Is that you?
By : Chocolate Bubbletea
Character © God, themself
Cast : Oh Sehun, Kim Jongin (main)
Warning : Boys Love, OOC, Typo, dan masih banyak lagi
oOo
Chapter 10
oOo
Pagi yang indah. Burung berkicau dengan riangnya. Matahari bersinar dengan cerah. Dan setiap orang mengawali harinya dengan senyuman. Namun semua itu tidak berlaku bagi Kim Jongin. Baginya pagi ini adalah pagi yang paling mengerikan. Tidak ada nyanyian burung hanya ada lantunan kegundahan. Tidak ada matahari bersinar cerah hanya ada awan hitam berkumpul. Dan tidak ada senyuman terpatri di wajahnya hanya ada lengkukan bibir kebawah pertanda ia sedang tidak dalam mood yang baik.
"Jongin~~~ Ayo bangun."
Bahkan suara melengking milik sepupunya yang entah mengapa datang ke rumahnya di minggu pagi ini sama sekali tidak merubah moodnya.
"WOA! Kenapa kau? Sudah beberapa hari semenjak pulang liburan kau terlihat kacau begini. Apa terjadi sesuatu?"
Daripada menjawab pertanyaan yang telah berulang kali diutarakan setiap orang, Jongin lebih memilih menutup dirinya di balik selimut. Mungkin saja Taemin akan pergi menghilang entah kemana.
Namun bukan Lee Taemin namanya jika ia langsung menyerah begitu saja dan membiarkan Jongin mendapatkan apa yang ia inginkan. Karena itulah Taemin dengan segenap kekuatannya mengambil dengan paksa selimut biru Jongin dan membuat sang pemilik terjatuh dari atas ranjangnya.
Jongin menatap sepupunya itu geram sedangkan Taemin tersenyum puas melihat hasil kerjanya. Bisa dibilang hasilnya selalu sama. Jongin kalah dan Taemin selalu mendapatkan apa yang ia inginkan karena itulah ia tidak kaget saat Taemin menanyakan hal yang sama.
"Kenapa kau? Ayo cepat ceritakan apa yang terjadi saat liburanmu waktu itu."
"Tidak ada apapun yang terjadi. Hanya liburan biasa. Sekarang keluar dari kamarku!"
"Bohong! Tidak mungkin tidak terjadi apapun. Sekarang cepat ceritakan!"
Mengapa sepupunya ini begitu keras kepala? Rasanya Jongin ingin sekali melompat keluar dari kamarnya dan menjauh dari Taemin sejauh mungkin. Namun sayangnya Jongin masih menyayangi nyawanya, siapa pula yang akan nekat melompat dari lantai dua hanya untuk menjauhi seseorang.
Sekarang yang terpenting adalah bagaimana caranya agar Taemin seegera keluar dari kamar Jongin tanpa ia harus mengeluarkan tenaga lebih untuk memaksaknya keluar. Oh! Ada satu cara.
"Taemin kau ingat CD Justin Timberlake yg waktu itu aku ceritakan?"
"Maksudmu yang limited edition* itu?"
Jongin mengangguk. Wajah Taemin tiba-tiba terlihat sumringah. Bang! Kena kau Lee Taemin.
"Hyoyoen noona baru membelinya kemarin. Katanya kalau kau mau pinjam ambil saja, kebetulan hari ini noona sedang tidak ada latihan. Kapan lagi coba Hyoyeon noona ada saat liburan seperti ini?"
Mendengar itu Taemin langsung berlari keluar dari kamar Jongin. Dengan cepat Jongin pun segera mengunci kamarnya agar sepupunya yang menyebalkan itu tidak dapat masuk lagi ke kamarnya.
"Akhirnya aku bisa bebas juga."
OoO
"Ada apa denganmu Sehunnie? Apa terjadi sesuatu saat liburanmu? Ayo cerita pada eommamu ini."
Sang namja manis bersurai coklat itu menggeleng dan tersenyum pada eommanya. "Aku tidak apa-apa eomma. Jangan khawatir."
"Tapi akhir-akhir ini kamu jarang makan. Lihat, bahkan kamu tidak memakan choco cookie buatan eomma ini."
Sehun tertawa kecil mendengar curahan hati sang eomma. "Ahaha... aku masih kenyang eomma. Nanti saja aku makannya, ne? Sekarang aku mau ke kamar dulu."
Sang eomma kembali cemberut saat mendengar putra bungsunya itu akan kembali masuk ke kamarnya. Namun sepertinya sang nyonya keluarga Oh ini sama sekali tidak mau menyerah.
Jika Sehunnie tidak mau bercerita padaku mungkin ia akan bercerita pada Yifan. Pikirnya dan ia pun segera menelpon putra bungsunya yang sekarang ini entah berada dimana -mungkin bersama kekasihnya- tapi nyonya Oh tidak peduli akan hal itu, yang terpenting adalah dia dapat melihat putra manisnya kembali menjadi dirinya sendiri. Disisi lain sang putra bungsu kini tengah berbaring di kasurnya. Sama seperti hari-hari lainnya.
Ya. Sudah beberapa hari ini Sehun memilih mengurung dirinya di kamar. Semuanya berawal dari kejadian malam itu.
FLASH BACK~
"Hunnie? K-kau Hunnie kan?"
Oh tidak... bagaimana ini? Sepertinya Jongin sudah mulai mengingat masa lalunya. Apa ia akan membenci Sehun? Jika memang iya bagaimana ini? Sehun tidak ingin Jongin membencinya.
"Jawab aku Sehun. Apa kau Hunnie? Gadis kecil yang waktu itu aku temui saat masih kecil dulu."
Sehun tidak tahu harus menjawab apa. Di satu pihak ia ingin Jongin mengatahui semuanya namun di lain pihak Sehun merasa takut Jongin akan membencinya dan menjauhinya.
