Umbrella X Sword (OkiKagu Drabbles) by Collaboration of Shiroyasha Shena & D.N.A. Girlz

Gintama by Sorachi-sensei

We just own this fic, the prompts are from the OkiKagu Event on LINE & FB. The disclaimer belongs back to its own.

Warning: Sixth chap—NEED SOME LOVE, CUTENESS, FULL OF ROMANCE!

Pairing: Okita X Kagura 4EVER (+ Kamui, Kouka as the side charas)

Rating: T+

Genre (this chapter): Romance/Fluff/Comedy

Asli dari pemikiran author. Jika iya, itu dikarenakan oleh ketidak sengajaan, mohon dimaklumi. Kalau ada typo, kritik dan saran, tolong bilang ya~

Long Live Gintama Fandom and be creative in any supporting way ^_^

Suka tapi mau review? Yah silahkan review x3

Suka tapi gak mau review? Silahkan Fav~ :D

Gak suka tapi mau review? Ampun jangan flame xC

DLDR! WDGAF LOL

Happy reading guys~


BGM for this Chapter: GOT7 – Just Right

.

.

.

Pertengahan musim semi di Tokyo sering di manfaatkan sebagai waktu yang tepat untuk berkencan.

Matahari bersinar cerah di langit biru muda; yang terlihat seperti lautan di atas cakrawala. Pohon-pohon sakura saling bersaing; untuk memperlihatkan bunga-bunga mereka yang sudah bermekaran dengan indahnya. Angin sepoi-sepoi berhembus—meniup kelopak-kelopak bunga merah muda itu ke sekitar daerah

Setiap orang tidak mau membuang kesempatan emas untuk berkencan di tengah pemandangan indah seperti ini, bukan?

Maka Kagura memanfaatkan kesempatan ini untuk kencan dengan Okita Sougo.

Ya, gadis berambut jingga yang satu ini pun tidak ingin melewatkan kesempatan itu. Hari ini, dia akan berkencan bersama kekasihnya setelah sekian lama berpacaran.

Bisa disebut: ini adalah kencan pertama mereka berdua.

Kemarin sewaktu di sekolah, Sougo—kekasihnya—tiba-tiba mengajaknya berkencan. Kagura seketika bahagia dibuatnya. Saking bahagianya, gadis berambut jingga itu sampai tidak bisa tertidur. Dia terus berguling-guling di kasur—tidak sabar untuk menunggu besok.

Kencan, ya... Aku tidak sabar-aru, pikirnya senang sebelum terlelap hingga pagi.

Selagi dia terus memimpikan tentang kencan, tidak terasa matahari sudah menampakkan setengah wujudnya.

Kagura menoleh ke jam dinding yang jarumnya sudah menunjuk ke arah angka enam.

Gadis itu beranjak dari kasur lalu membuka lemari baju miliknya. Dia keluarkan semua bajunya dan memperhatikan kumpulan baju tersebut dengan serius.

Karena ini kencan pertamanya, Kagura harus membuat Sougo terkejut dengan penampilannya yang sempurna.

"Hmm… Kurasa yang ini?" gumamnya bimbang—sambil mengambil baju lengan pendek berwarna merah terang tanpa kerah, yang akan mengekspos bahu putih nan mulus miliknya. Dia padukan baju itu dengan mini jeans dan sepatu sneackers hitam-putih. Tak pula juga, aksesorisnya ditambahkan dengan kalung bentuk collar hitam berliontin miniatur bel ukuran kecil—melilit dnegan bagusnya di leher jenjangnya.

Yosh. Siap untuk menemui pangeran sadis.

Merasa puas dengan pilihan bajunya, Kagura langsung berlari ke kamar mandi. Setelah beberapa menit, dia keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Kagura berdiri di depan kaca lalu mengeringkan rambut panjangnya dengan hairdryer.

Dia pasti akan terkejut-aru, batin Kagura senang. Seringaian kecil terbentuk di wajahnya yang cantik.

Setelah rambutnya kering, dia langsung memakai baju pilihannya tadi. Rambut jingganya dia ikat kepinggir, bibir merah mudanya ia pakaikan lipgloss bening agar terlihat sedikit mengkilap. Sebagai pelengkap, Kagura menyelendangkan tas biru dongker favoritnya di bahu. Dia mengecek sekali lagi penampilannya sebelum turun ke ruang tamu.

