Minseok berjalan menuju taman dekat rumahnya. Hatinya masih sakit dan air matanya masih terus keluar. Minseok tidak bisa berhenti menangis sekarang. Duduk di kursi taman sendirian sambil menjerit keras menjadi pelampiasan Minseok untuk melepaskan rasa sakit hatinya.
"Mengapa aku?"
Minseok menghirup nafas dalam setelah dia merasa lebih baik. Dia telah berhenti menangis. Membayangkan kejadian yang terjadi di rumah Luhan benar-bnar hal yang buruk bagi Minseok. Kini dia harus segera mencari jalan keluar agar Luhan tidak lagi mencari korban selanjutnya, terutama teman-temannya. Minseok harus melindungi teman-temannya.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia melihat nama Chanyeol berada di layar ponselnya. Minseok menghela nafas berat sebelum dia mengangkat panggilan dari Chanyeol.
"Hyung ini aku, Chanyeol."
"Ada apa Chanyeol?"
"Suho hyung –"
Ada jeda yang tertinggal dari ucapan Chanyeol. Terdengar suara isakann pelan dari suara Chanyeol yang berat. Minseok hanya tersenyum miris mendengar isakan Chanyeol.
"Aku sekarang ada di rumah Suho hyung. Aku begitu terkejut melihatnya datang ke rumah bersama dengan Sehun. Suho hyung…dia terlihat sangat ketakutan. Dia tidak mengizinkan siapa saja untuk menemuinya termasuk orang tuanya sendiri. Dia seperti orang yang trauma akan sesuatu. Suho hyung juga terus menyebut nama mu dan juga Luhan hyung sambil menjerit tak jelas. Apakah dia akan baik-baik saja hyung?"
Minseok kembali menarik nafas panjang. Kini dia merasakan pening di kepalanya muncul.
"Apakah hyung tahu apa yang terjadi padanya?"
"Besok aku akan menemui Suho."
"Hyung aku takut. Aku takut jika –"
"Chanyeol,tenanglah. Lebih baik kau jangan memikirkan hal yang tidak-tidak sekarang."
Minseok langsung memutuskan panggilan Chanyeol. Pening di kepalanya semakin sakit. Kepalanya terasa begitu berat. Minseok langsung berjalan pergi menuju rumahnya untuk segera mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
.
.
Tengah malam, Luhan terbangun dari ketidaksadarannya semenjak dia melawan Lucas yang ingin mendomisai tubuhnya. Dia berjalan ke dapur mengambil segelas air putih untuk menyegarkan tenggorokannya yang kering.
Luhan masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya terutama sakit pada luka akibat tusukan yang Minseok berikan ketika meraka sedang bertarung di garasi mobilnya. Dia meremas kuat gelas kaca yang dia genggam kemudian langsung melemparkannya ke tembok. Kesal, marah,dan emosi Luhan meluap mengingat apa yang telah Lucas lakukan pada Minseok dan temannya.
"Mengapa aku harus memiliki kepribadian seperti ini? Mengapa aku harus memiliki kekuatan sialan ini? Aku hanya ingin hidup normal layaknya orang normal lainnya."
Luhan mengambil pisau yang ada di sampingnya. Dia memposisikan pisau tersebut pada pergelangan tangannya. Tubuhnya bergetar ketika pisau tersebut menyentuh kulitnya. Dia menelan salivanya cepat dan dia mulai menyayat pergelangan tangannya perlahan. Kini sebuah sayatan panjang tercetak di pergelangan tangannya yang putih.
Desahan kesakitan keluar dari bibirnya. Luhan langsung menjatuhkan pisau yang dia bawa. Air matanya langsung keluar. Bunuh diri bukan jalan yang tepat untuk saat ini, itulah yang Luhan pikirkan. Dia menyesali apa yang telah dia perbuat sekarang.
Luhan menyandarkan tubuhnya di meja dapur. Menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Menangis karena kesal pada dirinya sendiri. Menangis karena dia telah menyakiti banyak orang. Menangis karena telah membuat orang yang di sayangi menjadi takut dan membencinya.
"Minseok apa yang harus aku lakukan?"
