KUKURUYUUUUUUUUUUUUUUUUKKKKK KKKKKKKKK...
Pagi datang lagi! Kali ini Author kasih hiasan suara ayam biar menambah jumlah fauna di hutan.
Seperti biasa, pagi hari selalu diawali dengan cuplikan MimBung (Mimpi Bersambung (?)) nya Rock, dan mimpinya itu ituuuuu melulu. Author aja sampe hapal dialog mimpinya. Tapi kali ini mimpinya BEDA! Okeeee... Kita liat aja mimpinya sekarang!
'Nee-san! Lihat ini!'
'Apa itu, Rock? EH?! Bagaimana kau bisa disini?'
'Kasihan... Ayo kuobati'
'Tunggu Rock! Tampangnya tidak bersahabat,'
'Eh?'
'Hatsune Miku, Magic VocalAzure. Black Rock Shooter, Sword VocalAzure. Target Found...'
SSSSHHH! CLEP!
'AAAAHH! A-apa yang kau lakukan?!'
'R-Rock-chan! Hei kau! Apa yang...'
'VocalTree adalah milik para Azures. Manusia tak boleh memilikinya!'
'Kau... Len?!'
'Dan kami tidak bisa membiarkan orang tamak sepertimu menguasai daerah suci ini!'
'Gale Slice!'
'Dark Fire Ball!'
SLASHHH! DUAR!
'Hahaha... Percuma, kalian terlalu lemah untuk melindungi kebahagiaan ini. Sebenar lagi mereka akan datang, dan kalian akan mati,'
'TIDAK! INI BELUM BERAKHIR! Magical Protection, protect this happiness from the power of hate and dark power!'
SLAAAAASSSSHHHHHH! TSSIIIINNNGGG!
'T-tidak! Hentikan mantra itu!'
JLEB!
BRUK!
'T-tidak... Aku belum selesai...'
'Tidak! Nee-san! Jangan!'
'Dasar gadis keras kepala! Bersiaplah!'
'Jangan ganggu dia!'
TSIINNGG! TAAK!
BRUK!
'Eh? Shooter! Miku! Apa yang kalian lakukan?!'
'Aku... Akan... Melindungi...'
SLAASSSHHH!
'Hentikan, Miku!'
BRUK!
'Baiklah. Kurasa kekuasaan sekarang sudah jatuh ke tangan Len-sama,'
'Len... Jadi kau... Kenapa?'
'TIDAK! Sampai VocalAzure mati, barulah kekuasaan beralih!'
'Jadi, sebaiknya aku membunuhmu?'
'Cukup, Siera! Kembalilah, nanti kau tidak bisa kembali,'
'Baik, tapi aku akan memberikan sedikit hadiah untuk menghentikan mantra konyol ini!'
SHAAAAASSHHHHHH! JLEEEBBB!
'M-MIKU!'
'MIKU-SAN!'
'Baiklah, selamat tinggal'
.
.
.
.
.
.
halah, ending nya sama aja... Author bego
Oke, seperti biasa kita buka matanya si Rock.
Rock membuka matanya dan mendapati dirinya sedang tidur dipangkuan Mikuo.
"Hmm? Rock, sudah bangun?"
Rock tersentak. Rock segera duduk.
"Mimpi apa, Rock? Mimpi buruk lagi?" kata Mikuo.
Rock melihat kekiri dan kekanan. Masih agak gelap. Kaito dan Gakupo pun belum bangun.
"Kau bangun cepat sekali. Apa kau masih pusing?" tanya Mikuo sambil memegang dahi Rock.
"T-tidak... Aku sudah sehat kok," kata Rock cepat sambil memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rona wajahnya setelah mengingat bahwa Mikuo bukanlah kakak kandungnya.
"Tadi kau mimpi apa, Rock?" tanya Mikuo cemas.
"..."
"Tidak apa apa. Ceritakan saja. Aku bisa membantu,"
"Ba-baiklah..." Kata Rock.
Rock mulai menceritakan mimpinya.
