Is that you?

By : Chocolate Bubbletea

Character © God, themself

Cast : Oh Sehun, Kim Jongin (main)

Warning : Boys Love, OOC, Typo, dan masih banyak lagi


oOo

Chapter 9

oOo


"Bisakah kau berhenti menatap Taemin seperti itu Jongin. Dia terlihat ketakutan saat ini. Dan turunkan garpu itu sekarang juga!" titah Baekhyun yang tumben sekali menjadi senior yang baik dan dewasa. Mungkin salah satu alasan mengapa ia bisa menjadi senior yang baik karena ternyata Taemin sedang bersembunyi di belakang Baekhyun seperti seorang anak yang bersembunyi dari amukan ayahnya.

Apa yang membuat Taemin melakukan hal itu adalah karena sepupunya sendiri kini tengah menatapnya seolah ingin membunuh sang namja manis dengan garpu makan siang di tangannya. Terlebih dengan aura mengerikan yang menguar dari seluruh tubuh Jongin yang seolah berkata 'Mati mati mati' dan berbagai kata-kata kasar lainnya membuat Taemin semakin meringkuk di balik tubuh mungil seniornya. Dan yang lebih parah lagi sekarang tidak ada Sehun yang akan menjadi tameng terkuatnya karena namja manis itu entah pergi kemana bersama teman satu clubnya di club memasak. Taemin benar-benar membutuhkan bantuan untuk tetap menjalani hidupnya bilamana Baekhyun tidak ada untuk melindunginya.

"Harus kukatakan berapa kali lagi kalau itu hanya kecelakaan belaka! Aku benar-benar tidak sengaja." Taemin terus memohon dan mencoba meyakinkan kalau kecelakaan kemarin murni sebuah kecelakaan belaka. Dan yeah... tentang ide untuk memanggil Sehun dan sedikit melebih-lebihkan detail cerita itu muncul secara tiba-tiba dalam otak jeniusnya. Bukankah itu merupakan hal yang bagus? Memanfaatkan kesempatan bahkan dalam keadaan terburuk. Harusnya Jongin berterima kasih dan mentraktirnya sepuasnya. Tapi kenapa semua ini jadi berakhir seperti ini?

"Mana mungkin aku percaya kalau itu hanya kecelakaan dengan pesan anehmu itu!"

"Sudah kukatakan itu kulakukan karena aku ingin membantumu!"

"APANYA YANG MEMBANTUKU!"

"HENTIKAAAAAN!" Teriakan Baekhyun berhasil meredam pertengkaran konyol antara kedua sepupu itu dan tentu sukses menarik perhatian setiap murid yang ada di kantin. Baekhyun berdehem dan menatap geram pada kedua sepupu itu. "Aku tidak tahu apa masalah kalian tapi jika kalian berdua masih tetap ribut seperti ini kalian akan tahu akibatnya. Terutama kau Jongin! Berhenti bertingkah seolah kau ingin membunuh sepupumu sendiri. Dan Taemin! Duduk di tempatmu sekarang juga!"

Kedua sepupu itu mengangguk mengerti. Jongin duduk di kursinya dan berhenti menatap Taemin seolah ingin membunuhnya namun sebagai gantinya kini makanannya lah yang menjadi pelampiasannya. Sedangkan Taemin duduk di samping Chen –bertukar tempat dengan Chanyeol yang awalnya duduk disamping Chen karena Temin tidak ingin duduk disamping Jongin-, dengan takut-takut ia melihat ke arah Jongin yang masih menjadikan spagettinya sebagai pelampiasan garpunya.

"Hoo~ sepertinya duo anak kecil ini baru selesai dengan pertengkaran konyol mereka." Tao tiba-tiba muncul dan duduk tepat di depan Jongin. Dengan santainya ia menyeruput jus mangganya dan menyeringai pada sang namja tan di depannya.

"Sejak kapan kau menjadi bagian dari grup ini hm? Kau pikir kau bisa seenaknya duduk di tempat Sehun?" tutur Jongin masih dengan nada dan aura mengerikannya.

Yang di tuju malah dengan santai mulai memakan roti isinya da menatap bosan ke arah Jongin. "Aku memang bukan bagian dari grup kalian ini. Tapi aku berhak duduk dimanapun aku suka." Ia kembali menyeringai. "Dan harus kau ketahui, Sehun sendiri yang mengatakan kalau aku boleh mengambil tempatnya ini."

Bagai tersulut api peperangan, Jongin berdiri dan bersiap untuk melayangkan kepalan tangannya jika saja tidak ada Chanyeol yang menghentikannya. Baekhyun memijat-mijat pelipisnya kesal dan Chen hanya bisa pasrah menghela nafasnya sedangkan Taemin kini berubah menatap kesal ke arah Tao karena rupanya ia tersinggung dengan sebutan anak kecil yang dilontarkan padanya dan Jongin.

"Kami benar-benar butuh bantuanmu Sehun~"

.

.

.

Dilain pihak Sehun kini tengah menyantap bekal makan siangnya di taman sekolah bersama dengan teman satu clubnya Kyungsoo. Untuk sementara waktu ia benar-benar tidak ingin bertemu dengan siapapun terutama Jongin, Tao dan Taemin –walaupun ia tidak dapat menghindari Taemin karena mereka sekelas.

