Disclaimer : As usual, I own nothing but the plot.

a/n : finally! Okay okay, udah lama BANGET sejak terakhir kali aku upload chapter baru buat fic ini. nggak ada alasan sebenernya. anyway, enjoy.


Remember

by nessh


I'm Sorry, but I Don't Regret It


Hermione setengah berlari kembali ke dalam teater, matanya terlihat tidak fokus dan beberapa kali ia hampir menabrak orang yang berada di hadapannya. Bayangan kejadian itu terus terulang di pikirannya berkali-kali. Semuanya. Obrolan itu, sentuhan itu, rasa latte di mulutnya dan kehangatan Draco masih tersisa di bibirnya. Tanpa sadar Hermione sudah kembali ke tempat duduknya, tepat di samping Oliver. Hermione merasa tersentak, apa yang akan Oliver pikirkan kalau ia mengetahui hal ini? pikir Hermione.

Sentuhan tangan Oliver membangunkan Hermione kembali ke kenyataan. "Hey, kau tidak apa-apa? Kau terlihat pucat," bisik Oliver tepat di telinga Hermione.

Hermione berusaha tersenyum, tapi gagal, jadi ia memutuskan untuk menggeleng singkat. "Aku baik-baik saja, Oliver. Hanya—hanya sedikit tidak enak badan, mungkin capek,"

"Kau mau pulang sekarang? Aku akan mengantarmu,"

Sekali lagi Hermione menggeleng, "Aku baik-baik saja. Tapi, mungkin kita bisa langsung pulang setelah ini selesai?" usul Hermione.

Oliver mengangguk dan mencondongkan tubuhnya, mengecup pipi Hermione. "Tentu. Aku akan tetap mengantarmu,"

Hermione hanya mengangguk dan membiarkan tangan Oliver menggenggam tangannya erat. Pikirannya kembali melayang, pada ciuman Oliver yang terasa dingin di pipinya.

Sesuatu membuat Hermione melirik ke sisi kiri, melihat Ron yang sudah terlelap, Luna dan Astoria yang tampak serius mengikuti cerita. Dan Draco Malfoy. Jantung Hermione kembali berpacu dengan kencang saat Draco menoleh dan mata mereka bertemu, membuatnya refleks membuang muka.

Apa ini?

.

"Kau yakin tidak apa-apa?" tanya Oliver lagi.

Hermione dan Oliver kini berada di dalam flat Hermione setelah mereka berdua pamit terlebih dahulu pada Ron dan Luna karena Hermione merasa kurang sehat. Luna sekaligus mengatakan pada Hermione agar tidak perlu datang kalau ia masih merasa kurang sehat esok paginya, Hermione hanya tersenyum dan mengatakan bahwa ia hanya butuh tidur dan pasti tetap datang untuk membantu Luna mendekorasi kamar bayinya. Astoria juga berkata kalau ia akan datang membantu Luna dan Hermione, begitu juga dengan Oliver. Draco hanya diam, matanya tidak pernah lepas dari sosok Hermione, sementara Hermione berpura-pura tidak menyadari tatapan Draco itu.

"Aku sudah beberapa kali bilang, aku baik-baik saja Olie. Aku hanya butuh tidur," Hermione tersenyum geli dengan kekhawatiran Oliver yang menurutnya berlebihan.

Oliver tersenyum, kedua tangannya menyentuh pipi Hermione. "Wajar kan kalau aku mengkhawatirkan pacarku. Justru aneh kalau aku bersikap tidak peduli padamu," sanggahnya.

Pacarku. Entah kenapa kata itu membuat tenggorokan Hermione tercekat.

Oliver masih tersenyum saat ia mencondongkan tubuhnya dan mencium Hermione. Tubuh Hermione terpaku seketika. Pikirannya memerintahkannya untuk membalas ciuman itu, tapi tubuhnya tidak bereaksi, ia hanya berdiri terpaku, seakan ada sesuatu yang menahannya untuk membalas ciuman Oliver. Dan bibir Oliver terasa dingin di bibirnya.

