The Call Of The Tattoos

Part 22: The Other Side

-The Other Side –

"haah. . hah. ."

Aku terbangun dan tepat ada di kolam air dangkal dengan rumah batu, dimana reika di seret masuk kedalam oleh para pendeta untuk menyelesaikan ritualnya.

"R..Reika… Reika san " kataku

Aku terus berteriak mencari reika, tapi tidak ada suara sama sekali di sini. Aku berjalan masuk kedalam rumah batu itu mencari reika ternyata tempat itu masih sama dengan kejadian ritual reika tidak ada yang berubah sama sekali

*cring* *cring*

Ruangan rumah batu itu kini berubah menjadi seperti zaman dahulu, aku terdiam di jalan masuk tempat itu sambil terus mencari reika.

"apakah aku masuk lagi ke masalalu reika " pikirku

Sambil terus berjalan masuk kedalam, Tiba tiba di depanku ada seorang laki – laki berkimono gelap membawa lentera biru.

"siapa laki laki itu " kataku

"bukankah di tempat ini dilarang ada laki – laki yang masuk "

"atau i..itu ka..kaname"

"…"

Laki laki itu terus berjalan melintasi ratusan mayat para tumbal ritual tato itu.

"Reika..Reikaa?" kata laki laki itu

Laki laki itu pada akhirnya berhenti tepat di tengah tengah ruangan tersebut. Pria itu menengok ke arahku, dan saat itulah aku menyadari bahwa itu adalah Kaname.

Kaname menunduk dan bersujud di depan seorang mayat. Ia meletakkan lenteranya tepat di sebelah wajah mayat itu. Itu. .adalah. . Reika. .

"Reika. . Reika. ." katanya

Aku dapat melihat reika secara perlahan menggerakkan kepalanya. Kaname sempat terkaget dan menutup mulutnya ketika melihat darah yang bercucuran dari paku paku yang menembus kedua telapak tangan dan kakinya. Reika mengedipkan matanya sambil menatap pria yang ia cintai itu. Secara perlahan, ia pun tersenyum lemas. Kaname menatapnya sambil secara perlahan membalas senyuman reika.

"Reika..kamu tahu..di dalam mimpiku .. kamu selal….."

Belum selesai kaname menyelesaikan pembicaraannya, tiba tiba yashuu muncul di belakang kaname dengan pisau besar dan melayangkannya ke leher kaname.

*Sruuddrt*

"a. .a. ."

*Thud*

Tanpa meneruskan ucapannya kaname langsung yerjatuh lemas tepat di hadapan reika. kaname terbaring lemas disana dengan tatapan kosong dari matanya yang terbuka lebar. Reika terkejut dan langsung membuka matanya.

Setelah melihat kaname terbunuh di sana hati reika yang awalnya kosong tanpa masalah apapun menjadi bermasalah. Nafas reika mulai tidak teratur, ia terus berusaha memanggil kaname namun tidak satupun kata keluar dari mulutnya yang tetap tertutup kaku.

"siapa yang mengijinkan pria ini masuk. . apakah salah satu gadis pendeta itu. . pantas saja anak dengan rambut yang terikat itu terlihat sangat mencurigakan. . . aku harus memberinya pelajaran" kata Yashuu sambil memerintahkan Hisame, gadis pendeta yang tertua untuk menghukum Amane, adik dari kaname.

Ritual Kuze yang semula berjalan lancar menjadi berantakan, Hati reika yang semula sudah bersih oleh cermin ingatan itu kembali terkotori oleh perasaan kehilangan seseorang yang sangat dicintainya. Semua tato yang ada di tubuh reika perlahan keluar itu berarti ritual yang di jalani reika gagal dan tato itu menjadi marah.

Tato itu langsung masuk ke tubuh yashuu, dan seketika itu pula yashuu mulai tercekik dan terbunuh disana. Lalu tato itu bergerak ke arahku tapi ketika tato itu tepat di depanku tato itu langsung menghilang. dan seluruh ruangan itu kembali menjadi gelap, sama seperti sebelumya.

Tanpa berpikir panjang lagi, Aku berlari menuju mayat reika dan kaname, belum sampai aku ketempat reika dan kaname

Tiba tiba yashuu berada di depanku dengan pisau besarnya yang masih berlumuran darah bekas membunuh kaname. Aku tersentak sambil mulai membalikkan tubuhku, berusaha melarikan diri darinya.

Yashuu terus mengejarku sambil melayangkan pisau besarnya ke tubuhku, aku berusaha menghidar sebisaku berlari kesana kemari di dalam ruangan itu untuk menghindari yashuu.

"tiddaaak ! jangan bunuh aku …!" kataku sambil terus berlari

"aku mohon jangan lakukan itu !" teriaku.

Tapi yashuu tidak mendengar ucapanku dengan penuh amarah dia terus mengejarku sambil menusukan pisaunya, lalu pisau besar itu mengenai pinggangku. Aku langsung terjatuh sambil memegangi pinggangku yang terus menerus mengeluarkan darah, aku terpojok tidak berdaya.

