-Masa Kini-
Pukul 6 pagi, telfon rumah Minseok berdering. Tubuh Minseok yang masih setengah sadar begitu malas bangun untuk mengangkat telfon tersebut. Ketika dia mulai bangun dan akan mengangkatnya, telfon itu berhenti berdering. Minseok berdecak kesal. Dia memilih masuk ke kamar mandi membasuh mukanya dan menggosok gigi.
Keluar dari kamar mandi, telfonnya kembali berdering. Dengan segera Minseok langsung mengangkatnya.
"Hallo."
Tidak ada jawaban dari line sebrang. Hanya terdengar deru nafas yang begitu tenang.
"Hallo."
Kembali Minseok menyapa orang di line sebrang sana tapi tetap saja tidak ada suara yang menjawabnya. Minseok mulai kesal. Dia menghela nafas dalam.
"Aku akan menutup telfonnya jika memang ini hanya panggilan lelucon saja."
Ketika Minseok akan menaruh telfonnya, tiba-tiba orang dari line sebrang mulai berbicara. Minseok kembali menaruh gagang telfon di telinganya.
"Kau bicara apa?"
"Kita akan segera bertemu kembali."
Kening Minseok mengerut. "Kau siapa?"
Tiba-tiba panggilan terputus. Wajah Minseok terlihat begitu penasaran dengan seseorang yang menelfonnya sepagi ini. Dia menaruh gagang telfon itu kembali pada tempatnya lalu dia mulai membuat sarapan dan segelas kopi untuknya.
Ketukan pintu apartemen membuat Minseok harus menghentikan kegiatan sarapan paginya. Dia menaruh roti isinya kembali ke piring. Dia membuka sedikit pintu apartemen, mengintip siapa yang telah mengganggunya.
"Selamat pagi Tuan Kim. Maaf mengganggu mu pagi ini."
Mata Minseok sedikit melebar melihat ternyata sang wartawan yang telah datang mengunjunginya lagi. Minseok membuka pintunya dan mempersilahkan wartawan itu masuk.
"Kopi?"
"Boleh."
Minseok menaruh segelas kopi untuk sang wartawan di meja. Dia duduk di tempatnya dan kembali melanjutkan sarapannya.
"Kau bisa membuatnya sendiri." Minseok menunjuk roti dan selai yang telah tersedia di meja makan. Wartawan itu hanya tersenyum sambil mengucapkan terima kasih pada Minseok.
"Ini masih begitu pagi dan kau sudah berada disini untuk mendengar kelanjutan cerita ku." Minseok tertawa pelan sambil menggigit roti isinya.
Wartawan itu meneguk kopinya sebelum menjawab pertanyaan Minseok. Masih tanpa mengeluarkan suara apapun, dia mengeluarkan koran pagi ini dan menyerahkannya pada Minseok.
Mata Minseok membulat melihat topik berita yang sedang hangat di bicarakan sekarang. Dia mengambil koran itu dan melihat kembali gambar orang yang ada di koran tersebut.
"Aku yakin kau pasti mengenal orang yang ada di koran itu, Tuan Kim."
Minseok langsung menoleh melihat kearah telfon rumahnya. Matanya menyipit sebentar memikirkan siapa penelfon yang baru saja menelfonnya barusan.
"Sejak kapan berita ini dimuat? Semalam aku menonton berita tidak ada berita semacam ini."
Minseok menaruh koran yang di pegang dengan perasaan cemas yang tiba-tiba dia rasakan. Dia mengambil gelas kopinya kemudian berjalan di depan tv dan menyalakannya. Minseok begitu serius menonton berita yang sedang disiarkan di tv tersebut. Berita yang ada di koran pagi ini sedang ditayangkan.
"Ini tidak mungkin. Bagaimana dengan penjagaan disana? Seharusnya mereka bisa tahu jika ada salah satu pasiennya yang melarikan diri."
Minseok menaruh gelas kopinya di meja. Dia berjalan menuju balkon. Perasaan cemasnya semakin terasa begitu membuatnya takut. Tangannya mulai bergetar.
"Tuan Kim, kau tidak perlu khawatir. Dia tidak akan kemari mencari mu. Aku sudah menelfon beberapa polisi untuk berjaga-jaga di depan apartemen mu sekarang."
Minseok diam. Dia masih belum bisa membuat dirinya tenang.
"Jadi apakah kau bisa melanjutkan cerita mu?"
