Bel pulang sekolah berbunyi. Minseok langsung menghampiri Chanyeol di kursinya. Minseok terlalu khawatir dengan keadaan Chanyeol sekarang. Semenjak Chanyeol mendapatkan pesan bergambar dari Luhan dan melihat keadaan Suho yang trauma, membuat hari-hari Chanyeol menjadi suram. Tak ada lagi senyum di wajahnya.

Wajah Chanyeol yang setiap hari selalu di suguhkan dengan senyum lebarnya dengan wajah yang ceria, kini tak ada lagi selama kejadian yang menimpa Suho kemarin. Kasus pembunuhan ini membuat siapa saja menjadi khawatir setiap harinya.

"Chanyeol, apakah setelah ini kau akan ke rumah Suho?"

Chanyeol hanya mengangguk.

"Baiklah aku akan ikut dengan mu."

Chanyeol diam. Dia langsung berjalan keluar kelas masih dengan wajah suramnya. Minseok menghela nafas panjang. Berpikir sebentar tentang bagaimana membuat Chanyeol kembali riang.

"Minseok hyung."

Suara yang memanggil namanya membuat Minseok tersadar dari pemikirannya sekarang. Senyumnya melebar ketika matanya menangkap Sehun ada di depan kelasnya.

"Aku kira kau sudah pulang."

"Aku ingin pulang bersama mu hyung."

"Baiklah. Ayo kita pulang."

Keluar dari gerbang sekolah, ponsel Minseok berbunyi. Matanya terkejut saat melihat nama Luhan berada di layar ponselnya. Minseok menyuruh Sehun untuk menunggunya sebentar ketika dia mengangkat panggilan dari Luhan.

"Hei Luhan. Ada apa?"

"Kau ada dimana Minseok?"

"Dalam perjalan pulang."

"Nanti malam apakah kau mau makan malam dengan ku? Di rumah ku?"

Minseok menoleh melihat Sehun. Mengawasinya jika tiba-tiba ada hal yang terjadi pada Sehun.

"Baiklah dengan senang hati aku akan menerima undangan makan malam mu. Jam 7 aku akan ke sana."

"Terima kasih. Aku akan menunggu mu."

Minseok mematikan panggilan Luhan. Segera dia menghampiri Sehun dan melanjutkan perjalanan mereka.

"Siapa yang menelfonmu hyung?"

Minseok langsung menoleh melihat Sehun. Berpikir sebentar untuk mencari nama yang sekiranya Sehun kenal di sekolah.

"Lay."

"Lay hyung? Bukankah dia ada di China sekarang?"

Minseok mengangguk.

"Dia hanya merindukan ku saja." kemudian Minseok tertawa canggung.

Sehun tiba-tiba tersenyum. Dia dengan malu meraih tangan Minseok. Menggenggamnya dengan perasaan berdebar. Tubuh Minseok bergetar saat Sehun menggenggam tangannya. Minseok menoleh melihat Sehun yang kini wajahnya telah di penuhi semburat rona merah di waajahnya. Minseok tertawa pelan melihat Sehun yang tersipu malu.

.

.

Pukul 6.45 malam, Minseok bersiap menuju rumah Luhan. Dalam perjalanannya, dia mengirim pesan pada Chanyeol. Menanyakan bagaimana kabarnya sekarang dan keadaan Suho. Dia juga meminta maaf pada Chanyeol karena tidak bisa ke rumah Suho sekarang untuk melihat keadaan Suho yang menjadi semakin buruk, kata Chanyeol saat mereka saling mengirim pesan.

Minseok mengambil sebuah kunci dari saku celananya. Dia menatap kunci tersebut penuh ketakutan sekaligus rasa penasaran. Dia menggenggam kunci itu kuat dan meyakinkan dirinya bahwa dia pasti bisa melakukannya.

Tepat pukul 7 Minseok telah berada di rumah Luhan. Luhan terlihat bahagia dengan kedatangan Minseok yang tepat waktu. Dia mempersilahkan Minseok masuk sambil tersenyum manis. Dengan senang hati Minseok terus menyunggingkan senyumnya pada Luhan.

"Well..apa yang akan menjadi menu makan malam kita sekarang?"

Minseok duduk di meja makan sambil menunggu Luhan menghidangkan makan malam mereka. Luhan hanya tertawa pelan sembari dia terus menyiapkan sajian makan malam di meja makan.

Minseok mengedarkan matanya melihat semua sudut ruang makan sekaligus ruang tv rumah Luhan. Minseok menyentuh saku celananya yang terdapat kunci ruang rahasia milik Luhan. Sebentar wajah Minseok menjadi tegang ketika dia membayangkan apa isi ruangan tersebut.

"Minseok."

"…"

"Kim Minseok."

Minseok tersadar dari lamunannya. Dia tersenyum canggung ketika Luhan melihatnya.

"Ada apa?"

Minseok menggeleng. "Tidak. Hanya memikirkan keadaan Chanyeol dan Suho."

Luhan tersenyum. "Mereka akan baik-baik saja Minseok."

Minseok mengangguk dengan senyum canggung yang masih tercetak di wajahnya.

Kini Luhan dan Minseok memulai makan malam mereka. Mereka berdua menikmati makan malam sambil bercerita tentang masa kecil Minseok. Malam ini, hanya Minseok yang terus berceloteh banyak menceritakan kisah hidupnya semasa kecil hingga bagaimana dia mengenal teman-temannya, terutama teman dekatnya.

