Is that you?
By : Chocolate Bubbletea
Disclaimer : Semua karakter disini milik diri mereka sendiri. Kalo milik saya 5 namja tiang listrik di exo udah saya bawa pulang XD
Pair : Kaihun. Krishun brothership!. Taohun. Slight! Kray
Rate : T
Warning : Boys Love, OOC, Typo, dan masih banyak lagi
oOo
Chapter 4
oOo
Dapat dirasakan suasana di salah satu meja di kantin yang berisikan tujuh namja tampan dan manis itu sedang dalam keadaan yang panas. Mengapa demikian?
Alasannya sungguh simple. Karena kehadian satu orang namja baru di antara mereka. Namja tan dan namja manis yang –cukup- mirip dengannya menatap seorang namja dengan kantung mata yang khas dengan tatapan tidak suka. Sang namja berkantung mata yang tengah ditatap itu justru tidak mengindahkan tatapan mengintimidasi dari dua namja di hadapannya. Ia masih asyik bercengkrama dengan namja pucat di sampingnya. Sesekali ia mengusap rambut coklat namja pucat itu lembut dan sesekali namja berkantung mata itu memeluk pinggang ramping si namja pucat. Skinship di sana sini dan setiap kali ia melakukannya kedua namja yang ada di hadapannya akan selalu memandangnya dengan tatapan yang seolah berkata 'jauhkan-lenganmu-itu-dari-Sehun/Sehunnie'. Namun seperti yang telah disebutkan di atas namja dengan kantung mata itu sama sekali tidak mempedulikannya.
Kalian pasti bertanya-tanya mengapa kedua namja itu memandang namja berkantung mata itu dengan tatapan tidak suka. Mari kita flashback dahulu untuk mengetahui jawabannya.
~FLASHBACK
Saat itu bel tanda istirahan berbunyi. Yonghwa seonsaengnim pun mengahkiri pelajarannya dengan memberikan beberapa tugas kecil pada murid-muridnya di kelas 1-1 setelah itu ia meninggalkan kelas. Murid-murid yang ada di dalam sana segera berhamburan keluar kelas begitu guru tampan itu telah meninggalkan kelas.
Seorang namja pucat masih menulis beberapa catatan di papan tulis tersentak kaget begitu merasa ada yang memeluknya dari belakang. Ia menengok ke samping dan mendapati namja manis bernama Lee Taemin itu tengah tersenyum lebar ke arahnya. "Sehun-ah! Kita ke kantin yuk!" ajaknya.
"Jamkkaman. Aku mau menyelesaikan catatan di depan dulu." Sehun mencatat catatan berbahasa inggris itu secepat yang ia bisa. Tidak ingin membuat Taemin yang memperhatikannya menulis catatan itu harus menunggu lebih lama lagi.
Tiba-tiba pintu kelas dibuka. Seorang namja berkantung mata seperti panda menengokan kepalanya ke setiap sudut ruangan. Ia sedang mencari seseorang rupanya. Dan akhirnya pandangannya terhenti pada seorang namja pucat yang kini tengah membereskan peralatan menulisnya. "Sehunnie!" panggilnya.
Sang namja pucat yang dipaggil 'Sehunnie' itu pun menengokan kepalanya dan mendapati sang namja berkantung mata berjalan ke arahnya. "Tao? Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya pada sang namja berkantung mata yang ternyata bernama Tao.
"Ke kantin yuk! Aku tidak ada teman nih." Ajaknya. Ia segera menarik lengan kurus sang namja pucat, menyeretnya.
Taemin memperhatikan kedua namja yang sudah berjalan keluar kelas itu dengan tatapan tidak percaya. Ia segera berlari untuk menyusul kedua namja itu. Ia melihat namja yang masih menyeret Sehun itu dengan tatapan tidak suka. Seharusnya yang menyeret Sehun seperti itu adalah dirinya. pikir Taemin
Karena ia merasa kesal dengan cepat ia menarik lengan bebas Sehun dengan keras. Membuat namja pucat yang lebih tinggi darinya itu sedikit terjungkal ke belakang.
Sehun yang ditarik dengan keras oleh Taemin itu memandang ke arah Taemin dengan tatapan bingung. Namun sedetik kemudian rautnya berubah menjadi raut penyesalan. Ia tadi meninggalkan namja manis itu di kelas padahal Taemin sudah mau menunggunya mencatat tulisan di papan tulis. "Taemin-ah... mianhae aku meninggalkanmu. Jangan marah ne?"
Taemin yang tadinya memandang ke arah Tao dengan tatapan tidak suka kini mengalihkan pandangannya pada Sehun. Sehun yang terlihat memelas dihadapannya ini membuat hati Taemin luluh "Aigoo... Sehun-ah aku tidak marah padamu kok!" Taemin tersenyum manis ke arah Sehun kemudian kembali menatap Tao dengan tatapan tidak suka. "Lagipula kau tidak salah. Yang salah itu dia yang seenaknya menarikmu seperti tadi." Ujarnya dengan penekan pada kata 'dia'.
Tao hanya memutar matanya sedikit kesal. "Lalu memangnya kenapa kalau aku menarik Sehunnie seperti tadi." Balasnya dengan penekanan pada kata 'tadi'.
