The Call OF The Tattoos Part 19

-Kaname . . Ototsuki -

Disinilah aku berada sekarang. . terjebak di dalam tubuh reika, terjebak di dalam sebuah kandang kecil, dan bahkan terjebak di dalam rumah Kuil keluarga Kuze ini. .

Yashuu memerintahkan para pendeta untuk mengurungku, agar aku tidak melarikan diri dari kuil tersebut. . lagipula. .aku akan lari kemana? Seluruh rumah dan desaku telah hancur, semua orang yang kukenal telah meninggal. .

*knock* *knock*

"reika san?"

Suara yang setiap hari kudengar, dan mungkin hanya suara itulah yang akan selalu kuingat dalam hari hariku.

"i. .iya. . silahkan masuk amane" kataku

Gadis kecil itu adalah amane, salah satu gadis pendeta yang mengenakan kimono putih-merah. Amane merupakan anak dari nona kyouka, dan ia ditugaskan untuk menjagaku dan menemaniku di saat aku jenuh. Meskipun tidak seberapa, tapi aku menikmati apabila amane datang kepadaku. Gadis ini sama sekali tidak pernah keluar dari kuil, karena master Yashuu ialah orang yang tegas dank eras akan aturan. Jadi Amane selalu bertanya Tanya kepadaku, seperti apa dunia luar itu. . .

Kami bercerita tentang apapun, mulai dari keluarga, kebiasaan, hobi, semuanya. Amane juga menceritakan tentang bagaimana hidupnya di kuil Kuze, ia sangat disayang oleh ibunya, Kyouka. .

"hah? apa benar nona kyouka mempunyai anak lagi selain kamu?" tanyaku

"eh. Ehhh. . sshhh. . " kata amane sambil menutup mulutku

"ubbh. . m. .maaf " kataku sambil menarik tangan amane dari wajahku.

"m. master yashuu tidak boleh tahu tentang ini. . kamu tau sendiri lelaki itu dilarang masuk ke kuil Kuze. ." kata amane

"iyaa . .iya. . aku mengerti . . lalu kakak laki lakimu itu ada dimana?" tanyaku sambil berbisik

"a. .aku tidak tahu reika. . mama tidak pernah mau memberitahuku kakak pergi kemana, bahkan melihat wajahnya saja aku tidak pernah." Kata amane.

Kaname. .Kuze. . anak pertama dari kyouka Kuze dan Akito. Setiap hari amane menanyakan hal tersebut kepada kyouka, dan berbagi kepadaku. Meskipun itu adalah sebuah rahasia besar, namun Amane mempercayaiku dibanding ketiga saudari pendeta gadis lainnya.

Kaname pernah tinggal di dalam kuil sampai berumur 3 tahun, sebelum Yashuu mulai mencurigai keberadaan kaname, Kyouka memutuskan untuk menitipkan Kaname kepada keluarga besar Ototsuki di desa sebelah. Tidak ingin mengecewakan Ibunya, Kyouka pada akhirnya menikah kembali dengan salah satu pendiri Kuil Kuze yang pada nantinya dibuahi seorang gadis kecil. . Amane Kuze.

"selamat siang reika san"

"ah? Hallo Amane" kataku sambil melambaikan tanganku.

"um. .bagaimana dengan tato itu?" Tanya amane

Aku segera mengangkat sedikit bagian kimonoku untuk mengeceknya. Tato itu sudah mulai menjalar sedikit demi sedikit ke segala arah.

"u. uh. .aku baik baik saja amane. .mungkin sedikit agak sakit ketika ini menyebar" kataku perlahan.

"umh. .maafkan aku ya reika. . seandainya kamu tidak harus melakukan ini" kata amane penuh simpati

Aku hanya bisa tersenyum dan tertawa kecil kepadanya.

"hihi. .tidak apa apa amane chan. . ini semua untuk ayah dan adikku. .mereka berdua sudah menungguku di seberang sana. . aku tidak akan mengecewakan ayah.." kataku

"uh. . a. aku mengerti. . reika san. ." kata amane sambil mengangguk. .

"hm?"

