King 2 Hearts

Genre : Drama, Romance, Hurt

Rating : T

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Yeora, Shim Changmin and others

Pairing : Yun~jae , Min~jae, Yun~ra

Warning : Ff ini Yunho-nya punya istri, hamil dan cantik. Bagi yang gak suka Yunho pairing cewek tolong jangan maksa buat baca. Itu hanya kebutuhan cerita dan ff ini tetap Yunjae (YAOI).

Warningnya dibaca dan pahami yah ^_^

.

.

King 2 Hearts

.

.

Chapter 1

Yunho menikmati peran sebagai seorang suami yang mempunyai istri yang sedang hamil. Ia pun menjalankan dengan baik perannya seperti mengurus rumah, memasak—meskipun ia tak pandai, dan melayani 'nyidam' sang istri.

Yeora sengaja mengerjai suaminya karena Yunho begitu baik. Ia juga bangga pada suaminya itu yang selalu memperhatikan kehamilannya. Ia mendapat banyak perhatian dari orang tua Yunho. Wanita paruh baya itu terlalu antusias dengan kehamilan menantu satu-satunya keluarga Jung yang mana akan menjadi penerus Yunho.

Ia menanyakan berulang kali keadaan Yeora lewat telepon, memperingatkan Yunho agar selalu menjaga istrinya itu. Yunho hanya diam ketika itu, dan ia menjadi iri pada Yeora, kenapa hamil itu begitu menyenangkan? Berdoalah agar Yunho tak ingin hamil juga karena itu akan menggelikan.

"Aku tak mau kau memakai baju yang rapih, Yunho! Bagaimana jika para karyawan menggodamu" Yeora berbicara dengan nada yang meledak-ledak. Saat ini ia sedang duduk diatas sofa di ruang keluarga, dengan sekantung cemilan. Sedang Yunho berdiri di depannya dengan pakaian yang rapih—kemeja biru, dasi hitam dan celana hitam, karena ia harus pergi ke kantor.

Ia melihat pakaiannya, biasa saja, tapi kenapa Yeora memprotesnya.

"Lebih baik kau ganti baju" Suruh Yeora.

"Lalu aku harus pakai apa, Yeobo? Hari ini ada rapat dengan dewan direksi dan aku harus rapih" Pekerjaannya sebagai seorang CEO, menuntutnya selalu berpakaian rapih, tapi tampaknya sang istri melupakannya.

Yeora tak berkata, ia hanya menatap tajam yunho.

"Baiklah, My princess" Yunho menyerah, tak ada alasan lagi untuknya menolak.

Seperginya Yunho mengganti baju, Yeora tersenyum puas. Suaminya itu memang penurut.

.

.

.

Bruk..

Yunho masuk kedalam mobil dengan baju yang sudah di ganti. Kaos lengan pendek berwarna putih, dan celana selutut. Ia seperti seorang pria yang akan bersantai di rumah.

"Kita ada rapat pagi ini, Hyung" Kata seseorang disamping Yunho. Yunho menoleh, melihat asistennya yang bernama Jaesuk. Yunho sengaja menelepon asistennya untuk menjemput karena mobilnya sedang di service.

"Hahh, ini ulah istriku yang sedang hamil. Aku akan menggantinya setelah tiba di kantor" Yunho menunjukkan tas kerjanya yang berisi baju kerja.

"Haha, itu pengorbanan seorang suami, Hyung"

"Ya, dan aku tak pernah menyesal" Kata Yunho sambil tersenyum.

.

.

.

Jaejoong menjalani rutinitasnya seperti biasa, bekerja hingga tengah malam. Meski lelah tapi melihat wajah anak-anak itu membuat ia senang.

Ini sudah bulan ketiga Changmin pergi ke sydney. Pria itu sering menghubunginya. Hubungan mereka berkembang tiap harinya membuat Jaejoong semakin nyaman. Changmin adalah tipe pria yang perhatian terhadap kekasihnya dan ia selalu mengirim pesan pada Jaejoong atau menghubunginya sesekali.

Seperti sekarang, Jaejoong yang baru saja mendapat makan siangnya mendapat telepon dari Changmin.