Sehun tidak tahu lagi harus bagaimana. Maka dari itulah, hal pertama yang terlintas dalam pikirannya adalah menjauh dari Jongin. Mungkin dengan begitu semuanya akan kembali normal.
END OF FLASHBACK~~
"Tapi hal itu malah memperburuk keadaan~~ hue... bodohnya aku."
Jika saja saat itu Sehun tidak berlari menjauh dari Jongin dan menjelaskan secara detail pada sang namja tan mungkin ia akan mengerti dan tidak akan menjauhinya. Dengan begitu Sehun masih dapat -setidaknya- berteman dengan Jongin. Namun nasi sudah menjadi bubur, waktu tidak bisa di putar mundur. Sehun sudah terlanjur menjauhi Jongin dan sepertinya sang namja tan juga sudah terlanjur membencinya.
"Hiks... aku ingin kembali ke Kanada saja kalau begini."
OoO
Liburan musim panas telah berakhir. Sudah saatnya bagi setiap pelajar kembali ke sekolah dan menjalani masa masa mudanya disana. Menghabiskan waktu untuk menuntut ilmu dan bercengkrama dengan teman-teman mereka di saat senggang. Hal itu pun berlaku bagi seorang Kim Jongin atau lebih akrab disapa Kai. Ia hanya seorang pelajar biasa yang tidak bisa begitu saja bolos dari sekolah walaupun sebenernya ia benar-benar tidak mau berada di gedung bertingkat ini. Jika ia sampai bolos bisa-bisa ia dibunuh oleh appanya. Terdengar berlebihan memang, tapi itulah yang Jongin rasakan saat berhadapan dengan ayahnya yang sedang dalam keadaan buruk ditambah mendengar kabar tidak baik. Sungguh mengerikan. Bahkan sepuluh kali lebih mengerikan dari eommanya.
Baiklah... sudah cukup basa-basinya. Hari ini Jongin berangkat lebih awal dari biasanya. Selain karena ia ingin menghindar dari sepupunya karena ia pasti marah besar setelah dibohongi oleh Jongin, ia juga ingin sebisa mungkin menghindar dari Sehun.
Tolong jangan salah paham dulu. Jongin sama sekali tidak membenci Sehun karena kejadian malam itu atau karena selama ini Sehun menyembunyikan identitasnya sebagai cinta pertamanyaa. Itu tidak mungkin. Ia hanya ingin sedikit menenangkan diri saja dulu, selain itu sepertinya Sehun juga memerlukan waktu untuk sendirian. Jongin ingat betul ekspresi Sehun saat Jongin memanggilnya Hunnie. Sangat terkejut dan... takut.
Jongin menghela nafasnya panjang. Apa yang sebenarnya Sehun takutkan?
"Oh! Tumben sekali kau sudah datang Jongin. Biasanya juga kau datang semenit sebelum bel masuk."
Cih. Suara ini. Disaat Jongin sedang tidak ingin berhadapan dengan orang-orang merepotkan mengapa namja super menyebalkan yang namanya mirip dengannya datang?
"Diam kau Jong down."
"YA! SIAPA YANG KAU PANGGIL JONG DOWN, JONG OUT!"
Jongin mendecih sebal. Jika saja ia sedang tidak dalam mood untuk berkelahi mungkin namja yang tengah berdiri di hadapannya ini sudah babak belur. Tapi tentu saja hal tersebut membuat Jongup terkejut.
"Kenapa denganmu? Tumben sekali kau tidak membalasnya."
"Kau sendiri tumben sekali datang pagi-pagi sekali."
"Memangnya kau tahu kapan biasanya aku datang ke sekolah? Kau kan selalu yang paling terakhir datang."
Damn! Jongin lupa hal itu. Sekarang ia benar-benar terlihat seperti orang bodoh.
"Aku datang pagi karena aku habis mencontek tugas musim panas dari anak kelas A. Si anak rajin kan biasanya datang pagi sekali. Kau sudah mengerjakannya?"
Tugas musim panas ya? Sepertinya Jongin cukup beruntung karena memiliki sepupu yang super pintar dan rajin sehingga ia tidak peru repot repot berfikir. Ia cukup menyelinap ke kamar Taemin dan mencontek tugasnya dengan cepat.
"Aku sudah menyelesaikannya kemarin."
"Biar kutebak, kau mencontek dari Taemin kan?"
Mendengarnya Jongin sedikit terkejut. Bagaimana anak ini bisa tahu?
"Taemin selalu bercerita saat di club kalau kau sering mencontek tugasnya. Ngomong-ngomong kau kenapa? Kulihat kau sedang bad mood. Apa kau diputuskan pacarmu?"
Jongin menatap Jongup dengan tajam seolah ingin membunuh namja itu.
"Oh! Aku lupa. Kau kan tidak punya pacar." Ucap Jongup dengan entengnya.
Rasanya Jongin ingin sekali mencekik anak itu sekarang juga jika hal itu adalah hal yang legal. Tak lama pintu kelas kembali terbuka dan muncul satu lagi sosok yang tidak ingin Jongin temui sepagi ini.
"Oh! Tao! Tumben kau sudah datang."
"Latihan pagiku berakhir cepat hari ini."
Jongup mengangguk mengerti mendengar jawaban sang namja berkantung mata itu. Sebelum Tao duduk di bangkunya ia terlebih dahulu memberikan death glare terbaiknya pada Jongin yang juga melakukan hal yang sama. Bahkan saat duduk Jongin masih merasakan bahwa Tao masih menatapnya dengan tajam.
Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang panjang bagi Jongin.
.
.
.
"Biar aku tebak, kau bertengkar lagi dengan Taemin? Atau jangan-jangan... kau bertengkar dengan Kim Jongin?" Tanya Kyungsoo begitu mendapati Sehun tengah duduk di sampingnya disaat ia sedang ingin berduaan saja dengan Joonmyeon hyungnya.