"Oh—Kagura, kau mau kemana sudah rapi seperti itu?" tanya Mami Kagura—Kouka—ketika melihat Kagura turun dari lantai atas dan duduk di sofa ruang tamu.

"A-Aku… Aku hanya ingin berjalan-jalan dengan teman hari ini, Mami." jawab Kagura sambil menunduk memainkan jari-jarinya.

Setidaknya belajar berbohong yang benar dong, Kagura.

"Jangan dengarkan dia. Si bodoh ini pasti mau berkencan dengan si bocah sialan itu, Kaa-san." sela kakak satu-satunya yang baru saja keluar dari kamarnya.

Dia tatap Kagura dengan ekspresi sedikit mengejek.

"Berisik, Kamui!" sergah Kagura.

Dia jambak rambut panjang kakaknya itu kuat, membuat sang empunya meringis.

"Lepaskan, bodoh!" Kamui melepaskan tangan Kagura yang menjambak rambutnya lalu menatap tajam adiknya itu. Kagura menatap balik Kamui kesal.

Aura gelap mengelilingi mereka berdua.

"Hei, sudah, sudah… Kalian berdua jangan bertengkar." ujar Kouka sambil memisahkan kedua anaknya itu.

"Kagura, kau berjanji bertemu dengannya jam berapa?" sambungnya sambil menatap lembut Kagura.

"Jam sepuluh, Mami. Dia menungguku di tama—AAHHH! AKU TELAT!"

Kagura berteriak ketika melihat jam. Sudah jam setengah sepuluh.

Tanpa membuang waktu lagi, Kagura berpamitan dengan Kouka dan langsung berlari ke taman kota terdekat.


.

.

.

[Taman Kota…]

Karena Kagura sudah meluncur di perjalanan—Sementara itu, mari kita lihat bagaimana kondisi sang kekasih hatinya.

Eaa.

Sekarang, Sougo sudah berada di taman sekitar sejam yang lalu.

Pemuda bersurai coklat pasir itu bersandar di dinding jam besar yang ada di tengah taman. Semenjak sampai disana, dia merasa kalau perempuan-perempuan yang lewat terus memperhatikannya.

Sougo bukan kepedean ya, tapi itu memang fakta.

Para wanita kegatelan itu terus menatap Sougo sambil berbisik satu sama lain—entah membicarakan apa.

Pemuda itu menghiraukan kumpulan gadis tidak jelas tersebut dan bersabar menunggu kekasihnya datang.

Sesekali dia melihat jam warna hitam yang ada di pergelangan tangan kirinya.

Lama sekali si China. Benar yang dikatakan Kondo-san—Wanita memang lama kalau siap-siap, gerutu Sougo dalam hati. Dia ingin cepat pergi dari tempat itu bersama Kagura.

"Sadist," panggil seseorang familiar dari belakangnya.

Akhirnya!

Sougo menghela nafas lega dan menoleh ke arah sumber suara.

"Akhirnya kau datang, China. Kenapa lama seka—"

Manik rubi Sougo seketika sedikit membesar ketika melihat penampilan Kagura yang terlihat begitu seksi, manis, namun cocok dipakai olehnya.

Begitu juga Kagura—yang berekspresi sama sepertinya.

Dia terpaku melihat penampilan Sougo yang sangat cool dan dewasa. Kekasihnya itu memakai kaos biru dongker polos lengan pendek, disertai dengan celana long black jeans yang kasual dan tegas; dan sepatu Ahodas warna hitam.

Simpel, polos, namun sempurna.

Keheningan tercipta di antara mereka. Keduanya terpesona dengan penampilan pasangannya masing-masing.

Setelah sekian menit berlalu, Sougo tersadar dan membuka pembicaraan yang canggung.

"Kenapa lama sekali, China?" tanya Sougo, masih memperhatikan penampilan Kagura dari atas sampai bawah dengan lirikannya yang tajam.

"A-Ah, maaf.. Uhm, tadi aku tidak lihat jam—Selain itu.. J-Jangan menatapku seperti itu-aru. Malu." ceplos Kagura pelan sambil menunduk. Wajahnya memerah karena malu.

Sougo tertawa kecil lalu menarik tangan Kagura, membawanya pergi dari taman kota yang mulai ramai.

