Is that you?

By : Chocolate Bubbletea

Disclaimer : Semua karakter disini milik diri mereka sendiri.

Pair : Kaihun. Taohun. Krishun brothership! Slight! Kray.

Rate : T

Warning : Boys Love, OOC, Typo, dan masih banyak lagi.

oOo

Chapter 5

oOo

Rasa hangat dan nyaman. Entah mengapa Sehun merasa sangat nyaman sekarang ini. Seolah ada seseorang yang tengah melindunginya. Dan perasaan hangat yang menyelimutinya ini mirip dengan apa yang selalu ia rasakan begitu Kris memeluknya. Sehun menyukainya.

Tiba-tiba ia merasakan ada sebuah lengan yang semakin memeluknya erat. Membuatnya semakin mendekat pada rasa hangat yang Sehun rasakan tadi. Karena rasa penasaran perlahan Sehun membuka kelopak matanya yang terasa begitu berat.

Hal pertama yang ia lihat adalah tubuh seseorang yang tengah memakai kaos putih. Sehun semakin menurunkan pengelihatannya dan ia melihat sebuah lengan yang tengah memelukanya erat saat ini. Apa mungkin Kris tidur lagi dengannya? Pikir Sehun.

Sehun baru akan memejamkan kembali matanya ketika ia ingat suatu hal yang sangat penting. Sejak kapan hyungnya itu memiliki kulit tan sexy?

Perlahan Sehun menengadahkan kepalanya. Mungkinkah... dan apa yang ia lihat saat menengadahkan kepalanya adalah wajah Jongin yang terlihat begitu damai dalam tidurnya.

"WAAAAA!" Sehun berteriak dengan sanangat keras. Dan karena rasa panik –dan mungkin rasa senang- Sehun mendorong tubuh Jongin yang kebetulan berada di ujung ranjang hingga namja tan itu terjatuh degan keras.

Jongin yang tiba-tiba harus terbangun dengan lebih kejam dari cara eommanya membangunkannya itu mengelus-elus bagian belakang tubuhnya yang terasa berdenyut karena harus membentur lantai dengan sangat keras. Baru saja ia akan berteriak pada orang yang telah dengan teganya mendorongnya hingga jatuh, Kris masuk ke kamar dengan tergesa-gesa.

"Ada apa Sehunnie?!" tanyanya begitu ia masuk ke kamar. Namja jangkung itu segera menghampiri dongsaengnya dan mulai memeriksa tubuh kecil Sehun. Mungkin saja dongsaengnya itu terluka atau... "Apa kau terluka? Apa kau mimpi buruk? Apa namja tidak jelas itu melakukan sesuatu padamu?" tanya Kris beruntun. Baiklah dua pertanyaan awal itu memang selalu dilontarkan Kris jika Sehun bertiak saat tidur seperti tadi. Tapi pertanyaan terakhir itu?

Jongin ingin sekali berteriak dan memaki Kris karena ia dengan seenaknya menuduhnya yang tidak-tidak. Namun sebelum Jongin menyuarakan protesnya Kris sudah menatapnya tajam seolah ingin sekali memotong-motong namja tan yang masih terduduk di lantai itu.

"Kau! Apa yang kau lakukan pada Sehunnie-ku?" tanya Kris geram. Tangannya sudah mengepal siap melayangkan kepalan tersebut pada wajah tampan Jongin.

"Hyung! Sudah hentikan. Kai tidak melakukan apapun padaku. Aku hanya kaget saja tadi!" Sehun memegangi tubuh Kris yang sudah seperti predator yang siap menyerang mangsanya. "Kai. Sebaiknya kau segera mandi dan hyung, sebaiknya kita keluar sekarang." Sehun menarik tubuh tinggi Kris dengan susah payah karena sepertinya ia masih belum mau melepaskan mangsanya. Sedangkan Jongin yang mendapat perintah Sehun –sekaligus cara menyelamatkan diri paling ampuh- tanpa basa basi segera berlari menuju kamar mandi.

Sehun akhirnya dapat membawa Kris keluar kamarnya dengan susah payah. Sehun menatap malas hyungnya yang masih menatap pintu kamarnya –atau mungkin orang yang berada di dalamnya- dengan geram. "Sudahlah hyung. Sekarang aku ingin mandi jadi aku ikut mandi di kamar hyung ne?" pinta Sehun. Kris menghela napasnya kasar begitu mendengar permintaan Sehun. Ia rasa percuma saja menatap geram ke arah pintu tak berdosa itu toh hal itu tidak akan membantunya membunuh namja yang ada di dalamnya. "Kalau begitu aku akan mengambil bajuku dulu." Baru saja Sehun akan masuk lengannya sudah di tahan oleh Kris.

"Tidak usah! Aku akan mengambilkan bajumu. Kau cepat mandi sana." Kris pun segera memasuki kamar Sehun. Bukan tanpa alasan ia menahan Sehun untuk mengambil pakaiannya, ia tidak ingin dongsaeng manisnya itu berada dalam jarak tidak aman bersama namja tidak jelas itu.

Sehun yang melihatnya hanya mampu menggelengkan kepalanya. Ia heran dengan sikap hyungnya itu yang terlalu overprotective terhadapnya. Apa mungkin hyungnya itu seorang brother complex?

Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya lucu. Jika memang hyungnya itu brother complex ia tidak akan pernah memarahi Sehun atau bahkan membahayakan nyawa Sehun dengan hobi konyolnya yang suka kebut-kebutan.

.

.

.

Begitu masuk ke kamar mandi Jongin segera mengunci pintunya. Takut-takut Kris akan mengikutinya dan membunuhnya di dalam. Oh ayolah, Walaupun ia masih dikelilingi orang-orang yang membuatnya ingin bunuh diri ia masih ingin menikmati hidupnya.

