Disclaimer :: Shingeki No Kyojin ©Hajime Isayama. This Love © Shinhwa. This Love English Lyrics © PopGasa. Story based on Fan Video created by Naver ( 523_4) watch?v=BTscV6yGr0Q&feature=youtube_gdata_player (Unofficial Video site) I do not own the characters nor copyright of the disclaimers, except for this story.
Genre:: Shonen-ai/Yaoi, Romance, Humor, AU, "POSITIVE OOC".
Rate::M! (No Lemon, Light Lime in the future)
Pairing:: RiRen (Rivaille x Eren), Slight Jean x Eren, Slight Bertholdt x Eren, Slight Armin x Eren, Harem!Eren.
Warning:: OOC! Typoo bertebaran! But Enjoy~ Don't Like, Don't Read!
Like satellites and shooting stars,
Like a star that has seen the sun
I revolve around you,
Though you're hot, I approach you
Finally, I hold you
(holding your heart)
and dazzle as I burn up
—
We live for this love! (nanana nana nanana)
We live for this love! (nanana nana nanana)
We live for this love!
"Mmh—" sepasang permata hijau perlahan keluar dari persembunyiannya—mencoba bertemu sinar sang surya yang mulai memedihkan mata.
Jaeger muda yang sudah mengisi tenaga seusai peperangan menyelamatkan barang-barang berharganya dengan si jago api menguap dengan santai sembari mengumpulkan nyawanya yang sudah berpetualang ke dunia mimpi.
—Eren sudah bahagia dengan tidurnya yang sangat nyenyak.
Ditambah dengan kasurnya yang lebih empuk dari biasanya—
.
.
—kenapa, ya?
Ah, sudahlah. Mungkin karena ia terlalu lelah makanya ia merasa tidurnya sangat nyaman hari ini.
Eren mengusap matanya yang sayu akibat rasa kantuk yang menyerangnya, tapi hari ini dia harus masuk kuliah—mau tak mau Eren harus bangkit dan bersiap untuk mandi pagi.
Dan mandi pagi di hari yang cerah itu—
.
..
.
—Sungguh mengasyikan.
"UWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
—tapi tidak dengan saat Eren menemukan seseorang yang sedang polos tanpa sehelai benangpun di kamar mandinya.
.
Earl Yumi
mempersembahkan
cerita fiksi ini hanya untukmu
.
.
~This Love~
Chapter 2
"Since You're Mine"
.
"S-Sedang apa kau di kamar mandiku!?" Eren Jaeger, mahasiswa muda yang berkicau sembarangan setelah membiarkan kedua maniknya menonton tubuh atletis yang mulia Rivaille, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan seraya bersembunyi di balik pintu.
Terdengar suara decitan dari putaran gagang shower kamar mandi mewah itu, lalu tampaklah manusia lain yang bertanggalkan sehelai handuk di pinggangnya—mendelik pada pemuda bersurai batang kayu tua.
"Jangan sembarangan, bocah. Ini apartemenku," Rivaille mendengus pelan, menyisir rambut arangnya yang basah ke belakang kepala yang—well, terlihat sangat sexy.
Mendengar pernyataan fakta dari mulut sang raven, Eren langsung membuka persembunyiannya dan mengerjapkan matanya berulang-ulang—menyadarkan diri.
Yeah, benar.
Kalau diingat-ingat, tadi malam ia sudah mengalami masa karma akibat sumpah serapahnya yang teramat sembarangan. Apartemen bobrok yang sudah ia tempati selama bertahun-tahun lenyap dilahap sang jago api tanpa ampun. Lalu, ia mendapat panggilan telepon dari manager scream yang menyuruhnya untuk ke apartemen Rivaille—yang bahkan Eren tak tahu darimana manager aneh itu mendapatkan nomor teleponnya. Dan terakhir, sesuai dengan serpihan ingatannya, ia hanya ingin mencoba bagaimana rasanya kasur mahal. Lalu—?
"Jaeger, kau sudah berani membuatku terpaksa tidur di atas sofa semalam. Dan kau tahu apa maksudnya itu?" suara itu semakin merendah, terlihat tangan kirinya bertengger di pinggang.
"H-Hah? Mana aku tahu! Salahmu sendiri. Uang sudah banyak begitu, cuma mampu beli kasur single bed! Dasar pelit!"
Twitch.
—ah, tidak adakah orang yang lebih kurang ajar dari anak ini?
Rivaille bukanlah orang yang pelit. Ia membeli kasur itu karena ia tahu bahwa ia akan terus tinggal sendiri dan tidak suka merepotkan dirinya kalau membeli kasur yang luas hanya untuk dibersihkan. Itu saja. Tetapi, sosok pemuda yang tak tahu menahu ini melontarkan perkataan yang sangat menohok dan mampu membuat yang mulia Rivaille kesal—sangat kesal.
Sang rambut arang mencari smartphone-nya—mengabaikan sang rambut kayu.
"Hei—aku sedang berbicara padamu—buph!" Eren yang kesal merasa diberi kacang mentah, mengekor Rivaille dari belakang dan seketika menabrak tangan sang raven yang menutup mulut Eren dengan sengaja.
"Diam. Aku sedang menghubungi toko springbed paling mahal di kota ini,"
Dan kalimat itu membuat Eren bungkam—cengo sejadi-jadinya.
=================—Ө—=================
"Yuhu! Selamat pagi, Levi!" sepasang tangan terkalung bebas pada pundak superstar Rivaille.
"Berisik. Lepaskan tanganmu, Hanji." surai hitam mendecakkan lidahnya—melotot tajam pada si surai kuncir kuda—meskipun gertakannya sama sekali tak bisa menembus pertahanan ceria Hanji.
"Oh—Jadi ini asisten barumu, Levi?" Erwin menengok ke belakang tubuh Rivaille, menatap sosok lain yang terlihat amburadul—baik dari penampilan dan wajahnya yang tak kalah kusut dengan kemeja yang dikenakannya.
"S-Salam kenal. Saya Eren Jaeger." Eren menaikkan sudut bibirnya dengan kaku—wajah tampannya terlihat sangat lelah akibat aktivitas pagi harinya yang sangat menguras tenaga.
Kalau ditanya pun, sudah pasti penyebabnya adalah Rivaille yang sudah menyuruhnya untuk mencuci sprei dan membersihkan sofa serta kegiatan bebersih lainnya dipagi buta (bagi Eren)—dikala kantuk terus menyerang.
"Mohon kerjasamanya, ya. Tolong jaga Rivaille," Erwin menyunggingkan senyum khasnya—yang teramat sangat menyejukkan hati sambil mengulurkan tangan lembutnya.
Tawa dari wanita satu-satunya di lorong lobby tiba-tiba menyeruak dengan lantang,"Pfft—Ayolah, Erwin! Kau terdengar seperti ayah yang menitipkan anaknya pada menantumu! Ahahaha!" kini lengannya beralih pada pundak tinggi sang pria berdarah Amerika tersebut.
"Hanji. Tutup mulutmu segera sebelum kurobek dengan kedua tanganku sendiri," Rivaille menengahi dengan sadis—membuat ketiga mahluk lainnya bergeming untuk sesaat.
"Huwa! Dark Levi keluar lagi! Erwin—selamatkan aku!" Hanji memeluk leher pria itu dengan takut—well, lebih tepatnya pura-pura takut. Padahal tubuhnya bergetar karena menahan tawanya—dan Rivaille tahu itu.