Jika ini dalam sebuah drama atau kartun-kartun atau anime yang dulu sering Sehun lihat mungkin di antara kedua namja yang sangat jauh berbeda itu akan terlihat kilatan listrik. Dan karena memang Sehun bukanlah penggemar kekerasan ia dengan cepat berusaha menengahi keduanya sebelum perang dunia ketiaga versi Tao-Taemin berlangsung. "Sudahlah kalian jangan bertengkar lagi. Bagaimana kalau kita ke kantin bersama-sama saja?" ajaknya. Dalam hati ia berdoa semoga mereka mau berhenti saling memandang dengan mengerikan seperti itu.
Dan seperti itulah, setelah Sehun memohon pada kedua namja tersebut mereka pun menghentikan aksi mereka. Mereka memandang Sehun dan menggandeng lengan namja kurus tersebut. Taemin di sebelah kanan dan Tao di sebelah kiri.
Di perjalan menuju ke kantin mereka berpapasan dengan Jongin yang sepertinya baru keluar kelasnya dengan wajah kusut. Kenapa lagi dengannya? Pikir Sehun dan Taemin.
Jongin yang pada awalnya sedang dalam keadaan bad mood karena –lagi-lagi- ia harus berurusan dengan Heechul seonsaengnim karena ia tidak sengaja menubruk guru galak tersebut saat akan masuk ke kelas. Menyebabkan sang guru jatuh terduduk. Dan entah karena guru itu sedang dalam masa PMS *digeplak heechul* atau apa lah itu, ia langsung menyeret namja tan itu ke ruang guru untuk diceramahi lagi dan menyebabkan ia terlambat masuk kelas. Dan entah Jongin harus bersyukur atau malah mengeluh karena ketika ia masuk ke kelas guru matematikanya, Hangeng seonsaengnim tidak menyuruhnya keluar kelas dan tidak mengikuti pelajarannya seperti yang yang dilakukan Heechul seonsaengnim waktu itu, tapi sebagai gantinya ia diberi tugas tambahan. Ia harus mengerjakan dua puluh soal matematika. Ayolaah... ia itu sangat tidak menyukai matematika dan sekarang ia harus mengerjakan dua puluh soal matematika yang super susah itu dan harus dikumpulkan besok. Sepertinya dunia sedang membencinya akhir-akhir ini.
Dan pemandangan yang pertama kali ia lihat saat keluar kelas semakin membuatnya bad mood saja. Sekarang Sehun tengah diapit oleh dua namja yang sangat ia benci sekarang ini. Taemin yang akhir-akhir ini selalu membuatnya kesal dan namja china bernama Huang Zitao yang entah mengapa begitu pertama kali masuk ke kelas sudah tidak ia sukai. Dan kedua namja itu tengah memegang kedua lengan Sehun begitu erat, membuat sang namja pucat terlihat tidak nyaman.
"Apa kalian berdua ingin membunuhnya?" tanya Jongin dengan nada yang –tidak bersahabat. Dua namja yang masih asyik memperebutkan Sehun itu kini memandang Jongin –Taemin dengan tatapan senang dan Tao dengan tatapan tidak suka.
"Kai-ah! Kebetulan sekali. Bantu aku melepaskan Sehun-ah dari tangan panda ini."
Namja yang merasa dipanggil panda itu langsung melotot pada Taemin. "Siapa yang kau sebut panda eoh? Dan kau jangan ikut campur!" tunjuk Tao pada Jongin.
Urat-urat di kepala Jongin sudah mulai keluar. Karena pada awalnya ia sudah sangat kesal dan sekarang ditambah dengan ulah kedua namja dihadapannya itu semakin membuat urat kekesalannya keluar.
Baru saja Jongin akan mengeluarkan argumennya Sehun sudah lebih dahulu berteriak. "HENTIKAAAAN!"
Teriakan tersebut sontak membuat ketiga namja yang sepertinya ingin saling bunuh –atau mungkin lebih tepatnya Taemin ingin membunuh Tao, Tao ingin membunuh Taemin dan Jongin ingin sekali membunuh keduanya- itu berhenti mendadak. Memandang Sehun yang wajahnya sudah memerah karena berteriak sangat keras tadi. Membuat beberapa siswa dan siswi yang ada di sana melihat ke arah mereka dengan penasaran.
"Kalau kalian ingin berkelahi jangan disini! For god sake guys, ini tempat umum bukan arena perang. Apa kalian ingin dihukum?" ucapnya dengan wajah kesal namun terkesan begitu manis.
Ketiga namja tersebut sontak terdiam. Mereka sepertinya terpesona oleh wajah manis nan menggemaskan Sehun. Jongin dan Tao bahkan belum berkedip sedari tadi. Dan Taemin yang memang hanya memadang Sehun sebagai sahabatnya lah yang lebih dahulu sadar dari mode terpesonanya.
"Mianhae Sehun-ah." Cicit Taemin sembari menundukan kepalanya. Sehun tersenyum melihatnya kemudian ia mengalihkan pandangannya pada dua namja yang masih terpesona itu. Karena merasa diperhatikan akhirnya mereka mengedip-ngedipkan mata mereka dan kembali pada alam sadar mereka.
