O.3

Masih pagi. Masih jam 7 pagi. Seonho udah duduk manis diruang makan, liatin ummanya yang mundar-mandir sibuk bikin sarapan. Dia bukannya gak mau bantuin ummanya, mau banget Seonho tuh buat bantuin, tapi, ummanya selalu nolak dan malah nyuruh Seonho duduk diem dimeja makan. Please ya, umma Seonho gak mau Seonho meledakin dapur satu-satunya. Kata ummanya, Seonho paling gak punya jiwa buat masak. Jiwa penghancur sih ada.

"Tumben banget kamu jam segini udah bangun." Gumam umma sambil letakin piring isi telur gulung dimeja makan.

"Gak tau, hari ini Seonho semangat banget."

Iya, semangat ketemu Guanlin. Aduh dia pake muncul di mimpi Seonho lagi, padahal baru dua minggu mereka deketnya.

"Belum ngerjain pr ya makanya berangkat pagi?" Melesat cyin.

"Yeee sok tau, pr buat minggu depan aja udah Seonho kerjain. Wleee!"

Sabar aja jadi ummanya Seonho.

"Hmm… Pasti lagi suka sama orang ya?"

Blush. Elah bisa aja nih nyokap nebaknya.

"Hehehehehehe…. Kakak kelas Seonho gentle banget, Ma. Gemay."

Seonho anaknya agak polos, semua kejadian selalu dia ceritain ke Ummanya. Dari kecil. Jadi habit deh.

"Cieee… Anak umma udah besar~"

Umma ngecubit pipi Seonho gemas. Gak berasa juga, anaknya dikit lagi mau dapet ktp. Padahal baru kemarin dia gendong-gendong Seonho.

"Inget ya, kamu boleh suka sama orang tapi kamu juga harus hargain diri kamu dahulu." Umma mengelus rambut Seonho sayang.

"Iyaaa, Seonho pasti jaga diri." Seonho tersenyum dan mencium pipi ummanya.

"UMMAAA~"

Seonho mendelik sebal, menoleh mendapatkan Daehwi dan Woojin dengan senyum mesem-mesem mereka. Alamat jatah makan Seonho berkurang.

"Ayo sini ikut sarapan, kalian tepat waktu."

Umma tersenyum pada kedua sahabat Seonho. Sudah terlalu ditumpangi makan oleh tiga sahabat Seonho.

Seonho natap lirih makanan yang ada dimeja.

"Jangan sedih dong, Ho. Kitakan disini mau ngeramein pagi indah lo." Girang Woojin.

"Appa lo indah!" Gertak Seonho. Ia mulai ngambil makanan sesuai porsinya.

Puk! Puk! "Santai kita makannya gak se bar-bar lo kok."

"Selamat makan umma!" Seru Daehwi.

Umma tersenyum lembut ngeliat Seonho yang berebut makanan dengan kedua temannya. Umma selalu berdoa didalam hati agar Seonho selalu tersenyum dan tetap memiliki Daehwi, Woojin dan Hyunbin disampingnya.

"Besok kamu main gak?" Tanya Umma.

Ohiya, besok kan hari sabtu.

"Besok kita mainnya sore, kenapa umma?"

Seonho mendecih. Sebenernya yang anak ummanya itu dia apa Woojin sih? Kok malah itu bocah yang jawab.

"Besok ada anaknya temen umma yang mau dateng, dia lebih tua 2 tahun. Kamu inget gak ahjumma taiwan yang sering kamu panggil mama?"

"Anaknya cowo apa cewe?"

Kan. Daehwi mah gercep banget. Dasar cabe. Seonho cuek aja nikmatin makanannya, mumpung dua temennya gak fokus.

"Cowo, dulu sebelum ketemu kalian, dari kecil si Seonho mainnya sama anak mama. Pas umur Seonho 6 tahun mereka pergi ke Amerika, mereka baru balik 3 tahun terakhir ini."

"Umma udah ketemu anaknya? Ganteng gak? Dia sekolah dimana?" Dih, amit-amit Daehwi tuh.

"Sering ketemu, dia ganteng terus tinggi, apalagi sopan. Wah, Umma lupa nanya sih."

Daehwi udah senyum-senyum nista, ini kesempatan dia buat lebarin sayapnya, tanpa ketauan Dongho, ehehe bisa main belakang.

"Besok Woojin dateng pagi ah!"

"Pasti, amat sangat pasti."

"Tenang aja, dia bakalan tinggal disini sampe lulus SMA."

Byur! Oke, pertama Seonho lagi minum, kedua dia kaget, ketiga Seonho nyemburin air. Thanks. Dia harus ganti baju.