"Rivaille—kau perlu mengurangi kebiasaan burukmu. Jangan mengancam perempuan begitu," Yeah, memang pada dasarnya Erwin adalah pria yang tergolong peringkat atas dalam kategori gentleman, senyuman mautnya mampu mencerahkan suasana sesuram apapun. Bahkan Eren yang tadinya cemberut kini ikut tertular aura sang pria gagah ini—menyambut tangan Erwin dengan sukacita.
"M-Mohon bantuannya juga, sir!" bahkan Eren sendiri benar-benar lupa tentang dendamnya akibat sinar ultrabeam seorang gentleman dihadapannya untuk sesaat.
"Tch. Terserahlah. Eren, Ikut aku," si rambut arang kembali mendecak kesal—menarik pergelangan tangan si pemuda brunette yang bertautan dengan tangan pria pirang dan menyeretnya pergi ke ruang ganti terdekat—yang tak lain adalah ruangan tujuannya dengan paksa.
"Eh? Ah? T-Tunggu, Aku belum selesai—"
BLAM.
—Dan tertutuplah pintu yang berlapiskan teralis baja itu.
"Ada apa dengan Rivaille? Kupikir ia tidak akan mau menyentuh orang lain selain orang terdekatnya seperti biasa," kedua manik sapphire terang bertemu dengan pemilik manik kecoklatan yang menggelayuti lehernya.
Terkekeh jahil, Hanji hanya mengerling pada pria dipelukannya,"Kau pikir kenapa?"
=================—Ө—=================
"TUNGGU DULU—Kenapa kau bisa ada di sini, Eren!?" pria bersurai monochrome tersedak minumannya saat melihat cermin di hadapannya yang memantulkan sosok pria brunette. Kehadiran Eren tentu saja membuat Jean bingung karena ia tahu bahwa ruang ganti ini tak bisa dimasuki siapapun selain orang penting yang bersangkutan dengan scream project.
"Hah? Memangnya kenapa kalau aku ada di sini—"
Belum sempat Eren menyelesaikan kalimatnya, Rivaille memotong dengan tidak sabaran,"Dia asistenku."
Bukannya membaik, Jean malah semakin terbatuk-batuk—menyemburkan jus limunnya dengan sembarangan,"A-Asisten katamu!?" ia mengalihkan pandangannya pada Eren dari ujung kaki ke ujung kepala secara berulang-ulang.
"Rivaille—sudahkah kau mengecek penglihatanmu ke dokter? Orang kucel macam begini mana pantas menjadi asistenmu—upph!" sebuah tas poket yang tadinya menggantung di pundak Eren kini mendarat di wajah Jean dengan selamat sentosa.
"Jangan mengatai orang sembarangan begitu! Punya wajah tampan sedikit saja sudah sok! Jangan berani dekati Armin lagi!"
"Oi—kau tahu apa akibatnya kalau wajahku sampai lecet, ha!?" Jean geram—membanting tas butut itu dan mendekati Eren dengan penuh amarah.
"Huh! Mana aku peduli! Kalau perlu kucakar saja wajahmu!"
"Oh—Kau berani, ya? " menarik kerah sang pemuda, Jean melotot padanya,"Silakan saja kalau kau bisa membayarnya dengan 4 milliar kontrakku!"
Eren pongah, melebarkan manik emerald-nya seluas mungkin,"E-Empat milliar!? Yang benar saja! Jangan menipuku!"
"Itu kontrak yang kuterima untuk talk show 1 jam kedepan hari ini tahu!"
Gila. 1 jam talk show—4 milliar? Meskipun Eren menjual semua harta yang ia miliki sekarang, jumlahnya sama sekali tak mendekati sepertigapuluhdua dari itu.
Eren menelan ludah,"S-Salahmu sendiri mengejek orang seperti itu! Aku bisa menuntutmu tentang pelecehan Hak Asasi Manusia tahu!"
Selama kedua mahluk itu sibuk berdebat, Rivaille yang sedaritadi diam hanya melengos pergi dari kehidupan rumah tangga kucing yang sedang bergulat itu—berniat untuk mengganti pakaiannya untuk acara show mendatang di bilik bagian dalam ruangan.
"Hah? Mana ada orang yang percaya akan laporanmu? Tak ada bukti otentiknya!"
"A-Aku bisa membuktikannya kok!"
"Heh! Jangan membual! Kau tak punya hak untuk mengatakan hal seperti itu padaku, dasar orang miskin!"
"Ap—"
"Kau pasti menyimpan rahasia besar Rivaille, jadi kau mengancamnya untuk menjadikanmu asistennya, kan?" Jean menaikkan salah satu sudut bibirnya ke atas—menatap sang surai coklat dengan nada yang mengejek.
Di ruangan yang cukup luas itu kedua pemuda yang bersitegang satu sama lain bertatapan dengan penuh aura membunuh, Jean mengeratkan pegangannya pada kerah kemeja lusuh Eren,"Kuharap kau tak macam-macam dengan kami, Eren Jaeger. Aku tak perduli meskipun kau teman dekat Armin dan Mikasa. Ingatlah posisimu, kau adalah orang luar. Kau bukan siapa-siapa di wilayah kami. Sedikit saja kau mengambil langkah yang salah, kau akan tamat."
Eren yang merasa sangat tersinggung membalas tatapan tajam dari Jean,"Maaf saja. Meskipun aku orang miskin, aku tak akan sudi berbuat seperti itu dengan orang-orang sombong seperti kalian! Bahkan kalau aku disuruh untuk memilih, aku akan lebih senang menjadi pengemis di jalanan daripada harus berada di tempat menjijikan seperti ini!"
"Kau—Kurang ajar—" Jean yang tak kuasa menahan emosinya mengepalkan tangannya yang bebas dengan erat—bersiap untuk menumpukannya pada wajah sang surai coklat.
"Lepaskan aku, keparat!" memberontak karena merasa sesak akibat genggaman tangan sang pria bersurai coklat keabu-abuan pada kerah lehernya yang semakin menguat, Eren mencoba untuk menjauhkan diri. Namun Jean tak mungkin mau melepaskan Eren dengan mudah, ia semakin mendekati Eren sebelum ia mendaratkan tinju mentahnya.
Tak mau mengalah, Eren semakin memberontak dengan segala cara. Mendorong dada bidang sang surai monochrome dengan sekuat tenaga—cukup kuat untuk menghilangkan keseimbangan pemuda itu.
—Dan itu justru adalah langkah yang paling salah mengingat hal itu membuat Jean terjorok ke belakang—membawa sang pemuda lain ke dalam dekapannya.
BRUK!
"…"
"…"
.
—Yeah,
Apa yang Jean khawatirkan bukanlah kepalanya yang membentur lantai.
.
Apa yang Eren khawatirkan bukanlah keberadaan lengan asing yang melingkar di pinggang rampingnya.
.
Yang mereka khawatirkan bukanlah tubuh mereka yang saling berdempetan akibat gaya gravitasi bumi yang memaksa mereka untuk jatuh ke bawah.
.
Bukan juga dinginnya lantai yang tak mampu meredam kehangatan tubuh mereka yang mengalir dari darah mereka yang bergejolak.
.
Yang mereka khawatirkan hanyalah satu.
.
—yaitu kedua belahan bibir mereka yang bertautan satu sama lain.
