-Masa Ini-
Sang wartawan berhenti menulis. Dia mengerutkan keningnya dan melihat kearah Minseok. Wajahnya masih terlalu serius dengan apa yang Minseok ceritakan padanya. Sang wartawan ingin mengajukan pertanyaan kembali pada Minseok tapi kemudian dia lebih memilih untuk mengambil minuman jus jeruknya yang sejak tadi dia biarkan di atas meja.
Minseok hanya tertawa kecil ketika melihat wajah sang wartawan yang terlalu serius menanggapi ceritanya. Dia menghela napasnya dalam. Minseok kembali meminum kopinya.
"Anda tidak apa-apa Tuan?"
"Yeah saya tidak apa-apa Tuan Kim. Emm bolehkan aku bertanya sebelum Anda melanjutkan ceritanya lagi?"
"Tentu. Apa yang ingin Anda tanyakan?"
Minseok meletakan kopinya di meja. Dia menatap sang wartawan dengan wajah kelewat santai meskipun kini perasaannya kembali di hantui oleh perasaan takut. Takut jika hal itu terulang kembali.
"Apakah Anda tahu bagaimana Luhan membunuh Kris? Lalu apakah ada sebuah kisah cinta antara Anda dan juga Luhan? Saya mendapati dari cerita yang Anda katakan tadi, Luhan sepertinya memiliki perasaan lebih dalam kepada Anda, Tuan Kim."
Minseok tertawa.
"Sebuah kisah cinta antara aku dan Luhan?"
Minseok kembali tertawa.
Sang wartawan berdeham lalu ikut tertawa sebentar.
"Maaf jika pertanyaan saya terlihat aneh untuk Anda, Tuan Kim. Baiklah, pertanyaan selanjutnya. Siapakah Lucas itu?"
Minseok berhenti tertawa. Wajahnya kembali serius ketika mendengar sang wartawan menyebut nama Lucas. Minseok menelan salivanya pelan dan melempar senyum manis pada sang wartawan. Dia kembali melanjutkan cerita mimpi buruk itu.
.
.
-Masa Lalu-
Minseok menarik baju Sehun agar sedikit menunduk kemudian dengan cepat Minseok mencium bibir Sehun. Semburat merah muncul di wajah Sehun sekarang. Apa yang telah Minseok lakukan benar-benar membuat Sehun tak berkutik. Tubuhnya kaku tak bisa bergerak.
"Aku menyukai mu Sehun."
Sehun hanya mengedipkan matanya berkali-kali. Tak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi. Dia menyentuh bibirnya lalu memandang Minseok tak percaya.
"Hyung kau menyukai ku?"
Minseok hanya memberikan anggukan.
"Kau sudah mendengar jawaban ku. Sekarang aku pergi dulu."
Sehun menarik pelan tangan Minseok.
"Mengapa? Apa alasan hyung menyukai ku?"
Tatapan dingin Minseok mulai memudar ketika dia melihat wajah Sehun yang terlihat bingung dan terkesan malu. Minseok hanya tersenyum. Sekilas bayangan kisah Sehun dan Luhan terlihat di matanya ketika Sehun menyentuh tangannya. Minseok ingin sekali mengatakan hal yang sebenarnya pada Sehun, tapi Minseok takut jika Sehun tidak akan mempercayainya terlebih lagi soal Luhan. Luhan adalah orang yang sudah membuat hati Sehun bahagia.
"Aku bahkan tidak tahun jawabannya Sehun. Apakah perlu sebuah alasan untuk menyukai seseorang terlebih orang itu adalah orang yang begitu berharga untuk kita?"
Sehun tersenyum malu. Rona merah di wajahnya terlihat.
"Tapi aku tidak memaksa mu untuk menerima ku Sehun. Aku tahu kau menyukai Luhan. Tapi –"
Minseok menahan ucapannya. Matanya menatap Sehun begitu sendu. Rasanya dia ingin menangis saat itu juga. Minseok menunduk sebentar menyembunyikan matanya yang sedikit berair. Lalu tiba-tiba sebuah pelukan Minseok rasakan. Sehun memeluk Minseok sambil mengelus kepalanya pelan.
"Jika hyung benar-benar menyukai ku, aku sungguh berterima kasih kepada mu. Aku tidak menyangka ada orang yang menyukai ku seperti diri mu hyung. Kau begitu baik. Tapi untuk saat ini aku juga tidak memaksa mu untuk menyukai ku karena suatu hal tertentu."
Minseok hanya diam. Dia mendongak keatas mlihat Sehun sebentar kemudian dia melepaskan pelukan Sehun.
"Hyung, aku tidak bermaksud menolak mu. Aku tahu ini begitu mendadak dan terkesan seperti kau memaksakan perasaan mu untuk menyuka ku. Aku tidak tahu hal apa yang membuat mu hingga melakukan hal ini kepada ku hyung. Apakah ini ada hubungannya dengan kematian Kris hyung dan juga Luhan hyung?"
