Umbrella X Sword (OkiKagu Drabbles)
by Collaboration of Shiroyasha Shena & D.N.A. Girlz
Gintama by Sorachi-sensei
We just own this fic, the prompts are from the OkiKagu Event on LINE & FB. The disclaimer belongs back to its own.
Warning: Third chap—NEED SOME LOVE, CUTENESS, AND FLUFFINESS!
Pairing: Okita X Kagura 4EVER (+ Gintoki x Hijikata lil' Family as a side pair)
Rating: T+
Genre (this chapter): Romance/Comedy/Family
Asli dari pemikiran author. Jika iya, itu dikarenakan oleh ketidak sengajaan, mohon dimaklumi. Kalau ada typo, kritik dan saran, tolong bilang ya~
Long Live Gintama Fandom and be creative in any supporting way ^_^
Suka tapi mau review? Yah silahkan review x3
Suka tapi gak mau review? Silahkan Fav~ :D
Gak suka tapi mau review? Ampun jangan flame xC
DLDR! WDGAF LOL
Happy reading guys~
BGM for this Chapter: Boyfriend – On and On
.
.
.
Menyimpan perasaan kepada seseorang dalam jangka waktu yang sangat lama—Apa itu mudah?
Tentu saja tidak.
Itu sangat menyulitkan. Apalagi kalau orang yang kau sukai itu sangat dekat denganmu dan setiap hari bertemu.
Keadaan itu benar-benar persis seperti hubungan Kagura dan Sougo saat ini.
Mereka saling menyukai satu sama lain—tapi tidak ada yang berniat untuk mengungkapkan perasaannya terlebih dulu. Selain itu, mereka tidak tahu apakah pasangan yang mereka sukai itu memiliki perasaan yang sama atau tidak.
Bagaimana mau tahu? Setiap bertemu atau bertatap muka, mereka pasti langsung bertengkar.
Ya, hari ini juga kebiasaan itu terjadi lagi.
Kagura dan Sougo sedang bertarung hebat di tengah taman—tempat mereka pertama kali bertemu. Sougo; yang sebelumnya sedang tertidur pulas di bangku taman, diserang oleh Kagura yang tiba-tiba datang.
Gadis Yato tersebut menendang pemuda dengan kuat—bersama dengan bangku tamannya sekaligus. Alhasil, Kapten Divisi 1 Shinsengumi itu terlempar jauh dan badannya membentur pohon.
Sougo tidak terlalu ingat apa yang terjadi sesudah itu. Tapi, yang pasti mereka terus bertarung sampai sekarang.
"Haha, sayang sekali tidur siangmu terganggu, ya?" sahut Kagura yang terus menembaki Sougo dengan payungnya.
Sougo bisa menghindari itu semua dengan cepat. Dia berlari cepat—meraih kaki Kagura lalu melemparkan gadis itu ke tanah sekuat tenaga.
"Kau benar-benar melakukannya, China. Punggungku jadi terasa sakit."
Sougo tersenyum sadis sambil menginjak kaki Kagura. Sang empunya bukannya merasa sakit, dia malah ikut tersenyum dan langsung menarik Sougo ke tanah.
Kagura berpindah posisi menjadi di atas Sougo yang sudah terbaring di tanah.
"Kau tidak akan bisa mengalahkanku, Sadist."
Kagura bersiap untuk memukul wajah tampan Sougo, namun tiba tiba suara gemuruh terdengar jelas dari langit yang tepat diatas mereka.
Gadis itu mengurungkan niatnya—sejenak menatap langit yang seketika menjadi mendung dan awan abu-abu—hingga perlahan membentuk lingkaran.
Seperti portal raksasa...?
"Hei, Sadist. Kau tahu itu apa?" tanya Kagura kebingungan sambil terus menatap langit itu.
Sougo menghela nafas dan menyingkirkan Kagura dari atas tubuhnya. Pemuda sadis itu ikut menatap ke atas.
"Aku pun tidak tahu, China." jawabnya singkat.
Sougo memperhatikan ke sekelilingnya. Dia menemukan suatu hal yang aneh dengan keadaan di sekitar.
Langit yang mendung dan berbentuk portal hanya ada di atas mereka.
Aneh.
Kenapa? Padahal langit di tempat lain tetap berwarna biru muda dan cerah, pikirnya sambil mencari jawaban di kepalanya.
Aneh... Sungguh aneh.
Kagura berdiri dan mencengkram baju Sougo kuat. Dia mulai merasakan portal itu seperti menarik tubuhnya perlahan-lahan tapi pasti.
"Oi, China—Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku."
Sougo berusaha melepaskan cengkraman Kagura di bajunya, namun gadis Yato itu malah mencengkram bajunya lebih kuat dan memeluk Sougo.
"S-Sadist, aku bisa merasakan kalau portal ini akan menarik kita berdua. Ayo pergi dari sini-aru!" pekik Kagura pelan. Sougo yang mulai merasakan tarikan dari portal itu pun akhirnya menyetujui perkataan Kagura.
Mereka harus pergi dari tempat itu secepatnya.
"Kita akan berlari. Ayo pergi, China!"
Kagura mengangguk dan ikut berlari bersama Sougo.
Namun belum saja kedua orang itu keluar dari taman, tubuh mereka berdua sudah terangkat dari tanah.
Portal itu benar-benar menarik mereka berdua.
"A-Ah, apa ini? A-Aku tidak mau-aru! Jangan tarik aku!"
Kagura berusaha untuk turun ke bawah tapi tidak bisa. Tubuh mereka berdua semakin jauh jaraknya dari tanah.
Sougo menyadari bahwa mereka sudah tidak bisa kabur dari tempat itu.
Saat ini yang harus dia lakukan hanyalah pasrah dan melihat kemana portal ini akan membawa mereka pergi.
"Sudahlah, China—jangan berontak. Tenang saja." Sougo tersenyum tipis, memegang tangannya yang panik agar bisa menenangkannya—sekaligus agar tak terpisah.