Tak ada dari mereka yang berani berkutik, keduanya saling bertatapan—masih dengan sinar mata yang tak percaya. Sampai pada saat sang brunette perlahan mengangkat kepalanya—melawan hukum gravitasi, tak ada dari mereka berdua yang berani membuka mulutnya ataupun mengeluarkan suara.
Hanya terpana tanpa kata.
.
.
Rivaille yang sudah selesai mengganti sweater lengan panjang hitamnya dengan sebuah blazer hitam dengan motif dibagian kedua bahunya, hanya selapis vest abu-abu yang melengkapi bagian dalam—yang tak lain berarti tereksposnya tulang belikat dan dada bidang sang raven dengan gratisnya. Sebuah kalung bercetakkan crown seorang raja menggantung di lehernya yang jenjang. Saat ini ia hanya perlu menyuruh Eren untuk memasangkan aksesoris lainnya dan memanggilkan make-up artist—
—tapi kini ia juga perlu melebarkan kelopak matanya setelah melihat pemandangan yang tak diinginkannya.
"Jean. Katakan, kemana Eren?" ia mengernyit pada sosok kepala kelabu yang duduk terdiam—dengan wajah yang tak kalah merah dengan kepiting rebus.
"…" tak ada sahutan.
"JEAN! AKU BERTANYA, DIMANA EREN JAEGER!?"
"DIAM! AKU SEDANG BERPIKIR NIH!"—ah, Jean lupa diri. Kau pikir siapa yang sedang kau teriaki sekarang, anak manis?
"A—Ti-Tidak! Ma-Maksudku,aku tidak tahu kemana ia pergi," Jean langsung bangkit dari peradabannya dan berjalan keluar dengan tergesa-gesa.
"Oi—Apa yang sedang kau sembunyika—"
"Aku mencari angin segar dulu, maaf Rivaille," Jean menghindari tatapan maut dari sosok yang lebih pendek dan memilih untuk menutupi bibirnya yang ikut-ikutan memerah.
"JEAN KIRSTEIN!"
—Sungguh, Rivaille sama sekali tak pernah sampai berseru seperti itu kecuali ia benar-benar sedang kesal. Eren pergi tanpa kata, dan sekarang Jean mengabaikan perkataannya dengan sangat berani. Murka? Tentu saja.
=================—Ө—=================
"Apa!? Salah satu modelnya tidak bisa hadir!?" Keith Shardis, seorang sutradara tenar yang sering mengurusi acara-acara televisi ternama itu kini sedang disibukkan dengan aktivitas 'menggebu-gebu' terhadap bawahannya.
"M-Menurut info yang saya dapatkan memang begitu, sir."
"Tch! Acaranya akan dimulai setengah jam lagi! Carikan model pengganti secepatnya atau kau akan kupecat!" pria paruh baya berkulit coklat gelap itu menunjuk-nunjuk pegawainya dengan sadis—tanpa ampun.
Keberhasilan sebuah acara maupun film adalah prioritas utamanya. Tak perduli bagaimanapun keadaan yang ia hadapi, ia selalu mencari segala solusi yang tepat supaya projeknya benar-benar sempurna tanpa ada cacat sedikitpun. Jika ada kecacatan barang sejumput butiran debu saja mampu membuat Keith untuk membatalkan projeknya. Namun, dibalik kekerasannya tersebut, bakat Keith dan kedisipilinannya memang membuahkan hasil yang sangat memuaskan mata penikmat dunia entertain. Maka tak salah jika ia memang terlahir sebagai seseorang yang teramat prefeksionis dalam melakukan segala hal.
Dan kini ia kembali dihadapkan dengan sebuah masalah kecil—bahkan sangat kecil. Pasalnya, acara talk show scream yang akan dilaksanakan setengah jam lagi terancam dibatalkan hanya karena kekurangan model yang akan digunakan sebagai 'penghias' show yang tak lain hanya dibutuhkan untuk mengantarkan kebutuhan pembawa acara maupun bintang tamu—baik dari hadiah, minuman dan lainnya. Hanya itu saja. Tapi ingatlah, Keith Shardis adalah orang yang prefeksionis kan?
"Aduh, bagaimana ini? Keith-san sama sekali tak mau jika tak ada model penggantinya!" seseorang berperawakan gadis desa dengan kunciran dua mungil pada helaian surai arangnya meremas tangannya sendiri dengan cemas. Keith yang notabene merupakan atasan gadis ini baru saja mengancam akan memecatnya jika ia tak bisa menemukan model pengganti.
"Tenanglah, Mina. Jangan dibawa panik dulu, bagaimana kalau kita—"
"Mana mungkin aku tak panik, Petra-san! Keith-san akan memecatku! Bagaimana kalau kau saja yang menjadi model asistennya?" Mina Carolina, seorang pegawai baru yang belum terbiasa berada dibawah bimbingan Keith sudah mulai kehilangan akalnya—meremas pundak Petra Ral dengan sungguh-sungguh.
"Hah!? Tidak mungkin! Kau tahu kan kalau aku kurang tinggi untuk itu—Ah! Bagaimana kalau Mikasa saja?" Petra mengedarkan pandangannnya ke seluruh sudut studio, mencari sosok yang berkilauan itu ditengah kerumunan staff.
"Hei! Mikasa! Aku butuh bantuanmu!" ia melambaikan tangan pada si surai hitam yang mengalihkan pandangan kepadanya.
"Ada apa, Petra-san?" Mikasa yang diikuti oleh seorang bidadari cantik yang berbalutkan kamisol merah muda di belakangnya berjalan mendekati kedua pemanggil.
"Ah! Mikasa! Tolong aku!" Mina sontak memeluk sosok semapai itu—sesenggukan.
"Apa yang bisa kubantu, Mina?" Mikasa sedikit kikuk—memusut surai hitam legam Mina dengan canggung.
"Keith-san akan memecatku kalau aku tak bisa menemukan model pengganti di acara talk show ini! Kau kan tinggi dan cantik—pasti bisa menggantikannya! Kumohon, Mikasa! Tolong aku—hiks," Mina mempererat pelukannya—berharap akan keajaiban yang terucap dari belahan bibir sosok di hadapannya.
"Keith-san bilang begitu padamu?" Christa—gadis yang sedaritadi mengekor Mikasa melirik pada manik sosok yang dipeluk Mina dengan penuh arti. Mina hanya menggangguk seraya memendamkan kepalanya ketubuh Mikasa.
Mengubah sorotan matanya, Mikasa membuka mulutnya dengan hati-hati,"Maaf, Mina. Aku bisa membantumu apa saja selain harus muncul dalam acara televisi. Maaf,"
Mina melepaskan pelukannya dan menatap Mikasa dengan lesu,"Kau tega membiarkanku dipecat, Mikasa?"
Menggeleng perlahan, Mikasa menyahut,"Aku hanya bilang aku tidak bisa kalau harus menjadi modelnya. Tapi aku kan tidak bilang kalau aku tidak bisa membantumu,"
Kelopak matanya yang sembab kini melebar dengan rasa tak percaya,"Kau akan membantuku!?" serunya dengan wajah yang berbinar.
"Kau hanya butuh orang yang cantik dan tinggi kan? Aku mengusulkan seseorang yang tepat untuk itu. Mari kita antarkan saja ia ke ruang make-up," Mikasa mengangguk mantap dan tersenyum lembut—kali ini ia tulus karena ia memang suka menolong orang lain. Kebajikan adalah hal penting lainnya setelah orang yang paling dicintainya seumur hidup—Eren Jaeger.
