Disclaimer : i own nothing. period.

a/n : setelah bertanya dan berkonsultasi dengan beberapa orang penasihat pribadi saya *ceileh bahasanya* akhirnya saya sudah menentukan pairing akhir dari fic ini. hohoohohooo. tapi... saya tidak akan memberitaukannya sekarang. silahkan kalian tebak sendiri xD saya yakin pasti mudah sekali ditebak hehe.

enjoy the story :)


Remember

by nessh


Funeral


Hermione masih dalam tahap penyangkalan. Denial. Dia masih belum bisa menerima kepergian Harry, menolak menerima kenyataan bahwa Harry sudah pergi untuk selamanya dan tidak akan pernah kembali.

Ron dan Luna berinisiatif untuk mengurus segala sesuatunya, melihat kondisi Hermione yang tidak memungkinkan dan Harry juga sudah tidak memiliki keluarga lagi. Ron dan Luna pergi ke kantor polisi, mengurus segala hal yang dibutuhkan untuk membawa jasad Harry pulang ke Godric's Hollow.

"Ini barang-barang pribadi milik Mr Potter," kata sang polisi sambil menyerahkan sebuah kantung plastik bening berisi beberapa barang.

Ron menerima kantung itu dari tangan polisi tersebut. Tangannya bergetar saat ia menyentuhnya. "Terima kasih,"gumam Ron. Luna meremas bahu Ron lembut.

"Jadi—kapan kami bisa mengambil jasad teman kami?" tanya Luna, suaranya terdengar tenang.

"Besok jika semua berjalan lancar. Kami akan hubungi kalian kalau semuanya sudah siap," jawab polisi tersebut. Luna mengangguk lalu mengucapkan terima kasih. Ia dan Ron segera berjalan keluar dari kantor polisi, berbelok ke sebuah gang yang sepi lalu ber-Apparate ke The Burrow.

Semua anggota keluarga Weasley ada disana. Semua, termasuk mereka yang sebenarnya sudah tidak tinggal di sana lagi. Mereka semua berkumpul untuk membantu mempersiapkan upacara pemakaman Harry yang akan diadakan di rumah Harry di Godric's Hollow dua hari lagi.

"Aku tidak ingin masuk," bisik Ron, matanya masih menatap kantung plastik di tangannya.

Luna menatapnya sedih, ia tau Ron juga sangat kehilangan Harry. Rasa kehilangannya mungkin tidak sebesar Hermione, tapi tetap saja perasaan itu ada di hati Ron. "Kau ingin aku menemanimu?" tanya Luna.

Ron menggeleng, "Tidak perlu. Pergilah, Mum membutuhkan banyak orang di dalam," Ron duduk di sebuah kursi kayu panjang yang sudah terlihat tua. Tangannya menggenggam kantung plastik itu erat.

Luna mengecup puncak kepala Ron, "Aku ada di dalam kalau kau membutuhkanku," bisiknya sebelum ia membuka pintu dapur dan masuk ke dalamnya.

Sunyi menghinggapi Ron. Ia menghela nafas berat. Satu persatu memori dirinya bersama Harry dan Hermione berputar di otaknya.

Ron menelan ludah, perlahan membuka plastik itu dan mengeluarkan isinya.

Tongkat sihir Holly milik Harry, sebuah dompet berwarna hitam dengan bercak darah dan sebuah jam tangan kesayangan Harry. Kaca jam tersebut sudah pecah, jarum jamnya tidak lagi bergerak dan terdapat bercak darah di beberapa sisi.

Ron membuka dompet Harry. Terdapat beberapa lembar uang Muggle, kartu-kartu yang tidak Ron mengerti dan foto Harry bersama Hermione. Ron tau foto itu, dia tau kapan dan dimana foto tersebut di ambil. Di halaman belakang Godric's Hollow, saat Harry baru saja pindah ke sana. Ron sendiri yang mengabadikan momen itu dengan sebuah kamera Muggle yang sengaja Hermione bawa.