"Tadi aku bermimpi melanjutkan permainan petak umpet yang kemarin. Gakupo dan Kaito sedang berusaha mencari aku dan kakakku yang bernama Miku. Lalu aku melihat seekor ular berwarna hijau tosca. Ular itu badannya terluka..."
Wajah Mikuo mendadak pucat dan keringat menetes di dahinya.
"Ada apa, Mikuo? Kau takut ular?" Tanya Rock yang memperhatikan perubahan wajah Mikuo.
"Ti-tidak. Lanjutkanlah."
"Baiklah... Lalu aku memanggil Miku-nee. Aku hendak menyembuhkan ular itu. Namun ketika aku mendekati ular itu, Miku melarangku. Ia mengatakan bahwa wajah ular itu menunjukkan kebencian dan sepertinya ular itu berbahaya. Benar saja. Tiba tiba ular itu berbicara... Seperti mengatakan bahwa aku dan Miku adalah targetnya. Lalu ia menyerangku dan mengenai sebelah mataku, sehingga mataku agak kabur karena bisa nya. Lalu ia mengatakan bahwa VocalTree adalah milik para Azures dan manusia tak boleh memilikinya. Lalu Miku mengatakan bahwa ular itu adalah Len. Aku tidak mengerti... Di mimpi sebelumnya, aku tau bahwa Len dan seorang perempuan berambut blonde dengan pita besar di kepalanya menyambutku di VocalTree. Kenapa Miku bisa mengiranya jahat? Aku dan Miku berusaha menghentikan ular itu yang berusaha menyerang VocalTree. Namun ular itu terlalu kuat. Ular itu mengatakan bahwa pasukan yang lainnya sebentar lagi akan tiba. Lalu Miku membuat semacam pelindung yang sangat besar dan mulai membungkus area VocalTree dengan sihirnya. Tapi ular itu tidak menginginkannya, dan ia menyerang Miku saat sedang menggunakan mantra itu. Walaupun Miku sudah terluka parah, Miku-nee tetap memaksakan untuk melanjutkan mantranya hingga selesai. Lalu Kaito, Gakupo, dan seorang perempuan berambut blonde dengan pita besar di kepalanya datang menghampiri kami dan mencoba melawan ular itu. Namun ular itu mendapat telepati untuk menghentikan penyerangan dan pergi dari situ. Tapi sebelum ular itu pergi, ular itu menggigit Miku dan meracuni Miku dengan bisanya hingga Miku tak mampu menggunakan magic nya lagi"
Rock kemudian melihat ke arah Mikuo yang sedang meneteskan air matanya dan menunduk dalam dalam, entah terharu melihat tulisan indah author atau apa.
"A-ada apa, Mikuo-san?" tanya Rock cemas.
"Ak-aku tidak apa apa," kata Mikuo panik.
Rock curiga melihat gerak gerik Mikuo, namun ia hanya menghela napasnya.
Rock melihat matahari sudah mulai terbit. Kemudian Rock berdiri.
"Aku akan mencari makanan untuk kalian pagi ini. Dari kemarin kan kalian yang mencari makanannya, jadi hari ini aku saja," kata Rock.
"B-baiklah. Aku ikut," kata Mikuo segera berdiri dan menyusul Rock. Seperti biasa, mereka segera menemukan buah buahan di dekat semak semak. Mereka segera membuat api unggun untuk menghangatkan diri dan makan. Tak lama kemudian, Kaito dan Gakupo pun terbangun. Lalu mereka melanjutkan perjalanan.
=SKIP TIME= (karena males nyeritainnya).
Black Rock Shooter POV
Sudah berjam jam kami berjalan mengikuti petunjuk dari mataku yang sakit.
Aneh.. Semakin lama sakitnya semakin hilang.
Akhirnya kami tiba di suatu tempat yang sangat tidak asing bagi kami. Tempat dengan tumpukkan daun kering dan kayu bakar.
Tempat kami tadi berkemah...
