Note : dalam narasi saya akan menggunakan Jongin namun saat orang-orang memanggilnya, ia akan dipanggil Kai. (hehehe takutnya reader pusing)

oOo

Is that you?

By : Chocolate Bubbletea

Disclaimer : Semua karakter bukan milik saya. Kalo milik saya Kris udah saya jadiin suami saya *digebugin fans-nya Kris*

Pair : Kaihun. Krishun brothership!

Rate : T

Warning : Boys love, OOC, typo, dan masih banyak lagi.

oOo

Chapter 2

oOo

"Kim Jongin imnida. Kau bisa memanggilku Kai."

Tanpa sadar Sehun menyunggingkan senyum manisnya. "Oh Sehun imnida."

oOo

Kedip sekali.

Kedip dua kali.

Kedip tiga kali.

Okay. Jongin rasa otaknya sudah mulai error sekarang. Karena apa? Oh... karena ia sekarang berpikir bahwa senyum yang ditunjukan namja di hadapannya ini sangatlah manis. Lebih manis dari sekian banyak senyum yang diberikan yeoja padanya. Bahkan terlintas dalam pikirannya untuk menculik namja ini karena ia ingin senyum itu hanya ditujukan padanya.

Apa yang tadi ia pikirkan? Baiklah, sepertinya ia harus benar-benar memeriksakan kinerja otaknya. Ia tahu kemampuan otaknya itu rata-rata tapi walaupun begitu ia tidak ingin terjadi sesuatu dengan salah satu aset berharganya.

"Aku ingin pergi ke toilet." Dengan itu Jongin pun segera berlari ke toilet secepat kakinya bisa membawanya. Ia ingin membasuh kepalanya dengan air dingin. Mungkin itu bisa membantunya menstabilkan kinerja otaknya dan juga menormalkan detak jantungnya karena sejak tadi ia tidak berhenti berdetak tidak karuan.

Dan sepertinya tindakan Jongin tersebut sukses membuat tiga namja yang masih dalam mode terpesona tersebut kembali ke alam kesadarannya sendiri. Ketiga namja itu adalah Chanyeol, Baekhyun dan Chen. Taemin sendiri sudah cukup kebal dengan pesona-nya karena memang ia sudah lebih dahulu melihatnya dan lebih dahulu terpesona karenanya.

"Hei! Kai kenapa?" tanya Baekhyun yang pertama kali menyadari sikap Jongin yang tiba-tiba saja berlari. Orang-orang yang di tanya –kecuali Sehun- mengendikan bahunya.

Sedangkan di sisi lain Jongin yang kini berada di depan cermin toilet tengah menatap pantulan dirinya sendiri dengan alis bertaut. Seluruh wajahnya basah dan rambutnya sangat berantakan.

"Kenapa dengan dirimu Kai? Kau masih normal kan?" tanyanya pada dirinya sendiri. Ia tidak menyangka bahwa dirinya akan seperti ini hanya karena sebuah senyum dari namja yang bahkan baru ia kenal. Oh Sehun kalau tidak salah namanya.

Oh... sepertinya otaknya sudah mulai error lagi karena ia tengah berpikir bahwa namja itu tengah tersenyum ke arahnya dengan malu-malu. Pipinya memerah. Dan ia meyebut namanya dengan... OH MY GOD!

Jongin kembali membasahi wajahnya. Ia menggosok-gosokan wajahnya kasar dan tak lupa ia juga menepuk pipinya keras, menimbulkan bekas memerah disana.

"Aku bisa gila jika terus seperti ini."

Jongin akhirnya kembali ke kantin dengan sangat terpaksa karena orang-orang di dalam toilet tak henti-hentinya memandang dirinya aneh. Salahkan namja itu yang telah membuat seorang Kim Jongin menjadi seperti ini. Ia rasa ia harus menuntut Taemin karena telah membawa namja itu –Jongin masih enggan menyebut namanya karena efeknya begitu luar biasa- ke dalam grup mereka. Dan akhirnya membuatnya kacau seperti ini.