Yashuu sekarang sudah berada tepat di depan mataku dan sudah mengangkat pisaunya untuk dengan cepat menghabisi nyawaku. Saat pisau itu ada di dekat leherku tiba tiba reika datang dan menarik jauh yashuu dari tubuhku dan melemparnya di tengah ruangan itu.

Aku tidak bisa berbuat apapun untuk membantu reika, untuk berdiri pun aku tidak bisa melakukannya aku hanya bisa melihat apa yang dilakukan reika terhadap yashuu.

Reika menatap tajam ke arah yashuu yang sedang mencoba untuk berdiri.

"mati kau …!" kata reika

"akan aku bayar semua perbuatanmu pada kaname"

Reika habis habisan menyerang yashuu tanpa ampun, Yashuu yang tidak berdaya hanya menerima tamparan dan pukulan dari reika yang terus menerus berjalan sambil menyakitinya.

"Re. . ika. ."kata yashuu sambil terengah engah

"berani beraninya kamu menyakiti. . ibu angkatmu sendiri. . pemimpin dari keluarga besarmu. . haah. ." katanya

Reika tidak menghiraukan itu sama sekali dia tetap memukuli yashuu yang terlihat mulai kehabisan tenaga itu. Reika menggenggam yashu dengan kedua tangannya dan mengangkatnya di udara.

"ugh. Uhuk. .re. .ika. .jangan. . "kata yashuu sambil menggenggam tangan reika di lehernya.

Reika tetap mencekik yashuu dengan kuat. yashuu yang sudah tidak berdaya untuk melawan reika akhirnya semakin lama, semakin melemas dan pada akhirnya ia tidak bergerak lagi dan menghilang dari ruangan itu.

"haah. .re. .reika. ." kataku perlahan sambil melihat kejadian itu

Reika membalikkan tubuhnya kearahku, ia pun secara perlahan menunjuk ke arah mayat tulang belulang yang mengenakan pakaian sama dengan yashuu.

"rei. . . cermin. .hancurkan. ." kata reika sebelum akhirnya tubuhnya menghilang di kegelapan

". . .i. .iya reika. ." kataku

Aku yang mengetahui bahwa cermin itu menyegel semua memori reika, harus dapat menghancurkannya untuk membebaskan reika, beserta seluruh tumbal ritual yang juga tersegel di dalamnya. Aku mengambil cermin itu dari saku pakaian yashuu yang kini sudah terbaring tak berdaya.

Aku memandang sekitarku untuk mencari sesuatu untuk menghancurkan cermin itu, tiba tiba lentera di dekat mayat reika dan kaname itu bersinar dengan terang.

"uh. . l. .lentera itu?" kataku sambil menutupi mataku karena silau

Aku berjalan ke arahnya sambil memegangi pingganku yang terluka lumayan parah. Sesampainya disana aku segera mengangkat lenteraitu sambil melihat ke arah reika dan kaname.

"ayo. . kita selesaikan ini. . dan terima kasih. . kamu sudah melindungiku beberapa kali sebelumnya. ." kataku kepada lentera itu.

Dengan keras aku membanting cermin itu ke tanah dan memukulkan lentera itu kea rah cermin itu dengan keras sampai kedua benda itu terpecah belah.

*crack*

*cring* *cring*

"haah? Hah.. haah. ."

Aku tersadar kembali. . aku melihat di sekitarku, aku masih berada di ruangan itu, namun aku sempat terkaget ketika melihat ruangan itu tiba tiba kosong hanya menyisakan tubuh reika dan kaname yang masih terbaring di tempat yang sama dengan mata yang terbuka.

Aku menatap mata reika yang semula berwarna hitam seluruhnya, perlahan lahan kembali ke seperti semula, sama seperti reika biasanya. Aku bersujud di depan tubuh mereka berdua sambil secara perlahan menutup mata kaname dan reika.

"tenang saja. . kini kalian bisa menutup mata kalian dengan tenang" kataku.

*cring* *cring*

"hah. .hah. ."

Ruangan itu seketika berubah seperti sebuah lautan yang sangat luas dengan angina yang bertiup dengan kencang. Aku menyadari di dekat kakiku sudah terdapat sebuah kapal dengan tubuh reika dan kaname di dalamnya.

"pergi ke dunia seberang. . pergi ke dunia seberang. . persiapkan perahumu. . naiklah. . sebrangi lautan itu. . ke sisi satunya. ."

Suara reika kembali terdengar di kepalaku, dengan secara tanpa sadar, aku mendorong perahu itu menuju lautan lepas.

"h . huh. .dunia. . seberang. ." pikirku

Aku terus memandangi perahu reika dan kaname yang semakin lama semakin menjauh dari pesisir pantai tersebut. Dan secara tiba tiba, aku melihat beberapa bayangan bayangan hitam yang berwujud seperti manusia,berjalan di atas lautan itu sambil mengikuti perahu reika.