"Mianhae." Ucap Jongin dan Tao bersamaan. Dan Sehun kembali tersenyum senang melihatnya.
"Baiklah karena kalian sudah terlihat tidak ingin saling bunuh lagi, bagaimana kalau kita segera pergi ke kantin. Aku lapar!" kini balik Sehun yang menarik lengan Taemin dan Tao. Jongin sendiri hanya mengikuti dari belakang. Ia merasa tidak senang saat Sehun lebih memilih menarik lengan Tao daripada lengannya.
Begitu sampai di meja –yang sepertinya- sudah menjadi meja khusus untuk grup mereka akhirnya keempat namja tersebut mendudukan dirinya di kursi kosong yang tersedia. Tiga namja yang sudah ada di sana menatap bingung pada sosok Jongin yang tertinggal di belakang tiga namja -yang saling bergandengan tangan itu- dengan wajah yang kusut.
Karena kebetulan kursi yang tersisa hanya ada tiga itu artinya harus ada satu orang yang rela mengambil bangku tambahan jika masih ingin duduk di sana. Dan yang harus menjadi korban adalah Jongin karena tiga namja itu yang berjalan lebih dahulu darinya itu sudah mengklaim tiga bangku tersebut. sebenarnya Taemin protes karena yang seharusnya mengambil bangku tambahan adalah Tao karena ia hanyalah orang yang tiba-tiba bergabung dengan grup mereka. Karena tidak ingin lagi beradu mulut dengan namja manis tersebut Tao memilih untuk menulikan pendengarannya dan duduk dengan santai dan membuat Sehun duduk di sampingnya –yang tentu membuat Taemin semakin kesal karena ia yang seharusnya duduk di sebelah Sehun.
Jongin yang baru kembali mengambil bangku tambahan harus kembali menahan rasa kesalnya karena sang namja china tersebut seolah tidak memberikan tempat untuknya dan membuatnya harus duduk berdesakan besama Taemin, Chanyeol dan Chen. Padahal jika dilihat lagi tempat Sehun, Tao dan Baekhyun itu lebih luas karena tubuh ramping Sehun dan Baekhyun.
~END OF FLASHBACK
Dan sekarang kembali ke situasi panas yang telah disebutkan di paragraf paling atas. Tiga namja yang tidak tahu menahu dengan situasi yang tiba-tiba saja melibatkan mereka ini hanya mampu menggigit bibir bawah mereka dengan cemas. Pasalnya dua sepupu itu sudah benar-benar terlihat seperti monster yang siap mencengkram mangsanya kapanpun mereka mau.
Karena tidak ingin lagi situasi berbahaya ini berlanjut akhirnya Chanyeol yang menjuluki dirinya sendiri sebagai happy virus itu memberanikan diri untuk memecah atmosfere mengerikan ini. "Oya, ngomong-ngomong kau siapa? Aku baru kali ini melihatmu." Tanyanya sedikit basa-basi.
"Namaku Huang Zitao. Aku murid pindahan dari china dan aku kemari karena aku merindukan Shixun-ku."
"Shixun?" tanya lima namja –selain Sehun dan Tao- itu bersamaan.
"Ne... Shixun-ku." Tao menyeringai –lebih tepatnya ke arah Jongin dan Taemin- dan kembali memeluk pinggang ramping Sehun semakin erat.
Jongin dan Taemin yang sepertinya mengerti dengan tanda tak langsung itu lansung berdiri dan menggebrak meja dengan keras membuat orang-orang yang ada di sana memadang mereka. "SEJAK KAPAN SEHUN/SEHUNNIE MENJADI MILIKMU!"
Bukannya takut Tao justru semakin memperlebar seriangainya. Sehun yang sedari tadi hanya terdiam saja kini memandang Tao dengan heran. Ia sebenarnya sudah cukup terbiasa dengan sikap Tao yang selalu mengklaim dirinya sebagai milik Tao. Namun namja china itu selalu mengatakannya jika hanya ada mereka saja dan Sehun menanggapinya sebagai guyonan belaka. Dan sekarang namja china itu justru mengklaimnya dengan sepihak di depan umum.
"Sejak kapan aku menjadi milikmu Tao?" tanya Sehun bingung.
"Wae? Apa kau tidak meyukainya?" kini Tao memandang Sehun dengan tatapan sedihnya. Ia tahu benar kalau Tao itu anak yang cengeng dulu dan cukup sulit membuatnya berhenti. Dan sekarang? Apakah ia akan menangis disini? Pikir Sehun.
"Bukan seperti itu. Hanya saja aku sama sekali tidak pernah mengetahuinya."
Seringai Tao mulai mengembang kembali. Sehun rasa ini bukan hal yang baik. "Kalau kau mengetahuinya apa kau akan menerimanya?"
Sudah ia katakan ini bukanlah hal yang baik. "U-um... entahlah. Aku tidak tahu." Apakah ini hanya perasaannya saja atau memang suasana di kantin memang sesepi ini? Sehun rasa ia menjadi pusat perhatian seluruh orang di sana.
