Xúnzhǎo Xìngfú

.

(2)

Author : Jonanda Taw

Main Cast : Kris Wu and Huang Zitao

Genre : Damn I love ANGST. Actually, Romance too.

Rated : T

WARNING!

Regular : Normal PoV

Italic : Tao's Flashback

Bold : Kris' Flashback

Disclaimer : Member EXO milik Tuhan YME sepenuhnya. Cerita ini bukan remake, dan plagiat cerita lain. Kesamaan alur, tempat, dll hanyalah kebetulan semata. Mohon maaf untuk plagiator, tapi saya membenci anda.

Thanks to violetkecil. 'He Was a Writer'-nya menyentuh banget walau sederhana :')

p.s : Saya Muslim, bukan Nasrani. Akan ada scene Natal di sini. Untuk kekurangan dan kesalahan saya mohon maaf.

p.s.s : Banyak kata-kata tabu di FF ini, hati-hati.

.

Happy reading

.

.

.


Kau bagai ornamen Natal dalam bola kaca

Dihujani salju putih yang membuatmu nampak suci

Sedangkan aku hanyalah rumput buatan yang ada di dalamnya

Melindungimu, menjagamu

Menghangatkanmu dengan rindu yang entah sejak kapan lahir menemaniku

.

Kepadamu, kusimpan setumpuk rasa dalam raga yang sesak dipenuhi ragu

Kepadamu, kutitipkan sayang yang telah memilihmu

Kepadamu, kuberikan cinta putih yang malaikat anugerahkan padaku

Maaf

Karena pemberinya, aku, tak dapat seputih cinta itu

.

Aku tahu,

Mungkin jalanku dan jalanmu bukan satu

Terlalu sulit untukku dan dirimu menyatu

Aku hanya dapat mengagumimu, disini

Bagai menatap malaikat yang terkurung dalam patung batu

.


Kris tidak punya pohon Natal dalam rumahnya. Juga tidak ada satu pun pernik Natal atau hadiah di rumah ini.

Mereka ─Kris dan Tao─ sarapan dalam hening, tentu saja diselingi suara sendok, garpu, dan piring yang beradu dan menimbulkan denting-denting kecil. Mereka hanya saling mengucapkan 'Selamat Natal' satu sama lain dan pada akhirnya Kris mengajaknya ke ruang makan untuk sarapan. Jujur saja, Tao tidak begitu menikmati spageti buatan Kris karena masih terasa aneh saat dikunyah, yang penting ini cukup untuk mengganjal perut sampai Kris berbaik hati mengajaknya makan lagi. Tao tidak tahu harus mulai bekerja darimana sebelum majikan barunya itu memberi instruksi, ia hanya takut melakukan kesalahan.

"Rasanya buruk," Kris mengomentari masakannya sendiri dan mengambil gelas air putih dari sisi kanan lalu meminum setengah isinya.

Tao tidak mengatakan apa-apa dan tetap mengunyah sampai suapan terakhir akhirnya masuk ke mulut.

"Misa dimulai satu setengah jam lagi. Apa kau akan ke Gereja?"

Tao berpikir sejenak untuk mengingat kapan terakhir kali ia pergi ke Gereja hingga akhirnya ia menggeleng pelan. "Apa kau akan kesana, Kris?"

"Tidak," balas Kris dengan nada tegas. Ngomong-ngomong, Kris sering berbicara seperti itu. Bersinar dan berkharisma, pantas untuk disegani walau tak menyeramkan.

"Baiklah."

Kris bangkit dari kursinya dan mengambil topi merah Santa beserta jenggot palsunya yang diletakkan di kursi samping, ia berjalan naik tangga. "Kau tau apa yang harus kau lakukan 'kan? Cari dapurku sendiri, hitung-hitung pengenalan terhadap rumah."

Tao harus selalu mengingat bahwa ia memiliki dua status di sini; seseorang yang menumpang sekaligus pesuruh.

"Asal jangan masuk ke kamarku. Sekalipun," lanjut Kris.

Tao mengangguk. Ia tahu kamar Kris ada di seberang kamarnya, dipisahkan oleh pagar pembatas lantai.

Tidak sulit menemukan dapur di rumah yang cukup luas ini, pintu dapur kotornya tepat dibawah tangga setengah lingkaran yang menghubungkan lantai pertama dan kedua. Kesan pertama yang Tao dapatkan tentang dapur Kris adalah 'cukup rapih untuk seorang pria bujang'. Hanya ada sedikit noda makanan yang mengering di beberapa tempat dan sampah menumpuk yang belum dibuang. Kris bahkan rajin untuk menyuci peralatan masaknya sendiri.

"Cepat mandi," Kris memerintah saat Tao mengelap meja makan. Pria itu berdiri di anak tangga terakhir dengan pakaian Santaclaus merah, lengkap dengan perut buncit yang sepertinya terbuat dari bantal sofa. "Kau bisa pakai pakaianku. Aku sudah membawa beberapa pakaian lama ke kamarmu. Setelah itu pergi ke garasi."