Alasan mengapa ia tidak ingin bertemu dengan ketiga namja itu sebenarnya cukup kekakanan. Ia tidak ingin bertemu dengan Tao karena ia merasa bersalah telah melanggar janjinya pada sang namja panda walaupun Tao sudah memaafkannya. Ia tidak ingin bertemu dengan Jongin karena kejadian saat ia pergi ke rumah Taemin untuk menjenguk Jongin selalu terngiang-ngiang dalam kepalanya dan hal itu selalu membuatnya panik ketika ia melihat Jongin. Dan alasan mengapa ia tidak ingin bertemu dengan Taemin adalah karena ialah penyebab semua kejadian aneh di hari liburnya itu.

"Tumben sekali kau makan di sini Sehun-ah. Bukankah biasanya kau selalu makan bersama teman-temanmu di kantin?"

Bukannya menjawab pertanyaan Kyungsoo, Sehun malam terlihat lebih cemberut dari sebelumnya. Kyungsoo menghela nafasnya mengerti. Teman satu clubnya ini memang sangat kekanakan jadi wajar saja dia akan cemberut tidak jelas jika ada masalah.

"Apa kau punya masalah dengan mereka?" Sehun masih cemberut dan memakan makan siangnya dengan kesal. "Atau mungkin lebih spesifiknya kau sedang ada masalah dengan Taemin dan... dua namja dari kelas 1-D... hmm... siapa ya nama mereka?"

Mendengar itu Sehun langsung tersedak cukup keras. Dengan susah payah ia berusaha mengambil minumannya dan dengan segera menegak hampir separuh isinya.

"Sepertinya memang kau sedang bermasalah dengan tiga namja itu. Kalau Taemin aku yakin pasti hanya pertikaian konyol saja tapi kalau dua orang itu..." Kyongsoo menatap Sehun dengan tatapan menyelidiknya. "Katakan siapa yang kau terima, Kim Jongin atau Huang Zitao?"

Sehun semakin menatap teman satu clubnya itu heran. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"

"Tentu saja karena kedua orang itu menyukaimu." Ucap Kyungsoo dengan bangganya.

"Siapa yang mengatakan hal itu!" baiklah, Sehun benar-benar bingung. Seingatnya Kyungsoo sama sekali tidak terlibat dan tidak ada hubungan apapun dengan Jongin maupun Tao tapi mengapa ia bisa tahu kalau kedua namja itu... um... suka padanya.

"Semua orang tahu kalau dua namja yang selalu terlihat ingin saling membunuh satu sama lain itu meyukaimu. Apalagi mereka selalu meributkan hal yang sama setiap kali mereka bertemu."

Wajah Sehun kini sudah sangat memerah semerah kepiting rebus. Ia benar-benar malu. Ia tidak tahu harus berkata apa karena ternyata ia sudah menjadi bahan gossip hampir semua orang di sekolah ini.

"Sudahlah... katakan saja apa yang sebenarnya terjadi denganmu."

Sehun menghela nafasnya. Ia menatap Kyungsoo ragu kemudian menundukan kepalanya. "Um... kau tidak akan mengatakannya pada siapapun kan?"

Kyungsoo mengangkat alisnya heran, tapi pada akhirnya ia mengangguk setuju. "Baiklah... jika itu membuatmu mengatakan apa yang sebenarnya terjadi denganmu, aku tidak akan mengakatannya pada siapapun."

Sehun menarik nafasya, sepertinya ia tengah menyiapkan mentalnya saat ini dan hal itu semakin membuat Kyungsoo heran dan penasaran. 'Sepertinya ini benar-benar masalah yang cukup besar' pikir sang namja bermata bulat.

"Katakan... kalau kau dicium oleh seorang namja lain... apa yang akan kau rasakan?"

Kyungsoo mengedipkan matanya beberapa kali, ia juga membulatkan matanya. Baiklah... ia bingung sekarang, mengapa Sehun bisa masuk ke kelas unggulan disaat ini benar-benar bodoh seperti ini.

"Kau ini terlalu polos atau terlalu bodoh sih." Tanpa sadar Kyungsoo pun mengutarakan pertanyaan itu dan sukses membuat Sehun terlihat semakin kesal. "Baiklah baiklah... aku ingin bertanya terlebih dahulu. Apa kau menolaknya?"

Sehun menggelengkan kepalanya.

"Apa kau merasa jijik memikirkannya?"

Sehun kembali menggelengkan kepalanya.

"Apa kau merasa gugup dan jantungmu berdebar-debar begitu memikirkannya?"

Kali ini Sehun mengangguk.

Kyungsoo menghela nafasnya dan menatap Sehun skeptis. "Kau ini benar-benar bodoh ya? Itu artinya kau menyukainya."

Wajah Sehun semakin memerah mendengar pernyataan Kyungsoo yang cukup blak-blakan. "Ta-tapi..."

Kini Kyungsoo mengacak rambutnya frustasi. Ternyata berhadapan dengan orang yang terlampau polos –atau dalam pandangan Kyungsoo, terlampau bodoh- itu lebih menyulitkan dari yang ia bayangkan sebelumnya.