"Kau tidak perlu memikirkannya Sehun."
Minseok mengusap rambut Sehun kemudian dia berbalik dan berjalan pergi. Sehun hanya memandang punggung Minseok yang kini semakin jauh.
"Apa yang sedang kau sembunyikan hyung?"
.
.
Minseok membaringkan dirinya di ranjang. Memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Hari ini begitu melelahkan untuknya. Kepalanya terlalu berat untuk terus memikirkan kejadian yang baru saja terjadi.
"Bagaimana Kris bisa terbunuh?"
Minseok menghela napasnya dalam sebelum dia benar-benar terlelap dalam tidurnya.
.
.
Di lain tempat, Luhan terus mengawasi seseorang dari kejauhan. Matanya yang indah terlihat menajam ketika seseorang keluar dari sebuah rumah. Seringai licik terlihat di wajahnya saat orang itu mulai berjalan menjauhi rumahnya.
"Oke Minseok, permainan di mulai."
Luhan terus membuntuti orang tersebut. Dia mengawasi lingkungan sekitar dengan begitu hati-hati agar gerak geriknya tidak diketahui oleh siapapun. Dirasa jalan yang dia lewati begitu sepi, Luhan mulai membekap orang tersebut menutupi wajahnya dengan sebuah kain hitam dan memukulnya dengan sebuah tongkat baseball.
"I got you."
Luhan langsung membawa korbannya menuju mobilnya yang tidak jauh dari jalanan dia berada sekarang. Dia kemudian mengemudikan mobilnya dengan perasaan bahagia sambil terus bersiul hingga sampai di rumah.
Sampainya di rumah, Luhan langsung mengeluarkan korbannya dari dalam garasi mobil dan menyeretnya masuk ke dalam garasi mobil.
Luhan mendudukan korbannya di kursi kayu. Dia kemudian mengikat kaki dan tangan korban erat dengan tali. Seringaian licik masih terus terlihat di wajahnya yang tampan. Lalu Luhan memotret sang korban dan mengirimkannya pada seseorang.
Keterangan pesan: Aku merasa bosan. Aku ingin bermain dengan mu.
Setelah pesan gambar tersebut terkirim, Luhan kemudian mematikan lampu garasi mobilnya dan pergi keluar dengan mengunci kembali pintu garasi.
.
.
Paginya di sekolah, kasus pembunuhan Kris masih menjadi topik terhangat untuk sekarang. Minseok berjalan malas setiap kali dia mendengar suara bisik-bisik teman sekolahnya membicarakan kasus matinya Kris sambil melihatnya ke arahnya.
Minseok masuk ke dalam kelas dan sebuah tatapan terkejut dia dapatkan dari teman sekelasnya. Minseok melongo sebentar di depan kelas lalu tanpa peduli dia berjalan masuk dan duduk di tempatnya. Semua mata masih melihat kearahnya. Minseok masih bersikap santai seperti biasanya.
Chanyeol yang baru saja datang langsung menghampiri Minseok. Wajahnya yang selalu terlihat bahagia dimanapun dia berada kini terlihat begitu muram. Tidak ada lagi senyum lebar khas Chanyeol yang bodoh terlihat di wajahnya hari ini.
"Hyung.."
Minseok tersenyum padanya.
"Kau kenapa? Kemana perginya senyum lebar mu itu?"
Chanyeol hanya tersenyum miris mendengar pertanyaan Minseok. Minseok mengerutkan keningnya ketika melihat ekspresi wajah Chanyeol yang sedih.
"Heii Chanyeol, kau kenapa?"
"Aku takut hyung."
Suara Chanyeol yang dalam menyebut kata takut membuat Minseok terkejut. Matanya sedikit membulat ketika mendengar apa yang Chanyeol ucapkan.
"Apa yang kau takutkan? Ceritakan kepada ku."
Chanyeol menoleh melihat sekeliling kelas kemudian dia menarik Minseok pelan untuk mengikutinya keluar. Minseok yang tak mengerti hanya mengikuti apa yang Chanyeol suruh.
Chanyeol berjalan menuju belakang sekolah di ikuti oleh Minseok dari belakang. Sampainya mereka disana, Chanyeol langsung mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkannya pada Minseok. Ekspresi wajah ketakutan masih terlihat di wajah Chanyeol. Tubuhnya yang menjulang tinggi kini hanya bisa duduk bersandar di tembok sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kau tahu siapa yang mengirim foto ini kepada mu?"
Chanyeol menggeleng.
Pikiran Minseok langsung tertuju pada seseorang. Dalang di balik semua perlakuan keji pada teman-temannya. Luhan. Siapa lagi yang akan Minseok curigai kalau bukan dia. Seorang Luhan yang begitu tega membunuh Kris tanpa sebab yang jelas.