Setelah Jongin selesai dengan kegiatan privatnya yaitu mandi, ia keluar hanya dengan handuk di pinggangnya. Ia lupa tidak membawa baju ganti saat masuk ke kamar mandi saking takutnya dengan tatapan membunuh Kris.

Jongin memakai kembali seragam sekolahnya yang tentunya sudah dicuci terlebih dahulu, ia tidak mau jika harus meminjam lagi baju Kris –karena namja jangkung itu tidak ingin dia memakai baju Sehun. Ia baru selesai memakai celananya dan baru akan memakai kemejanya ketika tiba-tiba pintu kamar terbuka. Disana berdiri Nyonya Oh yang terlihat sangat ceria tengah memperhatikannya dari atas hingga bawah.

"Oh! Ternyata kau punya tubuh yang bagus Jongin-ah." Nyonya Oh terlihat begitu senang layaknya sorang fans yang senang melihat idolanya. Jongin yang mendengar Nyonya mengungkit-ungkit tentang tubuhnya langsung mengalihkan pandangannya ke tubuhnya sendiri.

Damn! Dia lupa kalau ia masih belum memakai baju. Itu artinya ia tengah topless dihadapan Nyonya Oh.

Buru-buru Jongin menutupi tubuh bagian atasnya dengan kemeja seragamnya. Nyonya Oh yang melihat tingkah Jongin hanya terkikik geli karena sikap Jongin –yang menurutnya- sungguh manis.

"Sudahlah jangan malu-malu begitu Jongin-ah. Aku sudah sering melihat Yifan dan Sehunnie telanjang jadi kau jangan khawatir." Nyonya Oh kemudian menyodorkan sebuah baju yang telihat begitu mahal –dimata Jongin- padanya. Jongin menatap bingung pada Nyonya Oh. "Sekarang kau pakai ini ne? Aku tidak mau melihat tamuku memakai baju kemarin."

Jongin mengangguk saja karena ia merasa daripada sebuah tawaran, itu terdengar lebih seperti sebuah perintah. Apakah semua keluarga Oh selalu menakutkan seperti Kris dan Nyonya Oh? Pikir Jongin. Tapi Sehun tidak terlihat menakutkan sama sekali, ia justru terlihat sangat manis. Dan Tuan Oh... Jongin masih belum tahu dengan perangai Appa Sehun itu.

Nyonya Oh tersenyum semakin senang. Ia kemudian berpamitan pada Jongin yang hanya bisa mengangguk, kemudian yeoja itu keluar.

Baiklah Jongin rasa ia harus kembali mengganti pakaiannya. Lagipula kapan lagi Jongin akan memakai baju yang terlihat sangat mahal ini. Menangis darah pada eommanya pun ia tidak yakin akan dibelikan yang seperti ini.

Dan benar saja begitu Jongin memakai pakaian tersebut rasanya benar-benar nyaman. Berbeda sekali dengan apa yang sering ia pakai. Kemeja hitam dan celana jeans yang diberikan oleh Nyonya Oh itu terasa begitu pas di tubuhnya, seolah baju tersebut memang sengaja dirancang untuknya. Dan sepertinya Nyonya Oh juga telah menyiapkan sepatunya. Terlihat di dekat pintu sepasang sepatu hitam yang terlihat begitu menggoda untuk dipakai olehnya.

Tunggu dulu? Bukankah itu sepatu yang semenjak beberapa bulan lalu ia impi impikan. Oh tuhan, betapa beruntungnya ia saat ini.

Jongin menatap ke arah cermin di kamar Sehun. Ia memperhatikan penampilannya yang terlihat... well, perfect. "Kau benar-benar terlihat luar biasa Kim Jongin." Bisiknya entah pada siapa.

Setelah membereskan semua barangnya dan memasukan seragamnya ke dalam tasnya. Jongin segera keluar dan lagi-lagi ia harus terkejut karena rupanya Nyonya Oh tengah berdiri di depan kamar Sehun. Yeoja itu memperhatikan Jongin dari atas hingga bawah. "Kyaaa! Sudah kuduga pakaian itu akan cocok sekali denganmu." Pujinya. Yeoja itu pun menarik tangan Jongin dan membawanya entah kemana –bahkan tanpa meminta izin dulu pada Jongin.

Jongin menghela napasnya pasrah. Sepertinya sesuatu yang bagus itu tidak akan dengan mudahnya di dapat tanpa ada sebuah perjuangan. Dan sepertinya disinilah perjuangan Jongin.

.

.

.

Sudah satu jam lebih berlalu. Sehun sudah menghabiskan tiga pancake dan segelas susu sarapannya dan Jongin belum juga turun dari kamarnya. Apa yang sebenarnya tengah dilakukan namja tan tersebut?

"Kenapa Kai lama sekali ya?" tanya Sehun. Kris mengendikan bahunya tidak tahu. Hyungnya itu terlihat begitu rapi hari ini. Tumben sekali padahal biasanya jika akhir pekan seperti ini hyungnya itu masih berpenampilan acak-acakan. Dan hal tersebut membuat Sehun curiga. "Hyung tumben sudah rapi. Memangnya hyung mau kemana?" tanya Sehun curiga.

Kris terlihat selalu bertingkah mencurigakan semenjak bertemu dengan Lay waktu itu. Contohnya saja kemarin, ia langsung setuju tidak menjemput Sehun padahal biasanya ia selalu menolak mentah-mentah dan beralasan bahwa jika ia tidak menjemputnya eommanya itu akan membunuhnya.

"Bukan urusanmu! Sudahlah hyung berangkat dulu. Bye!" Ucapnya kemudian namja jangkung itu mengecup sekilas puncak kepala Sehun.