=================—Ө—=================
"Begini saja sudah perfect, kan?"
"Ini—Luar biasa,"
"Benar-benar tak kusangka—entah kenapa aku jadi merasa berdebar-debar!"
"Tunggu—"
"Cantik sekali, aku sama sekali tak menduga kalau ucapan Mikasa ada benarnya!" si gadis berkuncir dua memekik dengan bahagia.
"Hei—"
"Aku sendiripun tidak tahu kalau ia akan bisa jadi seperti ini—"
"Tunggu dulu!" objek tersangka yang sedang diperdebatkan berdiri dari kursi make-up menunjukkan wujudnya yang terbalut gaun terusan simple berwarna cream terang tanpa lengan diatas kulit kecoklatannya.
"Ada apa, Eren?" Christa berhenti berceloteh dan memaku pandangannya pada sosok yang lebih tinggi.
"Apa kalian yakin aku tidak akan ketahuan!? Apalagi dengan baju begini—bukankah ini menjijikan?" Eren merengut sembari memeluk tubuhnya sendiri.
"Jadi kau bilang, aku itu menjijikan, Eren?" Christa—yang tak lain adalah Armin menimpali dengan wajah serius—sedikit tersinggung.
"Kau sih beda! Aku sama sekali tak dianugerahi kulit dan tubuh mungil nan wajah cantikmu itu, Armin!" Eren menggerutu.
"Kau cocok sekali memakai itu, Eren," celetuk Petra tanpa basa-basi. Ia sama sekali tak bisa membedakan apakah Eren benar-benar lelaki atau bukan—dia terlalu cantik, uh.
"Eren, supaya tak ketahuan, pakailah wig ini—" Mikasa yang sempat hilang karena mengobrak-abrik lemari property menyodorkan sebuah wig yang berwarna senada dengan rambut asli Eren—namun dengan volume yang lebih tebal, sepanjang bahu dan sehalus sutra—sangat cantik.
"Mikasa—Kau serius!?" Eren menatap si surai arang dengan horror. Sudah cukup ia dipermalukan di depan para perempuan dengan dandanan dan garmen girly, kin ia juga harus menyiksa diri dengan wig itu? Yang benar saja.
"Kenapa? Ini demi penyempurnaan penyamaranmu juga, lho." Mikasa mendudukan tubuh Eren kembali kekursinya, sedangkan Petra sibuk menahan kepala Eren agar tidak memberontak—disisi lain, Christa dan Mina menahan kedua lengan Eren. Gila. Apa mereka semua benar-benar perempuan tulen? Tenaga mereka sangat—well, minus Armin tentunya.
"Ha—Apa? Hei! Tunggu! Tunggu! Oi—''
—dan akhirnya sekumpulan helaian rambut palsu itu terpasang dengan sempurna di kepala Eren.
"Akhirnya—" Mina menangis dengan haru. Selain bahagia karena ia tak bakal jadi dipecat, ia juga tak bisa mengindahkan keanggunan sosok Cinderella yang menghadap kaca besar di ruangan itu,"Eren, aku sangat berterima kasih padamu!" ia menggenggam kedua telapak tangan pemuda itu dengan bahagia—meskipun ia tak menyadari tatapan mematikan Mikasa yang mengarah pada dua pasang tangan yang bertautan di depan mata kepalanya sendiri.
"Haah—ya sudahlah. Aku mau ke kamar mandi sebentar, tak apa-apa, kan?" Eren akhirnya berhenti mengeluh dan kembali bangkit dari kursinya dengan pasrah.
"Pastikan kau akan kembali ke studio dalam waktu 10 menit nanti, Eren."
"Iya, iya. Jangan cerewet begitu dong, Mikasa," ia melenggang keluar dengan lunglai—yeah, meskipun penampilannya sekarang mampu membuat wanita asli iri sekalipun dengan kecantikannya, Eren tetap saja seorang pria yang tak bisa bersikap lembut—apalagi berjalan anggun seperti perempuan pada umumnya. Maklumlah.
"Tch—sial, sejak tadi aku kecipratan hal yang tidak mengenakan sama sekali," Eren mengigiti ujung kuku jempolnya serambi mendecak berulang-ulang. Meskipun langkah kakinya tertuju pada kamar mandi yang tersedia di ujung lorong, pikirannya sama sekali tak berkompatibel dengan pergerakan tubuhnya. Bukankah itu suatu tindakan yang berbahaya? Bisa saja Eren tersandung sesuatu atau—
"Awas, Berth!"
"Ouch!"
—well, sudah terlambat ya?
Eren yang notabene berpenampilan seratus delapan puluh derajat terbalik dari wujud aslinya memekik kesakitan saat wajahnya menabrak benda yang tak kalah keras dengan tembok.
"Ah—Maaf! Aku tidak melihatmu! Maaf, ya!" Bertholdt Fubar yang menjadi pelaku yang disangka tembok memegang lengan sang gadis jejadian yang baru saja ditabraknya.
"Aku kan sudah bilang awas tadi," suara helaan napas terdengar dari seseorang lainnya.
"Kau terlambat mengatakannya, Reiner!"
Eren terkesiap.
—Berth? Reiner?
Masa iya dia—
Menengadahkan kepalanya seraya menutupi batang hidungnya yang sedikit memerah akibat insiden kecil barusan, Eren semakin melotot ria melihat kedua sosok yang tengah mengelilinginya,"Le-Lepaskan aku!"
"Oh—Ma—" kedua batu pualam Bertholdt membulat sesaat setelah Eren menampakkan wajahnya, kemudian mengerjap berulang-ulang.
"Cantiknya—"
"Hah?"
"Ah—Ma-Maksudku, Maaf! Kau orang baru?" Bertholdt buru-buru melepas cengkramannya dengan wajahnya yang sedikit merona.
"Bukan urusanmu," Eren menjawab ketus.
Tch, kenapa daritadi aku bertemu orang-orang yang kubenci, sih?
"Kau mau kemana?" Bertholdt kembali bertanya,"Sedang tersesat? Aku bisa—"
"Aku tidak apa-apa! Sudah jangan mengurusiku!" Eren melotot dengan ganas—laiknya seekor singa betina mencari mangsanya. Lalu ia kembali berjalan melewati Bertholdt tanpa belas kasihan, namun dengan segera pergelangan tangannya kembali ditarik oleh tangan lainnya.
Gadis ini terlalu cantik. Surai kayunya yang berkilauan, mata zamrudnya yang tajam, kulitnya yang sedikit kecoklatan namun terlihat sangat bersih—sangat cantik. Apalagi ditambah dengan tingginya yang lumayan untuk seukuran perempuan.
"A-Anu—Maaf, Namamu siapa?"
"Kau kenapa sih? Lepaskan aku!"
Mengeratkan genggamannya, ia berkata,"Beritahu aku namamu! Kumohon!"
"O-Oi, Bertholdt—jangan kasar begitu—"
PLAK!
Sebuah tangan mendarat di pipi sang bintang superstar Bertholdt dengan manis. Masih dalam alam bawah sadarnya akibat sengatan singkat dari gadis itu, ia hanya terdiam takjub melihat gadis itu pergi dengan sadisnya.
"Auch—kau tidak apa-apa, Berth?" Reiner yang hanya melihat adegan barusan mengernyit tertahan—meskipun bukan dirinyalah yang menjadi korban tamparan gadis kasar tadi.
"…Gawat, Rein."