"Kyungsoo-ya!" bagai panggilan penyelamatan, Kyungsoo langsung terlihat sumringah mendengar suara seniornya yang memanggilnya itu.

"Joonmyeon-hyung!" panggil Kyungsoo pada seorang namja dengan senyum paling menawan yang pernah Sehun lihat –bahkan lebih menawan dari senyum hyungnya sendiri yang bahkan jarang sekali tersenyum. "Untunglah hyung ada disini. Tolong jelaskan pada anak terlampau bodoh ini tentang cinta." Pinta Kyungsoo pada Joonmyeon yang langsung mendapat protes dari Sehun karena ia merasa kesal diledek bodoh oleh teman satu clubnya ini –bahkan hyungnya dan Taemin pun tidak pernah meledeknya bodoh.

"Eh? Ada apa ini? Bisa kau jelaskan terlebih dahulu bagaimana situasinya Kyungsoo-ya."

Kyungsoo kembali menghela nafasnya dan menatap kesal pada seniornya itu. "Hyung ini benar-benar payah, masa berita terhangat tentang anak ini pun tidak tahu sih."

Joonmyeon tertawa canggung sembari menggaruk-garuk tengkuknya. "Ahahaha... kau tahu kan kalau aku ini sama sekali bukan penggemar gossip dan aku cukup sibuk di kesiswaan."

"Baiklah baiklah... aku mengerti." dan dengan itu Kyungsoo pun bercerita pada seniornya di organisasi kesiswaan itu mengenai masalah Sehun dengan detail –yang tentu saja membuat Sehun benar-benar bingung karena ia tidak menyangka bahwa masalahnya menjadi konsumsi publik seperti ini.

Setelah selesai dengan ceritanya Joonmyeon pun mengangguk-angguk mengerti. "Baiklah... sekarang aku mengerti."

"Bagus! Kalau begitu hyung beritahu Sehun ya? Hyung kan jago kalau dalam masalah cinta segitiga seperti ini."

"Apa maksudnya itu?" Joonmyeon menghela nafasnya dan menatap Sehun lembut. "Baiklah Sehun-ah... sekarang aku ingin kau mengatakan dengan siapa kau merasa lebih nyaman?"

Mendapat pertanyaan seperti itu, bukannya menjawab Sehun justru terlihat lebih memerah. Ia tidak mungkin mengatakan hal seperti itu pada seseorang yang baru saja ia kenal.

Melihat hal tersebut Joonmyeon kembali tersenyum. Sepertinya ia salah memberikan pertanyaan. "Baiklah baiklah... kita ubah sedikit pertanyaannya. Coba bayangkan dengan siapa kau merasa lebih senang. Dengan siapa jantungmu berpacu lebih cepat. Dengan siapa kau lebih merasa nyaman. Maka dengan orang itu lah kau jatuh cinta."

Sehun terdiam sebentar. Ia memikirkan setiap pertanyaan Joonmyeon dengan baik-baik, kemudian ia tersenyum. Mungkin... sekarang ia sudah merasa sedikit mengerti.

.

.

.

"Apa semuanya sudah berkumpul?" tanya Kris sembari memperhatikan setiap orang yang ada di dekat mobil vannya itu. Sepertinya ada yang kurang.

"Tungguuu..." dari kejauhan terlihat seseorang yang tengah berlari dengan susah payah. Ternyata Jongin tengah berlari dengan susah payah dan begitu sampai ia benar-benar terlihat sangat kacau dengan peluh yang mengalir di hampir seluruh tubuhnya. Tapi sepertinya ada yang kurang disini.

"Mana sepupu kembarmu itu?" tanya Tao sembari mencoba mencari salah satu namja yang mengisi daftar nama blcklistnya teratasnya itu.

"Dia bukan kembaranku! Taemin tidak bisa ikut karena ada ia akan berlibur bersama keluarganya." Jelas Jongin.

Jongin melihat semua orang yang akan ikut bersama dengan Sehun untuk liburan musim panas di villa pribadi keluarga Sehun. Baekhyun, Chanyeol, Chen, Lay-hyung, si panda meyebalkan Tao dan... satu lagi namja yang tidak Jongin ketahui namanya. Hmm... tapi sepertinya ia pernah melihat namja ini di suatu tempat. Tapi dimana ya? Ah!

"Kau pacarnya yang waktu itu menjadi model di fanshion week!" tanpa sadar Jongin telah menunjuk sang namja bermata rusa yang terlihat kebingungan itu. Oh damn! Sekarang semua orang melihatnya karena secara tidak sopan ia telah menunjuk orang yang bahkan tidak ia kenal.

"Ah! Kau yang waktu itu. Senang bertemu lagi denganmu. Ngomong-ngomong kita belum berkenalan, namaku Xi Luhan. Aku sepupunya Sehun." Ucap Luhan sembari mengulurkan tangannya.

Jongin menyambut uluran tangannya. "Namaku Kim Jongin. Teman sekolah Sehun." Jongin memperhatikan namja bernama Luhan itu dan entah mengapa semakin diperhatikan namja itu semakin mirip dengan Sehun, hanya saja versi lebih kecilnya –sama seperti kasusnya dan Taemin yang terlihat mirip padahal mereka hanya sepupu. Gen memang luar biasa.