"Kau sudah makan, Changmin?" Tanya Jaejoong seraya membuka bento-nya.

"Disini sudah malam, Chagya" Jawab Changmin yang sedang duduk nyaman diatas ranjangnya, "Lalu kenapa kau selalu menyebut namaku begitu?" Tanya Changmin. Ia cukup kesal dengan panggilan kekasihnya itu.

Jaejoong gugup, "Me-memangnya aku harus bagaimana?"

"Carilah panggilan yang manis untuk kekasihmu ini"

Jaejoong diam, ia tidak tahu harus memanggil kekasihnya apa. Changmin adalah kekasih pertamanya dan ia tak punya pengalaman tentang panggilan kesayangan.

"A-aku tak punya ide" Jawab Jaejoong jujur. Changmin menghela nafas ditempatnya.

"Baiklah, panggil aku Baby" Putus Changmin. Itu panggilan umum yang sering dipakai sepasang kekasih, tapi ia rasa akan berbeda jika Jaejoong yang mengucapkannya.

"Baby?" Ulang Jaejoong.

"Yap, panggil aku dengan sebutan itu. Bagaimana?" Tanya Changmin. Senyum dibibirnya semakin lebar. Jaejoong tak punya pilihan lain dan ia pun tak mau berdebat dengan Changmin.

"Iya.."

Jaejoong mulai memakan bentonya, "Aku makan, Chang...eh Baby" Katanya agak salah.

Changmin terkekeh, kekasihnya ini begitu lucu, "Iya, Chagya. Kalau begitu aku tutup teleponnya. Saranghae"

Tutt..tutt..tutt

Belum sempat Jaejoong menjawab, sambungan telepon ditutup dengan cepat oleh Changmin. Ia pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

.

.

.

Yeora memanfaatkan kehamilannya dengan baik, termasuk menelepon Yunho saat rapat hanya untuk dibelikan pizza. Sang suami hanya bisa memijat kening karena kelakuan istrinya itu. Tiap kali Yunho akan menolak, Yeora langsung mengelus perutnya yang baru sedikit menyembul.

'Ini demi anakmu' Katanya. Yunho tak bisa menolak jika Yeora sudah menyebut kata itu.

Jaesuk tertawa melihat bosnya itu berwajah kusam. Ia tidak pernah melihat Yunho dalam keadaan itu. Jiwa pemimpin yang baik, menguarkan sebuah aura yang sangat tajam. Yunho tipe orang seperti itu, ketika didepan para karyawannya, ia memperlihatkan wajah tegas, tapi jika dibelakang mereka dan hanya ada Jaesuk yang bersamanya, Yunho baru menunjukkan wajah santainya.

"Hampir saja kontrak itu batal, wanita hamil memang menyebalkan" Gerutu Yunho. Ia kini duduk dikursinya, bersandar sambil memutar-mutarnya.

"Tapi kau mencintai wanita hamil itu kan?" Goda Jaesuk. Yunho tersenyum lalu meninju pelan perut Jaesuk yang berdiri disampingnya.

"Tentu saja, dia istriku" Katanya bangga.

.

.

.

Yeora sudah menghabiskan 2 kotak pizza seorang diri, sambil menonton kartun favoritenya. Ia tertawa dengan mulut penuh dengan makanan italia itu, sampai terbatuk-batuk.

Saat ingin meraih gelas diatas meja, perutnya terasa sakit. Ia mengerang karena perutnya terasa diremas dengan kuat.

"To-tolong.." Suaranya mengecil dan tak ada seorangpun yang mendengarnya. Ibu Yunho pulang sejak kemarin dan dirumah, Yeora hanya bersama dengan seorang pembantu.

Wanita itu ingin berjalan tapi sebelum melangkah, kakinya tersangkut kaki meja membuat ia terjatuh.

"To-tolong uugh..."

Yeora merasakan perutnya bertambah sakit dan kakinya terasa basah, ia pun melihat kearah bawah dan meringis ketika menemukan banyak genangan darah.

"Akh..Y-Yunho.."

.

.

.

Takk..

Pulpen yang Yunho pegang jatuh keatas meja. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Ia remas rambutnya agar rasa sakit itu menghilang, tapi pandangannya semakin kabur dan hanya melihat Jaesuk yang baru masuk kedalam ruangannya dengan wajah lemah.

