Xúnzhǎo Xìngfú
.
(3)
Author : Jonanda Taw
Main Cast : Kris Wu and Huang Zitao
Genre : Damn I love ANGST. Actually, Romance too.
Rated : T
WARNING!
Regular : Normal PoV
Italic : Tao's Flashback
Bold : Kris' Flashback
Disclaimer : EXO belong to God. Story is mine.
p.s : Buat yang jijik-an hati-hati aja yaa~
p.s.s : Saya yakin FF ini ancur banget EYDnya, mohon dimaafkan. Unbeta soalnya.
.
Happy reading…
.
.
.
Peri-peri malam akan terus bernyanyi
Mengiringi sukamu, segala dukamu
Menjagamu di kala sepi mengganggu
Jadi, tatap aku dan rasakan deru rasaku
Ada aku disini, untukmu
.
Jangan takut padaku
Karena ku tak mungkin sakitimu
Tatap aku
Sadari janji itu
.
Tahun baru Masehi sudah terlewat satu bulan yang lalu. Sebentar lagi, Tahun baru Lunar akan datang dan hampir setiap bangunan di Beijing sudah dihiasi lampion-lampion kertas berwarna merah. Tao membuat tiga lampion untuk rumah Kris, sendirian. Ia pernah membantu ibunya membuat lampion-lampion seperti ini saat masih kecil.
Tao sedang ada di dapur sore itu. Hujan salju sudah jarang terjadi, dan hawa menjadi sedikit lebih hangat. Hanya tinggal menunggu beberapa minggu dan bunga-bunga liar di taman belakang Kris akan mulai tumbuh, bumi kembali coklat. Sayang sekali Tao tidak telaten merawat tumbuhan. Warna jingga dilangit sedikit lebih pekat dari warna wortel yang ia potong, dan Tao sibuk dengan pikirannya sendiri mengenai 'kenapa wortel harus oranye?'
"Apa yang kau buat?"
Tao menoleh, mendapati Kris meletakkan tas kerja dan mantel di atas meja pantry yang terbuat dari keramik abu-abu muda. Satu yang lebih muda tersenyum dan menghampiri yang lebih tua. Ia melepas jas Kris berikut dasinya. Melakukan hal-hal kecil seperti ini sudah biasa untuknya. Bahkan sejak satu minggu yang lalu, Tao yakin bisa mengepel rumas besar Kris setiap hari. Akibatnya? Ia merasa sering kesemutan dan kram saat malam. Tapi Tao tak peduli.
"Sup misoa dan kalkun acar. Ada wang laoji hangat di meja makan."
Selanjutnya, Tao kembali memotong wortel, membiarkan Kris mengambil minumannya sendiri. "Ada rencana di malam tahun baru?"
Tao mengedikkan bahu. "Aku tidak tahu. Banyak sitkom di teve."
"Chanyeol bilang dia akan kencan dengan Baekhyun di taman kota," Kris berkata tepat saat Tao berpindah tempat ke wastafel untuk kembali mencuci potongan wortelnya. "Bagaimana kalau kita membuat pesta kecil di rumah?"
Tao masih mencuci, tapi ia menoleh. "Pesta apa?"
"Sebenarnya bukan pesta, hanya sebuah perayaan sederhana."
"Mie panjang umur, selalu identik dengan tahun baru," Tao menimpali.
"Oke, kita akan membuat mie panjang umur."
"Aku," sela Tao. "Aku yang memasak."
Kris hanya mengiyakan dengan anggukan.
Tao telah selesai mencuci wortel dan melanjutkan kegiatan memasaknya. Kris masih di kursi tinggi pantry, melamun tidak jelas. Sudut mata Tao mengekor ke arah sang majikan ketika lima menit berlalu dan Kris masih mematung, padahal Tao sudah memasukkan bahan-bahan acarnya ke mangkuk logam. "Apa yang gege pikirkan?"
Kris menoleh dengan mata memicing. "Bukan apa-apa." Pria itu berhenti berbicara untuk bernafas beberapa saat. "Dimana Chanyeol?"
"Di kamar gege," jawab Tao sambil mengacungkan telunjuknya ke atas.
Kris berdiri dan meninggalkan pantry menuju kamar tanpa pamit.
Kris baru berjalan beberapa langkah sebelum akhirnya berhenti karena pertanyaan Tao. "Boleh aku iri pada Chanyeol?"
Walaupun Tao tidak memberikan alasan dasar rasa irinya pada Chanyeol, Kris mengerti. Jadi pria itu menggumam, "Tidak," dan kembali berjalan.
Pintu putih kamar Kris terbuka dengan mulus setelah Kris membuka kuncinya, tanpa ada suara decitan. Bagian dalamnya berwarna sama, didominasi putih. Pria itu kembali mengunci kamarnya saat ia sudah berada di dalam. Ia tidak terburu-buru, Kris memang seharusnya tidak terburu-buru. Tapi ketika ia membuka pintu lain yang ada di dalam kamarnya, di dekat jendela, jantungnya memompa darah lebih cepat dan ia tidak pernah tahu kenapa.
Sebuah tangga melingkar sederhana menyambutnya, terbuat dari besi yang dicat warna emas. Kris bergerak turun dengan jari-jari tangan kanannya yang menelusuri pegangan tangga. Lampu tidak dinyalakan, jadi ia hanya menangkap siluet sepupunya di depan sebuah meja setengah lingkaran dengan dua komputer dan satu laptop menyala. Ketika kakinya melangkah lebih jauh, semua itu menimbulkan gema diantara deru nafas dua manusia dalam ruangan dan Chanyeol menoleh. Wajahnya serius.
"Tidak ada yang harus dilakukan, kau selalu berkata seperti itu. Lalu kenapa masih serius mencari target?"
