Minseok tersadar dari mimpi buruknya. Pandangannya yang sudah terlihat jelas kini melihat ruangan yang dia tempati sekarang membuat dirinya bertanya-tanya dimana dia sekarang. Kamar yang terlihat begitu sederhana, rapi dan membuat siapa pun yang menempati kamar ini akan sangat nyaman dengan suasana kamar ini.
Pintu kamar terbuka. Luhan datang membawa nampan berisi sepiring sarapan dan segelas kopi untuk Minseok. Minseok menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang. Memandang Luhan dengan wajah datarnya. Luhan menaruh nampan makanan di meja samping ranjang dan duduk di samping Minseok. Memandang Minseok dengan wajah berseri.
"Selamat pagi Minseok. Tidur mu begitu nyenyak."
"Aku ada dimana?"
"Dirumah ku."
Diam. Minseok kembali menyusuri kamar yang dia tempati. Luhan mengambil segelas kopi dan memberikannya pada Minseok. Minseok tersenyum dan mengambil kopi tersebut. Menyesapnya pelan.
"Maafkan aku Minseok. Kejadian semalam-"
"Sulit bagi ku untuk melupakan kejadian semalam. Apalagi melihat bayangan mu membunuh orang yang ada di hutan itu."
Minseok menutup kedua matanya sebentar. Kejadian semalam benar-benar membuat dirinya ketakutan. Untuk pertama kalinya dia merasakan sebuah ketakutan yang sangat dan akan menjadi mimpi buruk baginya sekarang.
"Habiskan sarapan mu."
Luhan tersenyum tipis lalu berjalan keluar dari kamar Minseok. Minseok membuka matanya. Pikirannya terus mengingat kejadian hilangnya Kris. Minseok meletakan kopinya. Dia tersenyum senang mendapati ponselnya masih ada di saku jaketnya.
Di dalam kamar mandi, Luhan membasuh wajahnya dengan air untuk menyegarkan dirinya. Kejadian semalam membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak. Terus menyalahkan dirinya atas apa yang telah terjadi pada Minseok.
Luhan memandang pantulan dirinya di kaca kamar mandi. Memandang dengan pandangan benci yang begitu dalam.
"Bisakah kau tidak menggangu hidup ku? Aku sudah cukup menderita dengan kekuatan sialan ini. Jangan membuat ku semakin di benci oleh orang yang aku sukai. Lucas."
Pantulan bayangan Luhan di kaca tersenyum remeh padanya. Seperti mengejek Luhan yang terlihat begitu lemah dihadapannya. Memohon seperti seorang anak kecil yang meminta permen pada ibu nya.
Luhan keluar dari kamar mandi. Dia melihat Minseok sudah berada di ruang tengah sedang duduk termenung. Luhan berjalan mendekati Minseok.
"Kau baik-baik saja Minseok?"
"Bagaimana aku bisa baik-baik saja jika aku masih memikirkan dimana keberadaan Kris sekarang."
Luhan menelan salivanya cepat. Dia menunduk sebentar untuk menyembunyikan wajah sedihnya. Lalu dia kembali tersenyum manis dan menggenggam tangan Minseok.
"Aku akan membantu mu mencari Kris."
Minseok menoleh melihat Luhan. Matanya terlihat begitu terkejut. Minseok yakin bahwa orang yang telah Luhan bunuh di hutan adalah Kris tapi Minseok masih belum bisa meyakinkan hal tersebut karena tidak adanya bukti yang kuat. Minseok hanya bisa mengandalkan kekuatan spiritualnya itu dan jika dia mengatakannya pada polisi bahwa Luhan lah yang telah membunuh Kris pasti polisi tidak akan mempercayainya. Tidak ada bukti nyata dan Minseok hanya akan di anggap membual dengan kasus pembunuhan itu.
"Jangan mendekati Sehun lagi."
Dengan pelan Luhan melepaskan genggaman tangan Minseok. Dia tersenyum kikuk dan mengelus tengkuk lehernya.
"Mengapa aku tidak boleh mendekati Sehun?"
"Sehun akan menjadi korban mu selanjutnya jika dia masih bersama mu. Aku tidak tahu apa yang membuat mu membunuh Kris sesadis itu. Sebagai sikap pencegahan ku, aku memperingatkan mu agar kau tidak mendekati Sehun lagi."
Luhan tertawa kecut. Dia menunduk dan mengepalkan tangannya perlahan.