Luhan ingin sekali mengakhir hidupnya dengan cara bunuh diri. Pikiran sempit itu terus berputar dalam otaknya. Terserah dengan cara yang bagaimana, yang jelas dia ingin mengakhiri hidupnya agar kejadian yang mengerikan tidak akan terulang lagi. Tapi satu hal yang membuat diri Luhan terus menahan dirinya agar tidak melakukan hal tersebut adalah karena Minseok, orang yang Luhan sayangi. Luhan masih ingin berjuang sekuat dia mampu bertahan agar Minseok bisa melihatnya tanpa ada rasa benci dimata Minseok ketika Luhan bersamanya. Luhan masih ingin terus berjuang agar Minseok bisa menerima dia apa adanya.
"Minseok maafkan aku."
Luhan terus menangis. Memanggil nama Minseok dalam tangisannya.
.
.
Hari ini di sekolah, seperti biasanya. Melakukan hal yang selalu menjadi prioritas utama bagi siswa. Menerima pelajran dari guru, menyelesaikan tugas yang guru berikan, mendapat hukuman jika tidak mengerjakan tugas dan lain sebagainya yang selalu terlihat setiap hari di sekolah. Tapi untuk Minseok, hal tersebut kini tidak menjadi priotas utama lagi. Kini hal yang lebih utama adalah bagaimana cara menyelamatkan teman-temannya dari kejaran seorang psikopat berwajah tampan.
"Minseok, ada yang mencari mu."
Minseok melihat ke arah pintu kelas. Sehun sedang berdiri memandangnya dengan wajah datar. Minseok tersenyum dan langsung menghampiri Sehun. Melihat wajah Sehun yang datar membuat Minseok sedikit lega. Lega karena mereka semua pasti tidak akan tahu apa yang kini Sehun rasakan sekarang. Apakah Sehun sedang bahagia, sedih, atau pun marah. Semua itu tertutupi oleh wajahnya yang kelewat datar tanpa ekspresi sedikit pun.
Tapi dibalik wajah datar Sehun, Minseok tahu apa yang kini Sehun rasakan. Perasaan takut sekaligus cemas karena kejadian kemarin. Sehun masih terus mengingat kejadian dimana Luhan yang terlihat begitu berbeda dimatanya. Ada rasa kecewa sekaligus tanda tanya di benak Sehun tentang perubahan sikap Luhan yang tiba-tiba menjadi gila.
Kini di atap sekolah , Sehun dan Minseok hanya diam melihat pemandangan sekolah mereka. Sehun yang masih enggan untuk bertanya perihal kejadian kemarin pada Minseok memilih bungkam meskipun pikirannya dan juga hatinya begitu penasaran.
"Sehun,kau tidak apa-apa?"
Sehun sedikit terkejut. Dia menoleh kearah Minseok.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu pada mu hyung."
Minseok tertawa pelan. Dia melihat Sehun sebentar lalu kembali melihat ke depan.
"Untuk pertama kalinya aku bisa melihat mu menangis."
Minseok menunduk. Pikirannya masih berputar pada kejadian kemarin. Dia berbalik dan menyandarkan tubuhnya pada pagar pembatas atap.
"Apa kau membenci Luhan setelah kejadian kemarin?"
"Aku tidak tahu. Apakah aku harus membencinya atau malah semakin penasaran dengan sikap Luhan hyung yang tiba-tiba menjadi kasar."
Minseok menyeringai.
"Aku tidak tahu harus bertanya darimana dulu hyung. Kejadian kemarin seperti mimpi buruk bagi ku. Dan aku berpikir bahwa kejadian itu memang hanya mimpi buruk lalu keesokan harinya akan kembali seperti biasa. Tapi nyatanya hal tersebut adalah nyata."
"Semua mimpi buruk pasti akan terlihat nyata, bukan? Aku tiap hari mengalaminya semenjak aku mengenal Luhan. Dia adalah orang yang menuntun ku pada kegelapan. Semua yang hal yang berurusan padanya selalu berakhir mimpi buruk."
"Apa maksud hyung?"
Minseok tertawa pelan.
"Jika kau tahu bagaimana Luhan yang sebenarnya, pasti kau tidak akan mau berteman dengan Luhan."
"Hyung kau semakin membuat ku penasaran."