Masih ada lima anak tangga dan tiga meter jarak di antara Kris dan Chanyeol, tapi sang pemilik rumah bisa mendengar suara hembusan nafas sepupunya dalam ruangan sepi. "Bukannya lebih baik tetap mengawasi gerak-gerik polisi?" Chanyeol menjawab dengan mata fokus ke layar laptop sambil memainkan kuku dengan giginya.
Kris mengambil sebuah kursi dan duduk dengan cepat, tak peduli roda-roda kursinya melindas bungkus makanan ringan kosong, menatap sebuah situs rahasia milik CATC ─China Anti Terrorism Center─ yang berhasil Chanyeol bobol. Kris akui, Chanyeol memang terlihat idiot dengan perkiraan IQ dibawah 70, tapi itu hanya kulit luarnya. Chanyeol sudah kuliah semester akhir di umurnya yang baru menginjak angka duapuluh satu─ia mendapat beasiswa penuh hingga mendapat gelar Master dari Universitas Peking─, semua itu dikurangi dua semester cuti karena pertukaran mahasiswa ke Tokyo dan Moscow, IQ-nya 85 point di atas perkiraan, dan bukti kejeniusan Chanyeol yang lain adalah ia bisa masuk ke situs rahasia milik negara tanpa ada yang curiga.
Udara masih terasa dingin ketika Kris merasakan nafasnya sendiri. Ia menggosok hidung lalu bertanya. "Jadi aku masih harus cuti?"
Chanyeol mengangguk. "Masih ada beberapa orang yang membicarakan kasus kita."
Kris mengadah, menatap langit-langit putih yang menjadi abu-abu karena minim cahaya. Oh, ia bisa melihat retakan cat samar-samar. Ia sedang memikirkan banyak hal. Banyak sekali. Namun semua itu memiliki satu muara, satu pertanyaan yang harus Chanyeol jawab.
"Apa… apa ki-kita harus benar-benar… berhenti?"
Chanyeol mengedipkan mata sekali setelah Kris berhasil menyelesaikan ucapannya dengan sedikit gagap, beberapa kali mengulang kata dalam bahasa Korea. Ada implus listrik yang mengalir dalam sel otaknya ketika Chanyeol berpikir mengenai jawaban apa yang harus ia berikan pada Kris. Tiba-tiba pria itu merasa kepalanya diselimuti kabut dan semua menjadi keruh.
"Kurasa tidak," akhirnya Chanyeol memutuskan. "Kita sudah terlalu jauh. Aku sendiri juga tidak bisa berhenti. Semua terasa menyenangkan."
Kris melirik tajam kearah Chanyeol yang tidak menatapnya. Seperti orang buta, matanya terpaku pada sesuatu yang maya dan tidak dapat Kris lihat. Ia rasa Chanyeol sedang berpikir lagi, jadi pria itu tetap diam.
"Membunuh itu seperti narkoba, Kris. Membuat kecanduan."
Kris menatap kedua telapak tangannya. Tangan itu kotor, walau nampak tanpa noda kali ini. Berliter-liter darah telah mengotorinya dari rembesan sarung tangan yang selalu ia kenakan saat bertugas. Chanyeol benar, ia merasa tidak bisa berhenti. "Kau membunuh dengan otakmu, aku membunuh dengan tanganku."
Chanyeol tersenyum dan menatap Kris sayu. Ada kantung mata jelek dibawah mata lebarnya. "Masih mau pensiun?"
Kris menatap tangannya lagi. Sesuatu seperti rasa khawatir bercampur semangat mengiringi dentuman jantungnya yang temponya kembali meninggat. "Kurasa tidak," ia berkata dengan suara berat.
Rasa berat yang membuat sesak, namun terasa menggembirakan.
.
.
.
Akhir Juni. Akhir tahun ajaran sebelum September kembali dan sekolah mulai sibuk lagi. Lima tahun terlewat sejak Tao mendapat hadiah sepeda dari Santa, dan pada akhirnya ia pun tahu Santa tak pernah ada.
Pria muda itu membuka buku rapornya sekali lagi. Halaman pertama: data siswa. Disana, akan selalu ada suatu kolom kosong. Kolom yang tak akan pernah diisi, tak pernah bisa diisi, namun selalu ingin Tao isi.
Biodata Wali Murid Laki-laki.
Menginjak kelas tiga sekolah dasar, Huang Zitao akhirnya mengerti kenapa dulunya ia sering pindah sekolah. Ia bahkan pernah pindah sekolah tiga kali dalam satu tahun ajaran. Untungnya, China selalu menerima murid pindahan tak peduli berapa kali murid itu meloncat dari satu sekolah ke sekolah yang lain.
Jawabannya ada pada kejujuran semu pada kolom pekerjaan ibunya.
Pedagang.
Ibunya seorang pedagang tubuh.
Itulah alasan kenapa Tao tak pernah tahu siapa ayahnya. Karena ibunya sendiri juga tidak tahu siapa yang menanam cikal-bakal Tao dalam rahim itu.
Itu pula alasan ia ditolak hampir setiap sekolah di Qingdao. Mereka tidak menerima seorang anak pelacur, tak jelas siapa ayahnya. Perwakilan dunia untuk menolak seorang anak yang tumbuh tanpa mengenal kasih sayang seorang ayah.
Tapi itu dulu. Ibunya memang seorang pelacur, tapi itu benar-benar dulu. Kini, Nyonya Huang bekerja sebagai pembuat lampion kertas merah sekaligus perajut pakaian yang terbuat dari wol, ia membuka toko kecil yang menjual jajanan manis beserta hasil rajutannya. Pada musim dingin, Tao menjual beberapa buah ke teman sekelas dan Tao merasa sangat senang karena ibunya akan memberikan uang saku lebih.
Uang lebih itu ia kumpulkan dalam sebuah kaleng susu yang diletakkan dalam lemari pakaian dalam agar ibunya tidak tahu. Satu-satunya keluarga yang Tao miliki itu akan berulang tahun beberapa hari lagi.