Perasaan Minseok terlihat tenang ketika Luhan dan dirinya tengah makan malam tanpa ada rasa takut yang menghampirinya. Luhan membuat dirinya begitu nyaman sekarang hingga dia melupakan bagaimana sikap kepribadian Luhan yang satunya.

Setelah selesai makan malam, mereka berdua melanjutkan dengan bersantai minum kopi sambil menonton tv. Kembali bercerita tentang kisah Minseok dan juga teman-temannya.

"Hei Luhan, apakah persediaan minuman ringan mu masih ada?"

"Sepertinya sudah habis. Kenapa?"

"Aku ingin minuman itu."

"Baiklah, aku akan pergi ke supermarket sekarang."

"Tidak perlu. Aku akan membelinya sendiri."

Ketika Minseok akan berdiri, Luhan menahan tubuhnya.

"Kau tunggu saja di rumah. Aku yang akan pergi."

"Baiklah aku akan menunggu mu."

Luhan tersenyum dan berjalan keluar rumah. Minseok mengintip dari sela-sela gorden jendela, memastikan apakah Luhan benar-benar telah pergi menjauh dari rumahnya. Dirasa Luhan telah pergi jauh, Minseok segera menuju ruangan yang terkunci. Dengan perasaan was-was dan tubuhnya terlihat bergetar saat Minseok memasukan kunci itu ke dalam lubang pintu.

Jantungnya berdebar cepat saat kunci tersebut telah membuka pintu yang terkunci. Masih dengan perasaan was-wasnya, Minseok membuka pintu tersebut. Hawa dingin langsung menyapa tubuh Minseok. Tubuhnya bergetar merasakan hawa dingin menyentuh kulitnya.

Minseok memberanikan dirinya masuk ke dalam ruangan itu. Gelap dan terasa sedikit lembab. Minseok mencari saklar untuk menyalakan lampu ruangan tersebut. Minseok meraba tembok dan langsung menyalakan saklar lampu saat dia telah menemukannya.

Perasaan lega Minseok rasakan setelah lampu menyala. Dia menyusuri setiap sudut ruangan itu. Tidak ada yang aneh di matanya. Ruangan ini sama seperti kamar Luhan. Tidak ada yang spesial dan tidak ada hal yang mengerikan tertangkap oleh matanya.

Minseok menertawai dirinya sendiri. Jadi selama ini dia penasaran dengan ruangan yang terkunci dan setelah mengetahuinya ternyata hasilnya tidak sama seperti apa yang dia bayangankan. Minseok mendudukan dirinya di pinggiran ranjang dan masih tertawa geli dengan kebodohannya.

Tiba-tiba pandangannya menatap lurus ke depan saat matanya melihat benda yang berkilau di balik foto lama yang berdiri di samping tv. Dia melangkah menuju benda tersebut. Keningnya berkerut saat melihat ada sebuah kalung dengan batu permata berukuran sedang. Matanya melirik ke foto lama dan mengambil foto itu. Potret seorang wanita yang sedang berdiri dengan senyum yang menawan terlihat begitu cantik. Kemudian mata Minseok langsung tertuju pada kalung yang wanita itu gunakan. Minseok mengambil kalung itu dan menyamakannya dengan foto wanita itu.

"Siapa wanita ini?"

"Ibu ku."

Minseok langsung berbalik dan terkejut melihat Luhan yang tiba-tiba telah berdiri di depan pintu. Wajah Minseok menegang. Dia langsung mengembalikan foto dan kalung itu ke tempatnya. Perasaan takut mulai Minseok rasakan. Pemikiran sempit langsung berada di otak Minseok. Luhan memergokinya telah masuk ke dalam ruangan yang terkunci. Ruangan yang menjadi privasinya. Apa yang akan terjadi padanya nanti? Apakah Luhan akan mencelakainya lagi seperti kemarin atau bahkan lebih parahnya dia akan membunuh Minseok langsung. Pemikirannya itu membuat Minseok takut.

"Maaf Luhan. Aku..aku tidak bermaksud untuk mencuri atau –"

"Tidak apa-apa."

Luhan berjalan masuk dan menghampiri Minseok. Tangannya mengambil foto ibunya. Dia tersenyum melihat foto itu dan mengembalikan ke tempatnya. Matanya melihat Minseok sekarang.

"Apa yang ingin kau ketahui Minseok?"

Minseok diam. Dia tidak berani mengeluarkan suara apapun. Dia berusaha untuk membuat dirinya terlihat baik-baik saja. Minseok hanya melempar senyum terpaksa.

"Kau sudah kemari dan baiklah aku akan membuat mu melihatnya."

"Apa maksud mu?"

Luhan menarik rak yang ada di bawah tv. Dia mengambil sebuah pisau dan memberikannya pada Minseok. Mata Minseok dibuat terkejut dengan apa yang Luhan berikan. Apa maksudnya dia memberikan pisau kepada ku? Tanya Minseok pada dirinya sendirinya. Wajah tegang dan takut terlihat jelas di wajah Minseok sejak Luhan memergokinya masuk ke dalam ruangan privasinya.

"Aku tidak akan menyakiti mu Minseok. Peganglah."

Minseok masih ragu. Dia masih diam tak ingin memegang pisau tersebut. Kepalanya menggeleng pelan menolak apa yang Luhan suruh.

"Kau ingin tahu apa yang terjadi pada ibu ku?"

Kerutan di kening Minseok muncul.

Luhan meraih tangan Minseok dan menyerahkan pisau itu padanya. Mata minseok membulat dan tubuhnya bergetar. Matanya secara bergantian melihat kearah Luhan dan pisau yang sekarang dia pegang.