"S-Sadist, kita mau kemana?" tanya Kagura malu-malu. Dia genggam tangan Sougo erat.

Pemuda yang menariknya itu hanya meresponnya dengan senyuman tipis.

Dia mau membawaku kemana-aru?

Kagura membatin dalam kekepoan yang hakiki. Dia hanya diam dan membiarkan Sougo membawanya ke suatu tempat.

Setelah perjalanan yang lumayan lama, mereka berdua pun sampai di tempat tujuan.

Sougo membawa Kagura ke taman hiburan.

Dalam sekejap mata Kagura langsung berbinar-binar layaknya anak kecil melihat chiki terbaru.

"Whoaaa!~ Sadist, ayo cepat masuk-aru!" sahut Kagura antusias.

Sougo terkekeh melihat reaksi kekasihnya yang seperti anak kecil anak kecil melihat chiki terbaru.

"Tenanglah, bodoh. Kita harus membeli tiketnya dulu."

Sougo melepas tangan Kagura dan berjalan ke tempat pembelian tiket.

Kagura mengangguk lalu menoleh kesana-kemari melihat sekeliling.

"Ramai sekali… Oh iya ya, weekend…" gumam Kagura pelan.

Dia terus melihat ke sekitar dan tidak sengaja melihat pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat.

Gadis cantik berambut mentari itu melihat pasangan yang sedang berciuman tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Wajahnya tiba tiba terasa panas—semburat merah terlihat jelas di kedua pipinya.

Kenapa mereka berciuman di tempat ramai seperti ini?

Apa mereka tidak malu?

Terus kenapa Kagura tiba tiba merasakan panas di wajahnya?

Di oven jadi panas. *slap*

Oke kembali ke cerita.

Sementara Kagura yang hampir menjadi gosong, Sougo yang sudah membeli dua tiket berjalan mendekatinya. Dia berhenti ketika melihat sang kekasih yang salah tingkah.

"Kau kenapa, China?" tanyanya datar sambil memperhatikan Kagura.

Yang dimaksud malah menggelengkan kepalanya dan menarik Sougo masuk ke taman hiburan.

"A-Aku tidak apa apa-aru." jawab Kagura singkat karena masih salah tingkah.

Sougo memiringkan kepalanya bingung sebelum mengangkat bahunya dan membiarkan Kagura membawanya masuk.

Di dalam taman hiburan, Kagura terus membawa Sougo ke stand makanan tanpa henti.

Pertama dia ke tempat crepes, gula-gula kapas, kroket, dan sekarang donat.

"China, kenapa kau terus ke stand makanan, hah?" tanya Sougo malas untuk kesekian kalinya. Kalau Kagura membawanya ke stand makanan lainnya, bisa-bisa dompet Sougo bisa kosong melompong alias ludes.

Kalian sudah tahu perut Kagura itu seperti apa?

Mau makan sebanyak apapun, dia tidak akan kenyang.

Sougo sudah bisa mendengar peringatan di kepalanya—kalau dia tidak mengalihkan pikiran Kagura dari makanan, bisa-bisa mereka tidak akan bisa pulang karena tidak ada uang ongkos.

Aha!

Bohlam menyala imajiner muncul—menandakan bahwa suatu ide muncul di kepala Sougo.

Pemuda itu menatap kekasihnya dengan senyuman licik penuh arti—sementara Kagura yang sudah mendapat donat keinginannya cuma bisa menatap Sougo heran.

"Kenapa kau tersenyum-senyum sendiri? Seperti orang gila-aru." sahut Kagura asal jeplak.

TWITCH

Perempatan siku-siku muncul di pelipis Sougo.

"Hee… Begitukah? Aku hanya memikirkan sesuatu yang menarik." balas Sougo sambil menahan emosi.

"Hmm~~~…. Apa itu?" Kagura menjawab dengan malas. Dia fokus memakan donat super jumbo yang dia pegang dan ngiler untuk makan lagi.

TWITCH

Perempatan siku-siku yang lebih besar muncul lagi di pelipis Sougo.

Perempuan ini..! Lihat saja nanti, geram Sougo menahan emosi yang tak bisa dikeluarkan dalam sanubari.

Dia menarik tangan Kagura kasar dan membawa gadis cantik itu ke suatu wahana permainan.