Lengan Harry mengalung di bahu Hermione, sementara tangan Hermione memeluk pinggang Harry. Mereka berdua tertawa bahagia. Di hari itu Harry mengatakan pada Hermione bahwa suatu saat mereka akan hidup bersama di sana bersama anak-anak mereka.

Hal itu tidak akan pernah terjadi.

Semua barang-barang itu terlepas dari genggaman Ron, jatuh ke atas tanah tanpa suara. Dompet itu tetap terbuka, foto Harry dan Hermione menatapnya tidak bergerak. Mendadak mata Ron mulai memburam. Satu isakan terlepas dari mulutnya dan ia pun kembali menangis.

Ron terisak semakin keras, tubuhnya bergetar menahan gejolak emosi yang menusuk hatinya. Ia mengubur wajahnya di antara kedua telapak tangannya yang kini basah karena airmatanya yang terus mengalir dengan deras.

Sepasang tangan terulur menyentuh bahunya.

Ron tidak perlu menoleh, tidak perlu melihat wajah sang pemilik lengan tersebut untuk mengenali siapa yang memeluknya. Ron mengenali sentuhan itu. Dan hanya ada satu orang yang akan menyentuhnya seperti itu.

"Menangislah. Aku tau kau membutuhkannya," bisik Luna.

Ron terus terisak, tenggelam dalam pelukan dan bisikan Luna.

"Aku disini, aku akan selalu disini. Untukmu,"


Hermione tidak bisa menangis lagi, ia tidak bisa mengatakan apapun, mendengar apapun, bahkan dia tidak bisa merasakan apa pun lagi. Perasaannya seakan dibius, begitu pula dengan tubuhnya. Ia hanya bisa diam saat melihat wajah Harry untuk terakhir kalinya sebelum ia dikuburkan.

Hermione membelai wajah Harry yang terlihat agak lebam karena benturan yang ia alami. Hermione setengah berharap Harry akan membuka matanya, tersenyum padanya, mengatakan bahwa ia mencintainya. Sekali lagi saja. Hermione berharap hal itu terjadi walau ia sadar, itu sangat tidak mungkin.

Hermione tetap tidak bisa merasakan apapun saat melihat Ron menyelipkan tongkat Holly milik Harry di bawah kedua tangannya yang menelungkup di atas dadanya. Ia tetap tidak bereaksi ketika melihat Ron menangis tersedu-sedu dan berlutut di hadapan peti Harry, memintanya untuk kembali, sampai Luna membujuknya untuk kembali ke tempatnya. Wajah Hermione tetap tidak menyiratkan perasaan apapun.

Pemakaman Harry bisa dibilang ramai. Sangat ramai malah. Seluruh anggota keluarga Weasley hadir, kedua orangtua Hermione, teman-teman Gryffindor mereka (termasuk Oliver Wood, Katie Bell, Dennis Creevey dan banyak orang lainnya dari berbagai angkatan), teman-teman dari Laskar Dumbledore, orang-orang dari berbagai asrama dan bahkan Viktor Krum pun sampai datang jauh-jauh dari Bulgaria. Belum termasuk para wartawan dan fans-fans Harry yang berada di luar area pemakaman. Charlie memang benar-benar mengamankan area itu dan memastikan hanya teman dan keluarga saja yang bisa mengikuti seluruh proses pemakaman.

Sempat terbesit perasaan bahagia di hati Hermione saat mengetahui begitu banyak orang yang menyayangi Harry, begitu banyak orang yang merasa kehilangannya.

Mrs Weasley menangis keras dan histeris dalam pelukan Mr Weasley, persis seperti saat pemakaman Fred. Ron menangis. Luna menangis. Ginny menangis. Hampir semua orang menangisi kepergian Harry, kecuali Hermione.

Perlahan peti Harry diturunkan ke dalam tanah.

Isak tangis terdengar semakin keras.

Mata Hermione menerawang jauh selama sisa upacara pemakaman. Ia hanya menatap kosong ke arah makam Harry.

Ron mendekati Hermione, memeluknya erat. Masih tetap terisak, ia menempelkan pipinya di bahu Hermione.

