Disclaimer: i own nothing but the plot.

a/n: terima kasih buat semua review dan buat semua orang yang udah setia baca setiap fic-ku :)

oh iya, Selamat Hari Raya Idul Fitri buat semua yang merayakannya (termasuk saya sendiri hehehe) mohon maaf lahir dan batin yaa, semuanya :)


Remember

by nessh


Advice From Helen Granger


William dan Helen Granger menghabiskan sore mereka dengan minum teh dan membicarakan tentang putri tunggal mereka, Hermione. Lebih dari seminggu berlalu sejak terakhir kali Hermione mengirim surat pada mereka dan hampir sebulan mereka tidak bertemu dengannya. Helen dan William khawatir dengan keadaan putri mereka. Mereka ingin membantu Hermione melewati semuanya, tapi Hermione selalu menolak, dia selalu mengatakan semuanya baik-baik saja.

Hermione benar-benar berubah sejak kepergian Harry. Sahabatnya selama sepuluh tahun, kekasihnya selama dua tahun dan tunangannya selama beberapa jam. Helen mengerti mengapa Hermione menutup dirinya, mengapa ia menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan, tapi Helen merindukan putrinya. Merindukan senyum, tawa dan semua cerita-ceritanya.

Helen juga kehilangan Harry. Dia pemuda yang baik dan sopan. Harry berhasil merebut hati Helen di pertemuan pertama mereka, bahkan William juga berkata ia menyukai Harry, padahal biasanya William sangat keras pada seluruh teman pria Hermione. Termasuk pada salah satu sahabat Hermione, Ron Weasley.

Saat Harry masih hidup, Helen tidak pernah melihat putrinya sebahagia itu. Harry bisa membuatnya sangat bahagia. Helen bisa melihat Harry sangat mencintai Hermione, begitu pula sebaliknya, Hermione juga mencintai Harry sama besarnya.

Suatu hari Harry datang mengunjungi Helen dan William. Itu pertama kalinya dia datang tanpa Hermione. Helen ingat wajahnya terlihat agak pucat hari itu, ia terlihat gelisah akan sesuatu.

"Aku tau kedatanganku hari ini mengejutkan kalian dan Hermione tidak tau aku datang kemari," Harry memainkan jarinya dengan gelisah, "Aku—umm—sebelumnya aku minta maaf jika kedatanganku mengganggu kalian—"

"Tidak apa-apa Harry. Kau tidak mengganggu kita sama sekali," potong Helen, tersenyum pada pemuda di hadapannya.

Harry tersenyum gugup, "Terima kasih Mrs Granger. Aku—kedatanganku hari ini adalah untuk—umm—" Harry merogoh sakunya, mengeluarkan kotak beludru. Nafas Helen tertahan melihatnya, mata William melebar, mereka tau apa arti dari kotak beludru itu.

"Aku—aku mau menikahi putri kalian. Hermione sangat berarti untukku, dia adalah segalanya. Selama ini dia selalu ada di sana untukku, mendukungku dan aku yakin aku masih bisa hidup sampai saat ini adalah karena putri kalian. Aku ingin Hermione menjadi satu-satunya wanita di hidupku, aku ingin dia menjadi istriku, ibu dari anak-anakku. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpanya," Harry menelan ludah, membuka kotak beludru itu, memperlihatkan cincin berlian yang berkilauan di dalamnya.

"Aku kemari untuk meminta persetujuan kalian sebelum aku melamar Hermione. Aku ingin kalian tau kalau aku mencintainya dengan segenap hatiku dan aku akan selalu menjaganya, aku akan selalu berusaha untuk membuatnya bahagia, aku akan memberikan segalanya untuknya. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi suami yang baik dan pantas untuknya. Aku akan melakukan apa pun untuk Hermione, sampai nafas terakhirku aku berjanji pada kalian," Harry menatap Helen dan William yang masih tampak terkejut di hadapannya dengan tatapan penuh harap.