"A-Apa? Pipimu berdarah? Gawat dong!Talkshownya akan segera dimulai—"
"—Aku jatuh cinta."
Reiner menatap sosok pria 195 cm dengan nanar,"APA!?"
.
.
.
"Uh—" Eren Jaeger yang baru saja bertransformasi kini sedang diambang keambiguan diantara 2 buah ruangan. Pahanya saling bergesekan dengan tidak sabaran antara hasrat panggilan alam dan logikanya,"Aku harus masuk kamar mandi yang mana?"
Mata emerald-nya memendar keseluruh sudut lorong.
Tak ada orang.
Apa sebaiknya Eren masuk kedalam kamar mandi laki-laki saja? Tapi—kalau ternyata di dalam sana ada orang bagaimana?
Ah, masa bodoh. Daripada ia harus menahan malu untuk masuk kedalam toilet perempuan—lebih baik dia nekat masuk ke tempat seharusnya dengan penampilan begini. Tak apalah.
Setelah memutuskan, Eren berjalan mendekat ke arah pintu toilet yang bersimbolkan untuk laki-laki. Akan tetapi malang nasibnya, saat ia hendak meraih kenop pintu itu, penghalang telah muncul karena pintunya sudah terbuka terlebih dulu sebelum ia sempat memegangnya.
"JEAN!?"
"—Su, Suara ini—KAU ERE—" Jean melotot melihat penampilan bak putri semalam sang Eren yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"Sssst! Jangan sebut namaku, bodoh!" Eren terkejut dan langsung membungkam mulut Jean seraya mendorongnya masuk ke dalam toilet tadi.
Entah kenapa—
"Hmphh!?"
—Ini seperti de javu.
Tapi tidak segalanya terasa sepeti itu, karena kali ini suasana berbeda dan dengan perasaan yang berbeda pula.
"Jangan bilang siapapun kalau ini aku—"
Dua pasang mata bertemu dengan jarak sepersekian senti, telapak tangan Eren yang menjadi penghalang diantara mereka terasa rancu.
Kemudian, keheningan singkat menjadi suasana favorit pasangan pemuda ini, kedua wajah yang menimbulkan semburat kemerahan yang kuat, sepasang jantung yang sedang bersinggungan menderu keras di antara mereka.
Ah—perasaan ini sangat aneh.
Eren perlahan menurunkan tangannya, masih dengan kedua maniknya yang terpaku pada pasangan mata lainnya,"Eren—"
"UWAAAAAAAAA!" sontak teriakan Eren terdengar memekik—mencoba menyadarkan diri dari alam tak jelas macam barusan.
Terkejut, Jean buru-buru menarik kedua lengannya yang tadinya hendak merengkuh pinggang ramping sang brunette—mengurungkan niat bejad sesaatnya.
"Oi—kau kenapa sih?"
"Pokoknya jangan bilang siapapun tentang ini, mengerti?"
Seraya melangkah jauh dari Jean, Eren menunjuknya dengan kasar, menjulurkan lidahnya dengan nada mengejek—meskipun wajahnya sama sekali tak meredup dari tingkatan semburat merah apel.
"Awas saja kalau kau mengatakannya pada orang lain!"
Sorot mata Jean tak lepas dari sosok yang menghilang di balik pintu, perlahan ia kembali mengatupkan mulutnya yang daritadi mangap.
"….Cantik sekali—"
DEG.
DEG.
DEG.
"Pinggangnya ramping, bibirnya—" Jean memusut permukaan bibirnya sendiri yang sedikit lembab.
I can't get enough,
I can't get off of your love,
I can't live without your love, I am addicted
In a blink of an eye,I'm by your side,
When we kiss,
I feel so high—
"—sangat lembut." Ia bergumam serambi meremat garmen putihnya di bagian dada kanan.
DEG.
DEG.
DEG.
'Ah—Siapa saja tolong. Buat jantungku berhenti berdetak sekeras ini. Berisik sekali.'
=================—Ө—=================
"Eren? Kau gugup?" Christa yang agak bingung setelah melihat wajah sahabatnya yang semakin kusut setelah dari toilet tadi memeluk lengan gadis 'baru' itu.
"Ah? Um—I, Iya….mungkin?" Panik, Eren mengalihkan padangannya ke arah lain—menemukan sosok Jean yang sedang bersiap untuk tampil beberapa saat lagi. Bukannya membaik, Eren dapat merasakan wajahnya yang semakin memanas.
"Eren—Tenanglah. Kau akan baik-baik saja. Mereka tak menyuruhmu untuk berbicara kan nanti? Pasti tak akan ketahuan, kok." senyum simpul terpampang di wajah sang bidadari—meremas kedua tangan Eren untuk meyakinkannya.
"Uh—Kau memang benar, tapi tetap saja aku—"
"Hei, Eren. Kau ingin jimat yang ampuh untuk menghilangkan rasa gugupmu?"
"Ya?" Eren mengedipkan matanya berkali-kali. Bingung.
"Kau ingin tidak?"
'Memangnya ada? Beritahu aku—" lengan kanan sang surai coklat tertarik ke bawah dengan cepat, selanjutnya yang dapat ia rasakan hanya sesuatu yang menempel pada gumpalan daging pipinya.
CUP.
Kedua mata Eren hanya dapat membola dengan sempurna,"A-A-Kau—"
"Orang-orang bilang, aku bisa membuat orang yang disayanginya menjadi kuat kalau aku mencium pipinya," Christa memiringkan kepalanya dengan imut, jari telunjuknya menempel pada ujung bibirnya—ikut-ikutan bingung.
"—Salah ya?"
PESH.
Astaga. Kenapa orang semanis ini sangat polos? Siapa yang mengajarinya hal seperti itu? Ingin rasanya Eren menerjang sosok mungil nan menggemaskan itu.
"T-Terima kasih, Armin." Eren tersenyum canggung. Memang benar bebannya terasa sedikit lebih ringan—tapi tetap saja cara tadi terasa sangat berani untuk seorang Armin.
Yah, Kali ini ia hanya perlu menyiapkan dirinya untuk menyukseskan talkshow ini.
Meskipun ia harus berada satu panggung dengan orang-orang yang sangat dibencinya.
Meskipun ia harus berusaha untuk bersikap pro sebagai seorang pekerja—mengesampingkan rasa dendam dan kebencian mendalamnya.
Kalau ditanya berulang kalipun, jawabannya sudah jelas. Dari lubuk hatinya yang terdalam, ia sangat membenci sekumpulan penyanyi lelaki itu.
—harusnya sih begitu.
.
.
"Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini!" ucapan umum yang terdengar dari mulut setiap rekan kerja yang telah menyelesaikan tugasnya terdengar sana-sini dengan acak. Syuting talkshow edisi khusus scream telah berlangsung dengan lancar—tentu saja, itu semua karena bimbingan dari sang maha prefeksionis, Keith Shardis.
Baik para staff dan pemain yang berperan ikut andil dalam projek singkat ini melakukan tugasnya dengan sempurna—namun, itu hanya terlihat dari luarnya saja.
Separuh jumlah manusia dari kelima anggota scream yang tersohor itu kini sedang dilanda kegalauan yang sangat mendalam.
Yeah, mereka tetap melakukan pekerjaan mereka dengan professional, namun tidak dengan pikiran yang mengganggu mereka hanya karena seorang 'pemeran' pengganti yang bahkan tak mereka kenal dengan baik.
