"Pokoknya yang kalah, harus berlagak seperti monyet!"

Shiganshina, tujuh tahun lalu.

Seperti biasa, dataran di kota itu bergerak—lebih tepatnya berguncang. Eren kecil ingat betul apa kata ibunya. Jangan kemana-mana, tetaplah pada posisimu, dan jauhi pepohonan tinggi.

Eren membungkukkan badannya di antara semak-semak—beruntung karena tidak banyak pepohonan tinggi di situ.

Semenit… Dua menit…

Sepertinya situasi sudah membaik?

Masih dalam posisi mengendap-endap, perlahan disisirnya keadaan sekitar. Mata kehijauan yang indah itu berbau dengan hijaunya padang rumput Shiganshina, mencari seorang—

"Tuan muda, Bodt—!" Eren mendesis.

Beruntung, yang dipanggil langsung refleks. Marco bergegas menghampiri Eren sambil mengendap-endap.

"Anda baik-baik saja?"

Marco mengangguk, memastikan. "Bagaimana denganmu?"

"Saya baik-baik saja."

"Lalu Jean—"

Perkataan Marco terhenti. Dari balik semak-semak, keduanya menerawang sosok bocah berambut cokelat keabuan yang berlarian-kesana kemari tanpa memperdulikan pakaiannya yang kotor terkena debu.

"Sepertinya— Tuan Muda Krischtein tidak apa-apa," sahut Eren—kontras dengan wajahnya yang nampak cemas saat melihat sosok Jean.

"Baiklah. Permainan dilanjutkan!"

Marco menarik tangan Eren untuk segera menjauhi tempat itu—menuju ke tempat Jean.

Satu… Dua… Tiga…

"Benteng berhasil direbut!" Sorak keduanya menepuk pohon di belakang Jean.

"Ah— Menyebalkan!" umpat Jean.

"Nah Jean, petak umpet kami menangkan." Marco terkekeh sekilas sambil mengeluarkan sepotong pisang dari saku celananya. "Sekarang, berdiri dengan lututmu, kedua tangan terangkat, sandarkan punggungmu di pohon, dan—"

Sekejap saja, mulut Jean sudah terjejal pisang.

"Mmph— Kenapa bukan kau saja Marco?"

"Aku sudah kalah beberapa kali, memang rasanya tidak menyenangkan—" Marco menatap Eren yang sibuk terkekeh di sampingnya. "Eren yang belum. Kau benar-benar kuat Eren."

"Hmmp— Lain kali akan kubuat kau seperti ini, Eren!" seru Jean kesal karena ditertawakan.

"Anda, tidak akan bisa."

"Kau yakin sekali? Hmp— kita lihat saja! Sekalipun aku harus menunggu enam sampai tujuh tahun!"

"Oh ya?" Eren berlutut dihadapan Jean. "Tapi Anda benar-benar…"

Jean mendapati seringai jahil dari sudut bibir si rambut cokelat.

"…mengingatkan saya pada nyemot—"


Kokoro

By Kajika Louisa

.

.

.

Chapter 2 : Guilty

.

.

.

Shingeki no Kyoujin © Hajime Isayama

Warning: Rate-T. OOC. AU. Romance. Humor. BL. Jean-Eren.

Bahasa 'ajaib' di cerita ini dan sifat para chara, kurang lebih berpatokan pada chara yang bersangkutan. Dan soal nama keluarga Eren, saya ngikutin officialnya, jadilah Eren Yeager. Maaf buat yang yang udah sreg sama nama Eren Jaeger ketimbang Eren Yeager.

.

.

.

.

.

"Kau tanya apa yang sedang terjadi? Lihat saja sendiri."

Hanji menatap dua anak malang yang balas menatapnya dengan pandangan mata berkaca-kaca—mirip Titan yang minta dielus-elus.

"Sir Hanji—"

"Miss Hanji—"

Lho?

Kesampingkan dulu gender Hanji yang memang tertulis 'Hanji' di data guru. Para murid sudah membiasakan diri dengan itu. 'Sir' atau 'Miss' terserah saja. Di sisi lain, Hanji berasa maskulin dipanggil 'Sir', dan merasa dihormati dipanggil 'Miss'. Nyentrik memang guru yang satu ini.

"Kau nggak kasihan sama mereka, Rivaille?"

"Huh—?" dengan posisi seksi ehm- maksudnya masih bersadar di depan meja dengan kedua tangan terlipat, alis Rivaille bertaut menerawang kedua anak didiknya. "Bukankah kuminta kalian berpelukan? Bukan dorong-dorongan macam ibu-ibu yang rebutan baju diskon."

Yah— Seperti yang dilihat Hanji sebelumnya, posisi Jean dan Eren bisa dibilang nanggung.

Tangan kiri Jean mencoba mengunci sebelah tangan Eren dan tangan kanannya menahan tengkuk Eren. Sedangkan Eren dengan tangan kirinya—sekuat tenaga—menahan badan Jean agar tidak menyosornya.

"Ta- Tapi, Sir—" Eren megap-megap mirip ikan mas koki dalam akuarium.

"Peluk dia sekarang, Krischtein!"

BRUK

Eren terjatuh di dada Jean, setelah—dengan nistanya—Rivaille menyengkat dengkul bocah malang itu. Dan terbius oleh kediktatoran Rivaille, secara refleks Jean memeluk tubuh Eren.

Bisa dilihatnya Eren seperti anak kecil yang ketakutan setelah diajak nonton obake, tubuh itu bergetar hebat dalam pelukan Jean.

"Kemarikan berkas-berkas yang kau bawakan untuk rapat nanti," sang guru berpostur minimalis kembali ke meja kerjanya, mengambil tempat duduk, dan berkutat dengan tumpukan berkas yang disodorkan oleh Hanji.

Naas.

Hanji tak bisa berbuat lebih. Hanya saja, masih tersimpan jelas di brankas memorinya. Betapa Rivaille yang dikenalnya dulu—saat menjadi guru baru—sangat polos. Walau sifat kaku Rivaille masih saja menempel.

"Satu lagi—" sekilas si mata elang mengalihkan perhatiannya pada Jean dan Eren yang berpelukan kaku di salah satu sudut ruangan. "Jangan macam-macam!"

Hah?

HAAAAH—?

Oh Sir, plis deh, ini udah 'macam-macam'. Lalu kita disuruh 'macam-macam' yang seperti apalagi? Jean membatin dongkol.

Setelah itu hening.

Hening—

Hening banget.

.

"Ngghh—"

Dan terdengarlah suarah desahan.

.

"Krischtein…"

Yang asalnya dari Eren...

.

"Napasku sesak, tolong longgarkan pelukanmu."

Oh, tenyata pelukan Jean terlalu erat hingga membuatnya sesak.

.

Dasar!

Eren dan suara ambigunya yang membuat pembaca kecewa karena scene yang diharapkan, tidak terjadi.