Aku jatuh terduduk. Kekesalanku sudah tak terbendung... Berhari hari kami berjalan, dan hanya berputar putar di hutan ini?! Tapi aku kan mengikuti petunjuk dari mataku.. Bagaimana bisa?!
Atau...
Mataku bukanlah penunjuk arah! Tapi menunjukkan arena bermain kami dulu! Tentu saja kami berputar putar, karena dulu kami bermain main di tempat yang sama... Sial... Sudah sejauh ini...
Eh? Masa iya sih main nya lama amat! Pasti bentar lagi nyampe nih! Coba kuperiksa sekeliling...
BZZZTT (?)
Nah! Mulai sakit nih disekitar sini!
Aku berlari meninggalkan teman temanku yang memanggilku dan mulai memasuki bagian hutan ini.
Ah! Aku ingat! Dulu kan aku main bola bersama kawan kawan sarab edan sehati sejiwa gue. Bayangin, main bola di tengah hutan.. Otaknya dimana atuh?
Aku melihat ke sekeliling. Ah! Aku ingat tempat ini! Dulu Kaito menendang bola terlalu jauh, lalu jatuh di semak semak ini! Kemudian Miku mengambil bolanya dan melihat pohon besar diarah kirinya. Lalu kami berlari ke arah sini dan dibalik semak semak ini ada...
SREK SREK
.
.
.
.
.
Tapi, aku tidak mendapati apapun disana.
Aku jatuh terduduk di tanah. Kecewa... Kesal... Heran...
"H...Harusnya... Disinilah tempatnya..."
Aku meneteskan air mataku. Harapanku sudah hilang... Mataku... Sangat sakit... Sangat sakit... Sakit sekali...
"AAAAAAAAAAA!"
...
...
...
...
...
...
"Jangan bohong!"
Aku membuka mataku dengan cepat setelah mendengar teriakan itu. Napasku agak sesak, karena seseorang mencekik leherku. Kemudian orang itu menodongkan pedangnya ke leherku.
"Jangan melawan, Black Rock Shooter... Atau kupastikan nyawamu hilang saat ini," kata seorang laki laki berambut honeyblonde diikat satu dan bermata azure.
Suara ini.. Aku mengenalnya!
"L...Len?!"
"Hhmm? Jadi kau sudah mengingatku, Sword VocalAzure..."
Aku tersentak. Ini benar benar Len! Tapi, kenapa dia mau membunuhku?! Bukankah dia baik padaku dan teman teman waktu berkunjung dulu?
"Baiklah, Mikuo... Jawab pertanyaannya!" kata Len pada Mikuo.
"Sudah kubilang, tidak ada! Kau tidak percaya?!" kata Mikuo kesal.
"Matamu menunjukan kalau kau bohong, Mikuo..."
"Kebenaran apa, Mikuo?" kata Kaito ketus.
"Apa yang kau sembunyikan dari kami?!" kata Gakupo.
Mikuo terdiam... Wajahnya menunjukan bahwa ia sedang panik dan bimbang.
"Jawab, Mikuo..." kata Len sambil menekan pisau itu ke leherku sehingga leherku mengeluarkan sedikit darah.
Mikuo... Apa maksudnya ini? Apa yang kau sembunyikan dari kami?
Mikuo terdiam... Sepertinya ia ingin menyerang, tapi tidak bisa karena Len menodongkan pisaunya kearahku dan kekuatannya belum pulih sepenuhnya setelah pertarungan kemarin.
"A-aku membohongimu..." jawab Mikuo pasrah.
Hah? Membohongi apaan? Ini ngomongin apaan sih?
"!" Kaito dan Gakupo tampak terkejut dan marah.
"Lalu kenapa kau membohongiku, Mikuo-san? Apa semua karena dia?" kata Len sambil mencekikku lebih erat.
"..."
"Kau memang tak berguna. Panggilkan Siera!" perintah Len
Siera? Siapa Siera! Oh! Aku ingat! Itu nama ular yang membunuh Miku! Tapi.. Apa kaitannya Siera dengan Mikuo?