Pertama, Bertholdt—member scream yang terkenal dengan keramahannya yang tiada tara bagi semua fansnya. Bertholdt dikenal sebagai orang yang supel dan selalu melayani fans fanatiknya dengan sifatnya yang memang polos dan baik hati. Namun, hari ini bahkan ia sama sekali tak berhenti meringis dengan wajah yang merona hanya karena sosok—yang padahal adalah seorang lelaki yang ditemuinya beberapa jam yang lalu. Dan ia semakin menjadi-jadi setelah menyadari bahwa sosok yang dipujanya itu menjadi model asisten dalam acara show ini. ia sama sekali tak henti-hentinya menatap gadis itu selama acara berlangsung.
Kedua, Jean—yang bahkan tak bisa bertatap muka dengan gadis bersurai coklat tanah itu karena jantungnya yang tak bisa berdetak normal. Bukan hanya penampilan konyolnya yang berbalut gaun selutut itu yang menjadi penyebabnya, tapi juga karena Jean tahu bahwa jika ia memang diharuskan untuk menatap Eren, maka yang menjadi titik fokusnya hanyalah satu—bibir ranum sang gadis itu. Itu adalah masalah yang besar.
Dan Ketiga, yang mulia Rivaille—yang tak perlu disebutkan lagi tentang kemurkaannya. Rivaille tahu siapa orang dibalik dandanan tipuan itu dengan sekali lihat. Orang itu asisten yang ia pilih sendiri—ralat, orang itu adalah asisten yang paling kurang ajar yang menjadi orang pertama yang Rivaille pilih dari keputusannya sendiri. Haruskah Rivaille menyalahkan dirinya sendiri tentang itu? Tentu tidak. Anak yang tak tahu diri itu sudah seenaknya memutuskan untuk memakai apartemen Rivaille sebagai tempat tinggalnya, sudah membuatnya bad mood di pagi hari karena ucapannya, dan kini ia sama sekali tak melakukan pekerjaannya sebagai seorang asisten dengan selayaknya. Seharusnya ia buat Eren menjadi perliharaan dirumah saja ketimbang ia harus membawanya kesini namun sama sekali tak ada guna yang berarti untuk dirinya sendiri. Well, perlu dipertimbangkan.
—akan tetapi, apakah itu yang membuat Rivaille semurka ini? Begitu murkanya ia bahkan ia sama sekali tak berhenti mengeluarkan aura hitam yang sering disebut Hanji sebagai dark Levi sepanjang acara ini berlangsung. Tentu saja, semua orang bisa merasakan kemarahan mendalam Rivaille, tapi tak ada yang berani untuk menanyakannya. Hei, mereka masih ingin melihat matahari terbit esok paginya, kawan.
Rivaille sadar akan keganjalan yang terjadi diantara Jean dan Eren. Ya, tentu saja ia sadar akan hal itu karena ia tahu bahwa kedua wajah bodoh Eren dan Jean tak henti-hentinya bersemu merah jika mereka secara tak sengaja bertemu pandang. Dan yang lebih penting, Rivaille tahu bahwa Jean selalu mencari kesempatan untuk mencuri pandang pada sosok tinggi berkulit kecoklatan yang berdiri bersama model lainnya. Ada sesuatu. Tuan Rivaille mencium sesuatu yang sangat mencurigakan. Apa yang terjadi dengan mereka berdua saat Rivaille sibuk mengganti bajunya di bilik ruang ganti? Daripada dibilang penasaran, akan lebih tepat jika Rivaille dirasa telah cemburu buta.
=================—Ө—=================
Gaun cantik yang seharusnya dikenakan oleh model asli 'perempuan' kini telah tergantikan dengan kemeja butut yang Eren gunakan saat ia datang tadi pagi stasiun TV ini. Yang tadinya Eren harus merasakan beratnya di hari pertama ia bekerja—yah, yang sebenarnya bukan pekerjaannya, kini telah menapakkan kakinya di depan pintu apartemen sang penyanyi nomor satu dari semua anggota scream, Rivaille.
"Ada apa? Cepat buka pintunya, bocah."
Eren yang sadar bahwa suasana hati Rivaille sangat buruk hari ini—meskipun tak pernah terpikirkan olehnya bahwa penyebab semua itu adalah dirinya sendiri, menggesek kartu yang notabene adalah kunci apartemen pada ujung gagang pintu. Setelah menekan password yang sesuai seperti Rivaille beritahukan padanya tadi pagi sebelum mereka berangkat bekerja, pintu berlapiskan baja anti maling itu terbuka dengan segera.
"Masuk. Cepat."
Perintah mutlak, dan terdengar sangat mencekam.
Eren bahkan tak kuasa untuk membalas maupun mengkonfirmasi perintah itu, yang ia lakukan hanyalah sesuatu yang menjadi objek dalam perintah Rivaille. Sang brunette memasuki pintu keramat itu dengan canggung —mendahului sosok bosnya dengan penuh keringat dingin yang mengucur deras dari pelupuk dahinya.
Ia tak berani untuk membuka mulutnya.
Ia juga tak punya nyali untuk memalingkan kepalanya kebelakang hanya untuk mengecek keadaan wajah papan cucian itu.
Yang ia dengar hanya debaman pintu yang menutup dengan rapat—sangat rapat.
Yang ia rasakan kemudian hanyalah pergelangan tangannya yang ditarik dengan paksa menuju ruang tengah.
"A-Ada apa sih? Kau aneh! Aku kan hanya membolos dari pekerjaanmu sehari saja! Kau juga memaksaku untuk membolos kuliah hari ini kan? Masa begitu saja kau marah sampai begini? Dasar kekanak-kanakan! Aku hanya ingin membantu salah satu staff yang terancam dipecat oleh Keith tahu! Ada alasan yang kuat kenapa aku memilih untuk menjadi perempuan—"
"Bukan itu yang membuatku begini, keparat. Apa yang terjadi padamu dan Jean?"
Eren bungkam, melotot sejadi-jadinya pada kepala hitam yang menatapnya dengan amarah yang menggelora,"A-Apa maksudmu?"
"Jangan bertingkah bodoh atau aku akan mematahkan lehermu sekarang juga."
GLEK.
Orang ini serius?
"Aku sama sekali tak mengerti apa maksudmu! Lagipula apa pedulimu tentang itu?"
"KAU ASISTENKU, BOCAH BEDEBAH."
Ah—demi apapun juga. Eren merasa seperti akan ditelan bulat-bulat oleh sosok kerdil ini. Bulu romannya semakin berdiri tegak—ketakutan.
"Itu sama sekali tak ada hubungannya! Kenapa kau harus tahu tentang privasiku?"
"Tch."
Yang terlihat dari balik kedua manik Eren hanya sesosok Rivaille yang mengacak rambut arangnya dengan sebelah tangan dengan frustasi.
"Kau benar-benar tak akan mengerti kalau kuucapkan dengan perkataan saja."
"Eh? H-HE-HEI!"
BRUK!
Lalu sepersekian detiknya setelah Eren mengerjapkan matanya sekali, ia sudah terbanting di atas kasur yang luas. Yeah—kasur baru seukuran king size—yang baru dipesan Rivaille hari ini itu kini sudah berdiri kokoh di sudut ruangan. Mudah saja melempar sosok itu ke atas kasur yang terletak tak jauh dari ruang tengah karena tak ada tembok maupun pintu yang menghalanginya (*).
"Rivaille! Apa-apaan kau ini—"
"Diam. Katakan apa yang telah terjadi padamu dan Jean, Eren."