Sehun hanya terdiam sembari terus mengaduk-aduk makanannya. Hari ini ia tidak pergi makan bersama dengan Taemin dan teman-temannya yang lain. Selain karena ia tidak ingin bertemu dengan Jongin secara langsung, ia juga tidak ingin bertemu dengan Tao. Kejadian saat di balkon saat itu masih terngiang-ngiang dalam otaknya. Sehun merasa seperti orang jahat saat ini.
Kyungsoo menghela nafasnya. "Ayolah Sehun... berhenti bersikap kekanakan. Aku merasa seperti menjadi tempat pelarian disini."
"Kyungsoo!" Ucap Joonmyeon sebelum juniornya ini mulai mengatakan sesuatu yang dapat membuat mood Sehun semakin buruk.
Kyungsoo hanya bisa cemberut. Ia mengerti kalau Sehun butuh tempat untuk mencurahkan hatinya tapu sayangnya timing Sehun saat ini benar-benar buruk.
"Tolong jangan dengarkan ucapan Kyungsoo, ne? Sekarang apa kau mau bercerita apa yang telah terjadi. Mungkin kami dapat membantumu." Tawar Joonmyeon lembut.
Sehun berfikir sejenak. Mungkin setelah bercerita pada Joonmyeon sunbae perasaan Sehun akan sedikit lebih ringan. Lagipula Joonmyeon sunbae adalah namja yang baik dan dia sama sekali tidak memiliki koneksi apapun dengan orang-orang yang Sehun kenal selain Kyungsoo. Karena itulah Sehun mulai menceritakan semuanya dari awal ia bertemu Jongin sampai pada kejadian di villa saat liburan kemarin.
"Jadi intinya kau takut Jongin membencimu?"
Sehun mengangguk.
Joonmyeon menghela nafasnya. Anak ini sungguh polos. Jika ia bukan namja baik-baik mungkin ia sudah membawa Sehun pulang dan menjadikannya dongsaengnya atau yeah... sejenisnya.
"Dengarkan aku! Jika memang Jongin menyukaimu mana mungkin ia akan membencimu. Jika memang dia sampai membencimu hanya karena hal sepele seperti itu maka sebaiknya kau lupakan saja dia dan carilah orang yang jauh lebih baik darinya."
Sehun kembali mengangguk mengerti. Rasanya setelah ia bercerita dadanya terasa lebih ringan. Dan permasalahannya sekarang adalah...
Sanggupkah Sehun melupakan Jongin kalau memang benar namja tan itu membencinya?
.
.
.
Persis seperti apa yang Jongin prediksi. Hari ini benar-benar merupakan hari yang panjang baginya. Di sepanjang pelajaran, Tao tak henti-hentinya memberikan death glare terbaiknya dan Jongin sama sekali tidak dapat membalasnya -selain karena posisi tempat dusuknya yang tidak memungkinkan, hari ini adalah hari dimana semua guru paling galak mengajar di kelasnya. Jongin masih sayang nyawanya.
Dan saat jam istirahat pun Sehun sama sekali tidak berkumpul di meja mereka. Taemin mengatakan bahwa namja manis itu ada tes di club memasak jadi ia makan bersama Kyungsoo teman satu clubnya.
Bukan hanya itu. Saat pulang sekolah pun si namja panda kurang kerjaan itu malah menyeretnya ke belakang sekolah. Cih! Apa sih maunya?
"Apa maumu?"
Tao menyeringai. "Mauku?"
Dengan cepat namja berkantung mata itu menarik kerah baju Jongin dan menatap Jongin penuh rasa benci. Huh, sepertinya namja panda ini ingin berkelahi dengannya.
"Jika kau sampai membuat Sehun bersedih aku tidak akan segan-segan membunuhmu."
Kini giliran Jongin yang menyeringai pada Tao. "Kau pikir aku takut ancamanmu apa? Jangan harap aku akan membiarkanmu melakukan sesuatu semaumu."
"Satu hal lagi. Camkan ini baik-baik dalam ingatanmu. Aku tidak akan segan untuk merebut Sehun dari tanganmu." Setelah itu Tao melepaskan cengkramannya dan mendorong Jongin dengan kuat sebelum ia berjalan pergi.
"Cih! Kau pikir aku akan membiarkan hal itu terjadi."
.
.
.
"Aaah~~~ hari ini benar-benar panas."
Setelah selesai dengan latihan vocalnya, Luhan berencana untuk berkunjung ke tempat Tao. Ia berencana sedikit menjahili dan mengejutkan anak itu. Namun belum sempat ia berjalan ke arah apartemen sang namja panda, Luhan melihat Tao tengah duduk di bangku taman dengan posisi tertidur.
Apa dia tidak kepanasan?
Sebuah ide jahil pun terlintas dalam kepalanya. Luhan pun pergi membeli dua kaleng minuman dingin dan satu botol air mineral, lalu berjalan ke arah Tao secara perlahan.
Pertama, Luhan menaruh dua minuman kaleng itu hati-hati. Kedua, dia membuka botol air mineral. Rupanya Luhan bermaksud menumpahkan air mineral itu tepat ke wajah Tao. Baru saja Luhan akan menumpahkannya ia justru terdiam.
Jika boleh jujur ini adalah kali pertamanya ia melihat wajah Tao yang tenang. Ketika ia bersama dengan Tao, sang namja panda itu sedang dalam keadaan kesal atau gundah. Karena itulah Luhan sangat terkejut saat melihat wajah Tao yang terlihat sangat... indah. Ia tahu bahwa paras sang namja berkantung mata itu tidaklah buruk, malah bisa dibilang tampan namun ia tidak menyangka bahwa dirinya akan terpaku seperti ini. Garis dagunya begitu tegas, bentuk hidungnya terpahat sempurna, Luhan tahu bahwa kantung mata itu adalah sesuatu yang hanya dimiliki oleh keluarga Huang. Terkesan aneh memang namun entah mengapa begitu pas di mata tajam Tao, membuat kedua tatapan tajam itu terlihat elegan.
