Is that you?
By : Chocolate Bubbletea
Disclaimer : Semua karakter yang ada disini bukan milik saya. Kalo milik saya Sehun sama Kai udah saya bawa pulang.
Rate : Setelah di pikir-pikir akan lebih cocok T
Pair : Kaihun/Sekai.
Warning : Boys Love, OOC, Typo, dan masih banyak lagi
oOo
Chapter 1
oOo
Matahari telah terbit dan bersinar beberapa menit yang lalu. Semua mahluk yang hidup di siang hari telah terbangun untuk memulai aktivitasnya. Terkecuali seorang namja berkulit tan yang masih asyik berselancar di alam mimpi. Bergelut dengan selimut tebal dan bantal-bantalnya. Bahkan ketika sang eomma dengan ganasnya menggedor-gedor pintu kamarnya ia masih tetap tidak bergeming. Toh sang eomma tidak akan bisa masuk karena pintunya sudah ia kunci, pikirnya.
Tak tahan dengan kelakuan putra bungsunya ini sang eomma memutuskan untuk mengeluarkan alat andalannya. Kunci cadangan. Kenapa ia tidak mengeluarkan sejak tadi? Kan jadi tidak perlu menghabiskan tenaganya percuma hanya untuk menggedor pintu. Alasannya adalah karena ia sendiri lupa kalau ia punya kunci cadangan. Maklum faktor U *digeplak eomma Jongin*
Begitu berhasil membuka pintu kamar putra bungsunya itu ia tanpa segan masuk ke dalamnya. Terlihat dengan jelas oleh kedua matanya bahwa sang putra bungsunya itu masih asyik bergelung dengan selimut tebalnya. Karena kesal ia segera menyibak kan selimut berwarna biru gelap tersebut. Dan terlihatlah seorang namja yang kini meringkukan dirinya sambil menutupi matanya dengan tangannya.
"Jongin-ah Ireona! Kau pikir sudah jam berapa sekarang? Cepat bangun atau kalau tidak aku akan menyirammu." Gertak sang eomma.
Namja tan tersebut –yang ternyata adalah Jongin- sama sekali tidak memperdulikan gertakan sang eomma. Justru ia semakin meringkukkan dirinya dan menutupi kepalanya dengan bantal.
Sedangkan sang eomma yang merasa bahwa urat kesabarannya sudah putus memutuskan untuk segera pergi ke kamar mandi dan mengambil segayung (?) air dingin *di sana emang ada gayung ya?*. Sebenarnya dalam hatinya ia ingin menyiram putra bungsunya itu dengan se-baskom air namun sayangnya tenaganya sudah terkuras untuk menggedor-gedor pintu kamar Jongin. Tapi walaupun hanya segayung itu sudah cukup memberikan efek luar biasa bagi seorang Kim Jongin. Buktinya begitu sang eomma dengan sangat tidak ber-prikeibuan menyiramnya dengan air dingin, ia langsung berteriak dan celingukan karena dikiranya rumahnya terkena tsunami.
"YA! EOMMA KENAPA MENYIRAMKU SEPERTI ITU?" protes Jongin tidak terima karena sekarang kepalanya sudah sangat basah –dan dingin-.
"JANGAN BERTERIAK PADA EOMMA, BABO!" sang eomma pun dengan kejamnya memukul kepala Jongin. "Sekarang cepat bersiap-siap untuk ke sekolah. Eomma tidak mau kalau kau sampai terlambat di hari pertamamu!" setelah itu sang eomma pun berjalan keluar dari kamar Jongin. Tak lupa ia menutupnya dengan sangat keras membuat sang pemilik pintu kamar meringis mendengarnya. Sungguh kejam nyonya Kim itu.
Dengan kesal Jongin pun turun dari singgahsananya –menurutnya- dan segera menuju ke kamar mandi. Begitu selesai mandi dan berpakaian rapi, ia memastikan bahwa dirinya benar-benar wangi dan tampan. Sebelum keluar dari kamar ia juga sedikit mengacak-acak surai hitamnya, agar berkesan seperti seorang bad boy begitu pikirnya.
Ketika ia masuk ke ruang makan dapat ia lihat noona-nya sudah dengan manis duduk di meja. Memakan sarapannya, sepotong roti bakar dengan selai strawberry. Namun ia tidak melihat kehadiran appa-nya di sana. Padahal biasanya sang appa akan menyapanya dengan hangat, berbading terbalik dengan sang eomma yang menurutnya sungguh tidak ber-prikeibuan.