"Hyung, kau kenapa?" Nada panik terdengar dari suara Jaesuk.

Yunho menggeleng, "Ambilkan aku obat sakit kepala" Suruh Yunho. Ia hanya menutup matanya sambil memijat tulang hidungnya.

Tak berapa lama Jaesuk masuk dengan tergesa, menyodorkan sebuah obat pada Yunho. Yunho meminum obat itu dengan cepat lalu bersandar pada kursinya.

Jaesuk khawatir melihat wajah pucat bosnya, padahal sebelumnya ia dalam keadaan sehat.

Saat sedang dalam masa tenangnya, ponsel Yunho berdering diatas meja. Yunho hanya melihat ponsel itu dari jauh sedang Jaesuk melihat id dilayar ponsel bosnya.

"Dari rumahmu, Hyung" Kata Jaesuk. Ponsel itu ia berikan pada Yunho.

"Yeoboseyo?" Yunho menjawab telepon itu dengan malas.

"MWOYA?" Ekspresi Yunho berubah panik. Ia baru mendengar sesuatu yang membuat ia tidak mampu berfikir jernih.

Prak..

Yunho langsung memutuskan sambungan ponsel itu dan beralih pada Jaesuk.

"Kita kerumah sakit!" Suruh Yunho yang langsung pergi meninggalkan asistennya itu. Jaesuk yang tidak tahu apa yang terjadi hanya menuruti perkataan bosnya.

.

.

.

Yunho datang tepat setelah Yeora keluar dari ruang operasi, ia melihat ranjang istrinya didorong oleh 2 pria.

"Yeobo..." Yunho ingin mengejar istrinya tapi sebuah tangan menyentuh bahunya. Yunho yang masih panik menoleh. Seseorang berpakaian hijau berdiri dibelakangnya.

"Apa anda suami pasien?" Tanya pria yang ternyata dokter itu. Yunho mengangguk.

"Bagaimana keadaan istri saya, Uisa?" Yunho bertanya dengan menuntut.

Dokter itu menghela nafas, lalu tersenyum cukup tenang. Itu dilakukan agar suami pasiennya itu tidak khawatir.

"Maafkan saya, penanganan untuk istri anda harus cepat jadi kami melakukannya tanpa persetujuan pihak keluarga" Kata Dokter itu. Yunho mendengarkan dengan serius sekaligus tak sabar.

Sekali lagi sang dokter menghela nafas, menatap mata Yunho dengan pandangan bersalah.

.

.

.

Ceklek

Yunho membuka pintu kamar rawat Yeora. Pria itu sudah menyuruh Jaesuk kembali kekantor untuk menghandle pekerjaannya. Ia ingin menunggui istrinya. Entah bagaimana perasaannya saat ini. Ia marah, ia kesal dan ia sedih, tapi tak tahu harus pada siapa.

Seandainya ia tahu Yeora mempunyai alergi terhadap sesuatu, ia tidak akan memberikan itu pada istrinya. Tapi mungkin saja Yeora tak tahu, seperti perkataan dokter setengah jam lalu.

"Saat mengandung, sang ibu bisa saja begitu menyukai sesuatu, tapi tak jarang banyak yang tidak ia sukai karena pengaruhnya akan pada diri juga bayinya. Sedangkan dalam kasus ini, pasien tidak tahu alergi yang terjadi ketika ia mengandung, jadi ketika ada keinginan rasa suka yang ia dapatkan, ia tak sadar jika itu akan membahayakannya" Jelas dokter itu panjang lebar.

"Jadi maafkan saya, istri anda keguguran. Dan yang membuat saya menyesal adalah..."

Yunho menutup matanya saat itu, mencoba kuat dengan kejutan yang akan mengubah semuanya.

"-Rahim istri anda harus kami angkat"

Dan saat itu juga kakinya melemas, hingga tak mampu berdiri.

Yunho menggenggam tangan Yeora, menggusapkannya pada pipinya. Yunho terpejam, ia ingin menangis tapi ia tak punya daya.

"Yeora ah, m-mianhae" Gumam Yunho sambil menciumi tangan istrinya.