Tanpa sadar Luhan semakin memperdekat jarak wajahnya dengan Tao. Ia penasaran. Baru ia tahu bahwa bulu mata sang namja panda itu begitu lentik. Apakah ia merawatnya?
Luhan terus memperhatikan setiap lekuk wajah Tao. Air mineral yang ia pegang tanpa sadar terjatuh begitu saja hal itu membuat Tao yang tengah tertidur merasa terganggu. Perlahan sang namja panda membuka matanya dan betapa terkejutnya ia karena hal pertama yang ia lihat adalah sepasang hazel yang menatap langsung pada onyxnya.
Sepasang mata itu. Tao tahu benar milik siapa sepasang hazel itu.
"Apa yang tengah kau lakukan Lu-zi?"
"Eh?" Luhan mengerjap-ngerjapkan matanya tanpa sedikit pun mengubah posisi wajahnya yang masih sangat dekat dengan Tao. "UWAAAA!" Teriak Luhan kaget hingga membuatnya terjatuh.
Tao pun bagun dari posisinya dan menatap datar Luhan yang masih terduduk dengan mengusap-usap punggungnya yang berdenyut sakit.
"Apa yang sebenarnya mau kau lakukan sih?"
"Tidak ada! Bukan urusanmu!"
Tao memutar matanya jengah. "Iya iya. Sekarang cepat berdiri jika kau tidak ingin celanamu basah." Ujar Tao sembari menunjuk cairan bening yang perlahan bergerak ke arah Luhan.
Melihat hal itu Luhan segera berdiri dan membersihkan dirinya. Ia segera mengambil botol air mineral yang telah kosong dan membuangnya dengan kesal. Rencananya untuk menjahili Tao gagal sudah.
"Kenapa denganmu?" Tanya Tao begitu Luhan telah mengambil dua kaleng minuman dinginnya dan duduk di sebelah Tao.
"Bukan urusanmu!" Jawab Luhan kesal sembari menekan minuman dingin itu pada pipi Tao.
"Oi oi oi... dingin bodoh!"
Barulah setelah itu Luhan melepaskannya dan melempar minuman itu pada sang namja panda. "Menyebalkan." Cicit Luhan sembari membuka minumannya.
"Dasar aneh."
Keduanya pun terdiam. Luhan masih meminum minumannya perlahan sedangkan Tao memainkan minumannya tanpa membukanya. Sesekali ia memutar atau melempar-lempar kaleng itu.
"Kau tidak meminumnya?"
"Tidak. Aku sedang tidak ingin saja."
Sebegitu bencinya kah kau padaku sampai tidak mau meminum minumanku. Pikir Luhan.
Ia memperhatikan sang namja panda hingga Tao menyadarinya.
"Kau ini kenapa sih? Kau bartingkah lebih aneh dari biasanya."
Bukannya menjawab Luhan justru menundukan wajahnya. "Hei Tao, kau selalu mengatakan bahwa kau membenciku. Tapi kau tidak pernah mengatakan alasannya padaku."
Kini giliran Tao yang terdiam. Entah apa yang ada dalam pikirannya sampai ia membangunkan dirinya.
"Kau mau kemana?"
"Bukan urusanmu."
"Kau tahu, kadang aku merasa kau seperti membandingkanku dengan Sehun."
Ucapan tersebut membuat Tao berhenti. Luhan tahu ia telah mengatakan hal yang salah tapi itulah yang ia rasakan.
"Aku-"
Belum sempat Luhan melanjutkan kata-katanya, Tao telah terlebih dahulu melakukan hal yang tak pernah Luhan sangka akan Tao lakukan. Namja itu mendorong tubuhnya hingga terbaring di atas bangku dengan Tao yang menahannya dari atas. Posisi mereka sunguh membuat wajah Luhan memerah.
"Apa yang kau-"
"Alasan aku membencimu adalah ya karena kau mirip dengan Sehun."
Sudah ia duga pasti Tao akan mengatakan hal itu.
"Tapi itu adalah alasan terakhirku. Aku membencimu karena hanya kau lah yang sanggup menarik keluar sisi terlemahku disaat aku sudah menguncinya rapat-rapat. Aku membencimu karena hanya kau lah yang dapat aku jadikan sandaran. Aku membencimu karena hanya kau lah yang sanggup menenangkan hatiku yang telah kacau ini. Dan aku membencimu karena kau datang terlambat."
Luhan hanya membulatkan matanya mendengar penjelasan Tao. Ia sungguh tidak tahu harus mengatakan apa.
"Kalau saja... kalau saja kau datang lebih awal. Kalau saja bukan Sehun yang pertama kali datang dalam hidupku. Mungkin..." Tao menundukan kepalanya. "Lupakan." Lalu ia pun berdiri dan mulai berjalan meninggalkan Luhan.
"Kau bilang aku terlambat." Ucap Luhan lantang, seketika Tao terdiam di tempatnya. "Kau bilang aku terlambat, tapi... aku masih belum terlambat kan untuk menyatukan kembali hatimu yang hancur itu?"
Ya. Terdengar sangat gombal dan mengada-ada memang, tapi Luhan sungguh ingin mengembalikan hati Huang Zitao yang telah hancur karena kebodohannya itu. Ia ingin Tao mendapatkan kembali rasa cintanya. Ia ingin Tao jatuh cinta padanya karena selama ini tanpa Luhan sadari ia telah jatuh cinta pada sang namja di hadapannya ini
"Entahlah, aku tidak tahu. Kita lihat saja nanti."
.
.
.