Sebuah bayangan masa lalu terlihat di mata Minseok. Masa lalu dimana pertama kali Luhan menjadi seorang pembunuh.

Minseok melihat bayangan seorang anak laki-laki berumur sekitar 12 tahun yang Minseok yakini adalah Luhan yang sedang berjalan cepat menaiki tangga sambil membawa pisau di tangannya. Wajahnya begitu dingin dengan tatapan yang menusuk terlihat mengerikan di mata Minseok.

Luhan masuk ke dalam kamar seseorang. Terlihat seorang wanita cantik berumur sekitar 20-an sedang menyisir rambutnya. Wanita itu menoleh melihat Luhan dengan senyum yang menawan. Dia memanggil Luhan untuk mendekat kepadanya tapi Luhan mengabaikannya. Dia hanya menatap tak suka pada wanita itu.

Selanjutnya dengan beringas Luhan langsung menusuk perut wanita itu berulang-ulang. Wanita itu menahan tangan Luhan untuk menghentikan aksi Luhan menusuk perutnya. Luhan menghentikan tusukannya. Dia menatap wanita itu dengan tatapan tak suka tapi ada sedikit perasaan tak percaya terlintas di matanya.

"Mengapa kau lakukan ini kepada ku, Luhan sayang?"

Wanita itu berdiri dan sebentar dia langsung terjatuh. Wanita itu merangkak mendekati ranjangnya dan dengan nafas yang putus-putus dia meraih telfon rumah. Mata Luhan menajam melihat wanita itu akan menelfon seseorang. Luhan langsung menyayat dalam tangan wanita itu.

Jeritan kesakitan wanita itu terdengar keras. Masih dengan sisa nafas yang sangat minim baginya untuk hidup. Dia berusaha berdiri tapi lagi-lagi tubuhnya tersungkur jatuh. Dia mencobanya kembali dan akhirnya tubuhnya dia jatuhkan di atas ranjang. Deru nafasnya terdengar begitu cepat. Dia melihat Luhan dengan matanya yang menangis.

"Maafkan aku."

Luhan berjalan naik ke atas ranjang. Dia menatap wajah wanita itu tanpa ada belas kasih. Wajah yang kelewat dingin tanpa ekspresi dia tunjukan sambil mengayunkan pisau itu dan kembali menusukkan ke tubuh wanita itu berkali-kali.

Luhan menghentikan tusukannya ketika dirasa korbannya telah mati. Dia langsung turun dari ranjang. Melepaskan pisau dari tangannya dan duduk di sudut kamar. Matanya menatap tajam darah yang berceceran di lantai kamar.

Beberapa menit kemudian dia meraih pisau itu kembali dan berjalan meninggalkan kamar wanita itu tanpa rasa bersalah yang Luhan rasakan.

.

.

Minseok langsung melepaskan pisau dari genggaman tangannya. Air matanya tiba-tiba keluar. Tubuhnya bergetar tak kuat melihat apa yang barusan dia lihat. Apa yang sudah Luhan lakukan pada ibunya benar-benar membuat Minseok takut.

Minseok berjalan pelan menuju pinggiran ranjang. Matanya menatap lantai kamar masih dengan air mata yang terus keluar. Luhan langsung menghampirinya dan duduk di sampingnya.

"Jangan menyentuh ku Luhan. Aku..baik-baik saja."

Minseok menghapus air matanya. Kepalanya dia naikan keatas agar air matanya berhenti. Lalu dia menoleh melihat Luhan.

"Jadi gadis yang pernah aku lihat saat pertama kali kau menyentuh ku adalah seorang wanita yang nyatanya adalah ibu mu sendiri."

Minseok tersenyum miris. Bagaimana seorang lelaki muda tega membunuh ibunya sendiri dengan begitu kejinya? Minseok tak habis pikir dengan apa yang telah Luhan perbuat pada ibunya di masa lalu

"Apa alasan mu membunuhnya?"

.

Luhan tersenyum seadanya. Dia menghela nafas panjang. Bayangan darah yang berceceran tiba-tiba muncul dalam pikiran Luhan ketika dia menatap lantai kamarnya. Luhan menutup matanya sebentar dan langsung menoleh melihat Minseok.

"Saat aku mulai membunuh ibu ku, saat itulah Lucas muncul. Aku yang masih muda saat itu belum tahu apa-apa. Beberapa minggu setelahnya, aku mulai menyadari bahwa aku memiliki kepribadian yang lain. Kepribadian yang begitu berbahaya."

Minseok diam mendengarkan cerita Luhan. Dia masih belum bisa percaya dengan apa yang Luhan lakukan selama ini.

"Sejak kecil aku tinggal bersama dua orang tua dan satu kakak perempuan. Selama aku tinggal bersama dengan mereka, dua orang tua ini sebagai orang tua yang mengasuh ku yang sebenarnya mereka adalah kakek dan nenek ku. Lalu aku menganggap bahwa kakak perempuan yang selalu menyayangiku dan merawat ku dengan baik sebenarnya adalah ibu yang melahirkan ku. Aku mendengar kenyataan pahit itu ketika ibu ku sedang berdebat hebat dengan kakek dan nenek ku."

Minseok langsung menoleh melihat Luhan. Terkejut dengan apa yang Luhan ceritakan kepadanya.

"Aku terkejut. Aku merasa marah. Emosi ku tak karuan. Aku menangis kencang sambil membanting barang yang ada di dalam kamar ku. Lalu saat itulah Lucas muncul dan membunuh ibu ku."

