Minseok menatap langit kamarnya dengan pandangan kosong. Pikirannya masih berputar dengan pembicaraannya dengan Lucas tadi siang. Minseok bertanya pada dirinya sendiri, mengapa dia mau menuruti permintaan Lucas sedangkan Minseok sendiri begitu benci padanya.
Sebuah ketukan pintu membuyarkan pikiran Minseok. Dengan langkah malas Minseok membuka pintu rumahnya. Matanya sebentar melebar melihat Sehun yang sekarang berdiri di depan pintu rumahnya dengan membawa sekantong makanan.
"Masuklah."
Sehun tidak memberikan ekspresi apapun ketika masuk ke dalam rumah Minseok . Hanya wajah datar namun kelewat dingin muncul di wajahnya yang tampan.
Minseok segera menyiapkan makanan yang Sehun bawa di atas piring. Suasana menjadi hening membuat Minseok merasa canggung berhadapan dengan Sehun sekarang. Untuk pertama kalinya Minseok merasa ada perasaan cemas ketika dia sedang berdua saja dengan Sehun. Seketika pikiran Minseok mengingat foto Sehun yang berada di dalam kotak kaleng milik Suho.
"Minseok hyung…"
Tidak ada sahutan dari Minseok.
"Hyung…"
Minseok masih diam.
"Minseok hyung!"
Bentakan Sehun membuat Minseok sadar dari semua pemikirannya. Sehun berdecak kesal melihat Minseok yang hanya menampilkan sebuah cengiran kepadanya.
"Maaf Sehun. Hari ini aku begitu lelah."
Sehun menatap Minseok malas. Dia bangkit dari kursinya dan berdiri di samping Minseok.
"Biar aku saja yang menyiapkan makanannya. Hyung duduk saja."
Minseok mengangguk pelan. Dia kemudian memilih untuk duduk di samping Sehun yang sedang berdiri. Minseok menyandarkan kepalanya di meja dengan kedua mata yang tertutup. Beristirahat sebentar untuk menghilangkan rasa lelah sekaligus perasaan cemasnya yang dia rasakan sejak kedatangan Sehun di rumahnya.
"Apa yang membuat mu begitu lelah, hyung? Apa ada hubungannya dengan Luhan hyung?"
Sehun mulai duduk di samping Minseok. Dia melihat Minseok dengan wajah yang begitu penasaran.
Minseok menggeleng pelan. "Tidak Sehun."
"Lalu apa? apa ada masalah?"
Sehun mulai memegang kepala Minseok. Mengelus rambutnya pelan. Minseok membuka matanya dan mengangkat kepalanya melihat kearah Sehun. Mata Minseok terus menatap Sehun mencari sebuah celah yang sekiranya Sehun sedang merahasiakan sesuatu dari Minseok.
"Ada apa hyung?"
Minseok meraih tangan Sehun yang masih setia mengelus rambutnya. Dia menautkan tangannya yang kecil dengan tangan Sehun. Minseok tersenyum manis lalu menyandarkan kepalanya di bahu Sehun. Detik selanjutnya Minseok bisa melihat kisah seorang Sehun yang membuatnya penasaran.
Kisah seorang Sehun yang selalu sendiri ketika pertama kali menjadi siswa SMA. Seorang Sehun yang tidak banyak bicara dan begitu malu untuk berdekatan dengan seseorang atau sekedar mencari teman baru baginya. Kemudian dimana Luhan yang tiba-tiba datang dan merubah kisah hidup seorang Sehun. Dia mulai bisa tersenyum, dia mulai bisa tertawa, dia mulai bisa membaur bersama dengan teman yang lain, dan dia mulai bisa merasakan debaran jantung yang begitu cepat ketika dia berhadapan dengan seseorang. Itu semua berawal dari Sehun yang mengenal seorang Luhan.
Senyum mengembang terlihat di wajah Minseok yang kini telah merasa sedikit nyaman dengan kisah bahagia Sehun. Minseok semakin tersenyum ketika melihat bagaimana seorang Sehun dan Luhan bertemu. Pertemuan antara keduanya terlihat biasa saja layaknya orang yang sedang berkenalan. Tapi di balik itu semua, Minseok tidak mengetahui bagaimana hal yang sebenarnya tentang kejadian pertemuan pertama antara Sehun dan Luhan.
Minseok melepaskan tautan tangannya dengan Sehun. Kecemasan yang dia rasakan terhadap Sehun perlahan mulai tergantikan oleh ketenangan dari kisah masa lalu Sehun yang baru saja dia lihat. Minseok ingin sekali terus melihat semakin dalam tentang kisah masa lalu Sehun yang ingin dia ketahui, tapi dirinya menolak untuk melakukan hal tersebut.
"Apa aku perlu membuatkan kopi untuk hyung agar sedikit lebih tenang?"
Minseok tertawa pelan. Dia semakin menyamankan posisinya bersandar di bahu Sehun.