Sehun tahu bahwa hari ini adalah hari yang buruk. Selain ia tidak bisa makan siang bersama teman-temannya -walaupun Kyungsoo adalah temannya tapi Sehun lebih terbiasa makan siang bersama Taemin dan yang lainnya-, hari ini pun hyung menyebalkannya itu tidak bisa menjemputnya. Namja super tinggi itu beralasan bahwa ia ada kerja kelompok sampai malam padahal Sehun tahu bahwa hyungnya itu pasti ingin berkencan dengan Lay hyung.
"Dasar naga menyebalkan!" Umpat Sehun tanpa mempedulikan orang-orang yang menatapnya heran. Memangnya peduli apa Sehun pada orang-orang itu, toh mereka tidak punya hubungan apapun dengan Sehun.
"Sehun? Kau masih belum pulang?"
Oh tidak... disaat Sehun sedang tidak ingin bertemu dengan Jongin mengapa namja tan itu malah menghampirinya.
"J-jongin, um... itu... aku..."
"Apa hyungmu tidak bisa menjemputmu?"
Sehun mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Kalau begitu kau mau pulang bersamaku?"
Sehun membulatkan matanya. Eh? Pulang bersama Jongin disaat mereka dalam keadaan yang tidak baik seperti ini? Bagaimana ini? Haruskah Sehun menolaknya? Tapi jika ia menolaknya itu artinya Sehun harus pulang sendirian disaat hari sudah menjelang malam seperti ini.
"Ayo!" Belum sempat Sehun menjawab ajakan Jongin namja tan itu sudah terlebih dahulu menarik tangannya.
Ini bukan hal yang baik untuk jantungnya. Apalagi mereka bergandengan tangan di jalanan yang cukup sepi. Benar-benar sesuatu yang tidak baik.
Dan seperti tidak cukup membuat Sehun menderita, tiba-tiba perutnya meraung minta diisi. Oh tuhan... betapa malunya Sehun saat ini. Ingin rasanya ia menghilang dari dunia ini saja.
"Kau lapar? Kalau begitu kita mampir dulu ke tokonya Taeyeon noona."
Sekali lagi Sehun hanya bisa mengangguk dan mengikuti kata-kata Jongin.
Walaupun saat ini Sehun benar-benar merasa lapar tapi tetap saja jika makan berduaan dengan Jongin di pojok ruangan seperti ini membuat makannya terasa... tidak enak. Apalagi Jongin hanya memesan jus jeruk saja.
"Bagaimana tes memasakmu? Kudengar kau ada tes memasak di clubmu?"
Eh? Apa ini? Mengapa rasanya Jongin bersikap biasa-biasa saja. Seolah tidak ada apapun yang terjadi. Apa mungkin Jongin sudah melupakan kegiatan malam itu? Tapi tidak mungkin. Tidak mungkin kejadian malam itu mudah dilupakan. Lalu apa?
"Sehun?" Tanya Jongin karena tanpa sadar Sehun hanya melamun saja.
"E-eh? Um... itu... tesnya baik-baik saja. Aku dapat penilaian pas-pasan. Ahahaha..."
.
.
.
Pulang sekolah nanti Jongin berniat menanyakan kepastian tentang identitas Hunnie pada Sehun. Ia ingin mengakhiri semua fase 'saling menghindari' ini. Karena itu lah Jongin memutuskan untuk pulang telat karena ia tahu Sehun ada jadwal club memasak hari ini. Dengan sabar Jongin menunggu hingga akhirnya ia melihat Sehun keluar dari gerbang sekolah dengan wajah muram sambil berteriak "Dasar naga menyebalkan." Mungkin hyungnya itu tidak bisa menjemput Sehun hari ini.
Jongin memutuskan untuk mengajak Sehun pulang bersamanya dan tanpa menunggu jawaban dari sang namja manis, Jongin telah terlebih dahulu menarik tangan Sehun.
Sepanjang perjalanan Jongin terus memikirkan bagaimana caranya untuk menanyakan hal sepenting ini pada Sehun tanpa mempedulikan bahwa ia masih menggenggam tangan Sehun. Hingga akhirnya ia mendengar suara perut seseorang.
Jongin menatap Sehun yang wajahnya sudah sangat memerah. "Kau lapar? Kalau begitu kita mampir dulu ke tokonya Taeyeon noona."
Sekali lagi Sehun hanya mengangguk tanpa menunjukan sedikit pun penolakan. Bukan sesuatu yang biasa disaat kedaan mereka sedang seperti ini. Apa mungkin terjadi sesuatu dengannya? Kalau tidak salah si namja kurang kerjaan Tao itu pernah mengatakan sesuatu tentang Sehun yang tengah bersedih.
"Bagaimana tes memasakmu? Kudengar kau ada tes memasak di clubmu." Tanya Jongin mencoba mengubah suasana canggung dan tegang mereka menjadi seperti biasa lagi. Namun entah mengapa Sehun sama sekali tidak menjawabnya dan justru melamun sembari menatap Jongin terkejut. Apa ada yang aneh dengan Jongin?
"Sehun?"
"E-eh? Um... itu... tesnya baik-baik saja. Aku dapat penilaian pas-pasan. Ahahaha..."
Baiklah... sepertinya memang ada yang salah dengan Sehun. Tidak biasanya dia bersikap seperti ini.
"Sehun, apa kau baik-baik saja? Kau bersikap tidak seperti biasanya."
Sehun hanya terdiam. Ia menundukan kepalanya dan meremas sendoknya. Sepertinya memang ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.
"Apa kau tidak membenciku?"
Huh? Apa katanya? Membencinya?
"Apa maksudmu?"
"Apa kau tidak membenciku? Apa kau tidak merasa jijik padaku karena aku sudah berpura-pura menjadi yeoja dan membohongimu? Apa kau... masih mencintaiku yang seperti ini?"
Jongin mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali. Mencoba mencerna kata-kata Sehun namun hal itu justru membuat salah paham. Karena hal itu membuat Sehun berpikir bahwa Jongin benar-benar membencinya.
