Disclaimer: I own nothing but the plot.

a/n : terima kasih buat semua review-nya, juga terima kasih buat kalian yang sudah sekedar mampir atau membaca. *smile*


Remember

by Nessh


Oliver Wood


Beberapa bulan berlalu sejak kematian Harry Potter. Headline di koran-koran sudah berganti dari 'Dunia Kehilangan Pahlawannya' menjadi 'Puddlemere United Menjuarai Liga Quidditch Inggris'. Kehidupan semua orang sudah kembali normal, kecuali kehidupan Hermione Granger.

Hermione memang sudah kembali bekerja seperti biasa di Departemen Hukum Sihir dan sesekali memenuhi permintaan Minerva untuk mengajar Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam di Hogwarts, menggantikan Harry. Tapi ketika dia kembali ke flat-nya yang sepi atau ketika ia melihat fotonya bersama Harry atau saat ia menyadari bahwa ia masih memakai cincin yang diberikan Harry padanya, Hermione pasti akan mulai menangis.

Kedua orangtua Hermione, Helen dan William Granger, beberapa kali meminta Hermione untuk pindah dari flat dan kembali tinggal bersama mereka. Tapi Hermione selalu menolak dengan alasan bahwa dia sudah dewasa, dia bisa menjaga dirinya sendiri dan dia tidak ingin merepotkan siapa pun. Hanya sesekali Helen menginap di flat Hermione karena khawatir.

Orang-orang mulai mengatakan pada Hermione untuk mulai melangkah, move on. Mulai berkencan dengan orang lain dan jangan terikat masa lalu. Lupakan Harry. Mudah bagi mereka untuk mengatakan semua itu karena mereka tidak mengalami apa yang Hermione alami. Hermione kehilangan sahabatnya, cinta pertamanya, tunangannya, dunianya. Dan mereka berharap Hermione bisa melupakan Harry semudah itu hanya dalam hitungan bulan?

Hanya Ron, Luna, Ginny, kedua orangtua Hermione dan—kau mungkin akan terkejut mendengarnya—Draco yang mengerti betul apa yang Hermione rasakan.

Hampir setiap hari Hermione mengunjungi Harry di Godric's Hollow. Ia selalu membawa bunga Lily putih lalu duduk di sana berjam-jam, bercerita kepada Harry tentang kehidupannya, tentang kehidupan teman-teman mereka, tentang segalanya. Sampai terkadang Hermione lupa waktu dan diam di sana sampai hampir tengah malam, lalu Ron akan datang untuk mencari Hermione dan membawanya kembali ke flat atau ke rumahnya atau The Burrow.

"Hermione, kau dipanggil ke ruangan Mr Clark sekarang," ujar Susan dari balik pintu ruangan Hermione.

Hermione tersadar dari lamunannya dan bergegas bangkit dari kursi, "Terima kasih Susan, aku akan segera ke sana,"

Susan mengangguk dan kembali menutup pintu. Hermione mengambil notebook-nya dan segera pergi ke ruangan Marcus Clark, Kepala Departemen Hukum Sihir, yang hanya terpisah tiga ruangan dengan ruangan Hermione.

Hermione mengetuk pintu kayu itu beberapa kali sampai suara Marcus terdengar dan memintanya masuk ke ruangan. Marcus Clark adalah seorang pria seumuran—kira-kira—Arthur Weasley dengan rambut gelap dan kacamata kotak.

Marcus berhenti menulis ketika melihat Hermione masuk ke dalam ruangan, ia memberi isyarat pada Hermione untuk duduk di salah satu kursi di seberang mejanya sementara ia menyimpan pena bulunya dan menatap lurus pada Hermione.

"Bagaimana kabarmu Miss Granger?" tanya Marcus sembari tersenyum.

Hermione berusaha menyembunyikan keheranan dari nada suaranya, "Aku—baik-baik saja Sir, terima kasih,"

"Aku dengar kau mendapat tawaran dari Minerva McGonagall untuk mengajar di Hogwarts. Mengajar Mantra kalau aku tidak salah?"

Hermione mengangguk, "Ya Sir, Minerva memang memintaku untuk menggantikan Flitwick yang akan pensiun tahun ini. Ada apa yang masalah dengan itu Sir?"

Marcus menggeleng, "Tidak. Tidak ada yang salah dengan itu, aku hanya ingin tau apa kau akan menerima pekerjaan itu?" tanya Marcus, "Aku tau kau sangat suka mengajar," tambahnya.

"Apa anda—apa anda ingin aku keluar dari sini Sir?"