"Iya," Tao menjawab sambil menahan tawa. Ia tahu, mungkin ini sedikit kurang ajar, mengingat yang ia tertawai adalah majikannya. Tapi Kris memang tidak cocok menjadi badut Santa dengan perut gendut dan baju kebesaran. Tao bahkan sudah beberapa kali menangkap Kris membenahi bantal sofanya yang melorot dengan matanya.

Kris bukan hanya memberi beberapa baju ke kamarnya, tapi beberapa lusin. Tao bahkan bingung harus mengenakan pakaian yang mana setelah ini. Ada dua kotak pakaian dalam yang masing-masing terdiri dari empat buah celana dan dua kaus putih tanpa lengan, ia yakin masih baru karena dilipat sangat rapi dan masih kaku. Beberapa lembar Yuan dan sebuah note diganjal di bawah kotak pakaian dalam dan bertuliskan "Belilah beberapa kebutuhan lain dengan uang itu."

Baru beberapa jam berkenalan dengan Kris, Tao sudah berpikir puluhan kali bahwa Kris adalah orang yang terlampau baik walau sedikit kaku.

Akhirnya pemuda Huang itu memutuskan menemui Kris dengan celana kulit imitasi dan sweater putih, ia tidak mengenakan jaket karena tak ada satupun jaket yang cukup di badannya kecuali sebuah jaket kulit hitam dengan tulisan A7X di punggung.

Kris memberinya sebuah topi merah dengan bola berbulu warna putih di ujung begitu sampai di garasi. Kris tidak mengucapkan apapun setelahnya, tapi dengan isyarat mata, Tao tahu bahwa Kris menyuruhnya memakai topi itu dan masuk ke sebuah van warna metal yang separuh badannya sudah maju dari batas pintu. Ia duduk di kursi penumpang depan, pada posisi kanan. Kris ada di belakang kemudi.

"Berapa umurmu?" itulah pertanyaan pertama Kris dalam mobil. Lampu merah sedang menyala dan mereka berhenti.

"Mei depan, usiaku sudah duapuluh tahun."

Kris menoleh ke arahnya sebelum menarik persneling karena lampu lalu-lintas sudah berganti warna menjadi hijau. "Kau masih muda."

Tao hanya membalas dengan senyum dikulum dan melempar pandangannya keluar jendela. Ia sedikit merasa asing dengan Beijing pada Natal kali ini. Apa karena Beijing berkembang pesat beberapa tahun belakangan, atau karena ia selalu melewatkan Natal seperti hari-hari biasa dua tahun ini? Maksudnya, Natal dengan pesta seks, bukan seperti perayaan Natal lainnya.

"Aku duapuluh dua," Kris menggumam kurang jelas.

Tao menoleh dan mengernyitkan dahi. "Maaf?"

"Aku duapuluh dua tahun bulan lalu."

"Oh," kata Tao. "Jadi aku harus memanggilmu gege?"

Kris menyunggingkan senyumnya sambil memutar setir ke kiri. "Terserah padamu."

Ketika mereka tidak saling mengobrol lagi, entah kenapa Tao merasa cuaca semakin dingin.

"Jadi gege masih kuliah?"

Kris menggeleng. "Aku sudah menyelesaikan studi manajemenku tahun lalu, dan sekarang aku meneruskan usaha Mom."

Mendengar kata 'Mom' membuat Tao merindukan ibunya.

"Sudah sempat mengucapkan Selamat Natal ke keluargamu?"

"Tidak, aku tidak punya ponsel." Sebenarnya, bukan hanya itu alasannya. "Lagi pula aku sudah tidak punya keluarga lagi."

Kris terdiam lama. "Maaf," ucapnya setelah itu. "Bagaimana dengan kakimu?"

Tao melirik ke kakinya yang diperban. Tidak sakit saat dibuat berjalan, hanya ngilu ketika jempolnya bergerak. "Baik-baik saja. Aku suka sandalnya, walau akhirnya terasa dingin."

"Hanya itu milik Billy yang ada di rumah." Kris melirik kearah sandal biru motif pesawat yang dipakai Tao lalu kembali fokus ke jalanan. "Itu kekecilan? Berapa ukuran kakimu?"

"Empatpuluh tiga."

"Sama sepertiku," Kris berkomentar. "Billy empatpuluh dua."

Belum sempat Tao bertanya, Kris berbicara lagi. "Billy itu kakakku. Dia pilot, jarang pulang. Dia lebih suka ke rumah Momku."

Menarik. Tao mulai mengenal keluarga Kris hanya karena ukuran sepatu.

Mereka berhenti di sebuah gang kecil yang ujungnya buntu, hanya bisa dilewati sebuah mobil dan sepeda berpapasan, di depan sebuah bangunan dengan teras luas bernama 'Panti Asuhan Xuanlu'. Saat Tao melirik Kris yang belum turun dari mobil dan sibuk mengenakan topi serta janggut, ia tahu, Kris akan menjadi Santaclaus untuk anak-anak panti asuhan ini.