"Aku tidak membunuh Kris. Itu bukan aku." Terdengar suara Luhan yang bergetar. Lalu terdengar sebuah isak tangis Luhan.
"Aku tidak membunuhnya. Dia yang melakukannya."
Minseok mengerutkan keningnya. Wajahnya tampak bingung melihat Luhan yang tiba-tiba menangis. Minseok masih diam membeku di tempatnya.
"Dia yang melakukannya. Bukan aku. Aku tidak melakukan hal itu."
"Dia yang sudah membuat ku menanggung ini semua."
Tangis Luhan semakin pecah. Luhan menjambak-jambak rambutnya dengan kuat sambil terus menjerit menyebutkan nama 'Dia'. Luhan terlihat begitu frustasi. Minseok yang tak tega melihat keadaan Luhan masih terus diam di posisinya. Dia begitu ragu apakah dia harus pergi meninggalkan Luhan sekarang atau menenangkannya.
Dengan berani, Minseok meraih tubuh Luhan dan memeluknya. Menyandarkannya dalam dekapannya dan mengelus rambut Luhan pelan. Dalam pelukan Minseok, Luhan terus menyebutkan nama 'Dia'.
"Tenanglah Luhan. Tenang."
.
.
Setelah menenangkan Luhan dari sikap frutasinya sekarang, terlihat Luhan yang sudah terlelap karena lelah dengan tangisannya yang begitu menguras tenaga. Minseok yang penasaran dengan rumah Luhan, kini mulai menyusuri tiap ruangannya.
Minseok menemukan sebuah pintu yang di gembok dari luar. Dia menoleh kesekitarnya mencari apakah ada kunci untuk membuka pintu tersebut. Minseok mengumpat ketika dia tidak menemukan sama sekali kuncinya.
"Jika aku membuka paksa pintu ini, Luhan pasti akan curiga."
Minseok menghela napas pelan. Dia menyenderkan tubuhnya di pintu. Dia berpikir bagaimana caranya untuk membuka pintu tersebut.
Kemudian Minseok memutuskan untuk kembali melihat keadaan Luhan. Dia tersenyum seadanya ketika melihat Luhan yang kini telah bangun dari tidurnya. Luhan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Minseok menghampiri Luhan dan duduk disampingnya.
"Bagaimana keadaan mu? Sudah lebih baik?"
Luhan hanya memberikan senyum tipisnya.
"Maafkan aku. Kau telah melihat bagaimana seorang Luhan menangis seperti bayi."
Mereka berdua tertawa.
"Tapi siapa yang kau maksud dengan "dia"? kau terus menyebut kata "dia" ketika kau menangis."
Luhan menarik napas begitu dalam. Menoleh sebentar ke arah Minseok dan menyandarkan kepalanya di pinggir sofa. Menutup kedua matanya. Minseok yang melihat sikap Luhan seperti itu, memutuskan untuk bungkam. Minseok memilih berdiam diri menemani Luhan dalam kebisuan yang menyelimuti ruangan yang mereka tempati sekarang.
.
.
Dua minggu berlalu dan kasus hilangnya Kris masih belum menemukan titik terang. Tidak ada jejak yang begitu pasti tentang keberadaan Kris. Kedua orang tua Kris setiap hari terus panik membayangkan apa yang terjadi pada anak kesayangan mereka. Kasus pembunuhan yang sadis di kota kecil tempat dimana Minseok dan kawan-kawannya tinggal membuat semua orang begitu takut terlebih dengan munculnya kasus hilangnya Kris. Para penduduk beranggapan bahwa Kris juga telah menjadi korban pembunuhan sadis.
"Minseok hyung."
Minseok menoleh pada sumber suara. Dia tersenyum melihat kedua teman Kris datang menghampirinya.
"Apa yang kau lakukan disini hyung? Sebentar lagi hujan akan turun."
"Laporan cuaca mengatakan bahwa akan terjadi badai hari ini. Semoga kita tidak terjebak di sekolah ketika badai telah datang."
"Aku hanya memikirkan, bagaimana keadaan Kris sekarang. Dia tinggal dimana sekarang, apakah dia makan dengan baik, apakah tidurnya nyenyak, apakah –"
"Hyung…"
Ucapan Minseok terhenti. Suara isak tangis tiba-tiba terdengar. Minseok memandang langit yang semakin menampilkan awan hitamnya. Minseok menahan air matanya agar tidak jatuh. Dia menahan air matanya agar nanti jika hujan turun, air matanya akan tersapu oleh derasnya hujan. Agar semua orang tidak tahu kalau dia sedang menangis sekarang.
