Sehun berlari terburu-buru menuju kamar Suho. Wajahnya yang terkejut sekaligus tak percaya melihat keadaan Suho yang mengenaskan membuat Sehun harus menahan dirinya untuk tidak menangis sekarang. Sehun masih berdiri tak bergerak di tempatnya tanpa peduli dengan apa yang kini Minseok tengah lakukan.

"Sehun kau jangan berdiri saja di situ."

Sehun mulai bergerak dengan pikiran yang tak karuan. Ada sesuatu yang harus Sehun katakan pada Minseok sekarang tapi, dia terus menahannya hanya untuk melindungi Minseok dari kejinya seorang Luhan.

"Kau menemukan sesuatu?"

"Tidak hyung."

Minseok menghembuskan nafas berat. Dia mendekati mayat Suho. Matanya terus meneliti setiap tubuh Suho yang penuh jahitan. Minseok pikir, mungkin saja sang pelaku meninggalkan jejaknya di tubuh Suho.

"Kita harus melaporkannya pada polisi sekarang."

"Tunggu hyung. Aku menemukan sesuatu."

Sehun menyerahkan sebuah kotak kaleng pada Minseok. Minseok mengerutkan keningnya melihat kotak kaleng yang dia pegang sekarang. Diatas kaleng tersebut terdapat sebuah tulisan, "Sebuah Kasus Pembunuhan." Minseok memandang Sehun tak mengerti. Dia kemudian memasukan kotak kaleng tersebut ke dalam tasnya.

"Kita hubungi polisi sekarang."

Minseok dan Sehun turun ke bawah dan menjelaskan apa yang terjadi pada Suho kepada Ibu Suho. Ibu Suho yang tak terima dengan apa yang terjadi pada anaknya membuat tubuhnya lemah tak sadarkan diri.

Polisi kini telah tiba di rumah Suho. Minseok dan Sehun langsung mengikuti salah satu polisi untuk meminta keterangan mereka berdua terkait mayat Suho di kantor polisi.

.

.

Di kantor polisi, orang tua Sehun telah datang kecuali kedua orang tua Minseok. Orang tua Sehun begitu khawatir pada anaknya karena tiba-tiba mendapatkan sebuah panggilan dari kantor polisi. Ibu Sehun langsung memeluk Sehun dengan erat, sedangkan Minseok hanya bisa melihat pemandangan itu dengan mata berbinar.

"Bagaimana dengan introgasinya Sehun? kau tidak apa-apa sayang?"

Sehun tersenyum sambil mengangguk pelan pada orang tuanya.

"Aku tidak apa-apa ibu. Introgasinya berjalan lancar."

Ibu Sehun kembali memeluk Sehun. Dia masih merasa khawatir dengan keadaan anaknya.

Salah seorang polisi keluar dari ruangannya. Dia melirik sebentar ke arah Minseok yang menunduk. Polisi itu menepuk pundak Minseok pelan.

"Orang tua mu tidak bisa datang Minseok. Mereka berkata kau harus menjaga diri mu sebaik mungkin."

Minseok hanya tersenyum sambil mengucapkan terima kasih kepada polisi itu karena sudah menyampaikan pesan orang tuanya kepadanya.

Setelah polisi menyampaikan pesan dari orang tua Minseok, dia kembali ke ruangannya. Minseok menghela nafasnya lelah. Memikirkan bagaimana keadaan orang tuanya sekarang. Apakah mereka berdua juga baik-baik saja disana? Minseok tersenyum getir jika memikirkan keadaan dia sekarang yang tanpa kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Tiba-tiba ponsel Minseok berbunyi. Nama Luhan terlihat di layar ponselnya. Minseok memandang kearah Sehun yang masih bersama dengan orang tuanya. Dia kemudian berdiri dan berjalan pergi sambil mengangkat panggilan dari Luhan.

"Temui aku di taman dekat rumah ku. Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu."

"Aku akan segera kesana."

.

.

Di taman dekat rumah Luhan, kini Minseok sedang menunggu kedatangan Luhan. Hawa dingin di malam hari membuat tubuh Minseok sedikit menggigil. Terdengar suara gesekan daun dari arah belakang dan itu membuat Minseok dengan cepat menolehkan kepalanya ke belakang, melihat siapa yang membuat gesakan itu. Setelah kejadian terbunuhnya Suho, membuat Minseok mulai merasa waspada dan ada perasaan takut yang dia rasakan sekarang.