'GHOST HOUSE' terpampang jelas di atas bangunan yang ada di hadapannya itu.

"China, pengunjung disini bilang kalau rumah hantu ini berbeda dari rumah hantu yang lain. Mereka bilang ini sangat, sangat menyeramkan. Kau berani masuk?" tantang Sougo dengan senyuman licik.

Kagura—yang sudah menghabiskan donatnya—menatap berani manik rubi Sougo.

"Tentu saja aku berani, bodoh!" sahutnya sambil sedikit berteriak.

"Benarkah? Aku tidak percaya~" Sougo meremehkan Kagura.

Mau bagaimana pun juga, Sougo harus membalaskan dendam uang malangnya yang sudah dipakai membeli makanan tadi.

Ohh, uang… Kau begitu berharga.

Jangan puitis woi, OOC.

Oke. Lanjut.

Kagura mendadak kesal.

Dia sangat tidak suka kalau ada yang meremehkan dirinya.

Siapapun itu.

Tidak terkecuali; kekasihnya sendiri.

"Jangan meremehkanku, kau Chihuahua!" sergah Kagura emosi. Dia berjalan terlebih dahulu ke wahana menyeramkan itu.

Hehe… Akhirnya kau terjebak, China! Lihatlah pembalasan dendamku ini, batin Sougo sambil tertawa jahat dalam hati.

Dia ikut masuk, mengikuti Kagura dari belakang.


.

.

.

[Di dalam Rumah Hantu…]

Baru saja masuk beberapa langkah ke dalam, teriakan ketakutan dari Kagura sudah terdengar.

Ucapan Sougo memang benar, rumah hantu yang mereka masuki berbeda dengan rumah hantu lainnya. Hantu-hantu disana terlihat sangat nyata. Kagura merasa kalau mereka berdua seperti masuk ke dunia lain.

"AAAAAAAHHHHHH! JANGAN BERANI-BERANINYA MENDEKATIKU-ARU!"

Kagura berteriak sekeras mungkin sambil menutup kedua matanya—tidak berani melihat hantunya lagi. Dia mengibas-ngibaskan tangannya, berniat untuk mengusir hantu yang mendekatinya.

"S-Sadist, ha-hantunya sudah tidak ada 'kan?" cicit Kagura dengan suara yang sedikit bergetar. Sougo menyeringai jahat, senang melihat Kagura ketakutan.

"Kenapa, China? Bukannya kau tadi bilang berani, hm?~" goda Sougo balik pada sang kekasih. Kagura menggeleng-gelengkan kepalanya, masih dengan mata yang tertutup.

"A-Aku takut-aru. S-sadist, hantunya sudah tidak ada 'kan?" tanya Kagura sekali lagi.

"Ah, sudah tidak ada." balas Sougo dengan kebohongan.

Hantu yang Kagura maksud masih ada disana, malah sekarang tepat di depan wajah Kagura.

Kejam? Memang.

Sougo sudah bilang, bukan? Ini adalah balas dendam.

Dia akan membuat kekasihnya itu menangis. Itulah cara seorang Okita Sougo membuktikan rasa cintanya. Uhuk.

Nama gahul. Muka gahul. Pemikiran sadis nan bahlul.

Oke. Lanjut.

Kagura yang percaya dengan perkataan Sougo perlahan membuka matanya—sebelum terpaku ketika melihat hantu sebelumnya ada di depan matanya.

3..2..1—

"AAAAAAAAHHHHHHHHHH!"

Kagura menjerit melengking bak seriosa tiga oktaf.

Dia memeluk Sougo erat sekali. Air mata mulai muncul di ujung matanya, adannya bergetar karena takut.

Semetara Sougo tertawa kecil—puas dengan reaksi kekasihnya.

"Kau tidak usah berteriak seperti itu, China." ujarnya santai.

"S-Sadist, a-aku mohon, k-kita keluar da-dari sini sekarang j-juga..!" pinta Kagura terbata bata. Dia tidak mau melepaskan pelukannya di tubuh Sougo.

"Tapi perjalanan masih panjang, China. Jalan keluar masih jauh." Sougo tersenyum licik. Dia masih ingin melanjutkan rencananya.

"Tenang saja, China. Kau tutup saja matamu. Aku akan ada di belakangmu." lanjutnya sambil mengelus punggung Kagura pelan untuk menenangkannya.

