Disclaimer: i own nothing but the plot and maybe, several OC's.
Remember
by nessh
Mistletoe In The Middle of Summer
Wanita itu duduk di bawah sebuah pohon dengan sebuah buku terbuka di pangkuannya, terlihat menikmati angin musim panas yang membelai lembut wajahnya hingga ia memejamkan matanya. Matahari menyinarinya melewati sela pepohonan, membuat suasana semakin tenang dan menyenangkan.
"Menikmati musim panas Hermione?"
Hermione tersenyum begitu merasakan seseorang duduk di sampingnya. Ia tidak perlu membuka mata untuk mengetahui siapa yang baru saja menghampirinya, Hermione langsung menyandarkan kepalanya di bahu orang itu. "Tentu saja. Hari ini adalah hari terakhir musim panas, hari yang tepat untuk bermalas-malasan, bukan begitu?"
Orang itu terkekeh, tubuhnya bergetar pelan karena tawanya. "Hermione Granger bermalas-malasan? Sepertinya aku akan mengabadikan memori ini dalam pensieve,"
Hermione membuka matanya dan ia menatap orang di sampingnya dengan sorot mata menggoda, "Aku mempelajarinya darimu Mr Potter,"
Harry nyengir, matanya berbinar, sesuatu yang rasanya sudah lama tidak Hermione lihat. "Aku senang akhirnya aku bisa mengajari sesuatu pada Miss Granger," gurau Harry.
Hermione memutar mata, membuat Harry tertawa lebih keras.
"Kau terlihat senang Mr Potter," ujar Hermione sambil mencibir.
Harry tersenyum lembut, ia menyelipkan rambut Hermione ke belakang telinganya lalu perlahan menyentuh pipinya. "Aku merindukanmu," bisiknya dengan nada yang belum pernah Hermione dengar sebelumnya.
Hermione menelengkan kepalanya ke kiri, terlihat bingung.
Harry mengecup kening Hermione lama sebelum berbisik, "Teruslah hidup Hermione,"
Dahi Hermione berkerut, "Ap—"
"Hermione!"
Hermione menoleh dan melihat gadis berambut merah terang melambai-lambai padanya sambil terus memanggil namanya. Hermione melambai sekali sebelum kembali menoleh ke arah kanannya.
Tapi Harry tidak ada di sana. Hanya sebuah golden snitch yang terbaring di sampingnya.
.
"Hermione! Hermione! Bangun!"
Hermione mengeluh pelan, lalu mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha memfokuskan matanya dan melihat siapa yang sejak tadi berusaha membangunkannya. Dan Hermione kembali mengeluh begitu menyadari siapa yang ada di depannya.
Ginny Weasley terus mengguncang tubuh Hermione dengan senyum lebar yang terus menerus menghiasi wajahnya. "Oh ayolah Hermione! aku tau kau sudah bangun!" kata Ginny dengan semangat.
Hermione mengerang dan menggumam tidak jelas.
Ginny memutar mata, "Sejak kapan Hermione Granger bermalas-malasan seperti ini? Demi Merlin Hermione ini sudah hampir tengah hari!"
Hermione menguap, "Jadi? Ini musim panas Ginny, semua orang bangun terlambat di musim panas. Lagipula, semalam aku sibuk menyiapkan bahan untuk mengajar nanti. Aku lelah, jadi maukah kau membiarkanku tidur lagi dan kembali ke sini nanti malam?" Hermione menggeliat dan menutup kepalanya dengan bantal.
Ginny mendengus kesal. "Oh Hermione! aku sudah jauh-jauh ke sini! Apa kau tega mengusirku?"
Hermione hanya menggumam tidak jelas.
"Aku akan menikah Hermione," ujar Ginny akhirnya dengan harapan Hermione akan bangun dan mulai mendengarkannya.
Tapi Hermione hanya menurunkan bantalnya, menatap Ginny sejenak lalu berkata, "Selamat. Semoga kau dan Neville berbahagia," dan kembali menutup wajahnya dengan bantal.
Ginny memutar matanya dan menarik paksa bantal yang menutupi wajah Hermione lalu melemparnya ke seberang ruangan. "Aku akan menikah dalam dua minggu! Jadi, maukah kau mengangkat pantatmu dari ranjang dan membantuku memilih gaun?"
Hermione menggeliat dan memandang Ginny dengan ekspresi malas. Ia lalu bangkit dari ranjang dan mengambil langkah menuju kamar mandi, kemudian menutup pintunya. "Apa dua minggu tidak terlalu cepat?" sahut Hermione dari dalam kamar mandi.