Oliver menarik dirinya, tersirat sedikit kekecewaan di matanya, tapi itu tertutup dengan senyuman di wajahnya. Ia mengecup kening Hermione dan kembali berkata, "Istirahat yang baik ya. Kalau besok masih tidak enak badan, kau tidak perlu datang ke tempat Luna. Dia pasti mengerti," pesan Oliver.

Hermione hanya mengangguk.

Oliver tersenyum dan mengecup kening Hermione sekali lagi sebelum ber-Dissaparate, meninggalkan Hermione di tempatnya yang sunyi.

Malam itu, Hermione yang sudah berganti pakaian duduk di depan cerminnya, mencermati dirinya sendiri, berusaha mengetahui apa yang hatinya katakan. Tanpa sadar, jari Hermione menelurusi wajahnya sendiri dan berhenti di bibirnya, masih terasa manisnya latte dan tajamnya espresso di sana. Namun, samar-samar ia masih bisa merasakan rasa mint di sana. Hermione memejamkan matanya, berusaha untuk melihat siapa yang ada hatinya. Yang pertama ia lihat adalah sepasang mata hijau emerald cemerlang, yang kemudian digantikan dengan...

Sepasang mata kelabu yang menatapnya tajam.

.

Hermione adalah orang yang selalu menepati janji. Jadi hari ini, sesuai janjinya dengan Luna kemarin, dia pergi ke rumah Ron dan Luna untuk membantu Luna mendekorasi kamar bayi. Sekitar pulul sepuluh pagi Hermione ber-Apparate di halaman depan rumah mereka dan melihat Astoria keluar dari dalam rumah dengan Luna mengikuti di belakangnya. Hermione tersenyum melihat sosok Luna yang dalam—kurang lebih—enam minggu lagi akan menyambut anak pertamanya.

"Hey Hermione, kami kira kau tidak akan datang," kata Luna saat Hermione sudah berada dalam jarak yang cukup dekat dengan dirinya dan Astoria.

"Seperti yang aku bilang, aku hanya butuh tidur. Jadi disinilah aku sekarang! Lagipula aku sudah berjanji padamu kan,"

Luna tersenyum, "Aku tau kau selalu menepati janjimu,"

Astoria angkat bicara, "Aku minta maaf Luna, tapi aku harus pergi sekarang,"

Luna menoleh pada Astoria dan mengangguk, "Tentu, itu tidak apa-apa Astoria, jangan merasa bersalah karena itu,"

"Ada apa?" tanya Hermione, menatap Astoria dan Luna bergantian.

"Aku tidak bisa membantu Luna mendekorasi hari ini. Sesuatu terjadi dan Dad ingin semua anggota keluarga berkumpul," jawab Astoria sambil menghela nafas. "Padahal aku selalu ingin mendekorasi kamar bayi. Greengrass Manor terlalu kuno dan orangtuaku tidak memperbolehkanku merubah apapun di sana,"

Hermione dan Luna tertawa pelan.

"Itu karena keluargamu termasuk keluarga Darah-Murni tertua dan kurasa orangtuamu hanya ingin menjaga tradisi mereka," hibur Hermione.

Astoria mendengus, "Yeah. Tapi terlalu tradisional itu sangat—mengganggu,"

Mereka tertawa lagi.

"Ah well, aku harus pergi sekarang," Astoria pamit pada Luna dan Hermione sebelum berjalan keluar dari dinding Anti-Apparate dan kemudian menghilang dengan suara crack yang cukup keras.

"Jadi, siapa yang akan membantu kita?" tanya Hermione sambil menutup pintu di belakangnya.

Luna mengangkat bahu, "Hanya kau dan aku. Ginny mungkin akan menyusul,"

"Ron?"

"Rapat Puddlemere United bersama Oliver sejak pagi. Mereka akan kembali sebelum makan siang,"

Mendengar nama Oliver membuat Hermione sempat membuat langkahnya terhenti.