Seolah mengerti dengan tingkah dongsaeng-nya, Hyoyeon pun berkata "Appa berangkat pagi-pagi sekali. Katanya hari ini ada rapat penting dan ia harus ikut."
Jongin mengangguk-angguk mengerti lalu duduk di sana. Ia memakan rotinya dengan santai. Sesekali ia juga memain-mainkan makanan tersebut yang langsung dapat bentakan dari sang eomma karena sudah mempermainkan makanan hasil jerih payahnya.
Begitu selesai dengan sarapan Jongin segera berpamitan pada eomma dan noona-nya. Ia berlari keluar dan –lagi- di marahi oleh eomma-nya karena ia hampir saja menjatuhkan vas bunga kesayangan sang eomma.
Udara pagi yang dingin langsung menerpa kulit tan Jongin begitu keluar. Membuatnya sedikit mengigil. Ini lah salah satu alasan mengapa ia malas bangun pagi. Harus bertahan dengan udara dingin yang akan langsung menusuk-nusuk kulit tan nan eksotisnya. Dan jangan lupakan rasa kantuk yang menghampirinya. Ia merutuk eomma-nya karena dengan seenaknya ia mengganggu mimpi indahnya. Padahal ia sedang asyik menari bersama dengan artis favorite-nya. Boa.
"Kai-ah. Annyeong!" sapa Taemin, sepupunya sambil menepuk punggungnya keras-keras. Hampir saja Jongin terjatuh kalau saja ia tidak punya keseimbangan yang bagus.
Sedangkan yang dipanggil menatap sepupunya itu kesal. "Kau ini ingin menyapaku atau malah membunuhku?" tanya Jongin ketus. Taemin sendiri hanya tertawa melihat ekspersi Jongin atau yang sekarang sering ia panggil Kai. Entah alasan apa nama Jongin tiba-tiba bertrasformasi menjadi Kai. Hanya saja setiap kali ia menanyakannya Jongin selalu menjawabnya 'supaya terdengar keren.'
"Hahaha... Mianhae. Kau kenapa eoh? Mukamu kusut begitu?" Taemin mulai memperhatikan wajah Jongin intens. Tak lama ia mejentikan jarinya mengerti. "Jangan-jangan kau sedang mimpi itu tapi tiba-tiba eomma-mu itu menyirammu." Tebaknya asal yang sebenarya cukup akurat, mengenai sang eomma yang menyiram dirinya.
"YA! APA MAKSUDMU LEE TAEMIN? KAU PIKIR AKU SEMESUM ITU?"
Taemin kembali tertawa hanya saja sekarang lebih keras. Ia bahkan sampai harus memegagi perutnya sangking lepasnya ia tertawa. "Hahaha... itu tuh kau saja yang berpikiran seperti itu. Padahal aku kan mau bilang kalau kau pasti bermimpi bisa menari bersama Boa."
Kalau tatapan bisa membunuh mungkin sekarang Lee Taemin sudah ditemukan tewas karena saat ini Jongin tengah menatapnya tajam. Namun tak lama ia menghela nafasnya kasar. Percuma beradu pendapat dengan Taemin, ujung-ujungnya dia juga yang akan kalah. Lebih baik ia memasang tampang super datarnya dan tidak mengindahkan setiap ledekan tak langsung Taemin.
Mereka berdua berjalan menuju halte dengan Taemin yang terus berbicara. Jongin sendiri hanya menanggapinya singkat dan tetap anteng dengan wajah super datarnya. Masih marah rupanya.
"Ngomong-ngomong Moonkyu bagaimana kabarnya ya di Busan? Sudah lama dia tidak mengabari kita." Ucap Taemin tiba-tiba. Jauh dari topik yang tadi ia bicarakan. Padahal sedari tadi ia membicarakan tentang sekolah baru mereka tapi tiba-tiba saja ia mengalihkannya pada salah satu teman dekat mereka yang saat ini tinggal di Busan.
"Molla. Mungkin saja sekarang dia sudah bisa makan manusia." Jawab Jongin sekenanya. Entah kenapa begitu mengingat Moonkyu ia malah ingat pada nafsu makan orang itu. Benar-benar seperti monster. Ingat dirimu sendiri, bukankah kau juga kalau makan sudah seperti monster *di geplak jongin*
"Hahaha... mugkin saja."