"T-tapi Sadist, a-aku takut-aru…." Kagura membenamkan wajahnya di dada Sougo. Tubuhnya masih bergetar hebat.

"Sudah, sudah—Baiklah, aku akan ada di belakangmu. Cepat jalan, bodoh. Biar kita bisa cepat keluar."

Sougo mendorong punggung Kagura pelan. Gadis itu akhirnya pasrah dan berjalan menuruti keinginan Sougo. Matanya ditutup rapat, tangannya dia kepalkan keras.

Aku ingin cepat keluar dari sini-aru, batin Kagura takut sambil merasakan hawa tidak enak dan ketakutan.

"Sadist, kau ada di belakangku 'kan?" Kagura bertanya dengan ragu ragu, dia takut kekasihnya itu meninggalkannya.

"Ya, ada. Teruslah berjalan." balas Sougo singkat.

Kagura menelan ludah dan terus berjalan.

Jarak beberapa menit, Kagura bertanya lagi.

"Kau benar-benar di belakangku 'kan?"

"Kau berisik, China."

"Jawab aku, Sadist. Kau di belakangku 'kan?"

Hening melanda

"Sadist..? H-Hei, jawab aku-aru."

Tetap hening.

Eh, apa ini? Apa Sougo benar-benar meninggalkanku?

Tidak mungkin.

Kagura memberanikan dirinya dan perlahan-lahan membuka matanya. Berharap Sougo hanya terdiam, bukan meninggalkannya—

—namun harapan itu hancur seketika ketika menyadari bahwa Sougo tidak ada di belakangnya.

DEG

Gadis itu menoleh kesana-kemari mencari sosok kekasihnya itu, tapi hasilnya nihil.

Dia tidak menemukannya.

Kagura terduduk ke bawah dan menunduk takut.

Dia tidak percaya kalau kekasihnya akan meninggalkannya disana.

Sendirian.

Kau tega, Okita Sougo!

Tubuh Kagura bergetar hebat, air mata mengalir dari kedua matanya.

Kenapa kencanku menjadi seperti ini? Padahal aku memimpikan kencan pertama yang manis, pikirnya miris karena ironi kenyataan yang sedemikian rupa.

Kagura mengepalkan kedua tangannya keras lalu berteriak sambil mengarah ke atas langit-langit yang gelap.

"KAU DIMANA, OKITA SOUGO!?"

"Kau kenapa, China?"

Mendengar suara kekasihnya itu, Kagura langsung menoleh dan melihat Sougo berdiri di belakangnya.

Pemuda itu menatap Kagura dengan ekspresi datar.

"Aku tidak akan meninggalkanmu, bodoh. Aku tadi hanya mencari pintu keluar yang lebih de—"

BRUUK!

Tak ayal kemudian, Kagura—yang langsung berdiri—meloncat, menerjang Sougo erat sekali dengan pelukan. Dia menangis hebat karena takutnya tidak ketulungan.

Sougo agak terperanjat sebelum menghela nafas, lalu mengangkat Kagura a la bridal style.

"Maafkan aku. Kita akan keluar sekarang juga." Sougo langsung berlari sambil mengangkat Kagura, membawanya keluar dari wahana menyeramkan itu.

Setelah keluar dari pintu keluar, dia berjalan dan mendudukkan Kagura di bangku terdekat.

"Sudahlah, China. Kita sudah keluar, jangan menangis lagi seperti ini." ucap Sougo, mencoba untuk menenangkan Kagura. Diusap air matanya dengan lembut oleh tangannya yang lebih besar dari milik sng gadis.

"Huwweehh~~~ Hi-Hiks... Kau kejam, Sadist!.." Kagura masih terus menangis.

Sougo ikut duduk di sampingnya—mengelus punggung gadis itu sebelum menyeletuk, "Bagaimana caranya agar kau berhenti menangis? Apa aku harus sampai menciummu?"

DEG

"E-Eh?.."

Kagura mendongak sambil sedikit terkejut. Ujaranya membuat kilasan memorinya muncul ketika melihat pasangan yang berciuman di depan taman bermain— langsung terlintas di kepalanya.

Air matanya mendadak berhenti dan wajahnya jadi memerah perlahan.

