Is that you?
By : Chocolate bubbletea
Disclaimer : Semua karakter bukan punya saya. Kalo punya saya Kris udah saya bawa kabur XD
Pair : Kaihun. Krishun brothership!. Slight! Kray.
Rate : T
Warning : Boys love, OOC, Typo, dan masih banyak lagi
oOo
Chapter 3
oOo
"Mau sampai kapan kau akan menatapku seperti iku Kai?" tanya Chanyeol risih.
Ya. Itulah yang sedari tadi Jongin lakukan semenjak ia bertemu dengan namja tinggi itu di kantin. Ia sedang mengetes dirinya sekarang ini. Mengetes apakah mungkin ia sudah menjadi... you know. Tapi mengapa Chanyeol yang menjadi bahan percobaannya? Alasannya jika ia melakukannya pada orang yang dikenal ia tidak akan terlalu dianggap aneh oleh orang lain.
Sebelumnya ia sudah mengetes hal ini pada Baekhyun karena ia berpikir jika memang ia itu, mungkin ia menyukai tipe namja manis yang mirip dengan yeoja. Dan Baekhyun memenuhi kriteria itu. Namun hasilnya? Ia sama sekali tidak merasakan apapun.
Dan sekarang ia mengetesnya pada Chanyeol karena mungkin saja ia menyukai tipe namja tampan. Dan –menurut yeoja-yeoja kecentilan itu- Chanyeol memenuhi kriteria tersebut. Dan di sinilah ia, menatap Chanyeol lekat mencoba memastikan apakah ia mendapat getaran aneh itu jika ia menatapnya. Namun sudah bermenit-menit berlalu dan ia tidak merasakan apapun. Sepertinya ia bukan itu. Tapi kenapa ia merasa aneh jika berada di dekat Oh Sehun?
"Cih! Ternyata sama saja!" gerutu Jongin.
"Ya! Kau ini kenapa sih? Dari kemarin kau selalu bersikap aneh."
Bukannya menjawab pertanyaan Chanyeol, Jongin justru mulai memakan fried chicken-nya. Chanyeol sendiri rasanya ingin sekali mencekik bocah di hadapannya ini. Bagaimana tidak? Ia telah menghilangkan nafsu makan Chanyeol dengan tatapan anehnya itu dan sekarang? Bukannya meminta maaf atau apapun itu justru Jongin malah makan makanannya seolah tidak ada apapun yang terjadi. Walau bagaimanapun juga Chanyeol itu lebih tua darinya, setidaknya hargailah ia. Pikir Chanyeol.
"Sudahlah Yeollie. Biarkan saja anak itu. Kau hanya akan buang-buang tenaga saja jika sudah berurusan dengannya." Lerai Baekhyun. Chanyeol sudah mau mencekik Jongin tadi kalau saja Baekhyun tidak menghentikan aksinya.
"Wah! Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut begini?" Taemin yang baru saja datang ke meja Jongin dan yang lainnya menatap teman-temannya itu sedikit bingung. Ia mendudukan dirinya di samping Jongin seperti biasanya dan memandang Jongin yang sepertinya sedang bad mood dengan heran. "Kenapa Kai? Dan... kenapa Chanyeol hyung terlihat ingin membunuh Kai begitu?" tanyanya penasaran begitu melihat ekspresi Chanyeol yang tidak kalah buruknya dari Jongin.
"Kalau Kai sih aku tidak tahu. Tapi kalau Chanyeol dia jadi begitu karena Kai yang melakukan hal aneh lagi. Dan kali ini Chanyeol yang jadi korbannya." Tutur Chen. Taemin mengangguk-angguk mengerti.
"Ngomong-ngomong mana Sehun?" Baekhyun yang sepertinya menyadari ke-tidak hadiran sang namja pucat yang selalu bersama Taemin itu mengedarkan pandangannya mencari Sehun.
"Oh... hari ini Sehun tidak masuk sekolah. Dia Sakit!" ucapan Taemin tadi sukses membuat Jongin menghentikan acara makannya dan menatap sepupunya yang baru akan makan itu.
"MWO? Dia sakit? Dia sakit apa?" tanya Jongin tak sabaran. Dan hal yang mengejutkan Jongin adalah Taemin yang tiba-tiba saja menyeringai ke arahnya. Oh... this is bad.
"Chigudeul, sepertinya aku sudah tahu kenapa dengan Kai akhir-akhir ini." Ujar Taemin tiba-tiba penuh dengan rasa percaya diri. Tiga namja yang lebih tua dari Taemin itu segera mengerubuni Taemin dengan antusias.