.

Sontak Jean melonggarkan pelukannya. Dia juga baru sadar kalau sudah memeluk Eren seerat itu.

"Entschuldigung—"

"Danke." Eren kembali mengatur napasnya.

Hening lagi.

Di sudut sana—di meja kerja—Rivaille dan Hanji sibuk berdiskusi dengan suara minimalis. Di sisi lain Jean dan Eren masih dengan hukuman 'istimewa'nya.

Berpelukan.

Lagipula, tidak ada satupun dari mereka yang mau menerima hukuman tambahan dari Rivaille, jika mereka menolak hukuman 'istimewa' ini.

DEG

Eren tak dapat menahan debaran jantungnya. Siapapun yang berpelukan seperti ini—dalam waktu yang lama—pasti akan merasakan 'sesuatu'—entah apa itu. Walaupun keduanya laki-laki.

Apalagi posisi Eren saat itu, menempel erat pada dada Jean. Wajahnya merah padam—walau dia yakin betul kalau Jean tak akan mengetahuinya.

Sekelebat pikiran menyempil dibenaknya.

Sebenarnya Eren juga penasaran dengan ekspresi Jean saat itu. Apakah sama seperti dirinya?

DEGDEG

Suara debaran jantung.

Dirinyakah?

DEGDEGDEG

Bukan.

"Uhm- Krischtein…" Eren menegadah, berusaha menatap wajah Jean.

"Apa?!" yang dipanggil mendesis kasar.

"Jantungmu berdegup kencang…"

"B- Berisik, Eren!"

"Pffft"

"Kau mentertawakanku?"

"Nggak. Bukan begitu maksudku. Cuma rasanya kangen—"

"Huh?"

"Krischtein yang sekarang, beda dengan Krischtein yang dulu kukenal. Kalau bisa memutar waktu, aku ingin kembali ke masa lalu. Pastinya sejak kejadian itu, sampai kapanpun, kau akan terus memusuhiku. Kita nggak pernah akur— Hmmp—"

Perkataan Eren terputus, Jean menenggelamkan wajah si rambut kecoklatan ke depan dadanya—lagi. Dia tidak ingin mendengar soal itu, terlebih dari Eren. Demi apa hari ini Eren cerewet sekali?

Sepertinya, Eren salah ngomong.

Eren memejamkan matanya sejenak. Dia tidak habis pikir kalau sobat mungilnya, menjadi seperti sosok seperti ini. Tinggi, tampan, menyebalkan, eh—

Tampan?

Kenapa dia bisa berfikir seperti itu?

Dan Krischtein juga suka pisang

Eren baru menyadari—karena sejak tadi gugup—kalau aroma pisang terus menguar di sekelilingnya—yang berasal dari seragam Jean.

Sepertinya aroma deterjen baru. Eren membatin yakin.

Baguslah. Dia bisa memecah ke-awkward-an ini dengan mendiskusikan deterjen baru—siapa tahu deterjen itu cocok juga kalau dia pakai.

"Hei, Krischtein."

"Apalagi, huh?" kali ini gantian Jean menegadah padanya—menatap langsung pada manik mata Eren.

Ayo Eren! Pecahkan keheningan! Tanyakan padanya soal…

'Deterjen beraroma pisang!'

"Dadamu bidang—"

Alis Jean terangkat sebelah. "Kau napsu sama dadaku?"

Lho?

Lho? Lho? Lho? Lho? Lhoooooo?

BLUSH!

"B- b- bukaaann…"

"Lalu?"

"Aku mau ngomong soal dada bidang, bukan pisang!"

Wait—

Entah kenapa otak dan mulut Eren nggak bisa sinkron.

"Eren… lihat aku!"

Wajah merah padam Eren menengadah.

Sial. Demi apa Eren jadi unyu begini? Batin Jean mencelos.

"K- Krischtein- A- aku… aku… aku tahu kalau dadamu bidang dan kau suka pisang—"

Lagi-lagi—untuk kesekian kalinya—Eren salah ngomong.

"Oi, kalian berisik!" Rivaille mulai jengah dengan kericuhan kecil dihadapannya—yang sebenarnya tidak begitu jelas dia dengar. "Hukumannya mau kutambah?"

Hanji mulai merasakan sesuatu yang aneh.

"Sir—" Jean menginterupsi.

Dan sepertinya, prediksi Hanji tepat.

"Eren pingsan."

"Hah?"

.

.

.

.

.

Jean mengurut-urut dahinya.

Ruangan Rivaille sepi. Hanya terdengar suara detak jam, dan dengkuran Eren.

Yep, Eren.

Setelah pingsan tadi, bocah itu malah tertidur pulas dan susah dibangunkan.

Alhasil Jean yang ketiban apes.

Pertama, tidak mungkin dia menggendong Eren yang tidur pulas sampai ke gedung asrama mereka di lantai lima, mana tangganya manual pula—nyiksa kokoro banget, dan sebelum mencapai asrama, Jean harus melewati halaman sekolah yang luasnya amit-amit—

Kedua, karena hal pertama tadi, Jean jadi babysitter cabutan—menjaga Eren yang tidurnya kayak kebo. Masih untung Rivaille sudi meminjamkan ruang kerjanya—yang juga merangkap sebagai kamar guru—untuk mereka, selama Rivaille ikut rapat.

Ketiga, hukuman 'istimewa' tadi tidak dianggap hukuman oleh Rivaille. Pelukan tadi hanya 'bonus' scene katanya. Dan hukuman sebenarnya—sesuai mandat Rivaille pada Hanji—akan diberikan oleh Hanji, lusa depan.

Menyebalkan

ARRRGGGHHH!

"…Krischtein…"

Jean menoleh pada sosok rambut cokelat yang masih tertidur pulas di sofa.

Eren ngelindur?

Perlahan dia mendekati Eren, lalu mengunci posisi Eren yang berada di bawahnya.

Mungkin kalau si rambut cokelat itu bangun, Jean bakal dia hajar habis-habisan. Tapi sayangnya, itu tak terjadi.

"Bangun Eren— Kau mau kupukul sampai bangun, huh?"

Tak ada jawaban di sana.

"Atau bibirmu mau kucium?"

Ck— Jean menepuk jidatnya.

Kenapa pikiran ala om om sukebe muncul disituasi macam ini? Dia sudah berusaha menjejalkan soal—betapa dia pernah tergila-gila pada si cantik itu—Mikasa, namun hasilnya nihil. Hanya ada Eren, Eren, dan Eren di situ.

Tapi sejak kapan?

"…Maafkan aku, Krischtein—"

"…"

"Aku tahu, sampai kapanpun…" sebutir airmata jatuh di sudut mata Eren yang masih terpejam.

Jean ingat betul, kalimat itu sama persis dengan yang Eren ucapkan sewaktu mereka dihukum Rivaille tadi—sewaktu Jean memeluknya.

