Disclaimer : i own nothing. period.
a/n : aiihh, ternyata reviewnya lebih banyak dari dugaanku. haaaaa xD *seneng gila*
anyway apa bener ya ini bakal jadi Dramione? hahahaha *evil grin*
tetep RnR!
Remember
by nessh
Hermione's Nightmare
Draco masih memandang Hermione tidak percaya. Ia memang sering mendengar tingkah bodoh dari Hermione, Harry dan Ron semasa mereka masih di Hogwarts, tapi Draco tidak menyangka tindakan terbodoh ternyata di lakukan oleh orang terpintar di trio emas Gryffindor itu. Bayangan Hermione yang menempelkan ujung tongkatnya di dahi dan hampir mengucapkan salah satu dari tiga kutukan tidak termaafkan itu terus berkelebat di otak Draco. Dan seluruh keterkejutan itu Draco ungkapkan dalam satu kalimat singkat, "Apa yang kau pikirkan Granger?" tanya Draco tanpa menyembunyikan nada heran dalam kalimatnya itu.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Hermione dingin, ia mencelos, membuang muka dan kembali menatap nisan Harry. Air mata terus mengalir dari mata cokelatnya, menyatu dengan air hujan yang membasahi wajahnya.
Draco mendekat, "Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan di sini? Dan—dan—apa maksudnya tadi itu? Kau mau membunuh dirimu sendiri?" Draco berseru, terdengar sangat emosi.
"Itu urusanku, bukan urusanmu!" jerit Hermione.
Draco mendengus, "Oh, jadi aku harus diam saja dan melihatmu melakukan hal bodoh seperti itu dan mati? Kau tau apa Granger? Aku tidak akan membiarkan itu! Tidak akan pernah!" balasnya sengit.
Hermione bangkit dengan cepat dan berbalik menghadap Draco. "Kau tidak perlu ikut campur Malfoy. Kau tidak tau apa-apa! Jadi bagaimana jika kau berbalik dan pergi dari sini!" Hermione mengibaskan lengannya, mengisyaratkan Draco untuk pergi.
"Apa yang Harry pikirkan jika dia melihatmu seperti ini?" ujar Draco pelan namun dingin.
Kata-kata Draco itu membuat punggung Hermione serasa tersiram air dingin. Begitu tajam dan langsung menusuk ke seluruh pori-porinya. Juga membuat asupan oksigen ke paru-parunya terhenti sejenak. "Ini bukan urusanmu. Pergilah Draco," bisik Hermione.
"Aku tidak akan pergi Granger, tidak tanpamu," ujar Draco tenang.
"Pergi Draco! Kau tidak tau apa-apa tentangku! Kau tidak tau apa-apa tentang Harry!" Hermione menjerit keras-keras, ia berjongkok untuk mengambil tongkatnya.
Tapi Draco bertindak lebih cepat. "Accio Hermione's wand!" tongkat itu terlepas dari jari Hermione dan terbang ke tangan Draco. Hermione mendelik Draco, terlihat marah. "Kembalikan tongkatku dan pergi dari sini Malfoy!"
Draco menatap Hermione tanpa ekspresi kemudian menggeleng pelan, "Aku tidak akan pergi,"
Darah Hermione mendidih, ia berusaha berkonsentrasi untuk memanggil tongkatnya kembali. Tapi tidak terjadi apapun, Hermione tidak berhasil melakukan sihir tanpa tongkatnya kali ini.
"Kau benar Hermione. Aku tidak tau apa-apa tentangmu. Aku tidak tau apa-apa tentang Harry seperti kau atau Ron. Aku menghabiskan bertahun-tahun di Hogwarts untuk membenci kalian dan berusaha membuat kalian menderita," Draco menatap Hermione dalam.