Amane terlihat agak menunduk dan terlihat agak murung, namun belum sempat aku bertanya, . .

"h. hey. .kamu tahu, kita akan kedatangan tamu special. ." kata amane

"hm? Tamu? Special?" kataku

Amane hanya mengangguk sambil tersenyum kepadaku. . .

"heeeeyy. .beritahu aku amane. . siapa?" kataku sambil mencoba menangkap amane dari dalam kandangku.

"haha. . itu adalah keluarga Ototsuki reika. ." kata amane sambil tersenyum

"otot. .suki? i. . itu bukannya keluarga kakakmu, kaname?" ttanyaku

Amane kembali menganggukkan kepalanya sambil tersenyum gembira.

"mhm. .biarpun mama menyuruhku untuk tidak membuka kedok kalau kita adalah saudara, namun aku cukup senang untuk dapat melihatnya saja." Kata Amane

"Hmm. . aku harap aku dapat melihatnya juga, namun bagaimana bisa? Bodohnya diriku. .keluar dari kandang ini saja aku tidak bisa, bagaimana cara aku keluar dari pondok ini?" kataku

"mungkiiinn. . aku dapat membawanya kemari. ." kata amane

"hee? J. jangan. . bahaya kalau master Yashuu tau. ."

"hmm. .masuk akal sih. ." kata amane. .

Hari yang ditunggu pun tiba, Amane hari itu tidak mengunjungiku lagi, mungkin dia sibuk melayani para tamu. Biasanya kami selalu berbincang ramai dan lama, namun sekarang hanya tinggal aku sendirian. Aku dapat mendengar berbagai macam tabuhan dan music yang lumayan meriah.

"ototsuki. . nampaknya merupakan tamu penting. . sampai menyiapkan perayaan seperti ini" kataku

"aku harap Amane mendapatkan apa yang dia cari cari selama ini. . hihi. ." pikirku

Malam itu berlalu cepat dengan perayaan dan pertunjukkan di dalam kuil, sedangkan aku disini. . di sebuah gubuk tua, hanya ditemani sebuah lentera tua dengan lilin berwarna kebiruan.

*knock* *knock*

"reika san. .selamat pagi"

"ugh. i. .iya amane silahkan masuk" kataku sambil merapikan kimonoku

Pagi itu amane membawakan aku makanan sisa dari pesta semalam, dan memberitahuku bahwa banyak keluarga sedang menginap di kuil kita.

"ah. . bodohnya diriku, aku melupakan sumpitmu. . t. .tunggu disini reika san. .akan segera kuambilkan" kata amane

"memangnya aku akan pergi kemana?" kataku menggodanya

"haha. .iya, tunggu ya. ." kata amane sambil bergegas keluar dari pondok kecil yang letaknya tak jauh dari kuil utama.

Hari itu sangatlah indah. . aku dapat mendengar suara kicauan burung, suara pepohonan yang bergesekkan karena angin, dan bahkan suara jangkrik yang berbunyi di siang hari.

"amane kemana . .ya?" pikirku

Namun, sesaat setelah aku memikirkan itu, tiba tiba perutku terasa sangat sakit. Tanda di perutku kembali bersinar dan bersiap siap akan menyebar lagi.

"ugh . . aarrggh. . " jeritku sambil menahan sakit

Aku terguling guling di dalam kandangku, sambil memegangi perutku.

"uhgg . k. kenapa harus. .sekarang?" pikirku

Semakin lama rasa sakit yang ditimbulkan makin parah. Aku mulai meneteskan air mataku sambil terus menjerit jerit.

"HE. . HEY! Ada orang di dalam?! Buka pintunya!"

Suara itu mengagetkanku. Itu seperti suara seorang pria. Aku mencoba menahan rasa sakitku, namun percuma. Rasa sakit itu melebihi apapun. Aku tetap menjerit kesakitan.

*THUD*

Pria itu mulai mendobrak pintu pondok kandangku. Takut akan terlihat, aku mengambil selembar kain dan menutupi seluruh wajah dan kimonoku. Tak lama kemudian, rasa sakitku mulai menghilang, dan tato itu terlihat sampai melewati wajahku.