.

.

.

Yeora hanya memandang kosong kearah jendela kamarnya, diluar sedang turun hujan dan ia sedikit tenang mendengar suara air yang jatuh.

Ceklek..

Yunho masuk kedalam kamarnya, membawa nampan berisi makanan untuk istrinya. Tapi seketika ia kembali menyesal, melihat wajah bersedih istrinya.

"Ini makananmu, sayang" Kata Yunho sambil meletakkan nampan yang ia bawa ke nakas samping tempat tidur. Yeora tidak menoleh sedikitpun, sudah 3 hari ia kembali kerumah tapi ia tidak melakukan apapun, hanya duduk diatas tempat tidur, bahkan ia tidak bicara pada siapapun.

Yunho khawatir dengan keadaan istrinya itu, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan. Yunho tahu Yeora sedang shock.

Dengan perlahan Yunho duduk ditepi ranjang, menatap sedih kearah Yeora. Wanita itu tampak begitu berantakan, wajahnya kusam dan tak ada wajah berseri yang biasanya Yunho lihat.

"Sayang, aku mohon jangan seperti ini. Kembalilah menjadi Yeora yang dulu" Kata Yunho dengan lembut, lagi Yeora tidak bergeming.

Yunho ingin menyentuh wajah wanita itu, tapi menjadi kecewa karena tangannya langsung di tepis.

"Keluar, Yun.." Kata Yeora dengan suara pelan. Yunho tak peduli, ia semakin mendekat.

Plak..

"AKU BILANG KELUAR!"

Yunho merasakan pipinya perih. Ia menatap sedih kearah Yeora. Wanita itu menangis, menutupi telinganya dengan tangan. Mendengar teriakan Yeora tadi, tak membuat Yunho takut, ia segera memeluk sang istri.

"Aku tak peduli kau memukulku, atau membunuhku. Tapi aku mohon Yeora, kembalilah menjadi gadisku yang dulu" Yunho terus menahan pukulan Yeora dengan terus memeluk wanita itu. Yeora tidak peduli, ia terus meronta. Ia benci pada dirinya, ia marah, ia kesal. Ia merasa tak berguna menjadi seorang wanita, ia telah gagal. Kim Yeora gagal segagal gagalnya.

.

.

.

Yunho menutupi tubuh tertidur istrinya dengan selimut, setelah menangis dan tak berhenti meronta, akhirnya Yeora tertidur karena lelah. Yunho memperhatikan wajah pucat istrinya.

"Tidurlah, aku harap saat kau bangun, kau akan kembali menjadi Yeoraku yang manis dan periang" Kata Yunho sambil tersenyum.

.

.

.

Jaejoong telah mendapat kabar kalau kakaknya mengalami keguguran dan rahimnya telah diangkat. Ia jadi menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, dan meminta ijin untuk pulang ke seoul selama beberapa hari.

Ia tidak bisa mengabaikan masalah ini. Kakaknya butuh semangat, begitu yang diucapkan ibunya saat memberitahu tentang musibah itu. Jaejoong tahu, betapa berat cobaan yang diterima oleh saudara kembarnya itu. Meski bukan wanita, ia tahu bagaimana perasaan kehilangan anak. Ia bekerja dirumah sakit anak, sering melihat seorang ibu yang menangis tersedu ketika anaknya meninggal karena penyakit.

Meski ia tidak membantu, setidaknya kehadirannya disana akan membuat Yeora sedikit tenang.

"Berapa lama kau berada di seoul, Jejung san?" Tanya seorang perawat bernama Mayumi.

Jaejoong yang sedang menandatangani surat cuti menoleh pada temannya itu, "Aku tidak tahu, Yumi chan. Mungkin 1 minggu, aku mengambil cuti tahunanku"

Mayumi menghela nafas, gadis yang menaruh hati pada Jaejoong itu akan sangat merindukan sang pujaan hati. Jaejoong tersenyum pada Yumi, "Aku hanya cuti, bukan resign, Yumi chan"

Jaejoong tahu gadis dihadapannya ini menaruh perhatian lebih terhadapnya, tapi Jaejoong yang tidak tertarik pada wanita itu hanya menanggapinya dengan santai. Mayumi adalah gadis yg baik dan manis, akan sangat jahat kalau ia mematahkan hatinya dengan mengatakan, 'Gomen, Yumi chan. Aku gay' bisa-bisa gadis itu bunuh diri.

