Disclaimer : i own nothing but the plot.

a/n : wuaaaahhh udah lama banget ya sejak terakhir kali aku upload chapter baru di fic ini dan fic yang lainnya. aku tau, terlalu lama bahkan ya. hahaha. maaf banget ya, tapi untunglah udah masuk bulan desember, waktunya untuk menyelesaikan semua fic yang tertunda selama ini. semoga aja yaaaaaaaa bisa selesai dalam waktu sebulan ini, mohon doanya deh. hehehe. terima kasih buat kalian yang masih mengikuti fic ini. makasiiiiiiihh banget udah mau nunggu lama-lama :"))

anyway, review tetep sangat diterima bahkan sangat di sarankan. no pressure :P


Remember

by nessh


The Wedding


Bagi Draco Malfoy yang dulu, dimintai tolong (atau dalam kosakata Draco; disuruh) untuk mengecek Oliver Wood dan Hermione Granger yang sedang mencari kamera di garasi oleh seorang Weasley (cewek pula!) akan sangat memalukan dan itu akan membuat Lucius murka. Tapi bagi Draco Malfoy yang sekarang, tidak ada salahnya membantu teman, bukan begitu? Lagipula, Draco berhutang banyak pada mereka, terutama pada Harry.

Draco menghela nafas. Dia kehilangan sosok Harry, ia dan Hermione adalah satu-satunya orang yang percaya Draco tidak bersalah sejak awal. Harry, karena dia percaya pada Dumbledore yang mengatakan bahwa Draco 'belum ternodai' dan Hermione, karena ia percaya pada Harry. Keluarga Weasley menerimanya karena mereka percaya dengan Harry dan Hermione. ah sudahlah.

Begitu ia dan Astoria sampai di The Burrow, Ginny langsung meminta Astoria membantunya membongkar tumpukan kardus berisi berbagai macam hal tentang pernikahan dan meminta Draco mencari Hermione. Tentu, Draco lebih senang diminta mencari Hermione daripada membicarakan detail-detail pernikahan seperti itu. Yuck! Draco segera keluar dari The Burrow sebelum Ginny memintanya melakukan sesuatu yang lain atau sebelum Ron menyeretnya pada Luna yang saat ini sedang dikuasai hormonnya.

Ngomong-ngomong soal Ron dan Luna. Draco tidak percaya ketika mendengar dari Harry bahwa mereka akan menikah. Ya, Draco mengira dia akan berakhir dengan Hermione atau dengan—siapa gadis Gryffindor yang terus menempel pada Ron sewaktu mereka kelas enam? Ah ya, Lavender Brown. Dan Harry akan berakhir dengan Ginny atau Cho Chang. Takdir memang tidak bisa ditebak. Tiba-tiba saja Ron tertarik dengan Luna dan Harry menaruh hatinya pada Hermione.

Harry dan Hermione, pikir Draco. Ia tertawa pelan. Selama ini mereka selalu menyangkal jika seseorang menanyakan apa hubungan lebih dari seorang teman. Draco mengakui mereka memang cocok satu sama lain, ia sempat menjahili Harry selama beberapa hari setelah mereka mengumumkan hubungan mereka. Di depan publik. Ya, di depan publik, saat Harry, Ron dan Hermione menerima penghargaan Order of Merlin mereka dari kementrian.

Draco tersenyum, ia merindukan saat itu.

Ada satu hal yang mengganggu pikiran Draco saat ini. Mendengar Hermione dan Oliver berada di garasi, berdua saja, dalam waktu yang lama. Entah kenapa itu sangat mengganggunya. Ada apa? Mungkin itu karena Draco merasa ia harus menjaga Hermione setelah apa yang terjadi pada Harry, mungkin karena itu. Atau ada alasan lain? Kalau pun ada, apa itu? Draco sendiri tidak tau.