Tuh kan! Hyungnya itu sangat mencurigakan. Sejak kapan Kris mencium kepalanya jika akan pergi. Sehun baru akan mengikuti Kris ketika ia ingat kalau Jongin belum juga keluar dari kamarnya. Apa terjadi sesuatu pada namja tan itu?

Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya lucu. Ia harus berpikir positif, daripada ia terus-terusan cemas seperti ini lebih baik ia segera mengeceknya saja. Lagipula hyungnya itu sudah pergi jadi ia tidak perlu khawatir Kris akan menghentikannya mengecek keadaan Jongin.

Sehun sedikit berlari ke arah kamarnya namun betapa terkejutnya ia karena ia tidak menemukan sosok Jongin dimanapun. Kamar mandinya sudah kering dan tempat tidurnya sudah sangat rapi. Itu artinya maid-maidnya sudah membereskan kamarnya dan itu artinya Jongin juga sudah keluar dari kamar. Tapi kemana namja tan itu pergi?

Kebetulan sekali ada seorang maid yang lewat kamar Sehun. "Apa kau lihat Jongin kemana?" tanya Sehun begitu ia menghampiri maid tersebut.

"Tadi Nyonya Oh membawanya ke butik." Jawabnya.

Sehun mengangguk mengerti kemudian ia berjalan ke arah butik pribadi eommanya. Sehun merasa benar-benar khawatir saat ini. Bagaimana kalau eommanya itu melakukan sesuatu pada Jongin? Mengingat sifat eommanya yang sangat extreme itu bisa saja yeoja tersebut menyuruh Jongin memakai sesuatu yang tidak pantas untuk dipakai oleh namja tan itu. Seperti apa yang selama ini telah ia lakukan pada Sehun.

Sehun kini berdiri di depan pintu butik eommanya yang berada di belakang rumah mereka. Jantungnya berdetak cepat. Ia harus siap melihat apapun tindakan extreme yang dilakukan eommanya pada Jongin. Dan ia tahu jika sampai eommanya melakukan itu Sehun harus segera menyelamatkan namja tan tersebut.

Ceklek.

Sehun membuka perlahan pintu berbahan jati tersebut. Hal pertama yang ia lihat adalah banyaknya orang yang ada di dalam dan beberapa peralatan pemotretan, jangan lupakan seorang fotografer handal yang biasa eommanya sewa juga ada. Dan... apakah Jongin sedang berpose layaknya seorang model saat ini?

Well, jika memang iya harus Sehun akui saat ini Jongin terlihat sangat... hot. Sehun menggigit bibir bawahnya gugup. Bagaimana ini, niatnya ia ingin menyelamatkan Jongin dari tangan eommanya tapi sekarang? Justru ia hanya terdiam di tempat memperhatikan Jongin yang masih asyik berpose.

"Sehunnie! Kebetulan sekali kau ada disini. Kemarilah!" panggilan eommanya itu mengangetkan Sehun yang masih berdiri di ambang pintu. Jongin yang mendengar nama Sehun pun menghentikan aktivitas berposenya dan menatap Sehun kaget.

"Eomma, ige mwoya?" tanya Sehun saat eommanya itu menariknya ke dalam butik pribadinya –yang disulap menjadi tempat pemotretan secara mendadak.

"Tentu saja ini pemotretan chagiya. Dan harus eomma akui temanmu ini sangat hebat dalam berpose. Tidak jauh dari hyungmu." Ujar eomma Sehun dengan senyum yang tidak pudar dari wajahnya. "Kau benar-benar hebat Jongin-ah!"

Jongin tersenyum canggung. "Kamsahamnida." Ucap Jongin pelan.

Sehun menatap kedua orang yang saat ini terlihat seperti seorang director dan artisnya dengan tatapan datar. "Baiklah. Kuarasa pemotretan ini selesai. Kajja Kai! Aku akan mengantarmu pulang." Sehun menarik tangan Jongin membuat Jongin tersentak kaget karena namja manis itu melakukannya secara tiba-tiba.

"Sehunnie Jamkkaman! Masih ada 5 baju lagi yang harus Jongin coba. Kau tidak bisa melakukan hal ini pada eomma~" rengek sang eomma. Yeoja itu juga menarik-narik lengan Jongin. Dan terjadilah pertandingan meperebutkan Jongin antara anak dan eommanya itu.

"Andwae! Kai akan pulang denganku!" Sehun semakin menarik tangan Jongin kuat. Membuat Jongin merasa kesakitan karena dua orang itu semakin menariknya dengan kuat, namun tiba-tiba eomma Sehun melepaskan tarikannya. Membuat Sehun sedikit terjungkal.

Hampir saja namja manis itu terjatuh kalau saja Jongin tidak segera menarik Sehun. Beruntung refleksnya bagus jadi ia tidak harus ikut tertarik Sehun.

"Eomma dapat ide!" seru sang eomma. Ia menatap Sehun penuh arti. Mungkin jika ini dalam sebuah cerita kartun, di mata sang eomma pasti sudat terlihat banyak sekali bintang berkilauan.

Oh! Sehun rasa eomma itu akan mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan.

"Bagaimana kalau kau-" belum sempat eomma Sehun melanjutkan kata-katanya Sehun sudah lebih dahulu berteriak. Sehun sudah tahu kemana arah pembicaraan eommanya akan berjalan.

"ANDWAE!" dan Sehun pun berlari sembari menarik Jongin keluar dari butik eommanya itu.

Eommanya itu sudah benar-benar gila! Apa mungkin ia bermaksud untuk membuat Sehun memakai pakaian yeoja lagi dan menyuruhnya berpose bersama Jongin. Ia sama sekali tidak mau. Mau ditaruh dimana mukanya jika Jongin tahu kalau dia memakai pakaian yeoja.