"SEONHO JOROK BANGET!" Heboh Woojin.

Urusan ganti baju bisa belakangan, dia harus ngomong empat mata sama ummanya.

"Umma kok gak pernah ngasih tau dan nanya persetujuan aku kalau ada yang mau tinggal disini?!" Seonho menatap ummanya tajam.

Daehwi dan Woojin saling menatap. Mereka tahu, Seonho paling gak suka ada orang asing dirumahnya. Seonho benci.

"Umma mau bilang ke Seonho tapi umma lupa teruss.. Lagipula ini juga mendadak, tiba-tiba mama dan baba harus balik ke Taiwan, sedangkan anak itu harus kelarin SMAnya dulu disini."

"Ya terus kenapa harus dirumah ini?! Dia bisa nyewa apartement."

"Ayolah Seonho, umma gak tega ngebiarin dia tinggal sendiri tanpa keluarga dinegara orang." Seonho diam merajuk.

"Coba kamu jadi dia, pasti kamu ngerasa sendiriankan? Gak ada yang masakin kamu, gak ada yang bangunin kamu, gak ada pelukan umma, gak ada yang bawelin kamu."

Seonho mendesah, Seonho gak seegois itu.

Kerja kelompok. Definisinya adalah yang satu kerja yang lainnya main-main. Ditambah, tugasnya adalah mengobservasi tumbuhan yang ada disekitar sekolah, tanpa bimbingan guru. Beuhh, bebas bukan main. Itu yang ada dipikiran semua murid.

Terutama teruntuk empat siswa 10-1 yang udah mejeng asik dipinggir lapangan olahraga, Daehwi yang asik godain kakak kelas, Woojin yang sok sibuk foto-fotoin tumbuhan, Seonho yang sibuk ngunyah, Hyunbin yang sibuk senyam-senyum tebar pesona.

"Hai Kak Taemin!" Daehwi berseru sambil mengedipkan matanya. Temen-temen Taemin bersiul menggoda.

Hyunbin mendorong kepala Daehwi, "Udah punya Kak Jonghyun! Jangan lo embat juga!"

"Nikung dikit elah, gue juga sering chatan sama Kak Taemin."

"Etann gak punya malu ya lu!" Sinis Seonho.

"Kalo jodoh gak kemana." Pede gila.

Dari jauh Seonho liat Guanlin jalan di koridor bawa tumpukan buku, Seonho senyum lebar.

"Pegang bentar, Jangan dimakan, oke?!" Seonho memberikan bungkus makanannya ke Woojin.

"Daehwi, gue brantakan gak?" Tanya Seonho yang udah berdiri rapihin blazernya. Daehwi manggut-manggut asal, dia lagi liatin Taemin main bola malah diganggu.

"Mau kemana lo?" Tanya Hyunbin.

"Ngejar Kak Guanlin." Seonhopun berlari mengejar pujaan hatinya.

"Gue gak salah denger?" Woojin gelengin kepalanya.

"Kak Guanlin!" Seonho menarik napas sebanyak-banyaknya.

Guanlin berhenti ditangga pertama, ngeliat Seonho yang lagi ngos-ngosan kaya abis dikejar babon.

"Seonho? Lo cabut pelajaran?" Guanlin orangnya agak to the point.

Seonho ngepoutin bibir, biar keliatan imut aja. Dia belajar dari Daehwi ngomong-ngomong.

"Enak aja! Aku gak brandalan kaya Kakak ya, aku tau peraturan dan gak pernah langgar peraturan." Jadi, sejak kapan Seonho jago ngebohong?

Guanlin ketawa dan jantung Seonho? Jantungnya gak bisa ngasih kabar, terlalu sibuk berpacu.

"Terus lo ngapain disini pas lagi jam pelajaran?" Tanya Guanlin dan mulai menaiki tangga.

Seonho buru-buru mensejajarkan Guanlin dan mengambil dua buku dari genggaman Guanlin, Seonho gak mau bawa banyak-banyak, takut dia capek. Cih, uke.

"Aku ada kerja kelompok buat observasi tumbuhan yang ada disekolah, ngebosenin dan suntuk banget ngerjainnya, eh pas banget aku liat kakak yaudah deh aku lari ke sini dan bantuin kakak bawa dua buku ini."

"Sama aja lo cabut pelajaran, kan?" Seonho menggeleng cepat.

"Nggak dong!! Aku mau cari udara segar biar otak aku gak sumpek, kan nantinya aku bisa ngerjain tugas kelompok aku."

Guanlin berdecak. Mana ada cari udara segar masuk ruangan.