.

.

.

Ini sudah 1 minggu sejak kepulangan Yeora kerumah. Wanita itu sudah mau makan banyak, dan berbicara meski tak banyak.

Saat ini ia duduk disofa depan televisi, menonton kartun yang sering ia tonton ketika hamil dulu. Kartun berjudul Marsha and the bear itu begitu lucu, tapi bukannya tertawa Yeora malah menangis.

Ibunya yang baru datang dari dapur terkejut melihat anaknya yang menangis tersedu-sedu.

"Yeora, kau kenapa, nak?" Tanya Ayumi sambil memeluk Yeora dan mengusap airmata putrinya tersebut.

Bukannya menjawab, Yeora malah semakin menangis dipelukan sang ibu.

"A-aegya, Omoni. Hiks aegya-ku hilang hiks hiks"

"Tenanglah, sayang. Semua ini pasti ada jalan keluarnya, kau jangan terus sedih seperti ini" Kata Ayumi menenangkan sang anak.

"Tapi aku gagal, Omoni. Aku gagal sebagai seorang wanita, aku malu, malu pada Yunho hiks" Yeora semakin kencang menangis. Ibunya hanya bisa diam, sebagai seorang wanita ia bisa mengerti perasaan putri tunggalnya itu. Ia tidak tahu bagaimana selanjutnya kehidupan pernikahan anaknya, tanpa seorang anak tidak mungkin mereka bisa bertahan. Ayumi tahu siapa keluarga Jung, meski Yunho bukan anak lelaki satu-satunya tapi orang tua Yunho menginginkan penerus dari pihak anak pertama.

Ditiap lamunannya, Yunho pun memikirkan hal itu. Ia tidak ingin memberatkan istrinya tentang masalah itu, tapi ia sadar yang akan dipermasalahkan orang tuanya adalah anak.

Saat memberitahu tentang keguguran Yeora, kedua orang tuanya menunjukkan tanda kekecewaan, terlebih sang ibu. Ibu Yunho begitu mengharapkan Yeora, ketika mendengar menantunya itu hamil ia begitu senang hingga rela menginap dirumah anaknya hanya untuk mengurusi sang menantu kesayangan. Tapi begitu tahu Yeora keguguran bahkan tak memiliki rahim lagi, harapan wanita tengah baya itu menjadi pudar.

Mr dan Mrs. Jung begitu menginginkan seorang cucu dari Yunho karena nanti anak itu yang akan mewarisi semua kekayaan keluarga Jung, jadi otomatis anak dari Yunho yang dibutuhkan.

'Kalau Yeora tidak bisa hamil, lalu siapa yang akan menjadi penerusmu, Yun?' Tanya ibu Yunho ketika anaknya datang memberitahu.

'Kami bisa mengangkat anak dari yatim piatu, Omoni'

'Apa? Anak yang tidak jelas asal usulnya? Kau ingin mempermalukan keluarga Jung?'

Saat itu Yunho terdiam, tidak tahu harus menjawab apa lagi.

'Sekarang cuma ada 1 solusi, Yunho' Suara ayahnya mulai terdengar, 'Nikahi wanita lain dan miliki anak darinya'

Yunho memejamkan matanya, kata-kata ayahnya begitu menusuk. Tegakah ia melakukan itu? Bisakah ia meninggalkan Yeora dalam keadaan begitu? Tapi benar kata ibunya, Jung harus punya penerus yang lahir dari darah dagingnya sendiri. Tapi...

Begitu banyak tapi yang berputar diotak Yunho, membuat ia tidak bisa berfikir.

Ia mencintai Yeora, karena itu ia menikahinya. Saat mengucap janji suci pernikahan, ia berkata dengan penuh keyakinan. Sebagai seorang pria sejati ia harus memegang janji itu sampai mati.

"Tidak, aku harus tetap mempertahankan Yeora" Gumam Yunho yakin.

.

.

.