Hermione sadar. Tidak ada lagi trio emas Gryffindor. Yang tersisa hanyalah Ron dan Hermione bersama seluruh kenangan mereka akan masa-masa keemasan itu. Tanpa Harry mereka tidak bisa disebut trio lagi, karena trio harus beranggotakan tiga orang, bukan dua.

Satu persatu mereka menaruh setangkai bunga mawar di makam Harry, memberinya penghormatan terakhir. Satu persatu mereka pergi. Meninggalkan keluarga Weasley dan Hermione.

Molly memeluk Hermione erat-erat, menangis di bahunya. "Kau tau—kau selalu diterima di rumahku Hermione. Aku sudah—selalu—menganggapmu sebagai salah satu anakku," bisik Molly di sela isak tangisnya. Hermione hanya mengangguk pelan, tidak sanggup mengatakan apapun.

Arthur memeluk bahu Molly, mengajaknya pergi. Ia memberi Hermione sebuah senyuman sebelum ia pergi bersama Molly.

Bill menepuk bahu Ron, Fleur memeluk Hermione sekilas. "Kau selalu diterima di rumahku dan di antara keluargaku Hermione," ujar Bill sebelum ia membawa Fleur dan Victoire meninggalkan kompleks pemakaman.

Charlie, Percy, Audrey, George dan Angelina pun satu persatu pergi. Menyisakan Ron, Luna dan Hermione.

Luna menaruh bunga mawarnya di makam Harry, ia mengelus nisan Harry, berusaha tersenyum. "Kau pasti bahagia di sana. Bersama kedua orangtuamu, Sirius, Remus, Tonks, Fred, Dumbledore dan Snape. Mungkin kau juga akan bertemu ibuku di sana, jika kau bertemu dengannya tolong katakan padanya bahwa aku bahagia sekarang. Sangat bahagia,"

Luna menarik nafas panjang, "Aku kehilanganmu Harry. Sangat. Kau sahabatku dan tidak ada satu orang pun yang bisa menggantikan tempatmu," Luna tersenyum sedih, "Selamat jalan Harry, aku menyayangimu,"

Ron menggantikan tempat Luna, ia berlutut di depan nisan Harry, meletakkan bunga mawarnya di antara bunga mawar yang lain.

"Hey mate. Aku kira aku tidak akan mengatakan ini padamu tapi—aku merindukanmu. Sangat merindukanmu. Aku harap kau bahagia di sana, bersama—Fred, orangtuamu, Sirius dan yang lainnya—aku tau kau akan bahagia—" Ron kembali terisak, "Aku kehilanganmu—aku—"

Ron terisak semakin keras, ia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Luna memeluknya, membisikan sesuatu di telinganya, membantunya bangkit. Luna membawa Ron menjauhi tempat itu.

Hermione mengayunkan tongkat sihirnya, sesaat kemudian seikat bunga Lily putih sudah berada di genggamannya. Hermione menaruh bunga itu di tengah tumpukan bunga mawar merah. Tanpa berkata apapun, Hermione meninggalkan tempat itu.


"Kau yakin tidak mau menginap di The Burrow dulu untuk—semalam mungkin?" tanya Ron, ia menatap Hermione khawatir. Ron sudah beberapa kali membujuk Hermione untuk tinggal di The Burrow atau rumah kedua orangtuanya selama beberapa waktu. Ron tau, pasti berat tinggal sendirian di flat itu di saat seperti ini. Tapi Hermione selalu menolaknya dengan tegas dan keras kepala seperti biasanya.

Hermione menggeleng, "Aku baik-baik saja Ron. Tidak perlu khawatir seperti itu," ia berusaha tersenyum. Tapi gagal. Hermione kembali mengatupkan rahangnya.

Ron menghela nafas. Hermione tidak pernah menarik kata-katanya, ia selalu yakin dengan setiap perkataannya. Ron sadar, ia tidak mungkin merubah pernyataan Hermione itu. "Baiklah," Ron menghela nafas, "Tapi segera hubungi aku jika kau butuh sesuatu. Kapanpun, bahkan tengah malam sekali pun aku akan datang,"

"Okay,"

"Berjanjilah padaku Hermione, kau akan menghubungiku jika terjadi sesuatu!" desak Ron.