Tanpa terasa mereka telah sampai di halte bus. Yang perlu mereka lakukan sekarang adalah menunggu bus yang akan mengantarkan mereka dengan selamat menuju tempat mereka akan menimba ilmu.
.
.
.
"ANDWAE!" teriak seorang namja berkulit putih pucat sembari berlari-lari tak tentu arah. Rupanya ia tengah menjauhi sang eomma. Mengapa demikian? Oh ternyata sang eomma tengah menyodor-yodorkan seragam yeoja padanya. Memaksa sang namja untuk memakai seragam itu, bahkan ia juga menyodorkan *ehem* dalamannya pada sang namja.
"Ayolah Sehunie, eomma hanya ingin melihatmu memakai ini sekali saja." pinta sang eomma. Tak lupa ia juga memakai jurus aegyo andalannya. Namun bukannya luluh namja pucat tersebut malah merasa ingin muntah melihatnya. Sebut ia tidak sopan tapi siapa yang akan tahan melihat seorang wanita empat puluh tahunan memasang aegyo. Yang pasti bukan dia.
Ia terus berlari. Seragam namja yang telah ia pakai dengan begitu rapi sekarang justru menjadi sangat berantkan. Kemeja yang sedikit menyembul keluar dan dasi yang loggar. Ah dan jangan lupakan peluh yang mengalir hampir di seluruh tubuhnya.
Ia sangat bersyukur begitu ia melihat sosok jangkung seorang namja berambut blonde yang sepertinya baru keluar dari kamarnya. Segera saja ia berlari ke arahnya dan bersembunyi di balik punggung lebar namja jangkung tersebut. "HYUNG SELAMATKAN AKU!"
Sang eomma yang melihat putra bungsunya itu berlindung di balik tubuh tegap putra sulungnya itu langsung mempoutkan bibirnya layaknya anak kecil yang sedang merajuk. "Yifaaan... minggirlah. Eomma ingin melihat putra eomma yang manis itu memakai seragam cantik ini." rengeknya. Yifan atau ia lebih memilih di panggil Kris –putra sulungnya- hanya menggeleng-gelengkan kepalanya begitu melihat kelakuan sang eomma yang kelewat kekanakan itu.
"Eomma. Bukankah eomma sudah berjanji padaku untuk tidak lagi memaksa Sehunnie memakai pakaian yeoja lagi." Tuturnya lembut. Sang eomma justru semakin mempoutkan bibirnya –itupun jika memang bisa- dan sekarang di tambah dengan pipinya yang menggembung.
"Ne ne... eomma tidak akan memaksa lagi Sehunie memakai baju yeoja." Setelah itu sang eomma pun pergi meninggalkan kedua putranya itu. Ia berjalan gontai menuju arah dapur.
Sehun yang bersembunyi di balik punggung hyung-nya itu kemudian menghela nafas panjang. Beruntung ia bertemu dengan Kris kalau tidak ia tidak tahu nasibnya nanti. Mungkin nantinya eomma-nya itu akan memaksanya ke sekolah dengan pakaian yeoja. Entahlah kadang eommanya itu begitu ekstrim dalam hobinya.
Ia ingat saat dulu masih kecil eomma-nya itu selalu mendandaninya layaknya yeoja. Katanya sih karena dia adalah seorang designer baju jadi Sehun harus membantunya memakai baju-baju design miliknya. Dan barulah setelah hidup selama sepuluh tahun ia baru menyadari bahwa sang eomma telah melakukan tindakan melanggar Hak Asasi Manusia. Dan dalam kasus ini ialah korbannya.
"Sehunnie gwenchana?" tanya Kris membuyarkan lamunannya.
Sehun menganggukan kepalanya sebentar. "Ne. Gwenchana Hyung. Ah... ngomong-ngomong gomawo karena telah membantuku –lagi."
Kris terkekeh pelan lalu mengacak-acak surai blonde milik dongsaeng-nya itu yang tentu saja mendapat protes dari sang korban. "Kajja kita turun. Appa dan eomma pasti sudah menunggu kita." Ajaknya yang di sambut anggukan antusias dari Sehun.
Begitu sampai di ruang makan mereka disambut oleh pemandangan appa mereka yang sedang sarapan pagi. Ia memakan pancake-nya sesekali menyesap kopi di cangkir miliknya tanpa melepaskan pandangannya dari koran hari ini.
"Daaaaddyyyy... Morning!" sapa Sehun ceria. Sang appa segera mengalihkan pandangannya pada putra bungsunya yang kini tersenyum manis kepadanya.