Apapun yang terjadi, aku akan melindungimu, batin Sougo.
Kagura berhenti berontak dan akhirnya ikut pasrah bersama Sougo.
Semoga saja portal itu tidak membawa mereka ke tempat yang aneh.
SSSIIIIIIIIINNNNGGGGGGGG!
Portal itu menghilang tanpa jejak bersama dengan Sougo dan Kagura.
.
.
.
[Future, 5 years later...]
Portal waktu muncul sesaat dan menghilang lagi ketika sudah menjatuhkan Kagura dan Sougo ke tanah.
BRUUUKK!
Kagura terjatuh di atas tubuh Sougo, membuat sang empunya meringis kesakitan. Dia mendorong tubuh Kagura kasar.
"Sakit, dasar bodoh!" Kagura berteriak, namun Sougo menghiraukannya.
Dia berdiri, membersihkan baju seragamnya yang kotor lalu memperhatikan sekeliling.
Tempat yang tidak asing baginya.
Sougo berjalan meninggalkan Kagura yang masih mengomel tidak jelas. Dia terus memperhatikan sekitarnya dengan teliti.
Sougo sangat mengenal tempat ini. Meskipun ada yang berbeda sedikit, tapi dia yakin—
—bahwa ini adalah Edo.
"Oi, jangan meninggalkanku seperti itu-aru. Aku tidak tahu ini dimana." sahut Kagura yang muncul di belakang Sougo. Dia berjalan di samping pemuda itu sambil merengut.
Sougo melirik Kagura sekilas sebelum kembali fokus ke jalanan.
"Kau tidak menyadarinya? Sudah kuduga kau itu bodoh, China." ejek Sougo dengan senyuman liciknya.
"Apa kau bilang?! Kau mau aku membunuhmu sekarang juga—Huh..?"
Kagura terdiam ketika mereka berdua melewati jembatan yang sangat tidak asing di matanya.
Jembatan yang menjadi salah satu tempat favoritnya di Edo.
"Apa ini Edo?" tanyanya singkat.
"Kau baru menyadarinya? Kita memang di Edo. Tapi sepertinya ini bukan di waktu kita yang sebenarnya. Banyak yang sudah terlihat berubah."
Mendengar itu, Kagura berpikir sejenak.
"Hmm... Begitukah? Kalau begitu, ayo kita ke Yorozuya. Mungkin Gin-chan ada disana."
Kagura menarik tangan Sougo dan mengajaknya untuk berlari. Mau tidak mau—Sougo mengikuti keinginan gadis Yato kesayangannya tersebut.
Sesampainya di Yorozuya, Kagura mengetuk pintu yang ada di hadapannya keras.
"Gin-chaaaaaaaann! Kau ada di dalam?" teriak Kagura sambil terus mengetuk pintu.
Tidak ada respon.
"GIN-CHAAAAAAAAANNNN!" Kagura berteriak lebih keras dari sebelumnya.
Dia sudah membulatkan tekad—kalau masih tidak ada respon setelah ini, gadis Yato itu akan mendobrak pintunya dan menerobos masuk ke dalam.
"Yosh, 1... 2—"
SREEEEEEKKKK
Perlahan, pintu Shoji terbuka.
Namun yang membuka pintu bukanlah sosok samurai berambut perak yang dia maksud—melainkan dua anak kecil yang tidak dia kenal.
Kalau diperhatikan, mungkin umurnya sekitar 10 tahunan. Yang perempuan berambut perak panjang diurai, berponi V, dan memiliki manik biru kegelapan. Sedangkan yang laki-laki berambut hitam-keriting dan memiliki manik rubi terang.
Keduanya menatap anak-anak itu datar dan terdiam layaknya patung.
Entah kenapa, mereka merasa kalau anak-anak itu terlihat seperti orang yang mereka kenal.
Kedua anak kecil itu menatap Kagura dan Sougo dengan keheranan yang amat sangat. Mereka kebingungan.
"Yuu, kenapa Kagura-san mengecil?" gumam—yang masih bisa terdengar—saat anak perempuan berambut perak menyikut anak laki-laki di sampingnya—yang dia sebut sebagai Yuu.
"Aku pun tidak tahu, Yuki-neechan." jawab Yuu dengan polos dan bingung.
Dia maju mendekati tamu mereka dan memperhatikan wajah Sougo dan Kagura dari dekat.
"E-Eehh? Ap—Apa yang kau lakukan-aru?" ucap Kagura panik.
Apa yang sebenarnya terjadi? Mereka siapa?
Semua hal yang tidak masuk akal ini berputar di kepala Kagura. Dia mendadak pusing.
Melihat Kagura yang kewalahan, Sougo mendorong pelan Yuu agar menjauh dari gadis Yato yang panik tak ketulungan tersebut.
"Kalian siapa, bocah?" tanya Sougo dingin.
Kedua anak kecil itu menatap satu sama lain sebelum menjawab pertanyaan Sougo.
"Sougo-san melupakan kami berdua? Aku Yuu dan dia Yuki." kata Yuu sambil menunjuk Yuki dengan polosnya.
"Kami berdua anak dari Papa Gintoki dan Papi Toshirou." sambung Yuki dengan senyuman imut.
APA?! ANAK?!?! ITU TIDAK MUNGKIN!
"Hahaha... Jangan bercanda-aru. Toshi dan Gin-chan itu laki-laki kan? Tidak mungkin salah satu dari mereka hamil dan melahirkan kalian." bantah Kagura sambil menggelengkan kepala jingganya dan tertawa canggung.
"Ya, si China bodoh ini benar—Mungkin kalian anak dari perempuan yang dihamili Danna dan juga Hijikata-san." Sougo mengangguk penuh keyakinan dengan jawabannya sendiri.
Hanya itu 'kan jawaban yang masuk akal saat ini?
Namun sepertinya Dewi Fortuna berkata lain pada tebak-tebakan mereka.
Yuu dan Yuki merengut karena perkataan tamu mereka itu.