"Kalau kau memang membenciku. Aku-"
"Tunggu dulu! Kenapa kau berpikiran seperti itu?"
"Eh? Bukannya kau membenciku? Maksudku, sudah beberapa hari ini kau mengurung dirimu dan-"
"Tunggu dulu! Dari mana kau mengetahui hal itu?"
"Taemin yang mengatakannya."
Anak itu! Tidak bisakah Taemin tidak mengusik hidup Jongin untuk beberapa saat saja?
Jongin mengusak rambut belakangnya kesal. "Aaaagh! Taemin sialan!" Jongin pun berdiri dan menarik paksa Sehun. "Sekarang ikut aku!"
"Kemana?"
"Sudah ikut saja."
Mereka pun keluar dengan terburu-buru, melihat hal tersebut Taeyeon berteriak pada Jongin.
"Jongin makanannya!"
"Nanti aku bayar!
Mendengar itu Taeyeon hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
.
.
.
Sehun tidak menyangka akan Jongin bawa ke kamarnya. Ya. Ke kamar seorang Kim Jongin. Jika diingat-ingat Jongin juga pernah ke kamarnya. Itu berarti mereka sudah pernah ke kamar masing-masing. Seketika wajah Sehun memerah memikirkan hal tersebut.
Sudah sekitar sepuluh menit berlalu semenjak Sehun di bawa ke kamar Jongin namun sang namja tan masih sibuk mencari-cari sesuatu. Bahkan sampai mengacak-acak kamar yang sudah sangat rapi itu.
"Aaagh! Dimana sih eomma menyimpannya." Teriak Jongin frustasi.
Sehun sebenarnya ingin membantu tapi sayangnya ia sama sekali tidak tahu apa yang Jongin cari dan ia tidak berani untuk mencari tahunya.
"Oh! Ini dia!"
Jongin terlihat sangat senang begitu menemukan apa yang ia cari. Seperti seorang anak kecil yang berhasil menemukan mainannya yang hilang. Manis.
Jongin berdiri dan menghampiri Sehun dengan memegang sebuah kotak berwarna hitam di tangannya. Ekspresi serius kini terpatri di wajahnya. Sehun tahu bahwa ia tidak bisa lagi menghindar dari apa yang akan Jongin katakan padanya.
Perlahan Jongin mulai membuka kotak tersebut. Memperlihatkan apa yang ada di dalamnya. Nafas Sehun terasa tercekat begitu melihat apa isinya.
"Kau... masih menyimpannya?" Tanya Sehun masih belum sepenuhnya percaya.
Di dalam kotak hitam itu ada sebuah mahkota kecil yang masih tersimpan rapi. Tak ada yang berubah dari mahkota kecil itu seolah Jongin telah menyimpan dan merawatnya dengan sepenuh hati.
"Ya. Aku masih menyimpannya."
"Kenapa? Maksudku, sudah bertahun-tahun berlalu."
Jongin tersenyum sembari memperhatikan mahkota kecil itu. "Karena aku sudah berjanji." Kemudian ia menatap Sehun serius. "Bukankah aku sudah berjanji padamu bahwa aku akan menjaganya hingga kita bertemu lagi dan hingga kau menjadi milikku."
"Bukan sepertu itu janjinya bodoh!" Ucap Sehun sembari memukul pelan dada Jongin. Jongin hanya tertawa melihat ekspresi terkejut, senang dan... entahlah mungkin eksprsi lega Sehun.
"Haha... aku tahu itu." Jongin kembali menenangkan dirinya dan menatap Sehun serius.
"Dulu... aku sempat melupakannya. Yeah... kau tahulah... seorang anak kecil akan cepat lupa sesuatu saat ia terlalu senang bermain dengan teman-temannya. Setidaknya sampai aku bertemu dengan Krystal, yeoja yang waktu itu berpapasan dengan kita di cafe."
Sehun mengangguk mengerti. Ia ingat betul yeoja yang terlihat begitu akrab dengan Jongin bahkan sampai ia tidak memanggil Jongin dengan Kai seperti yang lainnya. Jadi yeoja itulah yang berhasil mengingatkan Jongin tentang janjinya ya?
"Awalnya aku pikir gadis mungil itu adalah dia karena itulah aku terus mendekatinya dan akhirnya jatuh cinta padanya. Ah! Tapi tenang saja... aku sudah melupakannya kok." Ucap Jongin seolah menjelaskan pada kekasihnya bahwa ia telah melupakan mantannya.
"Saat aku bertanya pada Krystal apakah ia adalah kau, ia menjawab bahwa ia tidak tahu apa yang aku bicarakan. Saat itu aku terkejut dan aku merasa di khianati. Namun sayangnya aku tidak bisa menyalahkan ataupun membenci Krystal karena yeah... itu semuanya salahku." Jongin kembali menatap Sehun serius.
"Hingga akhirnya... aku bertemu denganmu. Saat aku pertama kali bertemu denganmu aku merasakan jantungku berpacu dengan cepat. Aku tidak bisa menghilangkan bayanganmu dalam pikiranmu. Awalnya aku pikir aku mulai aneh karena menyukai seorang namja tapi ternyata... tubuhku lebih tahu bahwa kau adalah orang aku cintai daripada pikiranku. Terdengar konyol memang tapi itulah kenyataannya."
Jongin mengambil mahkota kecil itu dan memegannya di depan dadanya sembari tersenyum pada Sehun.
"Jadi, putri kelinci.. maukah kau menjadi tuan putriku?"
Sehun terdiam untuk beberapa saat hingga akhirnya ia tetawa lepas. Membuat Jongin kebingungan dan kalang kabut.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Jongin panik.
Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mengusap matanya yang tanpa sadar telah mengeluarkan sebulir air mata. "Ahaha... kalimat itu sudah tidak cocok untukmu Jonginnie."
