Umbrella X Sword (OkiKagu Drabbles)by Collaboration of Shiroyasha Shena & D.N.A. Girlz

Gintama by Sorachi-sensei

We just own this fic, the prompts are from the OkiKagu Event on LINE & FB. The disclaimer belongs back to its own.

Warning: Fifth chap—NEED SOME LOVE, ANGST, TISSUES FOR REUNION!

Pairing: Okita X Kagura 4EVER (+ Tsukuyo as the side charas)

Rating: T+

Genre (this chapter): Romance/Sci-fi/Angst/Happy End

Asli dari pemikiran author. Jika iya, itu dikarenakan oleh ketidak sengajaan, mohon dimaklumi. Kalau ada typo, kritik dan saran, tolong bilang ya~

Long Live Gintama Fandom and be creative in any supporting way ^_^

Suka tapi mau review? Yah silahkan review x3

Suka tapi gak mau review? Silahkan Fav~ :D

Gak suka tapi mau review? Ampun jangan flame xC

DLDR! WDGAF LOL

Happy reading guys~


BGM for this Chapter: Westlife & Delta Goodrem – All Out Of Love

.

.

.

Jarak selalu dipermasalahkan sebagai pengganggu dalam suatu hubungan.

Tetapi belum tentu semua orang menganggapnya seperti itu.

Banyak orang yang menganggap kalau jarak itu diperlukan, bahkan ada juga yang berpikir bahwa jarak malah memperkuat hubungan mereka.

Tapi pasangan kita yang satu ini menganggap jarak sebagai suatu akar permasalahan yang sangat besar efek sampingnya.

Padahal jarak bukanlah masalah asalkan cinta, bukan?

Ehem

Pasangan yang sangat kita cintai—Hm? Kau bertanya siapa?

Tentu saja Okita Sougo dan Kagura.

Dua sejoli ini sudah terpisah oleh jarak yang berjuta-juta mil jauhnya. Sougo di Bumi, sedangkan Kagura terus berpindah planet. Selama dua tahun mereka tidak bertemu karena keduanya sedang menjalani ambisi mereka masing-masing.

Kenapa mereka berpisah? Mereka berpisah karena suatu alasan.

Dua tahun yang lalu, Umibozu—ayah botak Kagura—tiba tiba datang ke Yorozuya dan meminta Kagura untuk ikut bersamanya ke luar angkasa. Umibozu ingin anak gadisnya itu membantu pekerjaannya sebagai pembasmi monster—sekaligus melatih kekuatan Yato Kagura agar stabil. Karena waktu itu Kagura hanya berpikir bagaimana caranya dia menjadi lebih kuat, dia terima ajakan ayahnya itu.

Meskipun berat karena harus meninggalkan semua orang yang dia kenal di Bumi, dia harus tetap melakukannya.

Bagaimana dengan Okita Sougo?

Apa Kagura sanggup meninggalkan orang yang dia sukai selama di Bumi?

Tidak. Dia tidak sanggup.

Karena tidak mau perasaannya menghalangi tekadnya—pada hari itu juga, Kagura tidak berpamitan dengan Sougo dan langsung pergi meninggalkan Edo bersama ayahnya.

Kalau dua tahun yang lalu penampilan Kagura masih terlihat seperti anak kecil, kini penampilannya berubah sangat drastis—cukup untuk membuat orang-orang di Edo tidak mengenalnya.

Bagaimana tidak? Kagura yang sekarang memiliki tubuh tinggi dan juga ramping, buah dadanya sudah tumbuh—terbilang cukup besar untuk gadis yang masih berumur 16 tahun. Rambut jingganya dia gulung keatas dari kedua sisi dan ditutupi oleh hiasan rambut kain sutra khas Cina. Dia sisakan rambutnya sedikit terurai ke bawah agar terlihat lebih cocok dengan wajahnya yang terlihat dewasa.

Baju orientalnya dia modif sendiri—atasannya pendek berwarna merah hanya sampai bawah dada, memperlihatkan tubuhnya yang seksi. Bawahannya sebuah rok sintal panjang potongan samping hingga paha atas, dengan pinggir jahitan warna oriental merah dan emas—ditegaskan oleh ikat pinggang hitam yang melingkari pinggang rampingnya. Tetapi semua itu akan tertutup kalau Kagura memakai jubah miliknya yang panjang sampai kaki.