Pada hari minggu awal bulan Juli kala itu, Tao sengaja bangun jauh lebih pagi. Matahari masih malu-malu untuk mengintip dan hanya bias cahayanya yang sudah elok melukis langit. Ia membuka pintu kamar perlahan, meminimalisir decitan yang akan mengganggu kenyamanan tidur sang Ibu. Pria itu berjalan ke dapur dan mengambil sebuah kotak kecil dari beledu merah di dalam kulkas. Mungkin konyol. Tapi satu-satunya tempat aman kali ini adalah dalam sebuah kantung plastik berisi telur yang baru ibunya beli dua hari lalu. Nonya Huang alergi telur. Wanita itu tak akan memasak menggunakan telur kecuali Tao memintanya, dan Tao memang tidak meminta dimasakkan telur dalam dua hari ini.
Selain mengambil kotak hadiah itu, Tao juga mengambil beberapa sosis daging dan mentega. Ia menggorengnya dengan hati-hati mengingat ini pertama kalinya ia memasak, ibunya selalu melarang ketika Tao ingin melakukannya sendiri. Tao tidak bisa memasak nasi, jadi ia mengambil ramen cup dari kabinet penyimpanan dan menuangkan air panas dari dalam termos. Tao hanya perlu menunggu beberapa saat sambil duduk manis, kemudian mencampurnya dengan bumbu-bumbu dalam plastik dan potongan-potongan sosis.
Tinggal satu menit dan ramennya akan siap dimakan.
"Huang Zitao?" Tao menoleh, matanya membulat menangkap sosok sang Ibu berdiri di ambang pintu dapur sambil menatapnya dengan sorot mata aneh, antara mengantuk, kaget, bingung, dan… marah. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Tao cepat-cepat mengambil kotak beledu merah dari atas meja dan menyembunyikannya di belakang tubuh. Tapi ia terlalu polos, ibunya tentu tahu bahwa anaknya sedang mengajaknya bermain 'apa yang ada di belakangku?'.
"Aku…"
"Mama tidak mengajarimu untuk berbohong, Tao. Mama tahu, Mama bukan panutan yang baik untukmu. Mama terjerumus dalam lubang hitam saat Mama masih muda dan kemudian kau lahir, lalu Mama masih…"
"Sudah, cukup!"
Nafas Tao memburu. Ia tidak suka jika ibunya mulai menceritakan kepahitan masa lalu yang harus mereka lalui, membuat Tao ingat bahwa ketakutan itu benar-benar nyata.
"Aku bahkan belum berkata apapun. Tapi kenapa Mama menuduh Tao berbohong?"
Tao masih menundukkan wajahnya ketika tangan kanannya terlulur, menampakkan kotak beledu yang ia sembunyikan dari balik punggung. "Zhu ni shengri kuaile, Mama."
Tidak ada ibu yang tidak terharu saat anaknya yang masih belia memberi kejutan hari ulang tahun di pagi buta, merelakan jam tidurnya berkurang demi sebuah perayaan kecil. Kemudian mereka saling memeluk dalam diam, hanya diiringi oleh tangisan yang perlu dibagi agar tidak ada hati siapapun yang retak karena tak kuat menanggung beban.
"Terima kasih."
Tao menghapus air matanya sendiri begitu pelukan mereka terlepas. Ia membuka kotak beledu itu dan menampakkan sebuah cincin dengan batu berlian imitasi di dalamnya. "Tao hanya bisa membeli ini. Maaf."
Ibu Tao menggeleng. Ia menatap putranya sambil mengelus pelan rambut halus itu dengan mata yang masih berkaca-kaca. "Ini indah sekali."
Tao tersenyum dihiasi mata bengkak. "Di teve, jika ada pria yang mencintai seorang wanita, ia akan memberikan cincin untuk si wanita. Kemudian mereka menikah dan hidup bahagia." Tao mengambil cincin itu, memakaikannya perlahan ke jari manis tangan kanan ibunya. "Sampai saat ini, Mama tidak memiliki kesempatan itu. Maka aku yang akan mewakilinya. Wo ai ni."
Nyonya Huang akan merasa malu jika harus menangis di tengah moment bahagia seperti saat ini. Tao tidak memberinya cincin hanya untuk sebuah tangisan. Jadi, ia hanya berkata dengan nada serak yang mewakili seluruh perasaannya pada sang putra, "Wo ye ai ni, Tao."
.
.
.
Kris membuka loker sekolahnya. Sialan, surat merah jambu lagi. Laki-laki berumur duabelas tahun itu membuang belasan surat cinta yang isinya kurang lebih sama ─memintanya untuk menjadi kekasih si pengirim─ itu ke tong sampah setelah sebelumnya menyobek surat itu menjadi potongan-potongan kecil. Saat ia melirik ke persimpangan koridor, ada tiga wanita mengintip dan berlari dengan cepat begitu melihat tatapan matanya yang tajam.
"Sudah kubilang aku tidak mau punya pacar," Kris mendesis.
"Hey dude!" Si Wu kecil menoleh, ia mendakan tinju kecil di pundak dari teman depan bangkunya. Namanya Michael Jackson Kile, ibunya terlalu terobsesi dengan the King of Pop itu.
"Hey juga, MJ."
"Mau ke kantin?"
Kris melirik ke jam bundar warna putih yang terpasang di dinding koridor sebelum menjawab. 07.00 A.M.
"Masih ada banyak waktu sebelum jam pertama. Aku akan menceritakan hal menarik!"
Kris mengangkat sebelah alisnya. "Apa lagi yang akan kudapatkan?"
MJ mendengus. "Dasar jiwa bisnis. Baiklah, sandwich bacon dan sebotol air mineral."
"Deal for two glasses of fruit punch," Kris menawar dan tersenyum meremehkan.
"Okay!"