Minseok menoleh melihat sang wartawan. Matanya menatap sang wartawan begitu tajam hingga sang wartawan sedikit salah tingkah. Minseok kembali mengedarkan matanya ke depan. Dia mencoba memejamkan matanya sebentar berharap bahwa berita yang dia dengar hari ini hanyalah sebuah mimpi. Mimpi buruk baginya.
-Masa Lalu-
Di dalam kamar, Sehun terus menerus mengacak rambutnya kasar dan membanting ponselnya kesal. Semua panggilan dan pesan yang dia kirim kepada Minseok sama sekali tidak ada jawaban dari Minseok. Sehun membaringkan dirinya di ranjang dan menatap langit-langit kamarnya dengan mata yang hampir menangis. Pikirannya kini sedang memikirkan atas kesalahannya yang baru saja dia lakukan kepada Minseok. Kesalahan besar menurut Sehun.
"Aku seharusnya tidak mengakui perasaan ku kepadanya."
Sehun menggigit bibir bawahnya sekuat dia bisa hingga merobek bibirnya sendiri. Dia berdecak tak suka ketika dia merasakan darah mulai keluar dari bibirnya. Sehun bangkit dari ranjangnya dan melihat bibirnya di cermin.
"Apa yang baru saja aku lakukan?"
Sehun menghela nafas dalam. Dia langsung keluar dari kamarnya dan berjalan masuk ke salah satu kamar yang minim menerangan. Hanya ada sinar matahari yang menjadi sumber pencahayaan kamar itu melalui lubang ventilasi.
"Apa yang kau lakukan? Kau masih membuat racun lagi?"
Sehun berjalan pelan dan menyalakan lampu kamar. Matanya menatap seseorang yang sedang duduk memunggunginya sekarang. Orang itu tidak bergeming sama sekali.
"Mengapa kau harus melakukan hal itu? Bukankah aku sudah bilang jangan membuatnya terbunuh."
Orang itu melirik sebentar kearah Sehun kemudian melanjutkan apa yang sedang dia kerjakan.
Sehun berjalan berkeliling kamar sambil melihat-lihat beberapa tanaman yang menurutnya terlihat begitu menjijikan dimatanya.
"Aku tidak percaya kau bisa hidup dengan semua tanaman mematikan seperti ini."
"Aku hanya ingin melindungi mu. Dia yang membuatnya menjadi kacau hingga dia terbunuh."
Sehun menyeringai. Rasanya dia ingin tertawa mendengar apa yang baru saja dia dengar. Sehun berbalik dan memasukan tangannya ke saku celana.
"Jadi kau menyalahkan Suho hyung atas kematiannya sendiri? Kau jangan gila!"
"Bukankah aku memang sudah gila, brother."
Orang itu berbalik dan menatap Sehun dengan mata yang kelewat dingin. Sebentar mata Sehun melebar dan wajahnya tak suka melihat orang yang sekarang sedang menatapnya. Sehun menelan salivanya cepat. Dia berbalik dan berjalan menuju pintu.
"Aku peringatkan pada dirimu. Jangan sampai kau menyentuh Minseok hyung. Dan jika kau berani menemuinya, aku akan membunuh mu."
Setelah memberikan kata-kata ancaman untuk orang itu, Sehun langsung pergi meninggalkan kamar tersebut. Orang itu hanya menyeringai licik tanpa ada rasa takut yang dia rasakan terhadap ancaman Sehun.
"Kau tidak akan bisa membunuh ku, Sehun. Yang ada, kau yang akan mati."
Kembali orang itu menyeringai kemudian dia kembali melanjutkan apa yang sedang dia kerjakan.
.
.
Minseok terus menampilkan senyum manisnya ketika bersama Lay. Wajahnya yang begitu menggemaskan membuat Lay terus menatapnya. Minseok menghentikan kegiatannya menyiapkan makan siang ketika dia merasa tak nyaman dengan tatapan Lay. Minseok menarik kursi dan duduk melihat Lay yang masih saja menatapnya dengan senyum dimplenya yang khas.
"Mengapa kau terus menatap ku? apa ada yang aneh dengan diriku?"
Lay menggeleng. "Tidak. Hyung masih sama seperti dulu. Menggemaskan."
Minseok menggeleng tak percaya. Dia tertawa pelan lalu kembali berdiri dan menyiapkan makan siang mereka.
"Jadi kau telah menyelesaikan urusanmu di China? Apakah nanti kau akan kembali lagi kesana?"
"Aku tidak akan kembali. Aku akan menetap disini."
"Itu bagus. Aku akan membuat mu nyaman tinggal disini."