"Tapi aku tau, Hermione. Aku tau kalau Harry, tidak akan suka melihatmu seperti ini," ujar Draco pelan, "Harry pasti ingin kau tetap hidup. Dia akan menyalahkan dirinya sendiri jika kau—seperti ini terus menerus,"
Hermione terdiam. Ia memikirkan kata-kata Draco yang sebenarnya Hermione tau itu benar. Harry akan menyalahkan dirinya sendiri jika ia melihat Hermione seperti ini.
Draco berjalan mendekati Hermione dengan cepat dan langsung meraih lengannya. Hermione meronta, berusaha melepaskan tangan Draco yang menggenggam tangannya dengan sangat erat.
"Lepaskan aku! Lepaskan!"
"Tidak. Aku akan membawamu ke rumah Ron,"
Hermione menggeleng keras-keras, "Tidak! Bawa aku pulang!"
Draco menggeleng, "Tidak," jawabnya singkat. Kemudian Draco meng-Apparate mereka berdua langsung ke halaman rumah Ron dan Luna.
Draco tetap tidak melepaskan tangan Hermione, ia menyeretnya ke mulut pintu rumah itu. Tetap menggenggam erat tangan Hermione sementara ia mengetuk pintu rumah beberapa kali sampai wajah Luna yang terkejut muncul di balik pintu.
"Hai Luna, aku baru saja menemukan Hermione di Godric's Hollow dan dia berniat membunuh dirinya sendiri," mata Hermione melotot mendengar kata-kata lugas yang Draco ucapkan tanpa sensor sedikitpun. Ia mendelik pada Luna yang matanya semakin membulat, seakan kedua bola mata Luna hendak melompat keluar.
"Oh. Emm—masuklah," sahut Luna, masih menatap Hermione dengan tatapan yang sama seperti yang Draco lemparkan saat menemukannya di Godric's Hollow. "Aku bisa melihat kepalamu penuh dengan Wracksprut Hermione,"
Dahi Draco berkerut dalam, setelah beberapa lama bergaul dengan Harry, Ron, Hermione dan yang lainnya, Draco telah belajar banyak hal. Salah satunya adalah tidak usah memperdulikan benda atau makhluk aneh apapun yang disebutkan oleh Luna. Karena itulah, ia memilih untuk diam walau Draco tetap bertanya-tanya apa itu Wracksprut.
Crack!
Luna dan Draco spontan menoleh ke arah pintu yang masih tertutup begitu mendengar suara orang ber-Apparate.
"Oh, itu pasti Ron," kata Luna sembari kembali mendekati pintu.
Hermione berpikir untuk kabur, ber-Apparate? Tidak mungkin. Ron dan Luna membuat orang-orang tidak bisa ber-Apparate dari atau ke dalam rumah,demi alasan keamanan. Dan juga karena Ron tidak suka jika ada orang lain masuk ke dalam rumahnya tanpa mengetuk pintu.
Floo? Hmm, bisa saja sih, tapi Draco berdiri berdiri di dekat perapian dan dia pasti akan menangkap Hermione bahkan sebelum ia memasuki perapian. Sepertinya sati-satunya pilihan adalah berlari keluar lalu ber-Apparate. Lalu tongkatnya?
"Hey Hermione, Draco. Ada—sesuatu?" tanya Ron heran mendapati kedua temannya yang tiba-tiba datang. Terutama Hermione yang jelas-jelas menolak usulan Ron satu jam yang lalu. Ron sadar, pasti ada sesuatu yang tidak beres. Apalagi ekspresi Draco, Luna dan khususnya Hermione terlihat—well—seperti itu.
Draco menghela nafas panjang, "Temanmu di sini," Draco mendelik pada Hermione yang langsung membuang muka antara kesal dan merasa bersalah, "Baru saja melakukan hal yang sangat bodoh,"
Ron menatap Hermione, dahinya berkerut sementara matanya menyipit. "Apa yang kau lakukan?" lalu ia beralih pada Draco, "Apa yang dilakukannya?"