Begitu sampai ia disuguhi oleh pemandangan yang membuatnya jantungnya serasa ingin keluar dari tempatnya. Namja itu kini tengah tertawa bersama teman-temannya yang lain –entah menertawakan apa. Dan suara tawanya itu terdengar begitu indah saat melewati gendang telinganya. Sepertinya Jongin harus segera mempergunakan pertahanan andalannya jika sudah seperti ini. Wajah datar. Walaupun ia sendiri tidak yakin akan sanggup mempertahankan ekpresi super datarnya.

"Lama sekali kau Kai-ah! Dari mana saja eoh?" tanya Taemin begitu Jongin telah kembali mendudukan dirinya di bagkunya. Tepat di sebelah Taemin dan dihadapan-nya. Baru saja ia duduk ia merasa kalau ia mulai berkeringat dingin ditatap penuh tanya seperti itu oleh namja itu. Sebenarnya kenapa dengan dirinya?

"Kai?" Taemin menatapnya intens, ia juga menusuk-nusuk lengan Jongin dengan telunjuknya.

Aksi Taemin tadi berhasil membuatnya sadar dari lamunannya. "A-aku tadi dari toilet. Aku mau ke kelas dulu." Dan setelah itu ia pun melesat keluar kantin meninggalkan teman-temannya yang memandangnya aneh.

"Dia kenapa ya?" tanya Baekhyun –lagi. Karena sepertinya hanya ia yang mengkhawatirkan keadaan anak itu. Dan kembali yang ditanya –selain Sehun- mengendikan bahu mereka.

Sedangkan Sehun? Ia tampaknya merasa tidak enak. Mungkin Kai tidak meyukainya, itulah pemikiran Sehun.

.

.

.

Hari ini sekolah selesai lebih cepat dari seharusnya. Mungkin karena hari ini adalah hari pertama sekolah. Dan sekarang Sehun merasa bingung. Ia tidak tahu bagaimana caranya pulang karena hyung-nya tidak bisa menjemputnya karena masih ada jam kuliah. Selain itu ia juga tidak mungkin memanggil Yoon ahjussi -sopir pribadinya- karena ia sedang sakit. Memanggil appa-nya pun tidak mungkin karena mungkin beliau masih sibuk di kantornya. Memanggil eomma-nya? Itu sama saja ia menggali kuburannya sendiri. Mungkin bukannya diantar pulang, eomma-nya itu akan membawanya ke butiknya dan memaksa dirinya memakai pakaian yeoja. Hii~ memikirkannya saja sudah membuat Sehun bergidik ngeri.

Bukankah ia bisa naik taksi?

Ia ingin naik taksi tapi sayang sekali dompetnya ketinggalan di kamarnya. Di kantin pun tadi ia jajan sedikit sekali. Itu pun karena ia beruntung menyimpan sedikit uang di saku kemeja sekolahnya. Dan sekarang? Jangankan naik taksi, naik bus saja tidak mungkin.

"Sehun-ah kau tidak pulang?" tanya Taemin yang tiba-tiba sudah ada di hadapannya. Ia sudah siap dengan tas yang sudah terlampir rapi di punggungnya.

Sehun tanpa sadar menjilat bibirnya tanda bahwa ia sedang gugup. "A-aku rasa aku tidak bisa pulang sekarang. Uangku tidak cukup." Tuturnya jujur. Ia sungguh malu berkata seperti itu pada teman barunya, tapi mau apa lagi itulah kenyataan.

"Jinjja? Pantas saat di kantin kau makan sedikit sekali. Kalau begitu kau mau pulang bersamaku tidak? Sekalian aku antar." Tawar Taemin yang langsung mendapat anggukan senang dari Sehun.

Setelah itu mereka keluar dari kelas. Sehun tidak henti-hentinya berterima kasih pada Taemin karena ia dengan sukarela mengantarnya.

"Sudahlah Sehun-ah. Tidak masalah bagiku." Ujar Taemin disertai dengan senyumnya. Dan sepertinya senyumnya memiliki arti tersendiri, pikir Sehun. "Tapi sebelum kita pulang kau mau kan iku dulu denganku?"