"Oh. Kau sudah berhenti menangis. Tapi kenapa wajahmu jadi memerah? Apa kau demam?" Sougo menyatukan dahinya dengan dahi miliknya. Seketika wajah Kagura bertambah merah seperti udang rebus.

"Kau tidak demam, China. Tapi kena—"

Sougo berhenti berbicara perlahan ketika melihat reaksi Kagura yang menunduk malu dengan wajah yang sangat memerah.

Satu kesimpulan muncul di kepalanya yang jenius.

Apa Kagura ingin Sougo menciumnya?

Sebenarnya, kalau dipikir-pikir lagi—Itu wajar, bukan? Selama berpacaran, Sougo belum pernah menyentuh Kagura sedikit pun—walau pun perhatian dan pegangan tangan sudah sering dilakukan. Apalagi bertengkar.

Mungkinkah ini saatnya? Apakah ini saatnya untuk menciptakan momen kebersamaan dengan sebuah ciuman?

Pikiran seorang Okita Sougo mulai mengalir deras dan telah mendapatkan ide yang blak-blakan.

Tanpa menunggu apa-apa lagi, Sougo menarik tangan Kagura dan membawanya ke wahana bianglala.

Di dalam wahana, Sougo dan Kagura duduk berhadapan. Mereka terdiam satu sama lain.

Sougo terus menatap Kagura dalam diam, sedangkan Kagura menunduk—tidak mau melihat Sougo.

"China." panggil Sougo, berniat untuk mencairkan suasana canggung.

Namun Kagura tidak merespon dan malah terus menunduk. Wajahnya masih memerah.

"Kagura." Sougo baru memanggil nama aslinya lagi semenjak dia menyatakan cintanya dulu.

Kagura refleks mendongak dan menatap Sougo dengan malu.

"A-apa, Sadist?" tanyanya singkat dan mencicit.

Sougo beranjak dari tempat duduknya lalu mendekati wajah Kagura sambil duduk tepat di sampingnya.

Dia tidak bisa menahan keinginannya lagi untuk mencium kekasihnya yang cantik dan lucu satu ini.

"Panggil aku dengan namaku, Kagura."

"Haa? K-Kenapa aku ha—Mmph!..."

Sougo membungkam Kagura dengan mencium bibirnya lembut. Dia tahan tengkuk Kagura agar gadis itu tidak melepaskan ciumannya. Kagura yang menginginkan ini sejak—hanya terdiam, tidak berontak. Dia tutup kedua matanya, menerima ciuman Sougo juga membalas ciumannya.

Sougo perlahan-lahan melumat bibir bawah Kagura, membuat sang empunya mendesah pelan.

"S-Sougo.. Mnn—" Sougo memasukkan lidahnya langsung ke mulut Kagura.

Kesempatan tidak boleh dibuang begitu saja.

Kagura membiarkan Sougo mendominasi ciuman mereka dan melingkarkan tangannya di leher kekasihnya itu. Sougo dan Kagura menikmati ciuman pertama mereka dengan penuh perasaan yang bercampur aduk.

Senang, cinta, malu, sedih, bahkan takut.

Senang karena berharap yang terbaik untuk kemudian hari di hubungan mereka; cinta karena tak ingin berpisah jauh; malu akrena kadang bertingkah aneh dan menjadi pasangan bodoh; sedih karena tak ingin saat-saat indah mereka berakhir begitu saja—

—serta takut kalau mereka suatu saat terpisah, tak mencinta lagi, bahkan meninggalkan salah satu.

Tapi demi cinta mereka, Sougo dan Kagura takkan mengatakan kata 'pisah' diantara mereka berdua

Takkan pernah

Merasakan stok udara yang mulai minim, Sougo melepaskan ciuman mereka. Benang saliva tercipta, masih menghubungkan bibir mereka berdua. Sougo menangkup kedua pipi Kagura dan menatap lurus manik safir miliknya.

"Kau benar-benar cantik hari ini, Kagura. Aku telat mengatakannya—tapi bajumu itu sangat cocok untukmu."

Mendengar itu, Kagura tersenyum lalu menyatukan dahinya dengan dahi Sougo.

"Hehe… Kau juga terlihat keren-aru." balas Kagura dengan gumaman kecil serta senyum tipis, namun Sougo bisa mendengarnya dengan jelas. Senyuman jahil terukir di wajah snag pemuda tampan.

