The Call Of The Tattoos
Part 21:The Mirror Of Loss
-The Mirror Of Loss-
Tak kusangka. . 3 tahun sudah dari kepergian Kaname. . hari demi hari terlewati, rasa sakit dari persebaran tatoku, sudah sampai tak bisa kurasakan lagi. Kugenggam anting pemberian darinya sambil terus menyebutkan namanya sebelum aku tertidur pulas, dengan harapan aku akan dapat melihatnya, . .meskipun hanya di dalam mimpi saja.
*knock*
"reika san?"
". . ."
"reika san.. sudah waktunya.."
Begitulah kata pertama yang kudengar dari Amane. Dia muncul lengkap dengan kimono pendetanya, dan perlengkapannya.
"hh. . aku sudah siap. . Amane. ." kataku perlahan
Sinar matahari pagi itu langsung menyengat kulitku yang telah sekian lama tidak mendapatkan sinar matahari. Aku menutupi wajahku yang sudah terpenuhi oleh tato. Amane memegangi lenganku ditemani dengan 2 orang pendeta lainnya yang juga membantu mengangkat tubuhku yang semakin lama semakin melemah akibat kutukan tato tersebut.
Kami berjalan memasuki Kuil utama, dan pada akhirnya berujung di sebuah ruangan dimana aku dapat melihat lambang kebesaran keluarga Kuze di dindingnya.
"ah. . nampaknya sudah waktunya giliranmu. . anakku. ." kata Yashuu ketika melihatku bersusah payah melangkah masuk ke kamar itu.
". . . "
"aku yakin. . ayahmu pasti akan bangga padamu sekarang ini" kata yashuu sambil tersenyum kepadaku
"ayah. . . tunggu aku disana. ." pikirku
Yashuu memerintahkan para pendeta untuk menanggalkan kimonoku kembali, dan menunjukkan seluruh tubuhku yang dipenuhi oleh tato yang semakin lama semakin jelas berbentuk semacam ular, dan benda seperti dedaunan namun berbentuk abstrak.
"reika. . tahap ini ialah tahap yang terpenting dalam keseluruhan ritual ini, apa kamu sudah siap?" kata Amane berbisik kepadaku.
". .uh. . apa yang harus. . kulakukan?" tanyaku
"uh, setahuku kamu hanya harus mengosongkan pikiranmu dan menjaga dirimu untuk tetap tenang, sampai cermin ritual itu selesai melakukan tugasnya. ." kata amane yang tampak sedikit kebingungan
Aku hanya mengangguk kepadanya meskipun aku sedikit tidak mengerti dan bertanya Tanya apa yang akan terjadi berikutnya.
"hey. . " kata amane sambil mencolek tanganku
"i. .iya?"
"aku. . senang mengenalmu. . reika san. . " kata amane sambil membalikkan wajahnya dan mengeluarkan air mata
"e. ehh? Kamu kenapa menangis?" tanyaku
"u. uh. .ti. tidak reika san. . aku. .harus kembali bersama pendeta gadis lainnya, Hisame tidak akan suka apabila aku terlambat. . m. maafkan aku. ." kata amane sambil berjalan menjauhiku.
Perilaku Amane semakin membuatku bingung dan penasaran. Ingin sekali kubertanya kepadanya atau para pendeta, namun tiba tiba beberapa pendeta bersama nona kyouka dan para pendeta gadis yang berjumlah 4 orang itu memasuki ruangan.
"sleep. . priestess lie in peace. . sleep priestess lie in peace. . . "
Alunan lagu ritual itu kembali terdengar, amane pernah mengajariku untuk menyanyikannya, namun ia selalu bilang jangan pernah bernyanyi di depan master yashuu.
"ibu. . apakah ini tidak terlalu dini?" kata kyouka kepada yashuu
"tidak. . lihatlah dia, kutukan tato itu sudah memenuhi tubuhnya. . dia sudah siap. ." kata yashuu
"hmm. . dia hanya berumur 21 Tahun. . dia bisa jadi tumbal ritual yang paling muda dari semuanya. ." kata kyouka perlahan
"ya. . mungkin itu yang menyebabkan tato itu tersebar lebih cepat. ." kata yashuu sambil terus membacakan doa ke sebuah cermin silver di tangannya.
Kyouka memandangiku dengan wajah yang kasihan. Aku hanya terduduk di tengah ruangan itu sambil menundukkan kepalaku.