Baiklah sebenarnya itu tidak masalah bagi Sehun. Hanya saja bagaimana kalau nantinya Jongin tidak mau lagi berteman dengannya karena ia akan berpikir Sehun itu namja yang aneh. Dan bagaimana kalau teman-teman yang lainnya tahu dan akhirnya mereka meninggalkan Sehun. Terlebih bagaimana kalau Taemin meninggalkannya. Ia sudah menganggap namja manis itu saudaranya sendiri sekarang.

"-hun! Sehun!" panggilan Jongin dan tarikan tangan Jongin sontak membuat Sehun yang masih berlari terhenti seketika. Sehun membalikan tubuhnya dan menatap Jongin yang kini menatapnya aneh. "Kau kenapa eoh? Kenapa kau tiba-tiba berteriak dan berlari begitu?"

Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. "Aniyo." Ujarnya tak kalah cepat. "Sebaiknya kau segera pulang sekarang sebelum eommaku berbuat aneh-aneh lagi."

"Baiklah. Tapi bagaimana dengan baju ini?" tunjuk Jongin pada baju yang saat ini sedang ia kenakan. Rasanya ia merasa tidak enak jika harus pulang dengan baju super mahal ini –Jongin sudah bertanya pada salah satu maid tadi. Bisa-bisa eommanya akan bertanya-tanya darimana Jongin mendapatkan baju ini dan pasti akan berujung pada sang eomma yang akan menuduhnya yang tidak-tidak.

"Sudahlah pakai saja! Anggap saja sebagai tanda minta maaf atas kelakuan eomma dan hyungku."

Jongin mengangguk mengerti dan ia pun mengikuti Sehun yang sudah lebih dahulu berjalan di depannya.

.

.

.

Selama perjalan menuju rumah Jongin hanya keheningan yang menyelimuti kedua namja tersebut. Yoon ahjussi –sopir pribadi Sehun- hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan majikannya ini. Pasalnya walaupun hanya diam, sesekali pria tua itu melihat Sehun melirik ke arah Jongin yang masih asyik memperhatikan jalanan lewat kaca spion dalamnya *mian saya gak tahu itu namanya apa*.

Jongin yang sepertinya baru menyadari bahwa mereka tidak lagi ada di jalur menuju rumahnya menatap namja tua itu heran. Yoon ahjussi yang melihat ekpresi Jongin tersebut langsung berkata. "Bagaimana kalau kalian berdua sedikit berjalan-jalan terlebih dahulu. Wajah kalian itu terlihat kacau sekali. Dan aku rasa kalian butuh refreshing." Tuturnya.

Dan seperti apa yang dikatakan oleh namja tua itu, ia membawa mereka ke sebuah mall yang sangat berdekatan dengan sebuah taman. "Ahjussi~ kenapa kau membawa kami ke mall?" tanya Sehun.

"Sebenarnya aku ingin membawa kalian ke taman bermain tapi sayangnya taman bermain yang dekat masih tutup." jawabnya santai.

"Bilang saja ahjussi malas kalau harus pergi jauh." Ujar Sehun dan namja tua itu tertawa mendengarnya.

Setelah kedua namja itu turun dari mobil dan namja tua itu berpesan kalau mereka ingin pulang tinggal telpon saja, mobilnya pun pergi. Meninggalkan kedua namja yang saat ini tengah merasakan kecanggungan luar biasa.

"Bisa kita ke restoran terlebih dahulu? Aku rasa aku masih lapar." Ajak Jongin.

"Apa jangan-jangan eommaku tadi tidak membiarkanmu sarapan terlebih dahulu?" tanya Sehun cemas. Jongin menggelengkan kepalanya.

"Bukan seperti itu. Aku hanya masih lapar saja. Kajja!" tanpa sadar Jongin menarik tangan Sehun. Ia menautkan kedua tangan mereka.

Sehun tertunduk malu dan wajahnya sudah sangat memerah. Jantungnya juga berdetak cepat. Ugh... ia merasa seperti sedang kencan dengan Jongin saat ini. Terlebih dengan tangan mereka yang saling bertautan.

.

.

.

Jongin memakan wafflenya lahap. Selain menghilangkan rasa lapar karena sebenarnya ia berbohong pada Sehun kalau ia sudah sarapan padahal sebenarnya ia belum menyentuh makanan sedikitpun, ia juga berusaha menghilangkan rasa gugup yang ia rasakan.

Jongin merasa sangat malu sekali. Kenapa juga ia menggenggam tangan Sehun seperti tadi? Dan anehnya kenapa juga ia malah menyukainya dan ingin melakukannya lagi? Haa~ mungkinkah sudah saatnya ia menyerah dengan egonya dan mengatakan bahwa ia menyukai namja manis yang tengah duduk di hadapannya sambil meminum milkshake coklatnya ini?

"Jongin?" suara lembut seorang yeoja menghentikan Jongin dari aktivitas makannya. Ketika ia menengokan kepalanya ia mendapati seorang yeoja cantik dengan rambut hitam panjang tengah menatapnya.

"Krystal?"

Yeoja tersebut terlihat langsung sumringah begitu ia tahu kalau itu benar-benar Jongin. "Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi Jongin." Ucapnya senang. Yeoja cantik itu kemudian mengalihkan pandangannya pada Sehun yang terlihat gugup saat ini. "Um... boleh aku ikut duduk?" pintanya. Sehun mengangguk pelan dan yeoja tersebut mendudukan dirinya di dekat Jongin. "Ngomong-ngomong kau siapa? Apa kau temannya Jongin?" tanyanya lagi dan Sehun hanya mengangguk lagi sebagai jawabannya.

"Krystal, kapan kau pulang dari America? Kenapa tidak memberitahuku?" tanya Jongin pada sang yeoja cantik yang masih memperhatikan Sehun. Yeoja itu kembali mengalihkan pada Jongin dan tersenyum manis padanya.