Sehun memandang Taemin dengan –sedikit- perasaan curiga. Pasalnya walaupun Taemin adalah teman sekolahnya –dan teman sekelasnya-, ia tidak bisa begitu saja percaya pada orang baru. Begitulah yang selalu dikatakan hyung-nya. "Kemana?"

"Sudahlah ikut saja. Nanti juga kau tahu." Dan Sehun hanya bisa mengangguk. Setidaknya ia punya teman yang akan mengantarkannya pulang.

.

.

.

Jongin kini tengah berdiri tak sabaran di depan pintu gerbang sekolah bersama trio beagle line yang tidak henti-hentinya mengoceh tentang hal random yang tidak penting. Ia merasa sangat kepanasan padahal musim panas masih lama. Dan Taemin belum juga muncul padahal ia yang mengajak untuk pergi ke game center.

Ia mulai mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Mencoba mencari-cari namja yang sering disebut mirip dengannya hanya saja lebih manis. Sesekali terlihat beberapa yeoja melirik ke arah kelompoknya dan begitu tak sengaja pandagan mereka bertemu dengan Jongin –yang masih mencari-cari sepupunya itu- mereka tersenyum malu. Dan entah mengapa begitu Jongin melihatnya ia merasa jijik. Sungguh menggelikan, mereka tersenyum malu-malu begitu seolah yang Jongin lihat adalah mereka. Dasar yeoja kepedean.

Kembali Jongin mengedarkan pandangannya mencari sosok Taemin yang lenyap entah kemana. Setelah cukup lama ia mencari-cari akhirnya ia melihat wajah sepupunya itu yang terlihat begitu bahagia. Ia berlari-lari sambil menggandeng seseorang dan- OH MY GOD! Kenapa Taemin juga membawa namja itu bersamanya?

"Maaf membuat kalian menunggu. Tadi seonsaengnim lama sekali mengocehnya." Ucap Taemin begitu ia sampai di hadapan teman-temannya. Semua temannya mengangguk dan mengatakan tak apa terkecuali satu orang. Jongin. Ia sepertinya tengah membatu. "Oya, hari ini Sehun ikut dengan kita ke game center. Tidak masalah kan?"

Semuanya mengangguk antusias terkecuali Jongin yang masih asyik membeku di tempat. Sepertinya seorang Kim Jongin alias Kai sedang terpesona dengan wajah namja di hadapannya. Wajahnya memerah –mungkin akibat berlari diseret-seret Taemin-, nafas yang tak karuan, dan ada peluh yang mengalir di dahinya turun ke wajahnya lalu turun ke leher jenjangnya dan oh-

Jongin segera menggeleng-gelengkan kepalanya kuat. Menyingkirkan segala pikiran anehnya yang entah muncul dari mana. Mungkin ia harus mulai menyalahkan eomma-nya yang selalu memukul kepalanya kalau sedang kesal padanya karena sekarang otaknya sudah error permanen. Ok. Itu terlalu berlebihan Kim Jongin.

"Gwenchana?" tanya Sehun khawatir begitu melihat tingkah aneh Jongin. Manik hazel-nya memancarkan rasa khawatir yang kentara di dalamnya dan itu membuat Jongin menelan saliva-nya dengan susah payah karena tiba-tiba tenggorokan-nya terasa kering.

"Gwenchana." Jawab Jongin berusaha menahan suarnya agar terdengar tidak bergetar. Ia kembali memasang ekspresi super datarnya padahal dalam hatinya ia tidak henti-hentinya mengumpat jatungnya yang tidak mau berdetak secara normal.

"Daripada berlama-lama disini mari kita langung saja ke game center. Kajja!" dan dengan seruan semangat Taemin dan persetujuan dari trio beagle line yang juga tak kalah semangat kelima namja tersebut melangkahkan kaki mereka ke game center. Tempat kesenangan sesaat dan kemurungan di akhir.

Saat di game center hanya Taemin, Baekhyun, Chanyeol, dan Chen yang terlihat bersenang-senang. Pasangan kita, Jongin dan Sehun hanya diam melihat tingkah konyol teman-teman mereka. Chanyeol yang bertarung dance dengan Chen yang mendapat tatapan aneh dari orang sekitar karena tarian mereka terlihat aneh. Dan Baekhyun yang bermain motor-motoran dengan Taemin yang mendapat tatapan aneh dari anak-anak kecil yang melihatnya karena mereka bertingkah layaknya seorang pembalam professional.