Sepuluh menit kemudian mereka sudah ada di kantin yang cukup ramai dengan para murid yang belum sarapan. Walau tidak seramai saat makan siang, Kris tetap saja merasa risih. Itulah alasan Kris selalu membawa kotak bento dari rumah untuk dimakan di kelas.
"Aku mendapat surat cinta."
Kris masih mengunyah walaupun pandangannya melirik. MJ juga salah satu siswa populer di sekolah, sama sepertinya. Bukan hal tabu jika pria itu dapat surat cinta. "Lalu?"
"Aku mendapatkannya dari Lucy Johnson."
Kris mendelik. Lucy Johnson adalah atlet renang nasional, satu yang paling terkenal di Kanada. Lucy juga satu sekolah sengannya, dan sudah menjadi incaran MJ sejak lama. Pria itu sungguh yakin kalau mereka berdua adalah belahan jiwa. "Sungguh?"
MJ mengangguk sambil menggigit sandwich vegetariannya. "Aku sempat shock."
"Lalu, apa yang kau lakukan?"
"Tentu saja aku akan ke kelasnya pada jam istirahat nanti! Aku akan menyatakan perasaanku padanya!"
Kris mendesis. "Pecundang. Masa harus Lucy dulu yang menunjukkan ketertarikannya padamu?"
MJ berhenti mengunyah dan menelan makanannya paksa. "Benar juga, sih."
"Kalau hubungan kalian tidak lebih lama dari satu tahun, aku ingin kau mentraktirku makan sushi sepuasnya."
"Hey!" MJ berteriak, pura-pura marah. Kris malah tertawa melihatnya.
"Aku bercanda."
MJ banyak bercerita banyak hal setelah itu. Ia menceritakan anjing barunya, lalu ia mengait-ngaitnya Lucy yang punya wajah kecil seperti anak anjing yang lucu. Banyak sekali, hingga jam masuk kelas akhirnya berbunyi. Walau tampan, MJ tetap cerewet seperti anak gadis. Hanya Kris yang tahu itu.
Mereka sudah kembali berjalan di koridor menuju kelas dengan perut kenyang ketika MJ bertanya satu hal yang membuat Kris berpikir keras. "Hey, Wu. Apa arti soulmate untukmu?"
Kris menautkan alis, tangannya bergerak gusar dalam saku celana. "Apa ya?"
Kris pernah membaca dalam sebuah buku dongeng, belahan jiwa bagaikan kopi dan cangkir. Saling melengkapi.
Kris pernah menonton di televisi, belahan jiwa adalah jodoh seumur hidup yang hanya bisa dipisahkan oleh maut.
Kris pernah dengar dari MJ, belahan jiwa adalah Lucy Johnson.
"Bagiku," suara Kris terdengar serius, "belahan jiwa itu adalah orang yang bisa menyelesaikan kalimatmu."
"Hah?"
Kris tidak menjawab keheranan MJ karena sudah ada guru di kelas. Tapi setelah guru mulai menghadap papan untuk menjelaskan, MJ memutar bangku ke belakang dan mengancam Kris. "Ayo, jelaskan padaku arti soulmate bagimu! Jika tidak, aku akan membatalkan perjanjian kita mengenai pizza!"
"Masa kau tidak mengerti?" Kris berbicara pelan, berbisik.
MJ menggeleng.
"Soulmate berarti belahan jiwa kita, jiwa kita yang lain namun ada di lain tubuh. Satu jiwa punya satu hati, itu artinya setengah hati kita juga ada pada belahan jiwa kita. Jadi, belahan jiwa pasti bisa menerka apa yang akan kita katakan selanjutnya. Itu maksudku."
MJ terdiam sesaat, lalu bertanya lagi. "Apa kau sudah menemukan seseorang yang bisa menyelesaikan kalimatmu itu?"
Kris menggeleng. "Belum. Kuharap secepatnya."
"Kau ingin mendappat belahan jiwa yang bagaimana?"
Ketika itu, Kris tidak pernah sadar bahwa dirinya adalah seorang biseksual. "Cantik, punya mata dan bibir kucing, juga seksi."
"Dasar pelanggan majalah Playboy."
Kris memukul MJ dengan pensilnya, memekik kecil. "Hey! Diam kau!"
.
.
.
Tao merasa tangannya membeku. Semua dingin, hal terakhir yang ia ingat adalah musim salju akan segera berakhir. Tapi kenapa suhu menjadi lebih kejam dari biasanya?
Ketika ia memutuskan melihat telapak tangannya, Tao yakin semua yang terjadi padanya kali ini adalah suatu kesalahan besar. Pria itu menoleh, ada cermin di ruang putih tanpa batas tempat ia berada. Tubuhnya… ia kembali menjadi anak berusia enam hingga tujuh tahun.
Ada apa?
Hujan salju turun dari awan tak kasat mata. Semakin dingin. Buku-buku jarinya memutih. Ia tak memakai sarung tangan. Kaki-kaki kecilnya juga telanjang. Tapi kenapa bagian itu menjadi terasa terbakar? Tao berkedip, dan semua apa yang ia lihat kembali berbeda.
Di sana, di atas sebuah sofa besar berwarna merah darah, ibunya saat masih muda, tengah bercumbu dengan dua orang pria tak dikenal dan… oh, itu sungguh tidak pantas dilihat oleh anak-anak. Ketika Tao mencoba untuk berteriak, menangis, berlari menggapai sang ibu, ada ribuan jarum yang menghujam tubuhnya. Sakit. Rasanya lebih menyebalkan daripada melakukan akupuntur di seluruh tubuh.
Tao takut.
Suara rintihan penuh nikmat itu menghujam indra pendengarannya. Adalah sebuah kepercumaan ketika ia berusaha menutup telinga dan matanya rapat-rapat, bayangan-bayangan buruk itu makin menjadi. Semakin lama semakin terdengar, semakin lama semakin terasa.
Terasa.