"Minseok."

Minseok tersentak. Dia langsung menoleh ke depan melihat siapa yang memanggil namanya. Dia menghela nafas lega ketika melihat Luhan yang sekarang berdiri di depannya.

"Luhan, kau mengagetkan ku."

Luhan tertawa pelan. Dia mulai duduk di samping Minseok.

"Kenapa? Kau takut?"

Minseok berdecak pelan. Dia mengeratkan tangannya di selempangan tasnya.

"Ada apa kau menyuruh ku kemari?"

Luhan mengangkat kepalanya melihat langit. Dia hanya diam. Minseok kembali berdecak.

"Jika tidak ada yang ingin kau katakan, aku pergi."

Luhan tersenyum. Dia menoleh melihat Minseok.

"Ada yang ingin Lucas katakan kepada mu."

Kening Minseok mengerut. Mendengar nama Lucas disebut membuat diri Minseok ingin segera pergi dari hadapan Luhan.

"Sekarang aku sedang berbicara dengan siapa? Luhan atau Lucas?"

"Ini aku, Luhan." Luhan tersenyum manis. "Aku sangat terkejut tiba-tiba Lucas berkata kepada ku ingin menguasai diri ku sepenuhnya ketika dia tidak ingin membunuh. Aku bertanya kepadanya, mengapa begitu dan dia hanya menjawab, itu bukan urusan ku."

Minseok menunduk sebentar. Ingin rasanya dia terhindar dari seorang Lucas. Tidak ingin masuk ke dalam semua permainannya. Tapi Minseok merasa telah terjebak dengan semua permainan yang telah Lucas lakukan. Terjebak dengan alasan apa adalah sebuah pertanyaan yang hingga sekarang masih belum bisa Minseok jawab.

"Apa kau bisa pastikan malam ini Lucas tidak akan keluar?"

Luhan mengangguk.

"Jika begitu, maukah kau mengantar ku pulang ke rumah?"

Senyum mengembang lebar tercetak jelas di wajah Luhan.

"Dengan senang hati aku akan mengantar mu Minseok."

.

.

Dalam perjalanan menuju rumah Minseok, tidak ada sebuah percakapan antara Luhan dan Minseok. Hening dan hanya terdengar suara deru nafas dari mereka berdua. Lalu tiba-tiba Luhan menghentikan langkahnya.

"Ada apa Luhan?"

Luhan melepaskan jaketnya. Dia kemudian memakaikan jaket tersebut kepada Minseok. Luhan juga memasangkan topi jaket itu di kepala Minseok.

"Apa kau sudah merasa hangat?"

Di bawah lampu jalan, wajah Minseok terlihat bersemu. Senyum manis Minseok tunjukan. Dia hanya mengangguk pelan dengan wajah malu-malu.

Ketika Luhan akan kembali berjalan, Minseok menahan tangannya. Luhan menoleh melihat Minseok yang masih terlihat malu. Wajah Minseok nampak begitu polos dan menggemaskan di mata Luhan. Luhan ingin sekali segera memeluk Minseok sekarang tapi dia tahu Minseok pasti akan menolak dan akan lari jika dia melakukannya. Luhan hanya bisa menahan dirinya.

"Kata Lucas, kau dan juga dia sama-sama menyukai ku. Apakah yang dia katakan benar?"

Luhan tersenyum. "Benarkah Lucas berkata seperti itu kepada mu?"

Minseok mangangguk. Luhan semakin tak bisa menahan dirinya untuk segera memeluk Minseok. Dia bisa saja memeluk Minseok dengan kekuatan telekinesisnya sekarang tapi lagi-lagi Luhan tidak ingin melakukan hal itu.

Luhan menggenggam tangan Minseok.

"Aku tidak berani menyukai mu Minseok. Hal itu akan membuat Lucas marah kepada ku. Lucas yang pertama kali menyukai mu dan aku tidak bisa merebut sesuatu yang sudah menjadi milik Lucas."

"Apa kau begitu takut pada Lucas sampai kau tidak berani menyukai ku? dan…apa-apaan tadi kau bilang? Aku milik Lucas? Sejak kapan aku menjadi milik Lucas? Aku bukan barang yang seenaknya saja dia mengklaim aku sebagai miliknya. Lagipula, Lucas juga berada di tubuh yang sama dengan mu."

Minseok merubah raut wajahnya kesal. Luhan hanya bisa tertawa pelan. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Minseok.