Dengan kesal Yuki berteriak dari arah pintu menuju ke dalam, "PAPAAAAAA! KAGURA-SAN DAN SOUGO-SAN MENGATAKAN HAL YANG ANEH!"
Langkah kaki samar-samar terdengar menuju ke arah keempat manusia yang ada disana.
"Ada apa, Yuki? Jangan berteriak seperti itu.."
Suara yang sangat mereka kenal dan familiar —terdengar dari dalam.
Sougo dan Kagura menatap satu sama lain, menunggu si pemilik suara itu keluar.
Tidak mungkin...
Tidak lama kemudian, bos Yorozuya ternyata keluar—sambil pose kegiatan menggali lubang hidung harta karun seperti biasanya.
"Sebenarnya ada apa sampai kau berteria—..." Dia sedikit terkejut melihat Kagura dan Sougo yang terlihat lebih muda dari seharusnya.
"Eehhh... Kagura, Okita-kun, kenapa kalian berdua mengecil, ha?" tanya Gintoki kebingungan sambil menghampiri dengan agak heran.
"Mengecil? Apa maksudmu Gin-chan/Danna?" jawab Kagura dan Sougo bersamaan.
Hal yang tidak mereka mengerti bertambah banyak. Sepertinya mereka harus banyak bertanya hari ini.
Gintoki yang menyadari sesuatu pun hanya bisa menghela nafas—menepuk jidatnya dengan tangan lain; terlihat baru sadar setelah berpikir akan sesuatu.
"Masuklah, aku akan menjelaskan semuanya."
Gintoki—samurai berambut perak itu masuk duluan ke dalam rumah, diikuti dengan Yuki yang masih kesal. Sementara Yuu yang masih ada di depan—menarik pelan tangan keduanya agar segera masuk.
Di dalam, Gintoki mulai menjelaskan semuanya—menjelaskan bahwa dunia yang mereka datangi adalah masa depan, menjelaskan siapa Yuu dan Yuki—dan juga bagaimana bisa Kagura dan Sougo dari masa lalu terlempar ke masa depan.
"Kakek tua itu sedang menguji coba alat baru yang dia buat beberapa waktu yang lalu. Dia terus-menerus mengoceh ingin membuat alat Time Travel—tapi aku tidak menyangka kalianlah yang akan datang kesini akibat uji coba alat itu. Pantas saja kalian tidak mengenal Yuu dan Yuki." jelas Gintoki sambil mengelus-ngelus kepala kedua anak yang di sampingnya.
Semua pertanyaan yang dipikirkan Sougo dan Kagura terjawab sudah.
Portal yang membawa mereka ternyata berasal dari alat Time Travel yang dibuat Gengai. Alat itu belum sempurna, jadi bukan Gengai lah yang datang ke masa lalu—melainkan mereka berdua yang terbawa ke masa depan.
"Jadi Gin-chan, bagaimana cara agar kita bisa kembali ke masa lalu?" tanya Kagura serius.
Gintoki mengangkat bahunya, tanda kalau dia tidak tahu apa-apa akan soal tetek bengek seperti ini.
"Danna, itu berarti kau sudah menikah dengan Hijikata-san 'kan? Dan bocah-bocah ini anak dari kalian berdua?"
Sougo menatap Yuu dan Yuki secara bergantian. Dia bisa memanfaatkan hal ini untuk mem-blackmailing Hijikata di masa lalu.
Itu pasti akan menyenangkan, pikirnya. Sougo menyeringai, tidak sabar ingin melihat ekspresi Hijikata. Sementara kedua anak kecil itu cuma menatap keheranan dalam diam.
"Jangan coba-coba kau mengancam diriku di masa lalu, Sougo."
Seseorang menyahut dari arah pintu dapur. Orang itu bersandar di pintu sambil menghisap rokok kesukaannya.
Semua orang di ruangan menoleh ke arah sumber suara.
"Ohh~ Hijikata-san—Ah maaf, sekarang kau sudah menjadi Sakata-san, heh?" Sougo tersenyum licik.
Perempatan siku-siku muncul di pelipis Hijikata. Kalau dirinya yang dulu pasti mungkin sudah menyerang Sougo langsung. Namun karena ada Yuu dan Yuki disana, Hijikata yang sekarang tidak akan melakukan itu.
"Cih, tidak menyenangkan." Sougo berdecih, tidak puas dengan reaksi Hijikata
Yang bersangkutan hanya tersenyum kecil dan mendekati Yuu dan Yuki. Anak-anaknya tersebut memeluk kaki Hijikata dan tertawa girang.
Melihat itu, Kagura menatap pemandangan itu dengan iri.
"Enak ya... Aku juga ingin memiliki anak seperti itu..." Kagura mengucapkan kata kata itu secara tidak sadar.
Sougo yang ada di sampingnya langsung menoleh dan menatap Kagura tidak percaya.
Kagura iri ingin memiliki anak?
"China, kenapa kau berkata seperti itu? Tak biasanya..." Sougo bertanya dengan sedikit gelisah.
Kenapa Kagura berpikiran seperti itu?Apa dia memiliki seseorang yang dia sukai dan ingin menikah dengan orang itu? Memiliki anak dari orang itu?
Tidak. Tidak mungkin. Sougo tidak akan mengijinkan hal itu terjadi.
Kagura itu miliknya.
"Eh? Memangnya aku berkata sesuatu?" Kagura bertanya balik dengan wajah tanpa dosa.
TWITCH
Sougo mendadak geram dalam hati juga hampir potek.
Dasar perempuan sialan! Berani-beraninya berekspresi seperti itu setelah membuatku panik, umpat Sougo dalam hati yang terjahili oleh perkataan polos Kagura.
Gintoki dan Hijikata terkekeh melihat pasangan bodoh yang ada di hadapan mereka sekarang ini.
"Sougo-san, dimana Souta-kun? Kau tidak mengajaknya?" sahut Yuki sambil mendekati Sougo.
Souta? Siapa?
"Souta? Siapa itu?" Sougo bertanya datar dan tak tahu—membuat Yuu dan Yuki menatapnya shock.