"Baiklah. Kalau begitu mulai saat ini akan kubuat kau menjadi miliku." Tao kembali menyeringai pada kedua sepupu yang menatapnya kesal –Taemin hanya menatapnya tidak suka sedangkan Jongin... ia terlihat ingin sekali membunuh namja china di hadapannya ini.
.
.
.
Jika tatapan bisa membunuh mungkin namja berdarah china bernama Huang Zitao itu sudah ditemukan tewas semenjak di kantin tadi. Entah ini takdir atau kutukan karena Jongin dan Tao berada di kelas yang sama dan yang lebih parahnya lagi namja china itu duduk tepat di depan Jongin. Membuat Jongin tidak bisa fokus belajar karena yang ada di otaknya hanyalah bagaimana cara membunuh namja di hadapannya ini dengan cara yang... -you know- tanpa menimbulkan jejak. Terlebih dengan ucapannya tadi saat di kantin. Apa-apaan dia dengan seenaknya ingin membuat Sehun menjadi miliknya. Sehun itu akan menjadi miliknya.
Ugh! Sepertinya otaknya sudah mulai kacau lagi. Apa mungkin karena tugas dari Hangeng seonsaengnim yang membuatnya seperti ini. Pikir Jongin.
Akhirnya setelah berjam-jam Jongin berusaha untuk tidak mencekik Tao dari belakang atau menusuknya. Dan berusaha agar tetap terlihat fokus dalam pelajaran –yang ternyata lebih sulit dari perkiraannya karena pemandangan tidak menyenangkan di hadapannya ini- bel tanda sekolah berakhir pun berbunyi. Tanpa menunggu Younghwa seonsaengim keluar kelas Jongin segera keluar dari ruang kelasnya. Untung saja guru kalem itu sangat baik dan memaklumi tingkahnya, kalau itu Heechul seonsaengnim mungkin ia sudah berakhir –lagi- di ruang guru.
Jongin berjalan cepat menuju ke perpustakaan. Selain ingin segera menyelesaikan tugas menyebalkannya ia juga ingin melupakan setiap rangkaian percobaan pembunuhan yang tanpa sadar sudah ia susun saat melihat wajah menyebalkan Tao. Mungkin sedikit berkutat dengan soal-soal itu akan mengembalikan pikirannya.
.
.
.
Akhirnya pelajaran Heechul seonsaengnim selesai juga. Berada di kelas guru super galak itu membuatnya tidak bisa bergerak bebas. Rasanya seluruh otot tubuhnya terasa pegal.
Kembali ia merasakan ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Dan tepat saja begitu ia melihat siapa orang tersebut, ia tidak lain dan tidak bukan adalah lee Taemin. Anak itu akhir-akhir ini jadi sering sekali memeluknya dari belakang. Apa itu juga akan menjadi hobinya –setelah menyeret-nyeret Sehun kemanapun mereka pergi berdua.
Namun berbeda dengan saat jam istirahat tadi namja manis itu terlihat cemberut. "Taemin-ah gwaenchana?" tanya Sehun khawatir.
"Sehunnie... kau tidak akan menjadi miliknya kan? Kau akan tetap akan bersamaku dan yang lainnya kan? Kau tidak akan meninggalkanku kan? Kau-" belum sempat Taemin melancarkan beberapa pertanyaan lagi Sehun sudah lebih dahulu tertawa. Membuat Taemin semakin cemberut.
"Hahaha... kau ini bicara apa Taemin-ah. Tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu ataupun yang lainnya." Taemin yang mendengarnya pun kembali tersenyum sumringah. "Tapi Taemin-ah. Kau menyebutku apa tadi? Sehunnie?"
Taemin menggaruk tengkuknya canggung. "Hehehe... tidak apa-apakah aku memanggilmu seperti itu?" pintanya. Sehun tersenyum manis pada Taemin.
"Tentu! Kalau begitu tidak apa kan jika aku juga memanggilmu Taeminnie?"
Taemin mengangguk antusias. Tiba-tiba saja objek yang tadi menjadi pembicaraan mereka berdua masuk ke dalam kelas mereka. Dan Taemin yang melihat kehadirannya langsung memeluk Sehun protective.
"Sehunnie~ ayo pulang bersamaku!" ajak Tao. Ia sudah tidak lagi mempedulikan sikap kekanakan Taemin yang seperti akan dicuri mainannya oleh orang lain.
"Tidak boleh! Aku tidak akan mengizinkannya." ucap Taemin dengan garang. "Sehunnie... pokoknya aku tidak pernah merestui kalian berduaaaa..." Sehun yang melihat temannya itu -yang bertingkah seperti ibunya- hanya bisa tertawa renyah.
"Mianhae Tao, aku tidak bisa pulang denganmu hari ini, aku masih ada klub memasak. Jadi kau pulang sendiri ne?"
Tao hanya dapat menghela napasnya. "Ne." Dan setelah itu pun namja china tersebut keluar dari kelas yang sebelumnya mendapat juluran lidah dari Taemin.
.
.
.