"Ada apa Hermione?"

Hermione tersadar, ia mendongak dan melihat Luna menatapnya intens. Ia hanya menggeleng pelan sebagai tanggapan atas pertanyaan Luna itu dan kembali berjalan menaiki tangga, mengikuti Luna ke sebuah kamar yang terletak di ujung lorong, cukup jauh dari kamar Ron dan Luna.

Kamar itu terlihat masih lengang, bahkan catnya pun masih terlihat kusam, hanya terdapat beberapa tumpukan kardus di salah satu sudutnya. Dari mulut jendela Hermione bisa melihat halaman belakang rumah yang ditumbuhi sebuah pohon rindang dan taman bunga yang biasanya diurusi oleh Luna. Sebenarnya, kamar ini hanya butuh cat baru dan beberapa perabotan untuk membuatnya sempurna, jadi kenapa Luna membutuhkan bantuan untuk itu?

"Aku tau sebenarnya aku bisa mendekorasi kamar ini sendirian. Cukup dengan ayunan tongkat dan dalam dua atau tiga jam aku bisa mendapatkan kamar yang aku inginkan," kata Luna, menebak isi pikiran Hermione. ini bukan pertama kalinya Luna menebak isi kepalanya dengan tepat, beberapa kali dan dia selalu benar, Luna benar-benar seorang Ravenclaw. "Aku hanya merasa butuh bicara denganmu,"

Kali ini Hermione menoleh dan menyandarkan punggungnya di dinding kamar, "Bicara denganku? Tentang apa?" tanya Hermione, dahinya berkerut dan tangannya terlipat di dada.

Luna mengangkat bahu, "Bagaimana kalau sambil membongkar isi kardus ini dan mendekorasi kamar ini?"

Hermione mengangkat kedua alisnya, ia mengharapkan jawaban, bukan pertanyaan yang lain. Menghela nafas, ia mengangguk dan mengeluarkan tongkatnya lalu mulai mengayunkannya. Keduanya bekerja dalam diam untuk beberapa saat, hanya berkonsentrasi merakit ranjang bayi (Hermione) dan lemari bayi (Luna), setidaknya sampai Luna mengatakan sesuatu lagi.

"Bagaimana hubunganmu dengan Oliver?" tanya Luna, masih asyik mengayunkan tongkatnya untuk merakit lemari bayinya, tersenyum puas saat lemari itu selesai dengan sempurna.

Hermione menghela nafas, "Baik-baik saja. Kurasa. Dimana kau mau meletakkan ranjang ini?"

Luna menunjuk jendela, "Dekat jendela," jawabnya sambil melevitasi lemarinya ke tempat yang ia inginkan. "Baik-baik saja katamu? Apa kau mencintainya? Aku bisa melihat sepertinya Oliver mulai mencintaimu, tapi apakah kau mencintainya? Atau setidaknya adakah perasaan sejenis itu dalam hatimu,"

Tangan Hermione berhenti mengayun. Boneka-boneka yang tengah dipindahkannya dari dalam kardus ke atas dalam ranjang bayi itu kini melayang-layang di udara. Selama ini Hermione hanya berpikir kalau ia menyukai Oliver, tapi mencintainya? Dia sama sekali clueless tentang itu, lagipula Oliver mengatakan padanya kalau dia tidak akan memaksa Hermione, benar kan?

"Aku—aku tidak ingin membicarakan tentang itu Luna. Maaf,"

Luna menatap Hermione dengan tatapan menyelidik, tapi dia tidak mendesak Hermione untuk menjawab pertanyaannya itu. "Kau harus mulai memikirkan itu, kau tidak mau menyakiti Oliver atau Draco, right?"