"Morning sweety." Balas sang Appa tak lupa ia juga memamerkan senyum khas seorang ayah padanya. "Morning Kris." Tak lupa sang appa juga mengucapkan salam pada putra sulungnya.
"Morning Dad."
Sang eomma yang kebetulan sudah ada di sana kembali menggembungkan pipinya kesal. Ia merasa tak dianggap oleh kedua putranya. "Kenapa kalian hanya menyapa appa kalian? Memangnya kalian tidak ingin menyapa eomma kalian yang cantik ini eoh?"
Kris terkekeh pelan melihat tingkah sang eomma. "Moring Mom." Tak lupa senyum menawan miliknya ia berikan pada sang eomma tercinta. Sedangkan si bungsu hanya mempoutkan bibirnya lucu begitu melihat sang eomma. Rupanya ia masih marah dengan tingkan sang eomma pagi ini.
"Sehunnie... maafkan eomma ne? Eomma tadi pagi kelepasan sangking senangnya melihat seragam sekolah barumu. Kau tahu kan di Kanada itu tidak ada yang namanya seragam sekolah." Eomma-nya kini menatapnya dengan tatapan memelas. Sehun sendiri masih mempoutkan bibirnya kesal tanpa memperdulikan tatapan memelas eomma-nya.
Kedua pria dewasa yang berada bersama mereka memandang mereka bergantian. Sepertinya memang benar pepatah 'buah jatuh tak jauh dari pohonnya'. Buktinya eomma dan putranya ini sama-sama memiliki tingkah kekanakan.
"Sudah sudah. Kalian jangan marahan begitu. Sehunnie kamu maafkan eomma-mu ne? Bukankah tadi kamu sudah mendengarkan penjelasannya. Ia hanya kelepasan. Dan Yoebo kamu juga harus bisa menahan dirimu sendiri. Sehun itu namja, tentu saja ia tidak akan mau memakai pakaian yeoja." Tutur sang appa panjang dan begitu bijaksana. Dua orang yang merasa di ceramahi itu pun saling melirik satu sama lain.
"Arrasseo. Tapi eomma harus janji pada Sehunnie kalau eomma tidak akan melakukan itu lagi. Yaksokhae?" pinta Sehun pada sang eomma. Ia juga mengacungkan jari kelingkingnya pada sang eomma yang langsung disambut dengan antusias oleh sang eomma.
"Yaksokhae." Dan seperti itulah mereka berjanji satu sama lain. Saling menautkan jari kelingking walaupun kadang sang eomma sering melanggarnya tapi mereka tetap melakukannya. Terdengar kekanakan memang namun itulah mereka. Duo eomma dan anak yang kekanakan.
Dua orang yang melihat adegan manis tersebut hanya tersenyum-senyum tidak jelas. Seperti seorang fans yang melihat adegan favorite di drama yang ia sukai. Kris yang tersenyum melihat tingkah manis dongsaeng -nya dan sang appa yang tersenyum melihat tingkah manis istri dan putra bungsunya.
"Kenapa kalian tersenyum-senyum seperti itu?" tanya Sehun penasaran begitu melihat tingkah aneh hyung dan appa-nya. Yang di tanya hanya menggeleng-gelengkan kepala tanpa melepas senyum aneh mereka.
"Sudahlah biarkan saja mereka Sehunnie. Ayo makan sarapanmu chagiya." Tutur sang eomma. Ia pun segera menyodorkan pancake denga sirup coklat kesukaannya. Sehun yang melihat makanan kesukaannya tersebut segera memakan makanan itu dengan lahap. Ia terlihat seperti seorang anak kecil jika sudah makan denga lahap seperti itu. Tak jarang sirup coklat menempel di bibir mungilnya dan langsung di hapus dengan tissue oleh eomma-nya. Benar-benar seperti bayi besar.
"Chagiya, hari ini kamu berangkat dengan hyung-mu ne!" seru sang eomma tiba-tiba. Sehun yang mendengarkannya langsung merengek pada sang eomma.
"Waeee? Aku kan ingin berangkan bareng appa." Sehun mengayun-ayunkan lengan eomma-nya lucu. Padahal ia ingin sekali berangkat dengan appa-nya. Sebenarnya bukan ia tidak mau berangkat bersama hyung-nya hanya saja pengalaman di Kanada membuatnya tidak pernah mau lagi berangkat dengan sang hyung.