"Bukan itu Miss Granger, malah sebenarnya aku tidak ingin melepaskan orang seperti kau pergi. Tapi jika mengajar bisa membuatmu—bahagia, katakan saja begitu, maka aku akan melepaskanmu," kata Marcus dengan nada yang lembut, "Jadi, intinya adalah, lakukan apapun yang mau kau lakukan. Jika kau ingin mengajar, maka pergilah, tidak perlu memikirkan reaksiku atau reaksi siapapun. Lakukan itu, jika kau pikir itu akan membuatmu bahagia,"

Hermione sempat melongo tidak percaya, lalu ia menggeleng cepat. "Umm—yah, tentu. Umm—terima kasih sir. Apa—apa ada hal yang anda butuhkan dariku sir?"

Marcus menggeleng, "Tidak ada. Semua pekerjaanmu mengagumkan dan hanya itu yang ingin aku sampaikan. Kau boleh kembali ke ruanganmu,"

Hermione mengangguk dan mengucapkan terima kasih sebelum keluar dari ruangan. Aneh, batinnya.

.

Flourish and Blotts. Tempat dimana kita bisa menemukan semua buku yang kita butuhkan, sekaligus tempat dimana kita bisa menemukan Hermione Granger.

Hermione sudah mengambil beberapa jilid buku tebal di tangannya, tapi matanya masih menyusuri deretan buku di salah satu rak. Dengan susah payah, ia menahan buku-buku yang sudah diambilnya dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya berusaha meraih sebuah buku yang berada di bagian kanan atas rak. Hermione berjinjit sambil berusaha meraih-raih buku bersampul merah tua itu.

Sebuah tangan terulur dan mengambil buku itu sebelum Hermione sempat meraihnya, lalu menyerahkannya pada Hermione. "Terima ka—Oliver?"

"Hei, Hermione. Lama tidak bertemu," sapa Oliver Wood sambil tersenyum lebar.

Hermione mengambil buku itu dari tangan Oliver. "Apa yang kau lakukan di sini Oliver?"

Oliver mengambil sebuah buku, "Membeli buku tentunya,"

Hermione memutar matanya, "Tentu Oliver. Aku tau kau disini bukan untuk membeli es krim," Hermione berusaha menyeimbangkan tumpukan buku di tangannya.

Oliver mengambil beberapa buku dari tangan Hermione, "Biar kubawakan," katanya sambil tersenyum.

"Tidak usah. Aku bisa membawanya,"

"Hermione, biarkan aku membantumu, aku bisa lihat kau kerepotan," Oliver bersikeras. Hermione menghela nafas dan membiarkan Oliver membawa buku-bukunya.

"Hey, bagaimana kalau setelah ini kita minum dulu di Leaky Cauldron?" ajak Oliver.

Hermione yang masih memilih buku menoleh dan menatap Oliver dengan kedua alis terangkat.

"Jika kau tidak sibuk tentunya," tambah Oliver cepat-cepat.

Hermione tersenyum kecil, "Aku tidak sibuk. Jadi, ya, kita ke Leaky Cauldron," Hermione kembali memilah-milah buku.

Oliver dan Hermione mengobrol ringan selama mereka berada di Flourish and Blotts. Kebanyakan membicarakan tim Quidditch Oliver yang baru saja memenangkan Liga Quidditch Inggris, Oliver adalah kiper sekaligus kapten di tim Puddlemere United.

"Aku kira kau tidak suka Quidditch," gurau Oliver di tengah-tengah percakapan mereka.

Hermione mendengus, "Aku memang tidak suka Quidditch. Tapi aku tidak menghindari segala hal tentang Quidditch,"

Hermione membayar semua bukunya—yang menurut Oliver jumlahnya cukup untuk membuat satu perpustakaan penuh buku, Hermione cemberut sementara Oliver terkekeh—kemudian mengecilkannya dan memasukkannya pada sebuah tas yang sudah ia beri mantra peringan dan perluasan tidak terdeteksi.

"Mantra yang praktis. Kenapa aku tidak pernah memikirkannya," gumam Oliver, lebih kepada dirinya sendiri ketika melihat Hermione memasukkan semua bukunya ke dalam tas.

Hermione hanya tertawa ringan, "Tidak hanya kau Oliver, bahkan siswa Ravenclaw sendiri banyak yang tidak menyadarinya," mereka berdua tertawa.

Mereka berdua berjalan menyusuri Diagon Alley yang sudah mulai sepi karena hari memang sudah gelap. Sampai akhirnya mereka sampai di sebuah pub tua yang ternyata, berlawanan dengan keadaan Diagon Alley, terlihat sangat ramai.