"Iya deh iya, lo brisik banget dek. Gue kira lo kerjaannya ngunyah makanan doang."

"Selama ini Kak Guanlin merhatiin aku ya?"

"Kerjaan gue banyak. Gak punya waktu buat merhatiin orang. Gue denger dari anak-anak kalo lagi ngomongin lo."

Guanlin membuka pintu perpustakaan dengan punggungnya, menyuruh Seonho masuk dan baru dia masuk.

"Dihh aku kira kerjaan kalian cuma main basket, ribut, ngumpul gak jelas doang, taunya gibahin orang juga."

Lagi-lagi Guanlin ketawa. Nggak tau kenapa, dua minggu deket sama Seonho, kerjaan dia ketawa mulu. Seonho tuh orangnya ceplas-ceplos.

"Nah itu, yang bagian ngumpul gak jelas. Kita ngomongin orang." Seonho berdecak.

"Pantes aku sering kesedak pas makan, taunya diomongin kalian mulu."

"Pede banget lo! Lo nya aja kalo makan suka buru-buru. Jangan percaya mitos. Gak bagus."

Guanlin mengambil kertas bukti pengembalian buku lalu menulis seri masing-masing buku.

"Iyaaa iyaaa, semua buku ini bekas temen-temen kakak baca?" Tanya Seonho. Mau ngalihin pembicaraan.

"Bukan, ini bekas gue baca."

Mata Seonho membulat. Gak percaya sih.

"Buku yang dari kelas 10 Kak Guanlin pinjem baru dibalikin?" Guanlin ngelirik Seonho.

"Semuanya baru gue pinjem minggu lalu."

Demi apa? Orang kaya Guanlin yang nakalnya bukan main juga suka baca buku? Emang deh, ini cowo idaman semua makhluk bumi.

Oke, Seonho dapet fakta baru kalau Guanlin suka baca buku, selain tentang suka main basket, ribut, clubbing, mobil, apa yang dia suka, apa yang dia gak suka. Seonho berasa stalker beneran. Ah bodo!

"YOO SEONHO!"

"SEONHO! PIYIK!"

Udah satu jam Hyunbin ngebangunin Seonho, tapi gak ada respon sama sekali dari anak ayam itu. Hyunbin akhirnya nyerah, dia tiduran disamping Seonho dan memeluknya kencang.

"Woi piyik!! Bangun!" Hyunbin ngegerakin tubuhnya, biar Seonho ke ganggu.

Sebenarnya Seonho udah bangun dari tadi, dia pura-pura tidur biar gak ketemu anaknya temen ummanya. Mau senerima dan selapang dadanya Seonho, dihati kecilnya tetep gak mau nerima itu orang.

"Buruan bangun! Anak temen umma dikit lagi sampe." Ah. Seonho langsung bete dengernya.

"Gue gak mau ketemu dia!" Tolak Seonho.

Bruk! Seonho ketawa jahat setelah mendorong Hyunbin jatuh ke lantai pake kakinya.

"ANJING! PANTAT INDAH GUE!" Jerit Hyunbin.

"Udah sana! Gue pengen tidur!" Usir Seonho, menutup seluruh tubuh pakai selimut.

"GUYS! HOT NEWS!"

Bruk! Daehwi ngebanting pintu kamar Seonho, dia lari ke Seonho dan sekuat tenaga dia bangunin badan bongsor Seonho.

"Aduhhh kenapa lagi sihh! Susah banget buat tidur doang!" Suara Seonho udah frustasi. Begete.

"Lo harus ke ruang tamu! Harus liat yang jadi tamu dirumah lo siapa!" Heboh Daehwi.

"Gue gak peduli dan gak mau tau. Pokoknya, lo semua harus keluar. Gue mau nenangin diri dikamar, sendirian. Lagi gak mood main. Please tinggalin gue."

"Drama lo bego!" Umpat Hyunbin. Bibir Seonho udah jatoh.

"Ho, lo bakalan nyesel tujuh turunan. Apalagi kalo penampilan lo kaya babu gini. Dia gak bakalan ngeliat lo, ngelirik aja males." Kaya babu. Nyelekit anjir.

"Bodoamat, dia mau seganteng David Beckham juga gue gak peduli."

Ceklek! Pintu kebuka lebar-lebar, pelakunya Woojin yang pasti.

"Ho, gue disuruh anterin Kak Guanlin ke kamar tamu tapi gue gak tau kamar tamu yang mana." Bentar. Tadi si bocah pendek bilang apa? Kak Guanlin.

"Kak. Guanlin." Seonho diem ngecerna omongan Daehwi lagi.