William bangkit dari kursinya dan berjalan lunglai menuju dapur. Mata Harry mengikuti William dengan khawatir.

"Jangan khawatir, aku tidak akan membiarkannya membunuhmu," ujar Helen.

Harry tersenyum kikuk, "Aku hanya khawatir kalau kalian tidak akan melepaskan Hermione untukku. Aku tau aku sudah menyeretnya dalam bahaya selama beberapa tahun, aku mengerti jika kalian memang tidak mau melepas Hermione untukku,"

Helen tersenyum, ia bisa melihat di mata Harry bahwa Harry benar-benar mencintai Hermione. Itu binar mata yang selalu ia lihat di mata William selama ini. "Hermione yang memilih untuk berdiri di sampingmu melalui semua yang telah kalian lalui selama ini, bukan kau. Kau tidak meminta Hermione untuk ikut denganmu mencari—apapun yang kalian cari,"

Harry menggeleng, "Aku memintanya dan Ron untuk memikirkan keluarga mereka. Hermione dan Ron punya orangtua yang memikirkan mereka, sedangkan aku tidak punya siapa pun. Tapi—well, kalian tau apa yang selanjutnya terjadi,"

Helen tersenyum melihat kesungguhan di mata Harry. Dia tau, Harry tidak akan mengecewakannya atau pun William. Helen yakin, Hermione akan sangat bahagia bersama Harry. Dan pikiran Helen pun berpikir, dimana dia menyimpan semua katalog dan majalah gaun pengantin yang selama ini dia simpan.

William kembali membawa tiga buah gelas dan sebotol wine yang Helen tau hanya akan dikeluarkannya di saat-saat istimewa. Ia menyerahkan satu gelas pada Helen, satu gelas pada Harry dan satu gelas untuk dirinya sendiri. Lalu ia membuka botol wine itu dan menuangkan isinya pada ketiga gelas tadi, sebelum akhirnya William menyimpan botol itu di atas meja dan kembali duduk di samping Helen.

"Jaga putriku Harry," William tersenyum sambil mengangkat gelasnya.

Harry bernafas lega, bahunya terlihat relaks dan ia membalas senyuman William dengan cengiran lebar. "Aku akan menjaganya Sir, terima kasih,"

"Aku percaya kau akan bisa menjaganya," tambah Helen.

"Dan Harry?"

"Ya sir?"

"Kau tau kan apa akibatnya jika kau menyakiti putriku?"

Senyum itu langsung luntur dari wajah Harry dan dengan wajah yang agak memucat, ia mengangguk kaku.

Helen mengulum senyum mengingat saat itu. Saat dimana ia yakin Harry akan menjadi bagian dari keluarganya, saat dimana ia membayangkan Harry dan Hermione mengunjungi mereka di hari Natal bersama anak-anak mereka. Saat dimana ia membayangkan semuanya akan sangat sempurna.

Semua itu hanya akan menjadi bayangan.

Ting Tong!

"Apa kau menunggu seseorang?" tanya William.

Helen menggeleng, "Tidak, aku tidak mengharapkan siapa pun datang hari ini,"

"Siapa yang kira-kira akan berkunjung di jam seperti ini?" William terlihat tidak senang karena jam istirahatnya terganggu.

Helen bangkit dari kursinya, "Aku akan melihat siapa yang datang,"

Helen sangat terkejut melihat siapa yang berada di balik pintu rumahnya. Seseorang, yang kedatangannya sangat ia nanti selama ini. Tanpa berpikir apa pun lagi, Helen langsung menghambur ke pelukan gadis di hadapannya dan memeluknya erat-erat.

"Mum! Aku tidak bisa bernafas!" protes Hermione.

Helen melepas pelukannya dan menyentuh kedua pipi Hermione dengan kedua tangannya. "Bagaimana kabarmu? Kau tidak apa-apa? Kenapa kau tidak menghubungiku selama ini? Apa kau tau aku dan ayahmu sangat khawatir?"

