Disclaimer: I own nothing but the plot.

a/n : terima kasih buat semua review-nya, juga terima kasih buat kalian yang sudah sekedar mampir atau membaca. *smile*

another a/n:

*Puputkawaii : 1) yap, disini aku buat Draco dan Astoria udah,umm, tunangan. *digaplok*

2) buat pertanyaan yang kedua, aku belum bisa jawab ya, hehehe xD

* missalpotter: maaaaaaaffff banget, tapi aku ga bisa janjiin itu :(


Remember

by nessh


First Step


"Semua orang terdekatmu mengkhawatirkanmu. Termasuk aku,"

Hermione masih terjaga di kamarnya walaupun jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Kata-kata Oliver padanya beberapa jam yang lalu terus terngiang di telinganya. Hermione tidak mengerti apa maksud kata-kata Oliver itu. Oliver sendiri tidak mau repot-repot menjelaskan apapun ketika Hermione menanyakan apa maksudnya, ia hanya tertawa kecil sambil berkata, "Aku rasa itu sudah cukup jelas,"

Hermione menggeliat di atas ranjangnya, masih berusaha untuk memejamkan matanya yang walau sudah lelah tapi tetap enggan untuk tertutup. Hermione juga memikirkan kata-kata Marcus yang memintanya untuk mengikuti kata hatinya dan melakukan apa saja untuk membuat dirinya sendiri bahagia. Juga kata-kata Minerva saat ia menawari Hermione posisi sebagai pengajar di Hogwarts.

"Sudah saatnya kau meraih apa yang kamu mau, Hermione,"

Mungkin Minerva benar. Mungkin apa yang orang-orang di sekitarnya memang benar. Mungkin memang sudah waktunya bagi Hermione untuk mulai melangkah, kembali mengejar apa yang sempat ia tinggalkan. Tapi kalau itu semua termasuk dengan melupakan Harry? Sepertinya itu tidak mungkin. Tidak dalam waktu dekat. Hermione masih butuh waktu.

Hermione berbalik. Ia sudah memutuskan sesuatu. Satu hal yang akan mengubah hidupnya. Yang Hermione harap bisa membantunya untuk melangkah.

Hermione memutuskan untuk mengambil posisi yang Minerva tawarkan. Yang akan menjadi langkah pertamanya untuk melanjutkan hidup.

.

Minerva McGonagall jelas terlihat sangat girang ketika Hermione mengunjunginya di Hogwarts dan mengatakan bahwa ia menerima tawaran Minerva. Flitwick tentunya merasa lega, karena ia yakin pengganti dirinya adalah Hermione, murid terbaiknya di Hogwarts setelah Lily Evans. Mereka berdua memeluk Hermione erat-erat. Hermione tertawa melihat tingkah kedua gurunya.

Marcus Clark ikut senang dengan keputusan Hermione, walau ia tetap merasa kehilangan Hermione. "Aku tidak akan pernah menemukan seseorang sepertimu," ujar Marcus saat Hermione menemuinya pagi itu untuk menyatakan pengunduran dirinya dari Departemen Hukum Sihir.

Hermione tertawa kecil, "Percayalah Mr Clark, kau akan menemukan seseorang yang lebih baik dariku,"

"Pertama, panggil aku Marcus mulai sekarang," Marcus tersenyum lebar, "Dan kedua, kau adalah yang terbaik dan tidak akan ada yang bisa menggantikanmu,"

Pernyataan Marcus itu membuat Hermione merasa agak bersalah karena memutuskan untuk meninggalkannya. Selama ini, Marcus telah menjadi atasan yang sangat baik dan tegas. Dia mengajari Hermione seperti seorang guru, tapi kadang, dia akan menjadi seorang teman dan rekan kerja yang sangat membantu. Hermione yakin dia akan sangat kehilangan Marcus.

Teman-teman kerja Hermione memberinya sebuah foto semua anggota Departemen Hukum Sihir yang diambil untuk koran Daily Prophet edisi bulan lalu sebagai hadiah kenang-kenangan untuk Hermione.

"Joseph meminta foto ini dari temannya yang bekerja di Daily Prophet. Jadi Hermione, please, jangan pernah lupakan kami," kata Susan, teman Hermione sejak mereka sama-sama baru menapaki karir.

Hermione memeluk Susan erat-erat, "Tidak akan pernah, aku berjanji,"

Di Hall Kementrian Sihir, Hermione berhenti sejenak di depan air mancur. Hanya diam dan memandang air mancur beberapa lama, berusaha untuk mematri setiap kenangan yang terjadi di sini dalam memorinya. Hermione memandang ke sekeliling, dimana orang-orang terlihat sibuk keluar masuk Kementrian dengan urusan dan masalah mereka masing-masing.

Ingatannya meluncur ke saat dirinya, Ron dan Harry menyamar menjadi anggota Kementrian untuk mencari kalung Slytherin yang merupakan Horcrux atau pecahan jiwa dari Voldemort.

"Hermione?" seseorang menyentuh pundak Hermione lembut.