Kagura sudah menjelajahi banyak sekali planet bersama Umibozu, sementara kekuatan Yatonya juga sudah dapat dia kontrol sepenuhnya—bahkan musuh-musuh mereka takut karena Kagura bisa menghabisi mereka dalam sekejap.

Sungguh pertumbuhan yang sangat mengerikan.

Saat ini, Kagura sedang berada di kapal yang mau menuju ke Bumi. Karena rasa rindu yang dia rasakan semakin besar, Kagura meminta ijin kepada ayah botaknya itu untuk membiarkan dia mengunjungi keluarganya di Bumi.

Dan Umibozu mengijinkannya.

Bagaimana keadaan Gintoki dan Shinpachi sekarang?

Apa mereka baik baik saja?

Bagaimana dengan Sadist? Apakah dia merindukannya?

Bagaimana reaksinya nanti jika bertemu dengannya?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepala jingganya. Tidak lama lagi, Kagura akan bertemu kembali dengan mereka semua.

Wajah pangeran Sadist yang selalu mengganggunya dulu—tiba-tiba terpintas di kepalanya. Semburat merah muncul di wajah cantik Kagura.

Aku merindukanmu, Sadist; ucapnya dalam hati. Senyuman kecil terbentuk di bibirnya.

Hanya beberapa jam lagi dia akan sampai di Planet Biru yang sangat dia cintai.


.

.

.

[Kekaisaran Shinsengumi…]

"Bakaisar, pasukan Joui masih terus membuat masalah."

Salah satu anggota Shinsengumi sambil berlutut di depan orang yang dia sebut sebagai Bakaisar.

"Siapa yang kau sebut sebagai Bakaisar, ha?"

Orang yang duduk di tahta tersebut menghela nafas panjang lalu menatap bawahannya dengan serius. "Siapkan pasukan dan serang mereka semua. Kalian harus menangkap Joui Roushi itu dan bawa mereka ke hadapanku."

"Baiklah, sesuai dengan perintah Kaisar Sougo Do-S Okita III." Semua anggota Shinsengumi membungkuk menghadap Sougo dan mengucapkan kata-kata itu dengan tegas.

"Aku akan memimpin penyerangan. Permisi." Hijikata Toshirou; sang tangan kanannya Sougo—menyahut dan mulai bergerak—langsung pergi meninggalkan markas Shinsengumi—yang sekarang adalah Kekaisaran Shinsengumi—untuk melaksanakan tugas mereka.

Semenjak Kondo mengundurkan diri sebagai komandan Shinsengumi dan menikah dengan Otae, Sougo lah yang mengambil alih semuanya. Dia terus menjalankan tugas Shinsengumi dengan berbagai cara.

Sougo akan melakukan apapundemi mempertahankan Shinsengumi yang sangat dia cintai, dan entah sejak kapan—dia mulai dipanggil sebagai Kaisar Sougo Do-S Okita III. Markas Shinsengumi pun perlahan berubah menjadi kastil besar yang sekarang disebut sebagai Kekaisaran Shinsengumi.

Usaha Sougo membuahkan hasil yang sangat memuaskan, bukan?

Tetapi dia merasakan ada sesuatu yang kurang di hidupnya.

Sougo yang seharusnya merasa bahagia—kini malah sering melamun. Tatapan matanya sekarang menjadi kosong dan tidak bersemangat, hidupnya terasa hampa dan juga sepi.

Alasannya? Mudah saja.

Itu karena Kondo Isao; komandan yang sangat dia hormati—lebih memilih untuk meninggalkan Shinsengumi dan menikah dengan orang yang dia cintai.

Tetapi, itu bukanlah alasan yang sangat mempengaruhi Sougo.

Alasan terbesar yang membuat dia jadi seperti ini adalah kepergian Kagura 2 tahun yang lalu.

Tanpa berkata apapun, China yang sangat dia cintai itu pergi meninggalkannya begitu saja.

Siapa yang tidak kesal dan jengkel?