"apakah aku akan mati? Apakah dunia seberang itu maksudnya aku harus mati?" pikirku
"ayo kita mulai. ."kata yashuu sambil memerintahkan para pendeta untuk membantuku berdiri.
Kedua lenganku dipegang oleh para pendeta dan satu orang lagi menarik rambutku untuk memaksaku agar aku memandang ke depan, tidak menunduk.
Secara perlahan yashuu berjalan mendekatiku sambil menunjukkan cermin itu ke langit. Ia terus membacakan doa, sambil sekali sekali ia melakukan gereakan seperti tarian kecil. Hingga pada akhirnya ia sampai di depanku, ia menjadi sunyi.
"reika. . Kuze. . kamulah orang ke 51 yang melakukan ritual ini. . dan untuk membuktikan bahwa memang dirimu lah anak yang berada di dalam ramalan, aku akan mencoba menyegel semua ingatanmu kepada cermin ini. . membuatmu menjadi murni, tanpa rasa berdosa, maupun rasa bersalah sedikitpun. ." kata yashuu kepadaku
"h. hah? mengambil seluruh ingatanku. . " pikirku
Yashuu mendekatkan cermin itu ke wajahku. Aku memperhatikan cermin itu, anehnya, aku sama sekali tidak dapat melihat pantulan bayangan diriku sama sekali disana, yang ada hanyalah pusaran seperti pusaran air di dalamnya.
"ti. Tidak. .jangan ambil ingatanku" pikirku.
Aku mencoba untuk memejamkan mataku dan menundukkan kepalaku, namun tubuhku seperti tidak mau menurutiku. Tubuhku tetap tertahan dan pandanganku tidak dapat berpaling dari cermin itu. Tiba tiba sebuah benda semacam tali berwarna putih muncul dari keningku dan mulai menjalat menuju cermin itu.
"t. .tidak. . " kataku perlahan.
Cermin itu terus menarik tali putih itu dari keningku. Secara perlahan aku mulai merasakan perasaan yang aneh di kepalaku, seakan akan ia menarik seluruh otakku keluar dari kepalaku. Aku mulai melupakan entah darimana aku berasal, entah siapa nama ayah dan sodaraku, semuanya.
"bagus reika, , bagus, , berikan semua ingatanmu kepada cermin ini, untuk menyempurnakan ritual ini" kata Yashuu sambil tertawa.
"aku. . tidak ingin melupakannya. . k. .kaname. . tolong aku. ." pikirku
Aku mulai memikirkan tentang kaname, tentang bagaimana kita bertemu, bagaimana ia sangat perhatian kepadaku. Bagaimana kaname membersihkan bibirku dari remahan roti setelah aku makan, dan tentu saja, hadiah darinya dan ciuman pertama darinya, yang aku sangat tidak ingin lupakan. Tali it uterus saja keluar dari dalam keningku, dan aku tetap mempertahankan ingatanku tentang dirinya. Hingga pada akhirnya tali itu terputus dari keningku dan aku tertunduk kembali, mulai tak sadarkan diri.
"hmm. . tak kusangka akan secepat ini. . dengan ini, maka tumbal kita telah menjadi murni, bawa dia menuju ke tempat peristirahatan terakhir. ." kata Yashuu.
"hmh. .huh. .a. aku dimana?" pikirku
Aku mencoba mengangkat kepalaku secara perlahan. Aku dapat melihat Yashuu dan para pendeta dari balik jeruji sebuah kandang yang kecil. Aku terdapat di dalam sebuah kandang kecil yang terletak di tengah semacam jurang. Aku terus memandangi yashuu disana. .
"si. .apa kamu?" kataku perlahan
"siapa aku? Haha. . aku adalah dewamu. .gadis kecil. ." kata yashuu
Aku benar benar telah melupakan semuanya, namun tidak untuk ingatan tentang kaname. Aku kembali memikirkan tentang kaname, tentang apa saja yang pernah kami lakukan bersama, dan apa yang ia janjikan kepadaku.
"k. kaname. .aku ingin melihatnya. . sekali ini saja. . cukup satu kali lagi. . aku tidak ingin melihatnya lewat mimpiku. . aku mohon. . untuk terakhir kalinya. ." pikirku.
Yashuu mengangkat tangan kanannya, memberikan tanda bahwa aku telah siap untuk dibawa turun menggunakan lift yang berbentuk seperti kandang kecil itu.
