k. .kei. . mungkin emblemnya ada di dalam sini. ." kataku sambil mengangkat kotak tersebut.
"hmm.. mungkin saja rei, bagaimana cara kita membukanya?" kata kei sambil mengambil kotak itu dari tanganku.
"kita harus menemukan kuncinya. ." kataku sambil menunjuk sebuah lubang yang sepertinya merupakan lubang kunci di kotak tersebut.
"hmm. . mungkin saja. ." kata kei sambil mengankat alisnya.
Kami berdua kembali melanjutkan pencarian sambil membawa kotak kecil tadi. Setelah selesai mencari di ruangan di lantai bawah, kami memutuskan untuk memeriksa ruangan ruangan di lantai atas.
"hiks. .hiks. ."
". . . kamu mendengar itu rei?" Tanya kei kepadaku sambil menaiki tangga
". . .ti. .tidak. ." kataku sambil mengelengkan kepalaku.
Kei menyuruhku untuk tetap berhati hati sambil tetap berjalan menaiki anak tangga tersebut.
"hati hati kei. ." kataku sambil menggenggam lengan kei
Kei menelan ludah sambil secara perlahan mengintip dari sisi tembok tepat di ujung tangga tersebut.
*cring*
Tiba tiba sesosok gadis kecil muncul di hadapan kami sambil menundukkan kepalanya.
"ke. . kembalikan itsuki!" teriak gadis itu
Belum sempat kami merespon, gadis itu segera berlari menjauhi kami. Gadis itu berambut hitam dan pendek, sambil mengenakan sebuah kimono merah tua dan mengenakan sebuah gelang dengan lonceng kecil sebagai hiasannya.
*cring* *cring*
"he. . hey tunggu!" kata kei sambil berlari untuk menangkap gadis itu.
Kami berdua mempercepat langkah untuk menyusul gadis itu, namun gadis itu dengan cepat menghilang. Hanya suara lonceng kecilnya yang terdengar memenuhi seluruh ruangan di rumah itu.
"gadis itu.. gadis yang disebutkan itsuki sebelumnya. ." kataku sambil berlari bersama kei.
". . iya. ." kata kei sambil menggangguk.
Pada akhirnya langkah kami terhenti di sebuah ruangan yang besar dengan sebuah meja di tngahnya.
"haah. . haah. . kemana perginya gadis itu?" tanyaku sambil terengah engah.
"a. . aku tidak tahu rei. ." kata kei.
*cring*
Suara bel kecil itu kembali terdengar. Kami mencoba melihat ke segala arah, mencari dari mana asal suara tersebut.
"kembalikan, kkaku!"
Suara teriakan tiba tiba muncul dari belakangku. Dengan cepat aku membalikkan itu melirikku dengan wajah yang marah. Tangan gadis itu melingkari leherku sambil mulai menekannya.
"kemana. . itsuki?!" teriak gadis itu sambil mencekikku
"aaagh. . kei! Tolong!" teriakku
"Rei! Hey! Lepaskan Rei!" kata kei sambil menarik tubuh gadis kecil tersebut.
Gadis itu tetap bertahan dan terus mencekikku, tato di tubuhku kembali muncul, dan menyebar sangat cepat.
"re. .rei!" teriak kei sambil terus menarik tubuh gadis kecil itu.
Gadis kecil itu melepaskan genggamannya padaku, dan ia pun terjatuh bersama dengan Kei yang menariknya.
"hhh. . hh. . hoaaaaaaaaaaaaa!" teriak gadis itu sambil menangis
Tiba tiba seluruh ruangan itu menjadi gelap, benar benar gelap seakan akan kami berada di sebuah ruangan yang berwarna hitam kelam.
"ke.. Kei! Apa yang terjadi?" kataku sambil mencoba mencari kei di dalam kegelapan.
"rei! Rei!" teriak kei di kejauhan
Kami berdua tidak dapat menemukan satu sama lain. Aku mencoba meraba tembok untuk menemukan posisiku.
*cring* *cring*
Suara bel gadis itu kembali terdengar memenuhi ruangan itu. Aku mencoba mencari dari mana asalnya, namun sia sia, bel itu benar benar terdengar seakian akan dari segala arah.
"hiks. .hiks. . "
"kei!" jeritku sambil merapat pada tembok
Secara perlahan lahan ruangan tersebut kembali terang. Aku menemukan diriku di sudut ruangan sambil memegangi tembok ruangan tersebut.