Hari itu, Sougo sudah membulatkan tekad akan mengutarakan perasaannya ke Kagura. Dia sengaja datang ke Yorozuya untuk mengajak Kagura makan ke suatu tempat—

—tetapi yang menyambutnya saat itu bukanlah kebahagiaan, melainkan kesedihan yang amat sangat dalam.

Tubuh tegapnya seketika membeku ketika Gintoki memberitahunya bahwa Kagura sudah tidak ada di sana.

Ditinggalkan oleh orang yang sangat dia cintai—Itu sangat menyakitkan...

Selama dua tahun ini, Sougo sudah berusaha untuk melupakan segala hal tentang Kagura.

Kesehariannya bersama gadis Yato itu, pertarungannya yang selalu berakhir imbang, momen saling mengejek satu sama lain, dan juga perdebatan yang sangat tidak masuk akal.

Sougo ingin menganggap semua hal itu sebagai ilusi semata—namun, ia tidak bisa.

Waktu yang dia habiskan bersama Kagura terlalu manis untuk dilupakan.

Kayak nama lagu. Cieee

Kau dimana sekarang, China?

Batin Sougo beranya setiap kali memikirkannya.

Pemuda itu menopang dagu dengan satu tangan sambil menatap ruangan kosong tersebut dengan muka lempeng.

Dia bosan. Dirinya lelah menjalani hidup seperti ini.

Dengan malasnya dan bete, Sougo beranjak dari tempat duduk kekaisarannya dan berjalan keluar marka—maksudnya, kastil Kekaisaran Shinsengumi.

Pemuda tersebut pergi menuju salah satu tempat yang menjadi tempat favoritnya bersama Kagura—dalam hati masih berharap, kalau gadis Yato yang sangat menyebalkan itu menunggunya disana—dengan senyuman bodoh yang selalu ia lemparkan pada Sougo.

Ya, dia diam-diam berharap untuk suatu keajaiban akan terjadi.


.

.

.

[Yoshiwara…]

Kagura sudah sampai di Bumi sekitar dua jam yang lalu.

Ketika dia menginjakkan kakinya di terminal Edo, pikirannya langsung tertuju untuk menemui Gintoki dan Shinpachi secepatnya. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Kagura berlari secepat mungkin ke Yorozuya.

Dengan sambutan hangat, Gintoki dan Shinpachi menerima kembali Kagura disana.

"Kagura!~~~ Gin-san kangen denganmu!" ucapnya sambil memeluk Kagura yang dengan senanga hati memeluk balik.

"Aku kangen kalian semua! Gimana kabar kalian?" Kagura menatap mereka berdua dnegan senang.

"Kami baik-baik saja kok—dan lihatlah, kau jadi tambah hebat!" Shimpachi berujar bangga, membuat Gintoki memperhatikan tubuhnya dengan kaget.

"Wah iya! Ugh-.. Hidungku!"

"EHH?! Gin-san!"

Mendadak Gintoki pingsan karena pemandangan yang diberikan, membuat Shinpachi kelabakan untuk menolongnya.

"Ya sudah, aku akan keliling dulu. Dah~"

Selagi Gintoki ditolong Shinpachi karena tidak sadarkan diri, Kagura berkeliling untuk bertemu dengan orang-orang yang dekat dengannya dulu. Mulai dari Otae, Puteri Soyo, Sacchan, dan yang lainnya.

Sekarang dia sedang mengelilingi Yoshiwara bersama Tsukuyo.

"Tsukki, disini tidak berubah sama sekali ya." ucap Kagura sambil menoleh melihat ke sekitar.

"Yoshiwara memang selalu seperti 'kan? Yang berubah itu kau, Kagura. Lihatlah penampilanmu sekarang."

Tsukuyo memperhatikan Kagura dari atas kebawah. Gadis Yato itu sudah tidak memakai jubah perjalanannya sehingga badannya yang ramping dan seksi itu terekspos.

"Perubahanmu drastis sekali." ceplosnya sambil menghisap kisaru.

"Hehe… Kau tidak menyangkanya juga, Tsukki? Gin-chan dan Shinpachi sampai pingsan tadi-aru." jawab Kagura terkekeh.