Minseok menyamakan posisi duduknya dengan Chanyeol. Dia menepuk pundak Chanyeol pelan. Ketika tangan Minseok menyentuh pundak Chanyeol, bayangan aktifitas yang Chanyeol lakukan langsung terlihat di matanya.
Sekelebatan bayangan Chanyeol dan Luhan yang sedang berbincang-bincang terlihat sangat akrab di mata Minseok. Minseok berpikir bahwa korban selanjutnya adalah Chanyeol tapi ternyata dia salah. Matanya menyipit tak suka ketika melihat kembali bayangan Luhan yang tersenyum manis di hadapan Chanyeol.
"Chanyeol, kau tenang saja. Aku yakin orang yang mengirim foto ini hanya iseng saja."
Chanyeol mengangkat kepalanya dan menoleh melihat Minseok. Wajahnya masih terlihat takut dan kini ada rasa cemas yang Chanyeol rasakan.
"Hari ini Suho hyung tidak masuk. Aku hanya takut jika yang ada di foto itu adalah dia."
Minseok menelan salivanya cepat. Tangannya mengepal keras. Minseok masih bisa menahan emosinya sekarang. Dia tidak ingin terlihat buruk di depan Chanyeol yang hanya akan memperburuk keadaan.
"Pulang sekolah nanti kita akan ke rumahnya. Mungkin sakitnya kambuh lagi."
Chanyeol hanya mengangguk. Dia mulai berdiri.
"Kau kembalilah ke kelas duluan, Chanyeol. Aku rasa jam pelajaran pertama aku tidak ikut."
"Kenapa hyung tidak ikut? Tidak biasanya hyung absen seperti ini."
"Aku sedang malas ikut pelajaran hari ini."
Chanyeol mengangguk.
"Baiklah aku kembali dulu hyung."
Ketika Chanyeol telah pergi, Minseok segera mencari keberadaan Luhan. Berjalan menuju kelas Luhan dengan penuh emosi yang menggebu.
Bel masuk berbunyi tepat ketika Minseok telah berada di depan kelas Luhan. Matanya mencari keberadaan Luhan dengan cepat hingga dia menemukan sosok Luhan yang sedang duduk di kursinya dengan santai sambil mendengarkan musik.
Minseok langsung masuk ke dalam kelas Luhan dan menarik Luhan dengan paksa keluar kelas. Luhan yang terkejut mendapati Minseok menariknya tak sopan hanya diam. Teman sekelas Luhan pun hanya bisa di buat melongo dengan sikap Minseok yang tiba-tiba saja menarik Luhan keluar kelas.
Di lorong yang sepi, yang jarang sekali di lewati, kini Minseok sedang melampiaskan rasa kesalnya terhadap Luhan. Minseok membanting Luhan ke tembok dan memukul wajahnya begitu keras hingga bibir Luhan mengeluarkan darah.
Luhan hanya tersenyum miring sambil mengelap darah di bibirnya dengan tangannya. Memandang Minseok begitu tajam dengan matanya yang indah.
"Jadi sekarang kau sudah berani menyentuh ku Minseok?" tanya Luhan remeh.
Minseok kembali memukul wajah Luhan berkali-kali. Menendang perutnya hingga Luhan jatuh tersungkur kemudian duduk diatas perut Luhan dan kembali memukul wajah Luhan berkali-kali. Minseok kemudian menghentikan pukulannya. Matanya yang sejak tadi di butakan oleh emosi kini berubah menjadi genangan air mata yang telah tumbah menetes di baju Luhan.
"Mengapa? Mengapa kau lakukan ini Luhan? Apa salah mereka kepada mu?"
Minseok memukul dada Luhan berkali-kali. Tangisan Minseok terus terdengar begitu sakit di telinga Luhan. Luhan diam dan hanya bisa melihat apa yang Minseok sedang lakukan kepadanya. Wajah Luhan yang datar terus memandang Minseok yang masih terus menangis.
"Minseok…"
Tak ada sahutan dari Minseok.
"Minseok…"
Minseok masih terus menangis.
Luhan menangkap kedua tangan Minseok dan bangun dari posisinya. Hatinya sedikit senang dengan posisi mereka saat ini. Memangku Minseok yang sedang menangis layakya seorang bayi yang sedang menangis meminta susu. Luhan menghapus air mata Minseok dengan kedua tangannya lalu menggenggam tangan Minseok. Dia tersenyum melihat wajah Minseok yang memerah karena menangis.
"Berhentilah menangis. Aku tidak menyangka aku telah membuat mu menangis seperti ini. Aku minta maaf. Maafkan aku Minseok."
Minseok memandang Luhan tak mengerti. Begitu mudahnya dia mengucapkan kata maaf dari bibirnya setelah apa yang dia perbuat kepada Kris. Minseok melepaskan genggaman tangan Luhan.