Sehun sendiri sebenarnya ingin ikut bermain hanya saja seperti yang telah dijelaskan, ia tidak memiliki cukup uang. Namun hanya seperti ini pun ia sudah merasa senang. Karena ia merasa terhibur dengan tingkah konyol teman-teman barunya. Ditambah sekarang ia tengah memandangi mereka dengan Jonginnie-nya. Serasa seperti orang tua yang mengawasi anak-anaknya.

Sedangkan Jongin sendiri hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Bukannya ia tidak mau hanya saja ia tidak bisa. Ia takut jika nanti ia mengajak ngobrol namja di sebelahnya ini bisa-bisa ia mengatakan hal yang tidak-tidak. Image-nya akan hancur –walaupun jika dilihat lagi namja di sampingnya ini sama sekali tidak mempermasalahkannya.

Jongin rasanya ingin berteriak dan menjedug-jedugkan kepalanya di tembok karena sekarang ia tengah mendengar suara paling merdu di telinganya. Tawa kecil seorang Oh Sehun. Dan lihatlah ia juga berusaha menutupi tawanya dengan punggung tangannya yang terlihat ramping. Persis seperti gesture seorang ibu yang tertawa melihat anaknya. Dan ia akan menjadi ibu bagi anak-anak Jongin nanti.

Baiklah ia mulai berpikiran ingin bunuh diri sekarang. Atau kalau tidak ia ingin mengalami amnesia karena pikirannya sudah sangat ngelantur. Dan ini sudah pada tingkat yang paling parah. Ingatlah Kim Jongin dia itu namja mana mungkin ia bisa hamil. Oh... Jongin ingin menenggelamkan dirinya di sungai Han karena ia mulai berharap.

"Kai Sehun kami pulang duluan ya!" seru Chen yang kini sudah berada di depan Jongin dan juga Sehun.

Sehun mengagguk pelan sedangkan Jongin hanya terdiam. Di belakang Chen mengekor Chanyeol dan Baekhyun –yang sepertinya masih enggan untuk meninggalkan surga sesaatnya-. Taemin pun segera menghampiri Jongin dan Sehun dengan senyum yang mengembang di wajah manisnya.

"Kai, sebelum pulang kita mampir dulu ya ke cafe xxx. Aku lapar." Taemin pun segera beranjak keluar game center tanpa menunggu persetujuan baik dari Jongin maupun Sehun.

Begitu sampai di tempat yang Taemin inginkan segera saja namja manis itu duduk di meja yang berada di ujung ruangan sembari menarik-narik lengan kurus Sehun. Sepertinya ia sangat suka menarik-narik namja kurus yang lebih tinggi darinya itu.

"Sehun-ah kau ingin makan apa? Aku yang traktir." Tawarnya riang.

Sehun menggeleng dan tersenyum canggung. Teman barunya ini sungguh sangat baik. "Tidak usah Taemin-ah. Rasanya tidak enak harus merepotkanmu lagi."

"Aku tidak merasa kerepotan kok. Ayolah... masa hanya aku yang makan."

Karena merasa tidak enak melihat Taemin yang memandangnya dengan tatapan memelas Sehun akhirnya memesan segelas chocolate bubbletea *itu saya XD #plak*. Jongin sendiri memesan segelas cappucino –walaupun sebenarnnya ia tidak ingin namun Taemin tetap saja memaksa memesan sesuatu, tumben sekali anak ini baik padanya.

"Kai. Sehun. Aku ingin ke toilet dulu. Kalian berdua tunggu disini ya!" setelah itu Taemin pun segera melesat menuju toilet meninggalkan dua sejoli yang hanya bisa terdiam.

Dapat dirasakan aura canggung menyelimuti mereka berdua. Terlebih mereka sedang duduk berhadapan dan tempat mereka duduk berada paling pojok. Ugh... so awkward.