Luna menghela nafas panjang, tapi ia memilih untuk tidak berkata apapun. Menurut Luna, Draco orang yang lebih pas untuk menyampaikan hal itu pada Ron. Walau Luna sendiri tau bagaimana cara Draco menyampaikan sesuatu. Begitu lepas dan lugas, tanpa memikirkan akibat dari kata-katanya itu.
"Hermione di sini, baru saja mencoba untuk mengakhiri hidupnya sendiri," nah kan? Draco bahkan tidak pernah repot-repot memilih padanan kata yang tepat untuk menyampaikan maksudnya. Yah, walaupun untuk kasus ini tidak akan bisa disampaikan dengan cara yang lebih halus.
Ron melotot, dagunya terjatuh sampai ke lantai. Untuk sesaat ia tidak berkata apapun atau bahkan bergerak dari posisinya itu. Perlahan Ron menoleh, menatap Hermione yang sudah menunduk dalam-dalam menatap lantai.
"Kau—kenapa—kau—" Ron tampak tidak bisa banyak bicara. Otaknya terasa mumet. Baru tadi pagi ia menguburkan salah satu sahabat terbaiknya dan sekarang Ron mendengar kabar bahwa ia nyaris kehilangan sahabatnya yang lain.
"Bagaimana kau bisa bertemu dengan Hermione di saat yang tepat seperti itu Draco?" Luna angkat bicara, jelas terlihat jauh lebih tenang dari Ron yang masih dalam posisinya, menatap Hermione tidak percaya.
Draco mengeluarkan tongkat Hermione dari dalam mantelnya, "Kalian tau sendiri tadi siang aku tidak bisa datang ke upacara pemakaman karena—Dad," Draco mencibir saat menyebut sang ayah dan lanjut menggerutu tidak jelas sendiri. "..urusan tidak penting…egois…menyebalkan…"
"AHEM!" Luna berdeham keras.
Draco tersadar, ia berdeham dua kali. "Maaf," gumamnya pelan sebelum melanjutkan cerita. "Setelah dari Azkaban aku segera ber-Apparate ke Godric's Hollow. Saat aku baru berniat untuk menghampiri makam Harry aku melihat Hermione ber-Apparate tepat beberapa langkah di depanku,"
Draco melirik Hermione yang masih terdiam. "Aku memilih mundur beberapa langkah, memberi Hermione sedikit privasi sampai dia menghunuskan tongkatnya ke kepalanya sendiri dan dengan refleks seorang Auror aku—menggunakan mantra pertama yang melintas di pikiranku, Expelliarmus. Dan—disinilah kita sekarang,"
"Aku tidak percaya Hermione,"
Draco dan Luna menoleh pada Ron yang akhirnya berhasil menemukan kembali suaranya setelah beberapa lama.
"Kau berjanji padaku! Kau berjanji tidak akan berbuat bodoh!" teriak Ron, wajahnya memerah, rahangnya mengeras dan matanya terlihat hampir keluar.
"Aku kehilangan tunanganku Ron! Tunanganku! Sahabatku! Aku—"
"Dia sahabatku juga Hermione! Aku kehilangan dia juga!" potong Ron kasar.
"Kau punya Luna!" jerit Hermione frustasi, wajahnya masih basah karena airmata dan air hujan kini terlihat memerah. "Aku tidak—aku pulang ke rumah. Sendiri, sepi. Dan itu—" Hermione terisak, ia menenggelamkan wajahnya di antara kaus Harry yang masih digenggamnya erat sejak ia masih ada di Godric's Hollow.
Ron terdiam, ekspresinya melunak setelah mendengar pengakuan Hermione. Ia menoleh pada Draco dan Luna yang menatapnya dengan ekspresi yang sama, sedih dan tidak tau harus berbuat apa. Suara isak tangis Hermione terdengar amat pilu di telinga Ron. Ia mengambil tempat di samping Hermione, mengulurkan kedua tangannya, merengkuh Hermione erat ke dalam pelukannya.