Hermione menghela nafas, "Aku sibuk, Mum. Kau tau itu,"

Helen mendengus, terlihat tidak puas dengan jawaban Hermione. "Sibuk? Selalu itu yang menjadi alasanmu. Aku tau, kau tidak sesibuk itu sampai-sampai tidak sempat menulis selembar surat singkat untuk kedua orangtuamu!" keluh Helen.

Hermione tersenyum kecil, "Aku minta maaf Mum,"

"Tidak apa-apa Hermione. Aku tau kau perlu waktu untuk—" Helen menghela nafas dan tersenyum kecil. Lalu Helen menyadari Hermione tidak datang sendirian. Seorang pria jangkung dengan rambut pirang pucat berdiri di belakangnya, menggendong seorang anak berambut biru yang Helen kenal sebagai Teddy Lupin, anak baptis Harry.

"Mrs Tonks menitipkan Teddy padaku untuk malam ini. Tadinya aku berencana menginap di umah Ron, tapi Ron menginap di The Burrow bersama Luna dan Teddy tidak begitu suka berada di The Burrow. Dan Mum tau flatku hanya memiliki satu kamar, jadi—"

"Tentu, Teddy bisa menginap di rumah ini. Kita bisa menggunakan kamar tamu dan kau bisa tidur di kamar lamamu," potong Helen.

Hermione menghela nafas lega dan kembali memeluk Helen sambil berbisik, "Terima kasih,"

"Tidak perlu berterima kasih Hermione. aku sudah menganggap Teddy sebagai keluarga,"

"Ah, Mum, kenalkan ini temanku, Draco Malfoy," Hermione mengenalkan pria yang sedari tadi berdiri di belakangnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Pria itu tersenyum kecil dan mengangguk, "Senang bertemu denganmu. Aku mau menjabat tanganmu tapi aku harus menggendong Teddy,"

"Tidak apa-apa. Ayo, sebaiknya kita biarkan kalian beristirahat sekarang,"

Helen membawa Hermione dan Draco ke sebuah kamar yang memang ditujukn sebagai kamar tamu. Kamar itu berada tepat di samping kamar lama Hermione. Draco membaringkan Teddy yang sudah tampak lelap di atas ranjang sebelum kembali mengikuti Helen dan Hermione ke ruang tengah.

William mengangkat kedua alisnya begitu melihat Draco, raut mukanya berubah serius dan waspada sambil sesekali melirik Hermione. Helen menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ekspresi William.

"Ini Draco Malfoy, teman Hermione," kata Helen.

Draco dan Hermione mengangkat kedua alisnya, ujung mata mereka melirik satu sama lain.

Draco berdeham sekali sebelum mengulurkan tangannya, "Senang bertemu denganmu Sir,"

William mengangguk dan membalas uluran tangannya, "Senang bertemu denganmu juga. Aku William Granger, ayah Hermione,"

Helen melongo. Hermione mengeluh keras, "Dad!"

Draco menelan ludah, "Umm—yeah—aku tau itu—er—Sir,"

Helen menepuk pundak William keras dan memberinya tatapan 'hentikan-tindakan-konyolmu-itu' yang membuat William nyengir polos dan kembali tenang dengan cangkir teh-nya. "Jangan hiraukan dia," ujar Helen. "Teh?"

Draco menggeleng, "Terima kasih, tapi aku harus pergi sekarang. Sudah larut," tolak Draco sopan.

William nyengir, "Benarkah? Teh ini enak sekali. Terbaik di Inggris," nada suara William terdengar riang, beda dengan sebelumnya yang cenderung tajam dan dingin.

"Tidak sir, aku benar-benar harus pergi sekarang,"

"Aku akan mengantar Draco ke depan," kata Hermione.

Draco mengangguk sekali lagi dan pamit pada William, yang terlihat senang melepas kepergian Draco, serta Helen, yang terlihat sedikit kecewa. Diam-diam Draco merasa geli melihat tingkah kedua orangtua Hermione.