Minseok masih terkejut dengan cerita Luhan. Dia masih diam mendengar ceritanya.

"Untung saja polisi yang menangani kasus pembunuhan ibu ku sama sekali tidak mencurigai ku bahwa aku yang melakukannya. Polisi terus mengira-ngira siapa pelakunya hingga kasus ibu ku tak menemukan jawaban yang pasti. Setelah kejadian itu aku terus mengurung diri ku di kamar. Beberapa minggu berikutnya, nenek ku membawa salah satu temannya ke rumah. Dia seorang psikolog serta guru spiritual nenek ku. Ketika dia bertemu dengan ku, dia langsung menyadari bahwa aku memiliki kekuatan telekinesis. Kekuatan itu muncul bersamaan dengan kemunculan Lucas."

Luhan tersenyum manis melihat Minseok yang masih setia mendengar ceritanya. Minseok langsung mengalihkan pandangannya ke depan. Dia berdeham pelan.

"Aku menceritakan apa yang terjadi pada diri ku pada teman nenek ku. Tapi aku tidak mengatakan bahwa sisi lain dari diri ku yang telah membunuh ibu ku. Teman nenek ku kemudian memberikan kesimpulannya ketika aku selesai menceritakan tentang kepribadian ku. Dia bilang aku mengalami mental breakdown akibat aku mengetahui kenyataan bahwa kakak perempuan ku adalah ibu ku sendiri."

"Lalu kemana teman nenek mu itu sekarang? kau seharusnya terus berkonsultasi kepadanya kan?"

Luhan tertawa.

"Selama 2 minggu aku terus berkonsultasi pada teman nenek ku itu. Nenek dan Kakek ku juga telah mengetahui apa yang terjadi kepada ku setelah dia menceritakan kepada mereka. Tapi hari itu, ketika dia datang ke rumah, tiba-tiba saja Lucas mendesak untuk keluar. Dia tidak ingin teman nenek ku menghilangkannya dari diri ku."

"Lalu apa yang terjadi?"

"Tentu saja Lucas membunuhnya. Itulah alasan mengapa aku tidak ingin pergi ke psikiter manapun, Minseok. Dan kau tahu aku membunuhnya tepat di hadapan nenek dan juga kakek ku."

Minseok terkejut. Melakukan pembunuhan lagi dan di depan nenek kakeknya? Lucas benar-benar maniak pembunuh. Itulah yang Minseok pikirkan sekarang.

"Bagaimana dengan keadaan nenek dan kakek mu saat mereka melihat kau membunuhnya?"

"Tentu saja mereka menghubungi polisi tapi lagi-lagi Lucas membunuhnya. Kemudian dia menghubungi polisi dan mengatakan bahwa ada 3 orang yang terbunuh di rumahnya."

"Kau mengatakan yang sebenarnya?"

Luhan kembali tertawa.

"Tentu tidak Minseok. Sebelum aku memanggil polisi, aku sudah mengganti baju ku dan membakar baju ku yang terkena darah. Aku menyembunyikan pisau yang aku gunakan untuk membunuh mereka di tempat yang aman."

"Kau gila! Bagaimana seorang anak kecil berumur 12 tahun bisa memiliki pemikiran seperti itu?"

"Aku juga tidak tahu, Minseok. Semua yang telah Lucas lakukan selalu bertolak belakang dengan pemikiran ku. Aku melawan Lucas ketika dia mulai menyembunyikan barang buktinya tapi Lucas terlalu kuat jadi aku tidak bisa melawannya."

Minseok menarik nafas panjang. Dia begitu terkejut dengan apa yang Luhan ceritakan tentang masa lalunya. Ada perasaan simpati yang Minseok rasakan pada Luhan sekarang.

"Lalu apa yang menjadi alasan Lucas membunuh Kris?

Luhan menggeleng pelan. Sorot matanya seperti menunjukan tidak ada jawaban tentang alasannya itu.

"Aku juga tidak tahu Minseok. Aku merasa bahwa Lucas tidak memiliki alasan apapun untuk melakukan hal itu. Dia membunuh sesuka hatinya."

Minseok terkejut. Dia memaksakan dirinya untuk tertawa.

"Tanpa memiliki alasan? Lalu yang Lucas lakukan terhadap Kris juga tanpa alasan? Bagaimana dengan Suho? ahh…jangan lupakan dengan Chanyeol. Kau tahu keadaan Chanyeol terlihat buruk sekarang."

Minseok berdiri. Perasaan kesal kini telah menyelimuti dirinya. Minseok mengepalkan kedua tangannya. Menahan emosi yang telah muncul.

"Luhan, aku yakin pasti Lucas mempunyai alasan tertentu mengapa dia membunuh seseorang."

Sebentar Luhan diam. Matanya menatap Minseok dingin lalu kembali menjadi tenang. Dia berjalan menghampiri Minseok. Berdiri di hadapannya kemudian tersenyum manis melihat Minseok yang kini sedang emosi.

"Minseok sayang, ada persamaan antara aku dan juga Luhan. Kami sama-sama menyukai mu. Jadi kau tahu apa yang menjadi alasan ku membunuh teman-teman mu, bukan?"

Kening Minseok mengerut. Minseok tak mengerti dengan apa yang barusan Luhan katakan.

"Apa maksud mu, Luhan?"

Senyum Luhan semakin mengembang lebar tapi terlihat mengerikan.

"Jangan sampai aku melakukan hal yang sama seperti apa yang aku lakukan terhadap keluarga ku kepada mu saat aku tahu bahwa kau hanya berbohong bersimpati kepada ku untuk menghilangkan ku dari dunia ini."