"Kau punya pacar?" tanya Tao karena ini kali pertamanya ia mendengar bahwa Luhan sudah memiliki kekasih. Seingatnya Luhan itu...

Luhan tersenyum manis dan melipat tangannya di dadanya dengan bangga. "Hanya untuk beberapa hari, sudah putus beberapa minggu yang lalu."

"Baiklah baiklah... cukup degan basa-basinya. Kita tentukan siapa yang akan ikut mobilku dan siapa yang akan ikut mobil Luhan." Kris terdiam sebentar dan seolah ingat akan sesuatu. "Terkecuali Yixing dan Sehun. Mereka akan ikut mobilku!" dan dengan ultimatum seperti itu baik Tao maupun Jongin sama sekali tidak ingin mengalah dan saling melemparkan tatapan mengerikan satu sama lain.

.

.

.

Sehun menghela nafasnya panjang. Sekarang ini ia tengah duduk di kursi tengah vannya bersama Chen, dan Baekhyun. Dalam pemilihan mobil, mereka semua menggunakan hom pim pa dan hasilnya adalah duo suara emas masuk ke mobil hyungnya dan trio namja tinggi masuk ke mobil sepupunya.

Pasti kalian bertanya-tanya mengapa mereka bisa berlibur bersama. Mari kita ulas balik kisahnya

FLASHBACK

"Sehunnie my baby, maafkan eomma karena tidak dapat menghabiskan libur musim panas denganmu tahun ini." ucap sang eomma sembari terus-terusan memeluk Sehun.

Sejujurnya Sehun sendiri tidak keberatan jika harus menghabiskan musim panas tanpa eommanya yang –kadang-kadang- lebih menyebalkan dari hyungnya sendiri. Tapi apa yang membuatnya kesal adalah... kenapa appanya juga tidak dapat menghabiskan liburan bersamanya?

"Baiklah eomma... aku mengerti. Sekarang lepaskan aku." Setelah eommanya itu melepaskan pelukannya, Sehun kini menatap ke arah appanya yang hanya bisa tersenyum.

"Appa~ kenapa appa juga tidak bisa menghabiskan liburan musim panas bersamaku?" rengek Sehun pada appanya itu.

Sang appa tertawa canggung. "Appa kan sudah bilang kalau appa juga ada tugas di Paris sama dengan eommamu."

Sehun menggembungkan pipinya lucu mendengar penuturan sang appa. "Bilang saja kalian ingin bulan madu."

"Ahaha... yaah~ mungkin."

"YA!"

Appanya itu kembali tertawa. Setelah cukup puas menertawakan putra bungsunya yang terlihat sangat manis saat cemberut, ia pun mengeluarkan salah satu kartu As nya. "Sebagai permintaan maaf, kamu boleh mengajak teman-temanmu untuk ikut berlibur denganmu di villa kita." Ia pun menyerahkan sebuah kunci pada Sehun dan tersenyum pada sang putra bungsu. "Tapi tentu saja Kris akan ikut untuk mengawasimu."

Sehun yang awalnya sumringah langsung kembali cemberut begitu mendengar nama hyungnya itu. "Kenapa hyung harus ikut sih! Kenapa tidak Lee ahjussi atau Jung ahjussi saja yang mengawasiku."

"Tidak bisa Sehunnie! Karena kamu itu hanya bisa jinak oleh hyung dan appamu ini." canda sang appa.

"Memangnya aku hewan apa!"

"Yasudah, pokoknya kamu harus menurut pada apapun yang hyungmu katakan. Selamat bersenang-senang~"

END OF FLASHBACK

Dan disinilah ia, hanya diam dan menunggu di jok tengah bersama Baekhyun. Ia menatap bosan ke arah jalanan, ia benar-benar ingin cepat sampai dan menenangkan pikirannya yang kacau.

.

.

.

Tanpa terasa Sehun sudah tertidur cukup lama dan hal itu membuat lehernya sakit sekali. Tapi setidaknya itu terbayarkan karena akhirnya ia telah sampai di pantai dengan selamat. Dengan cepat ia turun dari mobil begitu Kris telah selesai memarkirnya.

"Akhirnya sampai jugaaa~" seru Sehun senang.

Tak lama Baekhyun dan Chen pun ikut keluar dan berteriak kegirangan. "Pantaaaaaiii!" lalu berlari-lari seperti anak kecil

Sehun baru akan mengikuti mereka ketika ia mendengar teriakan senang Luhan. Ia menengok ke arah mobil Luhan, dan pemandangan yang ia lihat cukup mengejutkan. Luhan terlihat sangat bahagia seolah ia baru saja keluar dari neraka, Chanyeol terlihat seolah akan mati kapan saja dan... Jongin dan Tao terlihat lebih buruk. Mereka terlihat sangat kacau, seperti habis melakukan perang dunia ke-tiga saja.

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

Karena penasaran Sehun menghampiri Luhan yang terlihat lebih bernyawa dari ketiga namja lainnya dan bertanya. "Apa yang sebenarnya terjadi hyung?"

Luhan menghela nafasnya. "Kau tahu... di mobilku tadi terjadi perang dunia ke-tiga loh!"