Sehun berdecak. Kini Sehun telah memposisikan dirinya berdiri di hadapan Minseok. Melihat wajahnya dengan mata yang di buat setajam mungkin. Mencari apa maksud dari perkataan Minseok tadi.
Minseok kembali tertawa. Dia mengulurkan tangannya untuk mengusap rambut Sehun pelan. Ada perasaan sakit yang Minseok rasakan ketika tangannya menyentuh rambut Sehun. Kejadian dimana setelah Sehun dan Suho keluar dari garasi mobil Luhan. Sehun terus menangis dalam perjalan menuju rumah Suho. Tangisannya tak bisa dia hentikan hingga Sehun sampai di rumah Suho. Suho yang hanya diam sejak di perjalanan hanya bisa menangis memeluk Sehun saat dia telah sampai di rumahnya. Dan bayangan Chanyeol yang berada di rumah Suho terlihat. Wajah khawatir Chanyeol dan kedua orang tua Suho begitu menyedihkan.
Minseok memaksakan dirinya untuk tersenyum. Melihat kilasan cerita Sehun dan Suho sukses membuatnya ingin menangis. Minseok menahan dirinya untuk tidak menangis di depan Sehun. Dia tidak ingin terlihat lemah. Dia harus terlihat kuat untuk menyelesaikan kasus yang telah Luhan lakukan.
"Apa hyung menyukai Luhan hyung?"
Minseok menarik tangannya dari rambut Sehun. Dia diam sebentar menatap Sehun karena terkejut dengan pertanyaan yang Sehun berikan. Memiliki perasaan suka pada Luhan? bahkan Minseok tidak ada niatan untuk membuat benih-benih rasa suka pada Luhan.
"Tidak. Bukankah aku telah mengatakan kepada mu bahwa aku menyukai mu, Sehun."
"Tapi sepertinya hyung tahu banyak tentang Luhan hyung."
"Apakah dengan tahu banyak tentang Luhan bisa dikatakan kalau aku menyukainya?"
Sehun diam. Dia hanya tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya. Sebuah senyuman di wajah Sehun membuat Minseok merasa sedikit tenang. Setidaknya Sehun tidak merasa takut lagi.
"Untuk sekarang, setelah pulang sekolah kau langsung pulang. Jangan mampir kemana pun meskipun kau ingin. Jangan keluar rumah pada saat malam hari. Jika ada hal yang kau butuhkan, kau bisa menghubungi ku. Aku bisa membantu mu."
"Terima kasih hyung atas perhatian mu. Aku akan melakukan apa yang kau katakan. Aku minta maaf jika nanti aku akan merepotkan mu."
"Demi keselamatan mu saja, Sehun."
Minseok menepuk pundak Sehun pelan lalu dia berjalan kearah pintu atap sekolah. Minseok berhenti di depan pintu ketika Sehun memanggilnya.
"Minseok hyung…"
"Apa?"
"Apa kau..apa hyung benar-benar menyukai ku?"
Semburat rona merah muncul di kedua pipi Sehun. Salahkan saja kulitnya yang putih sehingga rona merah tersebut terlihat jelas di pipinya sekarang.
"Kau masih memikirkan hal itu?"
Sehun menghampiri Minseok masih dengan wajah yang malu-malu. Wajahnya sedikit dia tundukan agar Minseok tidak melihat dengan jelas rona merah di pipinya.
"Aku hanya bertanya saja hyung."
Minseok mengacak rambut Sehun gemas. Senyum manis terlihat di wajah Minseok.
"Kita kembali ke kelas. Sebentar lagi bel masuk berbunyi."
Ketika Minseok dan Sehun akan berjalan menuruni tangga, mereka berdua melihat sosok Luhan sedang berdiri diam memandang Minseok dan Sehun dengan tatapan kosong. Sehun langsung mendekat pada Minseok dan menarik pelan lengan baju Minseok. Berlindung di balik punggung Minseok.
Tentu saja mata Minseok terkejut melihat Luhan yang tiba-tiba berdiri diam dengan tatapan kosong layaknya patung yang mengerikan. Minseok mencoba untuk tenang. Tangannya mengusap tangan Sehun pelan agar Sehun tidak cemas.
