"Wah Aku Senang Kak Reya mau tinggal disini lebih lama!!"

"Maaf, jadi merepotkan!!"

"Merepotkan apa, Bibi senang Kamu lebih lama disini, bisa nemenin Via!!"

"Eh, ngomong ngomong hari ini mau kemana Kak ???.. Uhmm.. coba Aku inget tempat mana ya yang belum Aku tunjukkan ??!"

"Biarkan Kak Reya beristirahat Via, Tiga hari ini, Kau mengajaknya Keliling terus!!"

"Aah Papa, memangnya mau ngapain di rumah aja, mending ke luar, walaupun ga kemana mana, jalan jalan dan menghirup udara luar lebih baik daripada di rumah aja, benar kan Kak Reya!!"

Aku Cuma bisa menyunggingkan Senyum.. sebenarnya kalau boleh memilih, Aku lebih suka di rumah saja, Nonton Film, Baca Komik, intinya berhibernasi sambil malas malasan di Kamar. Tapi tidak bisa kalau di rumah Orang.

"Oh ya Reya, Kamu keluar dari pekerjaanmu waktu itu untuk merawat Ibumu, apa sudah dapat penggantinya??"

"Belum Om, sudah masukin lamaran tapi belum ada panggilan!"

"Begitu ya, sebenarnya Om ada informasi lowongan, tapi bukan jangka panjang"

"Ya???"

"Kamu masih ingat Zam… Temen Om yang tidak sengaja ketemu di Bandara??"

Aku mengingat sebentar "Ah Ya!"

"Sekarang Dia jadi Pembimbing untuk siswa yang akan mengikuti Olimpiade Fisika, nah Dia ngomong sama Om bahwa Dia membutuhkan asisten untuk bantu bantu, karena semua Teman Gurunya Sibuk dan dia teringat padamu jadi Dia minta Bantuan Om untuk menyampaikannya padamu, mungkin jika Kamu berminat"

"Tapi saya lulusan pendidikan Bahasa, Saya tidak tahu sama sekali tentang Fisika, di SMA saja dulu saya jurusan IPS"

"Begitu ya, yach nanti akan Saya sampaikan padanya!"

"Maaf Om!"

"Kenapa Kau Minta Maaf, tidak apa apa, tidak usah merasa sungkan, Kamu ini mirip sama Ibumu, jangan terlalu dipikirkan!"

Aku mengepalkan tanganku 'Benarkah Aku Mirip Ibu??'

Malam harinya

Hp ku berdering, tapi No yang tertera tidak kukenal, Aku mengerutkan keningku, setelah berpikir Aku mengangkatnya.

"Halo??"

"Halo, Reya??"

"Ya, ini siapa??"

"Aku Zam, Kita bertemu di Bandara, masih ingat??"

"Ya ??!"

"Maaf, Aku lancang meminta No mu dari Pak Joko, hanya saja Aku benar benar membutuhkan bantuanmu.. Pak Joko sudah menjelaskan alasan Kau menolak, tapi sebenarnya tidak ada yang perlu Kau khawatirkan… Uhmm… begini saja, jika Kau tidak keberatan, bagaimana jika Aku menjelaskannya lebih lanjut, apakah Kau besok punya waktu??"

"Uhmm…"

Sebelum Aku sempat menjawab, tiba tiba HP ku direbut dari tanganku dan melihat Via di sampingku.

"Dia bisa… Besok Dia ada waktu!!"

"Via!" Aku mencoba mengambil kembali HP ku tapi Dia berjalan menjauh.

"Om Zam mau kesini??.. Ooh.. Jam berapa??... Aku boleh ikut???... Ok !!.. sampai besok, Bye!" Dia menutup Telponnya.

Tubuhku membeku dan menatap dengan Bodoh.

"Nich Kak!" Dia memberikan HP ku dengan santainya.

Aku melihat ke arahnya dengan rasa ingin tahu.

"Ooh.. Om Zam, besok akan menjemput Kita dan membawa Kita ke tempat Karantina untuk menunjukkan pekerjaan apa yang harus Kak Reya lakukan… Tempat Karantina di salah satu Hotel di Kota ini, karena Aku pikir Kakak akan merasa tidak Nyaman karena Kakak baru mengenal Om Zam, jadi Aku menawarkan diri untuk Menemani, Aku Baik kan!"

Aku tidak tahu harus merasa Bahagia atau Sedih, sekarang menolak pun sudah tidak memungkinkan.

Keesokan Harinya.

"Om Zam!!"

"Pagi!" Zam mengangguk padaku dan Aku mengangguk balik.

"Via, Bapak dan Ibumu sudah berangkat Kerja???"

"Ya Om, kalau begitu Aku akan menelepon mereka dulu untuk meminta ijin, tadinya Aku mau datang sebelum Mereka berangkat tapi ada sedikit Masalah!.. tunggu sebentar ya!"