"Aku akan memesan minuman. Kau mau apa?" tanya Oliver saat ia dan Hermione baru saja duduk di salah satu meja yang kosong.

"Wiski Api boleh juga," jawab Hermione.

Oliver mengangguk, "Wiski Api segera datang," lalu bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah bar, meninggalkan Hermione yang terlihat sedikit terkejut.

Hermione termenung, sebuah memori melintas di benaknya.

"Hermione, mau minum sesuatu? Jangan Wiski Api, aku tidak mau kau mabuk,"

Hermione tertawa, "Segelas Wiski Api tidak akan membuatku mabuk, Harry,"

Harry nyengir, "Baiklah. Segelas Wiski Api segera datang," Harry melompat bangun dari kursi dan berjalan ke arah bar.

Sikap Oliver tadi, mengingatkan Hermione akan Harry. Bahkan, sikap Oliver sejak mereka masih berada di Flourish and Blotts mengingatkan Hermione akan Harry. Dulu Harry juga selalu memaksa membawakan buku-buku Hermione, Harry juga tercengang ketika Hermione memperlihatkan tasnya yang diberi mantra-mantra tertentu. Persis seperti reaksi Oliver tadi.

"Ini dia, segelas Wiski Api. Aku perlu mengingatkanmu aku tidak mau kau minum lebih dari dua gelas, aku tidak mau kau mabuk," kata Oliver sambil menyimpan segelas Wiski Api di depan Hermione. ia menarik kursi dan duduk di hadapan Hermione.

Aku tidak mau kau mabuk.

"Hermione? ada yang salah?" tanya Oliver. Dahinya berkerut melihat Hermione yang hanya diam menatap gelasnya.

Hermione sedikit tersentak, ia menatap Oliver sesaat, sebelum menggeleng dan berusaha tersenyum. "Umm—tidak apa-apa,"

Oliver menatap Hermione penuh tanda tanya, sebelum akhirnya tersenyum simpatik, "Kau teringat Harry kan?"

Mata Hermione membulat, "Baga—bagaimana kau—"

"Ron banyak bercerita tentangmu," potong Oliver, ia menyeruput Wiski Apinya lalu menatap jari Hermione yang menggenggam gelasnya erat. "Aku melihat kau masih memakai cincin tunangan dari Harry,"

Hermione terdiam, tangannya memainkan cincin yang masih melingkar di jari manisnya.

"Hermione?"

Hermione mendongak dan Oliver menoleh, Draco berdiri di belakang Oliver bersama Astoria dan Daphne Greengrass, juga Theodore Nott. Daphne, Astoria dan Theo menyapa Oliver dan Hermione singkat sebelum pamit menuju meja mereka sendiri.

Draco mengangguk pada Oliver, "Wood," sapanya singkat.

Oliver mengangguk pada Draco, "Malfoy,"

"Apa yang kau lakukan di sini Draco?" tanya Hermione setelah Daphne, Astoria dan Theo pergi.

"Theo dan Daphne mengajakku dan Astoria minum," jawab Draco singkat, "Jadi, bagaimana kabarmu Hermione?"

"Aku baik-baik saja Draco. Terima kasih sudah menanyakannya,"

"Hmm, kau tidak pandai berbohong Hermione," kata Draco pelan, lalu ia meninggalkan Hermione yang termenung dan Oliver yang melongo begitu saja.

Oliver mengatupkan rahangnya, "Dia benar-benar orang yang jujur," gumamnya pelan, "Tapi apa yang dia ucapkan ada benarnya juga,"

Hermione mendongak, "Apa? Apa maksudmu?"

Oliver mengangkat bahu, "Simpelnya sih, kau tidak perlu berkata kau baik-baik saja kalau kau memang tidak sedang baik-baik saja. Tidak ada yang salah dengan menunjukkan emosi,"

Hermione mendesah pelan, "Tidak semudah itu, Oliver,"

"Aku tau. Cobalah buka matamu Hermione, lihat ke sekelilingmu, semua orang terdekatmu mengkhawatirkanmu," Oliver mengulurkan tangannya dan menggenggam jemari Hermione, "Termasuk aku,"


another author note: sekali lagi terima kasih banyak karena sudah membaca ffn-ku.

berhubung besok kita udah memasuki bulan ramadhan, aku mau ngucapin nih, selamat menjalankan ibadah puasa bagi kalian semua yang menjalankannya. maaf kalau aku selama ini aku ada yang salah. met puasa yaa semuanya, semoga kita bisa menjalankan ibadah puasa dengan hati yang bersih xD