"Kau tidak sendiri Hermione," bisik Ron, ia menelan ludah, berusaha untuk tidak menangis lagi. "Kau punya aku, Luna, keluargaku, keluargamu. Kita masih punya banyak orang Hermione,"
"Aku tidak—aku—"
"Aku tidak akan sanggup kalau aku harus kehilanganmu juga Hermione," ujar Ron akhirnya. Kepergian Harry membuat Ron merasa bahwa ia harus mengambil tempat Harry. Menjadi seseorang yang menjaga Hermione, menggantikan Harry.
Hermione terisak semakin keras dalam pelukan Ron.
Draco yang merasa Hermione sudah berada di tempat yang tepat mengalihkan pandangannya ke tongkat Hermione yang masih ada di tangannya lalu menoleh pada Luna. "Ini tongkat Hermione. Saranku, jangan membiarkan dia menyentuhnya selama beberapa lama," bisik Draco.
Luna mengambil tongkat itu dari tangan Draco. Ia mengangguk singkat sembari tersenyum, "Aku tau. Tapi—Hermione bisa menggunakan sihir tanpa tongkatnya kan?"
Draco menggeleng, "Dia sudah mencobanya saat di Godric's Hollow tapi tidak berhasil. Kurasa karena saat ini kondisinya masih tidak stabil,"
Luna menghela nafas, terlihat sedikit lega. "Terima kasih Draco,"
Draco tersenyum, "Itu sudah tugasku,"
Tenggorokan Hermione masih terasa kering setelah tadi berdebat lagi dengan Ron soal tongkat sihirnya. Ron bersikeras untuk menyita tongkat sihir Hermione dan tidak akan membiarkannya menyentuh tongkat itu sampai Ron menyatakan Hermione sudah kembali waras.
Hermione sempat menoleh pada Luna, meminta dukungan. Tapi Luna malah melengos pergi seakan ia tidak melihat tatapan Hermione. Sikapnya itu jelas menunjukkan bahwa Luna berada di pihak Ron. Dan mereka berdua sama-sama menganggapnya tidak waras. Setidaknya untuk sekarang.
Ron juga memaksa Hermione tinggal di rumahnya untuk beberapa lama. "Kalau kau mau tongkatmu kembali, kau harus tinggal di sini selama sebulan!" ujar Ron tegas. Hermione cemberut sekaligus heran. Sejak kapan Ron jadi setegas itu?
Akhirnya ia terpaksa menyetujui usul itu karena mendengar ultimatum dari Ron. Dan ketika ia beranjak ke kamarnya saat ia merasa sudah sangat lelah, Hermione sempat mendengar Ron mengatakan pada Luna untuk menyembunyikan seluruh benda tajam dan memantrainya agar tidak diketahui apalagi digunakan oleh Hermione. Hermione hanya memutar mata mendengarnya. Ternyata mereka tidak hanya menganggap Hermione tidak waras. Mereka sudah dalam tahap menganggap Hermione gila. Sangat gila malah.
Dan sekarang di sinilah Hermione berada. Terbaring di salah satu kamar di rumah Ron dan Luna yang berada tidak begitu jauh dari rumah Bill dan Fleur juga The Burrow. Memandang langit-langit kamar yang Luna sihir sedemikian rupa sehingga mirip seperti Aula Besar Hogwarts. Bintang berkerlap-kerlip dengan indahnya menerangi malam.
Pikiran Hermione melayang pada masa-masa mereka masih di Hogwarts. Semua petualangan gila yang hanya mereka bertiga alami. Sebuah cerita yang hanya ia, Harry dan Ron ketahui. Sebuah waktu dimana hanya ada ia dan Harry karena Ron sibuk dengan Luna. Sibuk dalam tanda kutip.
Hermione mengulum senyum mengingatnya, bersamaan dengan itu airmata kembali menuruni pipinya. Terus seperti itu, sampai akhirnya Hermione terlelap karena lelah.