"Bawa turun kardus-kardus di jok belakang. Kita bawa masuk bersama."

Tao menurut dan turun dari mobil. Ia menggeser pintu jok kedua dan menemukan empat kardus berukuran sedang berisi hadiah-hadiah yang sudah dibungkus dengan kaligrafi nama yang indah di tutupnya.

"Tulisannya bagus," Tao berkomentar saat mereka beriringan membawa kardus-kardus itu masuk.

Kris menoleh dan janggutnya melorot sedikit. "Tulisan diatas hadiah Natal itu?"

Tao mengangguk dan menempelkan dagunya di atas tepian kardus. "Berbeda dengan tulisan yang kau taruh di kamar tadi."

"Ini tulisan Chanyeol," Kris menjelaskan.

"Siapa Chanyeol?"

"Sepupuku." Singkat, padat, jelas.

Panti asuhan terlihat sepi. Mungkin anak-anak sedang ke Gereja. Tao menunggu di teras, berdiri sambil bersandar di pilar dan kardus-kardus yang masih dibawa lengannya sedangkan Kris berbicara dengan seorang pengurus panti berkacamata yang terlihat masih muda.

"Itu temanmu Kris?" Tao berhasil menguping satu kalimat.

Tao melihat Kris menoleh ke arahnya sambil memelorotkan janggut palsu, mungkin gatal. "Ya. Dia akan menemaniku disini."

Pengurus panti itu tersenyum dan menepuk lengan Kris. "Kukira temanmu hanya Chanyeol dan pacarnya itu."

"Chanyeol itu sepupuku, Nyonya Zhou," Kris mengoreksi.

"Aku tahu." Nyonya Zhou, si pengurus panti menghampiri Tao dan mengajaknya berkenalan.

"Tao, Huang Zitao," jawabnya sesaat setelah ditanyai.

Melihat Tao dan Kris yang sama-sama nampak lelah karena membawa barang terlalu lama, Nyonya Zhou mengetahui kesalahannya dan mempersilahkan mereka berdua masuk. Kris terlihat sudah familiar dengan panti asuhan ini, ia duduk di sofa yang biasa digunakan untuk menyambut calon orang tua yang akan mengadopsi.

"Kau hanya perlu duduk di sini dan membantuku membagikan hadiah untuk setiap anak. Panggil namanya dan mereka akan mendatangimu." Tao menoleh ke asal suara, Kris memberikan instruksi padanya.

"Baiklah," Tao berkata. "Apa kau melakukan ini setiap tahun?"

Kris membuka tas tennisnya dan mengeluarkan sepatu boot hitam, pria ini benar-benar berusaha menjadi Santaclaus. "Baru dua tahun belakangan. Selain itu sesekali aku kemari untuk menjadi donatur."

Apa Kris semacam malaikat? "Kau tertalu baik," Tao berkomentar.

Kris tersenyum selagi mengikat tali sepatu kanannya. "Aku hanya berusaha mengimbangi dosa-dosa dan perbuatan baikku."

Tao menoleh, "Semua orang punya dosa." Tao memutar memorinya kembali, "Aku juga banyak dosa."

"Mungkin, kita adalah pendosa-pendosa, Tao." Tao menunduk. Suara Kris terdengar lebih dalam dari biasanya. "Pedosa yang entah kenapa Tuhan sia-sia menciptakan kita karena pada akhirnya kita hidup untuk menjadi sampah."

"Bukankah sampah itu tak berguna? Kau berguna, Kris. Tanpamu anak-anak di panti ini tak akan mempunyai kado Natal." Tao menggeser tempat duduknya mendekati Kris, membungkuk agar dapat menatap wajah rupawan orang di sebelahnya, lalu tersenyum. "Kalau kau sampah, aku tak akan di sini sekarang."

Kris tersenyum namun pandangannya tetap kosong. "Terima kasih."

Mungkin Kris bukan sampah seperti yang ia katakan, tapi bagaimana dengan Tao sendiri? Dua tahun menjajakan diri hampir setiap hari, ribuan pria dan dan segelintir wanita sudah ia puaskan birahinya, lalu apakah ia? Sudahkah ia berjuang mati-matian mengalahkan jumlah dosa-dosanya seperti Kris yang berusaha selalu berbuat baik, walau Tao tak tahu dosa apakah yang Kris maksud?

Entah kenapa memikirkan dirinya hari kemarin, ketika ia masih bermain di atas ranjang dengan pria-pria yang membayarnya, membuat perutnya terasa seperti diputar-putar. Tao tidak pernah merasa pusing dan mual ketika memikirkan seks. Lalu, kenapa? Apa ia keracunan spageti buatan Kris? Tao melirik sang majikan yang sedang membenahi janggutnya lagi, ia baik-baik saja. Semakin berusaha untuk tidak memikirkannya, yang ada malah ia semakin memikirkan hal itu.