Draco mengetuk pintu garasi tiga kali sambil menyerukan nama kedua teman Gryffindornya. "Hermione? Oliver? Kalian di dalam?" seru Draco. Tapi tidak terdengar jawaban. Draco kembali mengetuk pintu, tidak terdengar apapun.

Draco membuka pintu itu perlahan dan melongokan kepalanya ke dalam garasi, "Hermione? Oliver? Her—whooaa!"

Pemandangan di depan Draco benar-benar di luar dugaan.

Hermione dan Oliver segera melompat menjauhi satu sama lain. Wajah keduanya memerah dan nafas mereka tersengal-sengal, rambut Hermione terlihat berantakan, begitu pula dengan rambut Oliver.

"Umm—hey—Draco," sapa Hermione agak kikuk tanpa berani menatap mata Draco.

Draco hanya berdiri di depan pintu garasi dan memandang kedua orang di hadapannya tanpa ekspresi. Ia terlalu shock untuk bereaksi lebih jauh. "Ginny menanyakan kamera," gumam Draco tanpa mengalihkan tatapannya dari Hermione serta Oliver.

"Oh. Umm—yeah, kami sudah menemukannya," ujar Hermione cepat-cepat sambil menyambar kamera yang ia dan Oliver temukan dari atas meja dan tanpa banyak bicara segera pergi melewati Draco untuk kembali ke The Burrow.

Ujung mata Draco mengikuti gerak-gerik Hermione sampai Hermione melewatinya, lalu matanya beralih pada Oliver. Ekspresinya saat itu langsung berubah. Tatapannya menjadi tajam, raut wajahnya terlihat agak garang dan perasaan tidak suka Draco tergambar dengan jelas tanpa ia sendiri sadari. Cukup lama ia berdiri di sana dan menatap Oliver dengan ekspresi seperti itu, hingga akhirnya ia berbalik dan tanpa berkata satu patah kata pun, meninggalkan Oliver.

Merlin, pikir Draco, apa yang baru saja kulihat? Well, sepertinya Hermione sudah menemukan seseorang yang baru. Yah, sudah hampir setahun dari kepergian Harry, tentu, sudah waktunya. Tapi—apa yang kurasakan ini?

Lamunan Draco terhenti tepat ketika ia menabrak sebuah tiang. "Tiang sialan, menghalangi jalanku," gerutu Draco.

.

Tanpa terasa dua minggu berlalu sudah. Musim panas hampir berakhir, tapi itu tetap tidak mengurangi teriknya sinar matahari sore itu. Hermione melihat George, dibantu oleh Percy dan Charlie, menaikkan tenda di halaman The Burrow untuk pernikahan adik perempuan mereka, Ginny Weasley dengan Neville Longbottom.

"Apa semua bunganya sudah datang? Bagaimana dengan tenda? Meja dan kursi? Dekorasinya? Kita tidak salah mengirim undangan kan? Lalu lalu, bagaimana dengan gaunku? Tidak ada noda atau sobek kan? Oh! Bagaimana dengan makanannya? Apa Mum sudah memastikan porsinya cukup untuk semua tamu undangan? Ngomon-ngomong, bagaimana kalau salah satu dari kalian mengecek keadaan Neville, memastikan dia utuh dan berada di altar saat Dad mengantarku nanti. Oh ngomong-ngomong soal Dad—"

Hermione berusaha menahan tawanya, "Tenang Ginny," ia menyentuh bahu Ginny dan memaksanya untuk duduk di sebuah kursi di depan cermin. Dengan lembut, ia mulai menyisiri rambut merah Ginny dan menatanya dengan baik. "Aku yakin semuanya akan baik-baik saja," tambah Hermione.