Benar, ada sentuhan bergairah menjalari tubuhnya. Tao mengintip dari sela-sela jari, ia tak mengenal pria itu. Atau hanya ia yang berusaha tidak mengenal, tidak mengingatnya?
Ini mimpi buruk! Tao harus bangun!
"Ayo, Manis. Paman janji ini tidak akan terasa sakit."
Tao merangkak mundur. Pijakannya empuk. Ia terduduk diatas ranjang, tubuh telanjangnya berselimut putih, kulitnya lengket karena peluh, dan bibirnya berdarah. Ia ingat, ini masa pertamanya. Umurnya tujuhbelas tahun. Rayuan itu hanya sebuah kebohongan belaka. Bagian yang dimasuki itu terasa perih dan sakit ketika Tao berjalan keesokan hari.
Tao mengingat semuanya kembali. Kenapa tiba-tiba seperti ini?
"Mama…" Tao merintih lirih ketika pria itu mencekal kakinya. Rasanya semakin sakit ketika ia berusaha untuk menendang.
"Jangan memberontak! Kau sudah kubayar mahal!" suara lembut si penyewa meninggi.
Jemari itu merambat melewati betisnya, menyentuh belakang lututnya ─demi Tuhan Tao benci bagian itu disentuh─, semakin naik ke paha dan membuat gerakan lembut memutar disana. Tao meneguk liurnya kasar. Pahit, terasa sakit di tenggorokan. "Ja-jangan…" ia mencicit. Suaranya tenggelam di tengah ketakutan.
PLAK!
Tao ditampar. Sakitnya lebih terasa di hati.
Ketika pipinya dicengkram sangat kuat hingga bibirnya membulat, Tao bisa merasakan rasa asin di indra pengecapnya. Darah di bibir kucing itu mengalir lagi. Ia memejamkan mata ketika ciuman kasar semakin melukai bagian yang berdarah. Hanya diam yang bisa ia lakukan. Memberontak pun percuma, ia akan makin disiksa.
Oh, sentuhan itu menyapu lehernya. Ia akan mendapat tanda-tanda merah yang ia sering tanyakan kepada ibunya, dulu.
Kemudian semakin turun ke dadanya. Geli.
Hey, apa yang menggeliat di selangkangannya?
Tidak! Bagian itu sangat dilarang untuk dimasuki!
Lalu semuanya menjadi normal. Sentuhan-sentuhan menjijikkan itu tidak terasa lagi. Ia membuka mata perlahan, silau, ada erangan penuh ketakutan terdengar. Mata elang itu, alis tegas itu, rahang kokoh itu…
Kris ada di hadapannya.
Ia sudah bangun dari mimpi buruk.
"Tao, are you okay?"
Tiba-tiba ia mual. Menyedihkan sekali ia harus mual dan muntah-muntah ketika trauma masa lalunya muncul.
Satu yang ditanya mengangguk, kaku, lehernya seperti kram. Mungkin efek berbohong.
"Kau mengalami mimpi buruk? Aku terbangun karena teriakanmu."
Sekeras itukah ia mengigau? Kamar Kris beberapa meter di seberang kamarnya.
Tao menutup mulut. Ia tidak tahan, harus ada yang dikeluarkan dari lambung. Apapun itu, walau ia tidak makan malam kemarin.
"Kau merasa mual lagi?"
Tao mengangguk, matanya terpejam, dadanya naik turun dan ada suara seperti penderita asma keluar dari mulutnya.
Pelan Kris menyibak selimut Tao yang diam-diam sering ia cium wanginya ketika Tao tidak di kamar. Harumnya menyenangkan. Tao berjalan tertatih, masih menutup mulut dan memegang perutnya agar ia tidak muntah di lantai. Ketika Kris membuka pintu kamar mandi, Tao langsung berlari ke wastafel dan cairan putih keruh yang bersifa asam mulai keluar dari mulutnya. Tidak ada yang lainnya, kecuali tetesan air liur. Belum puas, kloter kedua meluncur dengan mulus, tapi Tao terbatuk di akhir.
"Tao…" Kris memanggil pelan sambil memijat pelan tengkuk Tao yang menatap cairan muntahnya sendiri dengan posisi sedikit membungkuk. "Kau tidak baik-baik saja."
Kran air dinyalakan. Bunyinya menjadi nyaring karena gema. Ada bagian muntah yang terciprat di beberapa sudut dan Tao mengarahkan kucuran air ke bagian itu dengan telapak tangannya.
"Aku baik-baik saja."
Kris tak berkata apapun lagi beberapa menit setelahnya. Percuma saja, Tao akan tetap teguh pada pendiriannya, bahwa ia baik-baik saja. Kran air masih menyala walau bekas muntahan Tao sudah tak bersisa, pria itu juga sudah berkumur dan menyikat gigi lagi. Tapi mereka masih disana, saling menatap lewat cermin kamar mandi Tao.
"Ayo, kembali ke ranjang."
Tao berjalan terseok, mirip orang mabuk. Ia juga langsung bergelung di bawah selimut begitu ia sampai di pulau empuk pribadinya. Kris hanya menatap prihatin. Ketika orang-orang mengalami depresi secara batin, Tao juga mengalami sakit secara fisik.
"Kau ingat 'kan Tao? Ada aku."
Tao merubah posisinya, menatap Kris dengan yang masih berdiri dengan baju tidur dengan bagian celana kependekan. "Aku ingat."
Ranjang bergetar kecil ketika Kris duduk di tepinya. Kakinya diangkat dan disilakan, sedangkan lengannya terbuka. "Kau butuh pelukan kecil?"
Tao menggeleng. "Aku baik-baik saja, Kris ge."
"Ngomong-ngomong, kau bisa memanggilku Kris saja. Aku baru sadar kalau aku tidak suka menjadi tua."
Tao tersenyum tipis.