Berdiri tegak tak jauh dari Eren berada, Rivaille melipat kedua lengannya di atas dada, memandang si pemuda lainnya dengan tatapan yang mampu membuat nyali siapapun menjadi ciut.
"Tapi—"
"Katakan. Atau kau bisa keluar dari apartemenku sekarang juga."
Guh—ancaman yang sungguh telak. Kalau ia diusir sekarang—dimana lagi ia akan tinggal? Armin bukanlah orang yang tepat jika ia tak ingin dirinya menjadi bulan-bulanan fans Christa kalau ia tinggal dengannya. Mikasa adalah seorang perempuan—selain mereka berdua, tak ada lagi tempatnya untuk dapat tinggal sementara sampai uang apartemennya cair.
Akan tetapi, haruskah Eren menceritakan hal memalukan yang bahkan dimata umum itu adalah suatu kejadian yang menjijikan? Tak sengaja berciuman dengan seseorang yang bergender sama itu—sungguh menyedihkan. Dan kini, ia dipaksa untuk menceritakannya pada gender sesama lainnya? Bullshit.
"Uh—" kulit pipi kecoklatan sang Eren mulai merona—sial, kenapa ia merasa sangat malu begini?
"Tadi pagi aku dan Jean—"
Tuhan, apapun itu. Tolong turunkan sebuah meteor raksasa dan timpalah sosok yang sedang mengancamnya ini.
"—tak sengaja—"
"Tak sengaja apa, huh?"
Mengalihkan pandangannya, Eren memelankan suaranya sekecil mungkin,"—b-be-ber-berciuman—"
Dan kini, giliran bola mata Rivaille lah yang membulat sejadinya,"Berciuman katamu?"
"I-Itu benar-benar tak disengaja kok! Aku—Oi! Tunggu dulu, kau kenapa!?" Eren kaget bukan kepalang saat ia melihat bayangan sosok lain yang mulai memanjat kasur dari sisi lain dan berakhir diatas perutnya.
"Hari ini. Siapa saja yang menyentuhmu?"
"Haa? Kau kenapa sih? Cepat turun! Kau berat tahu! Jangan melakukan hal-hal yang aneh begini! Kau membuatku jijik—"
"Apakah Bertholdt menyentuhmu?"
DEG.
Gila. Orang ini esper atau apa?
"D-Darimana kau tahu?"
"Aku tidaklah bodoh, bocah. Aku tahu kalau Bertholdt tak henti-hentinya memandangmu dengan tatapan yang menjijikan."
Salah—mungkin saja Eren bisa beranggapan bahwa Rivaille adalah stalker.
"Jadi, dimana Jean dan Bertholdt menyentuhmu? Sebutkan semua sampah yang telah menyentuhmu hari ini."
"Hah? Memangnya kau mau apa—" kedua manik zamrud membulat saat ia menangkap sosok raven yang sedang menjilati telapak tangannya—meskipun tatapan tajamnya tak beralih dari mata Eren.
"Rivai—"
"Tadi pagi Erwin menyentuhmu di sini," lalu ia menggigit telapak tangan itu dengan kasar—Eren mengerang kesakitan dengan serangan tiba-tiba itu.
"Katakan semuanya, Eren. Kalau kau masih ingin tetap tinggal disini dan tak kupecat,"
—shit, kalau saja Eren bisa mencongkel mata mendominasi sosok sang Rivaille. Ia sudah dapat kabur dari situasi konyol seperti ini. Kedua belahan bibirnya yang entah kenapa tak berhenti menyebutkan setiap jejeran nama yang baru ia kenal hari ini—
"P-Petra-san—"
"Dimana?"
"Kupingku—" dan sosok sang Raven kini beralih pada telinga kiri Eren yang memerah karena udara dingin yang menusuk saat perjalan pulang tadi. Menjilati setiap lekukan rumit dari liang mungil itu—yang kemudian ia gigiti dengan gemas—cukup kuat untuk meninggalkan bekas yang tertinggal disana.
"Lalu?"
"Um—Mikasa membantuku memakaikan kalung—"
Belum sempat Eren menyelesaikan perkataannya, ia sudah diinterupsi oleh desakan deretan gigi yang melesak di perpotongan leher yang menggoda itu.
"Aw! Sa-sakit! Rivaille— hentikan!" pria berkepala hitam legam tak memberikan respon yang berarti pada rintihan sang surai coklat tua—justru melanjutkan aktivitas barunya ke daerah sekitar tempat tadi. Kali ini Rivaille berbaik hati untuk memelankan gigitannya—sesekali memberikan sensasi yang berbeda dengan ciuman lembut yang bekerja di sana.
Gawat. Eren sudah tak kuasa untuk menahan perlakuan aneh dari tuan rumah barunya itu. Kepalanya terasa kosong—manik hijaunya bergerak-gerak tak teratur. Napasnya terasa berat—ia tak bisa mendengar suara lain selain suara berat sosok yang mendudukinya—berdengung tanpa henti.
Maka dengan segala sisa tenaga yang tersisa, Eren mendorong dada bidang sang raven dengan lemah—kemudian menutupi bibir pucat Rivaille dengan kedua tangannya.
"Uh—Rivaille—aku tak mengerti apa maksudmu—tapi aku tak mau tertidur dikasurmu lagi dan harus mendengarkan ceramahmu di pagi hari hanya karena itu—" Eren menggeliat tak nyaman menggertakkan giginya seraya menatap nanar sang surai arang—menahan rasa sakit pada kuping dan telapak tangannya.
"Akulah yang tak mengerti apa maksudmu, Eren. Aku tak mungkin tidur sendiri di kasur seluas ini."
"Eh? Maksudmu—"
"Ini kasur kita berdua, keparat."
.
Eh?
EH?
EEEHHHH?
.
"Selanjutnya. Katakan siapa lagi yang menyentuhmu. Cepat!"
"Oi—tunggu! Aku—hhmmpfh!?"
"Cepat katakan. Aku tak mau mendengar protes lagi darimu. Yang perlu kau lakukan hanyalah menyebutkan nama dan bagian tubuhmu yang disentuh nama itu." sebuah tangan kekar Rivaille menekan mulut Eren dengan kuat—membuatnya diam dengan paksa.
Sial. Sial! Sial!
Seraya merutuk didalam hati, Eren merasakan sesuatu yang berdentum keras dari relung dadanya.
Dan hal yang membuatnya paling risih adalah—
—kenapa wajahnya terasa sangat panas? Ini terlalu panas meskipun kedua tangan dan kakinya terasa sangat dingin! Eren sama sekali tak dapat mengerti apapun.
"Ini adalah bagian dari pekerjaan yang kau lalaikan hari ini, Eren. Menyerahlah."
.
DEG.
.
"Dan kalau kau bertanya kenapa aku melakukan semua ini—" tangan lain Rivaille yang bebas kini mulai membelai kulit leher sosok dibawahnya.
.
DEG.
.
DEG.
.
"—Karena kau adalah milikku, Eren Jaeger."
Oh, tidak. Siapapun juga—
—tolonglah Eren.