Anak-anak itu masih belum tahu, kalau Sougo dan Kagura yang ada di hadapan mereka saat ini bukanlah Sougo dan Kagura dari masa depan yang sering mereka temui.
"Eh? Ke-Kenapa mereka terlihat kaget seperti itu-aru? Hei, Souta itu siapa?"
Kali ini Kagura yang bertanya. Dia sama bingungnya dengan Sougo.
"Souta itu—"
"Kalian harus mencari tahu sendiri."
Gintoki sudah mau menjawab pertanyaan mereka namun Hijikata memotong perkataannya terlebih dahulu.
Yah, petunjuk untuk pertanyaannya tidak dapat deh.
Sougo dan Kagura menatap satu sama lain lalu mengangguk. Mereka akan mencari tau siapa itu Souta sekaligus mencari bagaimana cara untuk bisa kembali ke masa lalu.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Sougo dan Kagura berpamitan dan langsung pergi dari Yorozuya.
Setelah merasa mereka jauh, Gintoki menyeletuk, "Mereka pasti akan sangat terkejut ketika mengetahui Souta itu siapa."
"Iya.. Kau benar, Gintoki. Mereka akan segera tahu apa kebahagiaan mereka di masa depan."
.
.
.
Sougo terus mengelilingi kota tempat tinggalnya itu tanpa henti. Dia harus secepatnya menemukan petunjuk cara untuk kembali ke masa lalu agar dia bisa pulang ke tempat asalnya bersama Kagura.
Sougo dan Kagura lebih memilih untuk berpencar. Sougo mencari Gengai sedangkan Kagura akan mencari tahu siapa itu Souta.
Kerja sama yang bagus, bukan? Dengan begitu mereka bisa mendapatkan petunjuk lebih cepat.
Saat ini, Sougo sedang berjalan menelusuri sungai di pinggiran Edo. Dia berniat untuk beristirahat sebentar disana. Pemuda tersebut duduk di pinggiran sungai. Sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus, tak disengaja—dia melihat seorang perempuan cantik berambut jingga panjang diurai yang sedang bermain lempar bola tidak jauh dari tempatnya bersama anak kecil.
Kedua orang itu bermain dengan begitu riangnya, membuat sebuah senyuman tipis terukir di wajah Sougo.
Dia seperti China, pikir Sougo dalam hati ketima memperhatikan orang itu sekilas.
Sialnya, perempuan tersebut tidak sengaja melempar bolanya tepat ke arahnya.
BUAAKK!
Alhasil bola itu mengenai kepala Sougo lumayan keras, membuatnya terkapar sambil meringis di tanah pinggur sungai.
"Ah! Aduh, maafkan aku-aru. Aku tidak sengaja." sahut perempuan sambil berlari mendekati Sougo. Anak kecil yang bersamanya pun mengikutinya di belakang.
Sougo terdiam sejenak.
Ha? Aru?
"Uhm, apa kau baik baik saja? Aku benar-benar tidak sengaja—HWEEHH? SOUGO?!"
Perempuan itu terpekik kaget sampai berteriak karena tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya saat ini.
Sougo mendongak dan manik rubinya seketika membelalak.
"China...?"
Sougo menatap Kagura Dewasa dengan tatapan shock.
Apa Kagura akan secantik ini ketika sudah dewasa?
Tidak bisa dipercaya.
Anak kecil yang bersama Kagura tadi—bersembunyi di belakang kakinya sambil menggenggam bajunya kuat.
Kagura mengesampingkan keterkejutannya dan menggendong anak itu.
"Mama, itu Papa?" tanya anak kecil bersurai coklat pasir sama seperti Sougo dan memiliki manik safir seperti Kagura.
Dia mengelus kepala anak itu lembut lalu tersenyum. "Coba Souta tanya sendiri ke orangnya."
Kagura Dewasa menurunkan Soutarou ke bawah.
Perlahan anak kecil itu mendekati Sougo dan menatapnya dengan ekspresi menggemaskan.
"Papa?"
JLEB
Ucapan pelan anak kecil itu membuat jantung Sougo berdetak cepat.
Dia menatap balik mata anak itu dengan lembut, sebelum meraih tubuh mungil Soutarou dan menariknya ke dalam pelukan.
Tanpa bertanya pun, satu kesimpulan sudah muncul di kepala Sougo.
Ya. Ini dia buktinya.
"Kenapa kau ada disini, Sougo? Dan baju itu, rambut itu... Hmm... Kau datang dari masa lalu ya? Itu berarti kau belum mengutarakan perasaanmu kepadaku, hah? Dasar pengecut." kata Kagura dingin.
Dia memalingkan wajahnya ke arah lain, menghiraukan Sougo yang terkejut karena dikasih pertanyaan seperti itu.
"Diamlah, China. Aku membutuhkan waktu untuk mengutarakannya." Sougo menjawabnya datar juga karena malas membahasnya.
Dia hanya belum siap. Itu saja.
Pemuda itu berdiri menghadap Kagura sambil menggendong Soutarou. Tinggi mereka tidaklah jauh tapi Kagura masih kalah tinggi.
"Kau tahu, di dunia ini kau mengutarakannya sesudah perang bersama Utsuro berakhir. Lama sekali, bodoh. Apa kau pikir aku mau menunggunya lagi selama itu?" ujar Kagura kesal sambil mengambil Soutarou dari gendongan Sougo.
Yang bersangkutan hanya menunduk dan tidak merespon apapun.
Benar. Dia benar-benar pengecut.
Melihat responnya, Kagura menghela nafas panjang. Dia getok kepala pemuda sadis yang dia kenal lumayan keras—membuat dia meringis kesakitan.
"Tidak ada gunanya kau memikirkan dirimu yang pengecut. Aku tahu... Kau adalah dia—tapi disaat yang sama kau juga bukan dia. Pikirkanlah bagaimana untuk kau mengutarakan perasaanmu lebih awal, Sadist." Kagura tersenyum lembut padanya.
