Is that you?

By : Chocolate Bubbletea

Character © God, Themself

Rate : T

Warning : Boys Love, OOC, Typo, dan masih banyak lagi

oOo

Chapter 8

oOo

Jongin menatap kesal kakinya yang di perban. Selain itu kepalanya juga terasa berdenyut-denyut sakit. Dan bukan hanya itu seluruh badanya juga terasa sangat sakit. Jongin sedikit membuka kaus hitamnya dan memperhatikan lebam keunguan yang terlukis di bagian perutnya. Ia menyetuhnya sedikt dan rasaya benar-benar sakit.

Seharusnya ia tengah menikmati liburannya bersama dengan ranjang dan bantal tercintanya. Menikmati mimpi indahnya bersama sang pujaan hati. Menatap setiap lekuk tubuh kurus namun cantik yang selalu terpampang manis di dalam bunga tidurnya. Tapi sayangnya kejadian menyebalkan ini harus terjadi. Membuatnya harus terduduk di sofa keluarga Lee dengan kaki yang membengkak.

Dan hal yang paling menyebalkan disini adalah ia tengah di temani oleh pelaku yang telah melakukan hal ini padanya. Dan bukannya meminta maaf atau setidaknya terlihat menyesal, ia justru tersenyum senang. Apa jangan-jangan kepala sepupunya itu terbentur keras hingga ia menjadi seperti ini?

Tapi sudahlah, Jongin sama sekali tidak peduli. Jika tahu seperti akhirnya mungkin ia sesekali akan menjadi keponakan yang jahat dan menolak permintaan pamannya.

Mari kita flashback mengapa Jongin bisa berakhir seperti ini.

~FLASHBACK

"Haaah... seharusnya hari ini aku tidur sepuasnya. Kenapa tiba-tiba aku jadi berada di tempat mengerikan ini?" Jongin menghela nafasnya. Ia memandang bosan barang-barang kotor yang seharusnya tidak pernah ada di dunia itu –atau setidaknya itu yang sekarang ini ia pikirkan.

"Ayolah~ jangan mengeluh terus Jongin. Memangnya kau tidak mau membantu sepupumu yang manis ini?" suara manis Taemin membuat Jongin ingin muntah saja. Apalagi dengan aegyo menjijikannya, kalau itu Sehun Jongin pasti tidak masalah –malah mungkin dia akan super senang dan menjadi fanboy nomor satunya. Oh! Sepertinya ia mulai berlebihan lagi.

Jongin mendecih kesal. "Kalau saja bukan ahjussi yang memintaku kemari, mana sudi aku membantumu. Dan lagi... kenapa kau memanggilku Jongin! Sudah aku bilang panggil aku Kai."

"Tidak mau! Sehun saja memanggilmu Jongin, masa aku masih harus memanggilmu Kai. Lagipula menurutku nama itu menyedihkan."

"Maksudmu? Itu nama yang keren tahu!"

Jongin merasa kesal mendengar ucapan Taemin tadi. Apanya yang menyedihkan? Itu adalah nama terkeren yang pernah terlintas dalam pikirannya. Dan ia rasa ia pantas mendapatkan nama sekeren itu. Tapi sepupunya ini mengatakan bahwa nama itu menyedihkan?

"Tentu saja itu nama yang menyedihkan. Memangnya namja mana yang memakai nama samaran dan meminta temannya untuk memanggilnya seperti itu hanya untuk terlihat keren di hadapan yeoja yang ia sukai? Tentu saja menurutku itu sangat menyedihkan." Tutur Taemin dengan seringai jahil terpahat manis di wajahnya.

Jongin hanya mendecih kesal. Jika diingat-ingat memang itu adalah salah satu alasan mengapa ia menggunakan nama Kai, dan memang harus ia akui bahwa itu adalah hal yang menyedihkan. Tapi ia sudah terlanjur nyaman menggunakan nama itu. Dan lagi ia tidak ingin terlihat bodoh dengan mengakuinya di hadapan sepupu sok pintaranya ini.

Taemin tersenyum penuh kemenangan melihat sepupunya yang sama sekali tidak dapat berkutik itu. "Jadi, mulai sekarang aku tidak mau lagi memanggilmu Kai." Dan setelah itu ia kembali membereskan barang-barang yang akan di masukan ke dalam kardus besar untuk di jual nantinya.

"Terserah padamu saja!"