*cring* *cring*
Mataku terbuka lebar. Aku melihat kaname disana, berdiri di belakang para pendeta dan Yashuu. . tanpa ber pikir panjang lagi, aku mendekati sisi kandang itu dan menjulurkan tanganku keluar dari kandang itu. Yashuu yang tampak kebingungan membalikkan kepalanya, dan melihat bahwa tidak ada siapa siapa disana. Namun aku yakin aku melihatnya, kaname berjalan secara perlahan ke arahku. Ia memberikannya tangannya kepadaku. Mencoba meraih tanganku dengan tatapannya yang kosong. Aku sedikit tersenyum kepadanya sambil mulai meneteskan air mataku. Namun, sesaat sebelum tangan kami akhirnya bersentuhan. Kandangku sudah mulai diturunkan. Aku terdiam sesaat dengan tanganku yang masih kujulurkan keluar kandang yang sudah bergerak ke bawah itu.
"k. .kaname. . . " pikirku sambil meneteskan air mataku lebih banyak lagi.
Sesampainya di bawah ruangan itu, aku dapat melihat lilin lilin biru menghiasi seluruh dinding batu, dan menerangi jalan menuju ke sebuah gua yang besar dengan semacam kolam air dan rumah batu di tengahnya. Air disana seperti menyala nyala akibat cahaya lilin lilin biru itu.
*Click*
Suara itu membuatku tersadar seketika setelah aku terpesona dengan pemandangan yang baru saja kulihat. Para pendeta kembali menarikku dan menggiringku melewati kolam air itu dan pada akhirnya masuk ke dalam rumah batu itu.
*cring*
"haah?" kataku. .
Tubuhku kembali terpisah dari tubuh reika yang sedang ditarik melewati mayat mayat dari pendeta ritual tato seblumnya.
"re. reika?" pikirku.
Belum sempat aku berjalan lebih jauh, tiba tiba tubuhku ditembus oleh 4 orang gadis pendeta yang berjalan beriringan sambil membawa paku dan palu. Aku memperhatikan mereka sambil mereka berjalan lebih jauh dariku. Aku dapat melihat Amane yang memang menengok ke arahku sambil meneteskan air mata.
Aku mulai merasakan nafasku menjadi sangat berat sehingga membuatku bersujud sambil memegangi dadaku.
"haah. . hah. . a. .apa apaan ini?" kataku perlahan.
Reika kemudian diposisikan terlentang di tengah ruangna tersebut. Dan diikuti oleh keempat para pendeta gadis itu yang menempatkan posisinya pada kedua tangan dan kakinya.
Mereka kemudian mulai meletakkan paku mereka tepat di kaki dan tangan reika.
"sleep. . priestess lie in peace. . sleep priestess lie in peace"
Alunan lagu itu kembali terdengar memenuhi ruangan itu. Sambil para pendeta gadis itu mengangkat palunya hampir secara bersamaan.
"aku hisame Kuze. . telah siap untuk menyelesaikan ritualmu. . reika san" kata gadis tertua dengan rambut yang sangat panjang
"aku minamo Kuze. . telah siap untuk menyelesaikan ritualmu. . reika san"
"aku Shigure Kuze. . telah siap untuk menyelesaikan ritualmu. . reika san"
"aku Amane Kuze. . hiks. . siap untuk menyelesaikan ritualmu. . reika san" kata Amane sambil terus meneteskan air matanya. .
Mereka menyelesaikan lagu itu dan bersiap siap untuk memukulkan paku itu masuk menembus kedia tangan dan kaki reika. reika hanya terdiam disana, memandang langit langit dengan tatapan yang kosong.
"h. .hey. .haah. . t. tunggu! Jangan!"kataku sambil memegangi dadaku yang sangat sesak.
"m. maafkan aku. . reika san. ." bisik amane kepada reika
*TING*
"aaaaaaaaaaarrgghh!"
*TING*
Aku memejamkan mataku, tidak mampu untuk melihat penderitaan yang diterima Reika. suara dentingan akibat kedua benda logam itu selalu diikuti oleh suara teriakan reika.
"s. .sudah cukup. . hentikan. ." kataku perlahan
*TING*
Aku sudah tidak dapat mendengar suara reika kembali, aku tetap memejamkan mataku sambil menutupi telingaku, tidak kuasa menahan untuk melihat reika tersakiti disana.
"hentikan. . .Hentikan!"
*cring* *cring*
16