"Kau bicara apa, hm? Aku tidak bisa mendengarnya. Sekali lagi, dong~" Sougo menggoda kekasih satu-satunya dengan jahil dan usil.

"B-Berisik, Sadist!" Kagura memalingkan wajahnya ke arah lain.

Sougo terkekeh lalu menarik Kagura ke dekapannya—membuat yang bersangkutan membalas pelukan itu dengan senang hati.

"Aku mencintaimu Kagura/Sougo."

Mereka menatap setelah mengatakan itu dengan tak sengaja bersamaan, sebelum tawa kebahagiaan mereka memenuhi ruang wahana yang dinaiki.

Kencan yang diakhiri dengan ciuman dan pernyataan cinta.

Indah sekali.

Momen indah yang sangat berharga untuk mereka berdua. Saat-saat ini akan selalu mereka ingat, karena kencan pertama ini menjadi hari peringatan first kiss mereka.

.

.

.

- END-


Thank you for reading~

===Shiroyasha Shena===

Haaaaiiiiiii SHENA AND SHINJU DESU!

We comeback... COMEBACK HOME! *jangan nyanyi oy*

Engga kerasa ya OkiKagu Week bentar lagi berakhir..

Perjuangan sekali aku mengetik dalam satu hari... Biasanya kalau update aku suka sebulan sekali...

Oke lupakan..

Untuk Prompt Kiss Day 6 ini, aku memilih untuk membuat AU mereka di zaman sekarang.. Ehem..

Mereka berdua tinggal di Tokyo dan keluarga mereka semua masih pada hidup yaaa...

Aku susah dalam mendeskripsikan baju yang dipakai Kagura. Semoga para reader semua bisa membayangkannya ya~~~ =^^=

Dan apa itu Ahodas yang dipakai Sougo? Kalian semua pasti tau apa maksudnya kan? Kalau tidak tau, sayang sekali.. :D

Untuk para reader yang udah baca, fav, dan review.. ARIGATOU GOZAIMASU! Engga nyangka kalian sampai menunggu ff kami update..

And buat temanku yang merequest Tsukuyo dan Madao untuk muncul di ff ini...

I'm sorry babe.. Aku tidak bisa mengabulkan permintaan kalian.. Hahaha seadanya aja deh ya..

Tunggu FF kami untuk Prompt terakhir JEALOUSY yaaaaa para reader TERCINTAH! WE LOVE YOU~~~~

Kalau begitu, sampai disini saja AN dariku, istri satu-satunya Gin-chan... Ehh kedua deng kan ada Hijikata... /slap

Sampai bertemu besok~~~

See you tomorrow~~

Mata Ashita~~~

.

.

.

===D.N.A. Girlz===

*ala Patrick Star* Halo sayang. #plakk

Wkwkwk jk jk XD HAIIIII~~~ KEMBALI DENGAN SHENA DAN SHINJU~

Oke jadi disini saya dan Shena awalnya seneng dapet prompt Kiss—yang dikira gampang—eh malah si Shena kehabisan ide buat ceritanya. Ya ampun, wkwkwk

Dan untungnya, dia dapat ide dan bisa mempersembahkan cerita ini setelah saya edit! SHENA, MAKASETEEE! *^*

Untuk merek Ahodas, well… Tau ya pastinya itu samara apa :3

Deskripsinya saya tambahin untuk yang suasana dan pakaian—karena agak jago #cielah mengembangkannya biar kalian bisa bayangkan bagaimana pakaian yng dipakai OkiKagu pas first date.

Pokoknya, besok saya yg ngusulin plotnya buta prompt terakhir biar ngena sekalian/? #apaan

Oke oke gomen ^^"

Sekian bacotan saya di AN. Makasih buat semua dukungan dan semangat yang menular pada kami—sampai ditanyain kapan update nya wkwkwkw gomen ne~~

Nantikan chap terakhir alias Jealousy ya!~ XD Semoga aja nanti bisa buat bom di chapter terakhir wkwkwk

Thanks for all of your supports and advices for both of us!~

Dan untuk yang baca, LOVE YOU FULL!~~~

Regards,
D.N.A. Girlz

.

.

.

JANGAN LUPA REVIEW YAK BUAT KRISAR~ THANKS!~

Love,

Shena & Shinju