Dada Jean berangsur nyeri.

"…kau akan terus memusuhiku…"

"Hentikan, Eren!"

"Maafkan aku, sungguh—" disusul dengan buliran-buliran airmata yang selanjutnya sukses membanjiri kedua pipi Eren.

Sebenarnya, siapa yang lebih sakit?

Erenkah atau Jean?

Namun, si pemuda berambut cokelat keabuan juga belum mengetahui jawabannya. Kejadian enam tahun lalu di Shiganshina benar-benar membuat perasaanya remuk redam.

Bukankah dari awal hanya Jean yang merasa sedih? Tapi kenapa Eren juga? Bahkan dalam igauan, Eren meminta maaf padanya.

.

"Soal apa yang pemuda tadi lakukan untuk menenangkan si gadis, sungguh menggelitik perasaan saya, untuk…menenangkan tuan muda. Jadi maaf kalau saya"

.

Sekelebat sosok Eren kecil dan kalimat yang Eren ucapkan enam tahun lalu, terlintas dalam benak Jean.

Si kecil Eren yang mengecup keningnya saat Jean kalut luar biasa, dan kecupan itu membuat perasaan Jean menjadi lebih tenang.

Jemari Jean mengusap airmata Eren yang terus mengalir. Bau mint dari shampoo yang Eren pakai menggelitik hidungnyaaroma itu membuat Jean secara refleks mendekat, dan mendaratkan kecupannya di kening Eren. Persis seperti yang Eren lakukan padanya enam tahun lalu.

Jean mengangkat wajahnya, sejenak ditatapnya wajah polos Erenairmatanya sudah mengering.

Apakah perasaan Eren sudah tenang?

Entahlah, si rambut cokelat itu masih tertidur.

"Kau minta maaf padaku. Tapi aku sendiri tidak tahu… Apakah kau memaafkanku untuk ini?"

Jean mendaratkan kecupannya sekali lagi. Namun kali ini, kecupan itu mendarat di—

Bibir Eren.

.

.

.

.

.

Yang mereka ketahui. Hukuman 'istimewa' untuk Jean dan Eren ditunda sampai lusa—sampai-sampai Armin kecewa berat karena tak mendapat berita spektakuler soal hukuman 'istimewa' Rivaille, untuk klub korannya.

Padahal, mereka tak tahu kalau Jean dan Eren sudah mendapat hukuman 'bonus' yang membuat keduanya jadi aneh setelahnya. Seperti saat…

"Senior Yeager, ajari kami soal pengajuan beasiswa dong. Yang ini— bidang studi pilihan diisi apa saja?"

"Pisang studi?"

"Bidang studi, Kak—"

"Pisang?"

"…"

.

Sedangkan di sisi lain, Jean juga mengalami...

"Eren, aku dapat lollipop dari kantin nih—"

Si rambut cokelat menangkap lollipop yang baru saja dilempar dengan mata berbinar—Eren memang mirip bocah yang langsung sumringah saat dikasi permen, bergegas dilahapnya permen pemberian Bertholdt.

Tak jauh dari situ, sepasang mata cokelat keemasan mengawasi gerak-gerik lidah Eren—mirip serigala liar yang perlahan mengincar mangsa.

"Jean…"

"Kenapa, Reiner?"

"Kau serius?"

"Apanya?"

"Kau minum es teh yang sudah kau campur pakai kecap—"

"HUEEKKK—!"

.

Dan sore itu, sepertinya sama saja…

"Hei lihat yang kubawa!"

Para member klub basket langsung mengerubungi Bertholdt dan Reiner—ketua dan wakil ketua tim basket mereka.

Sepertinya, Bertholdt dan Reiner eksis sekali—dan sehati—menjadi ketua dan wakil.

"Wow— Cupcake pisang! Dapat darimana, Ketua?"

"Ufufu— siswi di klub memasak membuatkan khusus buat kita."

"Pasti, Ketua pakai pelet ya?"

"Nggak lah plis— Aku dari sananya udah ganteng, banyak fans pula."

Ah elah, miapah Bertholdt narsis?

Member yang lain terbahak-bahak.

Eren baru saja sampai di lapangan basket outdoor, langsung bergabung dengan teman-temannya. "Eh, cupcake?" Eren memecah gelak tawa mereka.

"Iya senior, kita dapat dari klub memasak. Cupcake pisang!"

"Cupcake bidang? Rasa macam apa itu?"

"Pisang."

"Bidang?"

"…"

"Ereeen—" Satu getokan mesra dari Reiner, mendarat di ubun-ubun Eren, dan lagi-lagi terdengarlah gelak tawa dari para member basket.

.

Tapi rupanya, seseorang tidak ikut terbawa keceriaan itu. Jean berdecih melewati kerumunan siswa-siswa di depan mading—entah apa yang mereka ributkan. Begitu sampai di sisi lapangan basket, dia bersandar di bawah pohon rindang, wajahnya kusut mirip benang ruwet.

"Halo pangeran kalut!"

Lagi-lagi, julukan Ymir memang tepat sasaran.

Gadis itu tiba-tiba muncul, seenak udelnya duduk petakilan di sebelah Jean—yang sepertinya sudah terbiasa mendapati Ymir yang seperti itu.

Jean curiga, jangan-jangan dia dibuntutin Ymir sejak keluar dari toilet.

"Hei lihat yang kubawa!"

Ini miapah cara Ymir sama Bertholdt ngomong pakai gaya yang sama? Apa karena mereka sepupuan? Bisa jadi

"Nggak mau."

"Hoi, aku kan belom selesai ngomong—" Ymir merogoh saku celananya.

Oh sebagai catatan, sistem seragam untuk siswa laki-laki dan perempuan di sekolah ini sama. Atasan kemeja putih tulang dan bagian bawahnya celana panjang gelap. Kata kepala sekolah tercinta, supaya sama rata—apalagi celana panjang memudahkan siswi bergerak kapanpun, termasuk saat ekskul.

"Kau mau yang mana? Stroberi, jeruk, atau— yang beraroma cinta?"

Apaan beraroma cinta?

Jean mendelik, menatap satu-persatu amplop warna-warni yang dipelihatkan oleh Ymir.

"Sudah kubilang, aku nggak mau. Kau ambil saja semuanya."

Ymir berdecak. "Ayolah Jean, ini surat cinta yang kesekian kali dan kau tolak semuanya. Setidaknya balas perasaan mereka, sekalipun itu penolakan—"

Kokoro Jean terasa sakit.

Demi apa dia kerap dapat tumpukan surat cinta, tapi Mikasa sekalipun tak meliriknya? Sekarang, jantungnya malah jedag-jedug setiap melihat sosok Eren—sekalipun yang dilihatnya hanya kaos kaki Eren yang nggak dicuci seminggu.