Pertanyaan itu sukses membuat Hermione menjatuhkan tongkatnya saat itu juga. Ia menoleh perlahan pada Luna, matanya membelalak dan mulutnya megap-megap. "Dra—bagaimana kau—apa—apa Draco—"

"Tidak, Draco tidak mengatakan apapun, tapi aku melihat bagaimana sikap kalian tadi malam, aku berasumsi bahwa sesuatu terjadi di antara kalian berdua. Jadi Hermione, menurutmu apa yang bagus untuk cat kamar ini, baby blue atau putih?"

"Baby blue," jawab Hermione singkat.

Luna mengangguk-angguk dan mulai mengayunkan tongkatnya lagi. "Kau tidak perlu membicarakannya kalau tidak mau. Aku hanya minta padamu untuk mengevaluasi perasaanmu sendiri, kedua pria itu menaruh hati padamu dan kau tau kau tidak bisa mendapatkan keduanya. Jadi, saranku, evaluasi perasaanmu sekarang sebelum kau menyakiti salah satu dari Oliver, Draco atau bahkan Astoria,"

Hermione menghela nafas, ia bimbang antara mengatakan hal yang sebenarnya pada Luna atau menyimpannya sendiri. Di satu sisi, ia butuh seseorang untuk bicara dan Merlin tau Hermione sangat mempercayai Luna, tapi di sisi lain ia takut mendengar pendapat Luna tentang ciumannya dengan Draco. Draco Malfoy yang sudah terikat dengan Astoria Greengrass.

"Kita bisa membicarakannya setelah ini kalau kau mau, sambil minum teh,"

Hermione hanya mengangguk kaku.

Kamar itu selesai di dekorasi dalam waktu kurang dari satu jam, sekarang Hermione dan Luna duduk di dapur sambil menggenggam cangkir teh masing-masing. Hermione hanya menunduk menatap isi cangkirnya yang masih penuh sementara pikirannya melayang kemana-mana.

"Aku dan Ron memutuskan untuk menamai anak laki-laki kami Harry," kata Luna, memecah keheningan di antara mereka. Hermione berhenti memandangi isi cangkirnya dan mendongak menatap Luna, sebelah alisnya terangkat. "Yeah, Harry. Kami belum memutuskan nama tengahnya, tapi kalau ini anak laki-laki, kami akan menamainya Harry. Tapi, kalau ini anak perempuan, kami akan menamainya Celia,"

Hermione berdeham, "Itu—nama yang bagus. Harry—dan Celia. Nama yang manis," komentar Hermione pelan.

"Aku tau. Jadi, apa kau mau menceritakannya? Apa yang terjadi antara kau dan Draco?"

Hermione kembali menunduk, masih mengira-ngira apa dia akan menceritakan semuanya pada Luna.

"Kau bisa mempercayaiku, kau tau itu kan?"

Tentu Hermione tau itu, Luna adalah orang yang sangat bisa dipercaya untuk hal seperti ini, tidak seperti Ginny yang terkadang tidak berpikir sebelum dia berbicara, persis seperti Ron. Hermione menghela nafas, "Aku tau Luna, hanya saja—" Hermione menggigit bibirnya.

"I'll never judge you, you know,"

Hermione tersenyum kecil, "I know," Hermione menatap mata Luna lurus dan menghela nafas pelan. "He kissed me,"

Luna terlihat terkejut, "Draco?"

Hermione mengangguk, "Kemarin aku dan Draco pergi minum kopi di kafe depan teater. Awalnya kami hanya mengobrol, tapi kemudian—aku tidak tau apa yang terjadi, but we kissed. Aku segera menyudahinya saat aku menyadari itu dan—"

"Dan kalian berdua jadi bertingkah aneh seperti kemarin,"

Hermione mengangguk. "Aku—"

Tok! Tok! Tok!

"Sebentar," kata Luna sambil bangkit dari kursi dan berjalan ke depan. Sementara Hermione tetap diam di tempat dan menyeruput tehnya.

"Oh hai Ron, Draco,"

Hermione hampir tersedak saat mendengar suara Luna menyebut nama Draco. Hermione diam dan mendengar baik-baik suara Luna, Ron dan Draco.

