The Call OF The Tattoos Part 20

-Echo Earrings. . -

Hari demi hari, kaname selalu datang ke pondokku, terkadang bersama Amane. namun tidak sedikitpun Kaname menyadari bahwa Amane ialah adik perempuannya. Kaname ialah seorang penjelajah, ia menceritakan hampir seluruh perjalanannya kepadaku dan amane. Hingga pada suatu malam. .

"reika san. . " kata amane

"hm? Ada apa amane?" tanyaku sambil merapikan rambut panjangku

"Kakak tidak dapat berhenti memperhatikanmu semenjak tato itu menghilang lagi dari wajahmu. ." katanya sambil tertawa

Seketika pipiku memerah dan mataku agak terbelalak.

"a. .amaneee. . t. .tidak mungkin tuan Kaname begitu . ." kataku

"lalu kenapa wajahmu memerah begitu?" katanya sambil merapikan peralatan makanku.

"hnnng. .t. tidak. .tidak. ." kataku sambil menutupi wajahku. .

IYA. . aku menyukai Kaname. . semenjak awal kita bertemu, aku tidak menyangka kalau pria itu adalah kaname. Aku terus menerus memikirkan kejadian pertemuan pertama kami berdua, tentang bagaimana ia menyapaku, bagaimana ia bercerita tentang apa saja kepadaku.

"reika. . reika?. . .Reika!"

"u. uh. .huh? a. amane. .ya?" kataku

"pfft. . sudah kuduga, kamu menyukai kakakku. .aku pergi dulu ya, sampai bertemu esok hari. . buruk rupa. ." kata amane sambil tertawa puas menggodaku

"h. hey! Awas kamu amane. . haha. ." kataku .

Semakin hari, kami semakin pun semakin dekat, . .

"h. . hey reika. . itu remah roti tersangkut di bibirmu" kata kaname

"e. . eeh..m. mana?" kataku sambil menggigit rotiku

Kaname mengambil sebuah kain dari sakunya dan membersihkannya dari bibirku.

"nah. . sudah . . makan itu harus pelan pelan. ." katanya sambil tertawa

"huuh. ."

"hm? Apa yang aku bilang kalau andaikan buruk rupa tersenyum?" katanya

"iya iya iya. . nih. ." kataku sambil tersenyum kepadanya. .

". . . k. .kamu. . memang benar. . cantik. ." kata kaname perlahan

"hm. E. eh?"

Pipiku langsung memerah sampai aku menghentikan makanku.

"a. .apalagi kalau pipimu sudah memerah seperti itu. ." kata kaname

"hnnng. . .s. . sudah. ." kataku sambil dengan cepat memalingkan wajahku

Semakin hari, kaname semakin mendekatiku. Suatu hari ia membawakanku serangkaian bunga setelah aku bercerita padanya kalau aku menyukai bunga. Segala sesuatu tentang dirinya, aku tuliskan di sebuah buku kecil berwarna biru tua dengan hiasan bunga kehitaman, juga pemberian dari kaname.

*kiss*

"hnn. . "

"hm? A. .apa? itu hanya sebuah kecupan di dahimu. ." kata kaname

"t. .tapi. ." kataku sambil menangkat wajahku yang kini dipenuhi tato lagi.

"shhh. . atau belum cukup?" kata kaname

"hnnn. .b. bukan itu. .tap. ."

*kiss*

Wajah kami sangat berdekatan. . detak jantung kami serasa berhenti, semua terasa sunyi, bahkan udara pun sepertinya telah meninggalkan pondok itu. Kurasakan perasaan aneh, namun hangat di sekitar bibirku.

Untuk beberapa saat aku membuka lebar mataku, belum tersadar akan apa yang sebenarnya terjadi. Aku menatap wajahnya. Ia menutup matanya sambil memegang dagu dan pipiku.

"hh. .hhh. ."

"hnn. ."

Aku terdiam sesaat sambilkan memalingkan wajahku yang merah padam akibat tingkah kaname.

"hmmh. . k. . kamu terlalu berisik sih. . " kata kaname sambil tersenyum manis kepadaku

". . ."

"lhooo? Kok jadi diam ?" katanya mulai menggodaku lagi

". . d. . diam kamu. ." kataku sambil mencibir ke arahnya

Malam itu merupakan malam yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Aku Telah jatuh cinta, dan aku yakin begitu pula dengan kaname. Semenjak hari itu, kami semakin akrab dan dekat, hampir setiap waktu kaname habiskan untuk mengunjungiku di pondokku.