"Tidak mudah untuk memaafkan mu Luhan setelah apa yang kau lakukan pada Kris."
Ketika Minseok akan berdiri, tangan Luhan langsung memeluk pinggang Minseok. Luhan menarik tubuh Mineok untuk mendekat padanya. Dirasa ada perlawanan dari Luhan, tangan Minseok menahan tubuh Luhan agar tidak semakin dekat dengannya.
"Karena dia, nama ku telah menjadi jelek di mata mu. Apa yang harus aku lakukan untuk membuat mu tidak membenci ku?"
"Luhan lepaskan aku."
Minseok terus berusaha mendorong tubuh Luhan menjauh darinya. Luhan hanya diam memandang Minseok dengan mata sendu.
"Jika aku pergi, apa kau akan merindukan ku?"
Minseok memandang Luhan. Mereka saling memandang dalam diam.
"Aku akan menunjukan siapa yang bersalah di sini."
"Apa maksud mu?"
"Sepulang sekolah nanti, ikut aku ke rumah. Aku akan menunjukan siapa dia yang sebenarnya."
"Siapa yang kau maksud dengan dia?"
Luhan melepaskan pelukannya dari pinggang Minseok. Dia membantu Minseok untuk berdiri. Sebentar Luhan hanya menyentuh pipi Minseok sebelum dia berjalan pergi meninggalkan Minseok dengan wajah melongo. Tanda tanya besar kini berada di pikiran Minseok. Ada apa dengan sikap Luhan barusan?
Minseok menyentuh pipinya, merasakan sentuhan Luhan yang masih bisa dia rasakan. Lalu sebuah senyum terukir di wajah Minseok sekarang.
.
.
Bel pulang sekolah berbunyi, Minseok begitu menyesal tak bisa ikut ke rumah Suho bersama dengan Chanyeol. Minseok harus berbohong pada Chanyeol agar dia bisa mencari tahu maksud dari ucapan Luhan hari ini.
Chanyeol hanya menggangguk ketika dia percaya dengan kebohongan Minseok. Minseok menghela napas panjangnya melihat Chanyeol telah pergi duluan. Tidak jauh dari tempat Minseok berdiri sekarang, Luhan sedang menunggu Minseok. Mata Minseok yang melihat Luhan sedang berdiri mematung menunggunya kini berjalan pelan menghampirinya.
Dari kejauhan, Sehun melihat Minseok sedang berjalan dengan Luhan. Sehun yang penasaran akhirnya memilih untuk mengikuti mereka berdua.
Dalam perjalanan menuju rumah Luhan, Minseok merasa canggung. Ada perasaan takut ketika dia berjalan berdua dengan Luhan. Luhan terlihat aneh dimatanya. Minseok berpikir bahwa sikap Luhan sekarang seperti bukan Luhan. Luhan hanya diam dan fokus menatap ke depan tanpa mengajak Minseok berbicara.
"Luhan, bagaimana dengan luka di wajah mu?"
Luhan menoleh dan tersenyum pada Minseok.
"Baik-baik saja Minseok. Pukulan mu begitu menyakitkan."
Lalu Luhan tertawa/ Minseok memandang Luhan terkejut.
"Kau tidak marah pada ku karena aku memukul mu?"
Luhan menghentikan langkahnya. Dia berbalik menghadap ke arah Minseok.
"Jika itu membuat mu sedikit lebih baik, aku tidak akan marah. Itu sudah menjadi resiko bagi ku."
"Kau aneh. Sikap mu seperti bukan Luhan seperti biasanya."
Luhan hanya tersenyum dan kembali berjalan.
.
.
Sehun menghentikan langkah kakinya ketika Minseok masuk ke dalam rumah Luhan. Keningnya berkerut tipis dan kembali mengikuti Minseok dan Luhan semakin dekat.
Minseok berhenti tepat di depan pintu rumah Luhan ketika Luhan membuka pintu rumahnya. Luhan menoleh kebelakang melihat Minseok yang ragu untuk memasuki rumahnya.
"Tidak ada apa-apa Minseok. Masuklah."
Minseok mengeratkan kedua tangannya di selempangan tasnya lalu berjalan masuk ke dalam rumah Luhan. Luhan langsung menutup pintu rumahnya. Sehun berdecak tak suka ketika rasa penasarannya semakin besar sekarang. Dia masuk ke pekarangan rumah Luhan dan berjalan menuju belakang rumah Luhan.
Rumah Luhan sama seperti pertama kali Minseok melihatnya. Tidak ada yang berubah. Tiba-tiba Minseok ingat dengan pintu yang terkunci dari luar. Dia harus bisa membuka pintu itu segera.
"Minseok mengapa kau masih berdiri saja disana? Kemarilah."