"Aku baru pulang beberapa hari yang lalu. Mianhae aku tidak memberitahumu. Kau tahu kan aku sibuk akhir-akhir ini." tuturnya sembari memasang wajah ala puppy pada Jongin.

Jongin tertawa geli melihat ekspresi lucu Krystal, ia kemudian mengusak rambut panjang yoja cantik tersebut. "Kau sama sekali tidak berubah Krystal." Ujarnya sembari tertawa geli.

Sehun yang melihat pemandangan itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Entah mengapa ia merasa sangat sakit begitu Jongin mengobrol sangat akrab dengan Krystal. Terlebih Jongin terlihat lebih senang begitu bersama dengannya. Lihatlah ia yang tertawa bebas begitu melihat ekpresi lucu yang dibuat oleh Krystal.

Oh dan jangan lupakan bahwa yeoja itu memanggil Jongin dengan nama aslinya. Padahal Taemin yang sepupunya saja memanggilnya Kai.

"Kai, aku mau ke toilet dulu." Ujar Sehun pelan. Jongin mengangguk mengerti dan kembali melanjutkan mengobrolnya dengan Krystal begitu Sehun telah berjalan menjauh.

Rasanya Sehun begitu iri melihat kedua orang tersebut. Yang satu sangat tampan dan yang satu sangat cantik. Benar-benar serasi. Dan jangan lupakan bahwa mereka itu namja dan yeoja. Berbeda dengannya.

Sehun merasa bersalah pada Jongin karena bukannya pergi ke toilet seperti yang ia katakan, justru ia malah keluar dari restoran tersebut. Salahkan hatinya yang tidak ingin melihat pemandangan yang begitu menyakitkan tersebut.

Begitu Sehun bersandar di penyangga tiba-tiba pandangan Sehun menjadi gelap. Ada sepasang lengan yang kini menutupi kedua mata indahnya. "Coba tebak siapa?" tanya sang pelaku. Sehun mengenal betul siapa pemilik suara ini.

"Um... hantu panda?" candanya.

"Ayolah~ jangan bercanda Sehunnie. Kalaupun aku panda, aku ini pasti jadi kungfu panda bukan hantu panda." Sang pelaku yang tak lain adalah Tao menatap sebal pada Sehun, tapi seketika ekspresinya melembut begitu melihat Sehun tertawa. "Sudah merasa baikan?" tanyanya.

Kini Sehun menatap sahabat kecilnya itu bingung. "Maksudmu?"

Tao mencubit kedua pipi Sehun gemas. "Wajahmu ini kusut sekali, kau tahu. Makanya aku berusaha merapikan wajah kusutmu ini."

"Appo~" protes Sehun begitu Tao melepaskan cubitannya. "Kenapa kau ada disini Tao?" tanya Sehun penasaran, bukankah Tao mengatakan bahwa ia adalah latihan wushu hari ini.

"Hmm... takdir?"

"Jangan bercanda! Bukankah kau bilang ada latihan wushu hari ini?" Sehun menatap sahabat kecilnya itu menyelidik. Yang ditatap hanya terkekeh geli karena ekspresi Sehun itu sudah terlihat seperti seorang polisi yang menyelidiki penjahatnya.

"Latihan hari ini dibatalkan. Jadi aku kesini saja karena memang tempat latihanku dekat dari sini. Dan... sepertinya takdir mempertemukan kita Sehun."

Sehun hanya menatap datar Tao yang penyakit puitisnya itu mulai keluar. Sedangkan yang ditatap kembali terkekeh geli kemudian ia menarik tangan Sehun agar mengikutinya.

"Kau mau membawaku kemana?" tanya Sehun penasaran.

"Sudahlah. Ikut saja kau pasti akan menyukainya."

Mereka berjalan dalam diam dengan Tao yang kini menggenggam tangannya. Sehun beberapa kali melontarkan pertanyaan 'kemana kita akan pergi' dan 'apa yang akan kita lakukan' namun jawaban yang ia dapat hanyalah Tao yang tersenyum penuh arti. Ada apa dengannya?

Mereka akhirnya tiba di game center. Tao menarik Sehun menuju arena melempar bola basket. Ia melepaskan tautannya dan mengambil bola yang ada di sana. Tao menyeringai dan melemparkan bola tersebut pada Sehun. "Kita tanding!" tantangnya.

Sehun yang pada dasarnya suka tantangan menerimanya tanpa ragu. Dan mereka pun memulai pertandingan kecil mereka. Siapa yang berhasil mencetak angka paling banyak sampai waktu habis dia yang menang. Simple namun selalu menyenangkan.

Tidak ada yang mengalah dalam permainan ini. Sehun harus berusaha keras agar dapat menang dari namja china disampingnya ini. Entah mengapa namja china ini sudah lebih ahli dalam bermain basket daripada dia. Padahal Sehun yang mengajarkan Tao bermain basket.

Pertandingan pun berakhir dengan Tao yang memenangkannya dengan angka 25 – 20. Ia tersenyum penuh kemenangan pada Sehun. Sehun sendiri hanya meggembungkan pipinya sebal. Sejak kapan permainan basketnya jadi lebih buruk dari Tao? Padahal bukankah ia selalu bermain basket dengan hyungnya.

"Sudahlah jangan cemberut begitu. Kita beli ice cream. Aku yang traktir deh!" ucapan Tao tadi sukses membuat Sehun yang asalnya cemberut menjadi terseyum senang.

Setelah membeli ice cream mereka memutuskan untuk memakannya di taman saja. Lebih tepatnya Tao yang memaksanya untuk makan disana dan Sehun hanya menurut saja. Katanya sih supaya lebih romantis dan Sehun hanya memutar matanya begitu mendengar penuturan konyol Tao.

"Kau masih suka coklat?" tanya Tao begitu mereka berdua duduk di salah satu bangku taman.

"Begitulah. Dan kau masih suka strawberry."