"Sehun, aku ingin mengetahui lebih jauh tentang kehidupan mu. Bagaimana masa kecil mu dulu."
"Mengapa hyung ingin mengetahuinya?"
Minseok diam. Dia tidak ingin menjawab pertanyaan Sehun.
"Menurut mu apakah Luhan yang membunuh Suho?"
"Tentu saja Luhan hyung yang membunuhnya."
Minseok mengangkat kepalanya menjauh dari bahu Sehun. Dia melihat Sehun sambil menggenggam tangannya.
"Ini adalah rahasia kita berdua. Jangan sampai siapa pun tahu jika Luhan yang melakukan hal itu."
Untuk pertama kalinya sejak Sehun terus memberikan ekspresi datar pada Minseok, kini dia mulai tersenyum.
"Mengapa harus di rahasiakannya?"
"Kita tidak ada bukti sama sekali untuk melaporkan Luhan ke polisi."
Minseok melepaskan genggaman tangannya. Dia mulai berdiri dan berjalan ke dapur untuk membuat segelas kopi untuknya dan segelas teh hangat untuk Sehun.
Pikirannya kembali mengingat tentang isi artikel yang menyebutkan bahwa ada seorang saksi pembunuhan wanita 5 tahun lalu. Minseok menarik nafas panjang. Dia ingin merasakan sehari saja untuk tidak memikirkan hal-hal yang memberatkan pikirannya, tapi itu tidak bisa dia rasakan sekarang. Minseok ingin segera mengakhir semua drama pembunuhan yang membingungkan baginya.
Minseok menyodorkan segelas teh untuk Sehun. Dia mendudukan tubuhnya di kursi yang berada di depan Sehun. Minseok menunduk sebentar sebelum dia menyeruput kopinya.
"Untuk soal Luhan, kau tidak perlu memikirkannya."
Sehun menaruh gelas tehnya. Sebentar matanya begitu sinis melihat Minseok lalu matanya kembali normal dengan wajah yang datar.
"Jadi apa isi kotak kaleng yang ada di kamar Suho hyung? Hyung sudah membukanya?"
Minseok terkejut. Matanya sebentar melebar memandang Sehun kemudian dia meminum kopinya dengan wajah yang dibuat setenang mungkin.
"Aku sudah membukanya dan tidak ada petunjuk sama sekali tentang siapa pembunuh Suho. Hanya ada beberapa artikel tentang pembunuhan Kris saja."
Mata Minseok menutup mengingat kembali kasus pempunuhan Kris dulu. Ingatannya masih begitu jelas bagaimana dia dan Sehun menemukan mayat Kris yang mengenaskan di kantong sampah berwarna hitam.
Sehun menepuk pelan tangan Minseok dan itu membuat Minseok membuka matanya. Sehun memberikan senyuman manis pada Minseok.
"Hyung tenang saja. Aku disini bersama dengan hyung."
Minseok ikut tersenyum. Dia mengangguk pelan sambil mengucapkan terima kasih pada Sehun.
"Sehun, apa kau masih ingat hari dimana Chanyeol di bunuh dan saat itu kau mengirimi ku pesan untuk segera menolong mu? Apa waktu itu Luhan sedang bersama mu?"
Kening Sehun mengerut. Wajahnya terlihat tak mengerti dengan apa yang Minseok tanyakan.
"Besoknya kau bilang pada ku bahwa, Luhan yang membunuhnya. Itu berarti apakah Luhan memberitahu mu jika dia akan membunuh Suho? Padahal aku mengira Luhan membunuh mu bersamaan dengan Chanyeol."
Kini Minseok menatap Sehun begitu serius. Sebentar Sehun melihat Minseok kemudian memalingkan wajahnya. Dia menghela nafas dalam. Wajah Sehun tiba-tiba terlihat dingin dengan tatapan yang menusuk.
"Sebelum Luhan hyung membunuh Chanyeol hyung, aku bertemu dengannya di persimpangan jalan dekat rumah ku. Tapi aku tidak yakin apakah itu Luhan hyung atau bukan karena orang itu memakai masker, topi, dan jaketnya dan juga lampu jalan tidak begitu terang jadi aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas."
Minseok diam. Dia masih menatap Sehun begitu serius tanpa peduli dengan tatapan dingin yang Sehun berikan padanya.
"Orang itu berkata pada ku, kau akan mati, lalu setelah itu dia berjalan pergi. Aku langsung berlari menuju rumah dan mengirim pesan pada mu."
"Jika kau tidak yakin dengan orang itu, mengapa kau bisa mengatakan bahwa dia adalah Luhan?"
Sehun tertawa pelan. Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Sudah jelas dari perkataannya yang terlihat begitu mengancam nyawa ku. Sebelumnya, Luhan hyung menyekap Suho hyung di garasi mobilnya dan aku berada disana. Aku juga melihat apa yang Luhan hyung lakukan kepada mu. Jadi, Luhan hyung mengancam akan membunuhku karena takut jika aku akan melaporkannya ke polisi."