"Untuk apa aku harus memanggil Siera? Kau sudah mengatakan bahwa aku tak berguna, kan?!" jawab Mikuo ketus. Len langsung menekan pedangnya yang ada di leherku sehingga leherku mengeluarkan sedikit darah untuk mengancam Mikuo.
"Huh... Baiklah. Siera!" panggil Mikuo.
Lalu datanglah seekor ular yang cukup besar dan panjang dan berwarna hijau tosca dan merayap di tubuh Mikuo.
Ya! Ini memang ular yang membunuh Miku-nee! Apa ia akan membunuh Mikuo juga?
"Baiklah, Mikuo! Kuberikan kau peluang terakhir. Suruh Siera membunuh Rock, atau Siera yang akan membunuh kalian semua dan orang tuamu," perintah Len.
Mikuo POV
Aku sangat terkejut mendengar perintah Len.
Aku memang sering membunuh orang lain... Tapi kenapa kali ini harus seorang Black Rock Shooter yang menjadi targetku?! Apa Len belum cukup puas dengan tindakannya dulu?
Tapi kalau aku tidak membunuh Rock, sia sia semua pengorbananku selama ini.
"Hei MIKUO! Apa maksudnya semua ini?!" kata Kaito menghampiriku.
"Kau tak perlu tahu," jawabku.
"Jadi selama ini kau mendekati kami karena disuruh oleh Len?!" kata Gakupo tidak kalah dinginnya.
"BERISIK! Itu memang kewajibanku sebagai pengikut Len! Jangan ikut campur masalahku!" bentakku. Kumohon.. Berhentilah menanyakan seperti itu.. Aku tidak mau Rock mengetahui ini!
"K-kau.. Pengikutnya Len?" tanya Kaito sedikit syok.
"Kalian tak menyadarinya dari awal? Dasar makhluk makhluk bodoh! Tak berguna!"
"Walau kau pengikut Len, kau tidak perlu membunuh Rock!" bentak Gakupo.
"Bukankah itu sudah seharusnya? Sebagai pengikutnya, aku wajib menjalankan semua perintahnya" bentakku sedikit kesal karena mereka terus menerus menanyaiku.
"Lagipula, selama ini Rock selalu membuat salah satu diantara kita terluka hebat, bahkan nyaris mati," kataku sambil membelai tubuh ular kesayanganku itu.
Len tersenyum mendengar perkataanku.
"Dan sekarang ia akan membayar semua perbuatannya!"
SLASH!
"TIDAK! MIKUO!"
"HENTIKAN!"
Normal POV
Rock sangat kaget ketika Siera hendak menyerangnya.
'Ternyata benar... Tidak ada yang menginginkanku di dunia ini... Daripada aku mencelakakan lebih banyak orang, lebih baik aku mati saja...' Rock memejamkan matanya, siap menerima rasa sakit dari serangan ular itu.
SSSSHH...
Aneh.. Tidak ada rasa sakit yang dirasakan Rock. Bukankah tadi ular itu sudah menyerangnya?
Rock membuka matanya. Ia melihat ular itu sudah berada 5 cm dari tubuhnya. Ular itu terdiam.
"Ada apa, Mikuo? Cepat bunuh dia!" perintah Len.
Mikuo menunduk. Tubuhnya bergetar hebat. Mikuo mengendalikan ularnya agar menjauhi Rock.
"A-aku.. Tidak bisa..."
Gakupo, Kaito, dan Rock hanya tertegun mendengar pengakuan Mikuo.
"Sejak kapan kau jadi selemah ini, Mikuo? Aku sangat kecewa padamu," kata Len.
"Menghargai nyawa orang lain bukanlah suatu kelemahan, Len!" bela Kaito.
"Kau kira siapa yang membunuh Miku, Shion Kaito?" ucap Len sinis.
Kaito tersentak.
"Diam! Miku mati karena melindungi VocalTree dari seranganmu! Dan tidak ada hubungannya dengan Mikuo! Jangan coba coba mencari alasan, Len!"