Perlahan Minseok dan Sehun menuruni anak tangga dan semakin dekat dengan Luhan. Sehun menelan salivanya cepat dengan tubuh yang tiba-tiba bergetar. Sehun merasa takut melihat Luhan sekarang. Tubuhnya yang menjulang tinggi masih bersembunyi di balik tubuh Minseok yang kecil.
Luhan menyebut nama Minseok ketika Minseok dan Sehun melewatinya. Minseok menghentikan langkahnya. Dia melirik Luhan lalu berbalik menyuruh Sehun untuk segera kembali ke kelas. Sehun menggeleng cepat tak mau mengikuti apa yang Minseok suruh. Minseok memberikan senyuman pada Sehun dan mengelus pipi Sehun dengan terus membujuk Sehun untuk segera kembali ke kelasnya.
Butuh beberapa menit untuk meyakinkan Sehun agar dia segera kembali ke kelasnya. Akhirnya Sehun mengangguk tak berdaya dan berjalan lesu kembali ke kelasnya. Dia menoleh melihat Minseok untuk meyakinkan bahwa Minseok akan baik-baik saja jika hanya berdua dengan Luhan. Minseok mengangguk pasti saat Sehun melihatnya dengan wajah khawatir.
.
.
-Masa Ini-
Sang wartawan mengambil jus jeruknya. Meneguknya hingga habis dalam tenggorakannya yang mengering. Minseok yang melihat minuman sang wartawan telah habis langsung berjalan menuju dapur. Dia mengambil kaleng bir yang ada di kulkas dan memberikan bir tersebut pada sang wartawan. Wartawan itu tersenyum sembrari mengucapkan terima kasih pada Minseok saat Minseok memberikan bir itu padanya.
"Setelah Anda tahu bahwa Lucas adalah alter ego dari Luhan, apakah Anda masih berkomunikasi dengannya?"
"Aku berharap aku tidak akan lagi bertemu dengan Luhan atau pun alter egonya, Lucas. Tapi nasib buruk terus menghampiri ku. Aku selalu di pertemukan dengan Luhan."
"Sampai sekarang apakah Anda masih berhubungan dengan Luhan?"
"Tentu saja aku dan Luhan masih berhubungan. Bahkan hubungan kami bisa dibilang tak akan bisa terpisahkan."
Minseok menatap wartawan dengan wajah serius dan itu membuat sang wartawan terkejut. Tubuh sang wartawan sebentar terlihat bergetar saat Minseok menatapnya dengan mata yang sedikit menajam. Keringat sebesar biji jagung tiba-tiba keluar dari kening sang wartawan.
Detik selanjutnya Minseok tertawa. Sang wartawan hanya bisa mengedipkan matanya tak mengerti lalu dia ikut tertawa canggung.
"Hei Tuan Wartawan, kau percaya dengan apa yang aku katakan barusan?"
Wartawan itu melihat Minseok yang masih tertawa.
"Jadi Anda hanya bercanda Tuan Kim?"
Minseok telah berhenti tertawa karena perutnya kesakitan terus menertawai orang yang ada di depannya. Minseok berdeham pelan dan kembali menyamankan posisi duduknya.
"Maaf aku seharusnya tidak melakukan hal itu pada mu. Tapi Tuan, sungguh...kau terlihat begitu serius sejak pertama aku menceritakan tentang Luhan kepada mu. Aku hanya ingin merilexkan suasana saja."
"Tuan Kim, joke mu membuat ku sedikit takut."
"Maaf."
Wartawan itu kini bisa bernafas lega. Dia tertawa pelan mendapati dirinya mendapatkan sebuah cadaan yang terlihat serius dimatanya. Dia mengambil sapu tangan dari saku celananya dan mengelap keringat di keningnya.
"Lalu setelah Luhan menculik Suho, apakah setelah itu ada korban yang lain?"
"Tentu. Perilaku Luhan atau bisa aku panggil Lucas, tidak sampai berhenti hanya dengan menculik Suho. Korban Luhan selanjutnya bahkan terbunuh dengan wajah yang terlihat bahagia."
.
.
-Masa Lalu-
Luhan berjalan menaiki tangga menuju atap sekolah. Minseok langsung mengukuti langkah Luhan dari belakang.