Perasaan ingin muntah itu semakin menjadi ketika ia berusaha memikirkan Natal saat ia masih berumur enam tahun, bersama ibunya. Tao ingat, saat itu 'Santaclaus' mengirimi ia sepeda roda empat karena ia berusaha berbuat baik selama satu tahun. Ibunya memasak daging asap saus nanas dan membawakan ia es krim vanila dengan choco chips, padahal suhu sangat dingin hingga membuat botol air minum menjadi berembun. Tao mengingatnya, ia tidak mau mengingatnya.

Lima menit kemudian, spageti lembek di perut Tao sudah berpindah ke pipa wastafel.

.

.

.


Kris membaringkan Tao di ranjangnya dengan hati-hati begitu acara pembagian kado Natal selesai. Ia bahkan masih memakai topi Santa walaupun bantal dan janggut palsu sudah ia lepas. Pria itu menatap Tao yang masih lemas sambil berkacak pinggang dengan pandangan prihatin. "Kenapa bisa?"

Tao memegangi perutnya, menekuk kaki seperti keong, lalu menggeleng.

"Sebelumnya kau baik baik saja." Kris menghembuskan nafas dan melepas topi serta pakaian Santa merahnya, ia memakai kaus hitam tipis di bagian dalam. "Benar-benar tidak butuh dokter?"

Tao menggeleng lagi. "Aku hanya mual dan muntah."

"Kau muntah empat kali dalam tiga jam."

Tao diam, apa yang Kris ucapkan memang benar.

"Seperti orang hamil," Kris melanjutkan.

Oh tidak, Tao merasa mual lagi. Tapi ia menahannya, sudah tidak ada makanan yang bisa dimuntahkan. "Aku tidak hamil, ge."

Rasanya ingin sekali Kris mengatakan "Kau mantan tuna susila, Tao. Kau bisa hamil", tapi ia tak ingin menyakiti hati tamu jangka panjangnya itu. Jadi, ia hanya bergumam pelan dan meninggalkan Tao sendiri di kamarnya. "Istirahatlah."

Tao tak membantah dan menarik selimutnya sampai dagu.

Kris menutup pintu hijau muda itu pelan-pelan, ia bergeser satu langkah ke kanan dari tempatnya berdiri, di depan tembok. Mungkin drama benar, jadi orang baik itu merepotkan. Baru satu hari Tao ada di rumahnya dan ia sudah cukup menyusahkan dengan perban di kakinya dan muntah-muntah di panti asuhan tempat ia menjadi donatur.

Kris merasa ponsel di sakunya bergetar, jadi ia menyendenkan diri dan membaca pesan yang masuk.

.

From : Park Chanyeol

Aku pulang nanti malam. Ada satu rekening mencurigakan, bisa begadang hari ini? Jangan lupa memasak, aku tidak mau makanan instan.

.

To : Park Chanyeol

Jangan bawa pacarmu kerumah. Ada pesuruh baru di sini. Dia steril, jangan macam-macam. Hanya ada spageti. Aku pulang malam.

.

Terkirim.

Kris memasukkan ponselnya kembali ke saku. Ia berjalan memutar ke kamar sambil melempar-lempar topi merahnya. "Empatpuluh tiga," ia menggumam. "Empatpuluh tiga."

.

.

.


Tao sudah biasa di rumah sendirian tiap malam di usianya yang baru menginjak angka enam. Mengerjakan PR, mengganti piyama tidur, menggosok gigi sebelum tidur, ia sudah bisa melakukannya sendiri. Tapi Tao tetap ingin ada bersama ibunya di malam Natal.

Jadi, di malam Natal itu, dengan kaki tertutup selimut dan memakai piyama sapi, Tao berdoa sebelum tidur agar ibunya bisa pulang lebih cepat. Setidaknya, sebelum matahari terbit.

Tao anak baik, jadi Ia mengabulkan doanya.

Tao bangun di pagi hari dengan ibu yang memeluknya, tidur di sampingnya. Wajahnya tepat berada di depan leher sang Ibu yang entah mengapa selalu dihiasi beberapa tanda kecoklatan yang akan hilang dalam kurun waktu tertentu, berbeda dengan kulitnya yang pucat seperti mayat.

Hantu Musim Salju.

Tao pernah bertanya tentang tanda-tanda itu, tapi ibunya berkata bahwa ia akan mengerti setelah ia dewasa. Ibunya juga bilang bahwa mungkin Tao juga akan memilikinya, nanti. Jadi pria kecil itu akan menunggu jawabannya sampai ia besar, sampai batas maya yang ibunya sebut 'dewasa'.

"Mama, Selamat Natal!" Tao berseru ketika ia menyadari ibunya mulai mengerjap untuk bangun.