Hermione tersenyum kecil, "Baiklah Ron. Aku berjanji akan menghubungimu jika terjadi sesuatu,"

Ron sedikit bisa bernafas lega, ia memeluk Hermione erat sebelum ia melangkah masuk ke dalam perapian. "Dan Hermione,"

Hermione mendongak.

Ron tersenyum, "Jangan berbuat bodoh ya,"

Hermione tertawa lirih, "Tidak akan. Aku berjanji,"

Ron tersenyum lagi dan sekejap kemudian, ia menghilang. Kembali ke The Burrow.

Flat Hermione kembali sunyi. Hanya desah nafas Hermione yang sesekali memecahkan keheningan itu.

Hermione memutuskan untuk kembali ke kamarnya untuk mengganti gaun hitam yang sedari pagi dikenakannya. Ia membuka lemari pakaiannya. Hermione mengambil sembarang sebuah celana jeans dan sebuah kaus—

Bluk.

Hermione menunduk, sebuah kaus berwarna putih polos ikut terambil dan terlepas dari tangannya sehingga jatuh ke lantai. Hermione memakai celana jeans dan kausnya sebelum ia merunduk untuk mengambil kaus itu.

Dan ia tersadar. Itu adalah kaus Harry. Wangi aftershave dan cologne yang biasa Harry pakai pun masih melekat disana. Bahkan Hermione masih bisa mencium wangi khas Harry yang tidak dimiliki orang lain.

Dia sudah pergi. Harry sudah pergi.

Apa apaan ini? Kenapa dia pergi? Kenapa dia meninggalkanku sendiri? Dia berjanji dia tidak akan pernah meninggalkanku tapi—

Batin Hermione bergejolak. Emosi yang sudah beberapa lama tidak ia rasakan perlahan kembali.

Tidak. Ini hanya mimpi. Tidak. Dia masih hidup.

Hermione menggenggam kaus itu erat-erat, ia berjalan ke titik Apparate. Segera, sensai Apparate menyentuhnya. Sekali lagi Hermione berdiri di kompleks pemakaman di Godric's Hollow.

Angin bertiup dingin, awan hitam mulai menutupi matahari diiringi suara gemuruh yang terus mengejek Hermione.

Sekali lagi Hermione berdiri di hadapan nisan yang sama. Semua bunga masih berada di sana, bahkan bunga Lily yang ia taruh pun masih terlihat segar karena baru ditinggalkan beberapa jam saja.

Sekali lagi kenyataan menampar Hermione keras-keras. Harry memang sudah pergi dan tidak akan kembali.

Hermione duduk berlutut di depan nisan Harry. "Kenapa? Kenapa kau meninggalkanku?" bisik Hermione pedih. Untuk pertama kalinya di hari itu, Hermione menangis.

Perlahan langit pun ikut menangis bersama Hermione.

"Kenapa? Kenapa? Kenapa Harry? Katakan padaku kenapa?" jerit Hermione, ia terisak semakin keras. Bahunya bergetar hebat karena isakannya, juga karena dingin yang menusuk sampai ke tulangnya.

"Aku tidak bisa hidup tanpamu," isak tangis Hermione memelan, "Aku tidak bisa,"

Hermione mengeluarkan tongkat sihirnya. "Setidaknya bawa aku bersamamu," bisik Hermione. Ia menempelkan ujung tongkatnya ke dahi, "Aku ingin menemuimu,"

Hermione menarik nafas panjang, perlahan ia menutup matanya dan membisikkan dua kata yang akan segera mengakhiri segalanya. "Avada ke—"

"Expelliarmus!"

Tongkat Hermione melayang. Ia menoleh cepat dan melihat seseorang menghunuskan tongkat ke arahnya. Ekspresi orang itu tidak terlihat jelas karena tirai hujan yang memisahkan mereka. Tapi Hermione masih bisa mengenali siapa yang berdiri di sana. "Dra—co?"


hmm... i need your review here please :)

no pressure :p