"Kau terlihat baik-baik saja Luhan."
"Aku akan berusaha terlihat baik jika itu bisa membuat mu senang melihat keadaan ku."
Minseok tersenyum remeh.
Mata Minseok tertuju pada pergelangan tangan Luhan yang di perban. Minseok terkejut tapi dia berusaha menyembunyikan ekspresi wajahnya itu.
"Apa kau berusaha untuk memotong urat nadi mu?"
"Iya."
Minseok masih menahan dirinya untuk tidak kembali terkejut. Dia memasukan kedua tangannya di saku celana.
"Kau ingin mengakhiri hidup mu dan meninggalkan pertanggungjawaban mu atas apa yang kau lakukan pada Kris dan Suho?"
"Bukan itu yang aku pikirkan Minseok. Aku akan dengan senang hati mempertanggungjawabkan atas perbuatan ku jika memang itu bisa membuat keadaan menjadi lebih baik. Ada alasan lain mengapa aku memotong urat nadi ku."
Minseok mengepalkan kedua tangannya yang dia sembunyikan di saku celananya. Mengapa setiap kali dia berhadapan dengan Luhan perasaannya selalu tak karuan? Minseok ingin mencari tahu soal jawaban itu.
"Aku tidak akan bertanya apa alasan lain itu. Aku –"
"Aku akan memberikan jawabannya kepada mu."
Luhan menatap Minseok dalam. Matanya yang indah memandang Minseok sedih. Luhan mengangkat tangannya dan menarik tubuh Minseok pelan. Minseok terkejut ketika Luhan menariknya untuk mendekat padanya.
Luhan memeluk pinggang Minseok. Tangannya mengelus pipi Minseok pelan. Mata Minseok masih di buat terkejut dengan apa yang Luhan lakukan padanya. Matanya tak bisa berhenti untuk tidak memandang Luhan terus menerus.
Ibu jari Luhan menyentuh bibir Minseok yang sedikit terbuka. Setelahnya Luhan mencium bibir Minseok. Memberikan lumatan lembut pada bibirnya. Cerita menyedihkan Luhan mulai terlihat di mata Minseok sekarang. Minseok bisa melihat bagaimana keadaan Luhan yang begitu frustasi dengan apa yang telah dia lakukan selama ini.
Di balik ciuman mereka berdua, Minseok mengeluarkan air matanya. Melihat Luhan yang begitu putus asa dan memotong pergelangan tangannya membuat pertahanan hati Minseok runtuh. Melihat Luhan yang sendirian menangis dalam kegelapan sambil memanggil namanya.
Luhan melepaskan pagutan bibir mereka dan memeluk Minseok. Sekarang Minseok menangis dalam pelukan Luhan. Luhan semakin mengertakan pelukannya. Dirinya merasa sedikit lebih tenang memeluk Minseok seperti yang dia lakukan sekarang.
Luhan segera melepaskan pelukannya. Dia mengangkat wajah Minseok dan menghapus air matanya.
"Alasan lain mengapa aku memotong urat nadi ku adalah karena aku terlalu lemah dibandingkan dengan kepribadian ku yang lain. Aku ingin melakukannya karena aku tidak ingin melihatnya menyakiti mu lagi, Minseok. Tapi aku terus berusaha untuk menekan semua pemikiran negatif itu karena aku yakin aku bisa membuat mu melihat diri ku tanpa ada rasa benci di mata mu."
Minseok masih terus menangis. Mendengar apa yang Luhan katakan membuat hatinya sakit. Kejadian dimana Minseok meninggalkan Luhan di garasi mobil kemarin kembali masuk dalam ingatannya. Luhan yang menangis dan menjerit tak karuan melawan sang alter ego sendirian.
"Aku akan mengantar mu ke psikiter jika itu bisa membuat mu merasa lebih baik, Luhan."
Luhan menggeleng. "Tidak perlu. Aku bisa menanganinya sendiri."
"Kau yakin?"
Luhan mengangguk meyakinkan Minseok.
"Jadi siapa yang menjadai kepribadian mu yang satunya?"
"Namanya Lucas. Kau sudah sering bertemu dengannya dibandingkan diri ku."