Hermione menoleh dan mendapati Draco berdiri di belakangnya, memandanginya dengan tatapan bingung.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Draco heran. "Berdiri di tengah Hall dan melamun seperti orang aneh,"

Hermione tersenyum, "Aku menerima tawaran Minerva,"

Seulas senyum lebar mengembang di wajah Draco, "Jadi sekarang aku sedang berbicara dengan Professor Granger? Kapan kau memutuskan untuk mengajar?"

"Semalam," Hermione nyengir, "Aku akan menggantikan Flitwick mengajar Mantra,"

Draco mengangguk-angguk, "Itu bagus. Kau selalu bagus dalam Mantra, walau aku pikir sebenarnya kau lebih jago lagi di Transfigurasi. Aku masih ingat, kau adalah murid kesayangan McGonagall,"

Hermione tertawa ringan, "Dan aku masih ingat betapa kau sering mendapatkan detensi dari Minerva,"

Draco meringis, "Itu karena kalian Trio Gryffindor,"

Senyum di wajah Hermione sedikit memudar begitu mendengar kata Trio Gryffindor dari bibir Draco. Semua memori tentang masa keemasan itu kembali menyerang Hermione dari segala arah. Draco menyadari perubahan ekspresi Hermione yang begitu terlihat, ia merasa bersalah dan langsung mengubah topik pembicaraan yang ia yakin akan langsung mengubah mood Hermione.

"Umm—kau mau menemaniku?" tanya Draco ragu, "Kalau kau tidak sibuk tentunya dan kalau aku lihat, sepertinya dari tadi kau tidak sedang sibuk. Malah cenderung kurang kerjaan,"

Hermione memutar matanya, senyumnya kembali mengembang. "Ya, aku tidak sedang sibuk Draco. Dan menemanimu kemana?"

Draco menghela nafas lega ketika melihat Hermione kembali tersenyum. "Membeli sesuatu untuk Luna. Aku belum memberinya sesuatu saat ulangtahunnya waktu itu karena aku sedang berada di sebuah misi," ujar Draco setengah menggerutu, "Jadi, sekarang aku ingin memberinya sebuah kado ulangtahun sekaligus ucapan selamat atas kehamilannya,"

Hermione membeku. "Luna—apa?"

Lalu sesuatu menghentak benak Draco keras. Tentu Hermione tidak tau, Ron berencana untuk memberitaunya nanti, saat Hermione sudah terlihat lebih stabil. Sial, pikir Draco. "Umm—dia hamil. Ron memberitauku—emm—tadi pagi," Draco berbohong, Ron sudah memberitaunya sejak dua hari yang lalu saat mereka tidak sengaja bertemu di Hall Kementrian.

"Oh. Kenapa Ron malah memberitaumu dulu? Maaf Draco, tapi kami berteman sejak kami kelas satu dan dia belum memberitauku?" Hermione melipat kedua tangannya di dada, terlihat sedikit kesal.

Draco meringis, "Itu—emm—aku tidak sengaja—err—bertemu Ronald—di—emm—lift tadi pagi—dan—err—saat itu Ron memberitauku kalau Luna hamil—umm—yeah," liar, liar, pants on fire.

"Oh. Mungkin dia memang belum sempat memberitauku," gumam Hermione.

Draco mengangguk semangat, "Ya! Mungkin dia belum sempat! Sekarang, bukankah sebaiknya kita berangkat?" tanpa menunggu jawaban Hermione, Draco langsung menariknya menjauhi kerumunan orang untuk ber-Dissaparate langsung ke Diagon Alley.

Tapi ternyata, mereka malah sampai di Knockturn Alley.

"Draco," Hermione mendelik Draco yang berdiri di sampingnya, nyengir lebar dengan ekspresi tidak berdosa.

Draco mengangkat bahu, "Ups?" tanyanya. Panik yang sempat menyergap Draco tadi membuatnya salah meng-Apparate-kan dirinya dan Hermione. untungnya, mereka hanya nyasar di Knockturn Alley, bukan di tempat lain yang antah berantah.

Hermione memutar mata.

.

Draco bisa bernafas lega karena Hermione tidak lagi mengomel soal Ron dan Luna. Tapi, Draco sedikit menyesali keputusannya mengajak Hermione ke Diagon Alley. Karena, seperti biasa, mereka berdua terperangkap di toko buku. Atau lebih tepatnya Hermiones' Paradise.

Hermione berhasil menyeret Draco ke Flourish and Blotts setelah mereka berdua berkeliling Diagon Alley untuk mencari kado ulangtahun untuk Luna (Draco memutuskan untuk memberinya sebuah cermin serba guna yang ia temukan di salah satu toko) dengan alasan dia juga ingin membelikan sesuatu untuk Luna.

Hampir dua jam (yang bagi Draco terasa seperti berhari-hari) mereka berada di toko itu sampai akhirnya Hermione memutuskan untuk memberikan dua buku pada Luna dan membeli kurang lebih sepuluh buku untuk dirinya sendiri.

"Apa?" tanya Hermione saat menangkap delikan dari Draco.

Draco mengangkat bahu, "Tidak apa-apa," gumamnya singkat.