Ia sudah menyerah sekarang. Sudah lebih dari dua jam ia mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh Hangeng seonsaengnim dan ia hanya mampu mengerjakan sampai nomor lima sedangkan masih ada lima belas soal lagi yang masih menunggunya. Dan otaknya sudah serasa ingin meledak saja.
Jongin akhirnya hanya mampu menghela napasnya. Seharusnya ia meminta bantuan saja pada sepupunya yang jenius itu jadi tidak harus membuang tenaga sia-sia begini.
Sepertinya dewi fortuna sedang berpihak padanya kali ini karena ia melihat seseorang yang mungkin saja bisa membantunya. Di salah satu rak buku sana, Sehun tengah mencari-cari buku dengan serius. Tanpa pikir panjang Jongin segera beranjak dari tempatnya dan berjalan ke arah namja manis itu.
"Kau sedang mencari apa?" tanya Jongin begitu sampai tepat di belakang Sehun membuat namja manis itu tersentak kaget.
"Iish... Kai! Kau ini sepertinya senang sekali mengagetkanku." Ucapnya dengan wajah cemberut yang dimata Jongin *dan saya* begitu lucu.
"Mianhae." Jongin menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak terasa gatal dengan canggung. Sehun sendiri hanya mampu menghela napasnya.
"Aku sedang mencari buku resep untuk membuat kue. Minggu depan aku akan membuat kue di klub memasak." Sehun kembali fokus untuk mencari buku yang ia inginkan.
"Um... biar aku bantu." Tawar Jongin dan Sehun hanya bergumam saja tanda bahwa ia mengizinkannya. "Oh! Aku menemukannya!" ucapnya setelah menemukan buku tipis berisikan resep-resep kue lezat yang dicari Sehun.
"Waaah! Gomawo Kai." Sehun pun segera mengambil buku itu dari lengan Jongin. Gerak-gerik Jongin saat Sehun mengambil bukunya itu terlihat mencurigakan. "Waeyo?" tanya Sehun penasaran.
"U-um... apa kau bisa membantuku?" tanya Jongin canggung. Sehun hanya memperhatikan tingkat Jongin dengan tatapannya yang begitu lucu.
Setelah Jongin menceritakan situasinya pada Sehun dengan sedikit rasa malu akhirnya namja manis tersebut bersedia membantu Jongin. Ia sangat bersyukur karena Sehun tidak menertawakannya seperti yang biasa Taemin lakukan.
Cukup lama mereka berkutat dengan soal-soal matematika yang sangat susah tersebut. Sehun yang dengan sabar menjelaskan satu persatu cara yang paling mudah untuk mengerjakan soal-soal tersebut akhirnya mereka telah sampai pada soal ke sepuluh.
"Wow! Kau benar-benar hebat. Jika Taemin yang mengajariku aku tidak yakin akan mengerti." Jujur Jongin dan Sehun hanya terkikik geli.
"Jinjja? Kurasa cara mengajar Taemin itu sangat bagus. Aku pernah diajarinya dan aku mengerti."
Jongin mendengus kesal mendengarnya. "Terserah sajalah." Dan kembali Sehun terkikik geli mendengarnya.
Mereka sedang beristirahat sebentar sebelum melanjutkan pada lima soal terakhir. Sehun yang tengah melihat-lihat resep kue dari buku yang ia pimjam tadi dan Jongin yang memain-mainkan pensilnya sambil memperhatikan Sehun yang terlihat begitu serius. Sangat manis.
Sejujurnya Jongin masih belum begitu yakin dengan perasaan yang ia rasakan pada namja manis ini. Jika memang ia menyukai namja ini –seperti yang dikatakan oleh Taemin- mengapa ia masih menyukai yeoja. Dan lagi jauh di dalam lubuk hatinya ia masih mengharapkan kehadiran gadis mungil yang telah mencuri hatinya dulu.
Tiba-tiba saja Jongin teringat akan kejadian saat jam iastirahat di kantin tadi. Pernyataan Tao. "Hei!" Panggilnya. Sehun yang merasa di panggil langsung menatap Jongin yang sedang menyandarkan kepalanya di meja. "Kau..." Jongin ragu mengucapkannya disaat Sehun menatapnya dengan tatapan penuh tanya itu. "Apa kau... akan membiarkan Tao memilikimu?"
"Apa maksudmu Kai?" tanya Sehun bingung.
"Maksudku... apa kau meyukai Tao?" kini Jongin telah sepenuhnya berdiri tegap. Ia menatap Sehun serius.
Sehun yang ditatap seperti itu merasakan wajahnya memanas dan detak jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Wajah Jongin saat sedang serius seperti itu sangatlah tampan. "U-um... aku tidak tahu. Tao itu teman masa kecilku dan... ini kali pertama aku melihatnya setelah lima tahun berpisah." Tuturnya gugup. Jongin kembali menyandarkan kepalanya pada kedua lengannya. Menyembunyikan wajahnya dibalik lipatan tangannya.
"Kalau begitu jangan." Samar Sehun mendengarnya namun ia tidak begitu yakin jika itu adalah suara Jongin atau halusinasinya yang berharap bahwa Jongin tidak menginginkannya jatuh cinta pada Tao.
.
.
.