"Ayo ikut denganku ke rumah. Kau ingin melihat kebahagiaanmu di dunia ini 'kan?" sambungnya sambil berjalan duluan.
Aku tahu itu, baka China, ucapnya di dalam hati. Dia menatap kepergian Kagura beberapa belas langkah sebelum mengikutinya dari belakang.
.
.
.
Di sisi lain...
Kagura berlari kesana-kemari mencari petunjuk namun tidak menemukan apapun alias nihil. Dia sempat nyasar karena letak bangunan disana ada yang sudah berubah atau pun di ganti dengan bangunan baru.
Gadis Yato itu terengah-engah sambil bersandar di pagar kayu yang ada di belakangnya.
"Ah... Aku lelah-aru." gumamnya pelan sambil menoleh kesana kemari, mencari tempat untuk beristirahat.
Kagura berbalik dan menatap bangunan yang pagarnya tadi dia sandari. Tulisan "DOJO" terpampang jelas di depan pintu masuk halaman bangunan itu.
Dojo kah? Aku mungkin bisa beristirahat disini, pikirnya sebelum perlahan memasuki dojo itu sekaligus memperhatikan sekeliling—takut ada yang memergokinya karena asal masuk.
Beruntungnya, di Dojo itu sepi dan tidak terlihat ada satu pun orang pun yang berlatih disana.
Kagura berjalan lebih jauh ke dalam.
Sayup-sayup dia mendengar suara pedang kendo yang diayunkan.
Ada orang yang berlatih? Mungkin aku akan melihatnya, pikirnya.
Kagura mendekati suara itu dan mengintip ke dalam dojo lewat jendela. Terlihat disana ada lelaki tampan berambut panjang diikat sedang berlatih sendirian. Hakama bagian atas yang dia pakai dilepas,—seperti Gintoki, namun tidak sebelah dan tidak memakai baju lagi di dalam—memperlihatkan dadanya yang bidang.
Kagura terpesona dengan sosok lelaki itu. Dia ingin melihatnya lebih dekat.
Dengan keberanian dia mengintip lewat pintu.
Seakan tahu ada yang mengintip, pria tersebut berhenti mengayunkan pedang.
"Siapa disana? Keluarlah atau aku yang akan memotongmu." tanyanya dingin. Dia menyadari bahwa ada orang yang memperhatikannya.
Karena kaget, Kagura mundur beberapa langkah dan terjatuh ke lantai kayu.
"Aduh!.. Ugh, sakit..." ringisnya sambil mengusap-usap kepalanya yang sedikit terbentur. Dia tidak menyadari kalau lelaki tampan yang dia kagumi tadi berada di hadapannya sekarang.
"China?"
Matanya terbuka otomatis ketika mendengar suara familiar.
Huh? China?
Kagura mendongak, memperhatikan lelaki di hadapannya dengan detail. Warna rambut itu, manik rubi itu, suara itu...
SADIST?!
Kagura langsung berdiri dan menatap manik Sougo Dewasa dari dekat. Gadis Yato itu masih tidak bisa mempercayai fakta—kalau lelaki tampan di hadapannya itu adalah Sadist tercintanya.
"Kagura."
Panggilan santai itu bahkan berhasil membuat wajah Kagura memerah dan jantungnya berdegup kencang.
Dia mengakui kalau pemuda di hadapan itu Okita Sougo—yang bisa membuatnya menjadi tidak karuan seperti sekarang ini hanyalah dia; Okita Sougo.
Kagura mundur menjauhi Sougo Dewasa sambil menutup wajahnya yang tiba-tiba terasa panas.
Sougo Dewasa menyeringai kecil, ide jahat muncul di kepalanya.
Dia berjalan mendekati Kagura lalu mengurung pergerakannya dengan kedua tangannya ditempelkan ke tembok.
"China, kenapa kau mau berlari dariku, hm? Kau itu istriku 'kan?" bisik Sougo Dewasa dengan suara seduktif.
Sebenarnya dia sudah tau kalau Kagura yang ada di hadapannya saat ini adalah Kagura dari masa lalu—bukan Kagura istrinya. Tapi kalau dia tidak menggodanya, itu bukan seorang Okita Sougo 'kan?
"I-istrimu? Apa maksudmu-aru?" balas Kagura sambil memalingkan wajahnya ke arah lain dengan terbata-bata. Jantungnya berdegup kencang karena respon.
"Hmm~ Kejam sekali, China. Apa kau melupakan malam-malam kita bersama sampai kita menghasilkan anak, hah?"
Sougo Dewasa terus menggoda Kagura sambil terus memberikan bisikan-bisikan seduktif di dekat telinga.
"A-anak?! Ja-jangan berkhayal. Aku tidak mungkin mengandung anakmu!.."
"Kau melupakan Souta juga? Ibu yang kejam."
Sougo Dewasa tertawa kecil sebelum menjauh dari Kagura dan bersandar di tiang Dojo.
Kagura seketika mengingat pertanyaan Yuki kepada Sougo sewaktu mereka berada di Yorozuya.
Jadi Souta itu adalah anakku dengan si Sadistya, batin Kagura.
Dia menatap lurus manik rubi Sougo.
"Aku benar-benar menikah denganmu?" tanya Kagura datar.
Mendengar itu, Sougo menjawabnya dengan tawa sarkastik, sementara Kagura memiringkan kepalanya bingung.
Kenapa dia malah tertawa?
Kagura memperhatikan Sougo yang perlahan memakai Hakama atasannya lagi. Setelah bajunya rapih, dia mendekati Kagura dan mengangkatnya a la bridal style.
"UWAH! A-APA YANG KAU LAKUKAN, BODOH?! TURUNKAN AKU!" Kagura memberontak sambil memukuli dada Sougo Dewasa.
"Diamlah, China. Kau mau lihat anak kita 'kan? Aku akan membawamu ke rumah kita berdua." kata Sougo masih dengan suara yang menggoda.
Kagura mendadak terdiam—membenamkan wajahnya yang memerah di dada Sougo Dewasa yang bidang.