"a. . apa yang terjadi?" pikirku
"aaaaaaaaaaaaaargh!"
Aku mendengar kei menjerit kesakitan, dengan cepat aku membalikkan badanku. Aku melihat kei sudah terkapar di lantai dengan wajahnya yang tampak lebam dan leher yang terdapat bekas tekanan berbentuk telapak tangan.
"ke . kei!" teriakku sambil berlari ke arah kei.
"ja. . jangan Rei!" kata kei
Aku menghentikan langkahku sesaat sambil terbelalak melihat sosok yang berada di depan kei. Seorang wanita dengan rambut panjang berwarna hitam dan tubuh yang tampak putih kebiruan. Ya. . itu Reika. . dia muncul tepat di depan kei. Kei tampak sangat ketakutan dengan mata yang terbelalak dan mulutyang terbuka lebar.
"aaaaaaaaaaaaaagh!" jeritku
Tato d tubuhku kembali muncul, dan bertambah lebar.
"re. . reika?" kata kei terbata bata.
Wanita itu menatap kei dengan wajah yang tanpa ekspresi. Kemudian wanita itu secara perlahan membalikkan pandangannya kepadaku yang masih berusaha menahan sakit dari tato tersebut.
"se. . dikit lagi. ." katanya
"aaaagh!" teriakku sambil memegangi lenganku dan menahan sakit tersebut.
Perban di kepalaku Nampak terlepas, aku terjatuh ke lantai sambil memegangi perut dan lenganku.
"tato itu. . akan menghapuskan. . semua rasa sakit. . dan kesedihan. . mu. ." kata reika
*cring* *cring*
". . . haah. . .hah. ." kataku sambil mengatur nafasku
Rasa sakit itu kembali hilang bersama keseluruhan tato itu. Aku dapat merasakan hangatnya sinar matahari di siang hari pada kulitku.
"haah. . di. . dimana ini?" kataku
"kakak!"
Belum sempat aku membalikkan badanku karena mendengar suara tersebut, sesosok gadis kecil menembus tubuhku. Itu adalah gadis berkimono merah tadi. Namun tidak terlihat pucat dan terlihat sangat senang.
"chitose. . hati hati, aku tidak ingin kamu terjatuh dan melukai dirimu sendiri lagi."
Aku melihat seorang pria berambut putih yang berdiri di ujung ruangan tersebut. Itu adalah itsuki, persis seperti saat aku pertama melihatnya bersama kei.
Gadis itu berlari dan memeluk itsuki, wajahnya Nampak sangat bahagia.
"haha chii. . bagaimana dengan matamu? Apakah sudah membaik?" Tanya itsuki
"belum kakak. .tidak apa apa, asalkan chi masih dapat melihat kakak" kata gadis itu sambil tersenyum.
"haha, aku ingin memberikanmu sesuatu. ." kata itsuki sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil
"umm . . apa itu?" Tanya chii
"ini, itsu punya sebuah gelang kecil dengan bel di ujungnya, aku ingin kamu memakai ini chii, dan berjanji pada kakak kalau kamu tidak akan melepaskannya. Bel ini akan selalu menjagamu, agar kakak tahu apabila kamu mendekati sesuatu yang berbahaya." Kata itsuki
"i. . iya kakak. ." kata chii
*cring*
Semua pemandangan tadi berubah menjadi sebuah ruangan yang tampak gelap dan sunyi. Aku dapat melihat chitose dan itsuki sedang terduduk di tengah ruangan tersebut.
"chii. . aku ingin kamu mengerti akan hal ini. ." kata itsuki dengan wajah yang serius.
"kakak jangan bodoh. . tindakan kakak ini tidak akan disenangi oleh selruh penduduk desa." Kata chii
Tanpa berkata kata lagi,itsuki segera bangkit dan berjalan keluar rumah tersebut. Chitose hanya dapat menangis dan terus menerus berteriak.
"chii aku akan kembali, tenang saja aku pasti akan kembali." Kata itsuki
*cring* *cring*
"KELUAR! Tachibana!"
". . . ugh. ."
Aku dapat melihat chitose yang terduduk di dekat pintu masuk rumah tersebut sambil menangis.