Jaejoong duduk diruang tunggu bandara, ia sedang menunggu pesawat yang akan membawanya pulang kenegara asalnya. Saat sedang meminum kopi, ponselnya berdering didalam saku celana.

Changmin's Calling...

"Moshi moshi" Sapa Jaejoong.

"Jejung kun, kau sedang apa?" Tanya Changmin dengan semangat. Jaejoong tersenyum.

"Aku ada dibandara Haneda, akan pulang ke Seoul"

"Hah?" Changmin terdengar kaget. Jaejoong tersenyum lalu menjelaskan kalau kepulangannya sangat mendadak. Terjadi musibah pada kakak kandungnya dan ia harus menemui kakaknya itu. Changmin bingung pada awalnya karena ia akan bertemu Jaejoong 2 bulan lagi tapi kalau kekasihnya tak ada di jepang, lalu ia harus mencari di seoul?

"Aku tak pergi selama itu. Aku akan kembali 1 minggu lagi"

"Baiklah, baby. Aishiteru" Kata Changmin membuat Jaejoong tersipu. Saat aishiteru atau saranghae diucapkan kekasihnya itu, akan terdengar seperti melodi yang sangat indah.

Setelah Changmin memutuskan hubungan telepon, Jaejoong menghela nafas. Ia harus menghubungi ibunya tentang kepulangannya.

Jauh di seoul tepatnya dirumah Yunho, semua orang yang ada disana sedang sibuk menghentikan Yeora yang histeris.

Yunho memegangi kedua tangan sang istri, sedang ibu Yeora dan seorang pembantu menahan kedua kaki wanita itu. Apa yang menyebabkannya begitu? Itu semua berawal dari percakapan Yunho dan Ayumi yang didengar langsung oleh Yeora.

'Maaf, Umma. Ini bukan keputusanku' Kata Yunho waktu itu. Ayumi tersenyum, wanita itu paham dengan maksud Yunho.

'Tak apa jika itu jalan terbaik. Semoga Yeora mengerti' Balas Ayumi. Mereka berdua tak tahu jika sejak saat itu Yeora sedang mendengarkan mereka dibalik tembok ruang tamu.

'Aku mencintai Yeora, Umma. Aku tidak akan menyakitinya' Kata Yunho. Yeora tersenyum mendengar perkataan Yunho. Ia sudah memutuskan untuk kembali seperti Yeora yang dulu.

Tapi perkataan Yunho selanjutnya membuat tubuh wanita itu bergetar, 'Tapi aku tidak bisa menolak permintaan kedua orang tuaku. Mereka benar, aku butuh penerus. Dan jika aku tetap bersama Yeora, selamanya tak akan ada anak diantara kami'

Deg

'Aku harus menikah dengan wanita lain'

Bruk..

Keduanya menoleh pada suara itu dan seketika mata mereka terbelalak ketika melihat Yeora jatuh pingsan.

'Gawat, Yunho. Yeora pasti mendengar ucapanmu' Ayumi khawatir begitu juga dengan Yunho. Tanpa berfikir panjang, pria tampan itu menggendong istrinya kedalam kamar.

Dan ketika bangun, wanita itu begitu histeris.

Jaejoong menelepon disaat yang tak tepat. Ketika ibunya sedang sibuk dengan rontaan sang kakak. Terdengar nada sambung tapi tidak ada yang mengangkat. Jaejoong menghela nafas pada usahanya menghubungi yang ketiga kali. Mungkin ibunya sedang sibuk hingga tidak bisa mendengar panggilannya.

Kembali pada Yeora, ia terus meronta sambil berkata "Aku bodoh, aku ingin mati!"

Dokter datang setelah dipanggil beberapa menit lalu, siap dengan jarum suntik ditangannya. Dokter muda itu menghampiri Yeora lalu menyuntikkan obat penenang pada tangannya. Selama 2 menit obat itu baru bereaksi membuat wanita itu kembali tertidur.

"Sepertinya istri anda sedang dalam depresi hingga membuat ia histeris seperti itu. Obat penenang itu hanya bereaksi selama 4 jam, setelah itu beri dia obat yang harus ditebus di apotik" Begitu kata dokter itu. Yunho mengerti sambil mengambil resep obat dari dokter itu.