"Perang dunia ke-tiga?" baiklah... ia memang mengerti kalau sepupunya ini memang selalu melebih-lebihkan sesuatu –persis seperti Taemin- tapi sampai separah itukah?

"Iya, perang dunia ketiga. Kau tahu... anak bernama Kim Jongin dan Tao terus saja berusaha membunuh satu sama lain dan membuat keributan di mobilku. Dan itu benar-benar membuatku pusing." Jelas Luhan.

"Saling membunuh satu sama lain?" sepertinya Sehun masih belum mengerti sepenuhnya dengan penjelasan Luhan, buktinya ia memiringkan kepalanya lucu dan menatap bingung pada namja yang jauh lebih mungil darinya itu.

"Ya, seperti saling menginjak kaki, saling menyenggol dan hal-hal kekanakan lainnya."

Sehun mengangguk-angguk mengerti. Sepertinya keputusan penentuan dengan hom pim pa itu sama sekali bukan hal yang baik untuk dilakukan.

Setelah selesai mengeluarkan semua barang-barang dari dalam mobil, sekarang saatnya penentuan kamar. Dan kembali penentuan kamar itu dilakukan dengan pengambilan nomor. Entah ini sebuah keberuntungan atau justru sebaliknya, kamar Sehun harus bersebelahan dengan Jongin dan Tao. Sepertinya liburannya kali ini akan sangat pajang.

.

.

.

Kedua orang tua Sehun memberi waktu tiga hari untuk menghabiskan liburan di villa mereka. Hari pertama liburan dihabiskan untuk membereskan barang-barang dan beristirahat sepuasnya karena perjalanan mereka cukup panjang selain itu mereka juga sampai di villa pada sore hari jadi tidak memungkinkan untuk bermain-main di pantai.

Dan esoknya bagai hewan yang di keluarkan dari kandangnya, semua orang langsung menuju pantai da bersenang-senang dengan liarnya. Mereka langsung terjun ke laut dan bermain di sana. Saling menciprat-cipratkan air pada satu sama lain, rasanya sangat menyenangkan. Namun sayang, karena tidak terbiasa di bawah terik matahari pada akhirnya Sehun merasakan kalau kulitnya mulai memerah. Ia berpamitan pada teman-temannya kalau ia akan beristirahat dahulu untuk mendinginkan tubuhnya.

Sehun memperhatikan semua teman-temannya di pantai dari balik payung besar yang telah disiapkan oleh Kris. Sesekali ia tertawa melihat tingkah konyol Chen, Baekhyun dan Chanyeol. Sepertinya liburan ini tidak begitu buruk juga, mungkin ia harus berterima kasih pada kedua orang tuanya nanti.

Tak lama Sehun melihat Jongin berjalan ke arahnya dan hal itu membuat jantungnya berdetak begitu cepat. Apalagi dengan tubuh perfect Jongin yang basah oleh air laut membuat namja tan tersebut dua kali lipat lebih seksi dari sebelumnya. Sehun merasakan bahwa seluruh darahnya naik ke wajahnya, pasti wajahnya sekarang sudah sangat memerah.

"Boleh aku duduk di situ?" tanya Jongin dengan suara beratnya.

Sehun hanya mengangguk dan Jongin pun duduk tepat di samping Sehun. Sehun merasakan jantungnya terus terpompa lebih cepat, beruntung mereka sedang tidak sendirian jadi mungkin suara jantungnya yang berdetak sangat keras tidak akan terdengar oleh Jongin.

Keduanya hanya terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing sampai Jongin berkata. "Soal kejadian waktu itu..." Jongin menggigit bibir bawahnya gugup dan berusaha melihat ke arah lain. "Um... aku minta maaf. Aku benar-benar tidak bisa mengontrol pikiranku."

Sehun mengangguk mengerti dan menundukan kepalanya malu. "Tidak apa-apa." Dan keduanya pun kembali terdiam.

Setelah cukup lama terdiam, karena sepertinya Jongin tidak menyukai keheningan ini ia pun akhirnya berkata dengan suara yang sedikit ditinggikan. "Kau tahu... Taemin sangat kesal karena tidak dapat pergi ke sini."

"Eh? Um... benarkah?"

Jongin tersenyum. "Tentu. Dia bilang eommanya itu sudah seperti iblis saja saat ia menolak untuk ikut bersamanya."

Sehun tertawa mendengar penjelasan Jongin tentang Taemin. Mereka terus saja berbincang tentang banyak hal dan Sehun merasakan bahwa ia benar-benar nyaman berada di dekat Jongin, seolah kejadian beberapa hari yang lalu hanyalah sebuah angin lewat. Cara Jongin berbicara dan bercerita membuat rasa gugup Sehun menghilang dan ia menyukai itu.

"HEEEY... Kalian berduaaa... mau ikut main volli bersama kamiii... atau kalian masih mau berkencan disanaaa?" teriakan melengkin Chen menghentikan pembicaraan mereka. Jongin dan Sehun saling menatap satu sama lain kemudian tertawa.

"OKE! KAMI IKUUUT!"

.

.

.

"Tamatlah riwayatmu~" goda Luhan pada Tao yang terlihat nyawanya siap melayang kapanpun.

"DIAM! Kau pikir aku masih takut dengan hal beginian!" sangkal Tao padahal kakinya sudah bergetar hebat dari tadi.