Minseok berjalan pelan menuju ruang tengah. Dia sedikit terkejut ketika tiba-tiba Luhan mengambil tasnya dan menaruhnya di sofa. Luhan tersenyum pada Minseok dan menariknya untuk duduk.
"Apa yang ingin kau tunjukan kepada ku Luhan?"
"Pertama, kita harus mengisi perut kita dahulu. Makan siang."
Luhan berdiri dan berjalan ke dapur. Membuka kulkas dan mencari makanan yang bisa disantap. Minseok menghela napasnya. Dia kemudian berdiri dan meminta izin pada Luhan untuk menggunakan toiletnya.
Pada kesempatan itu, Minseok dengan segera berjalan menuju pintu yang terkunci tersebut. Minseok mencari kunci pintu itu dengan tergesa-gesa sambil terus melihat keadaan sekitarnya. Takutnya jika Luhan tiba-tiba datang memergokinya sedang mencari sesuatu.
"Ayolah. Dimana dia menyimpan kuncinya?"
Minseok terus berdecak kesal. Menjambak rambutnya sebagai pelampiasannya. Terdengar begitu jelas suara Luhan yang memanggil nama Minseok. Minseok akhirnya menyerah. Dia kembali ke ruang tv sambil berjalan malas, tapi matanya menyipit ketika menatap sebuah benda berkilau sedang bergantung di balik lemari. Sebuah kunci. Senyum Minseok langsung mengembang lalu dengan cepat dia mengambil kunci tersebut.
"Minseok apa yang kau lakukan?"
Terkejut dengan sosok Luhan yang tiba-tiba datang menghampirinya. Minseok langsung memasukan kunci itu ke dalam saku celananya. Dia tertawa kikuk untuk menyembunyikan rasa takutnya.
"Tidak. Tidak ada."
.
.
Di luar sana, Sehun masih berusaha untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi di dalam antara Minseok dan Luhan. Mendapati pintu belakang rumah Luhan tidak terkunci, Sehun dengan segera membuka kenop pintu tersebut. Tiba-tiba sebuah suara terdengar di telinganya. Suara yang terdengar seperti seseorang dengan mulut yang di bekap sesuatu.
Sehun mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah Luhan. Kini dia mencari tahu dimana sumber suara tersebut. Telinganya menjadi menajam ketika suara itu terdengar begitu jelas di balik garasi mobil. Sehun berdecak karena garasi tersebut terkunci.
Di dalam rumah, Luhan terus mengoceh tak jelas tentang ceritanya yang menurut Minseok itu tak penting sama sekali. Dia bosan. Minseok membanting sendoknya dan menatap Luhan kesal.
"Bukankah kau ingin menunjukan sesuatu pada ku Luhan?"
"…"
"Apa yang ingin kau tunjukan kepada ku?"
"…"
Minseok terlalu marah dengan sikap bodoh Luhan sekarang. Dia mengambil air minum dan meminumnya sampai habis. Kembali Minseok menatap Luhan tajam.
"Kau jangan diam saja Luhan. Aku benar-benar tidak mengerti dengan sikap mu. Terkadang kau bersikap seperti orang jahat dan sekarang kau bersikap layaknya orang yang baik. Apa kau sedang membodohi ku dengan sikap mu itu?"
Luhan meletakan sendoknya. Dia menunduk tak berani melihat Minseok. Tubuhnya tiba-tiba bergetar. Sebuah isakan pelan terdengar sekarang. Minseok terkejut. Mengapa Luhan tiba-tiba menangis? Itu adalah sebuah pertanyaan yang kini ada di pikiran Minseok.
Di garasi mobil sekarang, Sehun akhirnya bisa membobol masuk ke dalam. Hanya menggunakan sebuah kawat kecil sebagai manipulasi kunci, kini dia telah berada di dalam garasi mobil. Matanya langsung dikejutkan dengan seseorang yang sedang terikat di kursi dengan wajah yang tertutup kain. Sehun langsung menghampiri orang itu dan segera membuka kain penutup muka orang tersebut. Matanya kembali dikejutkan oleh orang yang sekarang ada di depannya sekarang. Mendapati Suho yang sedang menangis.
"Suho hyung."
Sehun mencoba untuk membuka tali pengikat yang mengikat kaki dan juga tangan Suho.
.
.
Kini Minseok yang tidak tahu mengapa Luhan tiba-tiba menangis hanya bisa melihat Luhan dengan wajah bingung. Dia ingin menenangkan Luhan tapi untuk sekarang Minseok merasa jika Luhan saat ini sedang mempermainkan dirinya. Minseok lebih memilih diam dan hanya memandangi Luhan yang menangis.
Luhan tiba-tiba berhenti menangis. Dia menghapus air matanya. Dia mengangkat wajahnya dan melihat lurus ke depan dengan tatapan kosong. Minseok semakin di buat tak mengerti dengan sikap Luhan sekarang.