"Selamat Natal," ibunya membalas. "Sudah mengecek hadiah yang Santa berikan?"

Tao menggeleng. "Aku menunggu Mama bangun. Kita buka bersama-sama."

Ibunya tersenyum. Ia mengambil tas tangan yang ada di meja nakas dan memberikan sebuah kunci. "Santa menitipkannya pada Mama."

Tao mengambil kunci itu dengan kedua tangan dan menatapnya lekat. "Santa memberiku kunci?"

"Tidak," terdengar nada tawa yang merdu. "Maksud Mama, Mama tidak tahu. Tapi sepertinya tidak. Mengapa Santa hanya memberi anak baik sebuah kunci di hari Natal?" Jadi, sesudah itu, Nyonya Huang dan putranya bermain sebuah permainan kecil di pagi Natal. Mencari lubang yang pas untuk kunci yang Santa beri.

Kunci kamar? Tidak.

Kunci diary rahasia peninggalan nenek? Bukan.

Kunci brankas milik ibunya? Apalagi itu, pasti salah.

Lalu apa?

Tao akhirnya sarapan dengan kesal karena ia sudah mengelilingi rumah untuk menemukan benda yang pas untuk kunci tersebut. Ibunya membuat daging asap saus nanas, ia juga menyimpan satu wadah besar es krim vanila choco chips di kulkas. Tapi tetap saja Tao sebal karena tidak menemukan hadiah dari Santa.

Rasa marahnya mencair ketika ia menemukan sebuah sepeda berwarna biru di halaman rumah mungilnya, saat ia akan membuang sampah.

"Mama! Mama! Aku rasa aku menemukan hadiah dari Santa! Kunciku ada dimana?" Tao melompat girang masuk ke rumah dan berlari dengan langkah lebar ke dapur. Ibunya menunjuk kamar dengan tangan yang masih terbungkus sarung tangan karena ia baru mengeluarkan muffin blueberry dari dalam oven. Tao akhirnya berlari ke kamarnya untuk mengambil kunci dan kembali ke luar.

Tao merasa sangat senang ketika kunci itu berhasil masuk ke lubang kunci sepeda. Ia berteriak lagi untuk memanggil ibunya, "Mama! Santa memberiku sepeda pada Natal kali ini!"

"Benarkah?"

Tao menoleh dan mendapati ibunya sudah ada di belakang. Ia mengangguk sambil tersenyum. Tapi senyumnya menghilang ketika ia melihat ada dua roda tambahan di belakang sepedanya. "Tapi kenapa dia memberiku sepeda roda empat? Aku sudah masuk SD."

Tao merasa kedua pundaknya dielus. "Santa tahu kau belum pernah mempunyai sepeda. Mungkin ia ingin membuatmu belajar naik sepeda lebih dulu. Nanti kita lepas roda bantunya."

Pemuda Huang itu berjongkok, mengamati dua roda kecil yang disambung ke gerigi tengah dengan besi. "Baiklah," ia berkata dengan nada menyeret.

"Kau tahu harus mengatakan apa setelah diberi sesuatu?"

Tao kecil tersenyum dikulum sambil memainkan jarinya. "Terima kasih, Santa."

.

.

.


Kris suka memilih pohon natalnya sendiri. Ia membeli sebuah cemara kecil berukuran dua meter yang dijual di pinggir jalan, satu dari tiga cemara yang dipajang berjejer. Ia bertanya-tanya apakah dua cemara lain akan merasa sedih dan kehilangan ketika cemara miliknya diangkut ke rumah.

Kris juga suka menghias pohon natalnya sendiri. Ia akan menghias pohon itu dengan kertas krep dan bola-bola warna emas, merah, dan bening. Uncle David yang menjadi ketua pengasuhnya akan mengangkatnya di pundak agar Kris bisa memasang hiasan bintang di puncak. Ada satu hal yang tidak bisa Kris lakukan dengan tangannya sendiri, memasang lampu warna-warni. Uncle David juga yang melakukannya.

Di malam Natal tahun ini, Kris memakai jaket biru tua yang tebal dengan bulu putih tebal di leher karena udara Vancouver sangat dingin, padahal salju tidak turun. Sebenarnya Kris akan lebih suka kalau salju turun karena itu berarti keajaiban Natal akan terjadi. Ia ingin ayahnya ada di Vancouver sekarang. Bersamanya, bersama keluarganya, melakukan Misa Malam Natal.

"Mom, apa itu Tuguran Suci Natal?" Ia bertanya pada sang Ibu ketika ia sudah berhasil membaca bagian teratas buklet bunga terbesar yang dipajang di depan pintu Gereja.

Nyonya Wu memangku Kris begitu sampai di barisan tempat duduk dari kayu, disamping Billy yang sudah berumur sembilan tahun saat itu. Kris masih sangat suka duduk dipangku walaupun ia sudah cukup tinggi untuk ukuran anak-anak Asia, dan ibunya tetap memanjakan. "Tuguran itu artinya kau harus terjaga untuk menyaksikan."