"Lebih baik kita pergi dari sini hyung. Hujan akan segera turun."
Kedua teman Kris terus membujuk Minseok untuk segera pergi dari tempat mereka berada sekarang. Tapi Minseok masih terus duduk memandang mendung yang semakin terlihat menghitam.
"Suho, Chanyeol, apakah kalian masih ingat bagaimana pertama kali aku bertemu dengan Kris? Dia orang yang begitu payah jika membuat lelucon. Dia dengan bodohnya membuat lelucon ketika aku sedang merasa sedih. Kalian berdua menertawainya karena kebodohan yang dia buat. Hingga akhirnya aku bisa tertawa karena sikap bodohnya itu."
Minseok tersenyum kecut. Membayangkan bagaimana masa lalu nya bertemu dengan Kris membuat hatinya begitu sakit. Satu tetes air hujan mendarat tepat di pipi Minseok layaknya Minseok sedang menangis merindukan Kris. Hingga satu tetesan air hujan turun dengan derasnya membasahi tubuh mereka bertiga.
Minseok dengan senang hati mengeluarkan semua air matanya yang dia tahan sejak tadi. Menangis dalam hujan. Berteriak sekuat yang dia mau. Memanggil nama Kris terus menerus. Chanyeol dan Suho hanya bisa melihat sikap frustasi Minseok kehilangan Kris. Mereka berdua tahu apa yang Minseok rasakan sekarang. Chanyeol dan Suho menunduk dalam ikut menangis bersama Minseok di derasnya air hujan.
Dari kejauhan, di tempat teduh, Luhan terus memperhatikan mereka bertiga. Mendengar jeritan kesakitan Minseok memanggil nama Kris membuat Luhan semakin merasa kesal. Kesal mengapa bukan Luhan yang Minseok pikirkan. Dengan wajah datar namun dingin dan kedua tangannya mengepal keras, Luhan berjalan meninggalkan tempatnya berdiri.
.
.
Keesokan harinya
"Minseok, selamat pagi."
Luhan tersenyum dan berjalan disamping Minseok dengan wajah bersinar. Minseok menoleh dan menunduk pelan pada Luhan.
"Selamat pagi Luhan."
Minseok kembali berjalan dengan wajah lesu. Luhan berhenti berjalan. Memandang Minseok seperti itu membuat dirinya ikut hanyut dalam perasaan gloomy. Luhan menarik napasnya dan kembali menyusul Minseok.
"Ikut aku sebentar." Luhan menarik paksa Minseok untuk mengikutinya.
Luhan membawa Minseok di gudang tempat peralatan olahraga di simpan. Luhan mendorong tubuh Minseok ke tembok begitu keras. Minseok memandang Luhan tak mengerti.
"Kau kenapa Luhan?"
"Seharusnya aku yang bertanya. Kau kenapa Minseok? wajah mu tidak seperti biasanya."
Minseok membenarkan tasnya lalu membersihkan segaramnya yang terkena debu.
"Aku kenapa itu bukan urusan mu. Urus saja urusan mu sendiri."
Luhan kembali mendorong tubuh Minseok ke tembok. Menarik kerah seragam Minseok kasar. Matanya memancarkan emosi.
"Apa aku salah ucap?"
Luhan dan Minseok saling berpandangan sebentar. Luhan kemudian melepaskan cengkraman tangannya dari kerah seragam Minseok. Menarik pelan leher Minseok dan membisikan sesuatu padanya.
"Kasihan sekali my baby Minseok. Terus bersedih karena kehilangan teman kesayangannya yang telah pergi. Jika kau ingin tahu bagaimana cara teman mu itu pergi meninggalkan mu, aku bisa memberitahu mu sesuatu."
Luhan menoleh melihat wajah Minseok. Minseok melirik kearah Luhan dengan mata tak percaya sekaligus takut. Jantungnya kini berdebar begitu cepat. Kadua tangannya mengepal kuat.
"Apa maksud mu?"
Mata Minseok kembali memandang lurus ke depan. Luhan tersenyum miring. Dia menarik dagu Minseok untuk menghadap kearahnya.
"Tentu saja kau tahu maksud ku, bukan? Menyentuh ku dan kau akan tahu dimana keberadaan Kris sekarang."