Mereka berdua kini tengah berada di salah satu cafe dekat sekolah mereka. Setelah berhasil menyelesaikan semua soal-soal sulit itu Jongin bersikeras untuk mentraktir Sehun sebagai bayarannya. Sehun sebenarnya sudah berkali-kali menolaknya namun sepertinya namja tan tersebut tidak menerima penolakan.
Dan sekarang di sinilah mereka. Duduk berdua di sudut cafe yang cukup sepi tersebut. Matahari sudah berada pada ufuknya namun mereka masih asyik dalam dunia mereka sendiri. Sehun terlalu canggung untuk memulai pembicaraan mereka sedangkan Jongin sendiri tidak tahu harus membicarakan apa dengan namja manis ini.
Tiba-tiba Jongin tertawa membuat Sehun yang masih memakan cake coklatnya itu memandang Jongin dengan heran. Apa mungkin dia terlalu stress akibat soal-soal tadi? Pikir Sehun.
"Kupikir ucapan Taemin tentang kau yang seperti anak kecil itu hanya bohong." Jongin kembali tertawa, kali ini ia sedikit menahannya karena Sehun sudah terlihat cemberut.
"Apa maksudmu?" tanya Sehun kesal. Jongin hanya menjawabnya dengan menunjuk sudut bibirnya. Dan barulah Sehun mengerti. Sungguh memalukan.
Sehun berusaha menghilangkannya namun sepertinya bekas makanan tersebut masih belum menghilang. Lihat saja Jongin yang masih berusaha menahan tawanya seperti itu.
Karena merasa kasihan juga dengan Sehun akhirnya Jongin mendekatkan tubuhnya –yang duduk di sebrang Sehun- untuk membantu namja manis itu menghapusnya. Jongin mengusapnya secara perlahan dan lembut dengan ibu jarinya. Tanpa sadar ia juga mengusap bibir tipisnya dengan perlahan.
Sangat lembut.
Entah kendali otaknya sudah sepenuhnya dikuasai oleh tubuhnya atau memang ini kehendak sang pengendali tubuh tersebut, Jongin semakin lama semakin mendekatkan kepalanya. Ia tidak yakin mengapa ia sedikit memiringkan kepalanya. Dan ia juga tidak mengerti mengapa ia juga perlahan menutup matanya. Ia hanya mengikuti permainan otaknya kali ini.
Sedangkan Sehun?
Ia sedang berusaha menahan detak jantungnya yang semakin berdetak cepat dan keras. Saat Jongin mengusap bibirnya dengan lembut. Saat perlahan Jongin mendekatkan kepalanya. Saat Jongin sedikit memiringkan kepalanya. Dan saat Jongin perlahan menutup matanya. Sehun hanya bisa terdiam dan menutup matanya begitu ia merasa napas Jongin yang semakin dapat ia rasakan di wajahnya.
Semakin lama wajah mereka semakin dekat. Dan Sehun merasakan wajahnya sudah sangat panas.
"Jongin-ah. Sudah waktunya tutup!" tiba-tiba suara seseorang yang sangat Jongin kenal membuat kedua namja itu segera menjauhkan diri mereka. "Um... apa aku menginteruspi sesuatu?"
Jongin hanya mendengus kesal. Wajahnya juga sudah memerah. Dan tidak jauh dari Jongin, Sehun sudah terlihat seperti kepiting rebus. "Tidak ada, noona. Aku akan pulang sekarang!" Jongin pun segera beranjak dari tempatnya diikuti Sehun yang sebelum pergi membungkuk terlebih dahulu pada yeoja yang lebih tua darinya itu.
Saat di perjalanan tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun. Kejadian tadi di cafe masih mengganggu pikiran mereka. Jika saja tadi tidak ada Taeyeon noona yang menghampiri mereka sudah melakukan...
Sehun segera menggeleng-gelengkan kepalanya lucu. Tidak baik terus berpikiran seperti itu. Lagipula itu hanya sebuah kecelakaan saja. Dan lagi mereka belum benar-benar melakukannya.
Tanpa disadari mereka telah sampai di depan halte. Sehun hanya memandang halte itu bingung. Pasalnya ini baru pertama kali baginya pulang naik bis. Ia merutuki dirinya sendiri karena memberitahu hyung-nya untuk tidak menjemputnya hari ini –yang anehnya disetujui dengan mudah oleh Kris. Dan sekarang ia terjebak di halte ini tanpa mengetahui harus menaiki bis apa.
Jongin yang sepertinya mengerti dengan kebingungan Sehun memutuskan untuk mengeluarkan suaranya. "Aku antar."
Sehun memandang Jongin kaget. "Ta-tapi ini sudah malam."
"Lalu?"
Sehun menjilat bibirnya gugup. "I-itu..."
Jongin menghela napasnya mengerti dengan kekhawatiran namja manis tersebut. "Aku sudah terbiasa pulang malam. Dan aku tidak akan melakukan apapun padamu. Rumahmu di gangnam kan?"
Sehun hanya bisa mengangguk. Lagipula jika Jongin tidak mengantarnya mungkin ia hanya bisa terdiam di halte kebingungan. Dan mungkin berakhir dengan tersesat ke suatu tempat yang tidak Sehun ketahui.
