Disclaimer : i own nothing here. Harry Potter belong's to JK Rowling. Oh, and no money making here.
Remember
by
nessh
Harry Potter, No More
Pip…
Sakit.
Pip…
Aku tidak bisa merasakan tanganku.
Pip…
Tenggorokanku kering.
Pip…
Sakit.
Pip…
Tolong. Siapapun. Cubit tanganku. Aku tidak bisa merasakan tanganku.
Kelopak matanya terasa berat ketika ia berusaha membukanya. Buram. Hermione berusaha memfokuskan matanya, berusaha mengenali di mana ia berada.
Apa yang terjadi?
Hermione mengerang, kepalanya terasa sakit. Dan suara itu membuatnya merasa semakin pusing.
Ulangtahunku. Motor. Pantai. Harry. Cincin. Harry…
Hermione berusaha mengingat apa yang terjadi dan itu membuatnya kepalanya terasa semakin pening.
Teriakan. Suara keras. Benturan. Darah. Gelap. Harry…
Perlahan mata Hermione mulai fokus. Ia bisa melihat di mana ia berada. Sebuah ruangan yang tidak begitu luas yang dindingnya dipasang wallpaper berwarna teduh, sebuah jendela yang tertutup tirai berwarna krem, sebuah lemari berukuran sedang dengan televisi di atasnya, sebuah sofa, sebuah meja yang dipenuhi berbagai karangan bunga dan sebuah monitor yang kerap mengeluarkan suara sesuai dengan irama jantung Hermione, seperti yang sering ia lihat di sebuah acara televisi yang disukai ibunya.
Mana Harry?
Hermione sadar ia berada di rumah sakit Muggle. Mana Harry?
Ia melihat ke sisi tubuhnya, menghela nafas lega ketika melihat kedua tangannya masih utuh. Terdapat selang di tangan kirinya, terhubung pada sebuah kantung berisi cairan yang berada di atas tiang. Ia mengangkat tangan kirinya, sebuah benda yang melingkar di jari manisnya terlihat berkilauan terkena cahaya lampu.
Apa yang terjadi pada Harry? Bagaimana dia? Dimana dia?
Kriet.
Hermione menoleh ke arah pintu.
Seorang wanita berambut pirang masuk ke dalam ruangan. Wanita itu sepertinya tidak menyadari bahwa Hermione memperhatikannya sembari tersenyum, karena wanita itu terlalu asyik mengubur wajahnya di sebuah majalah yang dipegang tangan kirinya, sementara tangan kanannya menutup pintu.
"Hei.." sapa Hermione dengan suara parau.
Luna mendongak, senyum mengembang di wajahnya saat melihat senyum Hermione. Ia melempar majalahnya ke sembarang arah dan segera menghampiri Hermione, hampir memeluknya ketika Hermione mengangkat tangannya, Luna berhenti.
"Badanku masih sakit," kata Hermione, tersenyum meminta maaf.
Luna mengangguk, ia duduk di sisi tempat tidur Hermione. "Bagaimana keadaanmu?"
"Selain badanku yang sakit semua dan kepalaku yang terasa sakit, kurasa aku baik-baik saja," jawab Hermione.
"Oh. Apa kau mau aku menaikkan kasurmu? Kau tau, mungkin kau akan merasa lebih baik,"
Hermione mengangguk, "Jika itu tidak merepotkanmu,"
Luna menggeleng. Ia melompat turun dari sisi ranjang kemudian menekan sebuah tombol yang membuat ranjang Hermione bergerak perlahan. Luna menambah bantal di belakang punggung Hermione, membuatnya bisa duduk lebih nyaman.
"Lebih baik?" tanya Luna.
Hermione mengangguk, "Jauh lebih baik. Aku tidak tau kau bisa mengerti alat Muggle,"
Luna menarik kursi, "Kemarin Arthur datang, ia bertanya banyak pada perawat di sini, termasuk semua fungsi tombol dan apapun yang ia lihat di sini. Sepertinya perawat itu jengkel padanya, aku melihatnya mendelik pada Arthur sebelum ia keluar,"
Mereka tertawa pelan.
"Itulah Mr Weasley," Hermione menggeleng-geleng.
"Aku lega kau baik-baik saja," bisik Luna.
Hermione tersenyum. "Bagaimana Harry?"
Sorot mata Luna langsung berubah, menggelap. Senyum pun menghilang dari wajahnya, ia termangu.
Cemas menghinggapi Hermione. Sesuatu yang tidak beres terjadi pada Harry dan Hermione bisa merasakannya. Apa yang terjadi pada Harry-ku?
"Luna?"
Luna tersadar. Ia melempar senyum pada Hermione, senyum yang benar-benar terlihat dipaksakan. Luna bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah meja, mengambil sebuah benda berbentuk tabung berwarna biru.