Mereka berdua bercengkrama dan mengoborol dengan asyiknya. Mereka berdua mengobrolkan masa lalu mereka dan hobi yang mereka sukai. Semuanya berjalan dengan santai sampai pada akhirnya Tao berkata.

"Kenapa kau tidak jauhi saja namja bernama Jongin itu?"

Sehun kembali menatap Tao bingung. Semenjak pertama kali mereka bertemu beberapa hari yang lalu namja china itu banyak berubah. Seperti saat ini. "Apa maksudmu?"

Bukannya menjawab Tao malah menggenggam kedua tangan Sehun. Ia mengecupi setiap jemari lentik Sehun lalu menatap Sehun dalam. "Jauhi dia. Jebal!"

Sehun semakin kebingungan sekarang. Mengapa tiba-tiba Tao memohon padanya untuk mejauhi Jongin seperti ini? Apa yang salah dengan Jongin? Mengapa ia harus menajuhinya? "Aku tidak mengerti."

Tao menghela napasnya panjang. Ia kembali menatap Sehun lekat. "Kau ingat kata-kataku saat di kantin kemarin?" tanyanya.

Barulah Sehun mengerti kemana arah pembicaraan mereka ini. "Maksudmu... kau serius dengan perkataanmu saat itu?" tanya Sehun mencoba memastikan. Tao mengangguk mantap.

"Aku selalu serius padamu Shixun."

Sehun sangat kebingungan sekarang. Ia sama sekali tidak pernah menyangka setiap ucapan suka dan klaim Tao atas dirinya semasa kecil itu adalah serius. Sehun selalu menganggapnya sebagai candaan seeorang teman dan sekarang?

Sehun sendiri masih bingung dengan perasaanya sendiri. Disisi lain ia masih masih bingung dengan perasaan yang ia rasakan pada orang –yang selalu ia anggap- cinta pertamanya. Dan disisi lain ia juga bingung dengan perasaanya terhadap sahabat kecilnya yang kini menatapnya sangat dalam. Membuatnya merasakan perasaan aneh itu saat ia juga bersama dengan Jongin.

Tiba-tiba Sehun merasa tubuhnya seperti ditarik kebelakang. Membuatnya menubruk orang yang menariknya itu. Sehun melirik ke arah orang yang telah menariknya dan menemukan Jongin yang kini menatap Tao dingin.

.

.

.

Tanpa terasa pembicaraan Jongin dengan Krystal berlangsung sangat lama. Rasanya menyenangkan saat kau bertemu lagi dengan teman sekaligus cinta keduamu. Namun ada perasaan tak nyaman begitu ia menyadari Sehun belum juga kembali dari toilet.

"Ada apa Jongin?" tanya krytal penasaran karena sekarang Jongin mengedarkan pandanganya keseluruh ruangan dengan cemas.

"Aniyo." Jawab Jongin masih mencari-cari sosok namja manis yang masih juga belum kembali.

Krystal menghela napasnya. Jongin itu bukan tipe orang yang akan dengan mudahnya berbohong. Ia sangat tidak pandai menyembunyikan perasaanya. "Sebaiknya kau cari saja Sehun. Kau mengkhawatirkannya kan?"

Jongin menatap Krystal yang kini tengah tersenyum manis padanya. Ia sebenarnya ragu meninggalkan yeoja cantik ini sendirian karena walau bagaimana pun dia adalah seorang gentleman. Menyadari dengan keraguan Jongin Krystal mendorong tubuh Jongin agar namja tan itu segera pergi mencari sang namja manis.

"Pergilah! Aku tidak apa-apa sendiri. Lagipula Myungsoo oppa juga sebentar lagi datang." Yakinnya. Jongin akhirnnya mengangguk dan meminta maaf pada Krystal sebelum akhirnya ia berlari ke toilet restoran dengan terburu-buru.

Namun hasilnya nihil. Ia tidak menemukan Sehun disana. Apa mungkin namja manis itu sudah keluar dari restoran?

Jongin pun segera berlari keluar restoran dengan gelisah. Ia mengedarkan pandangannya pada setiap penjuru mall yang dapat ia lihat. Ia benar-benar menghkawatirkan Sehun. Bagaimana jika terjadi sesuatu hal buruk padanya?

Sedetik kemudian Jongin baru ingat, kenapa tidak ia telpon saja namja manis itu? Dengan pemikiran itu Jongin segera merogoh sakunya dan mengambil benda tipis tersebut. Ia mencoba mencari kontak namja manis itu di handphonenya. Namun setelah melihat-lihat ia baru ingat kalau ia sama sekali tidak memiliki nomor namja manis itu.

Oh! Taemin pasti memiliki nomornya! Pikir Jongin.

Awalnya ia ragu untuk menelpon sepupunya tersebut namun karena rasa khawatirnya yang terlalu besar ia menyingkirkan segala gengsi dan egonya. Cukup lama ia menunggu sepupu manisnya itu mengangkat telponya sampai akhirnya ia mendengar suara Taemin yang terdengar melenguh. "Yeoboseo."

"Taemin. Cepat kirimkan nomor ponsel Sehun padaku sekarang!" perintah Jongin tak sabaran.

"Jongin? Kenapa kau meminta nomor Sehun?"

"Sudahlah, cepat kirimkan saja!" Jongin sudah merasa berada di ujung kesabarannya sekarang. Oh ayolah, tidak bisakah sepupunya itu mengerti bahwa Jongin tengah terburu-buru sekarang ini.

"Arasseo arasseo. Aku akan mengirimkannya sekarang." Dengan itu Taemin pun memutuskan sambungannya. Tak lama handpone Jongin bergetar dan ia mendapat pesan Taemin.