"Payah. Ketakutanmu itu jelas kelihatan tahu." Dan keduanya pun kembali terlibat pertikaian konyol dengan Luhan yang terlihat senang dan Tao yang setengah mati berusaha terlihat tangguh.

Malam ini mereka akan melakukan tes keberanian. Kebetulan saat siang tadi Luhan menemukan sebuah gua dan akhirnya mereka sepakat untuk melakukan tes keberanian dengan masuk ke dalam gua itu dan melihat berapa jauh dan lama mereka sanggup ada di gua itu. Tentu saja mereka telah melakukan pengecekan takut-takut kalau gua itu berbahaya.

"Yang pertama masuk kita tentukan dengan pengambilan nomor ya!"

Semuanya mengangguk dan mulai mengambil nomor yang terlipat dari dalam kotak yang telah Luhan siapkan. Urutannya adalah Kris, Baekhyun, Chen, Lay, Chanyeol, Tao, Sehun dan terakhir Jongin.

Melihat postur dan ekspresi Kris mereka menyangka kalau hyung Sehun itu yang akan bertahan paling lama namun tanpa disangka-sangka justru Chen lah yang justru memegang rekor terlama. Dan yang lebih hebat adalah ia sama sekali tidak terlihat ketakutan. Dan Tao sang pemegang kejuaraan wushu tingkat nasional lah yang paling cepat keluar dan ia benar-benar terlihat seperti baru saja berhasil menghindar dari dewa kematian. Sungguh malang.

Sekarang giliran Sehun dan ia merasakan jantungnya berpacu dengan cepat dan keringat dingin mengalir dari seluruh tubuhnya. Harus ia akui ia merasa ketakutan saat ini.

Dengan perlahan ia masuk ke dalam gua yang sangat gelap ini. Bermodal keberanian yang hanya sebesai buah apel dan senter di tangan, Sehun terus berjalan menelusuri gua. Ia terus mengarahkan senternya ke segala arah berharap tidak ada apapun di dalam gua mengerikan ini.

Karena Sehun terus berjalan tanpa memperhatikan langkahnya, ia sama sekali tidak menyadari ada baru di depannya dan akhirnya ia pun jatuh.

"UWAAA!"

.

.

.

"Wow! Sehun hebat ya? Kupikir dia akan keluar dari gua dengan cepat seperti Tao." Canda Baekhyun padahal ia juga keluar dari gua dengan wajah pucat dan keringat dingin di seluruh tubuhnya.

"DIAM KAU!"

Dan semuanya pun tertawa puas sedangkan Tao hanya bisa meggerutu tidak jelas. Tak lama mereka pun mendengar suara teriakan seseorang dari dalam gua.

"Akhirnya Sehun berteriak ketakutan juga. Hahaha..." Chanyeol pun tertawa diikuti duo pengikutnya. Tapi entah mengapa Jongin merasa ada yang aneh dengan teriakan Sehun tadi.

"Kau yakin itu teriakan ketakutan?" tanya Jongin. Jongin merasakan firasat buruk tentang teriakan tadi.

"Tentu saja." Jawab Chanyeol dengan percaya diri namun tetap saja Jongin merasakan perasaan tidak nyaman.

Ia melihat ke arah Kris, Luhan dan Tao. Raut wajah mereka terlihat tidak beres, seolah tengah berfikir tentang sesuatu. Ia melihat ke arah Tao yang tengah meremas senternya seperti menahan sesuatu. Sepertinya memang ada sesuatu yang tidak beres disini.

"Aku akan mengecek ke dalam." Jongin pun segera masuk ke dalam tanpa mempedulikan peringatan Baekhyun.

Perasaan khawatir terus menghantuinya. Ia takut terjadi sesuatu, benar-benar takut sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa ada seseseorang yang juga masuk ke dalam gua mengikutinya. Ia tidak peduli yang terpenting sekarang adalah menemukan Sehun secepatnya. Ia terus berjalan dan mengarahkan senternya ke segala penjuru hingga akhirnya ia menemukan sosok yang paling ia cari tengah terduduk di dekat sebuah batu yang cukup besar.

"SEHUN!" Jongin pun berlari ke arah Sehun.

"Jongin?"

"Kau tidak apa-apa?" dengan panik Jongin memeriksa keadaan Sehun dan ia melihat susuatu yang ganjal dengan kaki Sehun. Kaki Sehun terlihat memerah, Jongin pun mencoba memeriksanya dan Sehun berteriak kesakitan saat Jongin memegangnya.

"Kakimu terkilir." Ucap Jongin. Pantas saja ia merasakan firasat buruk saat mendengar teriakan Sehun tadi.

Jongin pun berjongkok di depan Sehun dan mengisyaratkan agar Sehun naik ke punggungnya. "Cepat naik. Aku akan membawamu keluar."

"Ta-tapi... aku masih bisa berjalan sendiri kok!"

"Jangan sok kuat! Aku tahu kau tidak bisa berjalan. Cepat naik!" titah Jongin denga nada yang ditinggikan, Sehun tahu kalau ia tidak mungkin menolak.