"Lalu kau sendiri, apakah kau menyukai salah satu dari kami?"

Minseok menatap Luhan sebentar. Matanya tak sanggup melihat wajah Luhan terlalu lama. Kini debaran jantungnya mulai berdebar cepat. Wajah Minseok kembali bersemu. Dia melepaskan genggaman tangan Luhan.

"Tentu saja tidak. Aku tidak menyukai mu atau Lucas."

Minseok mundur perlahan. Kedua tangannya dia kibas-kibaskan di wajahnya untuk menutupi wajahnya yang begitu malu. Apa yang sedang aku pikirkan sekarang? aku tidak bisa memikirkan hal semacam ini ketika nyawa teman ku menjadi sebuah mainan. Sebuah pemikiran semacam itu terus Minseok utarakan dalam dirinya. Menghindari sebuah perasaan yang tidak-tidak yang kemunculannya tidak Minseok harapkan.

"Aku harap juga begitu. Aku tidak patut untuk disukai oleh seseorang, khususnya seperti diri mu Minseok."

Seperti ada sesuatu yang membuat perasaan Minseok sakit ketika Luhan mengucapkan hal itu. Minseok merasa sebagian dari dirinya tidak terima Luhan mengatakan hal itu kepadanya. Wajah Minseok perlahan berubah menjadi sedih. Dia berbalik dan kembali melanjutkan perjalanan menuju ke rumahnya.

.

.

Di dalam kamarnya, Minseok masih memikirkan percakapannya dengan Luhan. Dia kesal dengan dirinya sendiri mengapa menanyakan pertanyaan aneh dan itu membuat dirinya terlihat bodoh karena merasa malu di depan Luhan.

Minseok menjerit sekeras dia bisa lalu menutup wajahnya dengan bantal.

"Mengapa aku harus bertanya seperti itu kepadanya?"

Minseok melempar bantalnya ke lantai. Matanya menatap langit-langit kamarnya dengan dipenuhi pemikiran yang campur aduk antara sebuah perasaan pada Luhan dan juga kasus pembunuhan teman-temannya.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Minseok segera mengambil ponselnya dari saku celananya. Keningnya mengerut membaca pesan dari Sehun. Minseok segera bangkit dari posisinya dan mengambil tasnya.

Minseok mengeluarkan kotak kaleng dari dalam tasnya. Perasaan penasaran kini mulai Minseok rasakan. Minseok mengeluarkan semua isi kotak kaleng tersebut. Hanya berisi potongan artikel dari koran lawas tentang berita kasus pembunuhan Kris dan kasus pembunuhan yang lain. Mata Minseok melebar melihat foto Luhan dan Sehun terselip di antara potongan artikel tersebut.

Minseok semakin membuka potongan kertas koran itu dan matanya tertuju pada salah satu berita pembunuhan 5 tahun lalu yang lalu. Kasus pembunuhan ibu Luhan. Beberapa lembar potongan kertas menunjukan artikel tentang kepribadian ganda dan kekuatan seorang telekinesis. Minseok kemudian memisahkan kasus ibu Luhan dengan kasus yang lain.

Minseok lalu mengambil foto Sehun. Pikirannya terus bertanya, mengapa foto Sehun ada di dalam kotak kaleng ini? Dan yang menjadi pertanyaan besar bagi Minseok adalah, mengapa Suho mengumpulkan artikel semacam ini dan ada hubungan apa antara Suho, Luhan, dan juga Sehun?

"Apakah Sehun memiliki sebuah rahasia yang tidak aku ketahui?"

Minseok memasukan semua kasus pembunuhan ibu Luhan dan juga semua artikel yang terkait tentang Luhan di dalam sebuah map. Matanya kini terus fokus pada foto Sehun. Minseok kembali mencari potongan artikel yang mungkin saja ada sangkut pautnya dengan foto Sehun.

Mata Minseok menyipit ketika dia membaca sebuah artikel dari kertas koran lawas dengan potongan yang kecil.

"Saksi mata pembunuhan wanita 5 tahun lalu."

Minseok berdecak. Dia kembali mencari beberapa potongan artikel yang mendukung berita dari koran tersebut. Hanya ada 3 artikel yang sama terkait saksi mata pembunuhan 5 tahun lalu. Minseok menata satu per satu artikel tersebut dengan foto Sehun.

"Yang menjadi saksi mata anak berusia 12 tahun berinisial OSH."

Minseok mengambil foto Sehun.