Tsukuyo ikut tersenyum sambil mengelus kepala Kagura lembut.

"Kagura, kau mau bekerja di Yoshiwara? Dengan penampilanmu yang sekarang, aku yakin kau akan mendapat banyak pengunjung." ujar Tsukuyo tiba-tiba.

Kagura gelagapan dibuatnya.

"A-Apa yang kau katakana, Tsukki? Aku tidak mungkin bekerja disini! Hahaha..." Kagura tertawa garing sebagai respon.

Dia tidak akan bisa kerja di Yoshiwara dan melayani pengunjung. Selain itu, satu-satunya orang yang boleh melihat tubuhnya hanyalah—

"Biar aku menebaknya. Kau menyukai seseorang, hm?"

DEG

Perkataan wanita itu membuat pikiran Kagura buyar. Wajahnya seketika memerah, menunjukkan kalau tebakan yang dilontarkan Tsukuyo itu tepat adanya.

Tsukuyo terkekeh melihat reaksi sang gadis yang masih polos. Masih seperti yang dulu.

"Bocah Shinsengumi itukah?" tebak Tsukuyo sekali lagi.

Kagura berhenti berjalan dan menunduk malu, tak mau terlihat.

"T-Tsukki, tolong jangan menggodaku-aru." gumam Kagura pelan.

Tsukuyo cuma bisa tersenyum tipis dan menepuk pelan punggungnya.

"Kau tahu, Kagura. Bocah itu sekarang dipanggil sebagai Kaisar Sougo Do-S Okita III."

Kagura mengangkat kepalanya, menatap Tsukuyo heran sekaligus bingung.

HAH?

"Eh? Apa itu? Kenapa dia dipanggil seperti itu?" Kagura bertanya sambil memiringkan kepalanya.

"Kau belum lihat Shinsengumi yang sekarang, ya? Shinsengumi—sudah berubah menjadi Kekaisaran Shinsengumi. Semenjak Gorila itu menikah dengan Otae, bocah itulah yang mengambil alih posisinya."

"Pfft—… Pangeran Sadist itu menjadi pemimpin Shinsengumi? Hahahahaha… Itu lelucon yang sangat lucu-aru."

Kagura tertawa terbahak-bahak. Dia tidak bisa berhenti tertawa sampai air mata muncul di ujung matanya lalu menghapusnya.

"Ha.. Haa... Perutku sakit-aru."

"Tapi Kagura, Gintoki pernah bilang kepadaku kalau bocah itu sangat tersentak ketika tahu kalau kau pergi dari Edo tanpa berpamitan dengannya."

Sahutan Tsukuyo yang serius tersebut—membuat Kagura yang tadinya tertawa—langsung berhenti dan menatap lurus mata sang wanita bercerutu tersebut.

"Benarkah itu, Tsukki?" tanyanya.

Rasa bersalah tiba-tiba dirasakan Kagura.

Aku harus meminta maaf kepada Sadist-aru, pikirnya.

"Temuilah dia, Kagura."

Tsukuyo tersenyum dan memberi pukulan pelan di punggung Kagura.

Gadis Yato itu mengangguk pelan.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Kagura langsung berlari mencari Sougo ke salah satu tempat yang selalu menjadi tempat pertemuan mereka berdua.


.

.

.

[Jembatan…]

Sougo menatap aliran sungai dengan tatapan datar dan kosong.

Harapanku untuk bertemu dengannya tidak mungkin terwujud 'kan?

Itulah saat ini yang dipikirkannya.

Dia sedikit kecewa ketika sampai di jembatan itu, dan seperti yang diduga—tidak melihat sosok Kagura dimana pun.

"Hhh… Keajaiban itu tidak akan muncul begitu saja, bukan?" gumam Sougo pelan.

Dia terus menatap aliran air sungai sampai merasakan seseorang berdiri di belakangnya. Pasti hanyalah anak buahnya saja yang melapor.

Sougo dengan malas berbalik—

Sebelum manik rubinya seketika membesar, ketika melihat sesosok perempuan yang dicintainya ada di hadapannya.

Ya. Di ujung jembatan satu lagi, ternyata ada Kagura yang baru saja sampai setelh berpeluh karena berlari.