"Aku memang baru mengenalmu beberapa bulan lalu. Tapi kita serumah 'kan? Kamarku dan kamarmu berseberangan, bahkan daun pintunya ada di satu garis lurus."
Tao bernafas dengan suara berat, tetap diam menunggu Kris melanjutkan pembicaraan. Suasana hatinya buruk kali ini, jadi ia berminat untuk cerewet.
"Aku akan lebih suka kau mau berbagi cerita denganku. Tapi aku tidak memaksa, kau harus bercerita karena kehendak hatimu sendiri."
Pria yang diajak bicara tetap membisu. Tangannya jahil menyentuh tangan Kris, membawanya mendekat lalu memijat telapaknya perlahan. Kris mengikuti gerak jari-jari Tao yang tetap lembut walaupun pekerjaannya di rumah cukup berat. Pada akhirnya, godaan untuk menatap mata hazelnut Tao tak tertahan.
Walau ia bukan psikiater, Kris bisa melihat luka di mata bening itu. Pasti menyakitkan, karena luka itu membekas di hati. Kris yakin. Sebulan belakangan Tao sudah beberapa kali bermimpi buruk dan berteriak kencang sambil meremas selimutnya hingga bekasnya terlihat jelas. Chanyeol bahkan pernah menempelkan es batu ke pipi Tao karena ia tidak bisa keluar dari mimpinya sendiri, cara itu berhasil. Sekarang Chanyeol ada di Seoul, jadi Tao tidak perlu tersiksa karena 'metode membangunkan orang' milik Chanyeol yang cukup berbahaya. Kris hanya perlu menepuk pipi Tao beberapa kali dan pria itu terbangun. Sebenarnya lebih kepada mengelus pipi.
"Bagaimana aku bisa membantumu kalau kau tetap menolak bicara?"
Pijatan di tangannya memelan, lalu berhenti. "Apa Kris ge berjanji akan membuatku merasa senang setelah itu?"
Kris tidak menjawab secara lisan, hanya anggukan kecil. Bibirnya mengoreksi pelan, "Kris."
Tangan Tao menelusuk ke punggungnya, memeluk Kris sangat erat sedang pria yang di peluk tak merespon apa-apa. Wangi cologne bayi bercampur harum maskulin Tao masuk ke hidungnya yang mancung. Rasanya lebih memabukkan jika dihirup langsung seperti ini.
Jujur saja, hasrat 'itu' terkadang muncul.
Tao terisak kecil, tangannya mencengkeram piyama Kris dan dagunya menekan keras pundak majikannya. Semakin lama bagian itu makin basah, tangisannya juga makin kencang. Kris merasa telinganya ngilu. Dadanya juga terasa sesak mendengar rintihan tertahan dari bibir Tao.
"Mereka membuat Mama sakit… Me-mereka…juga membuat Mama… meninggal."
Kris mengerti rasanya ditinggalkan. Jadi ia diam dan mencoba menenangkan Tao dengan tangannya. Bicara hanya membuat emosi Tao semakin tidak stabil.
"Mereka…," kuku Tao menancap ke punggung Kris. Perih, tapi pria itu tak yakin kuku Tao dapat menembus kain pakaiannya. "Mereka mengambil Mamaku…"
Kris memang tak mengerti siapa mereka yang dimaksud oleh Tao, tapi ia merasa bahwa mereka itu pasti yang menyebabkan Tao begitu ketakutan dalam mimpinya.
"Mereka menghancurkan kehidupan Mama, membuatku terlahir di dunia. A-aku tidak mau…seperti ini." Tao berhenti untuk bernafas. Dadanya naik-turun dengan payah, Kris bisa merasakannya. Ia juga bisa merasakan bahwa punggungnya makin perih.
"T-tao," Kris mendesis merasakan tancapan kuku Tao yang semakin menjadi.
"Mereka semua jahat."
"Ah.. Tao.."
"Mereka harus membayar semuanya."
"Tao i-itu…"
"HARUSNYA MEREKA PERGI KE NERAKA!"
"TAO!" Kris menjerit, punggung dan dadanya sakit sekali. Tao menekan kukunya ke kulit Kris lebih dalam dan meninjunya setelah itu.
Mata Tao membulat, tak tahu apa yang telah ia lakukan. Kris nampak kesakitan sambil memegang dada kirinya dan membungkuk dalam. "Apa yang sudah kulakukan?" ia mencicit.
Kris meliriknya tajam, menakutkan. Apapun yang ia sudah lakukan pada Kris barusan, Tao yakin, itu adalah salah satu hal terburuk dalam hidupnya.
"It's okay." Tidak, Kris tidak marah. Tao sampai lupa kalau Kris terlahir dengan mata yang terlihat cukup mengerikan saat melirik. "Bisa kau buka bajuku?"
"Ap-apa?" Kris tidak memintanya untuk…
Kris menunjuk bagian belakang tubuhnya dan memutar tubuhnya. "Punggungku, rasanya sakit."
Tao mengerjapkan matanya lalu mengangguk lucu seperti pajangan dashboard mobil. Syukurlah.
Ketika Tao menatap punggung Kris yang masih memakai piyama, pria itu tahu Kris terluka. Ada empat robekan yang berjejer rapi, seperti tertembak, namun robekan itu kecil sekali. Benar saja, ketika ia mengangkat pakaian Kris keatas untuk melihat keadaan punggungnya, ada luka disana.
"Bagaimana?" Kris bertanya sambil menoleh ke belakang.
Tao diam, mengingat semuanya kembali.
Ia bangun,
ada Kris disana,
lalu ia mual,
Kris menuntun dan menolongnya hingga ia merasa membaik,
kemudian ia menangis,
Kris memeluknya saat itu,
Kris…
"Oh Tuhan, maafkan aku!"
Kris mengerutkan alisnya. "Apa?"