Sehun menyeruput bubbletea-nya pelan. Sesekali ia melirik Jongin yang masih anteng memasang wajah super datarnya semenjak mereka berangkat dari sekolah tadi. Sebenarnya Jongin sendiri tengah berusaha menetralkan kerja jantungnya. Ia tidak ingin suara detak jantungnya terdengar oleh Sehun. Sangat memalukan jika hal itu sampai terjadi. Dan sebenarnya dibalik ekspresi super datarnya ia sedang berusaha menahan nafsunya untuk tidak mencium namja di hadapannya ini senseless. Ugh... rasanya Jongin ingin sekali menggantikan sedotan yang tengah disedot oleh bibir tipis Sehun dengan bibir tebal miliknya.

Jongin sepertinya sudah berhenti merutuki sistem kerja otaknya yang kacau. Percuma saja ia melakukan itu karena satu hal kecil yang dilakukan Sehun sanggup membuat kerja otaknya yang mulai stabil kembali tidak karuan. Jadi ia biarkan saja otaknya berimajinasi secara liar.

Drrrt Drrt Drrrt

Dering ponselnya mengakhiri fantasi liarnya. Ia segera mengambil benda tipis itu dari saku seragamnya. Di layarnya terpampang nama 'Taeminnie'. Ada apa tiba-tiba anak itu mengirimnya pesan?

From : Taeminnie

Kai aku pulang duluan ya! ^^

Tolong kau antarkan Sehun pulang. Kasihan dia dompetnya tertinggal di rumah.

Tenang saja aku sudah membayar semua makanannya kok! ^_^d

Begitulah kurang lebih isi pesan dari Taemin. Jongin sendiri baru sadar bahwa sepupunya itu tidak juga kembali dari toilet dan pesan itu menjelaskan kenapa anak itu belum juga kembali. Jongin menggenggam erat ponselnya itu, mungkin jika ia punya kekuatan super ponselnya sudah hancur berkeping-keping.

Sehun yang melihat ekspresi Jongin yang asalnya super datar menjadi super mengerikan segera menggeser duduknya sedikit menjauh. Takut-takut ia akan menyerangnya. Ia punya trauma tersendiri melihat orang marah-marah Ok!. Terlebih wajah tampan Jongin terlihat sama mengerikannya dengan wajah hyung-nya kalau sedang marah. Ditambah aura mengerikan yang menguar di seluruh tubuhnya membuatnya semakin mengerikan.

"Ayo kita pulang!" segera saja Jongin beranjak dari tempat duduknya diikuti oleh Sehun yang berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah lebar dan cepat Jongin.

"Taemin bagaiamana?" tanya Sehun ragu.

"Dia suduah pulang duluan. Tenang saja aku akan mengatarmu pulang. Rumahmu dimana?"

"Rumahku di daerah Gangnam."

Jongin menghentikan langkahnya tiba-tiba hingga Sehun harus menabrak tubuh kokoh Jongin. Jongin menatap Sehun dari atas sampai bawah. Ia tidak percaya bahwa namja polos yang tengah ia tatap ini bertempat tinggal di kawasan elite itu. Seingatnya anak-anak yang bertempat tinggal disana –yang pernah ia temui tentunya- bersifat angkut layaknya raja. Sedangkan anak ini? Ia bahkan bersekolah di sekolah biasa padahal ada sekolah khusus anak-anak orang kaya di Seoul ini. Dan jangan lupakan sikap anak ini saat menghadapi trio abnormal yang tadi bersama mereka, benar-benar biasa padahal biasanya orang-orang seperti Sehun akan langsung meninggalkan mereka bertiga. Dan lagi saat di restoran tadi ia juga bersikap merendah. Apa benar anak ini anak orang kaya?

"Kau yakin?" tanya Jongin memastikan dan Sehun membalasnya dengan anggukan. "Kalau kau memang kaya kenapa tidak minta di jemput saja?"

"Sebenarnya aku sudah minta jemput pada hyung-ku tapi dia masih ada jam kuliah. Aku tidak bisa memanggil appa karena dia pasti masih sibuk di kantor. Dan aku juga tidak bisa memanggil Yoon ahjussi karena dia juga masih sakit." Tuturnya polos. Sungguh anak baik. Orang tuanya pasti mengajarinya dengan baik.