"YA! Sudah kubilang aku ini tidak kenapa-napa! Dan lagi kau belum menjawab pertanyaanku Lee Taemin."
"Lalu kalau tidak kenapa-napa kenapa kau terlihat khawatir begitu saat aku bilang Sehun sakit? Kau ini bukan tipe orang yang akan peduli dengan orang yang baru kau kenal Tuan Kim. Dan sikapmu yang selalu aneh saat bersama dengan Sehun semakin menambah kecurigaanku." Tutur Taemin panjang lebar layaknya seorang detektif yang sedang memaparkan analisisnya. "Kau menyukai Sehun kan?"
Bang! Itulah yang selalu menghantui Jongin. Perasaan aneh yang ia rasakan itu apakah karena ia menyukai Sehun. "Si-siapa yang menyukai namja kelewat cantik itu?" elak Jongin.
Damn. Sepertinya ia kelepasan tadi. Kenapa juga ia menyebut Sehun cantik, sekarang seringai Taemin semakin lebar. Membuat Jongin semakin tidak bisa berkutik.
"Sudahlah jangan mengelak begitu. Akui sajalah Kai." Sekarang Chanyeol ikut-ikut menggodanya. Ia yang tadinya duduk di sebelah Baekhyun kini berpindah tempat ke samping kirinya –yang kanan sudah di tempati Taemin-. "Sikapmu itu terlalu mencolok, kau tahu." Katanya sambil menyikut-nyikut Jongin jahil.
Jongin rasanya ingin menghilang saja sekarang.
.
.
.
Sehun benar-benar merasa kesal sekarang. Taeyeon Seonsaengnim dengan seenaknya saja menyuruhnya untuk mengembalikan buku-buku pinjamannya ini ke perpustakaan, padahal ia kan ingin berkumpul bersama teman-teman barunya di kantin. Entah guru matematika itu memang senang sekali menyiksa murid-muridnya atau karena guru itu hanya senang menyiksa Sehun saja. Karena sejak pertama bertemu dengannya, Sehun selalu saja menjadi orang suruhannya.
Begitu sampai di perpustakaan segera saja Sehun menyerahkan buku-buku tebal yang kelewat berat itu pada petugas perpustakaan. Ia tidak mau repot-repot kalau harus mengembalikannya ke rak buku. Namun sepertinya nasib sial sedang ada padanya karena petugas itu sedang sangat sibuk memasukan data-data –yang entah apa itu- ke dalam komputer. Dan ia menyuruh Sehun untuk mengembalikan buku-buku itu ke rak sendiri dan karena Sehun adalah anak yang baik –walaupun sebenarnya ia sangat malas- ia menurut saja dan membawa buku-buku itu untuk segera di kembalikan ke raknya.
Buku terakhir sudah ia masukan kembali ke raknya dengan rapi. Akhirnya ia bisa ke kantin untuk makan bersama teman-temannya. Baru saja ia akan melangkahkan kakinya meninggalkan perpustakaan ia melihat seorang namja yang sepertinya kesulitan untuk mengambil buku yang terletak di rak paling atas. Ia terlihat berjinjit dan sesekali melompat namun tetap saja ia tidak dapat meraih buku yang ia inginkan.
"Apa ada yang bisa dibantu, sunbae?" tanya Sehun sesopan mungkin. Setelah Sehun mendekat ternyata namja tadi adalah seniornya. Mungkin ia ada di tingkat akhir –jika dilihat dari warna dasinya.
"Oh! Kebetulan sekali. Bisa kau bantu aku mengambil buku itu." tunjuk namja itu pada sebuah buku tebal yang ada di rak paling atas. Sebuah buku tentang bahasa inggris. "Aku cukup kesulitan untuk mengambilnya."
Sehun mengangguk mengerti. Ia segera mengambil buku tersebut, sedikit berjinjit karena rak itu jauh lebih tinggi dari perkiraannya. "Ini sunbae." Sehun segera menyerahkan buku itu pada namja yang lebih pendek darinya itu. Namja itu tersenyum pada Sehun.
"Gomawo. Zhang Yixing imnida. Tapi kau bisa memanggilku Lay. Siapa namamu?" ucap namja yang bernama Lay itu dengan lembut. Membuat Sehun sedikit tersipu dengan perlakuan baik sunbae-nya ini. Karena semasa di Kanada sana ia selalu mendapat perlakuan yang –kurang baik dari senior-seniornya. Jadi ia merasa senang karena di Korea ia mendapat senior-senior yang baik, seperti Lay –tapi ia masih belum sepenuhnya yakin-, dan trio beagle line yang dikenalkan Taemin.