"Punggungmu.. punggungmu terluka." Tao menunduk takut, menyentuh kulit Kris pelan dengan jari-jarinya yang membuat luka itu. "Maafkan aku."
"Kau sudah merasa membaik?"
Tao mengangguk. Semakin merasa bersalah karena Kris malah menanyakan keadaannya, orang yang membuat punggungnya terluka dan berdarah.
"Kalau begitu aku akan memaafkanmu."
"Eh?"
Kris memutar tubuhnya lagi menghadap Tao, menurunkan piyamanya walau punggungnya terasa perih saat bergesekan dengan kain. "Bodoh," pria itu tersenyum.
Melihat senyuman itu, Tao menangis lagi. Ia mulai mengerti apa arti balasan Kris untuk permintaan maafnya. Refleks ia memeluk leher Kris dan kembali terisak di pundak pria itu, di sisi lain.
Kali ini Kris yang merasa lebih baik.
.
.
.
"Ah!" Kris meringis menahan sakit. Tao sedang membersihkan lukanya menggunakan alkohol, rasanya menyebalkan.
"Maaf, aku akan hati-hati."
Kris meremas piyama yang ia gunakan untuk menutupi dadanya lagi. Perih. Ia sudah biasa diberi alkohol jika terluka, tapi tetap saja Kris benci cairan bening sialan itu.
"Aku tidak bermaksud membuat kau terluka."
Kris mengangguk. Ia pahan dengan sangat. "Kuharap kau memotong kukumu setelah ini."
Tao berhenti dan kemudian menatap kukunya. Bersih, cantik seperti kuku wanita. "Baiklah."
Mereka terdiam beberapa saat sebelum Kris bertanya untuk memecah sepi. "Besok, apa kita jadi merayakan Lunar bersama?"
Tao mengangguk sambil menggumam kecil, "Ya."
"Baguslah," Kris tersenyum. "Apa yang biasa kau lakukan saat Lunar?"
Tao meneteskan betadine ke luka Kris, pria itu berjengit lagi. "Ehm, maaf." Tao melakukannya dengan lebih hati-hati. "Biasanya hanya makan-makan bersama Mamaku, ia akan bertanya apa harapanku untuk setahun kedepan juga apa yang aku syukuri pada tahun sebelumnya. Tapi setelah, kau tahu maksudku, aku tidak pernah merayakannya lagi."
Kris diam cukup lama. "Berapa lama?"
"Dua tahun."
Mereka membisu lagi, dan Kris yang selalu berbicara terlebih dahulu. "Jadi, apa yang kau syukuri tahun ini?"
Tao membuka plester coklat kecil dan menempelkennya di setiap bekas luka, total empat buah. Setelah itu jemarinya yang masih berkuku panjang menyusuri tepi plester itu satu-persatu. "Kris Wu."
Kris tersenyum simpul dan tangannya memainkan ujung lengan piyamanya sendiri. "Terima kasih."
"Kris, bagaimana denganmu?"
Kris memakai piyamanya lagi lalu memasan wajah lembut ke arah Tao. "Jika aku adalah salah satu hal yang kau syukuri tahun ini, maka aku juga harus mensyukuri kehadiranmu."
"Kalau aku tidak mengatakan aku bersyukur akan kehadiranmu, apa kau juga tidak mensyukuri kehadiranku?"
Kris tersenyum picik, "Tentu, pengeluaranku semakin banyak."
Tao cemberut sebal walau ia tahu Kris hanya bercanda.
"Aku hanya bercanda," Kris tertawa kecil setelahnya.
Tao ikut tertawa, suasana kamar itu mencair setelah sebelumnya Kris menolak mentah-mentah membuka piyamanya di depan Tao agar lukanya bisa diobati. Mereka berteriak kencang sekali, main gunting-batu-kertas hingga Kris akhirnya menyerah dengan satu kesepakatan, Tao tidak boleh melihat dadanya. Yah, mungkin Kris takut diperkosa mantan tunasusila sepertinya. Tapi otak Tao tidak seporno itu. Oh ya, Tao akhirnya juga tahu Kris punya satu tato lagi di punggung, selain di lengan kirinya.
"Lalu apa yang kau harapkan tahun depan?" Kris bertanya lagi.
Tao mengangkat wajah menatap lurus ke bola mata Kris. Indah. "Aku ingin ada nama Papaku di buku rapor, dan semua dokumen keluargaku.
Kris akhirnya ikut menatap lurus mata kucing Tao. "Hanya itu?"
Tao menggeleng, titik fokusnya masih sama. "Aku ingin bertemu dengannya, merayakan Lunar selanjutnya dengannya, kalau bisa aku ingin mengajak Mamaku." Tao menarik nafas panjang, kini menatap kakinya. "Aku tidak peduli kalau itu adalah salah satu pelanggan yang mengencani Mama dulunya, aku hanya ingin Papaku tahu bahwa aku ada di dunia. Aku anaknya."
Kris tidak mau kejadian sebelumnya terulang, jadi sebelum kejadian itu terjadi, Kris mengelus pundak Tao sambil tersenyum seolah-olah semua akan baik-baik saja.
Tao sangat hafal senyuman menghangatkan sekaligus menyejukkan itu.
"Oh Kris, kau harus menelepon keluargamu! Katakan 'Selamat Taun Baru Lunar' pada mereka!"
Tao tidak tahu ucapannya barusan membuat jantung Kris terasa berhenti. Pria itu malah berbicara makin lebar. "Aku jadi ingin berkenalan dengan wanita yang sudah melahirkan orang sebaik kau, ─ibumu! Aku juga ingin berterima kasih dengan Billy ge yang sudah meminjamkan sandal pesawatnya! Kau tidak pernah memberitahu tentang ayahmu, bisa aku mengenalnya juga?"
Kris tidak bergerak, ia seperti robot yang habis daya. Terlihat sempurna, tapi bisu dan diam. Tao sontak bingung, ia menggerak-gerakkan tangan Kris dan semua terasa seperti es. Ada apa degan pria itu?