.

Hermione menyisiri rambutnya yang masih agak basah secara perlahan sembari memperhatikan dirinya sendiri di hadapan cermin. Baju yang tadi siang dikenakannya sudah berganti dengan gaun tidur-nya yang nyaman.

Terdengar suara pintu diketuk tiga kali, disusul dengan suara pintu terbuka. Hermione berbalik perlahan dan mendapati ibunya berdiri di mulut pintu.

"Boleh aku masuk?" tanya Helen.

Hermione tersenyum, "Tentu," kemudian kembali asyik menyisiri rambut cokelat tebalnya. Rambut yang sama seperti rambut Helen.

Helen duduk di samping ranjang, memperhatikan putrinya. Ia tersenyum, putrinya kini sudah tumbuh menjadi seorang wanita yang anggun dan cantik.

"Ada apa Mum?" tanya Hermione setelah beberapa saat tenggelam dalam tenggelam pikiran masing-masing.

"Jadi, Draco itu..." Helen membiarkan kalimatnya menggantung.

Hermione menghela nafas, "Dia temanku selama sekolah juga teman Harry di Departemen Auror. Tidak ada hubungan apa pun di antara aku dan Draco, lagipula dia sudah bertunangan,"

"Bertunangan? Aku kecewa," Helen tersenyum kecil.

Hermione menyimpan sisirnya di atas meja rias dan berbalik menghadap Helen, ekspresinya terlihat serius. "Mum tidak mengharapkan sesuatu yang khusus antara aku dan Draco kan?"

"Tidak," Helen menggeleng mantap. Hermione terlihat lega melihatnya.

"Aku hanya berharap kau membuka hatimu untuk orang lain," lanjut Helen.

Senyum Hermione runtuh seketika, "Tidak semudah itu Mum," ia membuang muka.

"Harry sudah lama pergi, Hermione. Dia tidak akan kembali—"

"AKU TAU!"potong Hermione kasar.

Helen tersentak kaget, ia mengatupkan mulutnya. Ia memandang putrinya dengan ekspresi datar. Sementara Hermione tetap memalingkan wajahnya, tidak ingin Helen melihatnya di saat matanya berkaca-kaca seperti itu.

"Aku tidak memintamu untuk melupakan Harry, Hermione. Tapi jangan biarkan dirimu tenggelam dalam duka seperti ini terus menerus, coba untuk membuka hatimu untuk orang lain," bisik Helen lembut.

Hermione menarik nafas perlahan sambil memejamkan matanya, agar airmatanya tidak jatuh. "Aku tau," bisik Hermione dengan suara serak dan gemetar, "Aku hanya—aku—aku—tidak ada yang akan bisa menggantikan Harry,"

Helen tersenyum, ia bangkit dari ranjang dan berdiri di samping Hermione, mengelus rambutnya perlahan. "Tidak akan ada seorang pun yang bisa menggantikan Harry,"

"Tapi—tapi Mum memintaku—"

"Untuk membuka hatimu untuk orang lain, membiarkan seseorang memasukinya, memasuki hidupmu lagi. Seseorang yang akan membuatmu lebih hidup,"

Hermione menggeleng, "Aku tidak bisa—Harry—"

"Harry akan mengerti. Dia selalu ingin kau bahagia, dia tidak akan suka melihatmu seperti ini,"

"Tapi—"

"Bagaimana saat kecelakaan itu kau yang meninggal dan Harry hidup? Apa yang kau harapkan dari Harry jika itu yang terjadi?"

Nafas Hermione tertahan. Bagaimana jika dialah yang meninggal dan Harry yang hidup? Apa dia mau Harry terus menerus hidup sendirian? Tenggelam dalam kesedihan seperti dirinya dan menutup dirinya dari semua kemungkinan yang akan membuatnya bahagia?