Luna tersenyum, ia tau persis bagaimana perasaan Ginny saat ini. Ia sudah pernah melewatinya dengan baik. "Hermione benar. Sebaiknya kau bersantai sedikit,"

Fleur mengangguk setuju, "Semuanya baik-baik saja, bahkan sempurna. Bunga, dekorasi, semuanya sempurna. Yang perlu kau lakukan sekarang hanyalah tampil secantik mungkin sampai Neville tidak mengenalimu lagi,"

Ginny tertawa pelan, bahunya yang tadi menegang kini terlihat lebih relaks. "Terima kasih. Tapi aku masih khawatir dengan Neville," akunya sambil menghela nafas pelan.

Hermione selesai menata rambut Ginny, ia mengusap bahu Ginny sekali. "Kau mau aku mengecek keadaan Neville?"

Ginny mengangguk, "Ya, tentu. Pastikan dia tidak kabur, Hermione,"

Hermione tertawa pelan dan berkata bahwa ia akan mengikat Neville di altar jika perlu agar ia tidak kabur. Lalu ia keluar dari kamar Ginny dan berjalan ke kamar Ron yang berada satu lantai di bawah kamar Ginny.

Hermione mengetuk pintu beberapa kali sebelum pintu tersebut akhirnya terbuka dan sosok Ronald Weasley terlihat dari balik pintu, sudah siap dengan tuksedonya. Ron tersenyum melihat Hermione.

"Hermione! Kau terlihat cantik saat ini," puji Ron dengan cengiran khasnya menghiasi wajahnya, "Ah well, kau selalu terlihat cantik,"

"Geez Ron. Apa kau sudah melupakan Luna?" sahut sebuah suara dari balik punggung Ron, Hermione mengenali suara itu. Dean Thomas.

Hermione terkikik, "Boleh aku masuk?"

"Tentu Hermione, masuklah," sahut Neville.

Ron mempersilahkan Hermione masuk dengan gestur yang agak berlebihan dan membuat Hermione memutar matanya. Ia lalu mengambil sebuah gelas dan mengisinya dengan Wine, "Wine, selalu bagus untuk menyingkirkan perasaan gugup," ujarnya sambil meresap wine-nya.

"Pastikan kau tidak mabuk setidaknya sampai upacara selesai," kata Neville.

Ron terkekeh, "Tentu tidak. Ginny akan membunuhku kalau aku mabuk,"

Neville memutar mata dan mengalihkan tatapannya pada Hermione, "Apa ada sesuatu dengan Ginny?" tanya Neville, terlihat sedikit khawatir.

Hermione menggeleng, "Tidak ada masalah dengan Ginny, selain kepanikan yang sebenarnya wajar dialami semua pengantin perempuan. Aku kemari hanya untuk mengecek keadaan kalian," Hermione mendelik pada Ron, "Ternyata bukan Neville yang harus aku khawatirkan,"

Dean nyengir, ia berbisik pada Hermione, "Kurasa sebenarnya Ron tidak rela adiknya menikah. Dia hanya tidak mau mengakuinya,"

Hermione tertawa, Neville yang juga mendengarnya terkekeh. Hanya Ron yang tidak sadar bahwa dirinyalah yang dibicarakan.

"Apa?" tanya Ron.

"Tidak ada apa-apa," sahut Hermione, Neville dan Dean bersamaan.

Hermione melihat Neville sekali lagi. Dia terlihat gugup, tapi tetap tenang dan yang pasti tidak akan melakukan hal bodoh seperti tiba-tiba menghilang. Neville merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru, lalu sebuah senyuman perlahan menghiasi wajahnya.

Dan Hermione yakin, tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan.

.

Setelah upacara dilewati tanpa halangan apapun (selain Ginny yang histeris karena sesuatu yang tidak beralasan), akhirnya Hermione bisa duduk dengan tenang bersama dengan minumannya. Sambil mengamati Ginny (yang sudah tenang) bersama suaminya Neville. Hermione ikut senang untuk kedua teman dekatnya ini, sayang Draco tidak bisa datang karena pekerjaannya dan melihat kebahagiaan teman-temannya, Astoria juga sedang sangat sibuk mengurusi pestanya sendiri yang sebenarnya masih sangat lama.