Lay menaruh sendok dan garpunya. Dia menatap sebentar kearah Minseok kemudian meneguk air minumnya. Wajahnya yang tadi terlihat tenang kini berubah sendu.
"Aku sudah mendengar berita kematian Kris dan juga kedua temannya, Chanyol dan Suho."
Minseok diam. Dia menunduk sebentar lalu melihat Lay.
"Pasti kau sangat sedih mendengar berita itu. Aku minta maaf tidak bisa menjaga Kris seperti janji ku kepada mu ketika kau akan pergi ke China dulu. Aku terus menyalahkan diri ku atas apa yang menimpa Kris dan juga kedua temannya."
Minseok meneguk air minumnya hinga habis. Perasaannya terasa sakit jika kembali mengingat kasus Kris, Chanyeol, dan Suho. Matanya ingin sekali mengeluarkan air mata tapi Minseok terus menahannya. Dia tidak ingin membuat pertemuannya dengan Lay bertabur dengan air mata kesedihan.
Minseok berdiri sambil membawa piring makannya ke dapur. Menaruhnya di wastafel. Kepalanya dia tundukan untuk menyembunyikan wajahnya yang ingin menangis.
"Tidak apa-apa hyung. Kau seharusnya tidak menyalahkan dirimu. Kematian mereka bukan kesalahan mu."
Minseok mengangkat kepalanya. Dia menatap Lay dengan mata yang telah berair.
"Tapi aku telah mengingkari janji ku kepada mu Lay. Aku tidak bisa menjaga Kris dengan baik."
Lay berjalan menghampiri Minseok. Dia menarik pelan tubuh Minseok dan memeluknya untuk memberikan ketenangan bagi Minseok. Lay mengelus punggung Minseok pelan sambil berucap menyuruhnya untuk berhenti menangis.
Minseok menghapus air matanya. Dia tersenyum malu melihat Lay yang kini tertawa pelan.
"Maafkan aku. Tidak seharusnya aku menangis disaat kedatangan mu seperti ini."
"Tidak apa-apa hyung."
Lay menarik tangan Minseok menuju kursi sofa. Dia kembali ke dapur dan mencari minuman kaleng yang ada di kulkas. Setelah menemukan minuman tersebut, dia kembali menghampiri Minseok dan memberikan minuman kaleng kepadanya.
"Lay, aku ingin menanyakan sesuatu kepada mu."
"Tanyakan saja hyung."
Minseok kini terlihat lebih tenang. Dia tersenyum sebentar kepada Lay sebelum dia bertanya. Pikirannya mulai teringat tentang percakapannya dengan teman sekolahnya terkait kasus kematian Suho.
"Kau begitu menyukai bunga. Apakah ada bunga yang memiliki racun tertentu yang bisa membuat nyawa seseorang itu mati?"
Lay mengerutkan keningnya sebentar. Terlihat wajahnya yang sedang berpikir tentang pertanyaan Minseok.
"Tentu ada hyung. Ada bunga yang memiliki racun mematikan. Beberapa bunga terlihat cantik dari luar tapi di dalamnya mereka dapat membunuhmu."
"Apakah kau tahu jenis bunga beracun itu?"
"Aku tidak begitu hafal. Nanti aku akan memberitahu mu jika aku mengingatnya. Apa sekarang hyung tertarik dengan tanaman? Mengapa kau menanyakan tentang bunga beracun?"
Minseok tertawa.
"Yahhh aku..aku memang akhir-akhir ini sedang tertarik dengan bunga."
"Tapi hyung harus berhati-hati jika menanam tanaman seperti itu, bisa saja nyawa hyung yang melayang."
Minseok terkejut. Dia memukul lengan Lay kuat. Lay langsung tertawa melihat reaksi Minseok yang begitu terkejut dan kesal.
.
.
Malam harinya Lay menginap di rumah Minseok. Mereka berbincang-bincang menceritakan kisah masa lalu mereka bersama dengan Kris dan kedua temannya hingga tanpa sadar waktu telah menunjukan pukul setengah 12 malam. Minseok langsung menyuruh Lay untuk tidur di kamarnya. Sebelum Lay masuk ke dalam kamar, dia berbalik dan bertanya sesuatu pada Minseok.
"Minseok hyung, apa sekarang ada seseorang yang sedang mendekati mu?"
Minseok langsung menoleh. Sedikit terkejut mendengar pertanyaan Lay. "Emm..apa aku harus menjawabnya?"
"Jika hyung tidak menjawabnya aku tidak akan bisa tidur nyenyak."