Len tertawa kecil.
"Kau masih belum menyadarinya juga? Kau kira ular siapa yang menyerang VocalTree 10 tahun yang lalu dan membunuh Miku? Kau masih mengira itu ularku?" tanya Len.
Kaito, Gakupo, dan Rock sedikit terkejut. Namun mereka menyangkal pikiran negatif mereka.
"T-tentu saja itu ularmu! Hanya kau yang tidak mencintai kebahagiaan VocalTree!" jawab Gakupo ketus.
"Huh.. Kalian memang keras kepala... Pantas saja manusia manusia bodoh seperti kalian sangatlah lemah dan tak berguna," ejek Len membuat Kaito semakin naik darah.
"Mengakulah! Kalau bukan ularmu, siapa lagi?! Dasar kau...!" Kaito sudah berubah jadi Kuroito dan hendak menyerang Len, namun ditahan oleh Gakupo.
"Hahaha... Tidakkah kalian sadar bahwa pemilik ular itu adalah orang yang saat ini kau bela?" ucap Len.
Rock, Kaito, dan Gakupo tersentak. Mereka menatap Mikuo dengan tatapan tidak percaya.
Mikuo menjadi tidak enak dengan tatapan teman temannya.
"B-begini.. Siera memang milikku.. J-jadi, aku yang mengontrolnya... Tapi b-bukan aku yang membunuhnya.. Tapi... Ughh..." Mikuo kehabisan kata kata untuk menjelaskan.
"M-Mikuo... Kukira kau..." Gakupo mengepalkan tangannya.
"Miku kan adiknya! Mana mungkin ia membunuh adiknya sendiri?!" teriak Kaito pada Len.
"KAU masih mempercayai omong kosong yang tidak masuk akal itu?! Haha... Berarti benar... Manusia adalah makhluk yang lemah dan bodoh," jawab Len dengan cepat.
"Apa maksudmu?! Jadi Mikuo..."
"Dia bukan kakakku dan Miku," sela Rock.
"Rock... Kenapa kau..."
"Kenapa kau menyembunyikan ini dari kami?! Sejak kapan kau tau hal ini?"
Rock merasa bersalah terhadap kedua kawannya. Dan mereka pasti akan membencinya sekarang.
"Ceritanya panjang... Sulit untuk menjelaskannya," kata Rock pasrah.
Len sejak tadi hanya menonton drama tragedi dihadapannya sambil tersenyum tipis.
"Lihat? Manusia tak bisa dipercaya... Apalagi menjadi pemimpin? Jadi sebaiknya manusia tak PANTAS menjadi VocalAzure!"
JLEB!
Len menusuk pedangnya ke perut rock.
"Khh... L-Len?! AArgh..."
BRUK!
"Tidak... Tidak... SHOOTER!"
"Rock-san!"
"Rock... Ti-tidak..."
"Hei Mikuo? Untuk apa kau mencemaskannya? Dia musuhmu, kan?" tanya Len pada Mikuo dengan datar.
Mikuo terdiam sejenak... Ingin sekali berlari ke arah Rock, memeluknya untuk yang terakhir kalinya, dan mencoba menyembuhkan lukanya. Tapi, dengan Len disebelahnya, apakah ia bisa? Korbannya bisa lebih banyak hanya karena keegoisan dan kemauannya sendiri.
"Ayo kita lanjutkan rencananya," bisik Mikuo tegas, walau matanya telah meneteskan air matanya.
Len tersenyum penuh arti.
"Akhirnya kita kembali... Semua ini akan menjadi milikku! Sekarang tinggal membuka pelindungnya. Lihat saja, Rin! Kita akan bertemu lagi..."
~TBC~
Maaf pendek dan gak sempet nulis kalimat pembuka dan penutup.. Karen update ini buru buru sebelum UTS.
Gomen karena updatenya lama... Karen sekarang lagi fokus ke 'Vocaloid at Biscuit Land'.
Okeh.. Karen tidur dulu yah~ ngatuk berat nih. Jaa~