"O-Oh Sehun imnida." Ucap Sehun gugup.
"Senang bisa berkenalan denganmu Sehun. Kalau begitu aku permisi dulu, ada beberapa hal yang harus aku kerjakan. Annyeong." Lay pun pergi menuju tempat membaca. Meninggalkan Sehun yang tersenyum manis di tempatnya.
Sepertinya kehidupannya di Korea ini akan menyenangkan.
.
.
.
Bel sudah berbunyi. Itu artinya Jongin harus segera masuk ke kelasnya jika tidak ingin terlambat dan dimarahi oleh Heechul seonsaengnim yang terkenal super galak itu. Di perjalanannya menuju ke kelas ia melihat Sehun yang sepertinya sedang terburu-buru –entah ingin kemana.
Bukankah Taemin bilang anak itu tidak masuk sekolah?
Karena penasaran, bukannya masuk ke kelas ia justru mengikuti Sehun. Jongin terus mengikuti Sehun hingga ia sampai di depan perpustakaan. Baiklah ia merasa telah salah mengikuti Sehun kalau tahu jika anak itu akan masuk ke perpustakaan. Mungkin namja manis itu hanya ingin meminjam buku. Baru saja Jongin akan kembali ke kelas, ia ingat dengan pernyataan Taemin saat di kantin tadi. Jongin rasa ia harus mengintrogasi Sehun karena sudah membuatnya –ehem- khawatir selama jam istirahat tadi.
Jongin berjalan ke arah sang namja manis yang tengah berjinjit mengambil buku di rak paling atas. "Oi!" Seru Jongin begitu sampai tepat di belakang Sehun. Membuat Sehun yang masih fokus untuk mengambil buku yang ia inginkan tersentak kaget.
"Kai?" tanyanya begitu ia membalikan tubuhnya dan mendapati Jongin yang menatapnya dengan tatapan yang menyelidik.
"Bukankah kau tidak masuk sekolah hari ini?"
Pertanyaan Jongin tadi membuat Sehun menyernyit bingung. "Siapa yang mengatakan hal itu?" tanya Sehun penasaran.
"Taemin."
Baiklah. Sehun merasa bingung sekarang. Kenapa Taemin mengatakan pada Jongin bahwa ia tidak masuk sekolah hari ini. Apa mungkin ia marah karena tidak pergi ke kantin bersamanya saat jam istirahat tadi. Pikir Sehun
Sehun yang hanya diam dan justru menopang dagunya dengan lucu itu membuat Jongin sedikit kesal dan gemas. "Kenapa hanya diam?" tanya Jongin tak sabaran membuat Sehun tersentak kaget.
"A-ah. Mianhae. Aku hanya sedang berpikir saja, kenapa Taemin mengatakan aku tidak masuk hari ini? Aneh."
Sekarang Jongin yang balik menyernyitkan dahinya bingung. Akhir-akhir ini sikap Taemin memang aneh. Apalagi saat tadi di kantin ia dengan seenaknya menyebut kalau Jongin menyukai namja di hadapannya ini. "Jadi maksudmu Taemin berbohong, begitu?"
Sehun mengangguk sekilas namun ekspresi bingungnya tiba-tiba saja berubah mejadi ekspresi sedih dan takut. Terlihat seperti anak kucing. "Apa jangan-jangan Taemin marah padaku karena tidak menemaninya ke kantin?" Gumam Sehun. Jongin masih menatap Sehun dan berusaha menahan dirinya agar tidak meculik namja di hadapannya ini. Karena well, dia terlihat sangat manis saat ia menatap dirinya dengan tatapan memelas seperti itu. "Kai. Taemin tidak marah padaku kan?" tanya Sehun penuh harap.
Kalau bukan Sehun yang sedang dihadapi oleh Jongin saat ini mungkin ia sudah Jongin jahili. Namun ia terlalu polos untuk di jahili dan Jongin merasa tidak tega –dan tidak bisa- menjahilinya. "Ani. Dia tidak terlihat marah pada siapapun."
Sehun menghelan napasnya lega. "Oya, kenapa kau ada tidak ke kelas Kai? Apa seonsaengnim-mu juga menyuruhmu untuk mengambil buku di perpustakaan?"
Kelas. Baiklah Jongin rasa ia lupa akan hal itu. Ia melirik jam tangannya dan oh... ia sangat telat sekarang. Tanpa pikir panjang ia langsung saja berlari secepat kilat meninggalkan Sehun yang kini menatapnya bingung.