"Kau berpikir bahwa Luhan takut kepada mu karena kau adalah saksi mata penyekapan Suho di garasi mobilnya sehingga Luhan pergi menemui dan mengancam untuk membunuh mu?"
Minseok terpaksa tertawa.
"Sehun, aku menghargai apa yang menjadi pendapat mu tentang Luhan barusan. Tapi bisa saja kan jika itu orang lain?"
Entah apa yang membuat Minseok tiba-tiba merasa tak suka jika Sehun menganggap Luhan telah mengancam untuk membunuh Sehun. Sisi dirinya tak terima mendengar Sehun berkata layaknya Luhanlah yang mengancam Sehun.
Sehun hanya diam memandang Minseok. Matanya terus berkedip memandang Minseok yang masih memasang wajah sedikit kesal.
"Maaf hyung jika itu membuat mu sedikit emosi." Sehun berucap sambil mengacungkan dua jari tangannya dengan nada manja.
Minseok langsung tertawa pelan. "Kita sebaiknya makan sekarang."
.
.
Pagi ini, Minseok dengan semangat berangkat ke sekolahnya. Selama perjalanan dia terus tersenyum dan itu membuatnya terlihat menawan. Minseok menyapa teman-temannya ketika dia melewati lorong sekolah atau berpapasan dengannya.
Dari jauh, Minseok melihat sosok Luhan sedang berjalan sendiri. Senyumnya semakin lebar dan berlari mendekati Luhan.
"Selamat pagi Luhan."
Luhan menoleh dan melempar senyum pada Minseok.
"Selamat pagi Minseok. Apa yang membuat mu terlihat begitu bahagia pagi ini?"
Minseok tertawa girang. Dia menaruh jari telunjuknya di bibirnya yang dia majukan.
"Shh. Ayo ikut aku. Aku akan mengatakannya kepada mu."
Kening Luhan mengerut. Wajahnya terlihat begitu penasaran. Minseok terus tertawa senang sambil menarik tangan Luhan untuk mengikutinya.
Minseok menghentikan langkahnya ketika mereka telah sampai di kolam renang outdoor yang berada di belakang sekolah. Nafas Minseok dan Luhan terdengar naik turun dengan cepat. Minseok menahan tawanya ketika dia melihat Luhan yang terlihat kelelahan. Dia menepuk lengan Luhan pelan lalu menyuruh Luhan untuk mengikutinya duduk di bangku penonton.
Minseok mengeluarkan botol minuman dari dalam tasnya lalu dia menyodorkan botol itu pada Luhan.
"Minumlah. Kau pasti haus."
Luhan tersenyum lalu dia mengambil botol air dari Minseok kemudian meminumnya.
"Well..apa yang ingin kau katakan pada ku Minseok?"
"Kemarin siang aku dan Lucas sedang membicakan sebuah kesepakatan."
"Kesepakatan? Apa maksud mu?"
Minseok berbalik dan menghadapkan tubuhnya pada Luhan.
"Aku bisa membantu mu untuk mengontrol Lucas yang ingin keluar."
Mata Minseok terlihat berbinar. Dia begitu bersemangat tapi tidak dengan Luhan. Wajah Luhan tidak menunjukan tanda-tanda jika dia senang dengan apa yang Minseok katakan barusan.
"Kau tidak suka jika aku membantu mu?"
"Tidak bukan begitu. Aku senang mendengarnya tapi pasti di balik itu Lucas meminta mu untuk melakukan sesuatu. Aku tidak ingin hanya kerena diri ku kau akan celaka."
Minseok tersenyum. Dia meraih tangan Luhan dan menggenggamnya.
"Kau tenang saja. Aku tidak akan celaka."
"Lalu apa maksud dari kesepakatan antara kau dan Lucas?"
"Aku akan memberitahukan apa yang Lucas ingin katakan pada ku."
Minseok melepaskan genggamannya. Dia berdiri lalu berjalan menuju pinggir kolam renang. Dia melihat pantulan dirinya di air kolam.
"Lucas mengatakan kepada ku bahwa dia tidak akan membunuh seseorang lagi jika aku mau menuruti permintaannya. Dia meminta agar setelah lulus sekolah nanti, aku harus ikut dengannya ke suatu tempat yang aku tidak tahu."
Minseok berbalik. Kedua tangannya dia masukan ke dalam saku. Minseok melihat Luhan yang masih diam mendengarkan ceritanya.
"Tapi aku tidak langsung percaya padanya. Aku juga mengajukan permintaan. Aku meminta selama libur musim panas nanti, dia harus memeriksakan dirinya ke psikiter dan melakukan rehabilitasi."
Luhan terkejut. Wajahnya mulai terlihat cemas.