Tanpa pikir panjang Jongin segera menelpon nomor yang tertera di pesan yang dikirim Taemin. Jongin menunggu sambungannya dengan tidak sabar. Ia menggigit bibir bawahnya cemas, ia juga tidak henti-hentinya berputar di tempat. "Ayolah angkat. Ayo-"

"Yeoboseo?"

Tunggu dulu, kenapa suara seorang yeoja yang mengangkat telpon Sehun? Apa mugkin namja manis itu diculik seorang yeoja karena ia terlalu manis? "Apa benar ini nomor Oh Sehun?" tanya Jongin mencoba memastikan bahwa setiap pikiran negatifnya itu salah.

"Ne. Nuguseo?" jawab suara di seberag sana.

"Jongin. Temannya Sehun. Apa Sehun ada disana?"

"Ah! Jongin-ssi. Jwosohamnida tapi sepertinya tuan muda lupa tidak memabawa handphonenya."

Oh great! Disaat ini cara yang paling cepat untuk menemukan namja manis itu justru handphonenya itu harus ketinggalan. "Kurae? Baiklah kalau begitu. Kamsahamnida." Jongin pun segera menutup telponya.

Ia benar-benat merasa bingung sekarang ini. Bagaimana caranya menemukan seseorang diantara ratusan bahkan mungkin ribuan orang di tempat sebesar ini? Kau benar-benar hebat Oh Sehun. Dapat membuat Jongin mejadi kalang kabut dan kehilangan akalnya hanya karena ia mengkhawatirkanmu.

Sepertinya karena tuhan sudah sangat kasihan melihat keadaan kacau Jongin akhirnya Jongin melihat sosok Sehun yang keluar dari mall. Dan ia bersama dengan seseorang. Jongin tidak begitu yakin siapa orang tersebut karena posisinya yang tidak memungkinkan untuk melihat wajah namja yang tengah bersama Sehun tersebut.

Tanpa pikir panjang Jongin pun berlari ke arah mereka berdua. Ia sebenarnya suduah bisa menerka-nerka siapa namja yang tengah bersama Sehun itu. Surai malam dan tindikan di telinga itu tidaklah asing bagi Jongin.

Huang Zitao.

Dan benar saja namja sialan itu tengah membawa Sehun. Mereka terlihat begitu akrab. Ingin sekali Jongin menghampiri mereka dan menarik Sehun dan menjauhkannya dari namja china tersebut namun karena rasa penasarannya sangat besar, Jongin memutuskan untuk memata-matai mereka saja.

Semuanya berjalan seperti saat Tao berbincang dengan Sehun di kantin. Tak ada yang istimewa, mereka hanya saling mengobrol layaknya teman walaupun Jongin dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. Tidak ada yang mencurigakan sampai tiba-tiba Tao menggenggam tangan Sehun dan mengecupi jemari lentik Sehun. Membuat Jongin megepalkan tangannya sampai buku buku jariya memutih.

Tanpa pikir panjang ia menghampiri kedua namja tersebut. Ia menarik lengan Sehun kuat hingga membuat tubuh namja manis itu bertubrukan dengannya. Jongin menatap Tao dingin. Keinginannya untuk membunuh namja china dihadapannya ini semakin membesar saja.

"Kai?" suara lembut Sehun membuat Jongin menatap namja manis tersebut. Lalu Jongin pun menarik tangan Sehun dan membawanya menjauh dari Tao yang masih terduduk di tempatnya. Menatap kepergian kedua namja tersebut dengan tatapan yang tidak terartikan.

"Kai! Kita mau kemana?" pertanyaan itu terus Sehun lontarkan namun Jongin tidak mengindahkannya sama sekali. Ia terus menarik Sehun, membawanya entah kemana.

Sehun benar-benar merasa kebingungan sekarang. Kenapa tiba-tiba Jongin menariknya seperti ini terlebih ia juga terlihat sangat kesal. Ada apa dengannya? Bukankah tadi ia terlihat baik-baik saja saat bersama Krystal?

Oh. Sehun baru ingat alasan ia meninggalkan Jongin di restoran adalah karena adanya yeoja cantik tersebut. Sehun merasakan hatinya kembali berdenyut nyeri begitu ia mengingat kejadian tadi. Dan pertanyaan 'apa hubungan keduanya?' yang sempat ia lupakan saat bersama Tao tadi kembali meyelimutinya.

"Kai! Kemana Krystal? Apa terjadi sesuatu?"

Tiba-tiba Jongin menghentikan langkahnya. Ia membalikan tubuhnya dan menatap Sehun. Membuat namja manis yang tengah ditatap itu merasa gugup karena tatapan Jongin yang terlihat begitu serius.

Sehun sangat terkejut ketika Jongin menggenggam kedua tangannya. Ia menatap tangan Sehun dengan tatapan yang tidak dapat Sehun artikan. Dan kembali Sehun harus dikejutkan kembali oleh Jongin yang tiba-tiba mengecupi jemari lentiknya. Persis seperti apa yang dilakukan Tao tadi. Dan hal itu membuatnya jantungnya berdetak lebih cepat.

Entahlah Jongin sendiri merasa bingung mengapa ia melakukan hal itu. Ia hanya ingin menghilangkan jejak ciuman Tao di jemari indah Sehun. Tak ada maksud lain.

Apakah ini rasa cemburu? Cemburu karena Sehun dicium oleh orang lain –walaupun hanya tangannya saja.

Jongin ingin mengetahui setiap perasaan yang ia rasakan terhadap namja manis ini. seorang namja yang sanggup membuatnya tidak dapat mengontrol tindakannya sendiri.

Jongin pun memeluk tubuh kecil Sehun dalam dekapannya. Ia memeluknya erat seolah tidak ingin namja manis itu jauh darinya. Tidak ingin namja manis itu menghilang darinya.