Hermione menatap Draco tidak percaya, tapi tetap melanjutkan langkahnya ke kasir sambil menenteng buku-bukunya dan sesekali berhenti jika ia melihat buku yang menurutnya menarik.

"Ayo Hermione! Aku bosan!" keluh Draco akhirnya setelah Hermione menambahkan tiga buku lagi ke dalam tumpukan buku-bukunya.

Hermione mendelik Draco yang tampak cemberut dan benar-benar bosan. Diam-diam Hermione merasa ekspresi Draco itu sangat—lucu dan itu membuatnya mengulum senyum.

"Hermione, aku bosan," gerutu Draco lagi.

Hermione mendesah pelan, "Baiklah, aku bayar buku-bukuku dan kita bisa pergi ke Leaky Cauldron," putus Hermione.

Draco terlihat lega, "Baguslah, aku butuh Wiski Api,"

Hermione menggeleng-geleng, terlihat geli, "Jika kau mabuk, Draco. Aku bersumpah akan meninggalkanmu begitu saja di Leaky Cauldron," ancam Hermione.

Draco terkekeh pelan lalu mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V. "Aku Draco Lucius Malfoy bersumpah, aku tidak akan mabuk," ujar Draco dengan nada yang formal dan serius.

Hermione kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.

.

Draco dan Hermione berjalan beriringan di Diagon Alley. Beberapa kali Hermione tertawa melihat tingkah Draco atau ketika mendengar Draco menceritakan cerita-cerita lucu yang dia dengar dari rekan-rekan Auror-nya.

Mata Draco menangkap kilauan di jari manis tangan kiri Hermione. Tentu, itu adalah cincin dari Harry. "Kau masih memakainya," ujar Draco tanpa ia sadari.

Hermione berhenti melangkah sejenak dan Draco pun menyadari apa yang baru saja dia katakan. "Umm—maaf Hermione," gumam Draco tidak jelas, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku tidak bermaksud—"

"Tidak apa-apa," potong Hermione. ia menunduk menatap jalan, sementara tangan kanannya memainkan jari manis yang melingkar di jari manisnya.

"Umm—jadi. Kau dan Wood kemarin, apa kalian—" Draco membiarkan kalimatnya menggantung.

Hermione tertawa gugup, "Tidak. Tidak ada apa-apa di antara aku dan Oliver," kata Hermione cepat. "Aku belum siap untuk memulai sebuah hubungan yang baru," Hermione mendesah.

"Oh," tanggap Draco singkat, tidak tau lagi harus berkata apa.

"Bagaimana Astoria?" tanya Hermione, merubah topik pembicaraan.

Draco tersenyum, "Dia baik-baik saja. Hanya saja akhir-akhir ini dia sibuk sekali mengurus berbagai hal bersama Daphne dan ibu mereka," jawab Draco.

Hermione tersenyum jahil, "Mengurusi segala macam hal tentang pernikahan, eh?"

Draco memutar matanya, mereka berdua tertawa pelan. Lalu mereka kembali berjalan dalam diam sampai Draco dan Hermione mendengar suara seseorang memanggil nama mereka.

"Draco!"

Draco menoleh ke belakang.

Astoria menghampiri Draco dan memeluknya erat-erat, juga memberi kecupan di pipi Draco yang masih terlihat terkejut. "Aku terkejut melihatmu di sini. Oh, hai Hermione," sapa Astoria.

Hermione tersenyum kikuk pada Astoria, "Hey Astoria. Apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku menanyakan hal yang sama. Apa yang kau lakukan di sini? Aku kira kau akan pergi bersama ibumu hari ini," kata Draco heran.

Astoria menghela nafas, "Mum tiba-tiba saja harus pergi ke rumah salah satu kerabat kami. Jadi aku terpaksa pergi sendiri," keluh Astoria. Lalu ia menatap Hermione dan Draco ingin tau, "Jadi, apa yang kalian lakukan di sini?"

"Well, itu—"

"Draco memintaku memilih hadiah ulangtahun untuk Luna. Kau tau Luna Weasley kan?" tanya Hermione, menghiraukan tatapan aneh dari Draco.

"Tentu aku tau. Draco pernah menceritakan tentang Luna padaku. Sayang sekali aku tidak bisa datang saat dia menikah, padahal Draco sudah memintaku menemaninya," jelas Astoria panjang lebar sebelum kembali menatap Draco, "Draco, bisakah kau menemaniku ke Knockturn Alley? Mum memintaku membawa sesuatu," pinta Astoria.

Draco melirik Hermione bingung. "Well, aku—"

"Please Draco," bujuk Astoria.

Draco menghela nafas, "Hermione, apa tidak apa-apa jika—"

"Tidak," potong Hermione, "Sama sekali tidak apa-apa,"

Draco tersenyum meminta maaf pada Hermione dan membiarkan dirinya di seret Astoria ke arah Knockturn Alley. Hermione tersenyum geli melihat Draco dan Astoria yang terlihat semakin menjauh. Menghela nafas, Hermione berbalik dan kali ini dia memutuskan untuk ber-Apparate ke rumah Ron.


thank you for reading :)