Hingga pada akhirnya. Setelah hampir setahun kami bersama, sudah saatnya untuk keluarga ototsuki untuk pulang. Hari itu mungkin akan menjadi hari dimana aku akan bertemu kaname untuk terakhir kalinya. Karena Kuil Kuze tidak dapat menerima pria dengan alasan apapun untuk menjajakan kaki di kuilnya.

"reika . ."

"aku tau kaname. . aku tau. ." kataku sambil meneteskan air mata

"maafkan aku. . . " katanya sambil menjulurkan tangannya ke dalam jeruji untuk meraih pipiku.

"tidak apa apa. . aku mengerti. .memang tidak akan pernah ada kita. .hiks. ."

"amane. . amane . .tolong bukakan kunci ini. .aku ingin masuk ke dalam. ." kata kaname

"sshhh. . tidak ada waktu lagi. . kamu harus segera pergi. . sebelum master Yashuu curiga. ." kataku

"hmph. . a. aku akan pergi. . tapi tunggu. . aku ingin memberikanmu sesuatu. ." kata kaname

Kaname memasukkan tangannya ke sakunya dan menunjukkan 2 buat batu berbentuk paku kecil dengan ukiran ular, persis seperti yang kutemukan pada jasad Kei.

"ayahku bilang. . anting ini ialah pemberian dari ibuku. . ibu kandungku. . dimanapun dia berada sekarang, aku tidak tahu. Namun dengan anting ini, ibuku akan selalu mengenaliku, dan sejauh apapun aku pergi, ibuku akan selalu merasa dekat denganku." Kata kaname sambil memberikan sebuah anting kepada reika.

"h. huh? Tapi kaname. .ini adalah pemberian ibumu. . kenapa aku?" kataku,

Aku terpaksa menyembunyikan identitas nona Kyouka dari Kaname, karena aku juga tidak ingin nona Kyouka terkena masalah apabila nantinya kaname mencoba menemuinya di kuil.

"tenang saja reika . .aku masih memegang bagian satunya. . dengan ini. . seberapa jauhpun aku pergi, kita akan selalu merasa dekat. . dan dengan ini, akan selalu menjadi bukti. . kalau kamu adalah milikku. . dan hanya milikku. ." katanya sambil menepuk pipiku

"h. hnng. .ka . kamu memang selalu berkata kata manis seperti itu" kataku sambil tersenyum kepadanya.

"hehe. . setidaknya aku seperti in hanya untukmu. ." katanya

"kemari. . aku juga punya sesuatu untukmu. ." kataku sambil menempelkan hidungku pada jeruji kandangku

"huh? Apa itu reika?" katanya

"sshh. . sudah sekarang tutup matamu. ." kataku

Tanpa bertanya Tanya lagi kaname langsung menutup kedua bola matanya. Dengan cepat aku menarik pipinya mendekati jeruji kandangku,. .

*kiss*

Kali ini kaname membuka matanya lebar, sedangkan aku menutup mataku sambil terus memegangi pipinya.

"hh. .h. hey. ." katanya dengan wajah memerah

"hehe. . pembalasan" kataku sambil tersenyum kepadanya

Kaname hanya bisa tersenyum melihat tingkah lakuku. Dia kembali meraba pipi dan rambutku.

"aku akan merindukanmu. . sangat merindukanmu. . reika. ." katanya

"aku. .akan selalu ada dalam mimpimu. . panggil namaku sebelum kamu tidur. .maka aku akan berada disana. ." kataku

"akan selalu kulakukan. . ingat. . jangan hilangkan anting itu. . simpan selalu okay?" kata kaname sambil merapikan rambut dan mengangkat barang bawaannya

"akan selalu kubawa. . sampai kamu kembali. . . kaname kun"

Dia terseyum kepadaku untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya sosok pria yang kucintai itu, menghilang dibalik pintu pondok tersebut.

Hari demi hari kulewati. . kembali seperti sebelumnya. . aku menceritakan semuanya kepada Amane, kalau kaname pun sebenarnya tidak tahu bahwa kyouka adalah ibu kandungnya selalu berdoa, memohon untuk kaname agar kembali menemuiku. . sebelum pada akhirnya kusadari. .waktuku tidak lama lagi. .

11