Perjalan mereka bisa dibilang sangatlah hening. Tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun. Jongin hanya memperhatikan jalanan kota sepanjang perjalanan dan Sehun hanya mampu diam –walaupun sesekali ia melirik namja tan tersebut.
.
.
.
Kedua namja tersebut telah berdiri di depan pintu pagar yang menjulang tinggi. Jongin pernah melihat yang seperti ini sebelumnya -secara tak langsung- dan sekarang ia tengah berdiri tepat di hadapannya. Dan yang mampu ia lakukan hanyalah terdiam –atau mungkin terpesona- menunggu Sehun yang sedang bebicara di intercom.
"Kau ingin mampir?" tawar Sehun. Jongin yang masih terpesona dengan pemadangan banyaknya rumah mewah itu segera mengalihkan pandangannya pada sang namja manis.
"Ti-tidak usah." tolaknya. Baru saja ia melangkah sepertinya tuhan tidak mengizinkannya untuk pulang hari ini karena secara tiba-tiba hujan turun.
Dan sekarang disinilah ia. Duduk di meja makan keluarga Oh, diantara nyonya Oh dan Kris. Orang yang paling tidak ingin ia buat masalah dengannya. Dan sekarang namja tinggi itu terlihat semakin mengintimidasi jika dilihat dari dekat. Oh! dan jangan lupakan tatapan mengerikannya itu.
"Kau ingin tambah sesuatu? Makanmu terlalu sedikit Jongin-ah." Tawar nyonya Oh padanya.
Sepertinya semenjak ia menjejakan kakinya di kediaman Oh ini sang nyonya rumah sudah sangat menyukainya. Ketika ia datang tadi nyonya Oh yang sepertinya sedang berselisih dengan suaminya itu langsung sumringah begitu melihatnya. Ia bahkan melupakan pertikaian konyol mereka.
Mengapa Jongin berpikiran kalau pertiKaian mereka konyol? Karena yang ia dengar dari pertikaian itu hanyalah mengenai bunga mawar, pot, dan berakhir pada pancake dan permintaan kembali ke kanada dari nyonya Oh yang dibumbui oleh adegan dramatis.
"N-ne." Jongin hanya menerima saja apapun yang diberikan oleh nyonya Oh.
Jongin merasa dirinya tengah berada di antara surga dan neraka. Nyonya oh yang bersikap begitu baik padanya dan disisi lain Kris yang masih menatapnya seolah ingin membunuhnya di tempat. Sedangkan di sisi lain meja, tuan Oh... entahlah Jongin tidak tahu dengan apa yang tengah dipikirkan oleh namja paruh baya tersebut dan Sehun terlihat meminta maaf pada Jongin atas perlakuan eomma dan hyung-nya.
"Ngomong-ngomong kau ini apanya Sehunnie, Jongin-ah? Temannya? Sahabatnya? Atau mungkin... namjachingu-nya?" pertayaan tiba-tiba tersebut sukses membuat Kris yang kebetulah sedang minum tersedak karenanya dan Sehun yang wajahnya menjadi sangat merah.
"A-ani. Aku hanya temannya ahjumma." Nyonya Oh yang sebelumnya terlihat ceria tiba-tiba saja berubah cemberut. Mood swing-nya benar-benar luar biasa. Pikir Jongin.
"Kupikir kau namjachingu-nya. Sayang sekali padahal kau sangat tampan Jongin-ah." Jongin hanya mampu tertawa canggung mendengarnya. Dan seperti tadi yang Jongin pikirkan, ekspresi nyonya Oh tiba-tiba berubah ceria kembali. "Karena hari ini hujan sangat lebat dan tidak mungkin kau pulang bagaimana kalau kau menginap disini Jongin-ah? Lagipula besok akhir pekan. Sekolah libur." tawarnya. Baru saja Kris akan menentangnya sang eomma sudah lebih dahulu berkata. "Dan bagaimana kalau kau tidur bersama Sehunnie? Sekalian mempererat pertemanan kalian?"
Kali ini Sehun yang tersedak begitu mendengarnya. "EOMMA!"
"Tidak ada penolakan Sehunnie. Dan Kris. Aku juga tidak menerima penolakan darimu atau aku akan meyita semua fasilitasmu dan tidak akan merestui hubunganmu dengan namja manis itu."
Sehun berusaha meminta pertolongan dari appa-nya namun namja paruh baya itu hanya dapat menggelengkan kepalanya. Ia sudah tidak ingin lagi ribut dengan istrinya itu. Sehun juga berusaha meminta pertolongan dari hyung-nya namun yang ia dapati adalah sang hyung yang hanya terdiam di tempat. Tidak bergerak sedikitpun.
"Baiklah karena tidak ada penolakan sebaiknya kalian segera ke kamar dan berganti paKaian." Ucap nyonya Oh.
Ia bahkan belum bertanya pada Jongin apa ia menyetujuinya atau tidak dan sekarang ia sudah menyuruhnya dan Sehun untuk segera masuk ke kamar. Jongin merasa seperti seorang menantu yang harus menghadapi ibu mertuanya yang perintahnya adalah absolute.