"Lu—"
Sebuah seringaian muncul di wajah Luhan sekarang. Minseok terkejut. Apa yang sebenarnya terjadi pada Luhan? Apa dia sedang kerasukan sesuatu? Minseok panik. Dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang.
"Minseok sayang, kau ingin tahu apa tentang diri anak ini? Dia begitu kasihan. Kau tidak pantas untuk anak yang terlihat lemah seperti dia."
"Luhan kau –"
Perkataan Minseok terhenti ketika Luhan dengan cepat mencengkram lehernya begitu kuat. Mencekek lehernya dengan sekuat tenaga hingga wajah Minseok memerah dan tak sanggup bernapas.
"Luhan lepaskan aku."
Sebuah bayangan kisah mengerikan terlihat di mata Minseok sekarang. Bagaimana cara Luhan membunuh Kris. Bayangan dengan kisah pembunuhan yang begitu cepat terjadi tepat di matanya. Luhan memukul pundak Kris dengan sebuah kayu berkali-kali hingga Kris tak sadarkan diri dan membawanya ke gudang tua dekat hutan. Disanalah Luhan memulai aksinya. Menyiksa Kris terus menerus sampai Kris tak bisa lagi mengeluarkan suaranya. Minseok bisa melihat bagaimana wajah Luhan yang begitu gila dan senang ketika dia memukul Kris dengan balok kayu. Minseok bisa melihat bagaimana wajah Luhan yang begitu serius ketika dia menusuk tubuh Kris dan mencokel matanya dengan pisau yang Luhan bawa.
Mata Minseok sudah tidak sanggup lagi melihat bagaimana cara Luhan membunuh Kris sekarang. Mata Minseok mengeluarkan air mata. Minseok memukul tangan Luhan terus menerus tetapi Luhan tidak melepaskan tangannya dari leher Minseok. Hingga akhirnya Minseok mengambil sebuah garpu dan menusuknya di tangan Luhan. Luhan yang kesakitan langsung melepaskan Minseok.
"Minseok kau tega sekali pada ku."
Seringaian tajam begitu mengerikan di wajah Luhan. Darah yang keluar dari tangan Luhan menetes ke meja dan juga lantai. Luhan langsung menarik tangan Minseok ketika Minseok akan melarikan diri. Menodongkan sebuah pisau di leher Minseok.
"Kau mau kemana sayang? Kau tidak akan bisa lari dari ku sekarang."
Luhan tertawa keras. Dia memaksa Minseok untuk mengikutinya berjalan menuju garasi mobil.
.
.
Sehun masih berusaha mencari benda untuk bisa melepaskan ikatan Suho. "Suho hyung bertahanlah." Sehun menemukan pisau kecil dan langsung melepaskan ikatan Suho. Lalu sebuah suara terdengar semakin dekat kearah garasi. Sehun dengan cepat melepaskan ikatan Suho tapi sebuah nasib sial menimpa mereka berdua. Luhan dan Minseok telah sampai di garasi sebelum Sehun berhasil menyelamatkan Suho.
"Wah wah wah. Lihat apa yang sekarang aku lihat. Seorang rubah telah masuk ke dalam kandang rusa dan menyelamatkan temannya."
Luhan tertawa. Sehun terkejut melihat keadaan Minseok yang sedang di todong sebuah pisau oleh Luhan. Minseok yang juga terkejut dengan kehadiran Sehun hanya diam memandang Sehun cemas. Minseok melirik Luhan sambil tangannya meraih sebuah obeng tanpa sepengetahuan Luhan ketika mereka masuk ke dalam garasi.
"Minseok hyung.."
Luhan menjambak rambut Minseok dan menariknya untuk membawanya di samping Suho. Mata Minseok membulat ketika melihat Suho yang terikat. Foto yang Chanyeol perlihatkan padanya pagi ini ternyata adalah Suho. Minseok mengeratkan kedua tangannya. Menahan semua emosinya sekarang. Sehun yang masih di depan Suho dan masih memegang pisau kecil hanya bisa diam ketika Luhan menatapnya tajam.
"Buang pisau itu." kata Luhan.
Sehun diam. Dia semakin mengeratkan pisau kecil itu di tangannya.
"Aku bilang buang pisau itu." Suara Luhan mulai meninggi.
Luhan menendang Sehun hingga Sehun terjatuh. Wajah Sehun yang takut dan ingin menangis dengan keadaanya sekarang, memilih untuk terus kuat. Kuat menghadapi sikap Luhan yang mengerikan di matanya.
"Sehun, buang pisau itu." seru Minseok pelan.
Sehun menatap Minseok dengan mata sendunya. Matanya mulai mengeluarkan air mata. Sehun langsung membuang pisau kecil ke sembarang tempat. Tawa Luhan semakin menjadi ketika melihat sikap Sehun yang penakut. Sehun langsung mundur ke belakang untuk menghindari serangan Luhan.