Ron melompat bangun dari kasurnya, ia mengambil jubah tidurnya dengan cepat dan segera berlari keluar kamar. Luna mengikutinya tidak jauh di belakang. Mereka berdua berlari menuju kamar Hermione dan langsung menyeruak masuk ke dalamnya.
Hermione terbaring di atas ranjang, kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan terus menerus, keringat menetes deras dari wajah dan lehernya, mungkin seluruh tubuhnya. Dan Hermione terus meneriakkan kata-kata yang sama, terus menerus dan semakin keras setiap detiknya sampai-sampai Ron dan Luna pun terbangun.
"Jangan tinggalkan aku! Jangan tinggalkan aku!" jerit Hermione, matanya masih terpejam menandakan ia sebenarnya masih terlelap. Inilah pertama kalinya Ron mendengar Hermione mengigau seperti ini.
Ron mengguncang tubuh Hermione, "Hermione, bangun, Hermione," ia terus mengguncang tubuh Hermione sambil terus menyebut namanya.
"Harry! Harry!" Hermione masih terus menjerit.
Ron mengguncang badan Hermione semakin keras, "Hermione bangun! Hermione!"
"HARRY!" kedua mata Hermione terbuka lebar, memandang ke kanan kirinya dengan tidak fokus. Tubuhnya gemetar hebat karena mimpi buruk yang dialaminya, bukan karena dingin. Butuh beberapa lama sampai akhirnya Hermione menyadari bahwa Ron ada di sisinya, memandangnya tatapan tidak berdaya, cemas,sedih dan takut yang bercampur menjadi satu.
"Itu hanya mimpi Hermione, hanya mimpi," bisik Ron, ia mengusap-usap tangan Hermione.
Tapi Hermione malah menghambur ke pelukan Ron dan kembali menangis di bahunya. Hermione mencengkram piyama Ron erat-erat sementara tubuhnya masih gemetaran.
"Dia sudah pergi. Dia tidak akan kembali. Dia—"
Ron memejamkan matanya, menahan diri agar tidak menangis. Kedua tangannya terulur untuk balas memeluk Hermione erat-erat. Ron tidak mampu mengucapkan apapun untuk membuat Hermione merasa lebih tenang. Karena ia sadar tidak ada satu kata pun yang bisa membuat Hermione merasa lebih baik.
Ron dan Luna kembali ke kamarnya setelah Hermione menjadi sedikit lebih tenang dan akhirnya bisa kembali terlelap. Tapi tidak lama kemudian kembali terdengar jeritan memilukan dari kamar Hermione.
"Dia tidak akan bisa istirahat kalau terus seperti ini," ujar Ron saat ia sudah kembali ke kamarnya setelah menenangkan Hermione untuk kedua kalinya malam itu. ia cemas memikirkan keadaan Hermione yang ternyata lebih buruk dari yang ia kira sebelumnya.
Luna tampak sedang berpikir, "Sebenarnya aku bisa menggunakan Ramuan Tidur Tanpa Mimpi, tapi aku takut itu akan menimbulkan ketergantungan pada Hermione,"
Ron menghela nafas, "Aku tidak sanggup melihatnya seperti itu. Aku—" Ron mengusap wajahnya.
Luna mengusap-usap punggung Ron dengan gestur menenangkan sementara otaknya masih terus berputar. Ia sendiri juga tidak suka melihat Hermione yang biasanya menjadi yang paling tegar, paling kuat di antara teman-temannya yang lain menjadi sehancur itu.
"Tidak bisakah kita memakai ramuan itu, setidaknya sampai—trauma Hermione sedikit memudar?" tanya Ron kemudian.
Luna menggeleng pelan, "Aku tidak tau—sebaiknya aku berkonsultasi dulu dengan Penyembuh yang lain,"
Ron mengangguk, mengiyakan. Ia membatin,
Harry, ternyata kepergianmu menimbulkan efek yang lebih besar dari dugaanku.
read and review..
untuk chapter berikutnya mungkin agak lebih lama, saya berencana konsentrasi buat UAS dulu... maaf xD