"Rencana awalnya kami akan menikah di bulan Desember, tapi aku ingin kami menikah sebelum bayi kami lahir," jawab Ginny ringan sambil mengambil sebuah buku yang terbaring di sudut ranjang. Buku Kumpulan Mantra Sederhana, khas Hermione, Ginny mengangkat bahu sebelum menyimpannya lagi di tempat ia menemukannya.
Terdengar suara air disusul dengan pintu kamar mandi yang terbuka lebar, dengan Hermione berdiri di belakangnya. Terlihat bingung dan tidak yakin, "Bayi? Kau hamil?"
Ginny nyengir lalu mengangguk dengan semangat.
Hermione memekik girang lalu segera menghampiri Ginny, memeluknya erat-erat. "Selamat Ginny! Merlin, aku ikut bahagia untukmu!"
"Hermione! kau akan meremukkanku!" pekik Ginny.
Hermione tertawa ringan sambil melepas pelukannya, "Sudah berapa lama kau merencanakan semua ini?"
Cengiran di wajah Ginny memudar sesaat, ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan memandang Hermione ragu-ragu.
"Oke, aku tau ekspresi itu. Apa yang kau sembunyikan dariku Ginevra?" tanya Hermione dengan nada tajam sembari melipat kedua tangannya di dada.
Ginny terlihat semakin ragu, ia bahkan meringsek mundur menjauhi Hermione, "Well, sebenarnya—" Ginny kembali menggaruk kepalanya.
"Sebenarnya?" tuntut Hermione.
Ginny menghela nafas, "Sebenarnya—" ia melirik Hermione sekali "—sebenarnya Neville dan aku sudah bertunangan hampir setahun. Tolong jangan marah padaku!" tambah Ginny cepat-cepat, mengatupkan kedua tangannya dengan gestur memohon.
Hermione mengangkat telunjuknya, "Tunggu. Jadi selama hampir setahun ini, kau dan Neville menyembunyikan ini dariku? Dari keluargamu?"
Ginny terlihat semakin salah tingkah, "Sebenarnya Mum dan Dad tau. Juga Bill dan Fleur. Juga Charlie. Juga George, Angelina—"
"Tunggu!" potong Hermione, "Jadi akulah satu-satunya orang yang tidak tau tentang ini,"
Ginny menggeleng mantap, "Kau dan Ron. Luna sudah lama tau, aku tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Luna atau pun Mum. Kau tau mereka, bahkan jika bukan karena Mum, Dad dan yang lainnya tidak akan tau tentang semua ini,"
Hermione menyandarkan punggungnya, "Lalu kalian menyembunyikannya? Tidak ada seorang pun yang menentang hubungan kalian. Ron bahkan senang kau memilih Neville, dia pria yang baik,"
"Kami tidak berniat menyembunyikannya. Ketika Neville melamarku akhir bulan Agustus tahun lalu dan—dan—apa kau ingat undangan dariku September tahun lalu?" Ginny terlihat tidak nyaman.
Hermione mengangguk, "Tentu aku ingat, kau mengundangku dan Harry ke—oh,"
Hermione kini mengerti kenapa Ginny menyimpan hal ini. Ia ingat ketika Ginny mengundangnya dan Harry ke The Burrow untuk berakhir pekan di sana, tapi kecelakaan itu tidak hanya membuat Hermione lupa akan undangan Ginny, tapi juga membuat Ginny dan Neville menyembunyikan hubungan mereka. Hanya karena mereka menunggu Hermione merasa lebih baik.
"Aku minta maaf Gin, kalian tidak seharusnya—karena aku kalian—"
Ginny menggeleng, "Tidak Hermione. Ini bukan salahmu. Kepergian Harry tidak hanya berat untukmu, tapi untuk kami semua," Ginny tersenyum sedih, "Aku kehilangan seorang kakak lagi,"
Hermione terdiam. Keheningan menghinggapi mereka.
Dengan cepat Ginny merubah ekspresinya, cengiran lebar kembali mengembang dan setengah memaksa ia menarik lengan Hermione. "Ayo Hermione, Mum menunggumu di The Burrow. Banyak sekali yang harus kita siapkan untuk pernikahanku!"
Sebelum Hermione sempat protes, Ginny sudah meng-apparate-kan mereka ke The Burrow.
.
The Burrow sangat ramai hari ini. Ginny bilang Molly meminta semua orang berkumpul. Bahkan Charlie akan datang dari Rumania besok, bersama pacarnya, Marie.