Luhan menarik rambut Minseok dan menghadapkan dirinya pada Suho.
"Lihatlah siapa yang ada di depan mu sekarang."
Suho semakin menangis. Mata Minseok yang terlihat dingin dan penuh emosi hanya bisa melihat Suho dalam diam. Minseok tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia tidak bisa menyelamatkan Suho, Sehun, dan dirinya sendiri. Minseok merasa lemah.
"Mengapa kau mengirim foto Suho pada Chanyeol? Kau sengaja melakukannya?"
Cengkraman tangan Luhan di rambut Minseok semakin kuat.
"Aku ingin kau bermain dengan ku Minseok. Jika kau bisa menyelamatkan Suho, aku akan melepaskannya tapi jika kau gagal, kau akan tahu apa yang akan terjadi padanya. Kematian Suho ada di depan mu sekarang seperti kau melihat bagaimana kematian Kris."
Mata Minseok membulat. Menyebut nama Kris membuat Minseok semakin tak bisa menahan emosinya. Dia tidak bisa menyelamatkan Kris dulu, tapi untuk sekarang dia harus bisa menyelamatkan nyawa temannya yang lain meskipun harus mengorbankan nyawanya sendiri.
Minseok tersenyum miring.
"Kita lihat saja siapa yang akan gagal kali ini."
Minseok berbalik dan langsung menusuk obeng yang dia sembunyikan di saku celananya tepat di dada sebelah kanan Luhan. Dia mendorong Luhan ke rak yang penuh dengan peralatan mekanik. Minseok menelan salivanya cepat dengan napas yang naik turun begitu cepat. Dirasa keadaan aman, Minseok membantu Sehun berdiri dan mengambil pisau kecil yang Sehun buang.
Minseok langsung memotong tali pengikat Suho dengan cepat sambil mengawasi keadaan Luhan. Suho berhasil di selamatkan. Minseok menyuruh Sehun untuk segera membawa Suho keluar dari garasi. Minseok terkejut ketika dia melihat Luhan mulai sadar dan mencoba untuk berdiri.
Mata Luhan menajam melihat Sehun membawa Suho keluar dari garasinya. Luhan langsung menahan pergerakan Sehun dan Suho dengan kekuatan telekinesisnya. Minseok terkejut dengan apa yang Luhan lakukan. Dia kemudian menahan tangan Luhan agar Luhan tidak menarik Sehun dan Suho kembali.
"Kau sudah kalah Luhan. Permainan berakhir. Aku menang. Kau harus melepaskan Suho sekarang."
Luhan menarik pisau kecil yang Minseok gunakan untuk membuka tali pengikat Suho. Menodong pisau tersebut ke leher Minseok. Minseok menelan salivanya cepat, ketika pucuk pisau tersebut menyentuh kulit lehernya.
Luhan masih belum melepaskan kekuatan telekinesisnya pada Sehun dan Suho. Minseok yang masih berusaha untuk membuat Luhan menghentikan kekuatannya itu hanya bisa diam menahan tangan Luhan.
"Hei Sehun, apa yang akan terjadi jika Minseok hyung mu yang begitu menyayangi mu tiba-tiba meninggalkan mu?"
Luhan memberikan sayatan kecil pada leher Minseok. Tetesan darah keluar dari leher Minseok. Suara kesakitan Minseok mulai terdengar. Sehun terkejut. Dia melirik Suho yang kini lemas. Pikirannya kalut tak bisa berpikir jernih. Bingung dengan apa yang dia lihat sekarang.
Sehun menangis mendengar suara kesakitan Minsek lagi. Luhan kembali menyayat leher Minseok dan sayatan itu semakin dalam. Minseok menangis menahan rasa sakit yang Luhan berikan.
"Luhan kumohon jangan lakukan ini."
"…"
"Kumohon lepaskan Sehun. Jangan sakiti dia juga."
Luhan berhenti menyayat leher Minseok. Dia kemudian berbisik pada Minseok.
"Apa yang akan aku dapatkan ketika aku melespak mereka?"
Minseok menoleh. Dia menatap Luhan geram. Tidak ada waktu untuk berpikir bagaimana caranya keluar dari permainan Luhan sekarang. Minseok kemudian mencium Luhan dengan cepat. Ciuman kasar dengan penuh pemaksaan di setiap lumatannya.
Luhan tersenyum miring di balik ciuman Minseok. Luhan perlahan menghentikan telekinesisnya pada Sehun dan Suho. Dia menarik pinggang Minseok dan memeluknya erat. Memperdalam ciuman mereka.
Minseok tiba-tiba menjambak rambut belakang Luhan sehingga ciuman mereka terhenti. Minseok meyeringai. "Cukup sampai disini Luhan." Minseok dengan cepat memukul perut Luhan keras dengan lututnya dan memukul wajah Luhan hingga Luhan tersungkur.