"Menyaksikan apa?" Kris bertanya pelan sambil menoleh.

"Menyaksikan Yesus untuk hadir."

Yesus adalah 'orang' baik, begitu kata Mom. Kris pernah meminta pada Yesus dalam banyak hal, dan sebagian besar sudah dikabulkan. Jadi Kris berpikir ia akan meminta sesuatu malam nanti, sebelum tidur.

Kris meminta agar ayahnya bisa datang ke Vancouver dengan kostum Santa.

Keesokan harinya, Yesus belum mengabulkan doa yang ia panjatkan. Tidak ada Dad di kamar, tidak ada Dad di ruang keluarga, tidak ada Dad di rumah, tidak ada Dad di Kanada. Tuan Wu masih harus bekerja di China. Yah, mungkin banyak orang yang meminta di hari Natal sehingga doa Kris harus di-pending.

"Billy, Sayang, biarkan Kris mengambil hadiahnya dulu. Kurasa dia sangat sedih karena ayahmu tidak datang."

Kris bisa mendengar bisikan kecil untuk Billy itu dengan jelas. Semua terasa hening saat suasana hati Kris memburuk. Ia pernah menendang vas antik dari Indonesia pada usia empat tahun karena wallpaper kamarnya diganti tanpa izin. Tapi bukan begini, ia bukan ingin mengobati rasa sedihnya dengan membuka hadiah Natal. Kris hanya ingin ayahnya datang dan ia akan merasa senang, bahkan walaupun tanpa kostum merah berjanggut.

Sepanjang hari, Kris bergerak seperti robot. Ia menjawab setiap ucapan 'Selamat Natal' dari siapapun secara otomatis. Tangannya juga bergerak membuka kertas kado saat sebuah hadiah disodorkan untuknya, tapi wajahnya tetap kaku. Memang tak ada yang menarik, hampir semua hadiah untuknya sudah ia miliki sebelumnya. Tapi bukan karena itu. Lagi-lagi, karena ayahnya tak datang.

Kris sedang meminum coklat panas saat Uncle David membawa baki cookies berbagai rasa ke meja makan. Umurnya baru tigapuluh tujuh tahun, tapi di sekitar matanya sudah ada kerutan tipis, dan terlihat jelas saat tersenyum."Hey, Little Wu kedua," ia memanggil setelah melepas sarung tangannya. Uncle David selalu bersikap informal pada Billy dan Kris, menganggap mereka anak sendiri.

Kris meletakkan cangkir coklat panasnya di meja dan turun dari kursi, membaur ke pelukan Uncle David lalu menangis di bahunya.

"Maaf, aku selalu sibuk saat Natal," ucapnya sambil mengelus punggung Kris saat tangisan anak itu mulai mereda.

"Aku merindukan Daddy."

Uncle David mengulangi gerakan tangannya lagi di punggung anak itu. "Bahkan aku yang bukan keluarganya juga rindu pada Daddymu. Dia adalah pendongeng terbaik yang kutahu, walau aku tidak mengerti bahasa Mandarin."

Kris memeluk leher Uncle David erat saat pria itu menggendongnya menuju kamar. Ia bercerita banyak tentang Tuan Wu, yang ternyata pernah satu kampus dengan dirinya sendiri. Saat Kris sudah siap bergelung di dalam selimutnya sendiri, Uncle David menyelesaikan cerita masa mudanya.

"Apa Uncle David tidak punya anak? Aku tidak pernah tahu."

Uncle David tersenyum dan ujung matanya berkerut. "Aku punya dua anak. Chaterine dua tahun lebih tua daripada Billy, sedangkan Xavier seumuran denganmu."

Kris menggesek-gesekkan kakinya dari dalam selimut dan menggigit kuku sebelum bertanya lagi. "Dimana mereka?"

"Bersama ibunya."

"Kenapa kau tidak tinggal bersama mereka?"

Uncle David menepuk-nepuk kaki Kris dari luar, tersenyum berusaha menutupi. "Karena aku bekerja. Sama seperti ayahmu yang tidak bisa tinggal di sini karena dia juga bekerja di China."

"Kau harus pulang," Kris berkata lalu menutup tubuhnya sebatas mulut dengan selimut. "Uncle tau? Ditinggal ayah itu tidak menyenangkan."

Lagi-lagi Uncle David tersenyum. Ia berdiri dari tepi ranjang Kris dan keluar. "Selamat tidur. Sudah kupastikan akan ada makan malam lezat saat kau bangun, little Wu kedua."

Saat punggung Uncle David benar-benar hilang dari balik pintu, Kris kembali berpikir. Mungkin Natalnya terasa menyebalkan karena Dad tidak ada. Tapi, karena Uncle David, Kris merasa jauh lebih baik dari sebelumnya.

.

.

.