"Mana Oliver?" tanya Luna lagi.

Suara Ron terdengar, ia menyebutkan sesuatu tentang rapat lanjutan dengan petinggi Puddlemere United. Dilanjutkan dengan suara Draco yang meminta Ron untuk segera membawakan sesuatu, Hermione tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Kemudian suara mereka bertiga terdengar semakin dekat. Ron menoleh dan nyengir lebar pada Hermione sebelum menaiki tangga dan menghilang dari pandangan. Lalu Luna muncul—bersama orang yang jelas tidak ingin Hermione temui sekarang. Draco.

"Teh?" tanya Luna sementara Draco mengambil kursi di seberang Hermione.

"Ya, terima kasih Luna,"

Mereka terdiam dalam suasana yang cukup kaku selama beberapa saat. Hermione berpura-pura membaca Daily Prophet yang tergeletak di atas meja, ia bisa merasakan tatapan Draco pada dirinya dan berpura-pura tidak peduli atau tidak menyadarinya.

"Ini Draco," Luna menyerahkan secangkir teh pada Draco yang disambut ucapan terima kasih dari Draco.

"Luna? Dimana kau menyimpan jurnal itu?" teriakan Ron terdengar.

"Di rak buku bagian atas!" Luna balas berteriak.

"Dimana?"

Luna menghela nafas. "Maaf, sepertinya aku harus ke atas sekarang sebelum Ron menghancurkan kamar kami," katanya sebelum meninggalkan Hermione dan Draco di ruang makan, berdua saja.

Hermione berpura-pura tetap asyik dengan Daily Prophet-nya sambil sesekali menyeruput tehnya yang mulai dingin dan membalik halamannya. Sementara Draco memperhatikan Hermione sambil meminum tehnya. Atmosfer di antara keduanya terasa tidak nyaman.

"Aku minta maaf Hermione," kata Draco tidak lama kemudian, memecah keheningan.

Hermione mengangkat hidungnya dari koran Daily Prophet yang ia baca, sebelah alisnya terangkat, tanda bahwa ia tidak mengerti apa maksud permintaan maaf dari Draco. "Maaf untuk apa?" tanya Hermione, sambil menyeruput segelas teh yang tadi dibuat Luna.

Draco terlihat salah tingkah, "Umm, untuk kemarin,"

"Kemarin?"

"Umm, ciuman itu,"

Hermione terpaku. Tentu saja, ciuman itu. Ciuman antara Draco dan Hermione saat mereka pergi bersama Oliver, Ron, Luna dan Astoria menonton The Winter's Tale. Hermione tidak mungkin melupakan ciuman itu, tapi ia tidak menyangka Draco akan meminta maaf untuk itu. Selain itu, Hermione tidak merasa itu sebuah kesalahan. Benar?

"Tidak apa-apa Draco. Aku tidak marah, aku hanya—kaget saat itu," kata Hermione sambil tersenyum kecil dan kembali membaca Daily Prophet-nya.

Draco menghela nafas, terlihat sedikit lebih lega karena pernyataan Hermione itu. "Tapi aku tau, seharusnya aku tidak menciummu. Maksudku, kau punya Oliver. Ini tidak terasa benar,"

"Tidak apa-apa. Aku tidak marah karena itu, kita berdua sama-sama terbawa suasana jadi—yah tidak apa-apa. Kau tidak perlu menyesalinya dan minta maaf seperti ini,"

"Siapa yang bilang aku menyesal?"

Hermione membeku di kursinya.