"Begitukah? Baiklah kalau memang begitu. Tidak kusangka ada anak orang kaya yang baik sepertimu."

"Hm? Apa tadi yang kau katakan Kai?"

"Ani." Jongin pun kembali melangkahkan kakinya yang kembali diikuti Sehun. Kali ini Jongin berjalan lebih pelan dari sebelumnya.

Dan betapa terkejutnya mereka berdua karena begitu akan keluar dari mall tempat game center itu berada di luar sedang hujan sangat deras. Dan jarak halte bis dan mall ini juga tidaklah dekat. Bodohnya Jongin karena tidak membawa payung seperti yang telah diberitahukan eomma-nya.

"Kau bawa payung?" Jongin melirik ke arah Sehun berharap anak baik sepertinya membawa payung dan jawaban Sehun adalah gelengan kepala yang berarti ia juga tidak membawa payung.

"Aku lupa tidak melihat perkiraan cuaca hari ini."

Oh great. Bagaimana caranya mereka pulang sekarang? Ia tidak mungkin nekat berlari menerobos hujan ke halte. Lagipula ia tidak ingin di cap buruk karena telah membuat anak orang sakit akibat kenekatannya. Apa ia harus menunggu sampai hujan reda? Tapi memangnya kapan hujan ini akan reda.

Tiba-tiba nada dering khas ponsel terdengar. Jongin tahu itu bukan ponsel miliknya karena sejak kapan Jongin menyukai Justin Bieber, terlebih lagi memasangnya sebagai nada dering di handphone-nya. Sampai kiamat pun ia tidak sudi. Ia melirik ke arah Sehun dan benar saja anak itu tengah berbincang di handphone-nya. Sepertinya dengan hyung-nya.

"Aku sekarang berada di mall xxx di jalan xxx. "

"..."

"Aku tidak keluyuran tidak jelas kok. Aku sedang bersama temanku. Dia dengan baik hati akan mengantarkanku pulang, tidak seperti hyung!" tanpa sadar Sehun tengah mengerucutkan bibirnya lucu. Sepertinya ia tengah merajuk pada sang hyung. Dan itu berhasil membuat Jongin harus menahan napasnya agar tidak bertindak yang tidak-tidak.

"..."

"Ne. Arasseo. Aku tunggu ya hyung." Dan setelah itu Sehun menutup panggilannya dan memandang Jongin dengan tatapan berbinar. "Kata hyung-ku ia akan menjemputku sebentar lagi."

"Kurae? Kalau begitu aku pulang dulu." Baru saja Jongin akan menerobos hujan tangannya tiba-tiba di tahan oleh seseorang yang tidak lain dan tidak bukan adalah Oh Sehun.

"Kau pulang denganku saja. Lagipula masih hujan dan aku tidak ingin kau sakit Kai."

Jongin benar-benar ingin sekali menculik anak ini. Lihatlah tatapan memelasnya itu. Ia bahkan lebih manis dari Sulli yang pernah menjadi yeoja termanis saat masih sekolah menengah dulu. Dan sekarang disinilah mereka menunggu hyung Sehun untuk menjemput mereka berdua. Tak lama datanglah seorang namja dengan tinggi abnormal –sepeti Chanyeol hanya saja ia terlihat lebih tinggi- dengan rambut blonde yang mencolok namun tetap terkesan cocok dengannya. Karena harus Jongin akui ia sangat tampan namun tidak lebih tampan darinya. Ia berjalan mencari-cari seseorang dengan payung transparannya.

"Itu hyung. Hyung disini!" seru Sehun tiba-tiba. Sepertinya namja kelewat tinggi itu adalah hyung-nya.

Si namja tinggi itu segera saja berjalan cepat ke arah mereka dengan sebuah lagi yang ia pegang. "Kau ini membuat hyung khawatir saja." Katanya begitu ia sampai dihadapan Sehun dan Jongin. Sehunnya sendiri hanya cengengesan.

"Hyung sekalian antar Kai pulang ya! Kasihan kan dia kalau harus hujan-hujanan." Pinta Sehun ditambah aegyo-nya yang selalu berhasil membuat seorang Kris bertekuk lutut.