"Aku—aku mau Harry tetap hidup, aku mau dia bahagia. Jika bersama orang lain bisa membuatnya bahagia, maka—" Hermione menggigit bibirnya.

Helen tersenyum, ia menunduk dan mengecup puncak kepala Hermione. "Lihat? Sekarang kau mengerti kan apa maksudku? Kau tidak perlu tergesa-gesa Hermione. Lakukan saja perlahan, selangkah demi selangkah,"

Helen memeluk Hermione singkat sebelum meninggalkan kamar Hermione dan menutup pintunya perlahan. Meninggalkan Hermione yang terdiam, termenung di kursi.

.

Hermione tidak bisa tidur malam itu, ia hanya berbaring di ranjang sambil menatap langit-langit kamar yang ia sihir agar menyerupai langit-langit di Aula Besar di Hogwarts. Hermione menyihir langit-langit itu setelah kelulusannya, saat ia menyadari ia akan sangat merindukan sekolahnya itu.

Pikiran Hermione mengelana pada kata-kata Helen beberapa jam yang lalu. Harry pasti menginginkannya bahagia, menginginkan Hermione melanjutkan hidupnya, bukan tenggelam dalam kesedihan dan kesendirian seperti ini terus menerus.

Tapi bagaimana? Hermione belum siap untuk melepas bayangan Harry sepenuhnya.

Helen mengatakan padanya agar tidak perlu terburu-buru dan melakukannya secara perlahan. Tapi Hermione tidak tau harus memulai dari mana. Dia ingin seseorang memberitaunya untuk memulai dari mana.

Hermione bangkit dari ranjang, mengambil jubah tidurnya dan membuka pintu menuju balkon kamarnya. Langit hitam bertaburkan bintang dan bermandikan cahaya bulan itu mengingatkan Hermione pada satu momen.

"Cantiknya. Bagaimana kau tau tempat seperti ini?" mata Hermione berbinar-binar melihat tempat yang Harry tunjukkan.

"Well, Bill memberitauku," ujar Harry sambil mengangkat bahu, ia meraih sandwich dan mengunyahnya.

Langit malam itu terlihat cerah, membuat bintang-bintang terlihat sangat jelas dan terlihat seakan menyatu dengan cahaya lampu dari perkotaan yang bisa Hermione lihat dengan jelas dari atas bukit. Cahaya bulan yang terang membuatnya semuanya terlihat lebih jelas. Harry membawanya pergi ke tempat itu untuk merayakan hari jadi mereka yang pertama.

"Ini sangat cantik," bisik Hermione lagi, meyandarkan kepalanya di bahu Harry.

Harry tersenyum, ia meraih dagu Hermione, "Kau lebih cantik,"

Wajah Hermione bersemu.

Harry terkekeh, "Aku serius Hermione, kau memang cantik,"

Hermione memukul bahu Harry pelan sambil mencibir, wajahnya terlihat semakin memerah, semakin mendekati warna rambut Ron.

Harry tersenyum, "Hermione..." bisiknya lembut dan mesra. Harry menggenggam tangan Hermione erat dan mendekatkan wajahnya ke wajah Hermione. Bibirnya menyapu lembut bibir Hermione.

Harry merasa senang ketika ia merasakan Hermione tersenyum.

Hermione tersenyum kecil. Kenangan itu masih terasa segar di ingatannya, bahkan Hermione masih bisa merasakan sentuhan Harry yang lembut.

Hermione menunduk. Matanya melihat sesuatu yang berkilau di jarinya. Ia mengangkat tangan kirinya dan nmelihat sebuah cincin melingkar di jari manisnya.

Cincin tunangan dari Harry.

Hermione kembali teringat kata-kata Helen. Coba untuk membuka hatimu Hermione kata-kata Helen itu terus terngiang di telinganya.

Dan pikiran Hermione tersentak.

Mungkinkah cincin ini bisa menjadi langkah pertamanya untuk mulai melanjutkan hidupnya? Untuk membuka hatinya?


tbc.

thank you for reading :)