"KELUAR!" teriak beberapa orang dari luar rumah tersebut
Chitose berlari menuju ruangan sebelah dan masuk ke dalam sebuah lemari. Aku pun berjalan menuju lemari tersebut dan mencoba membukanya. Namun sia sia, lemari itu Nampak ditahan oleh gadis itu agar tidak terbuka.
Pada akhirnya aku mencoba untuk menembus tembok tersebut, dan ternyata berhasil. Aku pada akhirnya berada di dalam lemari itu bersama chitose. Chitose Nampak terduduk di sudut ruangan tersebut sambil menangis.
". . jangan pernah. . membuka pintu untuk orang tak dkienal. ." begitu yang dia katakan sambil berdoa.
Tiba tiba seseorang mengetuk pintu lemari itu.
"grrh . . nggh. ." gumam chii sambil menutup telinga dan matanya
*click*
"hah?" kata chitose sambil melihat kea rah pintu lemari tersebut.
Chitose mencoba menggeser pintu tersebut, namun tidak mau terbuka, nampaknya orang orang tersebut menguncinya dari luar.
"ti. . tidak. . tidaaaaaaaaaak!" teriak chii dari dalam lemari sambil memukul pintu lemari tersebut.
Tidak ada jawaban dari luar lemari tersebut.
"Itsuki! Tolong aku!" teriak chitose beriringan dengan bunyi bell di tangannya.
Aku menutup mulutku, melihat kejadian tersebut. Aku meneteskan air mataku saat melihat chii depresi sambil terus memukul mukul pintu lemari tersebut.
*cring* *cring* *cring*
Bel itu terus dibunyikan oleh chi sambil ia terduduk di pinggir lemari tersebut.
*cring* *cring* *cring*
"it. . suki. .tolong aku. ." kata chitose dengan wajah yang tampak agak lemas.
Aku mencoba beberapa kali untuk membuka lemari tersebut, seakan akan lemari itu memang dibuat untuk tidak bisa dibuka.
Aku duduk di sebelah chi, berharap ia dapat melihat atau mengetahui keberadaanku disini.
*cring*
"it. . su ki. ." kata chii
Sekitar 2 hari sudah berlalu, dan chi masih saja terjebak di dalam sana dengan tubuh yang semakin kurus dan sangat lemas.
*cring*
". . ka. .kak" kata chii dengan mata terpejam dan wajah yang pucat.
Ak hanya bisa terduduk dan menangis sambil melihat keadaan chi seperti itu.
*cring*
". . ."
Saat itulah chitose telah membunyikan bell tersebut untuk terakhir kali. .
aku hanya bisa menunduk smbil terus melihat tubuh chii yang sudah terbaring lemas disana.
*cring* *cring*
"hah?"
aku kembali tersadar di rumah tachibana bersama kei yang sudah memperhatikan wajahku dengan wajahnya yang kebingungan
"Rei, kamu masih hidup kan?" Tanya kei
"i. . iya kei. ." kataku perlahan.
"apa yang terjadi padamu?" kata kei sambil memegangi luka lbam di lehernya.
"a. . aku tau dimana kuncinya. ." kataku sambil teringat bahwa chitose selalu membawanya.
Aku menuntun kei ke tempat dimana chitose terjebak, sesaat setelah lemari itu terbuka, aku menghela nafas panjang, sambil melihat tubuh chitose yang sudah menjadi tengkorak.
"andai saja aku bisa datang lebih cepat, aku mungkin bisa menyelamatkanmu chii. . kataku"
Aku menarik gelang chii dari pergelangan tangan mayat chii.
"oh. . dan chii. . itsuki menitipkan salam untukmu, ia bilang maafkan kakak, andai saja kakak bisa datang. Istirahatlah dengan tenang . . chitose" kataku sambil kembali menghela nafasku.
Aku membuka kotak tersebut menggunakan kunci dari chii, dan memang, emblem tachibana berada di dalamnya.
"tinggal satu lagi ^^" kataku sambil menatap kei
Kei tidak menjawabku, ia hanya terfokuskan pada lukanya dan reika tadi.
"pendeta. . bertato.." begitu gumamnya.
". . kei. ." kataku sambil menepuk pundak Kei
"kamu mendapatkan tato itu dari reika kan?" Tanya kei
"i. . iya kei. ."
"kamu. . dalam masalah besar. . Rei. ." kata kei
To be continued part 14
"We will always be together, we will. . ."