Mereka berdua pun kembali membereskan barang-barang tua yang ada di atap keluarga Lee tersebut. Jika boleh jujur, Jongin sama sekali tidak ingin menyerahkan hari libur berharga hanya untuk menemani sepupunya –yang akhir-akhir ini lebih menyebalkan dari sebelumnya- itu untuk membereskan atap rumahnya. Tapi mau bagaimana lagi, appa Taemin sendiri lah yang memintanya dan sebagai keponakan yang baik tentu saja ia tidak mungkin menolaknya. Lagipula ia sering menyusahkan tuan Lee –walaupun sebenarnya ia curiga bahwa Taemin lah yang meminta appanya untuk mengajak Jongin.

Setelah sekitar dua jam mereka membereskan barang-barang tua dimulai dari mainan bayi yang sudah kusam sampai alat memancing tua yang sudah tak pernah di gunakan lagi oleh tuan Lee akhirnya mereka selesai juga. Tinggal membawa kotak-kotak kardus ini ke bawah dan setelah itu Jongin bisa pulang dan melajutkan tidurnya yang terganggu. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk bercinta dengan ranjang dan bantalnya itu.

"Kau bawa yang itu!" ultimatum Taemin sembari menunjuk tumpukan kotak yang ukurannya cukup besar, kemudian ia menunjuk beberapa kotak yang lebih kecil. "Nah... kalau yang itu aku yang akan membawanya."

"Akan aku pastikan besok kau tidak akan pernah melihat matahari terbit lagi Lee Taemin." Desis Jongin penuh dengan aura membunuh tapi itu sama sekali tidak berpengaruh pada Taemin.

"Hahaha... coba saja kalau bisa."

Jongin menghela nafasnya dan mulai mengangkat kardus yang paling besar. Harus Jongin akui kardus itu benar-benar berat, jika ia kehilangan sedikit saja keseimbangannya mungkin ia akan tertimpa kardus itu. Dengan hati-hati ia berjalan turun menuju tangga dan menurunkan kardus yang entah ia masukan apa tadi. Namun sepertinya kesialan tengah menimpa dirinya karena tanpa sengaja Taemin menyenggolnya.

"Ups."

Dan begitulah... Jongin pun akhirnya terjatuh dari tangga dan persis seperti apa yang ia perkirakan kardus itu menimpa tepat di atas tubuhnya. Dan rasanya benar-benar menyakitkan. Entah mengapa kepalanya terasa berdenyut sakit dan semuanya terasa berputar-putar dan akhirnya semuanya menjadi gelap.

~END OF FLASHBACK

Jongin kembali menghela nafasnya entah untuk yang keberapa kalinya hari ini. Percuma saja mengeluh, ini sudah terlanjur terjadi jadi mau bagaimana lagi.

Jongin menatap sepupunya yang masih terlihat sangat senang itu. Entah mengapa ia merasakan firasat buruk dengan tingkah aneh sepupunya itu. Mungkin sebaiknya ia bertanya apa yang terjadi dengan sepupunya itu.

"Tae-"

"Jongin, aku ada urusan dulu sebentar. Kau duduk manis saja disini ya?" Taemin pun berlari keluar dari ruang tengah dimana Jongin duduk dan menatapnya bingung.

Baiklah. Memang ada sesuatu yang aneh disini. Taemin benar-benar bertingkah aneh dan Jongin rasa ini bukan sesuatu yang baik.

Selang beberapa menit setelah Taemin pergi dari ruangan itu, tiba-tiba pintu kembali terbuka. Jongin benar-benar terkejut melihat siapa yang berdiri di ambang pintu tersebut. Tidak, daripada terkejut sekarang Jongin merasa kagum dengan pemandangan yang jarang terjadi di hadapannya ini.

Sehun, pujaan hatinya berdiri di ambang pintu dengan nafas tersenggal dan peluh yang mengalir di pelipisnya. Selain itu ekspresi khawatirnya itu benar-benar membuat Jongin ingin sekali menyerang namja manis itu jika ia tidak ingat bahwa kakinya sedang sakit saat ini.

Eh, tapi tunggu dulu. Khawatir?

"Jo-jongin... kau tidak apa-apa kan? Kakimu tidak harus di amputasi kan? Atau jangan-jangan... kau amnesia?!" ucap Sehun panik.