Senyum Luhan tiba-tiba menghilang yang terganti dengan seringai licik di wajahnya. Minseok semakin tak mengerti dengan perkataan Luhan. Aneh dan perkataan Luahn membuat Minseok terus berpikir. Kini Luhan mengganti posisinya berada di belakang Minseok. Dia mendekat pada Minseok dan berbisik pelan.

"Aku akan memberikan sebuah gambaran kepada mu siapa yang akan menjadi boneka ku kali ini. Jadi, kau tidak akan terkejut nantinya melihat siapa teman mu yang mati nanti."

Luhan menempelkan tangannya di bahu Minseok. Mata Minseok terkejut dengan apa yang dia lihat. Bayangan kedua temannya terlintas di matanya.

"Luhan apa yang kau –"

Luhan langsung membekap mulut Minseok kuat. Minseok meronta sekuat yang dia bisa untuk melepaskan tangan Luhan dari mulutnya.

"Maafkan aku. Aku harus melakukan hal ini kepada mu sayang."

Luhan langsung memukul tengkuk Minseok kuat hingga membuatnya tak sadarkan diri. Luhan langsung membawa tubuh Minseok ke ranjang dan menyelimutinya.

Sebelum Luhan pergi, dia mengambil pisau yang tergeletak di lantai dan langsung pergi dengan menyunggingkan seringaian yang mengerikan.

.

.

Bunyi sirine polisi dan juga ambulance terdengar begitu keras dan membuat Minseok terbangun dari kesadarannya. Dia memegang lehernya yang terasa nyeri. Minseok terkejut. Mengapa dia bisa tertidur di kamar ini? Minseok kembali mengingat kejadian saat dia dan Luhan berada di kamar yang Minseok tempati sekarang.

Minseok mengumpat marah dengan apa yang telah Luhan lakukan padanya. Minseok mengambil ponselnya dan melihat ada beberapa pesan masuk serta panggilan yang tak terjawab begitu banyak dari Sehun.

Minseok membuka pesan di ponselnya satu per satu. Keningnya mengerut membaca pesan dari Sehun dan Chanyeol.

Chanyeol : Minseok hyung, tolong aku!

Sehun : Aku takut hyung! Aku membutuhkan mu sekarang!

Minseok segera menelfon kembali Sehun dan Chanyeol bergantian. Dia kembali mengumpat saat kedua temannya tidak mengangkat panggilannya. Minseok melirik jam kecil yang ada di laci samping ranjang. Pukul 2 pagi.

Minseok langsung keluar dari kamar. Pandangannya menyusuri rumah Luhan yang gelap. Minseok yakin Luhan kini telah melakukan aksi membunuhnya terhadap kedua temannya. Chanyeol dan Sehun.

Minseok berharap dia belum telat untuk segera menolong kedua temannya. Dalam perjalan menuju rumah Chanyeol, Minseok terus mengumpat dan menyumpahi Luhan agar dia segera di tangkap.

Sampainya di depan rumah Chanyeol, terlihat lampu rumahnya menyala. Matanya menangkap ibu Chanyeol keluar dari rumah begitu tergesa-gesa dengan raut wajah yang menangis. Ibu Chanyeol langsung mengendarai mobilnya dengan cepat.

"Ada apa?" tanya Minseok pada dirinya sendiri.

Mobil polisi terlihat melewati depan rumah Chanyeol. Minseok langsung berbalik dan berjalan ke arah mobil polisi itu lewati. Perasaan tak enak kini Minseok rasakan. Ada yang tak beres sekarang.

.

.

Pukul 2 dini hari. Bunyi sirine mobil polisi serta ambulance terus terdengar di sepanjang jalan menuju sekolah Minseok. Seorang wanita berumur 40-an tiba-tiba berteriak histeris melihat sebuah mayat terikat di tiang rambu jalan. Wanita itu langsung menghubungi polisi.

Setelah polisi sampai di tempat, wanita itu kini berdiri di antara 2 polisi yang meminta keterangan terkait mayat tersebut. Wajahnya masih terkejut dan tubuhnya yang kurus bergetar.

"Terima kasih Nyonya atas laporan mu. Kami akan menghubungi mu jika ada pertanyaan lebih lanjut."

"Salah satu petugas kami akan mengantar Anda pulang ke rumah."

Polisi yang memeriksa tempat kejadian pembunuhan itu menggeleng tak percaya. Wajahnya terlihat frustasi. Dia berbalik tak sanggup melihat apa yang ada di depan matanya sekarang.

"Apa kau sudah menghubungi Tuan Park?"

"Aku sudah menghubunginya. Besok Tuan Park baru bisa datang. Sekarang hanya ada Nyonya Park yang akan kita beritahu."

Polisi itu bangun. Dia segera berjalan menjauhi mayat yang terlihat mengerikan di matanya. Polisi itu langsung masuk ke dalam mobil. Wajahnya masih terihat pucat.

"Kita langsung ke kantor. Menjelaskan pada Nyonya Park apa yang terjadi pada anaknya."

Minseok yang baru saja datang di tempat kejadian, dengan wajah yang penasaran dia langsung menghampiri tempat tersebut. Polisi yang masih bertugas di tempat mencegah Minseok agar tidak mendekat di TKP.

"Ada apa, Pak Polisi?"

"Seorang wanita menemukan mayat di tiang rambu jalan."

Kening Minseok mengerut. Jantungnya berdebar cepat. Minseok berdoa dalam hati agar mayat tersebut bukan salah satu temannya.