Mendengar Sehun baik-baik saja Jongin pun dapat bernafas lega. "Yeah... aku tahu itu. Jadi bagaimana?"
"Eh? Tapi aku bukan seorang yeoja."
Jongin kembali menghela nafasnya. Lama-lama jika terus seperti ini ia bisa stress juga. "Haruskah aku menjelaskannya sekali lagi? Aku tidak peduli kau yeoja ataupun namja, mengerti?" Sehun mengangguk mengerti "Jadi?"
Sehun menundukan kepalanya dan mengangguk pelan. "Yeah... aku mau menjadi tuan putrimu pangeran beruang."
Jongin tersenyum puas dan menyematkan mahkota kecil itu di kepala Sehun.
"Tapi Jongin... aku tidak membawa mahkotamu."
"Tidak masalah."
Perlahan namun pasti Jongin mendekatkan wajahnya pada Sehun. Sehun tahu apa yang akan Jongin perbuat karena itulah ia perlahan menutup matanya. Wajah mereka terus mendekat dan semakin dekat hingga...
"Jongin! Apa kau melihat CD Justin Timberlake milikku?"
Keduanya terdiam.
"Ups! Sepertinya aku mengganggu sesuatu."
"Yeah... kau memang menggaggu sesuatu noona." Ucap Jongin kesal. Padalah sedikit lagi ia dapat mengecap bibir kekasihnya. Cih.
"Baiklah... tapi tunggu dulu! Aku akan mengambil kameraku dulu baru kalian lanjutkan."
"KELUAR!" Teriak Jongin sembari melempar bantalnya pada sang noona. Namun sepertinya sang noona sudah lebih pro dan dapat dengan mudah menghindarinya dan kabur.
Sehun hanya bisa tertawa melihat tingkah -ehem- kekasih barunya.
Tapi setidaknya ia dan Jongin akhirnya dapat menepati janji yang mereka buat.
oOo
FIN
oOo
EPILOGUE~~~
Kris and Lay
"Haaa..."
"Kenapa denganmu Yifan?" Tanya Lat begitu melihat sang kekasih terlihat begitu lemas saat membantunya mengerjakan soal bahasa inggrisnya. Tidak biasanya kekasih tingginya itu akan mengeluh saat membantunya.
"Aku hanya tidak menyangka saja Sehun akan berpacaran dengan si Kim Jongin itu. Aku masih belum menyetujuinya."
Lay tertawa kecil mendengar keluhan sang kekasih. "Kau ini. Sudahlah... biarkan saja. Lagipula Sehun sudah besar kan? Ia pasti bisa memilih siapa yang terbaik untuknya. Yang terpenting sekarang adalah kau hanya boleh terfokus padaku saat bersama dengaku."
Kris mengedipkan matanya beberapa kali. Terkejut dengan apa yang tadi diucapkan sang kekasih. Tak lama ia pun menyeringai penuh arti. "Hee~~ tidak kusangka kekasih manisku ini akan bersikap overprotective padaku. Apa kau cemburu?"
"Hmm... menurutmu?"
Bagai tersulut oleh sang kekasih Kris pun tak segan untuk segera mengecup bibir manis sang kekasih walaupun mereka masih berada di dalam perpusatakaan umum. Toh mereka ada di ujung ini. Tak ada yang melihat.
Baekhyun, Chanyeol and Chen
"Apa kalian sudah mendengar bahwa Sehun dan Jongin sudah berpacaran?" Tanya Baekhyun saat ketiganya sedang bermain di game centre.
Chanyeol dan Chen hanya bergumam tidak jelas sembari masih terfokus pada permainan mereka. Alhasil Baekhyun hanya bisa cemberut dan menghentikan permainannya.
"Dasar kalian ini tidak bisa di ajak bicara serius."
"Kau sudah mau berhenti?" Tanya Chayeol. Tidak biasanya Baekhyun akan berhenti di tengah tengah permainan mereka.
"Aku capek bermain dengan kalian." Baekhyun mengerucutkan bibirnya lucu dan menggumamkan kalimat terakhirnya. "Aku juga ingin punya pacar."
Walaupun pelan namun baik Chanyeol maupun Chen masih dapat mendengarnya dengan jelas.
"Kalau kau memang mau punya pacar, pacaran saja denganku." Ucap Chanyeol dan Chen bersamaan dengan ekspresi serius.
Baekhyun hanya bisa mengedipkan matanya terkejut.
"Eh?"
Taemin
"Aaah~~~ akhirnya mereka pacaran juga. Rasanya sulit sekali mempersatukan mereka berdua. Kalau begini aku jadi seperti seorang cupid saja." Ucap Taemin penuh kebanggaan tapi sedetik kemudian ia terlihat murung. "Tapi sekarang aku akan sendirian. Andaikan aku punya pacar." Ucap Taemin tanpa sadar.
Ia berguling-guling gelisah di ruang tari.
"Kau sedang apa?" Tak lama suara seorang namja pun menggema di seluruh ruangan tari yang sepi itu.
"Eh? A-aku tidak sedang apa-apa." Ucap Taemin gugup. Siapa yang tidak gugup saat mendapati seorang namja tampan dan mempesona memergoki tingkah anehmu.
"Sekarang cepat berdiri. Kau mengotori bajumu."
Taemin mengangguk mengerti dan segera bangun dari tempatnya.
"Siapa namamu?" Tanya namja yang sepertinya sunbaenya itu.
"L-Lee Taemin imnida."
"Taemin hm... aku Choi Minho."
Tao and Luhan
"Kau harus mentraktirku ice cream vanilla!"
"Kenapa harus aku? Kau lebih tua, jadi harusnya kau yang mentraktirku!"
"Uugh! Umur tidak berpengaruh. Lagipula bukankah kau yang menyeretku ikut latihan wushumu! Pokoknya kau yang harus mentraktirku."
"Kau sendiri yang mengajukan diri untuk ikut!"