"Pesta yang menyenangkan ya," kata Oliver yang entah sejak kapan mengambil tempat di samping Hermione.

Hermione tersenyum kikuk, sejak ciuman itu ia selalu menghindari Oliver. Sesuatu yang menurut Ron sangat tidak beralasan, "Dia pria yang baik. Kalau kau mulai berkencan lagi dan memilih Oliver, aku akan sangat senang," itu pengakuan Ron beberapa hari yang lalu saat ia bertanya kenapa Hermione menghindari Oliver.

Lagu berganti, banyak orang kembali membawa pasangannya ke lantai dansa, termasuk Neville dan Ginny, Ron dan Luna (walau Ron terlihat kurang suka) juga George dan Angelina (Angelina terlihat cemberut).

Oliver berdeham, "Ehem Hermione, maukah kau berdansa denganku?"

Hermione agak ragu dan suara Helen Granger kembali bergema di telinganya, "Cobalah buka hatimu untuk orang lain,"

Aku tidak ingin menggantikan Harry dengan siapapun.

Apa yang kau inginkan jika Harry-lah yang tetap hidup?

Geez, thanks Mum.

Hermione menghela nafas pelan dan tersenyum, "Tentu Oliver," ia membalas uluran tangan Oliver, yang langsung tersenyum lebar dan menggiring Hermione ke lantai dansa.

My heart was wrapped up in clovers

The night I look at you

Hermione tersenyum saat Oliver membawanya bergerak mengikuti irama lagu. Ternyata Oliver bisa berdansa dengan sangat baik, Hermione baru mengetahui hal itu. Oliver terus tersenyum dan menatap Hermione, namun ia tidak mengatakan apapun, hanya tersenyum dan berdansa.

I found a dream that I could speak to

A dream that I can call my own

Ron tersenyum melihat sahabatnya dan Oliver, sudah waktunya untuk melupakan—tidak, bukan melupakan, tapi menemukan seseorang yang bisa membuatnya hidup kembali, membuatnya kembali tertawa dan tersenyum seperti dulu. Mungkin Oliver adalah orang yang bisa membuatnya kembali. Ron memeluk Luna semakin erat yah walau tidak bisa terlalu erat, Ron tidak ingin membuat Luna dan bayi mereka terluka. Untuk pertama kalinya setelah beberapa lama, ia benar-benar merasa tenang.

I found a thrill to rest my cheek to

A thrill that I have never known

Oh, yeah when you smile, you smile

Oh, and then the spell was cast

Oliver memutar tubuh Hermione dan menariknya kembali ke dalam pelukannya, agak terlalu keras sehingga Hermione menabrak Oliver keras. "Oh, maaf," kata mereka berdua bersamaan. Oliver dan Hermione saling berpandangan sebelum keduanya tertawa lepas.

"Sepertinya kita terlalu terbawa suasana," kata Hermione, senyuman lebar menghiasi wajahnya.

Oliver nyengir, "Tidak apa-apalah. Lagipula ini memang waktu yang tepat untuk tenggelam dalam musik dan terus berdansa sampai pagi menjelang,"

"Kurasa kakiku tidak akan tahan selama itu Olie,"

"Kau benar," Oliver kembali menyelipkan tangannya ke pinggang Hermione, menariknya mendekat, sementara Hermione mengalungkan kedua tangannya di leher Oliver. Mereka kembali terdiam dan berdansa.

"Hermione?"

"Hmm?"

"Aku minta maaf,"

"Untuk apa?"

Wajah Oliver memerah, "Untuk menciummu. Di garasi,"

Wajah Hermione ikut bersemu, "Oh. Itu kecelakaan. Mistletoe," bisik Hermione.

Oliver mengangguk kaku, ia menatap mata Hermione dalam. "Aku menyukaimu," kata Oliver kemudian.

Hermione terdiam, kedua alisnya terangkat.