"Sehun, tenanglah. Aku tidak apa-apa. Kakiku hanya terkilir dan aku tidak mengalami amnesia."

Sehun menghela nafasnya dan menjatuhkan dirinya di atas lantai. Sepertinya ia benar-benar merasa lega. Tapi ada satu hal yang membuat Jongin penasaran. "Ngomong-ngomong kenapa kau ada disini?"

"Tadi Taemin menelponku dan dia mengatakan bahwa kau mengalami kecelakaan dan terjadi sesuatu dengan kakimu." Tutur Sehun dengan polosnya. "Tapi syukurlah kau tidak kenapa-napa."

Jongin hanya terdiam. Apa jangan-jangan sepupunya yang sangat dramatical itu...

Jongin merasakan ponselnya bergetar dan ia mengecek pesan yang ada disana.

From : Taemin

Pastikan kau menyiapkan banyak uang karena setelah sembuh nanti kau harus mentraktirku sepuasnya. :P

Jadi ini perasaan tidak nyaman yang ia rasakan saat ia melihat tingkah aneh sepupunya. Sepertinya ia benar-benar harus mempertanyakan dukungan Taemin terhadapnya kemarin.

.

.

.

"PEMENANGNYA ADALAH HUANG ZITAO!"

Riuh pikuk orang-orang dan juga tepuk tangan yang tak henti itu sama sekali tidak dapat membuat perasaan sepi yang saat ini ia rasakan. Tao menatap satu kursi kosong yang seharusnya diisi oleh orang paling berharga baginya itu. Ia tidak mengerti, mengapa hal ini terjadi lagi?

Entah sudah yang keberapa kalinya hal ini terjadi. Tao selalu mengundang Sehun ke turnamennya namun pada akhirnya namja manis itu sama sekali tak pernah datang. Dulu mungkin ia mengerti karena setiap kali turnamennya berlangsung Sehun selalu disibukkan oleh kegiatan bersama keluarganya. Tapi bagaimana dengan sekarang? Tao sudah mengecek benar bahwa Sehun tidak memiliki kegiatan apapun hari ini. Tapi kenapa? Kenapa namja manis itu bahkan tidak menunjukan sedikit pun tanda-tanda kehadirannya? Bahkan setelah ia mendapatkan pialanya dan bersiap untuk pulang, Sehun sama sekali tidak ada. Bahkan menghubunginya pun tidak.

"Tangkap!"

Dengan refleks Tao menangkap sebotol air mineral yang di lemparkan kepadanya. Ia menatap botol air mineral yang logo kemasannya telah di ganti dengan tulisan 'Panda cengeng :P'. Hanya satu orang yang selalu mengejeknya seperti ini bahkan hingga sekarang.

"Lu-zi?"

Seorang namja manis dengan mata seperti rusa tersenyum pada Tao. "Kau masih cengeng saja! Dasar panda cengeng."

"Diam kau! Memangnya kau mengerti apa?! Dan siapa yang kau panggil panda cengeng?"

Namja bernama Luhan itu menyeringai jahil dan menunjuk wajah Tao. "Tuh! Buktinya kau sedang menangis saat ini."

Dengan cepat Tao meraba pipinya dan benar saja ia merasakan pipinya basah, bukan oleh peluh tapi oleh cairan bening yang tidak berhenti mengalir dari matanya. Tao berusaha mengahapus bulir-bulir itu dengan kasar namun ia mereka sama sekali tidak berhenti dan justru ia merasakan dadanya semakin sesak. Ia benar-benar merasa menyedihkan saat ini.

Luhan tersenyum tipis dan memeluk namja yang jauh lebih tinggi darinya itu penuh kasih sayang. Ia mengerti apa yang tengah dirasakan oleh namja yang lebih muda darinya itu. Ia mengerti setelah sekian lama ia melihat bagaimana Tao berusaha menyangkal setiap kenyataan yang sudah tertulis jelas di depan matanya. Luhan mengelus surai gelapnya lembut.

"Dasar cengeng! Seharusnya kau sudah tidak menangis lagi gara-gara hal seperti ini. Memangnya kau pikir sudah berapa kali-"

"Diam!" Tao pun memeluk tubuh mungil Luhan. "Tentu saja aku tahu. Tapi tetap saja..."

"Dasar panda cengeng."

.

.

.

"Jadi maksudmu semua itu bohong?"