Sehun pun hanya bisa mengangguk dan mulai naik ke punggung Jongin. Dengan tanggap Jongin pun berdiri dan mulai berjalan dengan menggendong Sehun. Walaupun Sehun ini sangat tinggi tapi ia benar-benar ringan untuk ukuran tubuhnya. "Kau ini ringan sekali. Aku seperti tidak mengangkat apapun."

"Ya! Aku tidak seringan itu!" protes Sehun, ia memukul-mukul pundak Jongin kesal namun Jongin hanya tertawa.

"Ahahaha... tapi serius Sehun. Kau harus lebih banyak makan, kau ini seperti hanya terdiri dari tulang dan kulit saja."

Sehun hanya bisa cemberut karena memang ia terlihat sangat kurus. Keduanya pun terdiam, Jongin tetap fokus berjalan dengan Sehun yang membantu memegangi senternya dan Sehun terus berpegang erat pada Jongin. Sejujurnya ia merasa sangat gugup saat ini, namun entah mengapa ia menyukainya. Dengan jarak sedekat ini ia dapat merasakan suhu tubuh Jongin yang hangat membuat rasa takutnya menghilang, postur tubuh Jongin yang tegap dan kokoh membuatnya merasa aman. Tanpa sadar Sehun pun mempererat pelukannya pada Jongin.

Sehun benar-benar menyukai keberadaan sosok Jongin di dekatnya.

.

.

.

Hembusan angin malam yang terasa sangat menusuk kulit itu sama sekali tidak dapat membuat pikiran Tao teralihkan dari kejadian beberapa jam yang lalu. Seperti kaset yang terus berputar berulang kali dalam memori otaknya. Ia benar-benar menyedihkan. Sangat menyedihkan.

Tao benar-benar membenci dirinya yang begitu pengecut. Disaat ia tahu bahwa orang yang paling ia cintai ada dalam masalah, ia sama sekali tidak dapat melakukan apapun. Ia hanya bisa terdiam dan membiarkan rivalnya melakukan hal yang seharusnya ia lakukakan. Rasanya ingin sekali ia menjatuhkan diri dari balkon tempat ia berdiri saat ini jika saja ia tidak ingat pada kedua orang tuanya dan... Sehun.

Tao merasakan matanya memanas dan hatinya berdenyut sakit, ia tahu apa artinya itu. Dengan susah payah ia mencoba menahannya. Walau bagaimanapun ia tidak ingin siapapun melihatnya.

"Tao? Apa yang kau lakukan di sini malam-malam? Bukankah seharusnya kau sudah tidur?" orang yang paling tidak ingin ia lihat muncul secara tiba-tiba membuat Tao harus melakukan apapun agar ia tidak melihat kelemahannya.

"Aku sedang mencari udara segar. Aku tidak bisa tidur. Kau sendiri?" tanya Tao pada Sehun.

Ia melihat ke arah kaki Sehun yang dibalut perban. Hal itu semakin membuatnya sakit karena bukan ia yang pertama kali tahu bahwa Sehun sedang kesakitan. Bukan ia yang pertama kali menolong sang namja manis.

"Aku juga tidak bisa tidur." Jawab Sehun dan ia pun mendekat ke arah Tao dan berdiri di sampingnya.

Tao melihat Sehun kesulitan untuk berjalan dan hal itu semakin membuatnya ingin menangis. "Bagaimana kakimu?"

"Sudah baikan. Lay-hyung sudah mengobatinya dengan baik dan obat yang diberikannya pun sudah mulai bekerja."

Keduanya pun terdiam, melihat ke arah langit yang terlihat bersih dan berkilau dengan ratusan bahkan ribuan bintang yang sulit mereka temukan di Seoul. Tenggelam dalam pemikiran mereka sendiri.

"Um... Tao... soal perkataanmu waktu itu... aku..." ucap Sehun dengan suara yang begitu pelan dan ragu.

Tao menghela nafasnya, ia tahu kemana arah pembicaraan ini. "Aku mengerti. Sejak awal aku mengerti kalau kau tidak akan mungkin melihatku sama seperti aku melihatmu."

"Maaf."

"Tidak apa-apa. Lagipula aku tidak mungkin memaksakan perasaanku padamu."

Keduanya pun terdiam sampai Tao merasakan bahwa air matanya sudah akan keluar lagi. "Bisa kau tinggalkan aku sendiri."

Sehun mengangguk dan pergi meninggalkan Tao yang hanya bisa menunduk dan berusaha dengan susah payah menahan sesuatu yang sepertinya akan selalu menjadi kelemahannya.

"Kalau memang mau menangis, menangis sajalah. Tidak perlu ditahan-tahan begitu. Dasar cengeng."

"Diam kau kodok jelek!" Tao terus berusaha menahan air matanya hingga ia merasakan dua tangan ramping menuntun kepalanya pada pundak kecil namun terasa begitu lembut dan kokoh di saat yang bersamaan.

"Dilihat darimana pun aku ini rusa yang gagah tahu." Ucap Luhan sembari memeluknya.

"Sepertinya kau sangat senang melihat aku menangis ya!" ucap Tao dengan suara bergetar. Entah mengapa jika sang namja rusa datang pertahanan yang telah ia buat dengan kokoh selalu roboh begitu saja. Ia selalu saja menunjukan sisi terlemahnya di hadapan Xi Luhan.