"Kris, kau baik-baik saja 'kan?"
"Ya," Kris lebih terlihat seperti robot ketika berbicara. Suaranya aneh, terdengar mistis. Tao takut jika Kris dirasuki hantu. Ia menatap jam dinding, pukul tiga pagi. Tidak ada yang bisa ia mintai tolong kalau Kris benar-benar dirasuki hantu.
"Kris, kau yakin?"
"Ya."
"Sungguh?"
"Ya," Kris memejamkan matanya, dan membukanya pelan dengan pandangan takut. "Sebaiknya kau keluar dari sini."
"Ta-tapi Kris, ini kamarku."
Kris mengerutkan dahinya, berpikir terlalu lama. Apa yang ia pikirkan hingga ia tidak sadar bahwa ini kamar Tao?
"Maaf, aku akan kembali ke kamarku."
Kris hampir selalu berjalan dengan cepat, termasuk kali ini. Tao yang punya kaki hampir sama panjang dengannya sampai harus berlari kecil untuk menyusulnya.
"Kris, kau tidak 'tidak apa-apa'. Apa aku salah mengucapkan sesuatu? Apa aku seharusnya tidak berterima kasih kepada keluargamu?"
Kris mengenggam handle pintunya saat itu, tapi tak melakukan apa-apa, tak berkata apa-apa. Semua terasa awkward bagi Tao. Ia merasa harus minta maaf sekali lagi, jadi ia melakukannya sambil mencoba menyentuh bahu Kris. "Kris, maafkan…"
Ucapannya terpotong. Kris mendorongnya ke tembok, mencekiknya, ia kesetanan. Tao benar, Kris kerasukan hantu!
"K-kris..."
"Daddy, Mommy, Billy, semuanya pembohong. Mereka penghianat!"
Tao membenci mata menyeramkan itu, kali ini menyeramkan dalam arti sesungguhnya.
"Kau, bocah kecil, jangan sok peduli dengan cacing-cacing brengsek itu, mengerti?"
Tao semakin meringis merasakan tangan Kris makin kuat mencekiknya.
Luka dibayar luka.
"Tidak usah menjadi orang bodoh untuk berterima kasih pada mereka, mereka cuma sekumpulan orang-orang jahanam. Mereka. Tidak. Pernah. Ada. Di dunia. Kau mengerti?"
Kris tersenyum, lembut sekali. Tapi mata itu tetap sama, mengerikan. Tao mengangguk payah.
"Good boy," Kris melepaskan tangannya dari leher Tao. Pria itu jatuh melorot ke lantai lalu terbatuk pelan. "Good night, pelacur murahan."
Sakit. Hatinya sakit walau itu benar nyatanya.
Mungkin memang ada yang salah dengan ucapannya, dan itu membuat Kris sakit hati.
Kalau begitu, luka di hati juga dibayar luka di tempat yang sama.
Mungkin, perayaan Lunar bersama Kris besok tidak akan pernah ada.
.
.
.
TEBECE
ABIS IKUT SMART LEARNING SMALANE '16 DAN RASANYA CAPEEEKKKK BANGET
MANA BESOK UJIAN SAMA REMED ;-; /plakplok
DOAIN SUKSES YAAAAAAAA :3
Oh ya doain tugas saya sebagai buddies buat anak-anak pertukaran pelajar Cambridge juga gaada hambatan, bibir bisa tiba-tiba ajaib ngomong bahasa Inggris '-' Soalnya saya bisa gagu kalo diajak ngomong bule -_- Ah, ehm, ah, ehm mulu. Anggep aja latihan sebelum ketemu Kris /nahloh
Oh ya kemaren saya maen break clap sampe paha warnanya ungu lho :3 Hebat kan Smart Learningnya menimbulkan luka/? hiks ;-;
*STOP CUKUP CURHATNYA*
.
.
.
Saatnya bales ripiu~ Yeyeye /?
Monggo...
ajib4ff : Baek yang sekali-sekali ke rumah Chanyeol. They're love s*x too much di cerita ini wkwkwk /slapped/ Thx for review :)
Isnaeni love sungmin : Ini udah next :D Thx for review :)
IMSyrinx : Ga kok ^^ Dia cuma semacem parno kalo inget pekerjaannya dulu. Jadi kadang mual gitu deh. Psikisnya terluka hiks /? Thx for review :)
ayulopetyas11 : Tao gak hamil kok :D Hehehe... itu mah pancingan doang /?/ Di chapter ini insyaAllah tau pekerjaan sampingan mereka apa :3 Thx for review :)
baekhyunniewife : Haha makasih yaaaa~ Gak kok, diusahain /eh Thx for review :)
91 : Gabisa bikin NC Smut aja panas-dingin pas buat wkwkwk. Lgpl gak minat bikin NC '-' Sabar ya nunggunya, saya sengaja bikin FF ini rinci sama panjang. Thx for review :)
Guest : Okeh :D Thx for review :)
Dark Shine : Gomawo Thx for review :)
sun : diksinya biasa aja kok, sengaja ambil yang ringan-ringan. Haha bapake jadi cool ya? Thx for review :)
Sylvia Hildayanti : Haha meleleh kenapa? ANIYAAAAA TAO HAMIL ANAKKU /bawa golok/ Thx for review :)
fanifavian : kalo kerja aslinya sih ngelanjutin usaha butik mamanya itu, cuma keuangan lho ya bukan bikin bajunya -_- Kerja sampingannya bisa ditebak di chapt ini :3 Thx for review :)
rarega18 : Bukan sindiran kok '-' Salah ya? Hehe. bisa jadi bisa jadi '-' Thx for review :)
.
.
.
Si yu di next chapter /kalo ada yang nunggu/
Maaf ya kalo FFnya kurang memuaskan :)
.
sign
Jonanda Taw