Jongin menikmati setiap getaran aneh di kulitnya begitu ia bersetuhan dengan Sehun. Jongin menikmati debaran jantungnya yang tak karuan saat ia dekat dengan Sehun. Jongin menikmati rasa menggelitik di perutnya saat Sehun bebicara dengannya. Ia menikmati setiap keganjilan yang tubuhnya lakukan jika itu berhubungan dengan Sehun.

Terlebih ia juga menyukai senyum manis Sehun yang selalu ia tunjukan. Ia menyukai suara lucu Sehun. Dan ia juga menyukai aroma khas Sehun yang entah mengapa selalu membuatnya merasa nyaman dan rileks.

Jongin kembali mempererat pelukannya. Sehun yang tengah dipeluk hanya bisa terdiam. Ia bingung harus melakukan apa. Ia tidak mungkin mendorong tubuh Jongin karena entah mengapa ia menyukai pelukan ini. Membuatnya merasa sangat aman dan nyaman. Melebihi pelukan hyungnya.

Walaupun hanya sekilas, Jongin mendengar perkataan Tao pada Sehun saat ia mengecupi jemari lentik Sehun. "Jangan jauhi aku."

.

.

.

Suara deru mobil dan musik yang mengalun lewat radio menyelimuti keempat namja yang kini tengah duduk di dalam mobil. Kris menyetir mobilya dengan fokus. Disampingnya Lay yang tengah memperhatikan jalan, sesekali ia melihat ke arah jok belakang mobil melalui kaca spion dalam. Di jok belakang terlihat Sehun dan Jongin yang duduk saling berjauhan dan masing-masih melihat ke arah yang berbeda.

Kenapa kedua namja itu berada di dalam mobil Kris?

Alasannya adalah karena disaat keduanya tengah berpelukan dengan mesranya –setidaknya itu yang dipikirkan Kris begitu melihat adegan tersebut-. Namja tinggi yang bestatus sebagai hyung Sehun itu segera menarik tubuh Jongin agar segera menjauh dari dongsaeng kesayangannya itu. Namja tinggi itu menatap Jongin geram sama seperti yang ia lakukan saat di kediaman Oh tadi pagi. Hanya saja sekarang tingkat keseramannya semakin meningkat.

Karena sepertinya dewi fortuna sedang berbaik hati pada Jongin, tiba-tiba sosok Lay muncul dari belakang Kris. Ia memanggil-manggil nama Kris, membuat namja tinggi yang baru saja akan melayangkan pukulannya itu menghentikannya secara tiba-tiba.

Lay yang sepertinya tidak tahu menahu dengan keadaan di sekitarnya ini hanya menatap tiga namja yang keadaanya –bisa dibilang- kacau ini heran. Jongin yang terlihat baru saja akan dicabut nyawanya. Sehun yang terlihat kaget dan wajahnya yang sangat merah seperti kepiting rebus. Dan Kris... entahlah namja itu terlihat terdiam di tempat.

"Apa yang tengah kalian lakukan disini, Kai Sehun?" tanya Lay.

Sehun yang sepertinya berkeadaan cukup normal menjawab pertanyaan Lay sedikit terbata. "A-aku sedang..." Sehun berusaha mencari alasan yang cukup logis karena jika ia salah bicara mungkin hyungnya yang masih teridam di tempat itu akan membunuh Jongin nantinya. "Aku sedang ingin mencari buku bersama Kai. Iya! Itu. Hyung sendiri sedang apa disini?"

"Aku juga tadi habis mencari buku yang bagus untuk referensi belajar. Dan kebetulan sekali hyungmu ini membantuku mencarinya. Lihatlah! Banyak buku bagus yang kami dapat!" Lay menunjukan beberapa buku dalam kantung plastiknya pada Sehun dengan senang. "Apa kalian sudah mendapat buku yang bagus?"

Sehun mengangguk cepat. "Ne! Kami sudah menemukannya."

Kris yang sepertinnya sudah berhasil keluar dari mode terdiamnya itu angkat bicara. "Karena kalian sudah selesai mencarinya bagaimana kalau kalian pulang bersama kami?" Mendengar nada ancaman dalam intonasi Kris tersebut Jongin langsung mengangguk saja.

Dan seperti itulah kurang lebih alasan mengapa kedua namja itu kini berada di dalam mobil Kris.

Setelah cukup lama mobil melaju dalam keheningan akhirnya mereka sampai di depan rumah Jongin. Namja tan itu segera turun karena tidak ingin lagi menghadapi tatapan mengerikan Kris.

Lay mengucapkan salam perpisahannya pada Jongin dengan tersenyum sedangkan Kris dengan senyum yang dipaksakan –karena ada Lay, jika tidak mana mungkin ia akan tersenyum pada namja tan itu. Sedangkan Sehun hanya terdiam.

Setelah mobil mewah itu melaju meninggalkan rumahnya, Jongin menjambak rambutnya frustasi. "Babo!"

Jongin benar-benar frustasi, kenapa juga ia memeluk Sehun seperti tadi. Dan lagi mengapa ia memohon seperti itu pada Sehun. Bagaimana nantinya tanggapan Sehun terhadap dirinya?

Jongin menghela napasnya. "Aku harap tindakanku tadi tidak membuatnya takut padaku." Dan Jongin pun masuk ke dalam rumahnya. Berharap saat esok tiba semuanya akan kembali seperti semula. Walaupun ia tidak begitu yakin.

.

.

.

TBC

oOo

Kaihun dan Taohun XD

Aduh saya jadi overdose sendiri ngebayanginnya.

Semoga readerdeul semua merasa puas membacanya. Walaupun ff ini sangat absurd.

Mian karena saya gak bisa balas satu persatu reviewnya. Tapi saya baca kok! Dan saya benar-benar merasa terharu membacanya *lebay deh!*

Untuk kesekian kalinya neomu kamsahamnida bagi yang telah membaca FF saya ini.

For last

If you don't mind

Review please?