Seringai Luhan semakin lebar. Luhan semakin mendekat ke wajah Minseok. Minseok hanya bisa mengedipkan kedua matanya sekarang. Dia menelan salivanya cepat ketika Luhan akan segera mencium bibirnya.
.
.
"Aku hanya tidak ingin melihat kejadian yang mengerikan di depan mata ku. Itu sama halnya seperti mimpi buruk bagi ku setiap aku menutup mata ku."
"Luhan, orang yang selalu memberikan mimpi buruk bagi ku. Setiap kali dia menyentuh ku, mimpi buruk yang sama akan terlihat jelas di mata ku. Aku tidak bisa menahannya."
"Mata ku selalu terkunci dengan matanya yang indah namun mengerikan."
"Mengapa aku harus bertemu dengan mu, Luhan?"
"Pasti, jika kita tidak bertemu, dunia ku akan baik-baik saja dan juga teman ku, Kris, tidak akan hilang atau meninggal sekarang."
.
.
Luhan berhasil mencium bibir Minseok. Menciumnya dengan lumatan lembut yang membuat Minseok kini terjebak dalam permainan bibir Luhan sekarang. Minseok menutup kedua matanya merasakan hisapan ciuman Luhan di bibirnya sekarang.
Permainan lidah mereka berdua terus berlangsung. Bunyi seruan kecupan mereka berdua begitu terdengar halus. Dengan tiba-tiba sebuah desahan pelan terdengar di balik bibir Minseok ketika Luhan mulai mengganti ciumannya pada leher Minseok.
Terlalu menikmati apa yang telah Luhan lakukan pada dirinya, Minseok tak begitu melihat bayangan-bayangan kejadian Kris yang terlinatas di matanya. Tapi satu yang Minseok terus ingat dalam pikirannya, sebuah papan nama gedung tua dekat hutan daerah tempat bimbelnya berada. Wajah Kris yang kesakitan menjadi akhir dimana Minseok bisa melihat kilatan kejadian hilangnya Kris.
"Luhan hentikan!"
Minseok mendorong Luhan sekuat tenaga. Napasnya yang tak beraturan membuat tubuhnya bergetar takut. Wajah Minseok menunduk dalam. Luhan terlihat begitu senang melihat bagaimana keadaan Minseok sekarang.
"Kau sudah tahu bukan dimana keberadaan Kris sekarang?"
Luhan tertawa. Dia menepuk pundak Minseok pelan lalu berjalan pergi meninggalkan Minseok dengan tawa penuh kemenangan.
.
.
Sekolah telah usai. Satu persatu semua siswa meninggalkan ruang kelas mereka. Minseok yang masih betah duduk di bangkunya tidak bergeming untuk bangkit dari tempat duduknya sekarang. Pikirannya masih terus tertuju pada bayangan dimana tempat Kris berada sekarang. Masih memikirkan bagaimana wajah kesakitan Kris di matanya.
"Brengsek! Sialan!"
Minseok mengepalkan tangannya kuat. Dia menggebrak mejanya keras.
.
.
Setelah lama berdiam diri di kelas, Minseok mulai meninggalkan sekolahnya. Dia berjalan menuju ke daerah tempat bimbelnya berada. Mencari gudang tua dimana tempat Kris berada. Dalam perjalan menuju kesana, Sehun menyapa Minseok hingga Sehun memaksa Minseok untuk mengikutnya kemana dia akan pergi.
"Sehun kau bisa pulang duluan."
"Hyung mengusir ku?"
"Aku tidak mengusir mu Sehun. Aku hanya menyuruh mu pulang. Bukankah orang tua mu sedang menunggu mu di rumah?"
"Hanya telat sebentar pulang ke rumah tidak apa-apa kan. Lagi pula aku sangat bosan hari ini. Aku tidak bertemu dengan Luhan hyung seharian ini."
Minseok menghentikan langkahnya. Tangannya mengepal kuat ketika Sehun menyebut nama Luhan.
"Aku akan ikut dengan mu hyung. Kau mau pergi kemana? Tenang, jika hyung haus aku akan membelikan mu minuman. Bukankah hyung suka kopi? Aku akan membelikannya untuk mu nanti."
Minseok diam. Dia kembali berjalan tanpa menghiraukan perkataan Sehun.
Celotehan Sehun terus terdengar hingga mereka berdua sampai dimana tempat Kris disekap. Gedung tua dekat hutan yang Minseok maksud. Papan nama gedung yang Minseok liat dalam bayangannya ketika Luhan menciumnya tadi pagi masih bertengger kuat di atas gedung.