"Aku tidak mengharapkanmu menyukaiku seperti kau menyukai Harry tentunya. Tapi—tapi aku ingin kau memberiku kesempatan, untuk menyayangimu, untuk menyentuh hatimu lagi. Berikan aku kesempatan itu Hermione dan aku berjanji aku tidak akan mendesakmu untuk menyukaiku. Maukah kau memberikan kesempatan itu padaku?"

Oliver sudah memikirkan tentang ini sejak lama, tapi sikap Hermione yang menutup dirinya dari siapapun selalu membuatnya mundur. Tapi setelah ciuman di garasi itu, ia menyadari, ia menginginkan Hermione lebih dari seorang teman. Oliver tau, ia tidak akan bisa menggantikan Harry, ia tidak akan bisa menyentuh hati Hermione sedalam Harry menyentuhnya. Tapi ia tetap menginginkan Hermione lebih dari apapun, ia ingin tau, masih adakah tempat di hati Hermione untuknya? Sekecil apapun tempat itu ia ingin memperjuangkannya.

Hermione terkejut Oliver menginginkannya lebih dari sekedar teman. Tentu, ia seharusnya menyadari tatapan Oliver selama ini yang tidak jauh berbeda dari cara Harry menatapnya. Mungkin karena selama ini Hermione terlalu menutup matanya dari keadaan sekitar. Hermione tidak tau apa yang akan ia katakan pada Oliver, ia tidak mengerti perasaannya sendiri pada Oliver saat ini. Teman? Mungkin lebih dari itu. Tapi apakah Hermione mau membawa hubungan mereka lebih jauh lagi? ia tidak tau.

"Aku tidak akan memaksamu. Aku akan menunggu, sampai kau bisa menerimaku," kata Oliver, membaca kebingungan di wajah Hermione.

Hermione menggigit bibirnya, "Aku tidak yakin Oliver. Aku tidak yakin apa aku bisa membiarkan siapapun masuk ke dalam hidupku," aku Hermione.

Oliver membelai pipi Hermione lalu meraih dagunya, mengangakatnya agar ia bisa menatap mata Hermione. "Berikan aku kesempatan untuk mencintaimu," bisik Oliver.

Oliver mendekatkan wajahnya ke wajah Hermione. Hermione tidak menghindar, ia menutup matanya, merasakan nafas Oliver sangat dekat dengannya. Merasakan bibir Oliver menyapu bibirnya dengan lembut.

Tanpa mereka ketahui, orang-orang di sekitar mereka memperhatikan dengan senyum menghiasi wajah mereka. Ginny bahkan memekik girang, senang karena Hermione setidaknya mulai membuka hatinya untuk seseorang setelah Harry. Oh, itu berarti ada banyak hal yang terlintas di kepala Ginny.

"Ginny, dear," panggil Neville, menarik Ginny kembali ke kenyataan.

"Ya Nev?" tanya Ginny tanpa mengalihkan matanya dari Oliver dan Hermione.

Neville menghela nafas, tau persis apa yang ada di pikiran istrinya ini. Dengan lembut ia menyentuh pipi Ginny dan menariknya, ia menatap Ginny, "Jangan lakukan apapun untuk mencampuri hubungan mereka,"

Dahi Ginny berkerut, "Tapi Nev, mereka akan membutuhkannya,"

Neville menggeleng, "Tidak Ginny, mereka bukan anak-anak lagi. berjanjilah padaku kau tidak akan mengganggu mereka,"

Ginny cemberut, "Baiklah,"

"Baiklah apa?"

"Baiklah! Aku berjanji tidak akan mengganggu mereka. Senang?"

Neville tersenyum dan menjawabnya dengan mencium Ginny dalam. Ginny terkikik.


a/n : sekali lagi terima kasih buat membaca fic ini, maaf ya cuma segini. dan sekali lagi review sangat disarankan tapi tetep no pressure :P