Kris sadar, ada bayang hitam menjijikkan yang menggantung di bawah matanya kala itu. Tapi Natal telah berakhir, ia harus kembali bekerja. Bangun pagi-pagi sekali, bahkan ia bisa mendengar suara salju yang turun dari balik jendela kaca, tepat pukul enam ia sudah rapi dengan celana kain dan kemejanya. Selesai memasak dan sarapan, ia akan memakai jas serta mantelnya dan pergi.

"Aku ingin sup kacang merah," Chanyeol terdengar sungguh berisik bagi Kris yang sedang melumuri beberapa paha ayam dengan madu dan bumbu-bumbu untuk dipanggang setelahnya.

"Masaklah sendiri."

Kris mengangkat wajahnya dari mangkuk dan menatap bayangan Chanyeol dari cermin hitam di rak kabinet atas. "Kita baru selesai berdiskusi pukul tiga pagi dan kau tidak tidur sama sekali?"

Chanyeol menggosok-gosok lehernya dan mendekat ke arah Kris, mengintip apa yang Kris lakukan dari pundaknya. "Baekhyun mengajakku. Bagaimana aku bisa menolaknya?"

Sesudah itu Kris berbalik dengan ayam-ayamnya yang sudah rapi tersusun di baki aluminium. Indra penglihatannya menangkap sosok Tao yang juga baru bangun tidur dengan masih memakai pakaian yang ia pakai ke panti asuhan kemarin.

"Apa yang gege lakukan?"

Chanyeol menoleh, tersenyum bodoh ke arah Tao.

"Memasak. Hey Chanyeol, minggir!"

Mata Tao mengekori apa yang Kris lakukan setelahnya. Pria itu memasukkan baki berisi paha ayam ke oven di bawah set kompor, berkacak pinggang selama beberapa saat untuk masakannya dari luar, lalu ia melepas apron dan duduk di kursi pantry. "Kalian berdua tidak lelah berdiri terus?"

Kata-kata itu sontak membuat Tao dan Chanyeol ikut duduk di samping kanan dan kiri Kris.

Tao menatap Chanyeol dengan cara aneh sampai akhirnya Kris menginterupsi. "Chanyeol, sepupuku." Tao mengangguk mendengar penjelasannya.

Chanyeol menjulurkan tangannya hendak bersalaman dengan Tao dan ia berkata dengan nada mengejek untuk membuat Kris sebal. "Jadi ini tamu kita, Kris? Dia cantik."

"Tao," pria itu menyebutkan namanya pelan.

"Jangan sampai Baekhyun tau atau dia akan membunuhku dan mengusir Tao dari sini secara sadis."

Chanyeol tertawa. "Dia kubiarkan tidur."

Tao mencuri pandang ke arah leher Chanyeol begitu ia menyelesaikan kalimatnya, ia tahu apa yang Chanyeol lakukan sebelum ini. Beberapa milik Tao bahkan belum menghilang sempurna dari leher. Sialnya, Chanyeol tahu itu. "Kris, kau juga tidak tidur tadi malam?"

"Apa?" Kris bertanya bingung.

Tao menutupi lehernya dan menunduk. Kris mengikuti arah pandang Chanyeol dan mengerti arah pembicaraan dengan cepat. "Memang kenapa? Kalau kau melakukannya, aku juga bisa."

Tao berjengit heran. Tanda-tanda itu bukan disebabkan oleh Kris. Tapi bibirnya terkunci untuk berpendapat. Sebentar, perutnya terasa aneh lagi.

"Kau bilang dia steril, Kris," Chanyeol memukul pelan lengan Kris dan ia tidak merasa sakit sama sekali.

"Sebelum tadi malam."

Kris berdiri dari kursinya dan menggantung apron di tempat yang sudah disediakan. Tao mengikuti di belakang tanpa berkata apa-apa, hanya merasa perlu mengikuti. Ia ada di depan kamar Kris sebelum pria yang diikuti berhenti dan membalikkan badan. "Berhenti."

"Kenapa?" Kris memicingkan mata dan menemui bibir Tao yang cemberut sedih. "Kenapa gege bicara seperti tadi?"

"Karena kau Huang Zitao." Tao mengangkat wajahnya, menatap tepat di mata serius si pemuda Wu. "Kau Huang Zitao yang baru di sini. Ada banyak hal yang Chanyeol tidak perlu tahu tentang dirimu, bahkan tentang aku. Di rumah ini, biar hanya aku yang tahu tentang bagaimana kau dulunya. Jangan sampai si idiot itu merekammu dalam otaknya sebagai bekas pelacur."

Kris mengucapkan semua itu secara frontal walau hanya sebuah kata-kata pelan yang tak mungkin orang selain mereka berdua bisa mendengarnya. Tapi tetap saja, akhir kalimat Kris membuat Tao kembali ditarik ke kenyataan dimana ia adalah sesuatu yang kotor, dulu.

"Aku tidak berniat membuatmu sakit hati. Tapi sungguh, aku tidak tahu harus mengganti kata 'pelacur' dengan apa. Kurasa kamus otakku sedang tidak bekerja."