"Dan Lucas menerima permintaan mu?"
"Dia menerimanya. Bahkan dia juga menyuruh ku untuk berada di sisinya selama rehabilitasi supaya lebih meyakinkan diri ku bahwa dia tidak akan membunuh seseorang lagi ketika ada kasus pembunuhan yang terjadi."
"Kau juga menerimanya?"
Minseok mengangguk. Dia berjalan menghampiri Luhan. Berdiri di depannya.
"Kau tidak usah cemas Luhan. Ini demi kebaikan mu juga."
"Mengapa kau lakukan ini? Mengapa kau peduli pada ku?"
Sebentar Minseok diam. Dia memilih untuk duduk di samping Luhan. Minseok menundukan kepalanya tanpa bisa menjawab pertanyaan Luhan. Minseok hanya diam memandangi sepatunya yang lebih begus daripada menjawab pertanyaan Luhan yang sama sekali tidak bisa dia jawab.
Perasaan aneh kini Minseok rasakan. Perasaan yang sama seperti semalam ketika dia dan Luhan sedang berbincang tentang perasaan Lucas terhadapMinseok.
"Minseok.."
"Aku tidak tahu harus menjawab apa dari pertanyaan mu Luhan."
"Apa aku harus melakukan apa yang Lucas lakukan pada mu agar aku juga berani menyukai mu?"
Minseok langsung menoleh. Wajahnya terkejut mendengar perkataan Luhan.
Luhan juga menoleh melihat Minseok sambil tersenyum.
"Jika kau memang berani menyukai ku, jadilah diri mu sendiri. Jangan samakan diri mu dengan Lucas. Aku akan membenci mu jika kau benar-benar membunuh seseorang."
Luhan menahan tawanya. Minseok mulai merubah raut wajahnya menjadi kesal. Mendengar perkataan Luhan yang ingin menjadi seperti Lucas membuat diri Minseok tak terima.
"Selama aku mengenal mu, ada tiga hal yang aku takutkan jika aku bersama mu Minseok."
"Apa itu?"
"Pertama, aku bertemu dengan mu dan aku takut menyukai mu. Kedua, aku menyukai mu dan aku takut mencintai mu. Dan ketiga, …"
Luhan menghentikan ucapannya. Dia menggeser tubuhnya untuk lebih dekat dengan Minseok.
"Ketiga, aku mencintai mu dan sekarang aku takut kehilangan dirimu."
Minseok dan Luhan saling berpandangan sebentar. Mata Minseok yang terus menerus berkedip membuat Luhan begitu ingin mencubit pipinya yang bulat. Tapi Luhan hanya memberikan sebuah senyum simpulnya.
Minseok langsung memalingkan wajahnya. Dia berdeham pelan. Minseok merasa kini dirinya terlihat bodoh lagi di depan Luhan. Tiba-tiba Minseok merasa kedua pipi terasa hangat hingga dia menyentuh kedua pipinya.
Kini Minseok mengumpat pada dirinya sendirinya. Mengapa aku harus merasakan perasaan aneh lagi padanya? Aku tidak suka ini! Sadarlah Minseok! Itulah yang terus Minseok utarakan dalam hatinya sekarang.
"Kau tidak apa-apa Minseok?"
"Aku tidak apa-apa Luhan. Aku..aku baik-baik saja."
Luhan memandang Minseok yang masih memalingkan wajahnya. Dia menahan tawanya sekuat dia bisa. Ingin rasanya Luhan tertawa karena memang Minseok terlihat begitu lucu dan menggemaskan sekarang.
Dengan berat hati, Luhan menggunakan telekinesisnya untuk membuat Minseok kembali melihatnya. Luhan tersenyum memandangi wajah Minseok yang telah menoleh kepadanya.
"Maaf Minseok aku tidak bermaksud membuat mu terkejut. Aku hanya ingin kau melihat ku sekarang."
"Aku sudah melihat mu dan bisakah kau hentikan telekinesis mu ini? Aku tidak akan memalingkan wajah ku lagi."
Luhan tertawa pelan. Minseok bisa bernafas sedikit lebih tenang sekarang tapi tetap saja debaran jantungnya tidak bisa kembali normal. Jantungnya terus berdebar cepat.
"Emm..so..emm.." Minseok menarik nafas dalam. Dia berusaha membuat dirinya setenang mungkin.
Minseok berdeham. "Kita lebih baik kembali ke kelas."
Minseok merasa suasana yang dia rasakan antara dia dan Luhan begitu canggung. Dia berusaha menampilkan senyumnya tapi yang ada hanyalah kesan menggelikan di mata Luhan. Minseok terlihat sangat lucu ketika dia sedang salah tingkah.
Luhan masih terus diam memperhatikan tingkah Minseok yang kelewat lucu baginya. Ketika Minseok akan berjalan, Luhan menahan tangannya.
"Kita kembali ke kelas bersama."