"Kehilangan anak memang membuat semua wanita depresi. Buat ia tenang dan jauhkan semua hal yang akan membangkitkan emosinya" Lanjut dokter itu. Yunho mengangguk. Semua memang salahnya, bicara begitu tanpa memastikan Yeora berada dimana.

"Baiklah, saya pulang dulu"

Setelah mengantar dokter sampai kedepan pintu, Ayumi kembali lagi kekamar anaknya. Dilihat Yunho sudah berada ditepi ranjang, mengelus pipi halus istrinya.

"Yunho, lebih baik kau istirahat. Yeora sudah tenang" Kata Ayumi sambil menyentuh bahu menantunya.

"Aku bodoh, Umma. Seandainya aku tidak bicara seperti itu, maka Yeora tak akan seperti ini" Yunho meremas rambutnya.

"Kau tak perlu menyesalinya, Yun. Semua sudah terjadi dan tidak bisa kembali lagi. Aku rasa perlahan Yeora akan mengerti. Ia hanya butuh waktu" Kata Ayumi menasehati. Yunho tersenyum. Andai ibunya pun seperti itu, tidak menyudutkan Yeora, maka hal tadi tidak akan terjadi.

.

.

.

3 jam kemudian...

Ting Tong Ting Tong..

Ayumi sedang duduk diruang tamu ketika ada yang menekan bel. Ia pun segera membuka pintunya.

"Ah, Jejung" Serunya. Ia melihat anak keduanya berdiri didepannya. Jaejoong langsung memeluk sang ibu.

"Oka-chan, aku tadi menghubungimu tapi tidak kau angkat" Kata Jaejoong setelah pelukan mereka terlepas. Wajah Ayumi berubah murung. Jaejoong yang melihat itu menjadi khawatir.

"Apa yang terjadi, Oka-chan?"

Ayumi terisak, membuat Jaejoong kembali memeluknya. Dalam beberapa detik mereka hanya melakukan itu. Jaejoong menepuk punggung ibunya supaya tenang, itu juga yang dilakukan oleh Ayumi ketika anaknya sedih.

"Oka-chan tidak tahu apa salah nunna-mu hingga Tuhan memberikan cobaan seperti ini" Kata Ayumi memulai. Jaejoong tahu apa yang membuat ibunya bersedih, "Aku tidak tega melihatnya seperti itu hiks..aku..hiks" Tangis wanita itu semakin kencang. Jaejoong melepaskan pelukannya, mencoba tersenyum lalu menghapus airmata dipipi sang ibu.

"Kau harus tenang, Oka-chan. Semua ini pasti ada hikmahnya" Kata Jaejoong menyemangati. Menangis bukan hal yang baik untuk menyelesaikan masalah, dan Jaejoong percaya jika Tuhan punya rencana lain yang lebih indah.

"Siapa yang datang, Umma?" Tanya Yunho yang muncul dari dalam rumah.

"Ah.." Jaejoong dan Yunho sama-sama terdiam. Mereka saling berpandangan. Entah apa yang menarik. Meski dalam jarak yang jauh, mereka seolah tertarik oleh mata masing-masing.

'Dia mirip Yeora' Kata Yunho dalam hati, pendapatnya setelah melihat Jaejoong.

'Dia..tampan' Sedang Jaejoong terpesona oleh ketampanan Yunho, yang tidak ia ketahui kalau pria itu adalah kakak iparnya.

"Ah, Yunho. Kenalkan ini Jaejoong, saudara kembar Yeora" Kata Ayumi memperkenalkan. Yunho mendelik terkejut, ternyata mereka benar-benar mirip.

"Dan Jaejoong, kenalkan dia Yunho, kakak iparmu"

"Mwo?"

.

.

.

T

B

C

.

.

.

Hai, di ff ini aku ingin membuat cerita yang tidak terlalu berat dan mungkin kalian bisa menebak jalan ceritanya. Genre ff ini bukan angst, hanya hurt saja, karena tidak ada penyiksaan secara fisik yang menyebabkan kesedihan para karakter.

Kalian pernah dengar istilah 'turun ranjang?' nah begitulah ff ini ^_^

Ditunggu review kalian jika tertarik ^^