"Hyung, apa yang kita lakukan disini? Kau tidak salah tempat kan hyung?"
Sehun menoleh kesana kemari melihat kesekitar lokasi gedung.
"Hyung tempat ini menyeramkan. Lebih baik kita pergi saja dari sini."
Sehun mengusap kedua lengannya karena takut. Lalu dia terkejut ketika melihat Minseok terus berjalan masuk ke dalam gedung.
"Heiii Minseok hyung! Apa yang kau lakukan?!"
Minseok terus berjalan masuk ke dalam gedung itu. Sehun yang merasa takut di tinggal sendirian akhirnya memutuskan untuk mengikuti Minseok ke dalam gedung.
Wajah Sehun semakin terlihat ketakutan ketika mereka telah berada di dalam gedung. Bau anyir yang tak sedap. Seperti bau darah bercampur dengan bau busuk daging. Sehun menutup kuat-kuat hidungnya dengan kedua tangannya. Tubuhnya semakin bergetar ketika langkah kakinya terus mengikuti Minseok masuk semakin dalam gedung tua tersebut.
Semakin ke dalam bau tak sedap itu semakin menusuk hidung mereka berdua. Sehun yang tidak tahan dengan bau tersebut sudah merasakan mual yang hebat. Dia berhenti di tempatnya dan mendudukan dirinya. Kepalanya terasa pusing dengan bau yang tak sedap itu.
Minseok melihat sebuah gundukan besar berbungkus kantong sampah berwarna hitam. Bau itu berasal dari gundukan itu. Minseok juga merasakan hal yang sama seperti Sehun. Tidak kuat dengan bau busuk yang menusuk hidungnya dan kepalanya semakin terasa pusing.
Minseok meraih kantong sampah tersebut. Ketika dia menyentuhnya, kilatan kejadian bagaimana kantong ini berada terlihat. Minseok semakin bersemangat membuka kantong sampah itu. Hingga dia terkejut dengan apa yang dia lihat dari isi kantong sampah yang dia buka.
Sebuah mayat tanpa busana dengan tubuh yang terlihat benar-benar mengenaskan. Minseok dengan sedikit keberaniannya mendekati mayat tersebut. Air matanya keluar ketika tahu bahwa mayat itu adalah Kris.
"Sehun cepat hubungi polisi sekarang!"
Tanpa pikir panjang Sehun melakukan apa yang Minseok suruh. Dengan cepat Sehun menghubungi polisi dan menyuruh mereka untuk segera datang ke lokasi kejadian.
.
.
Selang beberapa menit, kini gedung tua itu di penuhi oleh polisi dan petugas lainnya. Minseok dan Sehun kini berada di mobil ambulance untuk memeriksa keadaan mereka. Minseok masih shock dengan apa yang dia temukan. Mayat. Tanpa busana. Mengenaskan. Sebelah matanya tercongkel. Apa yang Minseok lihat benar-benar diluar pikirannya. Seseorang telah tega melakukan hal keji pada Kris. Sehun yang masih merasa pusing hanya bisa menepuk pundak Minseok untuk menenangkannya.
Dari semak-semak hutan yang gelap, Luhan dengan menggunakan masker untuk menutupi wajahnya, topi dan juga hodie nya untuk menutupi kepalanya agar tidak terlihat oleh siapapun kini hanya bisa menyaksikan kejadian di dekitar gedung tua dengan mata menajam. Matanya menyipit ketika pandangannya menangkap Minseok dan Sehun sedang duduk di mobil ambulance berdua dengan Sehun merangkul pundak Minseok.
.
.
Kedua orang tua Kris begitu terkejut dengan apa yang terjadi pada anaknya. Kris ternyata telah menjadi korban pembunuhan sadis di kota mereka. Ibu Kris tak sadarkan diri setelah melihat mayat anaknya ketika di rumah sakit. Ayah Kris masih belum bisa mempercayai apa yang telah terjadi dengan anaknya. Mau tidak mau ayah Kris mendengarkan dengan hati yang berat bagaimana keadaan mayat Kris sekarang.