Minseok mengangguk dengan cepat. Dia masih merasakan kedua pipinya terus menghangat.
"Tapi sepertinya kau harus menghilangkan rona merah di wajah mu dulu."
Dengan cepat Minseok menatap Luhan tajam. Wajahnya sedikit kesal sekarang.
"Apa maksud mu?"
Luhan menarik tangan Minseok untuk mendekat padanya hingga wajah Minseok begitu dekat dengan Luhan.
"Lihatlah rona merah di pipi mu. Terlihat sangat jelas." Luhan menunjuk pipi Minseok dengan jarinya.
Wajah Minseok semakin terlihat kesal dan ada perasaan malu yang dia rasakan.
"Aku tahu Luhan tidak akan bersikap seperti ini kepada ku. Luhan tidak akan menggoda ku seperti ini. Lucas, aku tahu itu pasti kau!"
Desisan Minseok membuat Luhan ingin tertawa. Luhan mundur perlahan lalu sebuah tawa kencang terdengar. Luhan tertawa begitu keras sambil menahan perutnya yang sakit.
Minseok terkejut. Dirinya kini benar-benar kesal. Dia mengepalkan kedua tangannya menatap Luhan tajam.
"Apa yang sedang kau tertawakan Luhan? kau sedang mempermainkan ku?"
Luhan masih terus tertawa hingga Minseok memukul kepalanya keras untuk menghentikan tawanya. Luhan berdeham. Wajah Luhan terlihat begitu merah karena gelak tawanya yang kelewat kencang.
"Maafkan aku Minseok. Aku sejak tadi menahan tawa ku dan aku tidak bisa menahannya. Maafkan aku."
Ketika Luhan akan kembali tertawa Minseok dengan cepat menarik kepalanya dan memberikan sebuah kecupan singkat di bibir Luhan. Mata Luhan melebar merasakan kecupan yang Minseok di bibirnya.
"Setelah ini aku akan menyesali perbuatan ku."
Minseok menertawai dirinya sendiri mengapa dia bisa melakukan hal seperti itu kepada Luhan.
"Aku yang akan menyesal jika kau tidak melakukannya."
Kening Minseok mengerut. Detik selanjutnya Luhan berganti memberikan sebuah ciuman untuk Minseok. Sebentar mata Minseok melebar karena terkejut kemudian dia mulai tersenyum di sela-sela ciumannya bersama Luhan.
Rasa nyaman dan hangat mulai Minseok rasakan. Debaran jantungnya terus berdebar cepat tapi membuat dirinya terasa ringan tanpa ada perasaan mengganjal di hatinya sekarang.
.
.
Jam istirahat tiba. Sehun dan Minseok kini menikmati makan siang mereka di kantin. Sehun terus menerus memperhatikan Minseok yang sedang makan tanpa peduli dengan makanan yang ada di hadapannya sekarang.
Kedatangan Luhan yang tiba-tiba membuat Sehun menjadi kesal. Sehun tidak suka jika Luhan duduk di samping Minseok sekarang. Lalu Sehun semakin dibuat kesal ketika Luhan dan Minseok terlihat begitu akrab hingga tanpa disangka Sehun melukai tangannya sendiri ketika dia akan menusuk makanan dengan garpunya.
"Sehun, kau tidak apa-apa?"
Sehun memandang Minseok dan Luhan dengan wajah kesal. Dia berlari keluar dari kantin dengan tangan yang berdarah.
"Luhan, kita nanti bertemu lagi. Sekarang aku harus menyusul Sehun."
Minseok segera berlari menyusul Sehun. Luhan hanya diam memandangi pintu keluar kantin tanpa menunjukan ekspresi di wajahnya.
"Dia benar-benar menyebalkan. Seharusnya aku langsung melenyapkan anak itu."
Seringai mengerikan muncul di wajah Luhan yang tampan. Matanya menajam ketika dia melihat salah satu murid memandangnya terus. Senyum licik dia tampilkan. Luhan mulai berjalan menuju meja dimana murid itu terus melihatnya.
"Apa yang kau lihat? Apa kau ingin bermain dengan ku?"
Seringaian Luhan semakin terlihat mengerikan. Matanya yang cantik begitu tajam menatap seorang murid berkacamata di depannya sekarang. Luhan menarik kerah seragam murid tersebut untuk mengikutinya ke suatu tempat.
Luhan membawa murid itu masuk ke dalam rumah kaca dimana tempat semua tumbuhan lagkah di taman. Luhan mendorong tubuh murid itu dengan kasar hingga terjatuh.
"Kau tahu, ada seseorang yang begitu hebat dalam hal meracik sebuah racun yang dia ambil dari beberapa tamanan indah. Mungkin salah satu tanaman tersebut ada disini."
Luhan berjalan pelan mendekati murid itu. Sang murid yang ketakutan hanya bisa mundur kebelang sambil menangis.