"Siapa mayat itu?"

Polisi itu benarik nafas pelan.

"Hei anak muda, mengapa kau ada disini disaat semua orang sedang tidur? Pulanglah ke rumah."

"Bagaimana keadaan mayat itu? Apakah ini kasus pembunuhan yang sama seperti anak Tuan Wu?"

Polisi itu berdecak kesal. Dia menarik paksa Minseok untuk menyingkir dari TKP. Minseok menghela nafas berat. Berharap semoga pagi harinya tidak ada berita tentang kematian teman-temannya lagi.

.

.

Park Chanyeol.

Nama itu terus berada di pikiran Minseok sekarang. Pagi hari yang cerah baginya kini telah rusak dengan sebuah berita kematian dari teman sekelasnya. Minseok terus menerus menyalahkan dirinya atas kematian Chanyeol. Minseok sama sekali tidak bisa menyelamatkan nyawa Chanyeol disaat dia meminta pertolongannya.

Minseok melihat bangku Chanyeol yang kosong dengan mata sedih. Air matanya keluar ketika dia telah mendengar berita kematian Chanyeol di berita pagi ini.

Setelah kematian Kris…

Suho yang telah dia sekap membuat dirinya menjadi trauma.

Dan sekarang adalah Chanyeol…

Apa alasan di balik pembunuhan yang kejam ini?

Minseok terus memikirkan alasan Luhan membunuh kedua temannya itu. Melakukan hal yang mengerikan pada Suho.

Minseok tiba-tiba menjerit keras sehingga teman satu kelasnya langsung menatapnya terkejut. Wajah Minseok yang menangis sekaligus begitu kesal membuat teman sekelasnya merasa kasihan. Minseok merasa kecewa tidak bisa menyelamatkan Chanyeol. Perasaannya kacau. Emosinya terus naik.

Sehun?

Nama Sehun langsung terlintas di pikirannya. Dia ingat dengan pesan Sehun yang merasa takut dan membutuhkannya segera. Minseok langsung keluar dari kelas menuju kelas Sehun dengan cepat.

Sampainya di kelas Sehun, Minseok mencari keberadaannya. Sosok tinggi Sehun tidak tertangkap oleh matanya. Minseok merasa tak tenang. Dia tidak menemukan Sehun sekarang.

"Minseok hyung."

Minseok langsung menoleh. Sehun kini tengah berdiri menatap Minseok dengan wajah takut. Minseok segera berlari dan menarik Sehun untuk menjauh dari kelasnya sekarang.

"Kau tidak apa-apa Sehun? apakah kau merasa ada yang menyakiti mu?"

Minseok mengguncang tubuh Sehun terus menerus. Matanya yang menajam dengan raut wajah takut dan khawatir membuat Sehun ingin segera memeluk Minseok.

"Aku tidak apa-apa hyung."

"Kau yakin tidak apa-apa? mengapa kau merasa takut? Maaf aku tidak datang ketika kau membutuhkan ku."

Minseok kembali menangis. Tangannya dia eratkan di kedua lengan Sehun. Minseok menunduk dengan air mata yang terus keluar. Perasaan bersalah terus dia rasakan.

"Dia…Luhan hyung…"

Minseok langsung menatap Sehun tajam.

"Ada apa dengan Luhan?"

Sehun menatap Minseok datar. Wajah takutnya tiba-tiba hilang.

"Ada apa dengan Luhan, hah? Mengapa kau diam Sehun?"

Minseok kembali mengguncang tubuh Sehun. Kini perasaannya tak karuan.

"Aku ingin membunuh orang itu hyung."

Suara Sehun yang terdengar begitu dalam dengan tatapan yang dingin membuat tubuh Minseok diam. Minseok menatap Sehun tak percaya. Matanya membulat terkejut dengan apa yang telah Sehun katakan.

Minseok melepaskan tangannya dari lengan Sehun pelan. Wajahnya masih menunjukan ekspresi terkejut. Dia berbalik perlahan memunggungi Sehun.

"Kau jangan berurusan dengan orang itu Sehun. Kau tidak akan bisa –"

Tiba-tiba Sehun memeluk Minseok dari belakang. Memeluk tubuh Minseok dengan erat.

"Aku akan membantu hyung untuk membawa dia masuk ke penjara. Aku tidak akan membiarkan hyung menyelesaikan kasus Luhan hyung sendirian. Jika hyung memang ingin melindungi ku, aku juga akan melindungi mu hyung."

Minseok kembali menangis. Hatinya tak kuat untuk menahan semua rasa sesak dan rasa menyakitkan di hatinya. Dia masih merasa bersalah dengan kamatian Chanyeol.

"Luhan hyung telah membunuhnya. Dia tidak hanya membunuh Chanyeol hyung semalam."

Minseok mengerutkan keningnya. Dia berbalik menatap Sehun meminta penjelasan atas perkataannya. Dia menghapus air matanya cepat.

"Bukankah Luhan akan membunuh mu dan Chanyeol semalam?"

Untuk pertama kalinya Sehun menunjukan seringaiannya.

"Apa hyung akan langsung percaya jika yang akan dia bunuh semalam adalah aku?"

"…"

"Hyung lihat aku baik-baik saja kan."

Mata Minseok langsung membulat. Dia langsung mengerti dengan perkataan yang Sehun ucapkan. Bukan Sehun yang Luhan bunuh semalam, tapi …

.

.