Di perjalanan menuju ke kelas ia tidak henti-hentinya berdoa semoga guru galak itu terlambat masuk kelas. Sesekali ia mendapat teguran dari guru pengawas tapi ia tidak mengindahkannya. Lebih baik ia segera sampai di kelas, walau bagaimanapun ia tidak mau di cap sebagai anak berandal yang bolos di kelas padahal ini masih semester awal. Namun sepertinya dewi fortuna sedang tidak berpihak padanya. Ketika ia masuk ke kelas dengan napas tersenggal dan rambut yang berantakan yang ia dapati adalah guru super galak itu tengah menatapnya dengan mengerikan. Jongin hanya mampu menelan ludahnya tanpa mampu mengatakan alasan apapun yang sudah ia susun dalam otaknya saat ia berlari dari perpustakaan tadi.
"KAU! DILARANG MASUK KE KELASKU! KELUAR SEKARANG!"
Seharusnya ia tahu kalau akhirnya akan seperti ini. Haa~ kalau begini jadinya ia lebih baik diam saja di perpustakaan atau kalau tidak berdiam diri di atap sekolah sampai pelajaran Heechul Seonsaengnim selesai. Kalau seperti ini ia akan berakhir di ruang BK.
Jongin hanya mampu menurut dan menutup dengan hati-hati pintu geser kelasnya dan berdiri di depan kelasnya dengan bosan. Ia melihat ke arah samping untuk mencari apapun yang akan menghiburnya selama ia berdiri di depan kelas dan ia melihat Sehun. Namja manis itu terlihat membawa banyak sekali buku tebal di kedua tangannya. Ia ingin membantu namja manis itu karena ia terlihat begitu kesulitan membawa buku sebanyak itu. Namun apa daya begitu ia bergerak ke arah Sehun, Heechul seonsaengnim langsung saja berteriak dari dalam kelas agar tidak bergerak seinchi pun dari tempatnya.
Teriakan Heechul seonsaengnim tadi membuat Sehun menoleh ke arah sumber suara tersebut. Disana tepat di depan ruang bertuliskan 1-4 tersebut berdiri Jongin yang tengah menatapnya. Sehun tersenyum canggung ke arah Jongin. Ia sedikit merasa kasihan dan mungkin bersalah, karena secara tak langsung ia juga yang menyebabkan namja tan itu terlambat dan akhirnya harus terdiam di depan kelas begitu.
Setelah Jongin membalas sapaan tak langsungnya dengan sebuah acungan tangan –Sehun sedikit bingung mengapa Jongin melakukan itu dan apa maksudnya-, ia pun masuk ke kelasnya dengan susah payah. Karena buku-buku itu menyusahkan gerak tangannya.
Jongin sepertinya masih terhipnotis oleh senyum Sehun. Ia masih diam dengan posisi yang sama sampai akhirnya getaran di kantung seragamnya menyadarkannya dari lamunannya. Jongin mengambil smartphone-nya itu dengan hati-hati –takut Heechul seonsaengnim melihatnya. Ia mendapati satu pesan dari teman sekelasnya –yang cukup nekat untuk memainkan handphonenya saat pelajaran guru killer itu.
From : Moon Jong Up
Mau sampai kapan kau berpose aneh seperti itu? :P
Jongin mengalihkan pandangannya langsung pada namja yang tadi mengirim pesan padaya. Ia terlihat kalem-kalem saja di tempat duduknya. Namja yang memiliki nama yang sedikit mirip dengannya itu selalu saja membuatnya merasa kesal. Dan pesan beserta emoticon aneh itu membuatnya semakin kesal pada namja tersebut.
Sudah berjam-jam lamanya Jongin berdiri tanpa bisa berbuat apa-apa. Entah Heechul seonsaengnim itu mempunyai mata dimana-mana atau memang ia dikaruniai insting yang tajam karena setiap kali Jongin berusaha untuk kabur guru killer itu selalu saja mengetahuinya.
Bel tanda pelajaran berakhir pun berbunyi. Heechul seonsaengnim pun keluar dan sebelum pergi ia menyuruh Jongin untuk ke ruangannya saat jam pulang nanti. Jongin mengangguk lemah dan Heechul seonsaengnim pun pergi.
Jongin hanya mampu masuk ke kelasnya dengan langkah gontai. Kedua kakinya sudah pegal-pegal dan ia benar-benar lelah. Baik tubuh maupun pikirannya sudah sangat lelah.