"Dokter bilang kau harus minum obat ini begitu kau bangun," Luna mengeluarkan dua buah pil dan mengisi sebuah gelas dengan air sebelum kembali menghampiri Hermione.
"Luna," Hermione menghela nafas, "Mana Harry? Bagaimana keadaannya?"
Luna tidak menjawab, ia menyodorkan pil dan gelas itu pada Hermione. "Minumlah," katanya singkat.
Hermione menerimanya, tapi matanya terus menatap Luna.
Luna melempar pandangannya ke arah layar televisi yang berwarna hitam.
Hermione mendesah. Ia menelan pil-pilnya dan menegak isi gelasnya sampai habis kemudian Luna kembali menghampirinya, mengambil gelas kosong itu dari tangan Hermione. Luna menyimpan gelas itu di atas meja lagi.
Mereka terdiam cukup lama.
"Luna, kumohon," ujar Hermione lirih. "Katakan padaku, mana Harry? Apa dia baik-baik saja?"
Luna menggigit bibir, kedua tangannya bersidekap memeluk dirinya sendiri. Entah apa dia sanggup menyampaikan berita itu pada Hermione.
Pintu tiba-tiba terbuka, menimbulkan suara yang cukup keras, membuat Luna terlonjak dan Hermione langsung menoleh.
Seorang pria berambut merah terang memasuki ruangan, diikuti seorang pria berambut pirang pucat. Ekspresi keduanya tidak terlihat terlalu senang.
"Para wartawan itu semakin menyebalkan! Bagaimana caranya mereka bisa melewati semua pertahanan yang sudah aku pakai di tempat ini!" Ron Weasley terus menggerutu.
Draco Malfoy memutar matanya, "Itu karena kau melupakan satu mantra penting Ronald,"
Ron menoleh pada Draco, kedua tangannya terletak di pinggang. "Oh, jadi kau menyalahkanku? Aku kira kau yang seharusnya memasang mantra itu,"
Draco mendengus kesal, "Aku? Kau yang bersikeras memasang semua mantra yang diperlukan tanpa bantuanku! Dan aku—dengan bodohnya—membiarkanmu memasang semuanya!" Draco berbalik dan terpaku melihat Hermione dan Luna yang memandang mereka dengan kedua alis terangkat. Ekspresi mereka berdua adalah kombinasi antara kesal dan geli yang bercampur menjadi satu.
Ron membuka mulutnya, hendak membalas kata-kata Draco ketika Draco berkata, "Hei Hermione,"
Ron menoleh, ia melongo melihat Hermione yang tersenyum padanya dan Draco.
"HERMIONE!" jerit Ron. Draco menutup telinganya dengan kedua tangannya, matanya mendelik tajam pada Ron yang tidak terlihat tidak peduli. Luna mengulum senyum.
Ron menerjang Hermione dan memeluknya erat.
"AWW! Ron! Sakit!"
"Akhirnya kau sadar juga! Syukurlah! Kau membuatku khawatir setengah mati tau!"
Luna menepuk punggung Ron, "Kau akan membunuhnya Ronald,"
Ron melompat mundur, nyengir polos pada Hermione. "Bagaimana keadaanmu Herms?"
Hermione tersenyum, "Aku baik-baik saja. Semua badanku sakit karena pelukanmu tapi yaa, aku baik-baik saja. Dan harus berapa kali kubilang padamu, jangan memanggilku Herms! Aku benci itu,"
Ron hanya terkekeh menanggapinya.
Hermione menoleh pada Draco, "Hei Draco. Terima kasih sudah datang. Bagaimana kabar Astoria?"
"Dia baik-baik saja, dia sedang mengunjungi Daphne, mungkin dia akan datang kemari besok," jawab Draco. "Aku lega kau baik-baik saja," tambahnya.
Hermione tersenyum. Ia menatap wajah ketiga temannya itu. Ada yang kurang.
Ya, tidak ada Harry.
"Mana Harry?" tanya Hermione akhirnya.
Nafas Ron tertahan, ia melirik Luna dan Draco yang juga terlihat tidak tau harus menjawab apa. Mereka tau Hermione pasti bertanya tentang Harry, tapi mereka tetap tidak pernah merasa siap.
"Tolong jawab aku," desak Hermione.
Ron, Luna dan Draco tetap saling berpandangan. Tatapan mereka seakan berkata 'aku tidak mau menceritakannya kalian saja yang bicara'.
Brak!
"Apa kalian sudah membaca koran hari ini? Akhirnya kejadian ini masuk koran juga,"
Keempat manusia itu menoleh ke arah pintu masuk, dimana seorang gadis masuk, matanya terus menatap Daily Prophet di tangannya dengan serius. Gadis itu mendongak dan melihat semua orang di sana menatapnya.
Ginny menangkap tatapan Luna, ia menoleh pada Hermione. Refleks, Ginny langsung menyembunyikan koran itu di balik punggungnya. Gerakan yang salah sebenarnya, karena kini dahi Hermione berkerut melihat tindakan anak termuda di keluarga Weasley itu.