"Appa-mu hari ini sedang ada rapat penting chagiya. Lagipula apa salahnya berangkat dengan hyung-mu eoh? Sekolah dan Universitas hyung-mu kan satu arah sedangkan kantor appa-mu berbeda arah Sehunnie." Tutur sang eomma panjang lebar. Tapi Sehun sendiri masih tidak mau dan tetap saja mengayun-ayunkan lengan sang eomma kesal.
"Hyung itu suka kebut-kebutan eomma. Aku tidak mau berangkat bareng hyung." Rengeknya semakin menjadi-jadi. Mendengar penuturan putra bungsunya sang eomma langsung menatap Kris tajam. Sedangkan yang ditatap langsung menggaruk-garuk tengkuknya gugup.
"Ahahaha... itu eomma... Eum... aku berjanji tidak akan kebut-kebutan lagi. Lagipula disini mana bisa kebut-kebutan." Tutur Kris gugup.
Sang eomma kemudian mengalihkan pandangan-nya lagi pada putra bungsunya. "Tuh kan, hyung-mu bilang tidak akan kebut-kebutan. Jadi hari ini Sehunnie berangkat dengan hyung ne?"
Sebenarnya Sehun masih takut dan tidak begitu mempercayai janji hyung-nya itu tapi pada akhirnya ia mengangguk saja. Toh ia adalah anak baik yang tidak mau merepotkan appa tercintanya. "Arrasseo."
"Kalau hyung-mu itu kebut-kebutan lagi. Lapor saja pada eomma ne?" kata sang eomma disertai senyum lembutnya. Sehun hanya mengangguk. Setidaknya ia punya jaminan atas keselamatan hidupnya.
Sehun dan Kris berangkat menggunakan mobil sport kesayangan Kris. Lamborgini Gallardo merah *mobil impian saya XD*. Dan selama perjalan Sehun tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan dirinya. Ia tidak mau mati muda. Ia masih ingin bertemu dengan orang itu.
.
.
.
Kelas X-A. Kelasnya berada. Ia sendiri tidak menyangka akan masuk kelas unggulan padahal selama di Kanada ia selalu masuk kelas reguler. Ia rasa ia harus berterima kasih pada hyung dan eomma-nya. Kalau saja eomma-nya tidak memaksa Kris untuk membantunya belajar dan Kris mengajarinya dengan –harus Sehun akui- baik ia mungkin akan berada di kelas yang rata-rata. Seperti kelas D ke bawah.
Hari ini hanya pengenalan saja tapi Sehun merasa risih. Kenapa? Karena ia sama sekali tidak mengenal satu orang pun disini. Ayolah selama lebih dari empat belas tahun hidupnya ia habiskan di Kanada dan hanya dua kali setahun ia ke Korea, tempat kelahirannya. Dan sekarang disinilah ia, bersekolah di Korea tanpa mengenal siapa pun.
"Heeei... kau sendiri saja? Apa kau tidak ada teman." Tiba-tiba teman sekelasnya menghampirinya. Ia adalah seorang namja yang manis dengan surai kecoklatan dan senyum manis yang mengembang di wajahnya.
Sehun mengangguk malu. "Aku pindahan dari Kanada jadi tidak ada satupun yang aku kenal disini." Tuturnya pelan.
"Jijja? Aku juga tidak ada teman di kelas ini. kebanyakan temanku ada di kelas lain. Oya, Lee Taemin imnida. Kau bisa memanggilku Taemin atau Taeminnie seperti teman-temanku yang lain." Teman sekelasnya itu –atau Taemin- mengulurkan lengannya pada Sehun. Memintanya untuk menjabat tangannya yang langsung di sambut baik oleh Sehun.
"Oh Sehun imnida. Panggil saja Sehun."
Sebenarnya Sehun merasa pernah mendengar nama itu di suatu tempat namun ia tidak begitu mengingatnya. Ia berusaha mengingat-ingatnya, tentu saja dengan tetap berusaha untuk tidak mengabaikan Taemin. Ia tidak ingin dianggap aneh oleh teman barunya ini.
"Sehun-ah kajja kita ke kantin. Akan aku kenalkan pada teman-temanku yang lain." Ujar Taemin tiba-tiba. Ia langsung menarik Sehun keluar sambil berlari-lari kecil. Sehun dengan terpaksa harus terseret-seret oleh Taemin yang tidak ia sangka punya tenaga yang besar padahal ia lebih pendek darinya.