.
.
.
Sudah banyak kejadian-kejadian mengejutkan yang terjadi beberapa hari ini. Dan sepertinya inilah yang paling mengejutkan bagi Sehun. Ia dan Jongin harus tidur di satu ranjang. Tentu saja mereka tidak melakukan apaun selain membaringkan tubuh mereka. Namun tetap saja hal ini sangat tidak baik bagi kerja jantungnya.
Kejadian ini terjadi setelah mereka berdua mandi dan memakai pakaian. Jongin memakai pakaian hyung-nya karena pakaiannya terlalu sempit bagi Jongin terutama di bagian pinggang. Ditambah hyung-nya itu yang tidak ingin Jongin memakai pakaiannya. Jongin yang berstatus sebagai tamunya itu tentu tidak mungkin ia suruh tidur di sofa atau lantai jadi ia menyuruh namja tan itu tidur di kasurnya dan ia akan tidur di sofa saja –sebenarnya ia bisa saja tidur di kamar tamu tapi eommanya yang sangat extreme itu mengunci semua kamar tamu di rumahnya. Namun sepertinya sang namja tan yang merasa tidak enak hati memaksa Sehun untuk tidur di kasurnya dan ia yang akan tidur di sofa.
Mereka saling adu argumen, mempedebatkan siapa yang akan tidur di sofa dan siapa yang akan tidur di karus. Setelah cukup lama mereka beradu argumen yang tidak juga menemukan titik temu akhirnya mereka memutuskan untuk tidur di ranjang bersama. Sehun di sisi kanan dan Jongin di sisi kiri. Sangat berjauhan mengingat kasur Sehun yang berukuran besar itu.
Jongin yang seperti kata Taemin memiliki kemampuan untuk tidur dengan cepat dimanapun langsung dapat masuk ke alam mimpi begitu kepalanya jatuh di atas bantal. Sedangkan Sehun? Ia masih belum mampu memejamkan matanya.
Ia membalikan tubuhnya dan memandang wajah tenang Jongin. Sangat tenang dan sangat... tampan. Sehun tersenyum melihatnya. Ia senang dapat bertemu kembali dengan cinta pertamanya. Ditambah ia bisa sedekat ini dengannya, walaupun sepertinya Jongin tidak mengenalinya.
Perlahan suara dengkuran halus Jongin menjadi lulaby tersendiri bagi Sehun. Membuat kesadarannya semakin menipis hingga ia membiarkan alam bawah sadarnya untuk membawanya ke dunia mimpi. Dan ia pun tertidur dengan harapan bahwa yang ia alami ini bukanlah mimpi atau halusinasinya.
.
.
.
TBC
oOo
AFNKJASDFSHFUI! SAYA OVERDOSEEE...! #teriak-teriak
KAI –NYA SUPER SEXY. SEHUN TETEP LUCU *di mata saya* DAN ITUUUU DIA SENYUM PAS DI MV! XD
Sumpah pas liat itu MV saya langsung teriak-teriak dan hasilnya saya dimarahi XD
Dan karena mv itu juga saya jadi tambah semangat ngerjain fic ini XDDD
*oya sedikit curhat ini. pas bagian Kai sama Tao di zoom berdua, itu perasaan saya aja atau emang mereka berdua itu keliatan kayak ikan *digeplak Kai sama Tao*. Aduh dasar bias saya itu yaaa... walaupun kayak ikan tetep bisa bikin saya klepek-klepek*
Oya, ini dia Kaihun momentnya. Semoga puas. ^^
Jeongmal mianhaeyo karena chapter-chapter kemarin tidak banyak Kaihun momentnya soalnya kemarin-kemarin masih chapter pembuka. Sekali lagi jeongmal mianhae *bungkuk 180 derajat* dan untuk ke depannya saya akan perbanyak Kaihun momentnya. Yehet!
bagi yang penasaran dengan peran Tao sudah saya jelaskan di chapter ini. entah kenapa saya paling suka kalo udah liat Kai sama Tao memperebutkan Sehun XD *apalagi ditambah Taemin*
Dan disini entah ini hanya perasaan saya atau memang begitu *?* tokoh Tao disini kayaknya antagonis banget ya! -_-a
baiklah sebelumnya mari kita balas review yang belum terbalas (?)
KaihunTaohun : hohoho... kita lihat saja nanti. Maka dari terus stay tuned *emangnya radio #plak*
Kaihun : udah bisa dilihat kan Tao suka sama siapa XD. Ini dia Kaihun momentnya. Semoga puas dan ditunggu aja Kaihun moment untuk selanjutnya
xxx : hahaha... sepertinya Kai sudah ditakdirkan untuk berteman dengan makhluk-makhluk yang tidak begitu normal XD *digeplak Chanyeol, baekhyun, chen, Taemin, moonkyu yang buru-buru balik ke seoul*
zyln : ini udah lanjuuuuut XD
hanya segitu saja dari saya.
Neomu kamsahamnida bagi yang telah membaca dan mereview FF ini. Review reaaderdeul semua memberikan semangat tersendiri bagi saya
For last
If you don't mind
Review please?