"KAK GUANLIN!" Histeris Seonho.

Tiba-tiba Guanlin muncul dibelakang Woojin, mukanya bingung.

Jirr! Benaran gilaa! Seonho langsung lari masuk ke kamar mandi. Ngunci pintunya.

"Itu Seonho, kan? Dia kenapa?" Tanya Guanlin.

"Dia… Kebelet kencing." Guanlin manggut-manggut.

"By the way, tau dimana kamar tamu?" Tanya Woojin.

Hyunbin lagi ketawa ngakak bareng Guanlin, dari tadi dua manusia ketawa-ketawa doang sambil nyebat. Katanya Hyunbin sih mumpung gak ada umma jadi nyebat. Suka heran Seonho, sebenernya yang punya rumah dia apa temen-temennya sih.

"Seneng banget, Ho?" Daehwi dateng bawa satu cup ice cream.

"Siapa yang nyuruh lo makan ice cream gue, Hwi?"

"Yailaah, bagi satu kek buat ngerayain kebahagiaan lo yang satu atap sama gebetan. Ehehe."

Seonho mengunyah burgernya cepet. Sebenernya Seonho seneng ternyata Guanlin yang sementara menetap dirumahnya, cuma Seonho gak bisa mengekspresikannya. Jantung dia udah gak karuan banget deh, ngebayangin ini itu ini itu. Apalagi bisa ngeliat Guanlin 24 jam. Aduh, pikirannya udah liar aja.

"Tandanya basecamp Kak Dongho pindah ke sini dong?" Seonho menatap Woojin bingung.

"Maksudnya?" Tanya Seonho.

"Rumah Kak Guanlin itu basecampnya Kak Dongho, tiap dua minggu sekali mereka ngumpul dirumah Kak Guanlin." Jelas Woojin.

"Ihhh iyaa! Tumben lo pinter, Jin! Yess! Mulai sekarang tiap hari kita main ke rumah Piyik aja, siapa tau ketemu kakak cogan. Atau ketemu Kak Dongho!! Anjirr rumah lo jadi surga semua cewe uke!"

"Okeee! Gue bakalan selalu dandan kalo mau ke rumah Seonho, nanti pulang kita shopping, Hwi!"

Dan dua manusia itu terjun didunia percabean.

Seonho diem merhatiin Guanlin yang ngisep rokoknya, gimana kalo ummanya tau kelakuan Guanlin kaya gini. Pasti gak bakalan diterima jadi menantu. Hmm.

"Gue mikir apaan sih.."

Guanlin sama Hyunbin berjalan masuk ke ruang makan, Seonho udah nahan napas buat ngatur detak jantungnya. Aduh, gak ke kontrol gantengnya Guanlin.

"Akhirnya Seonho keluar dari kamarnya juga." Ledek Hyunbin. Seonho mendelik sebal.

"Perut gue melilit tau!"

Iya melilit gara-gara gugup ngeliat Kak Guanlin!

"Kebanyakan makan sih."

"Gue aja baru bangun tidur Kak!"

"Pura-pura tidur biar gak ketemu temen anaknya umma, padahal itu Kakak."

Guanlin senyum tipis. Dia udah tau dari ummanya Seonho kalo Seonho paling gak suka ada orang asing dirumahnya.

"Sorry ya jadi ngerepotin lo sama umma lo." Hhh, Seonho jadi gak enak sendiri liat Guanlin minta maaf.

"Santai aja Kak, seneng juga ternyata orangnya itu Kakak. Lagian kalo umma keluar kota bisa ada yang nemenin aku." Ini tulus. Beneran.

"Tumben omongan yang keluar dari mulut lo bener." Ejek Daehwi.

"Gue emang dari lahir udah bener! Sejak ketemu lo bertiga aja jadinya sampah gini!"

"Emang sampah kali."

"Woojin!"

"Gue gak ngomong apa-apa!"

Guanlin senyum canggung ngeliat tiga uke ribut, Hyunbin menepuk bahu Guanlin.

"Sabar-sabarin, Lin. Mereka bertiga uke bacot gak jaga image, gue mah udah biasa ngadepin mereka ngecocot."

"LO JUGA BACOT!" Teriak Daehwi, Seonho dan Woojin.

"Kan, gue selalu salah."

GUEWEH GYE BAPER NEEH, MASA DARI POTOZYUT MPE KEMAREN VIDEO MILIH NAMA FANDOM SI GUANLIN MEPET MEPET KE JIHOON SIHH. YAALLAH KAPALKU DIAMBANK KEMISKINAN

MISKIN FOTO GUANHO WOII ADUHH GALAW