Tao mengangguk, memainkan jemarinya. "Tidak apa-apa."

Mereka masih berdiri berhadapan dengang canggung sebelum indra pendengaran mereka menangkap suara teriakan Chayeol memanggil Kris yang disusul seorang pemuda bernama Byun Baekhyun keluar dari kamar di sebelah kamar Kris.

"Aku akan mengambil barang-barang. Turunlah, dan ajak pria itu ke dapur menemui Chanyeol," Kris menunjuk Baekhyun dengan dagunya. "Katakan juga pada Chanyeol untuk menata meja makan."

"Iya."

Tao berbalik arah, memunggungi Kris yang masuk ke kamarnya dan menghampiri Baekhyun. Berusaha menyuguhkan senyuman terbaik yang ia punya saat ini, mereka mengobrol di perjalanan menuju dapur.

"Tao!"

Kris memanggil pria panda itu lagi, Baekhyun ikut menoleh bersamanya.

"Ingat, Huang Zitao baru" Kris tersenyum.

Oh Tidak, Tao meleleh.


.

.

.

TBC


Maaf untuk keterlambatan update. Saya lagi drop banget satu minggu belakangan, sekolah juga mulai praktek dan ujian.

Saya gak berharap banyak, tapi jika ada yang menunggu, saya mohon sabar ya :)

.

Balasan review Xunzhao Xingfu chapter 1

G-Sajangnim : Saya gak terlalu suka novel remaja lho ._. Saya sukanya novel dengan pemain tua /?/ maksudnya umur-umur sekitar 30 tahunan wkwkwk. Terima kasih untuk reviewnya ^^

KyuKi Yanagishita : Hehe maaf kalo nunggu. Terima kasih untuk reviewnya ^^

91 : Hehe iya pasti diceritain kok perjalanan Tao sama Kris waktu kecilnya, jadi tahu kenapa mereka bisa kayak gini :) Ehm... Happy endding gak ya? ;) Terima kasih untuk reviewnya ^^

Miettenekomiaw : Request ditampung dulu ya, biarin cerita mereka mengalir seperti cintanya /?/ wkwkwk Terima kasih untuk reviewnya ^^ [ps. kok udah jarang nongol di FB ya kayaknya?]

Kazehiro Yuki : Hehe iya SMA. Baru masuk tahun ini tapi rasanya udah beraaattt banget. Terima kasih untuk reviewnya ^^

che24 : Haha jangan tanya saya, lagi nglindur kali pas bikin ;-; Oke, dinikmatin sebisanya ya :) Terima kasih untuk reviewnya ^^

PiCaPiQi : Jangan meleleh '-' Terima kasih untuk reviewnya ^^

Time To Argha : Tunggu aja NCnya, dad wkwkwk ._. Bismillah ya /?/ Tengs ripiunya daddy :3

KittenTao : Diusahakan ada waktu kok pastinya ^^ Terima kasih runtuk reviewnya ^^

IMSyrinx : Kan Taotao emang sering dapet 'kasihan' ._. Terima kasih untuk reviewnya ^^

ayulopetyas1 : Nyesek is greget, greget is gut /?/ TAO HAMIL ANAKKU p'-'q /peluk jitao/ Terima kasih untuk reviewnya ^^

Jijiyoyo : Hehe iya gapapa :) Nanti lama-lama juga tahu kok mama jitao kerja apaan. Terima kasih untuk reviewnya ^^

Arisa Yoon : Diusahain yaaa :3 Terima kasih untuk reviewnya ^^

Raichi KrisTao : Oke kak. Tengseu eaps :3

Dark Shine : Ehh... ini harus dibalesnya pake kata apa ._. Pokoknya terima kasih untuk reviewnya ya ^^

rarega18 : kayak bikin review buku di bookreads ya ._. wkwkwk... Selamat datang di ffn :) Terima kasih untuk reviewnya ^^

albert said : KALO MAU IDUP ENAK JADIIN TAO LAKI GUE OM! AYO FASTER! /?/ KALO KAWIN MUDA SAMA TAO GUE MAU *o* Makaseh ripiunya ya :3 noah .2*

taoris shipperrr : Sempurna itu cinta Kris ke Tao dan cinta Tao ke Kris :') Terima kasih reviewnya ^^

Sheng lee juan : Gak ah biasa aja ._. Terima kasih reviewnya ^^

Sylvia Hildayanti : Itu absurd ending /?/ Emang udah sering terbang kesini kok wkwkwk :3 Terima kasih reviewnya ^^

Ephend : Hay ephend ;;) /colek/ wkwkwk. Akhirnya mampir LOL. Iya nih, biasanya bikin oneshot sih, kan masih belajar. Makasih ya ripiunya, membantu sekaleh :3

.

.

.

Semoga suka dan puas dengan chapter ini.

sign

.

Jonanda Taw