"Sebenarnya tidak bisa disebut bohong juga karena memang aku mengalami kecelakaan. Tapi lebih tepat disebut sebagai dilebih-lebihkan. Aku tidak tahu apa alasan Taemin melakukannya."

Oh my. Sehun benar-benar merasa malu saat ini. Bagaimana tidak? Ia sudah panik dan bertingkah layaknya orang bodoh. Rasanya ia ingin menghilang saja dari dunia ini. Benar-benar memalukan.

"Kalau begitu aku akan pulang saja. Permisi." Sehun baru akan beranjang dari ruangan keluarga Lee itu ketika ia merasakan tangannya tengah ditahan oleh seseorang.

"Um... kenapa kau tidak diam saja disini sebentar. Maksudku... kau sudah jauh-jauh datang kemari, jadi kenapa kau tidak tinggal saja dulu."

Sehun terdiam. Ia merasakan jantungnya berdetak cepat, selain itu wajahnya juga terasa mulai memanas. Tanpa ia sadari ia mengangguk dan duduk tepat di sebelah Jongin. Dapat ia rasakan tubuhnya bergetar karena gugup.

Keduanya terdiam. Sehun berusaha mengalihkan pandangannya dari Jongin dengan melihat ke setiap sudut ruangan minimalis bercat coklat pastel tersebut. Namun entah mengapa ia selalu ingin melihat Jongin walaupun ia tahu bahwa mungkin jantungnya tidak akan bertahan jika sampai mereka saling bertatap mata. Terlebih dengan ucapan Jongin beberapa minggu lalu saat ia sakit. Aaah... rasanya jantungnya terasa ingin meledak saja.

"Sehun."

Refleks Sehun langsung menoleh begitu ia mendengar namanya dipanggil. Tapi dengan cepat ia merutuki refleksnya karena saat ini Jongin tengah menatapnya dengan tatapan serius, bukan tatapan yang terkesan aneh yang biasanya di tunjukan oleh sang namja tan.

Siapapun tolong Sehun... ia benar-benar ingin kabur saja saat ini.

"Apa kau masih ingat ucapanku beberapa minggul lalu saat kau sakit?"

Sehun mengangguk. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan kata-kata yang selalu terngiang dalam pikirannya bahkan hingga terbawa mimpi?. Tentu saja ia ingat dengan jelas kata demi kata. Apa jangan-jangan Jongin akan menagih janjinya?

Eh tunggu dulu? Memangnya Sehun pernah berjanji untuk menjadi kekasih Jongin ya? Tidak tidak... ia memang pernah berjanji menjadi kekasihnya tapi itu dulu saat mereka masih kanak-kanak dan saat ia masih sering dipakaikan pakaian yeoja oleh eommanya sendiri. Lagipula jongin pasti sudah melupakannya, kalaupun ia ingat mana mungkin ia mengenali dirinya yang dulu dianggap Jongin sebagai yeoja. Tapi tunggu... apa mungkin Jongin sudah ingat bahwa ia adalah Hunnie dan sekarang ia akan mengatakan bahwa ia menarik kata-katanya dan mengatakan bahwa ia membenci Sehun?

Jongin yang terus memperhatikan ekspresi gelisah Sehun pun tertawa kecil. "Hahaha... tak perlu gelisah seperti itu. Aku tidak akan memaksamu untuk menjadi pacarku saat ini juga. Kau bebas menentukan pilihanmu," Jongin menjeda ucapannya, ia menyeringai pada Sehun yang terlihat lebih gugup dari sebelumnya. "Tapi tentu saja aku tidak akan dengan mudah melepaskanmu begitu saja."

Wajah sehun benar-benar terasa panas saat ini. Rasanya seperti mendidih saja. Dan lagi jantungnya berdetak cepat sekali seperti siap meledak setiap saat.

"Ngomong-ngomong, gomawo karena telah mengkhawatirkanku." Ucap Jongin dengan nada yang lebih lembut dari sebelumnya. Seperti Jongin yang biasanya.

Dengan cepat Sehun mengangguk. "Tidak masalah, lagipula bukankah kita teman." Sehun pun tersenyum manis dan ia merasakan bahwa jantungnya sudah mulai berdetak dengan normal lagi.

Namun jika berhubungan dengan namja bernama Kim Jongin tentu saja hal itu tidak berlangsung dengan lama. Jongin tiba-tiba mendekat pada Sehun. Ia terus mendekatkan wajahnya pada Sehun dan entah mengapa Sehun sama sekali tidak dapat bergerak dan mulai menutup matanya rapat-rapat.