Dan terjawab sudah, kenapa Ymir dekat dengan Jean. Ymir-lah 'cupid penyampai cinta' siswi-siswi SMA Scouting pada Jean. Walau, yeah— jawaban Jean selalu nggak.

"Kau bawa pulpen?"

Ymir menyodorkan pulpen, sekaligus amplop-amplop berisi surat tadi pada Jean.

SretSretSret

Bunyi goresan pulpen di atas surat. Dalam semenit pulpen dan amplop berisi surat kembali pada Ymir.

Gadis itu kepo akut, dibacanya sebuah surat—ada balasan dari Jean di situ.

.

Danke.

Tapi maaf, aku nggak bisa menerima perasaanmu.

Setelah lulus, aku mau fokus karir dulu.

- Jean Krischtein -

.

Pfffft—

Ymir menahan tawanya. Untuk seorang penerus Krischtein, jawaban itu terkesan kaku banget.

"Oh ya, aku dengar kabar, hukuman 'istimewa'mu dengan Eren, ditunda Sir Rivaille sampai lusa. Tapi— apa kau sudah lihat berita di mading hari ini?"

Jean teringat akan kerumunan di koridor tadi. "Ada berita apa memangnya?"

"Hmm itu—" Ymir menerawang ke arah lapangan basket—sepertinya klub basket sedang istirahat. "Hei Eren! Sini deh!"

Eren mendatangi sosok gadis yang memanggilnya.

"Ada apa Ymir?"

DEG

Jantung Eren mencelos begitu disadarinya ada Jean di situ. Seharian karena hukuman 'bonus' Rivaille kemarin, dia jadi mengingat terus soal 'bidang' dan 'pisang'. Apalagi jika harus berhadapan dengan Jean seperti ini—

Sekelebat fatamorgana hadir dihadapan Eren.

.

Jean bertelanjang dada—memamerkan dada bidangnya—sambil membawa pisang.

Oh, Eren yang polos, pikirannya sudah mulai tak suci hanya karena membayangkan seorang Jean Krischtein.

.

Seandainya saja Eren tahu kalau… Jean juga seperti dirinya, kebat-kebit tak karuan.

"Kita ke mading sekarang. Akan kuperlihatkan sesuatu pada kalian—"

.

.

.

.

.

Mereka sampai di depan mading yang masih berjubel manusia.

"Minggir! Pangeran dan Tuan Putri mau lewat!" Ymir menyeruak dikerumunan massa, bak prajurit.

Tunggu eh, siapa yang dia bilang Tuan Putri? Batin Eren dongkol.

Lho, Eren ngerasa?

Dan yang mereka dapati adalah—

Foto Eren sedang menunggu jemuran—kaos olahraga Jean—kering. Untungnya foto itu bukan dalam pose Eren bertelanjang dada, melainkan pakai seragam.

Jean sedikit bisa bernapas lega.

Walau kemarin Eren bertelanjang dada di depan guru dan beberapa temannya, tapi tak seorangpun boleh memonopoli—sekalipun hanya melihat foto—Eren dalam pose bertelanjang dada maupun telanjang bulat! Jean memang pernah melihat Eren telanjang bulat, itupun waktu keduanya masih bocah, dan hanya saat mandi bareng.

Tapi— apa tujuan memajang foto Eren seperti ini di mading? Mata cokelat keemasan Jean menyisir keadaan sekeliling.

Kasak-kusuk tak ada habisnya, dan pandangan-pandangan itu hanya tertuju pada Eren.

Eren terpagut—diam di tempat tanpa tahu harus bereaksi apa—dengan cemas.

Sial

Apa yang harus Jean lakukan untuk ini? Siapa yang melakukannya?

"Kh—"

Sampailah padangan mata Jean pada sosok blonde—yang entah sejak kapan ada di sampingnya—Armin.

"Kau yang melakukannya?"

Armin membalas Jean dengan senyum. "Menurutmu?"

Iris cokelat keemasan itu kembali menelanjangi seluruh isi mading.

Baguslah— tidak ada foto Eren yang sedang tertidur dan menempel di situ. Hanya fotonya saat menjemur baju—dengan memakai seragam komplit.

Terjawab sudah pertanyaan Jean kemarin.

'Apa yang dilakukan Armin di halaman belakang sekolah, bersama Eren yang sedang tertidur pulas? Kenapa dia membawa kamera—sampai harus menyembunyikannya di belakang punggung?'

Semuanya karena Eren.

Armin ingin memotret Eren, lalu foto itu dipajang di manding untuk— membuat berita gempar! Sekalipun Jean tahu kalau hukuman 'mencuci baju' tidak termasuk hukuman 'istimewa' dari Rivaille. Melainkan, sebagai tanggung jawab Eren karena telah menodainya—maksudnya, menodai kaos olahraga Jean dengan air teh.

"Jadi kau—"

Jadi, Armin memajang foto Eren karena klub koran tidakatau belummendapat berita soal hukuman 'istimewa' Rivaille? Jadi, Armin ingin menggantikan berita itu dengan berita ini agar

Ck!

Jean tahu betul, kasus kelonan Armin dan Connie mengendap—tidak ada yang berani membicarakan. Pertama, karena Armin adalah ketua klub koran sekolah. Berani membicarakannya? Siap-siap saja jika skandalmu, rahasiamu, atau entah apa, diberitakan oleh klub koran sekolah. Dan hal yang lain, itu karena— Armin adalah keponakan kepala sekolah.

Sebenarnya, Armin tidak menyakiti siapapun, tapi— dia rela melakukan apapun untuk klub koran yang diampunya.

"Kau yang—"

"Shhhttt—!" Armin mendesis sambil menempelkan telunjuk di bibirnya.

Begitu tahu ada yang tidak beres, Ymir bergegas mengunci kedua tangan Jean—yang hampir saja melayangkan tinjunya ke udara.

"Jean hentikan!" Beruntung, tenaga Ymir sekuat laki-laki. Walau bisa dilihat, gadis itu cukup kewalahan mengatasi Jean yang terus meronta-ronta.

Wajah Eren memucat melihat apa yang terjadi dihadapannya.

"Ada apa ini?"

Mikasa menyeruak di antara kerumunan, ada Annie bersamanya. Tidak perlu jawaban karena Mikasa langsung membaur di sebelah Annie yang tertegun di depan mading—memandang foto Eren.

"Ini—" Mikasa berdecak sekilas, dan langsung mengalihkan tatapan tajamnya pada Armin. "Klub koran sekolah yang melakukannya?"

Glek

Dalam sekejap, seluruh pandangan mata tertuju pada Armin.

"Kalau iya, aku juga mau photopack Eren."

Ha?

"Aku juga mau," sambung Annie datar.

"Berapapun harganya!" Mikasa meyakinkan. "Sekalipun aku harus memecah celengan ayam jago! Watashi wa tsuyoi!"

"Aku juga mau!" sambung yang lain.