"Apa kau tahu racun tanaman itu dia gunakan untuk apa?"
Sang murid menggeleng cepat. Luhan tertawa pelan sambil bertepuk tangan gembira.
"Dia menggunakan racun itu untuk membunuh seseorang."
Tawa Luhan semakin kencang kemudian berhenti dan memandang murid tersebut dengan tatapan menusuk. Wajahnya terlihat dingin tanpa ekspresi.
"Jika ada seorang saksi yang melihat pembunuhan secara langsung, apa yang akan di lakukan pembunuh tersebut untuk menghilangkan jejaknya?"
Lagi, murid itu hanya bisa menggeleng sambil terus menangis memohon pada Luhan untuk melepaskannya. Luhan berdecak tak suka.
"Kau sejak tadi tidak bisa menjawab pertanyaan ku. Sayang sekali kau tidak beruntung."
Dengan cepat Luhan menarik kursi kayu yang berada tak jauh dari belakang murid itu menggunaka telekinesisnya dan melemparkannya tepat di atas tubuh sang murid begitu keras.
Luhan berjalan menghampiri murid itu dan duduk berjongkok di sampingnya. Kemudian dia melepaskan kacamata sang murid dan membuangnya.
"Pembunuh itu harus membunuh saksi mata yang melihatnya ketika sedang membunuh orang."
Wajah sang murid begitu ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat dengan keringat membasahi wajahnya.
"Saksi mata harusnya mati agar dia tidak mengatakan hal yang sebenarnya kepada siapapun. Apa aku benar …" Luhan melirik sebentar name tag sang murid untuk melihat namanya. "Apa aku benar, Tao?"
Murid itu, Tao, mengangguk dengan pelan sambil menampilkan senyum yang terpaksa. Luhan berpura-pura terharu kemudian dia tertawa dan berdiri.
Mata Luhan melihat beberapa pecahan kaca tergeletak di lantai. Dia mengambil sebuah pecahan kaca tersebut dan kembali menghampiri Tao.
"Kau telah melihat apa yang aku lakukan pada mu. Seorang saksi mata harusnya mati, bukan?"
Luhan langsung menusukan pecahan kaca tepat di mata Tao secara berulang kali. Dia tidak peduli dengan jeritan memohon Tao untuk menghentikan aksinya menusuk matan Tao. Luhan membekap mulut Tao dengan tangannya dan kembali menusuk mata Tao terus menerus.
Setelah selesai, Luhan segera berdiri sambil terus menyeringai memandangi Tao yang menjerit kesakitan. Tao menyentuh kedua matanya dengan tangannya. Tubuhnya menggeliat tak tahan dengan rasa sakit di matanya.
"Itulah akibatnya jika kau melihat apa yang tidak seharusnya kau lihat."
Luhan mengambil satu pot bunga dan memukulkannya di kepala Tao. Dia mengambil pot bunga lagi sampai 3 pot dan memukulnya lagi di kepala Tao hingga Tao tak sadarkan diri. Luhan segera menyeret keluar tubuh Tao dari rumah kaca dan membawanya masuk ke dalam hutan yang berada tak jauh dari rumah kaca sekolah.
.
.
Di ruang kesehatan, seorang dokter sedang mengobati tangan Sehun yang terluka akibat tusukan garpu. Minseok yang berdiri terus memperhatikan Sehun dengan wajah khawatir. Dokter itu tersenyum pada Sehun dan Minseok.
"Lukanya tidak terlalu parah. Tusukannya juga tidak terlalu dalam. Nanti kau harus mengganti perbannya ketika selesai mandi."
Dokter itu tersenyum kembali sebelum dia berdiri dan melanjutkan tugasnya.
Minseok kini mendudukan dirinya di samping Sehun. Dia memperhatikan tangan Sehunyang telah di perban. Minseok menghela nafas sebentar lalu kembali memandang Sehun.
"Bagaimana kau bisa melakukan hal ini? Katakan kepada ku jika kau memang tidak bisa melakukannya dengan benar. Aku akan menyuapi mu."
Sehun menunduk sebentar melihat tangannya yang terluka kemudian dia menoleh melihat Minseok yang masih memandangnya.
"Maaf sudah membuat hyung khawatir. Aku tidak fokus ketika aku makan tadi."
"Apa yang membuat mu tidak fokus makan?"
Sehun tersenyum malu. Dia memalingkan wajahnya melihat ke arah jendela.
"Aku hanya kesal melihat kau dan Luhan hyung begitu akrab. I get jealous when someone else has your attention."
Sehun kembali menoleh melihat Minseok. Minseok hanya diam dan masih terus memandang Sehun. Detik berikutnya Minseok tertawa. Dia merasa Sehun kini tengah bercanda dengannya. Itu tidak akan mungkin terjadi seorang Sehun cemburu kepada Luhan karena Minseok tahu Sehun menyukai Luhan.