Kagura terengah-engah setelah berkeliling ke semua tempat pertemuan dia bersama Sougo—namun ia tidak menemukan pangeran Sadist itu disana.

Jembatan ini adalah tempat terakhir yang belum dia datangi—

—dan benar saja, Sougo ada disitu.

"S-Sadist…"

DEG

Tidak mungkin.

Ini bukan halusinasi, bukan?

"…China..?"

Sougo serasa tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya saat ini.

Dia memperhatikan Kagura dari atas sampai bawah. Pakaiannya berbeda dari biasanya.

Dan matanya itu…

Dia benar-benar China, kan?

Pikirannya mulai ragu. Dia terus menatap Kagura sampai yakin kalau perempuan yang ada di hadapannya saat ini adalah Kagura yang dia kenal.

Ketika nafasnya sudah kembali teratur, Kagura menatap manik rubi Sougo dengan langsung dan lekat dari jauh.

"S-Sadist.. A-apa kabarmu?" ucapnya terbata-bata.

Dia tidak tahu harus berbicara apa, serasa canggung karena menyadari bahwa dirinya sudah pernah pergi dari Edo tanpa berpamitan dengan Sougo—dan itu semua salahnya.

Kaisar Shinsengumi itu hanya terdiam, tidak merespon. Dia menatap kosong Kagura.

Mendadak, yang bersangkutan merasa kesal.

Benar-benar kesal.

Kalian tahu 'kan kalau laki-laki kalau sudah kesal akan seperti apa?

Tanpa berbicara apapun, Sougo berbalik dan bersiap untuk pergi—mencoba berjalan ke arah lain untuk meninggalkan Kagura.

"T-tunggu, Sadist! Jangan pergi.."

Kagura menarik jubah yang dipakai Sougo. Pemuda Sadist itu berhenti berjalan dan menoleh ke Kagura dengan tatapan yang lebih dingin dari sebelumnya.

DEG

Tubuh Kagura mendadak bergetar. Baru kali ini seorang Okita Sougo menatapnya sedingin itu.

Dia cengkram jubah Sougo lebih keras karena takut. Kagura menunduk—tidak berani untuk melihat tatapan itu lagi.

Sougo yang bertambah emosi—menarik jubahnya kasar dari cengkraman Kagura.

Dia menghiraukan gadis Yato itu yang badannya sedikit bergetar dan mau pergi meninggalkannya lagi.

Cih, untuk apa aku takut, batin Kagura yang ikutan kesal.

Gadis Yato itu mendongak—dengan gesit menarik jubah Sougo kuat lalu melemparkannya ke sungai di bawah jembatan.

BYUURR!

Kaisar Shinsengumi seketika menjadi basah kuyup disekujur tubuh.

Kagura melompat dari jembatan dan berdiri di hadapan Sougo—yang masih terbaring karena dilempar tadi.

Manik rubi Sougo menatap sinis manik safir Kagura.

Cukup sudah.

Sougo berdiri perlahan smabil membersihkan diri. "Apa maumu, China? Aku tidak ada urusan denganmu." ucap Sougo dingin.

DEG

Eh…?

Kagura terhenyak—tidak menyangka Sougo akan berkata seperti itu.

Mendengarnya saja sudah cukup membuat relung dadanya sesak.

Cukup sudah untuk ini.

Kagura menodongkan payung miliknya ke kepala Sougo.

"Bertarunglah denganku, Sadist." tantang Kagura dengan raut wajah menantang.

Sougo tersenyum paksa, menyingkirkan payung Kagura yang di arahkan kepadanya. Dia tidak ada niat untuk bertarung dengannya untuk saat ini.

Dia tidak ingin meluapkan emosinya—karena kalau dia luapkan emosinya saat itu juga, bisa-bisa Sougo tidak bisa mengontrol dirinya dan malah menyiksa Kagura.

Sougo berdiri menghadap Kagura dan menatapnya dingin.

"Aku sudah bilang, bukan—aku tidak ada urusan denganmu lagi." katanya penuh dengan tekanan.

Sougo berjalan melewati Kagura, tidak mau berkata apa apa lagi.

"PENGECUT! KAU PENGECUT, SADIST!" teriak Kagura penuh dengan emosi.