"Hei Herms. Aku tidak tau kau sudah bangun," Ginny nyengir dipaksakan.
Selain Harry, baru McGonagall saja yang tau Hermione bisa menggunakan sihir non-verbal juga tanpa menggunakan tongkat. Ia baru saja menguasainya sebulan lalu. Harry langsung melompat memeluknya erat ketika Hermione menyampaikan hal ini padanya. Sihir itu membutuhkan energi yang lebih besar dari biasanya, karena itu Hermione jarang menggunakannya.
Hermione berkonsentrasi, walau ia sendiri tidak yakin apa ia bisa melakukannya saat kondisinya masih seperti ini. Ia berusaha memanggil Daily Prophet.
Ginny merasa koran di tangannya mulai memberontak hingga akhirnya terlepas dan melayang menyebrangi ruangan. Ginny melompat panik, berusaha menangkap koran itu. Begitu pula Ron, Luna dan Draco.
Tapi terlambat, koran itu mendarat di pangkuan Hermione.
"Oh Tuhan," Hermione menutup mulutnya begitu membaca headline koran. Ginny menggigit bibir, Ron menutup matanya, Draco menunduk, hanya Luna yang berani menatap Hermione.
"Ini bohong kan. Dia—tidak mungkin—ini—" suara Hermione tertahan, mendadak tubuhnya terasa dingin.
Luna menghampiri Hermione, menariknya ke dalam pelukannya. "Aku minta maaf," bisik Luna.
"Tidak!" Hermione mendorong Luna menjauh, "Ini bohong! Ini lelucon! Harry tidak mungkin meninggalkanku!"
"Hermione.." mata Luna berkaca-kaca. Ia benci merasa seperti ini.
Hermione mengangkat tangan kirinya, menunjukkan cincin yang tersemat di jari manisnya. Ginny memekik pelan, kedua tangannya menutup mulutnya. Ron membelalak. Ekspresi Draco tidak terbaca.
"Kalian lihat? Harry sudah melamarku, dia berjanji padaku dia tidak akan meninggalkanku," suara Hermione terdengar serak, "Kami akan menikah. Hidup tenang di Godric's Hollow. Aku dan Harry. Dan—dan Lily juga James kecil—"
Luna kembali memeluk Hermione. "Maafkan aku Hermione,"
Hermione meronta, "Tidak! Lepaskan aku! Dia baik-baik saja!"
Ron mendekati Luna dan Hermione perlahan. Ia memeluk mereka erat. Ron menghela nafas, matanya menatap langit-langit. "Itu benar Hermione. Ini bukan lelucon," bisik Ron. Airmata mulai membasahi wajahnya.
Ginny terisak. Ia duduk di sofa, dengan wajah terkubur di kedua tangannya.
"TIDAK! Kalian bohong! Harry tidak akan mengingkari janjinya padaku!" ujar Hermione keras kepala, ia terus meronta. Tapi pelukan Ron dan Luna terlalu erat.
Draco mengambil koran itu dari pangkuan Hermione. Ia menghela nafas melihat gambar Harry di halaman utama Daily Prophet. Draco menutup matanya. Koran itu terlepas dari tangannya, jatuh di atas lantai yang dingin.
Draco keluar dari kamar itu, ia menutup pintu di belakangnya perlahan. Lorong rumah sakit terlihat lengang, tidak terlihat satu orang pun selain dirinya di sana. Draco memilih duduk di salah satu bangku.
Ia menghela nafas berat, mengusap wajahnya. Saat tidak ada seorang pun yang melihat itulah, Draco melepaskan dirinya sendiri. Ia menangis.
Si Anak-Yang-Bertahan-Hidup Tidak Lagi Hidup
Terjadi kecelakaan di pinggir kota London Muggle pada 19 September kemarin, tepatnya pukul 6.23 pm. Sebuah truk berjalan dengan kecepatan tinggi dan tidak terkendali, menabrak sebuah motor yang ditumpangi oleh dua pahlawan besar dunia sihir pemegang Order of Merlin kelas pertama, Harry Potter (21) yang dikenal sebagai Si Anak-Yang-Bertahan-Hidup dan Hermione Granger (22), sahabat sekaligus kekasih dari Harry Potter. Harry tewas di tempat kejadian, sementara Hermione dilarikan ke rumah sakit Muggle terdekat dan sampai saat ini kondisinya belum bisa diketahui. Untuk detail, silahkan lihat halaman 4.
Lihat juga kisah perjalanan dari Harry dan Hermione di halaman 8 dan 9.
Hermione sudah berhenti meronta, ia terisak di dalam pelukan Ron dan Luna yang juga menangis.
"Tidak..Harry...Jangan tinggalkan aku,"
Thanks for reading
xoxo
nessh
anyway, RnR guys!