Kris menghela napasnya panjang melihat kelakuan dongsaeng-nya yang kekanakan namun baik. "Baiklah." Dan setelah itu Kris memberikan sebuah payung yang awalnya untuk Sehun pada Jongin. Ia tidak rela jika dongsaeng kesayangannya harus satu payung dengan namja tidak jelas sepertinya, pikir Kris.

Selama diperjalanan bisa dibilang suasananya terasa menegangkan bagi Jongin. Bagaimana tidak? Hyung-nya Sehun itu sesekali menatapnya tajam dari balik kaca mobil seolah ia ingin menguliti Jongin hidup-hidup. Jongin yang duduk di kursi belakang ditemani Sehun hanya bisa terdiam ditatap seperti itu olehnya, ia merasa seperti seseorang yang harus menghadapi kakak overprotective kekasihnya. Malangnya nasib seorang Kim Jongin.

Setelah beberapa menit menerobos jalanan kota Seoul dengan Audi A5 hitam milik appa-ya Kris –karena ia tidak rela jika mobil kesayangannya basah- akhirnya mereka sampai di depan rumah Jongin. Aaah~ Akhirnya Jongin bisa keluar dari neraka ini. Sehun ingin mengantarnya sampai ke depan rumah tapi sayangnya sang hyung tidak mengizinkannya. Dan Sehun hanya mampu mengucapkan salam perpisahannya melalui kaca mobil dan setelah itu mobil elite itu pun melesat meninggalkan Jongin yang masih terdiam di depan rumahnya.

Jongin segera masuk ke dalam rumahnya sebelum eomma-nya mulai memarahinya karena ia hanya terdiam di luar. Sungguh hari yang sangat melelahkan.

.

.

.

Begitu sampai di rumahnya Sehun segera berlari ke kamarnya meninggalkan sang hyung yang masih harus memarkir mobilnya. Sehun segera merebahkan dirinya di kasur king size miliknya. Senyum bahagia tidak terlepas di wajah manisnya. Sungguh hari yang sangat menyenangkan.

Ia mendapat teman-teman baru yang sangat baik padanya. Selain itu ia juga berhasil bertemu dengan Jonginnie-nya. Cinta pertamanya.

Sehun mungkin akan terus tersenyum-senyum sendiri jika saja hyung-nya tidak itu memergokinya. Terlihat Kris memandangnya penuh tanya. Apa mungkin otak dongsaeng-nya itu sudah mulai rusak gara-gara kelakuan unik eomma-nya?

"Kau kenapa Hun-ah?" Kris mendudukan tubuh tingginya di pinggiran kasur Sehun. Memandang dongsaeng kesayangannya yang masih berbaring di kasurnya dengan senyum manis yang mengembang di wajah manisnya.

Sehun menggelengkan kepalanya lalu dengan tiba-tiba ia memeluk hyung-nya erat dan singkat. Ia juga mengecup pipinya sekilas sebelum berlari ke arah kamar mandi dan berteriak. "Aku sayang hyung."

Kris hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kadang ia tidak mengerti dengan tingkah dongsaeng-nya itu. Ia tersenyum simpul kemudian setengah berteriak pada Sehun. "Aku juga menyangimu nae dongsaeng." Lalu ia pun berjalan keluar kamar Sehun.

Begitu selesai dengan kegiatan private-nya yaitu mandi dan berpakaian Sehun kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur. Kali ini ia tengah memegang sebuah benda kesayangannya yang masih ia jaga baik-baik sampai saat ini. Benda itu adalah hadiah pemberian Jonginnie-nya saat dulu. Sebuah mahkota ranting yang sudah mulai rapuh dengan tanda beruang aneh di tengahnya. Dan hal itu mengingatkannya pada janji kecil mereka saat masih kanak-kanak dulu.

"Kira-kira apa kau masih ingat janji kita, Jonginnie?" Sehun memegang makhota itu di dadannya, senyum sendu kini menggantikan senyum manisnya. "Tentu saja kau tidak ingat. Kalau ingat pun kau tidak akan mugkin mengenaliku. Siapa juga yang akan mengingat seorang namja yang berpakaian yang berpakaian yeoja sepertiku."