"Jasad anak Anda ditemukan oleh teman anak Anda bernama Kim Minseok dalam keadaan mengenaskan. Jasadnya telanjang dengan luka lebam akibat pukulan benda tumpul berada di sekeliling tubuhnya. Dua tulang rusuknya pecah dan kami menduga itu karena pisau yang dilakukan oleh sang pelaku. Kami juga mengamati ada 25 tusukan, termasuk pada rongga mata. Matanya telah di cungkil oleh sang pelaku. Jejak pisaunya juga di temukan pada daerah panggulnya dan menciderai alat kelaminnya."
Diam. Polisi menghentikan penjelasannya pada ayah Kris. Melihat keadaan ayah Kris yang semakin berantakan, polisi akhirnya menyudahi pembicaraan tentang kondisi mayat Kris.
"Hanya itu yang bisa saya jelaskan kepada Anda untuk saat ini, Tuan Wu. Jika ada titik terang tentang sang pelaku, kami akan menghubungi Anda."
Setelah berjabat tangan dengan polisi, ayah Kris terlihat begitu lesu. Wajahnya begitu kusut dan pucat. Dia menyandarkan dirinya di kursi rumah sakit dengan perasaan bercampur tak karuan.
.
.
Setelah kejadian ditemukannya jasad Kris, kini Minseok berada di kantor polisi untuk memberikan keterangan terkait dia yang menemukan jasad Kris pertama kali.
Minseok memberikan penjelasan apa yang dia lakukan kemarin tanpa dia mengatakan hal yang sebenarnya tentang kekuatan spiritualnya. Akhirnya Minseok selesai memberikan beberapa keterangan di kantor polisi. Tubuh Minseok lemas ketika keluar dari kantor polisi. Rasanya dia ingin mengistirahatkan tubuhnya sebentar. Kepalanya masih terasa pusing dengan kejadian kemarin.
Di luar kantor polisi, Minseok melihat Sehun dan Luhan sedang berbincang-bincang di parkiran mobil. Minseok menghampiri Sehun dan menarik Sehun paksa untuk menjauh dari Luhan. Sehun yang tidak tahu apa-apa hanya mengikuti Minseok sekarang.
Minseok mengajak Sehun untuk pergi ke café tempat dimana Minseok bisa mengisi perutnya yang lapar. Sehun terus bertanya pada Minseok karena sikapnya yang terlihat aneh tapi Minseok terus mengabaikan Sehun dan terus memakan makanannya dengan lahap.
"Baiklah hyung aku tidak akan bertanya lagi kepada mu. Aku akan diam." Sehun mengambil minumannya dan menyedotnya dengan wajah cemberut.
"Bisakah mulai sekarang kau tidak bertemu dengan Luhan lagi? Jangan berteman lagi dengannya."
Sehun mengerutkan keningnya. Dia menaruh minumannya kembali kemeja.
"Memangnya kenapa?"
Minseok langsung berdiri. "Ayo aku antar kau pulang." Minseok langsung berjalan keluar café diikuti Sehun yang mengekor di belakangnya dengan terus bertanya alasannya tentang perkataan Minseok tadi.
Dalam perjalan menuju ke rumah, Sehun terus berisik meminta jawaban dari Minseok. Hingga mereka sampai di depan rumah Sehun dan Minseok yang jengah dengan suara Sehun yang berisik akhirnya memberikan sebuah jawaban yang membuat Sehun terkejut.
"Kau ingin tahu apa jawaban ku?"
Sehun mengangguk senang.
Minseok menarik baju Sehun agar sedikit menunduk kemudian dengan cepat Minseok mencium bibir Sehun. Semburat merah muncul di wajah Sehun sekarang. Apa yang telah Minseok lakukan benar-benar membuat Sehun tak berkutik. Tubuhnya kaku tak bisa bergerak.
"Aku menyukai mu Sehun."
"Hyung kau…"
Mata Minseok masih menunjukan tatapan dingin yang menusuk sejak dia melihat Luhan di kantor polisi. Entah Minseok bisa menahan emosinya terhadap Luhan sekarang atau tidak.
"Kau ingin bermain dengan ku Minseok? baiklah jika itu yang kau inginkan. Aku akan menurutinya. Kau akan segera tunduk pada ku Kim Min Seok."
Luhan langsung pergi setelah melihat apa yang telah Minseok lakukan kepada Sehun. Seringai yang tercetak jelas di wajah tampannya membuat Luhan terlihat mengerikan.
.
.
.
Apa yang kalian pikirkan tentang ff ini? Bisa kasih review nya ya ^^
Klo ada masukan buat ff ini (maybe buat next chapter boleh kali ya :v) boleh keluarin unek-uneknya, K!