Molly dan Arthur menyambut Hermione dengan hangat, Molly bahkan menegurnya karena Hermione sudah jarang sekali datang ke The Burrow. Hermione hanya tersenyum dan meminta maaf untuk itu sekaligus berjanji untuk lebih sering berkunjung ke sana. Bill, Fleur dan putri kecil mereka Victoire juga terlihat senang melihat Hermione lagi, bahkan Victoire tidak mau melepaskan kedua tangan mungilnya dari baju Hermione. Tidak banyak hal yang berubah di The Burrow. Semua tetap sama seperti dulu, hanya saja kehadiran Victoire dan putri kecil Percy, Molly, membuat suasana semakin ramai.
"Ini sih terlalu ramai," keluh Luna, yang terbaring di atas sofa. Ron yang sedang memijiti kaki Luna hanya nyengir polos pada Hermione.
Hermione tersenyum geli, "Sampai kapan pun keluarga Weasley akan selalu ramai. Aku kira kau sudah siap dengan resiko itu ketika kau menikahi Ron,"
Luna memutar matanya, "Aku tau itu. Aku selalu ingin keluarga yang ramai, tapi akhir-akhir ini aku tidak tahan dengan suara berisik,"
Ron mengangkat bahu dan mulutnya menggumamkan kata 'pengaruh hormon' tanpa suara. Lirikan tajam dari Luna membuat Ron memalingkan wajahnya, berpura-pura tidak tau. Hermione harus menggigit bibirnya agar tidak tertawa.
"George Weasley! Apa yang kau lakukan?"
Ron, Hermione dan Luna mendongak, mencari-cari asal suara.
"George dan Angelina. Lagi," gumam Ron.
Terdengar suara Angelina dan George bersahutan, saling membantah satu sama lain. Jelas terdengar bahwa Angelina kesal karena sesuatu yang George lakukan dan George berusaha menjelaskan bahwa itu hanya kecelakaan dan dia akan segera membereskan keadaan. Tidak lama kemudian, Angelina muncul di ruang tengah, menggerutu.
"Hati-hati, George baru saja melepaskan mistletoe dengan 'tidak sengaja'," kata Angelina dengan kedua tangannya membentuk tanda kutip.
"Aku memang tidak sengaja! Tadinya itu akan kupasang di rumah Ginny yang baru nanti dan di sini saat natal!" sahut George dari ruangan sebelah.
"Hei! Apa yang kau bilang mau kau pasang di rumahku heh?" disusul teriakan dari Ginny.
"George! Berapa kali harus kukatakan agar tidak membawa barang-barang aneh dari tokomu ke rumah!" dan Molly.
George mengeluh keras, "Kenapa semua orang selalu menyalahkanku?"
"Karena itu memang salahmu!" seru Angelina, Ginny dan Molly.
Hermione dan Ron tidak bisa menahan tawa mereka. Keduanya tertawa keras sambil memegang perut masing-masing. Luna menggeleng-geleng tapi tetap tersenyum geli.
Percy muncul dari lantai atas, masih mengenakan piyamanya dan terlihat tidak terlalu senang. Wajahnya terlihat kusut dan cemberut. "Pagi-pagi sudah berisik," gerutu Percy sambil melangkah ke dapur.
"Percy, ini sudah lewat tengah hari," kata Bill yang kebetulan melewati mereka.
Percy melambaikan tangannya terlihat tidak peduli.
Bill menggeleng-geleng, lalu menoleh pada Ron. "Hey Ron, Oliver ada di depan,"
Ron mengangguk dan perlahan menurunkan kaki Luna dari pangkuannya. Baru saja Ron bangkit dari kursinya, Luna mulai memanggilnya.
"Ron, aku mau es krim cokelat," ujar Luna.
Ron menghela nafas, "Tapi aku harus ke—"
"Aku mau itu sekarang! Dan aku mau kau yang membelinya!" Luna bersikeras. Hormon kehamilannya sepertinya sudah benar-benar menguasainya.
Ron melirik Hermione, meminta bantuan.
Hermione tersenyum, "Kenapa kau tidak membelikan eskrim untuk Luna dulu. Aku akan menemani Oliver,"
Ron mengangguk sebelum kembali menoleh pada Luna, "Baiklah, aku akan kembali di sepuluh menit. Kurang lebih,"
Luna sempat menyerukan satu hal lagi tepat sebelum Ron ber-Apparate, "Belikan aku tiga!"
.