"Kau ini kenapa eoh? Tumben sekali kau datang terlambat." Tanya Jongup yang kebetulan duduk di belakang Jongin.
Jongin menatap sekilas Jongup kemudian kembali menghadap ke depan. Tidak menghiraukan pertanyaan Jongup. Rupanya ia masih sedikit kesal dengan pesan Jongup tadi. Dan Jongup yang pada dasarnya bukanlah orang yang peduli dengan sikap orang lain pun kembali ke kegiatannya yang tadi sempat tertunda. Bermain game.
.
.
.
Bel terakhir pun akhirnya berbunyi. Semua murid bersorak senang –dalam hati tentunya. Begitu selesai memasukan buku dan alat tulisnya Sehun segera menghampiri meja Taemin. Ia ingin meminta maaf pada namja manis itu karena tidak pergi ke kantin seperti yang ia janjikan padanya. Ia melakukan ini karena ia ingat perkataan Jongin di perpustakaan tadi tentang Taemin yang memberitahu Jongin bahwa Sehun sakit. Apa Taemin tidak ingin lagi berteman dengannya sehingga ia mengatakan kebohongan seperti itu.
"Taemin-ah." Panggil Sehun pelan. Ia menatap Taemin yang masih asyik mengemasi barang-barangnya. Bagaimana ini apa Taemin benar-benar marah. Pikir Sehun panik. "Taemin-ah." Panggilnya lagi dengan suara yang sedikit ia naikan dan kali ini Taemin menengok ke arahnya.
"Oh! Sehun-ah." Kata Taemin disertai dengan senyum manisnya.
"Mi-mianhae." Ucap Sehun pelan. Ia menundukan kepalanya dan sesekali menjilat bibirnya. Sedangkan Taemin memandang Sehun bingung. "Mianhae karena aku tidak pergi ke kantin bersamamu hari ini." tambahnya dengan suara yang tak kalah pelan dari yang tadi.
"Oh... soal itu." ujar Taemin mengerti sambil menjentikan jarinya. Ia mengangkat dagu Sehun perlahan agar menatapnya kemudian ia tersenyum. "Tidak usah dipikirkan ok! Aku tidak masalah kok. Lagipula kau juga sedang sibuk kan?" tanya Taemin dan Sehun mengangguk pelan. "Oya, hari ini kan hari ex-school. Kau mau masuk club mana Sehun-ah?" tanya Taemin antusias.
"Aku akan masuk ke club seni."
"Jinjja? Aku juga akan masuk club seni. Kau akan masuk ke cabang yang mananya?" tanya Taemin lebih antusias kali ini.
Sehun terlihat berpikir sebentar. "Mungkin aku akan masuk dance dan memasak. Mereka ada di hari yang berbeda kan?" tanya Sehun mencoba memastikan dan Taemin mengangguk.
"Kalau begitu kita akan masuk ke cabang yang sama. Aku juga akan masuk dance." Ujar Taemin semangat. Begitu selesai membereskan semua barangnya ia langsung menyeret Sehun ke ruang club dance. Membuat Sehun sedikit kewalahan juga karena Taemin berlari dengan cepat sekali. Padahal ia lebih pendek dari Sehun.
Begitu sampai di sebuah gedung yang cukup jauh dari gedung kelasnya berada Taemin langsung melepaskan tautan tangannya dengan Sehun. Ia mengedarkan pandangannya, sepertinya ia tengah mencari seseorang. Karena penasaran Sehun pun bertanya. "Taemin-ah, kau mencari siapa?"
"Ani. Bukan siapa-siapa. Kajja kita masuk ke dalam." Dan kembali Taemin menarik Sehun ke dalam gedung tersebut kali ini ia berjalan seperti biasanya. Jika ditarik seperti ini entah mengapa Sehun merasa ia seperti seorang anak yang sedang dituntun oleh ibunya.
Setelah berjalan cukup lama karena ternyata ruangan tempat berkumpul anggota club dance itu cukup jauh –berada di ujung gedung ini- akhirnya mereka pun sampai. Di dalam ruangan itu sudah ada banyak sekali orang yang tidak Sehun kenal.
Mereka berdua pun duduk di barisan paling depan karena Taemin yang memaksa ingin duduk di paling depan padahal sejujurnya Sehun lebih memilih duduk di barisan paling belakang. Banyak orang yang mulai berdatangan dan semakin banyak wajah yang tidak ia kenal. Beberapa saat kemudian, tepat sebelum para senior muncul Jongin masuk ke ruangan tersebut bersama dengan seorang namja yang tidak Sehun kenal –lagi. Mungkin ia teman sekelas Jongin. Pikir Sehun.