Dia berbalik dan mengeluarkan HP nya, kemudian terlihat berbicara pada seseorang. Tidak lama Dia berbalik.

Kemudian HP Via berbunyi "Halo Pa !!... Iya Om Zam disini… Ga usah, Aku bareng satu mobil aja dengan Om Zam… Kak Reya, sebentar!"

"Kak !!... Papa mau ngomong!" Dia memberikan HP nya.

"Halo?!"

"Reya maaf ya, jika Kau keberatan Kau tidak perlu Pergi!.. tapi Om jamin, si Zam itu laki baik baik, Dia tidak akan berbuat buruk padamu"

"Ya Om, tidak apa apa kok !!"

"Baiklah, jangan sungkan telepon Om, kalau ada apa apa, apalagi kalau Via sama Kamu, Anak itu suka mencari masalah, Kau mengerti!"

"Ya Om, Saya akan jaga Via baik baik!"

"Baiklah, Hati hati di jalan!"

"Ya Om,Terima kasih!" Aku mengembalikan HP nya pada Via.

"Kalau begitu, Ayo Pergi!" Via terlihat bersemangat.

Via duduk di samping Zam yang menyetir dan Aku duduk di belakang.

"Om katanya, Om jadi pembimbing dari para siswa Binuvshi kan!"

"Ya!"

"Wah, jadi nanti Aku akan bisa bertemu mereka??"

"Kalau Kau ingin bertemu!"

"Tentu saja ingin sekali, Om ga tau ya, Ketenaran Murid bimbingan Om!"

"Emang Kamu tahu siapa aja yang jadi murid bimbingan Om??!"

"Haish… Om ini menghina !! Tentu saja… Juna maniak game dan loly, si Jenius yang di sebut sebut mirip *L* di Death Note… Lalu Benedict si Leader Kalem yang mirip Erwin Smith di Attack on Titans… kemudian di Rambut Merah Reihan, Bad boy Manis dan yang terakhir si Dirga… Kucing sweet yang kesepian!!"

Zam Tertawa dengan keras "Darimana Kau mendapat perbandingan seperti itu??"

"Dari Kak Reya!!"

Mataku melebar dan Tubuhku menegang, Aku tidak mengira bahwa omongan lalu tadi malam akan disampaikan oleh Via.

"Saat Aku menceritakan tentang siapa saja Murid bimbingan Om dan seperti apa mereka, Kak Reya mengatakan perbandingan ini!"

"Hmm, Menarik!"

Aku melihat Zam menatapku dari kaca Spion atas. Aku langsung mengalihkan mataku ketika pandangan Kami bertemu.

Untunglah setelah itu, perbincangan tidak dilanjutkan sampai Kami tiba di Hotel.

"Kita Sampai!" Via melihat ke arah Hotel.

Kami masuk dan Zam membuka pintu ke sebuah ruangan. Di dalamnya ada 5 anak laki laki dan seorang gadis serta laki laki songong sebelumnya. Pandangan Kami bertemu tapi Dia langsung membuang muka… Sebenarnya apa masalahnya sich…

"Tunggu sebentar!!" Zam mendekati laki laki itu.

"Halo!!"

Aku terkejut ketika melihat Via sudah bergabung dengan kumpulan siswa itu dan menyapa mereka dengan akrab. Dan mulai berbicara dengan mudahnya. Dan meninggalkanku berdiri dengan canggungnya di dekat pintu.

Aku melihat Zam dan laki laki itu berdebat kecil sebelum laki laki itu melihat ke arahku dan terlihat Kecewa. Dia kemudian berjalan ke arahku.

"Ayo ikut Aku!!" Dia memerintah dengan angkuh dan langsung berjalan keluar.

"Tunggu, Via!!" Aku melihat bolak balik ke punggungnya dan Via yang masih sibuk ngobrol.

"Biarkan saja Dia disana, hanya akan merepotkan kalau Dia ikut, Cepat!!"

"Eeh tapi!!" Aku melirik ke Zam dan Dia memberikan isyarat untuk meninggalkan Via dan mengikuti Laki laki itu. Aku sebenarnya enggan tapi mengangguk kemudian menyusulnya.

Kami berjalan dalam Diam, Aku memilih berjalan agak di belakang. Setelah beberapa saat, Dia membuka sebuah ruangan yang sepertinya telah disulap menjadi sebuah laboratorium kecil dengan meja panjang penuh tabung kaca.

"Disini kami biasa melakukan percobaan, beberapa penjelasan lebih mudah dilakukan dengan menggunakan praktek!"

"Kami menaruh perlengkapan disini!" Dia menunjum sebuah lemari kaca "Semuanya sudah ada labelnya, yang perlu Kau lakukan hanyalah mengambil apa yang dibutuhkan dan menaruhnya di meja itu, semua instruksi akan diberikan dengan jelas, jadi kecuali Kau tidak bisa membaca, Pekerjaan ini juga bisa dilakukan Anak TK!!"