Tujuan Oliver Wood datang ke The Burrow adalah karena ia tidak bisa menemukan Ron di rumahnya. Pelatih mereka memberi instruksi kepada Oliver, sebagai kapten, untuk memberi tau tentang latihan mendadak yang pelatih mereka berikan. Sebenarnya Oliver bisa saja memberitau hal itu lewat burung hantu, seperti yang ia lakukan pada rekan timnya yang lain. Tapi entah kenapa ia ingin memberitau Ron sendiri, sekaligus mengajak Ron minum untuk membahas hal-hal lainnya.
Begitu melihat Hermione yang muncul dari balik pintu, bukannya kecewa karena bukan Ron yang muncul, Oliver malah tersenyum lebar dan berseri-seri.
"Ron akan segera kembali, hormon Luna kembali membuat Ron kalang kabut," kata Hermione sambil menghempaskan dirinya di kursi kayu panjang yang Oliver duduki.
Oliver bergeser sedikit, memberi ruang lebih lebar untuk Hermione. "Tidak apa-apa. Sebenarnya kedatanganku hari ini tidak begitu penting,"
"Kalau tidak begitu penting, kenapa kau sampai repot-repot datang kemari?"
Oliver mengangkat bahu, "Aku tidak tau. Aku hanya mengikuti perasaanku," Oliver menelengkan kepalanya sedikit, nyengir jahil pada Hermione. "Mungkin perasaanku mengarahkanku padamu,"
Wajah Hermione sedikit bersemu, ia menggelengkan kepalanya. "Lelucon yang bagus Mr Wood,"
Oliver terkekeh, "Aku tidak mengatakan bahwa itu lelucon bukan Miss Granger,"
Hermione mendengus, wajahnya terlihat semakin memerah. Hermione memalingkan muka, membuat senyum Oliver mengembang lebih lebar.
Pintu terbuka dan terlihat kepala Ginny melongo dari dalam The Burrow. "Ah ternyata kau di situ Hermione. Boleh aku minta tolong?" mata Ginny menangkap sosok Oliver, lalu ia menambahkan dengan cepat. "Kalau kau tidak sedang sibuk tentunya,"
Hermione menggeleng, "Aku tidak sibuk. Ada apa?"
Ginny menghela nafas lega, "Aku, Mum, Fleur dan Marie sedang mencari-cari kamera muggle Dad. Aku sudah meminta Bill dan Percy mencari di loteng. George dan Angelina bertengkar, lagi. Aku tidak mungkin meminta tolong pada Luna, jadi maukah kau membantuku mencari kamera di garasi? Kurasa Dad juga berada di sana," jelas Ginny panjang lebar.
Hermione mengangguk, "Tentu," jawabnya.
Ginny tersenyum lebar, "Terima kasih Hermione. Kau yang terbaik," ucapnya sebelum kembali ke dalam The Burrow.
"Kurasa aku harus pergi sekarang," gumam Hermione sambil bangkit dari kursi.
Tidak disangka Oliver juga ikut bangkit. "Aku akan membantumu,"
"Ron akan kembali tidak lama lagi. Kenapa kau tidak menunggunya saja di sini?"
"Kau yakin dia akan kembali sesegera mungkin? Dengan hormon Luna yang seperti itu?" tantang Oliver.
Hermione terdiam sejenak sebelum menggeleng mantap, "Tidak. Tidak mungkin,"
Oliver tersenyum, "Iya kan? Jadi biarkan aku membantumu,"
Hermione melambaikan tangannya, "Terserah padamu," ujarnya sambil melangkah pergi, dengan Oliver mengikuti tidak jauh di belakangnya.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan apa yang mereka cari. Kamera itu tergeletak di salah satu sudut garasi, sepertinya belum lama Arthur menyimpannya di situ. Terlihat dari kondisi kamera yang masih sangat bagus dan bersih. Oliver dan Hermione meneliti sekaligus mengagumi kamera tersebut yang walau sudah terlihat tua tapi tetap terawat dan masih bisa di gunakan dengan baik.
"Arthur memang bisa merawat barang dengan sangat baik," kata Oliver sambil memutar-mutar kameranya, tapi tetap tidak menemukan satu cacat pun.
Hermione tersenyum, "Itu benar. Sayang sekali Ron tidak mewarisi sifat Arthur itu,"
Keduanya tertawa geli.
"Kau benar," kata Oliver di sela tawanya. "Jangan sampai Ron mendengar kita membicarakannya seperti ini,"
Hermione terkikik, "Tentu tidak akan. Ini akan menjadi rahasia kita,"
Oliver tertawa lagi, "Sebaiknya kita pergi sekarang. Mungkin Ron sudah kembali sekarang,"
Hermione mengangguk. Tetapi entah kenapa, baik kaki Oliver mau pun kaki Hermione tidak bisa digerakkan.