Di kantor polisi, ibu Chanyeol masih menunggu hasil pemeriksaan polisi atas apa yang terjadi pada anaknya. Wajahnya langsung terkejut melihat sang suami datang terburu-buru ke kantor polisi yang masih menggunakan setelan jas kantornya. Air mata ibu Chanyol kemudian tumpah ketika sang suami memeluknya. Dia masih tidak terima atas kematian Chanyeol.

"Tuan dan Nyonya Park.."

Ayah Chanyeol melepaskan pelukannya.

"Iya."

"Laporan hasil analisa kematian anak Anda telah keluar. Ikut keruangan saya. Saya akan menjelaskannya."

Ayah Chanyeol menggenggam tangan Ibu Chanyeol erat. Memberikan ketenangan sedikit padanya sekaligus menguatkan diri Ibu Chanyeol untuk mendengar penjelasan polisi atas kasus kematian anaknya.

Polisi itu menata foto mayat Chanyeol di meja. Memperlihatkan bagaimana kondisi mayat Chanyeol kepada kedua orang tuanya. Ibu Chanyeol berbalik tak kuat melihat semua foto mayat anaknya. Ayah Chanyeol merangkul sang istri dan membawanya ke pelukannya untuk memberikan ketenangan padanya.

"Kondisi mayat anak Anda, Park Chanyeol, ketika berada di TKP seperti ini Tuan." Polisi menunjuka satu per satu foto mayat Chanyeol. "Posisi mayat Chanyeol begitu mengerikan. Tubuhnya terikat di salah satu rambu jalan dengan tubuh yang telanjang. Terdapat luka robek dan lecet di sekujur tubuhnya. Mulutnya disobek sehingga terlihat seperti senyuman yang melebar dari telinga satu ke telinga lainnya. Layaknya karakter Joker dalam film Batman, tapi sobekan ini terlalu parah."

Polisi itu melirik sebentar ke arah kedua orang tua Chanyeol. Melihat keadaan mereka yang terlihat terkejut dengan penjelasannya. Polisi itu menghela nafasnya. Dia berhenti sebentar.

"Apa aku perlu melanjtukannya Tuan Park?"

Ayah Chanyeol mengangguk lemah. "Anda bisa melanjutkannya."

Polisi itu berdeham pelan. Lalu dia kembali melanjutkan penjelasannya.

"Lalu pada pergelangan tangan, pergelangan kaki dan lehernya terlihat adanya jerat tali sehingga para penyidik menyimpulkan kalau anak Anda telah diikat dan disiksa selama beberapa jam. Tapi ini adalah bagian yang paling mengejutkan Tuan. Tubuh anak Anda dipotong menjadi dua bagian dengan rapi oleh pembunuh itu. Dari atas pinggang dia memotong tubuh anak Anda sehingga terbelah dua."

Wajah Tuan Park sejak tadi memucat kini terlihat semakin buruk. Tangannya dia eratkan pada pundak istrinya. Tubuhnya bergetar tak kuat mendengar semua penjelasan polisi tentang kondisi mayat Chanyeol.

"Bagaimana ini bisa terjadi? Mengapa anak ku menjadi korban mutilasi?"

"Kami masih menyelidiki kasus anak Anda, Tuan Park. Kami akan memberikan informasi lebih lanjut kepada Anda jika kami menemukan jawaban atas kasus ini."

"Tangkap pembunuh itu! Kalian membutuhkan dana berapa pun aku akan menyediakannya. Kalian harus memberikan hukuman yang setimpal atas apa yang telah dia lakukan terhadap Chanyeol."

Polisi itu tersenyum seadanya.

"Terima kasih Tuan Park. Penjelasan tentang kondisi mayat anak Anda telah selesai. Kami akan menghubungi Anda kembali jika kami telah menemukan titik terang atas kasus pembunuh anak Anda."

Orang tua Chanyeol keluar dari ruangan dengan wajah kusut, pucat, dan masih tak tercaya dengan apa yang terjadi pada anaknya. Mereka langsung berpamitan untuk pulang. Dengan perasaan berat hati, orang tua Chanyeol berjalan keluar dari kantor polisi begitu lesu.

.

.

Sepulang sekolah, Minseok dan Sehun langsung pergi ke rumah Suho. Memeriksa apakah keadaan Suho baik-baik saja atau nasibnya sama seperti Chanyeol. Setelah kasus pembunuhan Chanyeol, tidak ada lagi pemberitaan tentang kasus pembunuhan lainnya. Orang tua Suho juga tidak melaporkan adanya kasus pembunuhan yang menewaskan anaknya.

Minseok langsung segera berlari menuju kamar Suho ketika mereka telah sampai di rumah Suho sebelum Ibu Suho mempersilahkan mereka berdua untuk masuk. Menerobos masuk ke dalam rumah orang tanpa izin memang terlihat tidak sopan, tapi bagi Minseok sekarang tidak ada yang namanya sopan santun jika ini terkait dengan nyawa temannya.

Sehun tersenyum dan dia masuk setelah ibu Suho mempersilahkannya masuk ke dalam. Sehun langsung mengikuti Minseok menuju kamar Suho.

Minseok diam di depan kamar Suho dengan wajah khawatir.

"Dia mengunci pintunya."

"Kita dobrak saja pintunya."

Minseok masih diam memandang pintu kamar Suho.

"Apa yang hyung tunggu. Hyung bisa mendobrak pintunya kan?"

Minseok masih merasa ragu untuk mendobrak pintu kamar Suho. Sehun yang kesal dengan sikap Minseok yang diam sjaa, dia langsung mendobrak pintu kamar Suho dengan tubuhnya yang kurus. Bukan perkara yang mudah bagi Sehun mendobrak pintu yang keras dengan tubuhnya yang kurus.