"Baiklah sebelum aku mendata kalian semua sebaiknya kita lakukan perkenalan terlebih dahulu. Annyeonghaseo Lee Kikwang imnida. Aku adalah ketua di club ini." ujar salah satu Senior yang berdiri di paling kanan. Kemudian di lanjut dengan beberapa senior yang lainnya secara berurutan *mian saya bingung harus masukin siapa aja, silahkan reader berimajinasi aja siapa-siapa aja senior-senior itu*
Begitu semua senior yang ada di depan selesai memperkenalkan diri mereka tiba-tiba pintu terbuka. Seorang namja yang sepertinya Sehun kenal tengah tertunduk dengan memegangi lututnya. Sepertinya ia berlari kesini. "Mian.. hosh aku terlambat... hosh aku harus ke ruang guru dulu tadi." Ucapnya dengan napas terengah-engah. Suara ini begitu familiar bagi Sehun namun dimana ia pernah mendengarnya?
Oh! Lay sunbae. Ia ingat sekarang. Sunbae yang tadi ia tolong saat di perpustakaan. Dan Sehun semakin yakin kalau itu Lay setelah melihat wajah manisnya dan jangan lupakan lesung pipi khasnya.
"Sudahlah. Tidak masalah bagiku. Sebaiknya kau perkenal dirimu itu pada mereka." Ucap Kikwang. Lay mengangguk antusias. Setelah ia mengatur napasnya ia pun tersenyum ke arah hoobae-hoobae-nya.
"Annyeonghaseo. Zhang Yixing imnida. Tapi kalian bisa memanggilku Lay. Aku adalah anggota sekaligus ketua club seni secara keseluruhan."
Wow. Hanya itu yang dapat ia katakan dalam hatinya. Ia tidak menyangka namja yang sempat ia tolong saat di perpustakaan itu adalah ketua club. Terlebih lagi ketua club seni secara keseluruhan. Itu artinya ia memimpin empat club cabang secara keseluruhan. Penampilannya sama sekali tidak menunjukan posisinya yang sangat berpengaruh itu.
.
.
.
Jongin benar-benar merasa kesal sekarang. Kenapa? Karena ia hampir saja terlambat gara-gara Heechul seonsaengnim yang terus saja mengoceh tentang sesuatu yang berhubungan dengan peraturan. Kalau saja bukan karena Hangeng seonsaengnim yang kasihan pada Jongin dan membantunya agar Heechul seonsaengnim segera melepaskannya, ia bisa saja berdiri di hadapan guru killer itu berjam-jam lamanya. Dan beruntung karena ia dapat teman pergi ke ruang club karena Jongup masih ada di ruang kelas. Memainkan gamenya.
Jongin dan Jongup pun harus berlari sekuat tenaga agar cepat sampai di ruang club. Dan hal yang membuatnya terkejut dan semakin kesal adalah karena tepat di barisan paling depan tengah terduduk Oh Sehun yang memandangnya dengan tatapan polosnya dan Lee Taemin yang tengah tersenyum aneh ke arahnya. This is just great.
Kegiatan club hari ini pun berakhir dengan sangat membosankan. Hanya perkenalan dan pendataan. Kikwang mengatakan kegiatan club akan mulai minggu depan dan mereka semua harus menunjukan sejauh mana mereka bisa menari. Hanya itu dan ia pun pulang. Sungguh membosankan.
"Kai-ah!"
Great. Disaat ia tidak ingin berurusan dengan sepupunya itu ia malah memeluk Jongin dengan erat dari belakang. Seperti ingin mencekiknya saja dengan posisi kedua lengannya yang tepat berada di leher Jongin.
"Kenapa dengan wajahmu itu eoh? Kau terlihat kusut sekali." Tanya Taemin dengan nada yang Jongin ketahui sebagai nada godaan. Apa seorang Lee Taemin sedang menggodanya sekarang? Bukakah seharusnya ia tahu kalau salah satu yang menyebabkan Jongin berwajah kusut seperti ini adalah dirinya.
"Aku sedang tidak ingin berurusan denganmu Lee Taemin." Ucap Jongin dingin. "Dan apa kau ingin mencekikku? Lepaskan lenganmu itu sekarang juga."
Taemin pun segera melepaskan pelukannya dan kini menatap Jongin dilengkapi dengan seringaian menyebalkannya itu. "Kai-ah. Mau dengar sesuatu tidak?"