.

.

.

Sejujurnya ia tidak mengerti dengan jalan pemikiran sepupunya. Ia berterima kasih karena Taemin sudah mau membantunya melakukan pendekatan pada Sehun tapi ia juga harus merutuki sifat Taemin yang kadang-kadang selalu licik itu. Bagaimana tidak? Dia memang membatunya untuk berduaan dengan Sehun tapi sebagai gantinya ia membuat kaki Jongin terkilir dan selain itu ia juga minta di traktir sepuasnya? Sepertinya ia benar-benar harus memberi pelajaran pada namja dengan surai kecoklatan itu.

"Ngomong-ngomong, gomawo karena telah mengkhawatirkanku." Ucap Jongin. Ia merasa senang karena ia tidak menyangka bahwa pujaan hatinya itu akan jauh-jauh datang kemari hanya untuk menjenguknya –walaupun Taemin berbohong padanya bahwa ia mengalami kecelakaan yang detailnya terlalu dilebih-lebihkan.

Sehun mengangguk lucu dan berakata. "Tidak masalah, lagipula bukankah kita teman."

Aah~ teman ya? Jongin benar-benar tidak suka jika kata itu keluar dari bibir mungil Sehun untuk mendeskripsikan hubungannya dengan sang namja manis. Ia ingin dipanggil lebih dari sekedar teman.

Tanpa Jongin sadari ia terbawa emosinya dan mulai mendekat pada Sehun. Awalnya dalam pikirannya ia ingin menegaskan pada Sehun bahwa ia akan memastikan bahwa mereka tidak akan hanya menjadi sekedar teman tapi begitu melihat wajah Sehun yang sangat manis dan bibir mungilnya yang begitu menggoda ia justru mengubah motifnya.

Jika boleh jujur, Jongin sudah tidak tahan untuk mencium atau sekedar mengecup bibir mungil berwarna merah muda itu. Ia selalu kesulitan untuk menahan *ehem* nafsunya dan dengan jarak sedekat ini dan sikap Sehun yang sama sekali tidak menunjukan penolakan sama sekali tidak membantunya menahan monster bernamakan lust dalam dirinya. Tanpa pikir panjang Jongin semakin mendekatkan wajahnya hingga ia merasakan nafas Sehun di perrmukaan kulitnya.

Perlahan hingga ia merasakan bibirnya menempel tepat di bibir Sehun. Rasanya sangat manis dan ia begitu menyukainya. Niatannya hanya untuk sekedar mengecupnya sekilas pun lenyap begitu saja. Jongin semakin memperdalam ciumannya, ia menjilat bibir mungil Sehun dan sedikit menggigitnya. Sehun yang terkejut tanpa sadar membuka mulutnya dan dengan cepat Jongin menelusupkan lidahnya. Terjadilah pergulatan lidah yang pada akhirnya dimenangkan oleh Jongin.

Ia terus menciumi Sehun namun ia merasakan bahwa sang namja manis mulai kehilangan oksigen. Jongin pun mulai melepaskan tautan bibir mereka dan sehelai saliva yang menjadi saksi peraduan mulut mereka pun terputus. Dilihatnya wajah Sehun sudah merah padam dan matanya membulat terkejut.

Tiba-tiba Sehun berdiri dan berlari keluar sembari terus menutupi mulutnya. Jongin hanya bisa terdiam di tempat memperhatikan pintu kayu yang dilewati Sehun.

"Bodohnya aku!"

oOo

TBC

oOo

a/n : Akhirnya... saya berhasil melanjutkan FF ini juga. Sorry it took me so long. Ternyata susah juga membalikan feel Kaihun saya itu. Hahaha... mian malah curcol. Semoga readerdeul menyukai chapter ini. Kalo boleh jujur nih, saya merasa gaya penulisan saya agak sedikit berbeda. Jadi agak sulit menulis seperti biasa –mungkin karena sudah lama saya gak nulis. Oya, kamsahamnida bagi yang telah repot-repot mereview fic ini. Saya merasa terharu membaca setiap review readerdeul *aduh, lebay deh*. Untuk selanjutnya, saya juga akan berusaha keras untuk membuat chapter depan menjadi lebih baik.

For last

If you don't mind

Review please?