Ibu Suho melihat apa yang sedang Minseok dan Sehun lakukan. Keningnya berkerut tanda tak suka dengan sikap mereka.

"Hei kalian berdua! Maaf aku tidak tahu apa masalah kalian dengan Suho, tapi tolong bisakah kalian menjaga sikap kalian ketika di rumah orang lain."

Mata Ibu Suho melirik tajam kearah Minseok. Sehun hanya tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya.

"Maafkan kami. Tapi bisakah kami bertemu dengan Suho? Pintu kamarnya terkunci. Apakah bibi bisa membukakan pintunya untuk kami?"

Ibu Suho berjalan mendekati pintu kamar dan mengeluarkan sebuah kunci. Pintu kamar Suho kini telah terbuka. Minseok dan Sehun tersenyum dan membungkuk pada Ibu Suho sebagai rasa terima kasih sekaligus meminta maaf atas sikap mereka yang tidak sopan.

Minseok dan Sehun masuk ke dalam kamar Suho. kamar yang gelap tanpa penerangan sama sekali. Pandangan mereka berdua terlihat samar karena minim pencahayaan tapi mereka berdua tahu bahwa keadaan kamar Suho sekarang begitu berantakan.

"Kalian berdua kemari jika hanya ingin membuat keadaan Suho semakin buruk, lebih baik kelian tidak perlu kemari."

Sehun berdeham.

"Bibi, kami kemari karena mengkhawatirkan kondisi Suho hyung."

"Kondisi Suho terlihat semakin baik."

Ada getaran dalam suara Ibu Suho ketika dia berbicara. Tubuhnya bergetar memikirkan keadaan anaknya yang nyatanya semakin hari terlihat makin buruk.

"Sehun, kau tidak akan percaya dengan apa yang aku lihat sekarang."

Kening Sehun mengerut. Dia menghampiri Minseok yang sedang berdiri di samping ranjang Suho.

Mata Sehun membulat. Dia membekap mulutnya dengan kedua tangannya.

"Kau aja bibi untuk turun ke bawah. Aku tidak ingin dia terkejut melihat keadaan Suho sekarang."

Sehun mengangguk. Dia langsung berbalik dan membujuk Ibu Suho untuk turun ke bawa bersamanya. Sehun menoleh melihat Minseok dengan wajah yang masih terkejut kemudian dia berjalan menuntun Ibu Suho turun ke bawah.

Minseok menggeleng tak percaya. Dia membuka selimut yang menutupi tubuh Suho. Minseok semakin terkejut saat matanya melihat tubuh Suho yang mengenaskan. Air matanya keluar dengan tiba-tiba. Tak kuat menahan rasa terkejut sekaligus marah ketika melihat tubuh Suho tergeletak di atas tempat tidur dengan tubuh yang penuh jahitan.

.

.

.

Terima kasih untuk semua review kalian ^^ terima kasih juga yang udah fav dan follow ff ini ^^ Terima kasih juga yang udah review ff Crack Couple ^^ suka baca review kalian~

Disini aku pengen memberikan alasan knp aku bikin Minseok punya kekuatan "psychometry." Aku terinspirasi bikin cerita ini karena saat aku lihat film Hellboy. Kalian pasti tau kan dengan film itu? *LOL* dan pastinya yang nonton film itu juga tahu karakter si manusia ikan warna biru dengan mata yang aneh *ROFL*, si Abe. Dia punya kekuatan bisa tau apapun jika dia nyentuh barang gitu kan. Selain karakter si manusia ikan itu, aku juga terinspirasi dari karakter Alice di film Twilight. Gag usah aku jelasin pasti kalian tahu apa kekuatan Alice itu *LMAO* tapi gag tau juga sih apa nama sebutan kekuatan mereka itu, yang jelas aku nyari di mbah gugel dan nemunya nama kekuatan itu "psychometry" gitu sih *LOL*

Jadi sebelum aku bikin cerita kyk gini, jelas aku bakalan nyari bahan buat jalan ceritanya kyk gimana. Maksud dari kekuatan Minseok juga tentunya aku nyari referensi dulu knp aku "berani" pake kata kekuatan "psychometry" buat Minseok. Tapi ya emang dasarnya aku cuma mengandalkan si mbah gugel buat nyari referensi tentang "psychometry", jadi ya harap maklum klo ada yang merasa gmn gitu dengan pengertian "psychometry" yang gag sesuai dengan apa yang "kamu" pelajari di dunia nyata heheh~

Tapi terima kasih bgt atas koreksi kamu ^^ dengan begini aku tahu maksud dari "psychometry" menurut pandangan kamu dan menurut pandangan si mbah gugel dan dari film fantasi yang selalu aku nonton *ROFL*

Sebagai penulis juga psti ada salah-salah kata dan pengertian atas apa yang dia tulis buat ffnya, jadi klo kalian mau ngasih kritik, saran atau koreksi kalian buat ff ini tulis aja ya di review kalian atau bisa PM gitu ^^

Bagi kalian para pembaca ff ku ini, aku suka sekali dengan review kalian yang panjang-panjang, apalagi yang ngasih koreksi, yang ngasih review panjang kadang belibet baca reviewnya juga bikin aku senyum-senyum sendiri bacanya *LOL*, yang langsung PM juga terima kasih ^^

Berharap kalian bakalan sabar nungguin cerita berlanjut ini ya ^^ dan maaf aku terlalu banyak cuap-cuapnya *LMAO*