"OSH. Nama Sehun adalah Oh Sehun. Oh-Se-Hun. OSH."

Mata Minseok melebar. Dia melihat foto Sehun begitu serius.

"Apa jangan-jangan Sehun melihat kejadian itu ketika Luhan membunuh ibu nya dulu?"

Hening. Terdengar deru nafas Minseok yang naik turun lebih cepat dari biasanya. Sebuah dering ponsel membuat Minseok terkejut. Nama Sehun terlihat di layar ponselnya sekarang. Mata Minseok hanya bisa melihat foto Sehun yang dia bawa dan melihat ponselnya yang terus berbunyi secara bergantian.

"Mengapa Suho menyimpan artikel semacam ini?"

.

.

-Masa Ini-

Sang wartawan menatap serius kearah Minseok. Matanya menajam sebentar kemudian dia mengalihkan pandangannya melihat keluar jendela. Dia mengelap keringat di keningnya.

"Tidak terasa kisah Anda begitu panjang Tuan Kim. Bahkan semakin menarik, tapi sayang sekali saya harus kembali ke kantor sekarang."

"Sangat di sayangkan Tuan. Kisah saya masih begitu panjang bahkan Anda masih belum mendengar bagaimana akhir dari kisah ini."

Sang wartawan tersenyum lebar. Dia mulai berdiri dari tempat duduknya.

"Lalu, apakah saya boleh kembali kemari untuk mendengar kisah selanjutnya dari Anda, Tuan Kim?"

Minseok mengangguk. "Tentu. Anda bisa kembali mendengar kisah saya selanjutnya. Tapi, jika Anda masih bisa kembali kemari."

Kening sang wartawan mengerut. "Apa maksud Anda?"

Minseok tertawa pelan. Dia kemudian menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan sang wartawan.

"Bukan apa-apa. Saya hanya bercanda saja."

Sang wartawan lalu tertawa dan membalas jabatan tangan Minseok. Lalu setelahnya sang wartawan pergi dari apartemen Minseok.

Minseok berjalan menuju balkon apartemennya. Melihat suasana malam hari yang terlihat begitu ramai.

"Kita lihat saja apakah mereka benar-benar akan kembali kemari atau tidak?"

.

.

-Masa Lalu-

Sehun berlari menuju kelas Minseok. Rasa penasarannya tentang kotak kaleng yang dia temukan di kamar Suho membuat Sehun semakin ingin mengetahui lebih dalam kasus pembunuhan yang Luhan lakukan.

Sehun masuk ke dalam kelas Minseok yang kini mulai teerlihat sepi. Hanya ada beberapa siswa yang tersisa di dalam kelas. Sehun mengguncang tubuh Minseok pelan untuk membangunkan Minseok yang tertidur di mejanya.

"Minseok hyung."

Sehun yang duduk di depan Minseok hanya bisa menahan tawanya melihat wajah Minseok yang menggemaskan ketika sedang tidur. Sebentar Sehun memikirkan untuk mencoret-coret wajah Minseok tapi kemudian dia menepis pemikirannya ketika dia melihat lebih dekat wajah Minseok.

Dengan pelan, Sehun menyentuh pipi Minseok. Dia juga mengelus rambut Minseok begitu pelan. Sebuah senyum mengembang tercetak di wajah Sehun sekarang. Sehun menghentikan usapannya di rambut Minseok dan lebih memilih memandangi wajah Minseok sekarang.

Pikiran Sehun mulai kembali mengingat kejadian dimana Minseok mencium bibirnya dan menyatakan perasaanya kepada Sehun. Sehun terus tersenyum sendiri setiap mengingat kejadian itu.

"Apa yang kau lakukan disini Oh Sehun?"

Sehun tersentak. Dia langsung mengangkat kepalanya melihat orang yang kini sedang berdiri di samping Minseok sekarang. Mata Sehun membulat lalu seketika wajahnya menjadi pucat.

"Tidak ada. Aku hanya membangunkan Minseok hyung saja."

"Membangunkan Minseok dengan cara kau terus memperhatikan wajahnya begitu dekat? Apa yang kau pikirkan ketika melihat wajahnya?"

Sehun bangkit dari kursinya. Wajahnya yang datar kini mulai terlihat kesal.

"Itu bukan urusan mu! Lalu, apa yang kau lakukan disini? Kau ingin membuat Minseok hyung menangis lagi?"

"Itu bukan urusan mu."