"Sehun cepat pergi!"
Dengan cepat Sehun membawa Suho pergi keluar dari garasi mobil Luhan. Perasaan takut masih Sehun rasakan dan juga perasaan bersalah pada Minseok. Dia tidak bisa menyelamatkan Minseok dari siksaan Luhan.
.
.
-Masa Ini-
"Lucas. Luhan menceritakannya pada ku siapa Lucas itu setelah aku masuk ke dalam ruangan yang terkunci di rumah Luhan. Aku menyentuh pisau yang Luhan gunakan untuk membunuh Kris dan juga korban lainnya."
Sang wartawan serius menulis apa yang Minseok ceritakan. Minseok meraih sebuah foto dari laci kecil di sampingnya. Dia tersenyum melihat foto tersebut.
"Aku begitu terkejut ternyata Luhan dan Lucas adalah orang yang sama."
Minseok tersenyum. Dia mengembalikan foto tersebut ke tempat semula. Dia melihat sang wartawan dengan wajah dingin.
"Lucas adalah alter ego dari Luhan."
"Bagaimana Luhan mengetahui jika dirinya mempunyai alter ego? Terlebih lagi Lucas adalah seorang pembunuh."
Minseok menghela napasnya. Dia berdiri dan berjalan menuju balkon. Melihat langit begitu biru. Cuaca begitu cerah hari ini tapi perasaan Minseok tidak. Dia berbalik melihat sang wartawan yang masih memandangnya dengan wajah penasaran.
"Apakah Anda membawa Luhan ke seorang psikiater?"
"Tidak. Luhan tidak ingin memeriksa keadaannya pada seorang psikiater. Dia lebih memilih untuk melawan Lucas sendirian."
Minseok menunduk sebentar. Mengingat bagaimana Luhan melawan Lucas untuk menguasai dirinya. Begitu menyedihkan bagi Minseok.
.
.
-Masa Lalu-
Minseok melihat Luhan dengan wajah takutnya. Rasa ragu untuk mendekati Luhan dia rasakan. Dia mengambil pisau yang Luhan gunakan untuk melukai lehernya. Berjaga-jaga jika Luhan tiba-tiba menyerangnya.
Luhan memegang kepalanya. Melihat Minseok dengan wajah kesakitan. Kepalanya begitu sakit. Pening di kepalanya membuat Luhan menjambak rambutnya kuat. Lalu Luhan menjerit begitu keras.
Minseok terkejut.
"Luhan kau kenapa?"
Luhan masih terus menjerit sambil menjembak rambutnya. Air matanya keluar tanda bahwa Luhan merasa tidak kuat lagi. Tubuhnya begitu lemah melawan Lucas yang terus memojokan dirinya untuk terus membuatnya semakin mendominasi dirinya.
Minseok ingin mendekati Luhan. Minseok ingin menenangkan Luhan. Tapi Minseok terus diam berdiri di tempatnya. Tubuh Minseok bergetar dan dia tiba-tiba merasakan air matanya keluar. Mengapa dia ikut menangis ketika melihat Luhan terlihat menyedihkan di depannya sekarang?
Minseok menjatuhkan pisau yang dia bawa. Dia mundur perlahan sambil menahan tangisannya. Minseok tidak sanggup lagi. Dia lebih memilih berlari meninggalkan Luhan yang masih terus menjerit dalam tangisannya.
Minseok terus berlari mengikuti langkah kakinya. Hatinya sakit melihat Luhan begitu tersakiti. Meskipun Minseok tidak mengerti mengapa Luhan tiba-tiba menjerit sambil menangis tak jelas, tapi hatinya merasa bahwa Luhan begitu tersiksa. Hatinya merasa begitu sakit dan perasaan menyesal dia rasakan sekarang.
.
.
.
Chapter ini alurnya udah maju mundur ya, berharap readers ngerti sama alur ceritanya ^^ dan tentang Luharem!, seperti yang tertulis di summary nya, cerita ini tidak ada tanda2 bahwa Luhan dan member EXO lainnya saling berinteraksi :v malah banyakan interaksi LuMin nya :D jadi untuk sekarang dan selanjutnya cerita ini gag ada slight!Luharem nya ^^ /gag bisa ngefeel ketika bikin interaksi Luharem :v maah prefer ke LuMin :D/ maafkan ke khilafan/? Authornya pas nulis summary T^T /bow/
Terima kasih kepada readers :
DoremifasolaXiu, Bikuta-chann, jiraniatriana, Laras Sekar Kinanthi, Clown Shadow /makasih sampe PM segala :D/, Kimmie179, minnie, HamsterXiumin /as always with ur long review :D/, Ad33M, feyy, KKXL99, starie9094, Guest(?), hauradhiyafa. Classical Violin, , Lululalala, dan yang udah fav & follow ff ini ^^