*Crack*

Pintu itu hancur didobrak. Dan sesosok pria muncul dari dalamnya.

"hey! A. .apa apaan ini?" kata pria itu seketika melihat kandangku terletak di tengah pondok tersebut.

"hey. .kamu tidak apa apa?" Tanya pria itu

" . . ." aku hanya bisa terdiam sambil menutupi wajahku

"a. .aku mendegar kamu berteriak tadi, oleh karena itu aku datang kemari. . kamu tidak apa apa?" Tanya pria itu sambil memandangiku

Pria itu tinggi, dengan rambut hitam pendek dan sedikit berantakan. Ia mengenakan sebuah kimono Biru Tua berhiaskan corak bunga berwarna keunguan.

"hey. .kami bisu?" Tanya pria itu

"a. .aku tidak apa apa. ." kataku perlahan

Aku tidak dapat melihat mata pria itu lama lama, takut dia akan ketakutan ketika melihat wajahku yang penuh dangan tato Kuze.

"k. .kamu yakin? Apakah kamu terluka?" Tanya pria itu

Aku hanya menggelengkan kepalaku sambil memalingkan wajahku dari wajahnya.

"sini. .biar aku liat" katanya penasaran akan sesuatu yang memang kusembunyikan darinya

Beberapa waktu lalu juga ada pernah ada sekumpulan anak anak yang merupakan tamu dari Yashuu datang kemari dan menemukan pondokku. Dan apa yang mereka katakana? Entah diantara Hantu, atau monster. Oleh karena itu aku sangat menyembunyikan diriku untuk sekarang ini, tidak ingin ada orang lain melihat monster di kuil ini.

"t. . tidak. . aku tidak apa apa" kataku perlahan

"hmm. . kenapa kamu dikurung di tempat seperti ini?" kata pria itu sambil melihat sekelilingku

"k. . a. .karena. .uh. ."

"hm? Siapa namamu?" tanyanya

". . ."

"hmm. .okay. . lebih baik kutanya nenek Yashuu saja. ." kata pria itu

Karena ketakutan, dengan cepat aku menjawab pertanyaan itu. .

"Reika. .Yuki. .umh. .Kuze. ." kataku.

"hm. .kenapa. .seorang Kuze ada di tempat seperti ini? Dan ayolah, untuk apa menutup diri seperti itu? Apakah kamu buruk rupa?" katanya sedikit menggodaku

"hmph. . i. .iya aku buruk rupa. . tuan. ." kataku perlahan

"hm. . tuan? Sini, biar aku beritahu sesuatu . .sini mendekat" kata pria itu

Tanpa pikir panjang lagi, aku mendekatkan telingaku ke pinggir jeruji besi itu, namun belum sempat ia mengatakan sesuatu, ia menarik kain yang kugunakan untuk menutupi wajahku.. aku menjerit sambil berusaha menutupi wajahku dengan tanganku, namun pria itu kembali menangkap tanganku dari luar jeruji, sehingga ia dapat melihat wajahku seutuhnya.

"h. hmph. ." kataku sambil menundukkan kepalaku

Ia menatapku selama beberapa detik dan kemudian tersenyum kepadaku.

"tidak terlalu. . buruk rupa. ." katanya

Aku mencibir sambil kembali menundukkan kepalaku.

"andaikan saja kalau si buruk rupa ini tersenyum, mungkin tidak akan seburuk ini. ." katanya sambil tertawa

Pipiku sedikit memerah namun aku tetap tidak berani mengangkat wajahku yang masih tertutup tato itu.

"baiklah, aku rasa aku harus pergi sekarang, sebelum orang tuaku kebingungan mencariku. Aku akan kembali lagi, apabila kamu masih menginginkan seseorang untuk teman bicara . . sampai nanti. . buruk rupa. .hehe" katanya

"hmph. .b. .baiklah. tuan. Umm. ." kataku

"Kaname. . Kaname Ototsuki" katanya sambil tersenyum dan berjalan keluar pondokku

"Ka. . Kaname?" kataku sambil menatap punggung pria tersebut.

14