"Ah, aku juga mau photopacknya senior Yeager!"

"Aku juga! Aku juga mau beli!"

"Kalau ada photopack senior Krischtein aku juga mau! Berapapun!"

Jean mendegus mendengar namanya ikut-ikutan disebut.

"A- Ahahaha—" Armin yang kebingungan disodori bertumpuk petitum dadakan, tersudut di sebelah Eren. "Kau mau membantuku, Eren?"

"Eh- untuk?"

Masih belum bisa mencerna kata-kata Armin, pemuda berambut blonde itu menariknya mudur dari kerumunan, lantas berseru.

"BAIKLAH SEMUANYA— YANG MAU PHOTOPACK EREN, SILAKAN ANTRI DI DEPAN KLUB KORAN SEKOLAH! DAN UNTUK PHOTOPACK PERDANA, DILENGKAPI DENGAN BONUS TANDA TANGAN DARI EREN!"

Teriakan membahana saut-menyaut di dalam kerumunan, dalam hitungan detik mereka lari tunggang-langgang demi mengambil antrian. Di depan mereka ada Armin yang berlari sambil menarik tangan Eren.

Koridor dan mading mendadak sepi. Tinggallah Jean dan Ymir yang terbengong-bengong disana, ada Mikasa bersama mereka.

"Sampai nanti— Aku juga mau antri beli photopack Eren." Mikasa angkat bicara.

"Mikasa!" tanpa sadar Jean meneriakinya. Perasaan suka itu tiba-tiba sirna, berubah menjadi perasaan kagum.

"Kau sudah melindungi Eren dengan baik, Vielen dank—" dan sosok gadis itu berlalu menjauhi mereka.

Kenapa Mikasa berterimakasih padanya? Bukannya Mikasa yang malah membantunya? Kalau saja Mikasa tidak ada di situ, mungkin keadaannya tidak akan jadi seperti ini.

Tapi tak dapat dipungkiri, ada secuil kelegaan dalam diri Jean.

.

.

.

.

.

"Kemari, Krischtein—"

Bel pulang sekolah tiba. Sudah terhitung dua hari sejak kejadian hukuman 'bonus' Rivaille, ditambah kegegeran di mading, yang berujung dengan klub koran mendadak kerepotan menjual photopack—karena setelah itu tak henti-hentinya siswa-siswa berduyun-duyun membeli bahkan pre-order photopack Eren.

Mungkin klub koran sekolah perlu diganti nama jadi klub dagang photopack? Lalu, menjual photopack lain seperti— photopack member basket, atau photopack Jean? Itupun kalau dibolehin.

"Iya, Sir."

Jean menuruni tangga kelas—sistem duduk di setiap kelas memang menyerupai pola kursi di stadion, jadi yang menempati bagian belakang, bisa menyimak penjelasan guru di depan dengan mudah tanpa perlu kesusahan mendongak karena terhalang kepala teman di bangku depan—menghampiri Sir Irvin Smith, guru Antropologi sekaligus menjabat sebagai kepala sekolah di SMA Scouting.

"Kenapa bisa begini?"

Eren yang sedang memasukkan buku ke dalam tas, mengedarkan pandangan matanya ke arah meja guru—pada sosok Jean dan Irvin. Terlihat jelas benda yang disodorkan Irvin pada Jean.

Buku tugas Antropologi milik Jean yang—tanpa sengaja—Eren nodai, dengan tumpahan air pel, dan berujung dengan hukuman gigit pisang buat Eren.

Glek

Apakah Jean akan memberitahukan pada Irvin kalau Eren-lah yang membuat buku itu basah? Tapi, kalau begitu, Jean melanggar janjinya—

"Das tut mir Leid!" Jean membungkuk dihadapan Irvin. "Lain kali saya akan lebih berhati-hati, Sir!"

"Sudahlah." Irvin melempar senyum ganteng level satu miliknya. "Aku hanya ingin mencari tahu. Karena sebelumnya kau tidak pernah seperti ini— Setidaknya kau bertanggung jawab dan mengerjakan tugasmu di buku lain."

Sekalipun itu nyontek Eren. Batin Jean mencelos. Memang bukan salah Jean sepenuhnya sih.

"Kuharap, kau tidak kerepotan mencatat ulang—mengingat kembali, tugas yang telah kuberikan."

Jean mengangguk.

Dan sosok Irvin Smith berlalu dari hadapan Jean.

"Danke." Entah sejak kapan, Eren berdiri di samping Jean.

"Untuk apa?"

"Buku tugas tadi dan" Sebenarnya Eren juga bermaksud menanyakan kejadian di depan mading pada Jean, tapi dia ragu—dan memang sebaiknya tidak usah. "…aku ingin berterima kasih."

Terima kasih? Wait— Apa aku salah dengar?

"Akan kulakukan apapun untuk membalasnya," sambung Eren malu-malu.

Runtuh sudah dinding pertahanan Jean. Ekspresi Eren yang seperti itu… kata-kata Eren… seluruh tingkah polahnya… membuat kokoro Jean berkecamuk. Ingin sekali dia memeluk si rambut cokelat, menciumnya—itupun kalau bisa, mengikatnya dengan rantai super kuat—dilengkapi dengan gembok ber-password, lalu menyimpannya dalam brankas.

Jean mengorek-ngorek telinganya.

"Barusan kau bilang apa?" Jean mencoba memastikan kalau dia nggak berfantasi dengan pendengarannya.

"Akan kulakukan apapun untuk membalasmu, Krischtein."

Dengar Jean! Dengar! Dengar! Dengar! Ini kesempatan emas!

Apapun! Apapun akan Eren lakukan untukmu!

APAPUN!

AUUUMMM~!

Mungkin kalau Jean itu turunan Warewolf, sudah habis-habisan Eren diterjangnya. Untunglah, bukan.

"Sungguh?" balas Jean—sok—stay cool.

Si rambut cokelat mengangguk.

Bagai mendapat durian runtuh. Tanpa perlu Jean minta, Eren menawarkan langsung padanya!

"Ehm-"

Eren berusaha menyimak permintaan Jean baik-baik.

Oh Eren, betapa innocentnya dirimu. Tak tahukah kau kalau Jean yang sekarang adalah sosok penuh modus?

"Aku—"

"Grüß dich!" Sosok itu menyeruak di antara Jean dan Eren.

"Ymir?!"

Death glare mesra dari Jean menyambutnya.

Ymir yang malang. Seandainya saja dia tahu kalau kemunculannya di situ dalam sikon yang kurang tepat.

"Ck— Kau mau apa?" sambung Jean ketus.

Begitu tahu kalau mood Jean sedang tidak beres, Ymir buru-buru menuntaskan misi yang diembannya.

"Maaf banget kalau aku sudah mengganggu kalian— tapi aku membawakan berita penting!"

"Berita penting?" Eren angkat bicara.