Sehun berdecak. Dia semakin kesal sekarang. Segera Sehun mengguncang tubuh Minseok keras hingga Minseok benar-benar terbangun.

"Sehun."

"Kita pulang sekarang hyung."

Minseok menggeliat sebentar lalu dia mengangguk pada Sehun.

"Minseok akan lebih senang pulang bersama ku, Oh Sehun."

Minseok menoleh melihat sumber suara yang menyebut namanya. Sedikit terkejut melihat Luhan sedang berdiri di sampingnya. Minseok menghela nafasnya sebentar sebelum dia berdiri.

Minseok memandang Luhan sebentar. Dia memastikan apakah orang yang sekarang sedang berdiri adalah seorang Lucas atau Luhan. Kemudian Luhan memberikan sebuah seringaian ketika Minseok memandangnya dan itu sudah cukup meyakinkan diri Minseok bahwa yang dia lihat sekarang adalah Lucas.

Segera Minseok berbalik dan menarik Sehun menjauh dari Luhan. Minseok menoleh sebentar ke belakang melihat Luhan lalu kembali memandang Sehun sambil menepuk pundak Sehun.

"Ada hal yang harus aku katakan dengan Luhan kali ini. Kau pulang duluan saja."

"Apa yang ingin hyung katakan dengannya?"

"Aku tidak bisa mengatakannya pada mu sekarang. Jika waktunya tepat, aku berjanji akan mengatakannya kepada mu."

Sehun melirik sebentar kearah Luhan. Dia kemudian mengangguk mengerti.

"Baiklah. Hyung sudah berjanji pada ku."

Minseok tersenyum lebar. Dia mengangguk mengiyakan sambil mengacak rambut Sehun.

"Kau hati-hati di jalan."

Sehun berjalan keluar dari kelas Minseok dengan wajah kesal. Dia memandang Luhan sebentar sebelum dia meninggalkan kelas Minseok.

.

.

Di sebuah kedai tempat makan, kini Luhan dan Minseok sedang menikmati makan siang mereka. Tidak, bukan Minseok melainkan hanya Luhan yang memakan makan siangnya dengan lahap. Minseok hanya memandangi Luhan yang sedang makan sudah membuatnya kenyang.

"Sekarang aku sedang berhadapan dengan siapa?"

"Kau tentu sudah tahu aku ini siapa."

Minseok mengambil minumannya dan menyedotnya sampai habis. Dia berdeham pelan.

"Baiklah, aku akan memanggil mu Lucas." Minseok menghela nafas dalam. "Kata Luhan, kau ingin mengatakan sesuatu pada ku. Apa yang ingin kau katakan?"

Lucas menghentikan makannya. Dia menyingkirkan piringnya kesamping lalu meneguk minumannya sampai habis.

"Bisakah kau tidak berhubungan lagi dengan Sehun?"

Minseok memutar matanya malas. Dia berniat untuk meninggalkan Lucas sekarang tapi ketika Minseok akan berdiri, Lucas menahannya.

"Sepertinya nama Sehun menjadi perusak pembicaraan kita. Kalau begitu aku akan mengganti topiknya."

"Jika kau tidak serius, aku akan benar-benar pergi dari sini."

Lucas hanya melempar tawa garing lalu kemudian dia terdiam dan memandang Minseok tajam.

"Aku serius Minseok. Bisakah kau menjauhi Sehun mulai sekarang?"

"Mengapa kau menyuruh ku menjauhi Sehun? kau menyukainya?"

Minseok tertawa pelan yang terdengar begitu terpaksa.

"Hei Minseok, kau tahu sendiri jika aku hanya menyukai mu."

Minseok menarik nafas dalam. Mendengar Lucas mengatakan bahwa dia menyukai Minseok membuat Minseok kembali mengingat percakapan dia dengan Luhan semalam. Dia menunduk sebentar untuk menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba suram.

"Aku akan melupakan alasan mu menyuruh ku untuk menjauhi Sehun. Sekarang katakan apa yang ingin kau katakan dengan ku."

Minseok diam. Dia memandang Lucas penuh tanya.

"Kau pasti sudah melihat bagaimana Suho terbunuh. Kau juga pasti berpikir bahwa aku lah yang membunuh Suho seperti itu. Asal kau tahu Minseok, aku lebih suka membunuh korban ku secara langsung daripada harus susah payah menjahitnya yang hanya akan membuat sang korban mati dengan perlahan. Penyiksaan? Tentu aku akan melakukan hal itu tapi setelahnya aku langsung membunuh mereka tapi tidak dengan hal yang menurutku membuang waktu dengan menjahit tubuh seseorang."