"Tidak."
Taemin menggembungkan pipinya lucu begitu mendengar jawaban super singkat Jongin. "Kau tidak seru ah! Sudahlah dengarkan saja." Paksanya. Jongin hanya memutar matanya tandanya ia sudah peduli lagi. "Kau tahu, tadi aku lihat Sehun pulang bareng Lay sunbae loh."
Ucapan Taemin tadi sukses membuat Jongin yang tengah memakai sepatunya itu menatap Taemin kaget. Apa tadi ia salah dengar? Sehun pulang bersama dengan Lay sunbae? Bukankah ia selalu pulang di jemput hyung-nya yang super menyeramkan itu. Pikir Jongin.
Karena penasaran akhirnya Jongin segera pergi dengan langkah terburu-buru menuju gerbang sekolah. Biasanya hyung Sehun itu akan menunggunya di depan gerbang. Jangan tanya kenapa ia tahu. Ia bukan seorang stalker, ia hanya kebetulan sering melihat mobil hyung-nya Sehun di depan gerbang ketiak namja tinggi itu menjemput dongasaeng- nya.
Dan benar saja begitu ia hampir tiba di depan gerbang ia melihat Sehun bersama hyung menyeramkannya itu dan juga Lay sunbae. Mereka sedang mengobrol sepertinya. Jongin tidak dapat mendengar percakapan mereka karena jaraknya dengan ketiga orang itu cukup jauh.
"Kau sedang apa Kai? Mematai-matai seseorang?" suara Baekhyun tepat di sebelahnya itu membuatnya terlonjak kaget. Terlihat namja mungil itu juga tengah menatap ke arah yang Jongin lihat tadi. Tak lupa dua antek-anteknya pun ikut melakukannya.
"Bukankah itu Sehun dan Lay sunbae. Dan siapa namja tinggi itu?" tanya Baekhyun penasaran. Duo orang disampingnya itu juga mengguman tidak jelas, sepertinya mereka juga mempertanyakan siapa namja super tinggi tersebut.
"Oooh... itu Kris hyung. Dia itu hyung-nya Sehun." Ucap Taemin yang tiba-tiba saja sudah berada di samping trio beagle line itu. Trio itu mengangguk mengerti dan kembali memperhatikan tiga namja itu. Mereka kini terlihat seperti sekumpulan orang yang menguntit seseorang.
.
.
.
"Jinjja? Kalau begitu kebetulan sekali. Aku juga anggota di club memasak." Tutur Lay.
Lay dan Sehun kini berjalan beriringan. Saat namja berdarah cina itu melihat Sehun ia langsung saja menghampirinya dan mengajaknya untuk ke gerbang sekolah bersama. Sebenarnya Lay mengajaknya untuk pulang bersama dengan mobilnya karena kebetulan mereka tinggal di daerah yang sama namun Sehun menolaknya dengan halus. Ia mengatakan kalau ia sudah di jemput oleh hyung-nya itu. Dan sekarang disinilah mereka. Berjalan beriringan menuju gerbang sekolah dan saling bertukar pikiran.
"Sunbae juga anggota club memasak? Waaah... daebak." Puji Sehun dengan mata berbinar. Namja di sampingnya ini sungguh hebat. Selain baik dan pandai menari ia juga –sepertinya- pandai memasak.
"Tidak juga. Kau bisa saja Sehun-ah. Oya, kau bisa memanggilku hyung. Rasanya aneh saat kau memanggilku sunbae." Tutur Lay dengan senyum khasnya itu.
"Baiklah kalau begitu."
Tanpa mereka sadari mereka telah sampai di depan gerbang. Obrolan mereka benar-benar mengasyikan sampai-sampai mereka tidak sadar kalau mereka telah sampai.
Telihat di depan gerbang sana Kris sudah menunggunya dengan mobil Lamborgini Gallardo merah andalannya. Ia tengah memainkan smartphone-nya hingga ia tidak menyadari Sehun telah ada di depannya hingga Sehun memanggil hyungnya itu.
"Hyung sedang apa? Ayo pulang."
Kris pun menengadahkannya kepalanya dan ia terdiam. Sehun merasa bingung dengan sikap aneh hyungnya ini. kenapa ia tiba-tiba saja terdiam seolah membeku seperti itu, bukannya menjawab Sehun.
"Hyung?" tanyanya lagi. Kali ini ia mengibas-ngibaskan lengannya di hadapan wajah tampan Kris.