Gadis berambut hitam itu berbisik sambil merangkul bahu keduanya.

"Sir Hanji memberiku mandat. Aku harus membawa kalian ke perpustakaan utama, untuk menerima hukuman 'istimewa'!"

Celaka—

Baik Jean dan Eren baru menyadari kalau hukuman 'istimewa' itu jatuh pada…

Hari ini!

.

.

.

.

.

"Silakan dipilih undiannya—" Christa langsung menyambut kedatangan mereka. "Apapun pilihannya, masing-masing menentukan masa depan Anda."

Apaan?

Jean meminta penjelasan dari Ymir—mereka dibawa ke ruang klub drama, bukan ke perpus utama. Dan sekarang Christa malah menyodorkan tumpukan kertas gulung ala arisan ibu-ibu RT.

"Hum— Sir Hanji meminta kami—klub drama—untuk memberikan kalian hukuman 'spesial' sebelum menjalankan hukuman 'istimewa'. Jadi yah, silakan diambil undiannya—" Ymir mendorong punggung Jean dan Eren.

Jean jaw drop.

Demi apa hukuman mereka jadi banyak serinya begini? Ada hukuman 'istimewa', hukuman 'bonus', dan yang terbaru, hukuman 'spesial'. Mana sudah dua chapter, isinya hukuman semua—cuma gara-gara KDRT-nya dengan Eren terkuak di publik.

Oh sungguh kasihan sekali mereka.

"Aku dapat hijau—" Eren menunjukkan isi kertasnya.

"Punyaku biru," sambung Jean.

"Nah Eren, kau dapat kotak hijau. Sekarang ikut aku!" Ymir menarik tangan si rambut cokelat.

"Kau ikut aku Jean." Sasha menarik tangan Jean—tangan lainnya sibuk mengapit kotak dan bungkusan kentang rebus.

Dan mereka dihadapkan pada kamar ganti bersebelahan. Di kanan ada Eren—dengan Ymir dan Christa, sedang di kiri ada Jean dengan Sasha.

"Sekarang copot seragammu! Atau aku yang akan menelanjangimu!"

Sialan Ymir. Jean mengumpat dalam hati. Dia saja belum pernah berbuat sejauh itu pada Eren—entah, ciuman waktu itu bisa dihitung atau nggak.

"Pergi kau! Aku bisa sendiri!" Eren histeris.

"Tapi kau nggak akan bisa memakai ini sendiri—" Chista menambahkan.

"Aaahhh— Hentikan, Christa! Di situ geli!"

G- Geli?

Oh— Rupaya Jean sudah nggak kuat. Kalau ini uji nyali, mungkin dia langsung melambaikan tangan.

Sebenarnya

SEBENARNYA APA YANG TERJADI DI KAMAR GANTI SEBELAH?!

"Hei, Sasha—"

Merasa namanya dipanggil, gadis itu mendongak ke arah Jean.

"Kau mau bantu aku ganti baju nggak?"

"Nggak."

Singkat. Padat. Makjleb.

"Kau ganti baju sendiri saja," Sasha mengunyah kentang rebus sambil menyerahkan kotak biru yang dibawanya. "Aku masih sibuk dengan kentang-kentangku. Bye—"

Miris. Sabarlah Jean, kamu tsuyoi!

.

30 menit berlalu.

Jean dan Eren sudah lebih dulu meninggalkan ruang klub drama. Tinggalah Ymir, Christa, dan Sasha di situ—puas akan hasil kerja mereka.

"Good job, Ladies!" Hanji muncul bersama Rivaille. "Apa tadi ada kesulitan?"

Ketiganya menggeleng. Eren memang susah diatur, tapi selanjutnya berjalan sesuai rencana.

"Kunci ruangan—ada tiga buah kunci yang dijadikan satu ikat, dan Ymir memberikan semuanya—utama plus memo dari Sir Rivaille, sudah saya berikan pada Jean." Ymir menambahkan.

"Memo?" Hanji mencari jawaban dari pria di sampingnya.

"Sekedar catatan agar mereka tidak lupa kalau hukuman 'istimewa' yang kuberikan ada di ruangan A."

Hanji mencium sesuatu yang tidak beres. "Kau sempat membaca letak ruangan yang tertulis dalam memo, Ymir?"

"Ruang A, Sir. Sama seperti yang disebutkan Sir Rivaille."

"Tunggu— Bukankah semustinya ruangan B?" Christa menginterupsi Ymir.

"Ayolah Christa sayang, jangan bercanda. Di memo jelas-jelas tertulis ruangan A."

"Tapi, Miss Hanji memberitahuku kalau ruangan itu adalah B!" Christa menatap Hanji ragu-ragu.

"Hei Rivaille, kau yakin kalau yang tertulis di memo itu ruangan A?"

Rivaille mengiyakan pertanyaan Hanji dengan anggukan pasti.

"Padahal sudah kubilang padamu kalau ruangan itu tidak bisa digunakan—"

"Apa maksudmu, Hanji?"

"Ness dan Irvin memberitahukan langsung padaku kalau tidak ada yang boleh memasuki ruangan A untuk saat ini—" Hanji mengambil napas sejenak. "Rak-rak buku di ruangan itu sudah lapuk dan perlu perbaikan, jika ceroboh sedikit saja, rak-rak buku di sana dapat menimpa siapapun termasuk—"

Suasana dalam ruang klub drama berubah mencekam.

Wajah Rivaille langsung pias.

Kenapa dia bisa seceroboh itu? Apa tumpukan tugas tiada henti membuat Rivaille lengah barang sekejap? Termasuk untuk mengingat sebuah advis dari Hanji.

"Hanji, kau ikut aku. Kita menuju ke perpustakaan utama, SEKARANG!"

.

.

.

.

.

"Krischtein—"

"Hm?"

"Kau ambil yang atas. Aku sudah nggak kuat, lebih baik aku ambil bagian bawah."

"Terserah."

"Aaaahh— Krischtein!"

"Apalagi?"

"Bukan begitu caranya, yang kau lakukan itu terlalu keras!"

"Berisik, Eren! Aku sudah ambil bagian atas dan kau masih kurang puas, huh?"

Apakah telah terjadi sesuanu eh- sesuatu?

"Lihat!" Eren mengusap rak dihadapannya, dan gumpalan debu tebal menempel di jarinya. "Sebaiknya, kau nggak menggosoknya terlalu keras— rak-rak buku di sini terlihat rapuh."

"Kalau kau protes terus, kerjakan sendiri bagian atas!"

Eren mendengus dan berlalu menyambangi rak-rak lain di bagian belakang.

Jadi… hukuman 'istimewa'—season dua—yang diberikan dari Rivaille untuk mereka adalah…

Membersihkan salah satu ruangan di perpus utama.