Aku membenci Sadist yang ini. Tetap sama sadisnya seperti sekarang, batin Kagura yang bergerumel.
Sougo terkekeh pelan dan membawa Kagura kecil ke rumah mereka di masa itu.
.
.
.
[Kediaman Okita...]
Sougo dan Kagura Dewasa sampai duluan dirumah itu. Sang Kapten Divisi Shinsengumi tersebut memperhatikan sekeliling rumah; mulai dari perabotan, letak ruangan, dan juga jejeran foto keluarga mereka. Semua foto ketika mereka masih berpacaran, menikah, sampai punya anak pun dipampang jelas di dinding ruang tamu.
Senyuman kecil terukir wajah Sougo saat melihat foto itu satu-persatu.
"Kenapa kau tersenyum-senyum sendiri seperti itu? Kimochi warui-aru." ujar Kagura datar.
Dia menurunkan Soutarou ke bawah dan langsung menuju dapur.
"Aku pikir orang itu akan segera pulang, tunggu saja." sambungnya sambil sedikit berteriak dari dapur. Kagura Dewasa membuatkan teh untuk Sougo dan susu untuk Soutarou. Di ruang tamu pemuda itu duduk sambil bermain dengan sang anak masa depan.
Tidak lama dari itu, Kagura dan Sougo Dewasa pun sampai disana.
"Aku pulang—!" Sougo Dewasa masuk, masih dalam posisi mengangkat Kagura a la bridal style.
Dia masuk ke ruang tamu dan terdiam ketika melihat dirinya yang masih muda.
Begitu dengan Sougo—terkejut melihat Kagura tercintanya digendong oleh lelaki lain—padahal sebenarnya dirinya tahu, bahwa itu adalah dirinya sendiri.
Aura hitam seketika mengelilingi Sougo.
Dia cemburu? Mungkin.
Meskipun itu rasanya bodoh karena lelaki yang menggendong Kagura saat ini adalah dirinya sendiri.
Ah, cinta memang buta.
Dengan cepat, Sougo mengeluarkan katana miliknya dan menodongkannya ke leher Sougo Dewasa.
"Jangan sentuh China." ucapnya dingin sambil menatap tajam Sougo Dewasa.
Yang bersangkutan hanya tersenyum simpul dan langsung menjatuhkan Kagura ke lantai tanpa tedeng aling-aling.
"Oke, sudah aku lepas."
"Arghh! Oi, sialan kau, Sadist!"
Kagura menarik rambut panjang Sougo Dewasa kuat. Alhasil sang empunya meringis kesakitan.
"Hentikan, kau China bodoh!" Sougo Dewasa berusaha melepaskan genggaman kuat Kagura dari rambutnya.
Kalian tahu kan bagaimana rasanya di jambak? Apalagi Kagura lah yang menjambak rambutnya.
Sakitnya tidak tertahankan.
Bisa rontok mendadak rambut febeles miliknya.
Selagi mereka bertiga ribut-ribut di ruang tamu, Kagura Dewasa membawakan minum untuk mereka semua dan menaruhnya di meja.
Dia dengan santainya duduk di sofa dan menghiraukan orang-orang yang sedang ribut itu.
"Mama, kenapa Mama dan Papa ada dua?" tanya Soutarou polos sambil duduk di pangkuan Kagura Dewasa.
"Ah, Souta masih kecil—tidak akan mengerti. Ayo. Minum susu saja, ya." Kagura Dewasa memberikan susu ke Soutarou lalu menoleh kepada mereka yang masih ribut.
"Hei, mau sampai kapan kalian seperti itu? Berhentilah dan duduk."
Seketika ketiga orang itu berhenti bertengkar dan mengikuti perkataan Kagura Dewasa.
Sougo Dewasa duduk di sebelah istrinya dan anaknya. Sedangkan Kagura dan Sougo yang masih muda duduk bersebelahan di sofa yang berhadapan dengan future-self mereka.
"Jadi, bisa jelaskan kenapa kalian berdua ada disini?" tanya Kagura Dewasa tanpa basa basi.
"Ah, Danna bilang kami terbawa kesini karena Gengai menguji coba alat buatannya yang berhubungan degan Time Travel. Kami berdua terbawa kesini karena alat itu belum sempurna." jawab Sougo seadanya.
Kenapa Sougo yang menjawabnya? Itu karena dari tadi Kagura hanya terus terdiam menatap Soutarou yang sedang meminum susu dari botol susunya.
"Oh... Begitu ya. Jadi kalian bertemu dengan Gintoki-san dan Toshi-san, hm?" Sougo Dewasa angkat bicara.
Dia mengambil teh di meja lalu menyeruputnya. "Berarti kalian sudah tau kalau dua orang itu menikah dan punya anak?"
"Ya, kami tahu. Aku tidak menyangkanya." Sougo memperhatikan Kagura yang masih terdiam menatap Soutarou.
Karena gemas, Sougo pun menepuk punggung Kagura pelan. "Kalau kau sebegitu penasarannya dengan Souta, jangan diam saja. Ajak dia bicara, dasar bodoh."
"Eh? Uhm, apa benar tidak apa-apa? Dia tidak akan menangis 'kan?" tanya Kagura ragu. Kagura Dewasa terkekeh dan berbisik ke Soutarou.
"Souta, dekatilah Mama yang disana." Kagura Dewasa menunjuk dirinya sendiri.
Soutarou mengangguk dan mendekati Kagura muda yang masih berbicara dengan Sougo.
"Mama." panggilnya dengan suara yang menggemaskan.
JLEB
Hatinya terpanah keimutan Soutarou—Kagura refleks langsung menoleh dan memeluk anak tersebut.
"Aaahhhh~~~ Kau lucu sekali-aru!~" Kagura menyatukan pipinya dengan pipi anak masa depannya itu. Dia terlihat sangat senang. Kedua Sougo hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.
"Terus, apa kalian sudah menemui Gengai? Kalau belum, kalian tinggallah disini sehari. Besok aku akan mengantarkan kalian berdua kesana."