I'm a shooting star inside a solar system called you
I am pulled to you,
You're a black hole that I can't deny
—
Everytime I Count 1 2 3
The world around us stops
Follow the pounding beat
—
We live for this love
A/N::
DEKITAAAA! AAAAAAAAAA ;;;;;;;;; WTF-daku telat banget updatenya huhuhuhu, dari minggu kemaren aku sibuk pindahan ke kost sih hiks ;;;;; minggu ini juga sibuk gegara event cosplay. #menggelinding# rencana mau update sesuai jadwal itu sama sekali susah minta ampun ;;;;;A;;;; ini baru nyicil yang Endless Love Story Chapter 4 hshshshshhshs #frustasi# Maaf ya semuanya yang ngerasa jadi ku PHP-in ;;;;;;;;;A;;;;;;;; kenyataan itu pahit. #hiks# Tapi jangan khawatir, aku akan menyelesaikan fic-ficku di fandom ini kok! Aku suka banget sama pair ini soalnya HSHSHSHSHSHHSSHHS. DANNN! Eng ing eeeng~ Mulai chapter ini, aku menaikkan ratenya menjadi rate M minna~~ tetapi jangan harap bakal ada lemon yang bertebaran disini karena aku gak pernah bikin Lemon #hiks
OYA! Aku bikin fanart sesuai fic ini loooh #gakadayangnanya
Bagi yang mau liat, gabung yuk ke grup Shingeki No Kyojin Author Fandom Indonesia di Facebook!~ Atau bisa juga lihat di akun FBku (lihat di bio akun ini) rencananya sih aku ingin memakainya menjadi cover fic ini, tapi emang pada dasarnya aku gak bakat gambar- HSHSHSHSH #nangis# Ada yang mau gambarin? #plok
(*) soal bentuk apartemen Rivaille-aku bingung bagaimana menjelaskannya. Aku tak tahu apakah kalian pernah melihat apartemen dengan ruanganya yang sejenis ini. Menurutku, Rivaille adalah jenis orang yang suka kebebasan—bebas disini berarti adalah orang yang paling tak suka berada dalam sebuah kandang dengan ruang gerak yang terbatas. Jadi apartemen Rivaille hanya sebuah ruangan kosong yang sangat luas tanpa ada ruangan kamar— pembatas ruangan satu dengan ruangany yang lainnya hanyalah sekat transparan/semacam hiasan pintu yang dapat terlihat dari bagian mana saja yang dari sisi ruangan itu. Tentu saja kamar mandi ada ruangan sendiri. X"D tetapi ruang tengah, dapur, ruang makan dan kamar tidur dijadikan satu dan diatur sedemikian rupa~ semacam apartemen minimalis yang artistik~ susah menjelaskannya uhh ;;;;;;; kalau masih bingung, aku sudah mencari salah satu contihnya dari mbah google~ ini dia linknya
(( remodelshouse.
com/wp-content/uploads/
2011/05/living-room-of-contemporary-
interior-apartment-design-by-robert-bailey
.jpg
)) Bagian yang dispasi bawah (enter) dihapus untuk mendapatkan linknya :3
Jyaa neee! See ya next chapter!~ Terimakasih bagi semuanya yang mampir ke sini sekadar untuk mengitip, menengok maupun bertamu UvU~
========Pojok balasan review~~============
**SedotanHijau :: YANG MULIA RIVAILLEEEEE AAAAH X"DD btw aku jarang buka grup sekarang, tapi khusus untukmu, Happy Birthday sedotaaannnn / #telatbangetmaaf. Soal chapter, aku rada bingung soalnya aku gak bisa mengampu dua multichap yang sadis begini sendirian hiks. Makanya ini kurencanain dikit aja-tapi gak tau deh entar. ;;;;; Bener kaan mereka mirip HSHSHSHS. Sesama bidadari ;;;;; wwww/ reviewmu berharga sangat untukku~~ salam cintapadamujugaaaa *chu
**Kim Arlein:: XD hahahaha~ ini udah rate M tapi no lemon yaaa wkwkkwkk X"D aku berusaha secepat mungkin untuk soal update ;;;;; doakan yaa~ Sankyuuu /
**Rouvrir Fleur :: wwww X"D ini fic niatnya gak ada humor lho yaa~ tapi malah nyerempet kesana. Hahaha. Tapi di chap ini gak ada sih~ wkwkwkwk.
Oya, soal alasan itu~ akan dijawab di chapter depan ;D alasan kenapa Eren sangat membenci yang namanya boyband. Hahahah~
Aku gak bakal bikin Lemon kok X"D gak bisa juga hahaha~ #sebenernyagelijuga. Yosh~ sankyuu reviewnya~
**Yami-chan Kagami:: XD ada sesuatu anu anu tentang Rivaille ke Eren hahahah~ XD ah~ pertanyaan itu dijawab di chap depan yaa~ XD
**Keikoku Yuki:: INI SUDAH RATE M HAHAHAHAHAH #digeplak# Beneran mirip kan ~ XD woakakakak mungkin karena rasnya sama ya~
**Sayaka Ayano:: Haroooo~ salam kenaal~ XD VIDEO ITU RACUN LOH. HAHAHAHAH. Nanti ada kejutan kok soal Armin ;D sankyuu neee~
**Fujoshi Ren:: XDD janed woakakakak. Gak kok~ ini gak ada hubungannya soal reinkarnasi atau apapun XD ini murni AU~ hahahah~ ini sudah mantaps :p Makasih favenya~ XD
**Megami Hime:: Itu seriusan kebakar X"DDD #authorjahat
**Rivaille Jaegar:: TANDA TANGANKU AJA GIMANA. HAHAHAHAH #gak makasih yaaa~ XD
**Gekkouchou:: AKU JUGA LHO MUTER TERUS HAHAHAHAH #rusakrusakdehhape# aaaa kenapa dirimu mengancamku teruss X"DD aku emang suka banget bikin kepo kok hahahah!
..
EE BUSET X"DDD UHUK. UHUK. Darimana kamu mendapat info seperti ituuuu hahahah! #maloe
ini udah Rate M! yay! #plok
Makasih favenyaa~
_The remember thing, Earl (INI SENGAJA-KACRUT woakakakakka)
**Rose Brenzka:: Woah! ;;;;;A;;;; aku menyerobot idemu dong hshshshshshs. #jedotinpala# makasih yaa sudah mau memfave;;;;;
**Kyo Kyoya:: XD EH, NANTI KAMU DI GAPLOK SANG MAHA RIVAILLE LOH HAHAHAH #sembunyi
XD hahah, toh aku juga gak bisa bikin lemon #sedih
**LonelyPetals:: INI UDAH RATE EM NAK. #plok X"DD www sankyuuuu~
**Azure'czar:: LAMA TAK JUMPA NAAAK #pelok
Waduhh ;;;;;;; aku terharu kamu bilang begitu~~ aku author nista nan bejad nak~ #pundung
Ini udah rate EM (U3U)~ tapi aku gak pernah buat lemon hahah~ jadi Lime aja yaa~
Sankyuuuu.
**Hasegawa Nanaho:: AKU BUKAN GAY PLIS #salahpendengaran woakakakak XDDD~ itu racuuun duniaa videonyaaa~ Ini chap panjang2 ;;;;; #nulisnyabikincapek
wwww/ kamu lebih keren karena udah niat sepenuh hati mereview ini / makasih semangatnyaa~ dan makasih favenya jugaa
**widi orihara:: INI E-EM EMMM DESU! XD XD #gagap
**Android5Family:: Tenang saja~ UvU aku gak ada niatan bikin Lemon kok UvU #gakkuatnulispakebahasaindonesia
==========Thank You All! Love ya! ( Regards, Earl Yumi )===========