Sehun hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Lebih baik kau istirahat saja disini. Sepertinya kondisi mu sedikit terguncang karena insiden tusukan garpu itu."
Minseok mengacak rambut Sehun sebelum dia berdiri. Ketika Minseok akan pergi, Sehun menggenggam tangan Minseok.
"Aku tahu hyung bukan orang pertama yang telah membuat ku menjadi seperti sekarang. Tapi, aku mulai menyadari ketika aku terus melihat hyung tersenyum bersama ku, itu membuat diri ku juga ikut tersenyum. Merasakan kenyamanan yang belum pernah aku rasakan ketika aku dekat dengan orang lain."
Sehun menatap Minseok begitu tajam tapi terlihat sangat tulus.
"Aku ingin lebih dekat dengan mu, hyung. Waktu itu hyung pernah mengatakan kepada ku jika hyung menyukai ku dan sekarang aku akan memberitahukan jawaban ku."
"Sehun kau sal—"
"Aku menyukai mu hyung."
Mata Minseok melebar. Wajahnya sangat terkejut mendengar pengakuan perasaan Sehun kepadanya. Sebuah pemikiran yang tiba-tiba hadir dalam ingatan Minseok sekarang adalah ketika dia bersama dengan Luhan sedang berciuman tadi pagi. Minseok terus mengingat kejadian itu sekarang.
Minseok menggeleng cepat. Dia melepaskan genggaman tangan Sehun dan berlari keluar. Perasaannya kini campur aduk. Kini perasaan bingung mulai menyelimuti diri Minseok. Dia memegang dadanya sambil terus berlari menjauh dari gedung sekolah.
Nafas Minseok naik turun tak beraturan ketika dia berhenti di depan rumah kaca. Dia menoleh melihat rumah kaca yang terlihat sedikit menyeramkan baginya. Minseok mulai melangkah masuk ke dalam.
"Aku baru tahu jika ada tempat seperti ini di sekolah?"
Seketika pikirannya melupakan kejadian pengakuan Sehun kepadanya tadi. Dia terus melihat sekeliling rumah kaca itu dengan wajah penasaran.
Semakin masuk ke dalam ke rumah kaca itu, Minseok mulai merasa sedikit kenyamanan. Melihat beberapa bunga yang begitu indah di matanya. Tapi tiba-tiba rasa nyaman itu tergantikan oleh rasa terkejut ketika dia melihat ada beberapa pot bunga yang pecah dan juga kursi yang telah rusak.
Minseok berjongkok. Dia melihat ada tetesan darah di sekitar pecahan pot bunga. Keningnya mengerut memikirkan kejadian yang terjadi di rumah kaca ini.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Minseok langsung menoleh ke sumber suara. Matanya melebar terkejut melihat orang yang kini berdiri di hadapannya sekarang. Dengan seragam yang kotor dia membawa sebuah sekop di tangannya.
"Luhan…apa..apa yang baru saja kau lakukan? Seragam mu…"
"Luhan , Luhan, dan Luhan. Bisakah kau tidak menyebut namanya ketika kita bersama?"
Wajah Minseok semakin terkejut ketika dia menyadari orang yang sekarang ada di hadapannya adalah Lucas. Apakah dia baru saja membunuh seseorang? Pertanyaan itu kini berada di benak Minseok sekarang.
"Oh honey, bisakah kau mundur ke belakang? Aku ingin membersihkan pot-pot itu."
Minseok masih diam berdiri di tempatnya ketika Lucas telah berdiri di depannya sekarang. Minseok menatap Lucas penuh tanya.
"Aku bilang mundur ke belakang sayang."
Lucas terlihat tenang sambil menyunggingkan senyum manis pada Minseok tapi Minseok sama sekali tidak menghiraukan perkataan Lucas. Dia masih terus menatap Lucas dan kini tatapannya menajam meminta sebuah jawaban tentang maksud dari pecahan pot-pot ini.
Lucas menarik nafas. Wajahnya mulai terlihat kesal sekarang.
"Minseok aku bilang mundur ke belakang."
"Aku akan mundur ke belakang jika kau katakan kepada ku apa yang sebenarnya terjadi disini?"
Sebentar Lucas dan Minseok saling menatap tajam hingga Lucas menyerah dan memalingkan wajahnya. Dia menaruh sekop yang dia bawa dan menarik tangan Minseok untuk mengikutinya masuk ke dalam hutan.
Lucas melepaskan gandengan tangan Minseok ketika mereka telah sampai di tempat dimana Tao telah di kubur. Minseok terus menatap Lucas curiga. Wajahnya mulai kesal.
"Mengapa kau membawa ku kemari?"
Lucas hanya diam.
"Kau tidak membunuh orang lagi kan?"
Lucas terus diam.
"Hei Lucas jawab aku! Kau punya mulut untuk berbicara bukannya hanya diam!"