"Kesimpulannya?"

Lucas menghela nafasnya. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan untuk mendekat dengan Minseok.

"Kesimpulannya, aku tidak membunuh Suho. Orang lain yang melakukannya."

"Siapa?"

Lucas memundurkan tubuhnya kembali ke posisi semula. Bersender di kursinya dengan nyaman. Dia tersenyum lebar.

"Aku ingin kau yang mengetahuinya sendiri siapa orang yang telah membunuh Suho. Kau pasti telah menemukan kotak kaleng di kamar Suho, bukan?"

"Bagaimana kau tahu?"

"Baguslah kau yang membawa kotak itu, bukan Sehun."

Minseok semakin tak mengerti dengan pembicaraan antara dia dan Lucas. Pikiran Minseok kini tertuju pada isi kotak kaleng yang dia temukan di kamar Suho. Dia mengingat ada foto Sehun di dalam kotak tersebut.

"Apa jangan-jangan …"

"Minseok sayang, kau jangan cepat menyimpulkan suatu pemikiran tanpa adanya bukti yang jelas."

Lucas tersenyum manis. Dia kini menopangkan kedua tangannya di dagu dan memandang Minseok dengan mata bersinar.

"Sekarang kita bahas tentang hubungan kita."

"Apa maksud mu dengan hubungan kita?"

Lucas menunjuk Minseok dan juga dirinya dengan jari telunjuknya. "Kau dan aku."

Minseok tertawa geli. Dia menggeleng tak percaya dengan apa yang Lucas katakan.

"Aku akan berhenti membunuh seseorang jika kau mau mendengarkan permintaan ku."

Tawa Minseok terhenti. Dia mengedipkan matanya cepat melihat Lucas yang memasang wajah kelewat tenang. Kening Minseok mengerut.

"Kau berjanji tidak akan membunuh orang termasuk teman-teman ku juga?"

"Jika itu mau mu, aku akan melakukannya."

Minseok semakin curiga dengan permintaan Lucas. "Apa permintaan mu?"

"Kau harus ikut dengan ku ketika kita telah lulus nanti. Aku akan membawa mu ke tempat dimana kau akan merasa bahagia dan tidak berpikir ingin kembali ke kota kecil ini."

"Bolehkah aku tahu dimana tempat itu?"

"Setelah kau menyetujui permintaan ku, aku akan mengatakan dimana tujuan kita nanti."

Minseok diam. Dia berpikir apakah dia harus menuruti permintaan Lucas atau tidak. Dengan iming-iming Lucas tidak akan membunuh lagi membuat Minseok tidak langsung percaya pada Lucas. Minseok memikirkan sebuah cara agar Lucas benar-benar tidak akan melakukan sebuah pembunuhan lagi.

"Aku akan menuruti permintaan mu jika kau mau menuruti permintaan ku juga."

Lucas tertawa. "Baiklah. Apa permintaan mu sayang?"

"Selama libur musim panas ini, aku mau kau memeriksakan dirimu ke psikiater lalu lakukan rehabilitasi terkait masalah kepribadian mu."

Wajah Lucas seketika berubah tak suka dengan permintaan Minseok kemudian wajahnya kembali tenang.

"Kau tidak percaya jika aku tidak akan membunuh orang lagi?"

"Aku hanya meyakinkan perkataan mu dan aku juga tidak ingin kau terus membuat Luhan merasa tersakiti karena ulah mu."

Lucas tersenyum miring. Orang yang dia sukai kini berbicara tentang kepeduliannya pada sisi pribadinya yang lain. Luhan.

"Mendengar ucapan mu membuat ku benar-benar ingin segera melenyapkan Luhan sekarang."

"Jika kau melakukan hal itu, aku tidak akan menuruti permintaan mu."

"Baiklah aku setuju. Tapi dengan syarat, kau harus terus berada di sisi ku ketika aku melakukan rehabilitasi. Itu akan memperkuat kepercayaan mu kepada ku jika aku tidak melakukan sebuah pembunuhan lagi."

"Aku setuju."

Lucas dan Minseok saling berjabat tangan. Wajah Lucas yang begitu tenang begitu berbeda dengan raut wajah Minseok yang terlihat sangat gugup di hadapan Lucas.

.

.

.