Selama di perjalanan menuju ke kantin –yang ternyata lumayan jauh-, Taemin tidak henti-hentinya bercerita tentang teman-temannya itu. Dan selama perjalanan Sehun juga tak henti-hentinya berusaha mengingat kapan ia pernah bertemu dengan namja yang sedang menyeretnya ini. Begitu Taemin menyebutkan sesuatu tentang sepupunya barulah ia ingat. Taemin ini adalah orang yang waktu itu pernah orang itu kenalkan padanya.
Mungkin saja orang itu bersekolah disini, pikir Sehun. Tanpa ia sadari ternyata mereka telah sampai di kantin. Segera saja Taemin menyeretnya ke sebuah bangku yang telah ditempati oleh empat orang namja. Dan sepertinya tiga diantaranya adalah sunbaenya. Terlihat dari warna dasi mereka yang berbeda, tapi ia tidak yakin dengan namja yang satu lagi karena ia membelakangi mereka.
"Chanyeol, Baekhyun, Chen, Kai-ah."sapa Taemin heboh begitu sampai di bangku tersebut. Sehun sedikit heran kenapa tidak ada satupun dari mereka yang Taemin panggil sunbae atau kalau tidak hyung.
"Taemin-ah!" seru tiga orang sunbae itu tak kalah heboh sedangkan yang satu lagi hanya terdiam. Ia tengah makan rupannya.
"Taemin-ah, siapa yang di sebelahmu itu?" tunjuk sunbae bermata sipit padanya.
"Oh... dia teman baruku. Kenalkan namanya Sehun, dia pindahan dari Kanada."
"Salam kenal Sehun-ah. Byun Baekhyun imnida." Kata sunbae bermata sipit yang tadi menunjuknya.
"Park Chanyeol imnida. Kau boleh memanggilku Chanyeol atau Happy Virus atau hyung yang tampan." Sambung sunbae tinggi berkacamata yang ada di sebelah sunbae bermata sipit.
"Oh! Kau juga bisa memanggilnya Yoda. Soalnya telinganya itu mirip Yoda." Baekhyun kemudian tertawa terbahak-bahak yang langsung mendapat protes tak terima dari Chanyeol.
"Sudahlah biarkan saja mereka Sehun-ah. Ah! Kim Jongdae imnida. Kau boleh memanggilku Chen." Kata sunbae yang duduk di sebelah namja yang masih asyik makan di sebelahnya. Melihat namja itu tidak juga memperkenalkan dirinya Jongdae –atau ia menyebut dirinya sendiri Chen- langsung menyikut namja itu. membuatnya sedikit tersedak. "Ya! Kkamjong, segera perkenalkan dirimu."
Namja tersebut segera mengakhiri makannya dengan terpaksa kemudian memandang Sehun yang kini duduk di hadapannya, -disebelah Baekhyun tepatnya. Saat pandangan mereka bertemu Sehun tahu bahwa namja tan yang kini menatapnya intens adalah orang itu. Jangan tanya mengapa ia tahu karena ia hanya tahu saja.
"Kim Jongin imnida. Kau bisa memanggilku Kai."
Tanpa sadar Sehun menyunggingkan senyum manisnya. "Oh Sehun imnida."
.
.
.
TBC
oOo
Hahaha akhirnya selesai juga XD
Saya tidak menyangka akan menyelesaikan chapter 1 secepat ini. Padahal biasanya butuh waktu yang sangat lama untuk membuat satu chapter. Itu semua berkat readerdeul yang bersedia me-review fic ini. Saya benar-benar senang XD
Neomu Kamsahamnida bagi yang telah me-review. Maaf kalau misalnya masih ada typo dan bahasa Koreanya aneh. Maklum lah saya baru belajar. Hehehe
Sekali lagi Neomu Kamsahamnida bagi
Kaihun magnae, sayangsemuamembersuju, .9809, InfinitelyLove, byunpies, ChristineOnkey2minKailu22, DiraLeeXiOh, Majestic Hunter, urikaihun, daddykaimommysehun, Kaihun, jung oh jung, SehunBubbleTea1294, Wlyn Xyln, , askasufa, jung yeojin, xxx, nin nina.
Jeongmal Mianhae karena gak bisa bales reviewnya satu-satu. Karena seperti biasa saya malas. Hehehe.
Untuk chapter selanjutnya akan saya usahan secepatnya. Berdoa saja supaya mood saya tetap ada dan tidak tertelan oleh rasa malas *digeplak reader*
Ok. Sampai disini dulu annyeong.
Salam Yehet! *?*