"Aku selalu senang menjadi penopang bagimu untuk tetap bisa berdiri."

Penopang katanya? Sungguh menyedihkan dirinya ini. Selalu ditopang oleh orang yang paling ia benci. "Aku membencimu."

"Aku tahu."

Tanpa pikir panjang Tao pun memeluk tubuh mungil Luhan dan mengeluarkan setiap rasa sakitnya di pundak mungil yang selalu menjadi sandarannya. Dan hal itu membuat Luhan terkejut karena ini adalah kali pertamanya Tao melakukan hal itu. "Kau harus bertanggung jawab atas kata-katamu. Kau harus terus menjadi penopangku!" air mata Tao semakin mengalir dengan deras dan ia semakin mengeratkan pelukannya pada Luhan. "Jangan tinggalkan aku."

Luhan terdiam. Ia terkejut, baru kali ini ia melihat Tao begitu hancur, begitu putus asa. Ia tahu bahwa suatu saat nanti Tao akan seperti ini akibat dari sikap bodohnya untuk terus menghindari dan mengabaikan kenyataan yang ada di depan matanya, tapi ia tidak tahu bahwa Tao akan sehancur ini. "Tentu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."

.

.

.

Sehun benar-benar kesulitan melihat dengan lampu yang mati. Ia lupa tidak membawa senter tadi.

Sebenarnya ia bisa saja menghidupkan lampu utama tapi jika ia melakukan hal itu bisa-bisa hyungnya tahu bahwa ia masih belum tidur dan hal itu akan membuatnya masuk ke dalam masalah yang cukup besar. Ia tidak mau jika harus berhadapan dengan raja iblis yang terbangun dari tidurnya itu.

Namun apa yang membuat Sehun masih terbangun? Alasannya cukup simple. Ia kehilangan salah satu barang paling berharganya. Boneka kelinci kesayangannya. Tanpa itu ia tidak bisa tidur. Ditambah tadi ia bertemu dengan Tao dan membicarakan masalah yang cukup rumit membuatnya semakin tidak bisa tertidur.

"Kau dimana?" panggil Sehun pelan seolah boneka kelincinya itu dapat menyahutnya.

"Kau sedang apa?"

Sehun terkejut bukan main karena dihadapannya kini berdiri Jongin dengan rambutnya yang berantakan. Sepertinya ia baru terbangun dari tidurnya.

"A-aku tidak sedang melakukan apapun." Elak Sehun sembari terus mencoba mencari-cari boneka kesayangannya.

"Bohong! Kau pasti mencari sesuatu, biar aku bantu carikan."

"Tidak usah!"

Jongin kini menatap Sehun penuh tanda tanya. Ada rasa curiga saat Sehun dengan cepat menolak bantuannya. "Aku akan tetap membantumu mencari apapun yang kau cari itu walaupun aku yakin kau tidak akan mengatakannya."

Jongin yang tetap teguh dengan pendiriannya pun mulai mencari-cari apapun itu yang Sehun cari, sedangkan sang namja manis hanya bisa menghela nafasnya dan berharap bahwa Jongin tidak menemukan boneka kelincinya.

Jongin terus mencari-cari sampai ia menemukan sebuah gundukan berwarna putih kusam tersembunyi di dekat lemari. Karena penasaran ia mendekat dan melihat benda apa itu.

"Boneka kelinci?" ucap Jongin pelan.

Entah mengapa ia merasa pernah melihat boneka ini sebelumnya tapi ia tidak begitu ingat dimana. Jongin terus memeriksa boneka itu hingga ia melihat sebuah tulisan khas anak-anak di bagian kaki sang kelinci. Walaupun ia tidak begitu yakin tapi ia tahu bahwa tulisan acak-acakan itu adalah tulisannya.

"AH!" dengan cepat Sehun menarik boneka kelinci lusuh itu dari tangan Jongin.

Apa maksudnya semua ini? kenapa Sehun memiliki boneka yang seharusnya dimiliki gadis mungil dalam masa lalunya? Dan bagai sebuah benang yang terhubung ia ingat sesuatu.

Sehun... Sehunnie...

Jongin menatap Sehun yang terlihat begitu terkejut.

"Hunnie?"


oOo

TBC

oOo


a/n : Finally... yeaaah! Saya benar-benar capek bikin chapter yang satu ini. Dan banyak banget time skipnya -_-. Well... pada akhirnya kenyataan terungkap xD. Sejujurnya saya sedikit kesulitan bikin chapter yang satu ini karena saya cukup shock melihat Sehun yang sekarang. He's just too tall. Apalagi pas saya liat perbedaan tinggi Kai sama Sehun di yang majalah G****a. KENAPA KAU MENJADI TINGGI SEKALI MY BABY! Even though his face remain cute but still... his heigh is just too much. I can't stand Sehun's height. Maaf malah jadi curhat. Terima kasih telah membaca bahkan mereview fic ini. Saya benar-benar senang membaca review readerdeul semua :D Dan untuk membuat saya semakin semangat lanjutin FF ini mohon kritik dan sarannya. Atau sekedar review aja boleh kok hehe... sekali lagi terima kasih telah membaca FF ini. Semoga kalian semua senang dengan chapter ini

So for last

If you don't mind

Review please?