Tanpa tedeng aling-aling, sang gadis berbalik badan dan ia tendang keras punggung Sougo yang membelakanginya. Alhasil Sougo tersungkur ke sungai.

Dia bangkit lalu berbalik menatap Kagura.

Habis sudah. Sougo tidak bisa menahan emosinya lebih lama lagi.

"Apa yang kau lakukan, perempuan sialan!" bentak Sougo sambil mengeluarkan katana dari sarungnya.

Dia berlari mendekati Kagura dan mengayunkan katananya dengan cepat ke arah wajah Kagura.

Gadis Yato itu bisa menghidarinya namun sedikit telat, sehingga goresan kecil muncul di pipi kirinya.

"Oi, jangan merusak wajah cantikku-aru."

Kagura menarik tangan Sougo dan melemparkan pemuda tampan itu ke tembok pinggir sungai.

Sougo terbentur tembok itu dengan keras.

Cih, aku tidak menyukai ini, batin Sougo.

Dia terjang lagi Kagura dengan tendangan tepat di kakinya, membuat gadis Yato itu kehilangan keseimbangannya.

Tanpa memberi Kagura jeda untuk menyerang balik, Sougo membuat Kagura terjatuh—lalu menodongkan katananya ke leher sang gadis.

Sang pemuda terengah-engah pelan, mata melotot menahan emosi.

"Untuk apa kau kembali, ha?! Bukannya kau senang pergi dari Edo?!" tanya Sougo emosi. Tatapannya penuh dengan amarah.

Namun Kagura hanya tersenyum kecil, menggenggam katana Sougo dengan tangan kosong.

"Kenapa kau marah seperti itu-aru? Apa kau sedih karena ditinggalkan satu-satunya rivalmu ini? Atau sedih karena aku pergi meninggalkanmu selama dua tahun?"

Kagura tersenyum jahat—menarik tangan Sougo dan membantingnya ke dasar sungai.

SPLASHH!

"Ugh!.. Sial…" Sougo meringis, merasakan sakit yang menjalas di punggungnya.

"Hehe… Ternyata seorang Okita Sougo menjadi lemah setelah 2 tahun. Kudengar kau menjadi Kaisar karena Gorila turun tahta."

"Siapa yang kau bilang lemah, hah?" Sougo berdiri, memberi jarak diantara mereka berdua.

Dia menatap Kagura dingin namun lekat dan langsung. Kagura pun menatapnya balik.

Keheningan tercipta di antara mereka.

"Hei, Sadist... Biarkan aku menjelaskan semuanya." ujar Kagura dengan nada serius.

Sougo terdiam beberapa saat sebelum memasukkan katananya kembali ke sarungnya.

"Kau mau bicara apa lagi? Aku tidak ingin mendengarnya." jawab Sougo dingin sebelum menyambung.

"Selain itu, untuk apa kau kembali? Lebih baik kau tidak ada disini—aku malah lebih bebas dan tak ada pengganggu sepertimu lagi." Senyuman licik dan sinis menyindir sang gadis Yato.

DEG

Perasaan Kagura seperti dicabik-cabik oleh pisau.

Pedih.

Perih.

Sedih.

Sakit.

Tak menyangka kalau ia akan berkata seperti itu padanya.

Tak menyangka kalau ia akan berubah se-drastis itu.

Tak menyangka kalau ia akan membuatnya merasakan sakit yang amat sangat—

—Hingga gadis itu sendiri juga tak menyadari, bahwa sebulir air mata meluncur mulus dari pelupuk mata safirnya—bisa dibendung, karena menahannya sekuat tenaga untuk tak menangis di hadapan sang Kaisar Sadist, sekaligus orang yang ia cintai selama ini.

"Kenapa… Kenapa kau berbicara seperti itu?"

BRUUK!

Dia biarkan tubuhnya langsung terduduk di sungai yang mengalir deras—membuatnya makin basah kuyup. "Hiks... A-Aku sengaja… untuk kembali ke Edo karena ingin bertemu denganmu-aru…. Aku—Aku ingin kau tahu.. kalau aku merindukanmu-aru!"

Snag gadis mendongak sambil menangis kencang dengan serak.