Tao dan Luhan saling menatap tidak suka. Sudah bermenit-menit berlalu semenjak pertikaian konyol mereka di mulai dan tidak ada satu pun yang mau mengalah. Sudah banyak orang yang memperhatikan mereka tapi mereka sama sekali tidak peduli.
"Baiklah... kita tentukan dengan kertas gunting batu saja!"
"Ok!"
Luhan dan Tao mulai bersiap. Di dalam pikiran mereka hanya ada kata 'kemenangan'.
"Kertas gunting batu!"
Tao hanya dapat membulatkan matanya sedangkan Luhan melompat-lompat kegirangan.
"Yeay! Aku yang menang! Sekarang belikan aku ice cream vanilla."
Sekali lagi Tao hanya bisa menggerutu tidak jelas. Mengapa ia memilih batu padahal kan Luhan selalu memilih kertas di awal. Menyebalkan.
Selang beberapa menit Tao pun datang dengan membawa dua buah ice cream. Satu ice cream mango dan satu lagi mint.
"Hei! Dimana ice cream vanillaku?" Tanya Luhan.
"Sudah habis." Jawab Tao masig kesal rupanya.
"Eeh? Sudah habis? Sayang sekali."
Tao pun menyerahkan ice cream mint pada Luhan. Dan ia mulai memakan ice cream mangonya.
"Hei! Aku mau yang mango!"
"Terima saja apa yang ada. Lagipula kau sudah aku traktir kan?"
"Dasar pelit!"
Mereka pun memakan ice cream mereka dalam diam. Tao terlihat tidak begitu menikmati ice creamnya sedangkan Luhan terlihat senang dan sangat menikmati ice creamnya.
Apakah ice cream mint seenak itu?
Karena penasaran, Tao pun menarik tangan Luhan dan menjilat ice cream miliknya. "Tidak buruk."
"Kenapa kau mengambil ice creamku juga?" Ucap Luhan kesal sembari menarik paksa tangannya. Namun ternyata hal itu membuat Tao ikut tertarik. Beruntung sang ahli wushu dapat menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga mereka tidak terjatuh sekaligus menahan tubuh kecil Luhan.
Jadilah posisi mereka terlihat seperti orang yang tengah *ehem* berciuman di bawah pohon.
Tao merasakan jantungnya berpacu dan entah mengapa ia ingin mengecap rasa milik namja yang lebih tua tiga tahun darinya itu. Perlahan tanpa ia sadari Tao mendekatkan wajahnya pada Luhan. Sontak saja Luhan segera menutup matanya kuat-kuat.
"Mmphh... Hahahaha..."
Namun tanpa disangka bukannya melanjutkan aksinya Tao malah tertawa.
"Tidak kusangka kau akan bereaksi seperti itu."
"Memangnya salah? Kau juga kenapa tiba-tiba bertingkah seperti itu?"
"Entahlah... kenapa ya?" Tao menyeringai dan mendekat pada Luhan. Ia berbisik tepat pada telinganya. "Mungkin aku sudah mulai menyukaimu."
Setalah itu ia pun berjalan pergi meninggalkan Luhan yang hanya dapat terpaku.
"Eh? Apa maksudmu? HEI TAO!"
Jongin and Sehun
"Hmmm..."
Sudah beberapa menit ini semenjak Jongin berkunjung ke rumah Sehun dan bermain video game, ia terus memperhatikan Sehun dari atas hingga bawa dengan ekspresi serius. Tentu saja hal itu membuat sang namja manis merasa risih. Ia jadi tidak bisa fokus pada permainan mereka.
"Ada apa Jonginnie? Apa ada sesuatu yang salah denganku?"
"Tidak. Kau terlihat sempurna seperti biasanya. Aku hanya berfikir kau masih terlihat kurus padahal akhir-akhir ini kau makan banyak." Tutur Jongin.
Kali ini Sehun yang mulai ikut berfikir. "Entahlah... sejak dulu aku memang selalu seperti ini."
Jongin pun tersenyum senang dan memeluk Sehun dari belakang. "Kalau begitu baguslah."
"Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya senang saja kalau begini aku tidak usah khawatir." Tutur Jongin sembari mengecup rambut Sehun lembut.
"Khawatir?" Sehun sepertinya masih belum paham apa yang Jongin maksud. Ia menatap Jongin kebingungan.
"Sudahlah... jangan di pikirkan." Ucap Jongin sembari mengecup bibir Sehun lembut. "Saranghae."
Sehun menundukan kepalanya malum "N-nado."
Jongin baru akan kembali mengecup bibir Sehun, tiba-tiba pintu kamar Sehun terbuka. Sosok Kris dengan wajah yang bisa di bilang mirip dengan lucifer.
"Jangan seenekannya menyentuh dongsaengku!"
Namun beberapa detik kemudian sang eomma datang dan menyeret Kris keluar.
"Jangan ganggu mereka!"
Baik Jongin maupun Sehun hanya dapat terdiam dan saling memandang satu sama lain. Tak lama mereka pun tertawa .
"Sepertinya kisah kita masih sangat panjang ya?"
oOo
A/N : Kyaaaa... akhirnya selesai juga xD. Saya cukup kesulitan menemukan ending yang bagus. So... jadi beginilah. Sangat absurd. Oh! Kyaaa... saya seneng banget soalnya udah mulai bermunculan ff Taohan. Saya inget waktu itu tiap search di FFn cuma fic saya yang nongol. *mian malah curhat*
Saya ucapkan terima kasih untuk semua readerdeul yang telah membaca, mereview, mem-fav, mem-follow FF saya selama ini. Saya benar-benar merasa senang.
Sekali lagi neomu kamsahmanida. *bungkuk 90 derajat*
Untuk selanjutnya saya akan berusaha membuat FF yang lebih baik.
Selamat berjumpa di FF saya yang lain. ^^