"Dia benar, kalian tidurlah di kamar tamu. Eh—tapi, kamar tamunya hanya ada satu." celetuk Kagura Dewasa sedikit kebingungan.
"Atau kau tidur saja denganku, Kagu." lanjutnya sambil menatap dirinya yang muda.
"Aku tidak setuju. Malam ini aku ingin tetap tidur bersamamu, Kagura." sanggah Sougo dewasa dengan datar.
Wajah Kagura Dewasa tiba-tiba memerah.
"Apa yang kau katakan di depan mereka, bodoh?" Kagura Dewasa berbisik ke suaminya itu dan hanya di balas dengan seringaian kecil.
"Tidak usah, China akan tidur bersamaku."
Kali ini Kagura yang terkejut dengan pernyataan Sougo. Wajahnya ikut memerah sampai ke telinga.
"A-apa yang kau katakan, Sadist! Aku tidak mau tidur bersama—"
"Selain itu ada hal yang harus aku bicarakan berdua denganmu." potongnya sambil menatap serius kepada Kagura.
Pasangan suami istri di hadapan mereka itu hanya tersenyum kecil, mengetahui apa yang akan dibicarakan Sougo nanti. Kagura terdiam dan menunduk malu.
Malam itu, makan malam yang biasanya hanya terdiri dari tiga orang sekarang bertambah menjadi lima orang. Kagura dan Sougo masih saja terus bertengkar dan berebut makanan yang sama, sedangkan Kagura dan Sougo Dewasa hanya menatap mereka sambil tertawa. Mereka seperti melihat kilasan kenangannya secara langsung. Tidak lupa juga, Soutarou juga ikut mengganggu pertengkaran Papa dan Mama mudanya itu—membuat suasana menjadi ramai.
Setelah semuanya beres, Kagura dan Sougo masuk ke kamar tamu yang sudah disiapkan oleh future-self mereka. Dengan canggung mereka duduk saling membelakangi di kasur.
"Sadist." Kagura memulai pembicaraan.
Dia menunduk dan bersandar di punggung Sougo. "Apa yang mau kau bicarakan?"
Sougo membiarkan gadis yang disukainya itu bersandar di punggung dan mulai berbicara dengan lembut, "Apa yang kau rasakan ketika bertemu mereka—future-self—di dunia ini?"
"Ah... Aku tidak menyangka kalau aku dan kau sudah menikah di dunia ini. Mereka juga sudah memiliki Souta. Aku iri."
"Hmmm.. Kau ingin punya anak, hah?" goda Sougo.
Kagura memerah seketika.
"T-tentu saja setiap perempuan pasti ingin memiliki anak, dasar kau chihuahua bodoh!"
"Hmm... Begitukah?"
Sougo berbalik dan memeluk Kagura dari belakang. Dia membenamkan wajahnya di pundak Kagura. "Kalau begitu, jadilah milikku."
DEG
Pernyataan itu membuat Kagura langsung sport jantung.
"E-Ehh? A-Apa ma-maksudmu? Jangan bercanda, Sadist. S-selain itu, lepaskan aku." Kagura menjawab terbata-bata, wajahnya sudah sepenuhnya memerah, jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Dia merasa kalau suara detak jantungnya terdengar sangat jelas.
Sougo memeluk Kagura lebih erat. "Aku menyukaimu, Kagura."
Kagura terkejut—tidak menyangka kalau orang yang dicintainya selama ini akan mengutarakan perasaannya duluan.
Dia merasa bahagia sekaligus terharu.
Akhirnya...
Akhirnya mereka bisa bersama dan menjalin hubungan yang jelas.
Apa ini karena mereka datang ke masa depan?
Mungkin saja itu alasannya.
Kagura sangat berterimakasih kepada future-self mereka di dunia itu. Karena mereka berdualah, dirinya yang sekarang bisa bersama Sougo.
Kagura menyentuh lembut tangan Sougo yang memeluknya.
"Iya... Aku juga menyukaimu, Sougo." ucapnya dengan malu-malu kucing.
Sougo tersenyum tipis mendengarnya dan membalikkan badan Kagura.
Dengan lembut dia tangkup pipi Kagura dan menatap mata safirnya lurus.
"Aku akan melindungimu." Sougo mengecup sekilas dahi Kagura lalu memeluknya lagi.
Kagura tertawa kecil dan membalas pelukan Sougo.
Mereka berdua tiba-tiba merasa mengantuk dan akhirnya, pasangan itu tertidur dalam posisi sambil memeluk satu sama lain.
.
.
.
Keesokan harinya—seperti yang diduga. Kagura dan Sougo Dewasa menggoda diri mereka sendiri yang baru saja keluar dari kamar tamu. Wajah keduanya memerah dan tidak berani menatap satu sama lain.
Sougo Dewasa terus menghasut dirinya yang lebih muda, sedangkan Kagura dewasa memeluk dirinya yang lebih muda. Mereka berdua ikut senang akan perkembangan hubungan mereka berdua.
Setelah semuanya makan bersama dalam suasana yang bahagia, mereka pun bersiap-siap untuk pergi ke tempat Gengai.
Sebenarnya Sougo Dewasa kemarin malam mendatangi Gengai dan menanyakan apakah alatnya sudah benar apa belum.
Mekanis terhebat di Edo pun mengkonfirmasi bahwa alatnya sudah sepenuhnya sempurna dan bisa mengembalikan Kagura dan Sougo muda kapan pun.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, mereka berlima—bersama Soutarou—langsung pergi ke tempat Gengai.
.
.
.
[Tempat Gengai...]
"Ohh! Kalian sudah datang. Maafkan aku yang sudah tidak sengaja membawa kalian kemari." ucap Gengai ketika Kagura dan Sougo datang.
"Tidak apa apa. Tapi, benarkah alat buatanmu itu sudah sempurna?" tanya Sougo serius sambil memicingkan matanya curiga.