Kagura terisak, tubuhnya bergetar. Air matanya mengalir tak henti.

"Kau tidak tahu… Seberapa beratnya aku harus pergi dari Edo dan.. dan meninggalkan semuanya—termasuk kau, Sadist! Kaulah orang yang aku cintai selama ini!..."

DEG

Sougo membelalakkan matanya seketika.

Tidak menyangka kalau Kagura memikirkan hal yang sama dengannya selama dua tahun ini.

Ah… Aku benar-benar lelaki brengsek… Aku sudah membuat orang yang kucintai sendiri menangis, batin Sougo dalam hati memaki dirinya sendiri.

Perlahan dia mendekati Kagura, berjongkok dan memeluk tubuh gadis Yato itu dengan erat.

Dia tidak berbicara apapun dan terus mendengar ocehan serta tangisan serak Kagura yang menyerocos memenuhi atmosfir.

"Aku merasa bersalah… Karena tidak memberitahumu apapun…. Selama dua tahun ini, aku selalu memikirkanmu-aru. Aku ingin kembali ke Edo secepatnya dan menemuimu—hiks…. Ta-Tapi… Kenapa kau malah seperti ini…. " Kagura semakin terisak sambil tetap menangis meraung.

Pemuda itu melepaskan pelukannya dan menangkup pipi Kagura dengan kedua tangannya yang kasar dan besar.

"Aku menyukaimu-aru!.. Aku mencintaimu, Sadist! Aku mencin—"

Perkataan Kagura terpotong karena Sougo menempelkan bibirnya. Dia cium bibir gadis Yato itu dengan lembut dan penuh cinta—berharap kalau itu akan menenangkan perasaan sang gadis di hadapannya, serta mengusap pelan pipi Kagura.

Kagura membelalakkan matanya sejenak sebelum dia menutup matanya lagi—membiarkan Sougo untuk tetaap menciumnya. Air mata terus mengalir dari matanya.

Ciuman lembut itu berlangsung lumayan lama—seakan melampiaskan semua kerinduannya melewati ciuman yang penuh rasa sain serta mansis didalamnya.

Merasakan stok udara yang mau habis, Sougo melepaskan ciumannya. Dia tatap manik Kagura dengan lembut.

"Maafkan aku, China. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku… Aku hanya kesal karena kau pergi tanpa memberitahuku apapun. Aku bahkan berusaha untuk melupkanmu—tapi aku tak berdaya…." Sougo mengusap air mata Kagura perlahan.

Dia menarik Kagura ke pelukannya—mengelus-elus punggung Kagura seraya berkata, "Aku mencintaimu, China. Tetaplah di sisiku. Selamanya. Jadilah Ratuku."

Sougo berdeklarasi padanya, membuat Kagura terkejut akan pernyataannya.

"K-Kau tidak berbohong, 'kan, Sadist?" tanya sang gadis sambil mendongak, karena dia takut salah dengar.

"Kau ingin aku berbohong, hm?" goda Sougo dengan senyuman licik khasnya.

Kagura memalingkan wajahnya yang sedikit memerah ke arah lain.

"Hmph! Aku tidak akan masuk ke dalam jebakanmu begitu saja, Sadist." jawab Kagura dengan tak biasanya; tsundere.

Sougo hanya tertawa kecil ketika memperhatikan gelagat Kagura yang salah tingkah. Manis seperti biasanya.

"China, aku ingin menanyakan satu hal dari awal."

"A-Apa? Kau mau menanyakan apa-aru?" Kagura menatap Sougo dengan wajahnya yang masih memerah.

Dia mau menanyakan apa?

Kagura memiringkan kepalanya bingung sambil berpikir begitu dengan keponya.

"Baju yang kau pakai itu... Apa kau mencoba menggodaku?"

BLUSH!

"Ap—!" Kagura seketika bertambah merah wajahnya sampai ke telinga.

Dia menunduk dan memperhatikan bajunya yang memang minim bahan.

Apalagi dia basah kuyup, makin membuat aura keseksiannya menjadi bertambah.

Sepertinya saat ini tubuhnya terancam bahaya kemesuman Yang Mulia Kaisar Shinsengumi.