Lucas berdecak kesal. Wajahnya yang dingin melihat Minseok begitu tenang.
"Kau benar. Aku telah melakukannya."
Minseok dibuat terkejut kembali. Dia membekap mulutnya dengan tangannya sendiri. Minseok menggeleng tak percaya melihat Lucas sekarang.
"Lalu dimana orang yang kau bunuh sekarang?"
"Tepat di bawah kaki mu."
Minseok melihat ke bawah kakinya kemudian dia berjalan cepat menghampiri Lucas. Dengan segera Minseok memukul wajah Lucas keras. Minseok merasa marah dan kecewa. Mengapa dia harus percaya pada Lucas jika dia tidak akan membunuh orang lagi.
Minseok menarik kerah Lucas. Menatap Lucas penuh kebencian.
"Siapa yang kau bunuh?"
Lucas hanya tersenyum miring dan menatap Minseok dengan wajah tanpa dosa.
"Memiliki lingkar hitam di matanya, memakai kacamata, anak yang selalu sendirian tanpa teman."
"Tao?"
Minseok melepaskan cengkramannya dari kerah seragam Lucas. Dia menatap horror tempat dimana Lucas mengubur tubuh Tao berada. Minseok berjalan pelan menuju tempat dia berdiri tadi.
"Mengapa kau membunuhnya?"
"Seorang saksi harus di lenyapkan bukan?"
Minseok menoleh melihat Lucas dengan raut wajah tak suka mendengar jawaban Lucas.
"Kemarin kau berkata kepada, aku tidak akan membunuh lagi, tapi kau baru saja melakukannya. Lalu sekarang apakah aku harus percaya kepada mu?"
Minseok menghela nafas dalam. Dia masih tidak percaya dengan apa yang Lucas katakan jika dia benar membunuh Tao. Hari ini Minseok benar-benar merasakan perasaan yang begitu campur aduk antara bahagia, terkejut dan rasa kecewa.
"Minseok kau harus percaya pada ku. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi."
Minseok tertawa terpaksa. Rasanya begitu menggelikan mendengar Lucas mengucapkan janji seperti itu. Minseok berbalik menatap Lucas tak suka.
"If you want me to trust you, just be real and honest."
Kemudian Minseok berjalan meninggalkan Lucas sendirian dengan mata yang mulai basah dengan ar mata.
.
.
Sepulang sekolah, Minseok nampak lesu. Dia berjalan tanpa ada semangat. Dirinya ingin cepat-cepat pulang dan mengistirahatkan tubuhnya yang terlalu lelah dengan semua kejadian hari ini.
Tiba-tiba Minseok menghentikan langkahnya. Dia mendengar teman-temannya membicarakan kasus kematian Suho. Minseok segera menghampiri mereka dan ikut bergabung untuk mendengar lebih lanjut pembicaraan mereka.
"Kematian Suho berbeda dari kasus pembunuhan Kris dan Chanyeol. Ini lebih bisa dikatakan tidak terlalu mengerikan."
"Tidak mengerikan kata mu? Tubuhnya penuh dengan jahitan hingga mata dan bibirnya juga dijahit. Itu sangat mengerikan."
"Tapi tidak dengan tubuh yang terpotong-potong."
"Setidaknya begitu."
Minseok menggeleng pelan. Dia menarik nafas sebentar sebelum dia mengajukan pertanyaan pada teman-temannya.
"Apa kalian tahu penyebab kematian Suho?"
Teman-teman Minseok langsung menoleh pada Minseok.
"Teman ayah ku yang seorang polisi mengatakan pada ayah ku, penyebab kematian Suho karena dia telah di racun."
"Di racun? Bisakah kau katakan lebih jelas bagaimana dia di racun?"
Teman Minseok menggeleng pelan.
"Maaf aku tidak tahu soal itu."
"Ahh begitu. Baiklah aku pulang duluan."
Minseok menepuk pelan pundak salah satu temannya. Dia kembali berjalan dengan memikirkan tentang kasus pembunuhan Suho.
Di racun? Oleh siapa? Apakah ibu Suho sendiri? Mengapa dia di racun? Pertanyaan seperti itu terus berputar di pikiran Minseok.
.
.
Beberapa menit berlalu dan Minseok telah sampai di depan rumahnya. Ketika dia akan membuka pintu, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan dari Sehun muncul di layar ponselnya. Minseok menghela nafas berat. Dia tidak membuka pesan dari Sehun melainkan memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
Saat Minseok membuka pintu rumahnya, sebuha suara memanggil namanya. Suara yang Minseok kenal. Dia menoleh dan melihat ada seseoang yang sedang berdiri di depan rumahnya dengan senyum yang begitu manis.
Minseok begitu terkejut. Senyum lebar mulai tercetak di wajahnya sekarang. Dia berjalan cepat menghampiri orang itu dan memeluknya erat.
"Lay, aku merindukan mu."
…