SMA Scouting memiliki dua buah perpustakaan. Perpus umum yang letaknya di dalam sekolah dan perpus utama yang mempunyai gedung tersendiri. Berbeda dengan perpus umum, perpus utama adalah perpus yang dapat dikunjungi dengan ijin khusus dari wali kelas. Singkatnya, perpus utama menampung buku-buku pelajaran langka yang hanya boleh dibaca, termasuk dicatat di tempat, tapi tidak boleh dipinjam. Beberapa ruangannya juga menampung dokumen-dokumen penting dan arsip-arsip sekolah.

Sesuai memo yang diberikan Rivaille, mereka mendapat tugas membersihkan ruang A—tempat buku-buku sejarah dan dongeng.

Sebenarnya—karena Rivaille sudah memberikan mandatnya—hukuman bersih-bersih ruangan itu datangnya dari Hanji. Tapi, Rivaille menganggap hukuman itu terlalu ringan, sampai akhirnya klub drama ikut berpartisipasi memberikan hukuman…

Cosplay.

Beruntung Jean mendapat tuxedo, tapi Eren harus ber-crossdress ria karena mendapat undian dengan kotak berisi baju lengan panjang berwarna krem, rok sepanjang betis, apron panjang, bando, dan wig cokelat sewarna dengan rambutnya.

Itu jugalah yang tadi membuat Eren berteriak-teriak kegelian karena Christa bersikukuh memasang wig di kepalanya. Masalahnya wig itu terpasang sangat kuat, Eren sampai bersusah payah melepasnya—sayang, hasilnya tetap nihil. Kata Ymir, wig itu inovasi baru dari Christa—turunan dari keluarga Renz yang sudah lama berkecimpung di dunia mode dan semacamnya.

Nasib.

Si rambut cokelat hanya bisa pasrah menerimanya.

Jadilah mereka bagai butler dan maid—sesuai kemauan 'istimewa' Rivaille.

Di luar itu semua…

Jean mengakui kalau penampilan itu memang membuat Eren nampak manis.

Tapi hanya dalam hati.

Iris cokelat keemasannya terus mengikuti gerak-gerik Eren—bisa dilihatnya si rambut cokelat kesusahan menggapai rak teratas yang berdebu.

Eren yang bersusah payah menyelesaikan tugasnya seperti itupun, terlihat manis

Jean hendak melangkahkan kakinya ke tempat Eren, namun langkahnya terhenti begitu dia sadar kalau ada sesuatu yang tidak beres.

.

'Sebaiknya, kau nggak menggosoknya terlalu keras— rak-rak buku di sini terlihat rapuh.'

.

Kata-kata Eren menyeruak kembali ke dalam isi kepala Jean.

Rak?

Rapuh?

"Eren, pergi dari situ!"

Namun sepertinya, Eren tidak mendengarnya.

"EREEENN!"

BRAK—

Sebuah rak di bagian belakangtempat Eren beradarubuh dan menghamburkan buku-buku yang ditampungnya.

Hening.

Hanya ada wajah pias Jean Krischtein di sana.

"KRISCHTEIN!"

Wajah Rivaille ikut memucat. Hanji yang baru saja sampai di ruangan itubersama Rivaille, langsung menyambangi rak rubuh.

"Kalian jangan hanya diam saja! Bantu aku mengangkat rak ini!"

Bergegas Rivaille membantu Hanji, sedangkan Jean sontak menyingkirkan buku-buku yang berserakan di lantai, dan menimbun tubuh Erenmasih beruntung karena buku-buku dalam ruang A tidak seberat buku-buku di ruangan lain.

Ditopangnya badan lemah Eren dengan tangan kanannya. Pelipis Eren mengeluarkan darah segar.

Jean memang memusuhi Eren, tapi kalau terjadi sesuatu pada Eren

"Ugh"

Perasaan bersalah yang tiada habisnya, akan terus-menerus menghantui diri Jean.

Eh tunggu— Sepertinya Jean mendengar suara…

"Dimana aku?" Eren terbangun.

Sekejap saja, ketakutan itu sirna, terganti dengan kelegaan luar biasa dalam diri Jeantermasuk dalam diri Rivaille dan Hanji.

"Kau ada di perpus," kata-kata Jean melembut. "Sebaiknya kita bawa kau sekarang ke ruang kesehatan".

"Tunggu" Eren memegangi kepalanya yang terasa pusing. "Perpus? Aku tidak mengerti maksudmu"

"Perpus SMA Scouting, SMA kita."

"Bukankah itu SMA tenama di kota Trost?"

Dahi Jean bekernyit. Rasanya, gelagat Eren cukup aneh.

"Kau tahu sekarang tahun berapa, Yeager?"

Eren mengalihkan pandangannya pada sosok Rivaille.

"Apa kau ingat, ada kejadian apa di tahun ini?"

"Ini… seminggu pasca kejadian Shiganshina"

Jawaban itu sontak membuat ketiganyaminus Erenterenyak.

"Kalian siapa?"

Lagi-lagi pertanyaan.

Iris emerald itu memandangi sosok dihadapannya satu demi satu, sampai akhirnya manik mata itu jatuh pada sosok Jean.

Aroma pisang yang menguar… Mata cokelat keemasan… Rambut cokelat keabuan itu…

Eren kenal dengan semuanya.

Sosok yang sangat dirindukannya, apalagi karena…

"Tuan Muda Krischtein!" tanpa kompromitanpa perlu diperintah Rivaille, Eren mengambur dan memeluk Jean. "Saya tidak perduli jika Anda masih memusuhi saya, tapi saya benar-benar senang melihat Anda baik-baik saja!"

Sekali lagi kata-kata yang pernah Eren ucapkan, langsung menyergap isi kepala Jean.

.

'…Kalau bisa memutar waktu, aku ingin kembali ke masa lalu. Pastinya sejak kejadian itu, sampai kapanpun, kau akan terus memusuhiku. Kita nggak pernah akur—'

.

Mana mungkin jika…

Harapan Eren terkabul?

Dan akhirnya, Hanji angkat bicara.

"Ini hanya dugaanku, tapi sepertinya Eren"

Jeda sejenak.

"Amnesia."

.

.

.

.

.

TEBECE

.

.

.

.

.

OMAKE

"Thanks untuk bantuannya Ehm- maaf soal fotomu yang kami pajang di mading"

Eren menggeleng. "Lebih dari itu, ada yang ingin kutanyakan padamu."

"Soal?"

"Foto itu. Sepertinya kau memiliki maksud lain dan itu bukan tertuju padaku, tapi pada orang lain."

Mana mungkin Eren sudah mengetahui tujuan Armin yang sesungguhnya…?

"Apa kau ada masalah dengan"

"Hoi Eren! Kau dicari Bertholdt."

Eren terkesiap mendapati sosok Connie yang menyembul di belakangnya.

"Ah! Aku masih ada ekskul. Sampai jumpa" Eren langsung tancap gas.