.

.

.

Sementara itu di kediaman Kim, Jongin sedang uring-uringan di atas kasurnya. Ia tengah memikirkan semua hal yang telah terjadi padanya hari ini. Pertemuannya dengan Oh Sehun. Teman sekelas Taemin dengan senyum termanis yang pernah ia lihat. Namja manis yang berhasil membuatnya gila seharian. Namja polos yang membuatnya berfantasi aneh.

Setibanya tadi di rumah ia langsung mengguyur dirinya dengan air hangat di shower. Biasanya jika ia sedang stress hal itu akan membantunya menenangkan dirinya sendiri. Namun kali ini? Walaupun air hangat itu telah membasahi tubunya selama hampir setengah jam penuh ia tidak berhasil menghilangkan bayangan Oh Sehun dalam pikirannya. Malah ia mendapati eomma-nya yang berteriak-teriak agar tidak menghambur-hamburkan air. Great.

Jongin sendiri terheran-heran dengan sikapnya yang terbilang abnormal –baginya-. Sebenarnya ia ingin bertanya pada noona-nya atau pada Taemin sepupunya namun ia urungkan niat itu. Noona-nya itu pasti akan menjawabnya malas-malasan. Sedangkan Taemin? Ia mungkin akan menertawakannya dan mengatainya bodoh dan ia tidak mau itu. Bertanya pada salah satu trio abnormal itu? Ia tidak yakin akan mendapat jawaban yang cukup normal jika ia bertanya pada mereka bertiga. Moonkyu? Ah! Ia baru ingat anak itu. Baru saja ia akan menelpon sahabat lamanya itu namun segera ia urungkan niatan mulia itu begitu mengingat reaksi yang akan diberikan anak itu nantinya. Ia sama kejamnya –ah tidak- ia mungkin lebih kejam dari Taemin. Mungkin selain menertawakannya dan mnegejeknya bodoh ia juga akan meyebar gossip yang tidak-tidak di SNS-nya.

Dan akhirnya Jongin hanya bisa uring-uringan tidak jelas lagi di atas kasurnya. "Apa yang telah kau perbuat padaku, Oh Sehun?"

.

.

.

TBC

oOo

Hohoho... ending yang aneh XD

AAAAAH~ Akhirnya selesai juga. Sebenarnya saya sedikit pusing juga untuk chapter selanjutnya.

Tapi yasudahlah. Biarkan saja imajinasi saya akan membawanya kemana *halah*

OK. Karena saya sedang rajin mari kita balas review yang belum saya balas disini

Kaihun : ini udah lanjut. Dan bisa ditebak kan si Kkamjong inget apa enggak.

Tia kaisookaihunhunhanbaekyeol : ini udah lanjut XD

d5 : salam kenal juga. Hohoho saya tidak akan hiatus *setidaknya saat ini*. ini udah update petir *?*

Snow : Iya nih. Kalo Jongin dingin gitu mari kita culik saja Sehun sebelum diculik duluan sama Jongin XD. Hahaha iya nih udah saya panjangin –dikit.

Jung oh jung : salam yehet, ohorat, dan overdose juga *?*

xxx : sepertinya banyak orang yang ngira ini GS XD. Saya juga like banget sama kelakuan eomma sehun.

sehunWind : Sehunnya emang namja. Sudah diceritain kok di chap 1 ^^

Monster uke : hahaha... begitukah? Apa karena terlalu mempesona #kepedean *digeplak reader*. Saya punya fb cuma jarang saya buka. Saya lebih senang twitter *siapa yang nanya coba?*

Baiklah segitu dulu dari saya.

Sekali lagi terima kasih bagi yang telah membaca dan me-review ff ini. saya masih tidak menyangka mendapat respon positif dari readerdeul. Padahal saya sudah sangat pesimis.

Mohon bagi yang telah membaca memberikan review-nya. Review readerdeul semua akan membatu saya bersemangat untuk melanjutkan ff ini XD

Salam galaxy! *saya lagi suka sama si galaxy oppa XD*