Belum sempat aku bertanya pada diriku sendiri, tiba tiba aku melihat amane di antara mereka dan ia pun menatapku sambil tersenyum. .

"terima kasih. . Rei san. ." katanya sambil tersenyum kemudian berbalik badan dan kembali melangkah menjauhiku.

"a. .amane tunggu. ." kataku

Amane tidak lagi menghiraukan ucapanku dan tetap terus melangkah. Tiba tiba aku merasakan ada seorang yang memeluk kakiku, dengan cepat aku menengok kebawah dan ternyata itu adalah kozue.

"kak rei . . hehe. . terima kasih . ." katanya sambil tersenyum gembira

"kozue. . kita harus cepat menyusul"

Aku dapat melihat ibunya memanggil di kejauhan sambil melambaikan tangannya kepadaku. Aku secara otomatis tersenyum kepada kedua pasangan ibu dan anak itu sambil melambaikan tanganku kembali.

"hey. ."

Mataku terbuka lebar ketika mendengar suara itu diteruskan dengan sebuah tangan yang memegang pundakku dari belakang. Sesosok pria muncul di sebelahku dan berpindah ke depanku.

"k. . kei. ." kataku sambil menundukkna kepalaku.

"terima kasih ya. . tolong sampaikan maafku kepada mio. . aku harap kamu dapat bertemu dengannya.." kata kei sambil tersenyum.

Kei pun kembali membalikkan tubuhnya dan ikut berjalan bersama ratusan bayangan bayangan itu.

Aku tersenyum melihat semua bayangan itu, merasa semuanya telah berhasil aku selesaikan, namun. . di tengah tengah semua bayangan yang berjalan menjauhiku itu, aku melihat Yuu. .

Dengan reflek yang cepat, aku segera berlari mengejarnya. Seketika aku berlari, tato di tubuhku kembali menyebar dengan cepat sampai memenuhi seluruh tubuhku.

"Yuu! Yuu! Jangan pergi!" kataku sambil berlari mengejarnya

"jangan tinggalkan aku kali ini. . . tolong. ."

"aku ingin. .hiks. pergi bersamamu. ."

Daratan disana semakin lama semakin menurun sampai aku kesusahan berlari disana. Namun aku dapat melihat Yuu yang sudah berbalik arah memandangiku. Aku menatap matanya sambil menjatuhkan air mata.

"Yuu. . kamu selalu ada untukku. ."

"tidak peduli apapun. . hiks. . kamu sudah memberikanku segalanya. ."

"karena kamu. . selalu bersamaku. . hiks"

Aku menundukkan kepalaku sambil menangis, sebelum aku merasakan tangan yang mulai mengelilingi tubuhku dan memelukku dengan nyaman.

"hiks. . maafkan aku. . " kataku sambil menangis di pelukan Yuu

"kali ini. . aku akan ikut denganmu. ."

Aku membalas pelukan Yuu dengan erat.

"terima kasih. . ."

Suara Yuu membuatku mengangkat wajahku dan menatapnya.

"aku mengerti perasaanmu. . aku mengerti. . .namun, aku harus pergi. . aku harus pergi sendiri. ." kata Yuu

Tiba tiba tato di tubuhku itu mulai bersinar terang. Aku melihat tato itu menjalar dari tanganku, masuk ke dalam tubuh Yuu, sampai keseluruhan tato itu berpindah ke tubuh yuu. Dan Yuu secara perlahan melangkah mundur menjauhiku.

". . . Yuu. .hiks" kataku sambil terisak

"ketika kamu. . meninggal. . maka aku akan menghilang selamanya. . selama kamu terus melangkah kedepan. . untuk hidup. . sebagian kecil diriku. . akan selalu hidup. . seterusnya. ." kata Yuu sebelum akhirnya seluruh ruangan itu menjadi gelap seutuhnya.

*cring*

"oleh karena itu. . . aku membutuhkanmu. .untuk hidup"

Suara itu terngiang di kepalaku sambil bersamaan dengan aku membuka kedua mataku. Memandangi ruangan yang setiap hari kulihat, lengkap dengan cahaya matahari yang menembus jendela itu.

Aku berusaha untuk duduk, sambil memegangi pundakku yang kini sudah tidak terasa sakit sama sekali akibat tato itu.

"Rei. . ."

Aku memandang sesaat ke arah pintu kamarku, dan alangkah senangnya diriku, itu adalah miku yang juga masih mengenakan pakaian tidurnya.

Dengan cepat aku berjalan ke arahnya dan memeluk tubuh mungilnya.

"r. .rei. . a. .apa yang terjadi?" Tanya miku keheranan

"semua. . sudah selesai miku. . sudah selesai. ." kataku sambil kembali meneteskan air mataku.

-FIN-

18