Apa maksudnya… Kenapa Dia terlihat Marah… Karena Aku menolak pekerjaan ini… tapi kan Aku ga tahu kalau pekerjaannya seperti ini… dan Dia tidak perlu seketus itu… bawa bawa Anak TK segala… Menyebalkan

"Selain itu, Kau perlu memfotokopi semua bahan atau kertas ujian untuk Anak anak disini!!" Dia menunjuk mesin fotokopi di sudut ruangan.

"Jika perlu, walau itu amat sangat jarang, Kau perlu mengetikkan bahan pengajaran atau ujian, walaupun Kami tidak bisa menyerahkan tugas penting ini pada orang yang Tidak tahu apa apa !!... Hanya itu yang perlu Kau Lakukan, Gampang kan, Masa begini saja Tidak bisa, Anak TK juga bisa!!"

Sebenarnya ada hubungan apa sich Dia dengan Anak TK, daritadi disebut terus… jangan jangan Pedofil ya ???

"Kenapa Diam saja… Kau mengerti yang Aku jelaskan Kan???"

"Ya!" Aku menjawab singkat, males meladeni.

"Ada pertanyaan ??!"

'Kau ada masalah apa sich denganku… Kenapa Kau terlihat Membenciku ??!!!'

Rasanya ingin sekali Aku menanyakannya. Tapi ini bukan komik romantis. Membayangkan pertanyaan itu saja sudah membuatku merinding.

"Kalau begitu Kau akan mengambil Pekerjaan ini??"

Aku melihat ke arahnya karena Aku menangkap setitik penasaran di nada suaranya, tapi…

"Karena Aku tidak mau membuang waktuku untuk menjelaskan pada orang yang tidak Niat Kerja !!"

Aku benar benar Bodoh "40 hari ??"

"35 !!... Kau Terlambat Masuk!!"

Aku baru mendengarnya kemarin, memangnya itu salahku..

"Baiklah, Saya Terima!!" Aku tidak mau disamakan dengan Anak TK. Lagipula, ini bisa dijadikan pengalaman. Hanya Tugas Kecil… Ini Gampang… kan???

Yanjie POV

Aku merasa Lega ketika Dia datang bersama Pak Zam. Tapi ketika melihat tatapan kosong ketika Dia melihatku, Amarahku Meluap..

'Kenapa Hanya Aku yang mengingatnya… Kenapa bisa Dia bisa Lupa dan tidak mengenaliku !!'

Aku bahkan menyebutkan kata kata anak TK, tapi Dia sama sekali tidak menangkap maksudku… Menyebalkan

Malam harinya.

"Syukurlah akhirnya Dia mau bersedia menjadi asisten, Kau pasti Senang kan Jie??"

"Seharusnya begitu!" Aku menggumam

"Pak??"

"Hmm??"

"Apa saya banyak berubah??"

"Dibanding SMA mu dulu ???.. Orang bahkan akan berpikir Kau Operasi Plastik… Tidak akan ada yang mengenalimu lagi… apalagi jika Kau tidak menyebutkan nama Indonesiamu!"

"Benar… jadi sudah seharusnya jika Dia tidak mengenaliku… tidak seharusnya Aku merasa Kesal dan Marah"

"Kamu menggumamkan apa, Bapak tidak Dengar!"

"Anda tahu Pak, bahwa semua Makhluk bermutasi untuk bertahan hidup, begitu juga Manusia, Tapi, bagaimana bisa ada seseorang yang tidak berubah sejak Dia Kecil, Aku rasa Dia bisa masuk keajaiban Dunia!"

"Kau sedang membicarakan Siapa Jie???"

"Bukan siapa siapa!"

"Oh ya, ngomong ngomong, Reya itu Wanita yang Menarik, Aku rasa Dia memiliki sudut pandang yang Menarik!"

"Bapak Suka padanya??"

"Jangan mengatakan seakan Aku Jatuh Cinta padanya, Aku rasa Dia bisa menjadi pembimbing yang baik!"

"Tapi Bapak tidak pernah melihat Wanita sebelumnya, Karena itu Bapak masih Jomblo sampai Sekarang!"

"Tidak perlu mengungkapkan hal yang menyedihkan begitu, Aku mengatakannya dari sisi sesama Guru, Aku rasa Dia akan bisa membantu Kita membimbing Anak anak, itu saja!"

'Benarkah ???... Aku tidak pernah mendengar Pak Zam memuji seseorang seperti ini… apalagi yang baru saja Dia Temui… membawamu kemari… Hal yang Benar kan???'

Tunggu apa yang Kupikirkan… Aku membawanya Kemari untuk membuatnya Menyesal karena tidak mengenaliku… walaupun Aku Tahu itu bukan salahnya… Tunggu… Aacchh !!!... Aku menggaruk keras kepalaku dan mengacak acak rambutku.

"Hei Jie Kau tidak apa apa??!"

"Tidak!!" Aku Berbaring dan menyelimuti Tubuhku sampai Kepalaku.