Hal itu berhasil membuat Kris terperanjak kaget kemudian memandang dongsaengnya yang masih menatapnya aneh itu. "N-ne Sehunnie?"
"Hyung gwenchana?" tanyanya lagi dan kali ini Kris menjawabnya dengan sedikit terburu-buru.
"Ne. Gwenchana."
Sehun menatap Kris yang kembali membeku di tempat. Ia mengikuti pandangan Kris dan berakhir di arah namja manis berdarah china yang ada disampingnya ini. Mungkinkah hyungnya ini tengah terpesona oleh Lay hyung? Pikir Sehun.
"Hyung, perkenalkan ini Lay hyung. Dia seniorku di club dan dan memasak." Ucap Sehun karena ia baru ingat belum memperkenalkan namja manis di sampingnya ini. dan sepertinya hyungnya ini juga pasti ingin mengenalnya.
"Zhang Yixing imnida. Panggil saja Lay." Ucap Lay di sertai dengan senyum manisnya dan itu berhasil membuat kedua pipi Kris merona –walaupun hanya sedikit dan sulit untuk di lihat tapi Sehun menyadarinya.
"Wu Yifan imnida. Panggil saja Kris."
Lay menatap Kris dan Sehun bergantian dengan bingung. "Bukankah kalian bersaudara? Kenapa marga kalian berbeda?"
"Oh itu nama chinanya hyung. Nama koreanya Oh Kris. Kami ini masih memiliki keturunan China." Jelas Sehun.
"Lalu nama chinamu apa Sehun-ah?" tanya Lay penasaran.
"Nama chinaku Wu Shixun." Dan setelah itu Lay mengangguk-angguk mengerti.
Tak lama setelah itu sebuah mobil sedan berwarna hitam pun datang. Dan seorang namja paruh baya keluar dari dalamnya, meminta Lay untuk segera masuk dan pulang bersamanya. Lay berpamitan pada kedua kakak-beradik itu. Sehun menjawabnya dengan senyuman sedangkan Kris masih membeku di tempat.
"Hyung mau sampai kapan diam disitu? Ayo pulang." Sehun menyeret hyungnya yang masih membeku itu dengan sekuat tenaga.
Kris seperti biasa mengendarai mobilnya dengan kecepatan diluar batas normal alias kebut-kebutan. Sehun yang duduk di sampingnya hanya bisa berdoa agar selamat sampai di rumah. Mungkin ia harus mengadukan hal ini pada eommanya dan harus secara tegas menolak sogokan hyungnya itu. Ia masih sayang nyawanya dan tindakan Kris ini jauh dari kata aman.
Akhirnya setelah cukup lama Sehun memejamkan matanya dan terus berdoa mereka pun sampai di depan rumahnya. Kali ini Kris menyuruh sopir keluarganya itu untuk memarkirkan mobilnya. Tumben sekali hyungnya itu membiarkan orang lain mengendarai mobil kesayangannya itu –walaupun cuma untuk parkir. Mungkinkah ia memastikan agar Sehun tidak mengadu pada eommanya?
Huh. Percuma saja. Sehun akan tetap mengadukan tindakan mengancam nyawa ini pada eommanya. Biar saja mobil kesayangan hyungnya itu ditahan dan ia tidak dapat bubbletea gratis lagi daripada nyawanya yang berharga terancam.
Begitu sampai di ruang keluarganya ia sangat terkejut dengan kehadiran seseorang yang kini tengah berbincang dengan eommanya. Seorang namja dengan postur tegap, rambut hitam seperti langit malam dan mata itu. Mata bagai panda yang selalu menjadi ciri khas namja tersebut.
"Tao?"
.
.
.
TBC
oOo
Akhirnya chapter ini selesai juga. Saya sempat kebingungan juga alur chapter yang satu ini.
Dan akhirnya Taotao panda muncul juga –walaupun cuma bagian akhir. Tapi yeaah... akhirnya ia muncul. Saya bener-bener pengen masukin dia di FF ini XD
Noemu kamsahamnida bagi yang telah mem-baca dan me-review, membaca diam-diam (a.k.a silent reader), dan saya noemu noemu noemu kamsahamnida bagi yang telah mem-fav FF ini. saya merasa terharu.
Maaf kalau semisal masih ada typo yang luput dari pengelihatan saya. ^
Dan saya juga minta maaf bagi yang reviewnya belum/tidak terbalas. Saya (seperti biasa) sedang malas membalas review. Tapi saya membaca review chingudeul dan saya merasa sangat terharu *lebay deh*.
Ok. For last
If you don't mind
Review please?