"Ada apa ini? kenapa kakiku tidak bisa digerakkan?" tanya Hermione, agak panik.
Oliver terlihat sama bingungnya dengan Hermione, "Aku tidak tau. Aku—" Oliver mendadak diam.
"Ada apa?" tanya Hermione.
Mata Oliver tidak lagi tertuju pada Hermione atau kaki mereka yang tiba-tiba kaku, tapi pada langit-langit garasi. Perasaan Hermione mulai tidak enak. Perlahan, ia mengikuti arah pandangan Oliver. Mata Hermione membulat melihat sebuah mistletoe menjulur menaungi mereka berdua.
"Oh merlin," bisik Hermione, sadar bahwa itu adalah mistletoe yang 'tidak sengaja' George lepas tadi siang. George pasti tidak akan membuat mistletoe biasa saja dan itu pasti yang membuat kakinya serta kaki Oliver sulit digerakkan.
"Mistletoe di pertengahan musim panas?" gumam Oliver tidak percaya.
Hermione menghela nafas, "George," gumamnya setengah mengeluh.
Oliver menatap Hermione dengan kedua alis terangkat, "Apa itu yang membuat kaki kita tidak bisa digerakkan?"
Hermione mengeluh lagi, "Kau tau George. Dia tidak mungkin membuat mistletoe biasa. Ini pasti salah satu barang Sihir Sakti Weasley-nya yang baru,"
"Jadi, apa itu berarti kita akan terus berdiri di sini sampai—kau tau,"
Kali ini kedua alis Hermione yang terangkat. Oh tentu, berciuman di bawah mistletoe sepertinya menjadi satu-satunya cara untuk lolos dari tempat mereka berdiri sekarang. Lagipula, kaki Hermione sudah mulai kram karena berdiri di tempat dan dalam posisi yang sama untuk beberapa lama.
Tapi, mencium Oliver? Hermione merasa ragu.
"Kau tidak perlu melakukannya kalau ragu," kata Oliver seakan bisa membaca pikiran Hermione.
Hermione melipat kedua tangannya di dada, "Lalu bagaimana kita bisa lolos dari sini?"
Dahi Oliver berkerut dalam. Setelah beberapa lama berpikir akhirnya ia menggeleng-geleng, "Aku sama sekali tidak tau,"
Keduanya menghela nafas.
"Kurasa kita harus," bisik Hermione.
Oliver mengangguk setuju.
"Dan sebaiknya kita melakukannya dengan cepat,"
Oliver mengangguk lagi. "Tunggu. Dengan cepat?"
"Satu kecupan cukup kan?"
"Kurasa begitu," gumam Oliver, terlihat sedikit kecewa.
Mata Hermione dan Oliver bertemu, mereka saling menatap cukup lama. Oliver berpikir, mata Hermione begitu indah, tidak heran Harry bisa jatuh cinta padanya. Oliver menggeleng pelan, menyingkirkan pikiran-pikiran tentang dirinya dan Hermione yang muncul begitu saja di benaknya.
"Ada apa Oliver?"
Oliver tersadar lalu tersenyum kecil pada Hermione. "Tidak ada apa-apa," ia berdeham sekali, "Jadi, apa kau yakin?" tanya Oliver perlahan.
Wajah Hermione bersemu, lalu ia mengangguk tanpa berkata apa pun lagi. itu cukup untuk Oliver. Ia hanya ingin Hermione merasa yakin.
Perlahan namun pasti, Oliver mendekatkan wajahnya ke wajah Hermione. Hermione menarik nafas panjang kemudian menutup matanya. Ia menahan nafasnya ketika merasakan bibir Oliver menyapu bibirnya dengan lembut. Sudah sangat lama sejak terakhir kali Hermione merasakan seseorang berada sedekat itu dengannya, seintim itu.
Tanpa Oliver maupun Hermione sadari, keduanya tenggelam dalam suasana itu. Sampai...
"Hermione? Oliver? Her—whooaaa!"
Oliver dan Hermione melompat menjauh. Keduanya mendapati Draco Malfoy berdiri di pintu garasi yang setengah terbuka dengan mata membulat dan mulut menganga.
a/n: huaaaa. kayanya udah lamaaaa banget ya sejak terakhir kali aku update. maaf banget yaa, cuma kesibukan semester ini memang berkali lipat dari semester-semester sebelumnya, jadi untuk ke depannya pun sepertinya aku bakal jarang banget update. setidaknya sampai sekitar bulan desember. sekali lagi, aku minta maaf yaa.