Masih ada segala macam pertanyaan yang ingin Minseok tanyakan pada Luhan tapi Minseok menahan dirinya untuk tidak melakukannya. Minseok menyadari satu hal setelah apa yang barusan Luhan lakukan padanya. Kepribadian yang dimiliki Luhan begitu hangat dan membuat Minseok merasa nyaman bersamanya.
Minseok kembali memeluk Luhan. Merasakan kehangatan dan kenyamanan yang selama ini tidak pernah dia rasakan. Minseok tersenyum bahagia di balik pelukannya.
.
.
Pukul 2 dini hari. Bunyi sirine mobil polisi serta ambulance terus terdengar di sepanjang jalan menuju sekolah Minseok. Seorang wanita berumur 40-an tiba-tiba berteriak histeris melihat sebuah mayat terikat di tiang rambu jalan. Wanita itu langsung menghubungi polisi.
Setelah polisi sampai di tempat, wanita itu kini berdiri di antara 2 polisi yang meminta keterangan terkait mayat tersebut. Wajahnya masih terkejut dan tubuhnya yang kurus bergetar.
"Terima kasih Nyonya atas laporan mu. Kami akan menghubungi mu jika ada pertanyaan lebih lanjut."
"Salah satu petugas kami akan mengantar Anda pulang ke rumah."
Polisi yang memeriksa tempat kejadian pembunuhan itu menggeleng tak percaya. Wajahnya terlihat frustasi. Dia berbalik tak sanggup melihat apa yang ada di depan matanya sekarang.
.
.
.
Terima kasih untuk semua review kalian ^^ dan maafkan jika (selama masa) penulisan ff ini terlalu banyak typo dimana-mana T^T
Kenapa wartawan kepo bgt sama Luhan? –nanti bakalan di jawab di chapter selanjutnya-
Jenjang waktu berapa lama antara masa ini dan masa lalu? –masa lalu dimana member EXO masih umur 16-17an. Member EXO di cerita ini aku gambarin dengan umur yang sama semua, 90line *LMAO* dan masa ini Minseok umurnya real ya (27/28)-
Kenapa Minseok? –karena jika fokusnya ke Sehun nanti malah ceritanya jadi H**H** dong *ROFL* ada hal lain mengapa Luhan milih Minseok buat jadi orang yang selalu di ganggu ^^
Btw aku masih (menjadi) seorang amatiran dalam hal menulis ff *grin*
Luhan dan Lucas adalah orang yang sama dan mereka berdua menyukai orang yang sama juga. Jadi gag bakalan ribet klo mereka mau melakukan hubungan yang lebih mendalam lagi kan sama Minseok *ROFL*
Sehun uke di cerita ini? -Aku bukan membuat Sehun uke karena sikapnya malu-malu gitu, karena emang dia paling muda dan kesan dewasanya masih belum muncul /di cerita ini/ *LOL* makanya keliatan kyk uke /gag/-
Tentang Minseok yang masuk ke kamar terkunci itu. Chapter selanjutnya bakalan di bahas(?) dan (mungkin) bakalan langsung makan korban banyak *LOL*
Apakah cerita ini membuat kalian para pembaca berpikir keras? –terima kasih salah satu atau dari beberapa pembaca suka sama cerita ini dan ngebuat kalian (sampe) mikir keras ya *LMAO* Aku love kamu lohh *kiss* *LOL* dan tbh ya, aku samsek gag ada niatan buat bikin pembaca terkecoh sama ceritanya sih (itu bikin php) tapi yahhh kembali sama pembaca aja klo mikirnya gitu ya its okay (its love) *bow* dan terima kasih (lagi) buat kritikan dari salah satu pembaca ^^ saya suka~-
LuMin bakalan bersatu gag sih nantinya? –di tunggu aja sampe tamat apakah hubungan LuMin menjadi bersemi *LOL*-
Dan sebagai penutupan dari note yang (lumayan) panjang ini, aku ingin mengucapkan minta maaf (sudah menjadi kebiasaan sih ya klo udah menuju bulan Ramadhan selalu maaf2an *ROFL*) jika ada beberapa note yang menyinggung kalian para pembaca ff ku ^^ review aja atau lebih enaknya PM "jika ada" unek2 yg gag enak di hati kalian buat aku huhu T^T