"Nyaris lho," Connie melempar Cola pada Armin. "Tujuanmu memasang foto itu untuk menjahili Jean, kan? Nggak kusangka, akhirnya malah jadi seperti ini. Haruskah kita berterima kasih pada Mikasa? Tapi lumayan juga sih, photopack Eren menambah pemasukan klub kita"

Sesekali Armin meneguk Colanya sambil mendengarkan ocehan Connie.

"Hanya saja, kenapa Jean harus marah padamuhampir saja kalian membuat kericuhan? Bukankah itu foto biasa? Lagipula, Eren nggak mempermasalahkannya."

Yang Connie ketahui: Armin kerap mengusili Jeanlebih tepatnya memancing emosinya.

Yang tidak Connie ketahui: Jean marah karena tujuan Armin menyambangi halaman belakang kemarin, untuk memotret Eren secara diam-diamdan kemudian memajangnya di mading. Masih untung, yang terpajang hanya foto Eren dalam posisi sedang menjemur kaos. Tapi dari situ, pikiran Jean menjadi liar. 'Bagaimana jika selanjutnya Armin memajang foto Eren yang lain?' Terlebih, tidak mungkin kalau Armin hanya memotret Eren, pasti ada hal lain yang sudah dia lakukanentah apa itu, dan semuanya makin membuat Jean kalut jika teringat kecupan 'nyaris banget' yang 'hampir' diberikan Armin pada Erenwalau kenyataannya, kecupan itu sama sekali tak terjadi.

Tapi kenapa? Kenapa Jean harus marah pada Armin? Connie belum menemukan jawabannya. Namun sesaat, dia teringat sesuatu. Apa itu karena…

"HmmApa kau…" Connie menggaruk-garuk kepala licinnya. "Menyukai Eren?"

Armin menatap Connie dalam diam.

Sepertinya tebakan itu tepat sasaran.

"Yah, maksudkuKau laki-laki dan Eren juga laki-laki, jadi"

"Connie."

"E- eh apa?"

"Habiskan!" Armin menyodorkan Colanya.

Alis Connie naik sebelah.

Sejak tadi, Connie nyerocos—sama sekali tak ada respon dari Armin—sendiri, dan sekarang Armin malah memintanya mengabiskan Cola? Apa maksudnya?

"Habiskan? Kau yakin nggak akan minum lagi?"

"Iya, habiskan." Si rambut blonde mengangguk pasti.

Glek— Glek— Glek—

Dalam tiga tegukan, Cola itu habis tak bersisa.

"Bagaimana rasanya?"

"Rasa Colanya? Segar sih"

"Bukan." Armin mengetuk-ngetuk bibirnya dengan telunjuk. "Bagaimana rasanya indirect kiss…?"

Indi— Connie mencoba mencerna kalimat Armin.

"…dengan laki-laki."

Indirect kiss?

Dengan Armin...

Blush—!

Wajah Connie merah padammerata hingga puncak kepalanya. Connie tersadar kalau sejak awal bertemu Armin, ada sesuatu yang membuatnya tertarik pada si pemilik iris biru safir itusama halnya dengan ketertarikan Armin pada Eren.

"Kh—"

Mendapati tingkah polah Connie, Armin menahan tawasepertinya sejak saat itu, Armin jadi sosok yang suka mengusili Connie. Dalam tanda kutip, tingkat usilnya pada Connie, berbeda dengan keusilannya terhadap Jean.

"Kau simpulkan sendiri saja soal aku dan Eren," Armin menyampirkan tas sekolahnya. "Kita kembali ke asrama, atau kau pilih stay di klub ini sampai malam? Yuk ah"

Armin meninggalkan Connie yang masih mematung di sana.

Si gundul unyu menghela napas, menyampirkan tas ranselnya, mengunci pintu klub, lalu mengikuti sosok Armin dari belakang.

Oh ibu peri, seandainya saja bisa— Kembalikan Armin-ku seperti yang dulu lagi…

Tapi sepertinya, harapan itu hanyalah khayalan Connie semata.


Entschuldigung : maaf.

Danke : terima kasih.

Vielen dank : terima kasih banyak.

Das tut mir Leid : maaf, saya menyesal.

Grüß dich! : halo!


A/N Hai hai hai

Aduh, sudah sampai di chapter duamasih di fic pertamasaya, dan… TEBECE egen /plak/

Chapter ini berasa padet dan pisang banget (?) Jean mulai membuas dan Armin...

Maap sebelumnya, saya juga sayang sama karakter Armintapi ntah kenapa dibayangan saya muncul Armin yang seperti inijadilah Armin seperti di dalam chapter dua (/ \) *ngumpet

Kalau ide soal photopack, muncul pas saya lagi ngelietin photopack Al-Sekotingmakasih buat Al-Sekoting n crew yg sudah bikin photopack santri-santi ganteng ini x)

Yami-chan Kagami : Eh, bagian 'Eren makan pisangkah'? :) Rivaille memang modus /ngehindari lemparan kemoceng dari Rivaille/ Chap 2 update~

Haruka : Rivaille 'istimewa', hukumannya juga 'istimewa' www

Jung Yooyeon : Chap 2, silakan~ Dan TEBECE lagi (?)

Fvvn : /gulingguling/ =)) Aduh, makasih reviewnya /ampe gregetan www/ Iyah, 'Eren makan bubur' dan 'buburnya Eren dimakan Jean' =)) Di chapter ini saya kasi FS plus(?) Ada Jean yang semakin… dan Armin yang nge'shhhht' spesial pake keju(?) Ehm, soal masa lalu Jean - Eren, sebenarnya mereka… Ternyata belum bisa dijabarin di chap ini tapi diusahakan di chap yg selanjutnya :')

CrowCakes : Hukuman belum sampe rate-M, soalnya Rivaille masih jadi guru =))

Mimong : Makasih masukkannya. Daku musti belajar lagi ngerapiin kata, hehe /plak/ Ah, yang itu maksudnya : 'Eren dapat hukuman dari Jean, dan Jean nyalin tugas punyaan Eren'. Nak, kau bisa sixthsense kayak Ymir? =)) Iyah sebenarnya masa lalu mereka bisa dihitung hurt/comfort (pengen masukkin tiga genre tp yg bs masuk dua ww), di chap ini juga nyempil 'hurt/comfort' mereka berdua. Lha, keinget drama korea komedi? =)) Ahem- soal Rivaille, daku simpen dulu ya hehe. Nah, ini ada bonus spesial Eren dan klub basketnya x)

Next, apa bakal ada cerita soal asal mula hukuman Rivaille? Dan sepertinya, muncul pairing baru—? Ahem-

Terima kasih untuk yang sudah mereview dan memfave! Terimakasih juga untuk silent-reader di luar sana yang sudah membaca! x)
See yaa di next update~ /padahal tak tahu mau update kapan /plakplak/
Dan maaf kalau ada salah-salah kata. RnR?