"I-ini style, bodoh!" bantah Kagura masih menunduk malu.

Sougo menyeringai, ingin menggoda Kagura lebih banyak lagi.

Dia angkat tubuh Kagura a la bridal style dan berbisik seduktif ke telinganya, "Selamat datang kembali. Aku akan memanjakanmu malam ini, China. Aku akan meminta kompensasi karena kau sudah meninggalkanku selama dua tahun lamanya."

Kagura terdiam, tidak bisa berbicara apa apa lagi. Dia membenamkan wajahnya yang sudah memerah sepenuhnya ke dada bidang Sougo.

Mereka pergi dari jembatan menuju tempat kediaman sang Kaisar.

"Yosh~ Kembali pulang ke istana dengan Ratuku China!"

"Belum jadi, woi!"

Well, dan begitulah.

Karena mereka sudah menyatakan perasaan satu sama lain, masalah yang mereka pendam selama ini pun selesai.

Dasar, DQN Couple.

Malam ini, mereka akan menikmati kasih sayang dan cinta satu sama lain yang sudah mereka pendam selama 2 tahun karena jarak yang memisahkan mereka.

Malam pertama mereka setelah badai berakhir. Tidak buruk juga, bukan?

Mereka tidak akur sama sekali—tapi saling mencintai pada akhirnya walau jarak memisahkan hingga berjuta-juta mil jauhnya.

Seperti Sang Kaisar yang berlutut di hadapan Putri Yato—memohon akan cintanya yang tulus dan suci.

.

.

.

.

.

Pada akhirnya, sang Kaisar membawa Sang Putri kembali ke kediaman Istananya—dan mereka mulai hidup bahagia, selamanya.

Tamat.

.

.

.

- END-


Thank you for reading~

===Shiroyasha Shena===

HAI HAI HAI SHENA AND SHINJU COMEBACK!

Akhirnya ff Prompt Time-Skip, 2 Years Later beres...

Aku bingung asli ya ampuuuunnm... Semoga ceritanya tidak mengecewakan para reader semua yaaaa...

Dan disini aku tidak membahas kutil parasit yang ada di anime aslinya hahaha..

Di ff ini mereka dewasa secara alami ya... Bukan karena kutil..

And then...

Cerita ini ko kaya yang nyambung dengan cerita pertama "Farewell" ya...

Well it's okay...

Dan buat temen aku yang terus meminta kehadiran Tsukuyo di ff ini, noh ya udah aku kasih...

Buat para reader tercinta... MAKASIH BUAT REVIEW DAN JUGA FAVORITNYA YAA~~~ WE LOVE YOU~~~

Oke sampe disini saja Author Note tidak jelas dariku...

#author janai Shena da! *slap*

NANTIKAN PROMPT SELANJUTNYA ~KISS~.YAAAAA

Sampai ketemu lagi besok~~~ SARABAAAAA HAHAHAHAHA *whoooosshh*

.

.

.

===D.N.A. Girlz===

Haiiiiii Shena and Shinju is comebaackkk~~~ #plakk

Oke jadi disini tentang yang soal mereka bertemu kembali dan tolong jangan sangkut pautkan tentang kutil parasit ya wkwkwk

Saya dan Shena menyebutnya sebagai Kutil Arc (seketika Shena ngakak jejingkrakan/?) aduh rasanya agak bingung juga deskripsi bajunya—tetapi saya untung bisa edit dengan damai malam ini wkwkwkwk

Ini adalah puncaknya OkiKagu Day so HAPPY OKIKAGU DAY~~~ SEMOGA PAIRING INI MAKIN MENYEBAR CINTA DAN CANON *^* #mimpilu

Sekian bacotan saya di AN. Makasih buat semua dukungan dan semangat yang menular pada kami—sampai ditanyain kapan update nya wkwkwkw gomen ne~~

Nantikan chap keenam alias KISS ya!~ :*

Thanks for all of your supports and advices for both of us!~

Dan untuk yang baca, LOVE YOU FULL!~~~

Regards,
D.N.A. Girlz

.

.

.

JANGAN LUPA REVIEW YAK BUAT KRISAR~ THANKS!~

Love,

Shena & Shinju