Tanpa menunggu tanggapan Hermione, Draco lanjut bicara. "Aku bilang, aku minta maaf, aku tidak bilang aku menyesali tindakanku benar kan?" Draco menarik nafas. "Aku minta maaf karena aku merasa ini tidak benar, kita berdua sudah terikat dengan orang lain jadi tidak seharusnya kita—melakukan itu. Tapi aku tidak merasa menyesal, aku tidak tau kenapa, aku hanya tidak merasakan adanya penyesalan dalam diriku. Bagaimana denganmu,"

Hermione mendongak bersamaan dengan Draco bangkit dari kursinya dan berjalan memunggungi Hermione. Hermione hanya menatap punggung Draco lurus, dengan kombinasi ekspresi terlukis di wajahnya. Tapi Draco tidak repot-repot menoleh, dia terus berjalan menghampiri Ron dan Luna yang sudah memasuki ruangan.

"Ini Draco. Pastikan kau mengembalikannya dengan utuh," kata Ron sambil menyerahkan jurnal itu ke tangan Draco.

"Tentu Weasley. Kalau aku mengingatnya," tanggap Draco sambil menyeringai jahil. Mata Ron menyipit tajam. "Jangan menatapku seperti itu, tentu aku akan mengembalikannya. Sekarang aku harus pergi, aku harus rapat dalam waktu satu jam," lanjut Draco sambil melirik jam tangannya.

Luna dan Ron mengangguk. Draco berpamitan pada keduanya sebelum menoleh dan mengangguk kaku pada Hermione. Ron mengantar Draco sampai keluar pintu, Luna dan Hermione bisa mendengar mereka bercakap-cakap dan tertawa.

"Ada apa?" tanya Luna, setelah Ron dan Draco berada di luar jangkauan dengar.

"Dia minta maaf," bisik Hermione lirih.

Luna mengangguk dan duduk di samping Hermione. "Dan itu membuatmu bingung,"

Hermione menggeleng, "Bukan itu. Tapi Draco bilang, dia tidak menyesalinya. Dia minta maaf bukan karena menyesalinya, tapi karena dia merasa itu salah. Bagaimana bisa dia tidak menyesal tapi merasa itu salah?"

Luna mendesah, "Aku tidak tau. Aku tidak pernah mengerti isi kepala Draco, dia terlalu rumit. Jauh lebih rumit dari Harry,"

Hermione mengubur wajahnya di antara kedua tangannya. "Oh Merlin Luna. Apa yang harus aku lakukan? Semuanya terasa begitu—rumit. Complicated. Confusing,"

Luna diam, wajahnya terlihat datar. "Aku rasa aku tau,"

"Apa?"

"Panggil Ron,"

Hermione menoleh dan menatap Luna bingung. "Panggil Ron?" tanya Hermione pelan. Melihat Luna mengangguk, dia kembali bertanya. "Untuk apa?"

"My water's just broke,"

Hening menghinggapi mereka untuk beberapa saat.

Di luar, Ron baru saja melihat Draco ber-Apparate di depan pagar rumahnya. Ia menarik nafas dalam-dalam, Ron benar-benar menyukai pekerjaannya sebagai pemain Quidditch. Dia bisa melakukan hobinya sekaligus mencari uang dan pekerjaan ini memungkin Ron untuk tetap eksis di dunia sihir dan memungkinkannya untuk menghabiskan banyak waktu di rumah, terutama saat seperti ini, saat masa Piala Quidditch Inggris sudah selesai.

"Benar-benar minggu yang te—"

"RONALD WEASLEY! KEMARI SEKARANG JUGA!"

Ron melompat kaget mendengar teriakan Hermione dan langsung berlari ke dalam rumah tanpa repot-repot menutup pintu. "Ada apa? Ada apa?" tanyanya, dia tidak melihat ada situasi darurat di sana. Hanya Hermione dan Luna duduk di meja makan mereka—tunggu, apa itu genangan air di bawah kursi Luna?

"My water's just broke," kata Luna dengan tenang sementara Hermione terlihat panik.

Ron berkedip, "So? Fix it," ujarnya tenang sambil mengangkat bahu.

"Bodoh! Itu artinya bayinya akan lahir SEKARANG!" jerit Hermione frustasi.

"APA?" kali ini Ron yang menjerit panik.

Luna memutar matanya, geli dengan kepanikan kedua orang di depannya.