Kalau alatnya membuat mereka berpindah ke masa yang lain lagi, Sougo akan membunuhnya.
"Sudah sempurna. Tenang saja—Ah, kalian berbicaralah dulu dengan future-self kalian. Aku akan menyiapkan alatnya sebentar."
Sougo dan Kagura mengangguk lalu mendekati futur-self mereka.
Kagura memeluk dirinya yang dewasa erat. "Terimakasih sudah membantu kami-aru."
"Tidak usah berterimakasih, Kagu. Berbahagialah dengannya, ya." Kagura Dewasa mengelus punggung Kagura lembut.
Soutarou menarik baju Kagura pelan, menyuruh dia untuk berjongkok. Dia pun menuruti kemauan Soutarou.
"Ada apa Sou—"
CHU
Soutarou mencium pipi Kagura sekilas lalu tersenyum girang. Anaknya juga pasti ingin mengantar kedua orang tuanya dengan senyuman 'kan?
Kagura tertawa kecil dan memeluk Soutarou erat.
Kalau para perempuan berpamitan dengan saling memeluk, para laki-laki hanya terdiam dan bingung harus melakukan apa. Selain itu, laki-laki tidak harus berpelukan juga 'kan?
Cie yang gengsi.
Karena mereka hanya terdiam satu sama lain, Sougo Dewasa pun mengalah dan mendekati dirinya yang lebih muda. Dia tepuk kedua pundak Sougo keras.
"Jaga dia." ujarnya singkat.
"Tentu saja, aku akan menjaganya." balas Sougo dengan senyuman percaya diri.
Beberapa menit kemudian, Gengai memanggil mereka dan menyuruh mereka berdua berdiri di lingkaran yang terbentuk di tanah. Kagura dan Sougo menuruti perintah Gengai dan berdiri di tengah lingkaran tersebut.
Seketika badan mereka bersinar dan mulai menghilang perlahan-lahan.
Kagura melambaikan tangan ke future-self mereka yang sudah berbahagia.
Sougo tersenyum dan merangkul kekasihnya itu sebelum menghilang dan kembali ke masa mereka sendiri.
Mungkin ini memang perpisahan dengan diri mereka di masa depan.
Tapi hubungan mereka baru saja dimulai, bukan?
Selama ikatan yang mereka miliki sangat kuat terhadap satu sama lain—sehingga mereka berdua pasti akan meraih masa depan yang berbahagia—sama seperti diri mereka di masa depan.
Mereka berdua yakin akan masa depan cerah yang menunggu mereka.
.
.
.
- END-
.
[BONUS CHAPTER]
.
.
.
Malam ketika Sougo dan Kagura menyatakan perasaan satu sama lain, future-self mereka sebenarnya menguping semua pembicaraannya dan mengambil foto mereka berdua yang sedang tertidur dalam posisi saling peluk.
Foto itu mereka cetak dan dipajang di samping foto-foto kebahagiaan mereka yang lainnya.
.
.
.
-REAL END-
Thank you for reading~
===D.N.A. Girlz===
HAAIIIIIII Ketemu lagi dengan saya, DNAgirlz alias Shinju.
Kali ini mengenai tentang 5YL mereka alias ketika mereka udah pada panjang dan maju wkwkwk
Rasanya sangat membuat kita campur aduk #apaan sich ANYWAY~ untuk prompt kali ini adalah future style dan maka dari itu saya dan Shena membuatnya menjadi tema portal-portalan—tapi bukan portal gang ya lol
Untuk kali ini, ada tiga anak kecil yang berhamburan sebagai figuran dan semoga menambah keimutan di chapter wkwkwk
Oke, sekian sich dari itu karena ini pendek sekali AN nya dan saya tak tahu harus ngomong apa wwww yang jelas berterima kasih pada semuanya yang mendukung kami sampai update ini cerita hingga selesai nanti.
Nantikan chap keempat alias Bad Pick-up Lines ya!~
Thanks for all of your supports and advices for both of us!~
Dan untuk yang baca, LOVE YOU FULL!~~~
Regards,
D.N.A. Girlz
.
.
.
===Shiroyasha Shena===
Hollaaaaaaaa Shena desu~~~~
Aku dan Shinju kembali membawa ff OkiKagu Week Day 3 dengan Prompt Future, 5 Years Later.
Apa kalian tau Parallel Worlds? Nah ini bisa dibilang masa depan OkiKagu di dunia Parallel. Tanpa ada penyakit Wabah Putih itu seperti di Movie 2 Gintama Eien ni Nare.
DAN TENTU SAJA GIN-CHAN 5YL MASIH HIDUP DISINI...
Dia malah sudah berbahagia dengan Hijikata nya tercinta...
Disini aku dan Shinju membuat Kagura dan Sougo sudah memiliki satu anak, namanya Okita Soutarou.
Kalau kalian bertanya tanya kapan Kagura mengandung Souta? Karena Kagura dewasa berumur 19 tahun dan Souta dua tahun, Jadi dia hamil sewaktu umur 17 tahun. Muda banget ya? Biarlah... Salahkan Sougo yang sudah membenamkan benihnya di rahim Kagura... /slap
Untuk Yuu dan Yuki, mereka sebenarnya OC punyaku di ff M-PREG GINHIJI yang aku publish di Wattpad...
Reader pecinta GinHiji mampir ya dan baca~~~~
Nama username nya 'sakatashenachan' *ko malah promosi ya?
Buat reader yang nanyain kapan ff nya publish lagi, MAKASIH BANGET LHO YA... AAAAAHHH LOVE YOU...
Buat yang sudah review juga THANK YOU VERY MUCH!
Aku dan Shinju akan berusaha lagi buat mengetik OkiKagu Week hari selanjutnya...
Jangan lupa buat review ff kami hari ini ya~~~~
Kalau begitu, sampai bertemu lagi besok~~~~~
SHINJU! GANBARU ZOOOOOOO!
.
.
.
JANGAN LUPA REVIEW YAK BUAT KRISAR~ THANKS!~
Love,
Shena & Shinju