Lay mengangkat bahunya kemudian dia berbalik masuk ke dalam kamar.
"Ada orang yang sedang mendekati ku tapi aku tidak tahu harus bersikap seperti apa kepada mereka."
Lay langsung kembali berbalik. Senyumnya mengembang begitu lebar hingga dimplenya terlihat sangat ketara.
"Mereka? apakah ada lebih dari satu yang mendekati mu?"
"Lebih tepatnya dua orang."
Senyum manis Lay tercetak di wajahnya yang tenang. Dia mengangguk mengerti. "Ahh begitu. Terima kasih sudah menjawab pertanyaan ku. Selamat malam hyung."
Minseok menggeleng sambil tertawa pelan. "Selamat malam Lay." Minseok kemudian berjalan masuk ke salah satu kamar kosong milik orang tuanya. Dia membaringkan tubuhnya di ranjang dan mencoba untuk menutup matanya. Pikirannya tentang semua kejadian antara Luhan, Sehun dan dirinya membuat Minseok sulit untuk membuat dirinya tenang.
Minseok membuka matanya. Dia menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat tidur sambil menutup kedua matanya kembali.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Minseok membuka matanya kembali. Sebentar dia melihat pada salah satu foto kedua orang tuanya yang sedang memeluknya waktu kecil. Senyum tipis muncul di wajah Minseok.
"Aku merindukan kalian."
Minseok menghela nafas dalam. Dia mengambil ponselnya dan melihat semua pesan yang Sehun kirim. Ketika dia terlalu fokus membaca pesan dari Sehun, ponselnya langsung berdering dan itu membuat Minseok terkejut.
Nama Luhan terlihat di layar ponsel Minseok. "Mengapa dia menelfon ku tengah malam begini?" Minseok berdecak kesal. Dia menarik nafas sebentar lalu mengangkat panggilan dari Luhan.
"Ada apa Luhan?"
"Ada saksi yang melihat ku saat aku membunuh ibu ku dan saksi itu berada dekat dengan mu. Apakah aku benar honey?"
Mulut Minseok menganga lebar. Matanya membulat terkejut mendengar ucapan Luhan. Sebentar deru nafasnya berhenti.
"Ap..apa..maksud ucapan mu Luhan?"
"Kau tahu persis apa maksud ucapan ku dear. Dia harus segera dilenyapkan."
Minseok menelan salivanya cepat. Dia mulai menggigit kuku ibu jarinya. Rasa cemas mulai Minseok rasakan.
"Kau sudah berjanji kepada ku untuk tidak membunuh orang lagi. Kau tidak akan membunuhnya."
"Ohh ayolah sweetheart, apa kau ingin melindunginya? Untuk apa?"
"Karena…" suara Minseok terdengar bergetar. Keringat mulai muncul di keningnya. "Karena aku mencintainya." Minseok langsung membekap mulutnya sendiri. Dia menggeleng cepat.
"Ucapkan selamat tinggal pada orang yang kau cintai itu Minseok. Besok pagi kau akan mendengar berita tentang kematiannya."
Sambungan telfon langsung terputus. Minseok kembali menelfon Luhan tapi tidak ada jawaban darinya. Minseok semakin merasa cemas dengan keadaan Sehun sekarang. Dia segera menelfon Sehun dan sialnya nomor Sehun tidak aktif. Perasaan khawatir Minseok pada Sehun semakin tinggi. Dia memutuskan untuk bangun dari ranjangnya dan mengambil hoodienya lalu keluar dari rumah dengan tergesa-gesa.
.
.
Sampainya di depan rumah Sehun, Minseok melihat sekeliling rumah Sehun yang sepi tanpa ada orang yang mencurigakan terlihat. Minseok masih merasa cemas. Dirinya kini tidak akan membiarkan Luhan membunuh orang lagi.
"Apa yang kau lakukan di depan rumah ku?"
Minseok langsung menoleh mendengar suara seseorang. Dia berbalik melepaskan topi hoodienya. Matanya melebar ketika dia melihat orang yang ada di depannya.
"Sehun."
Minseok segera memeluk orang yang ada di depannya dengan erat. Orang itu memasang wajah datar tanpa melakukan pergerakan apapun. Minseok melepaskan pelukannya dan menatap wajah orang yang ada di depannya sekarang.
"Kau tidak apa-apa Sehun? Apa ada orang yang melukai mu? Kau darimana? Tidak ada orang yang mengikuti mu kan?"
Orang itu menatap Minseok tak mengerti. Sebentar keningnya mengerut mendengar pertanyaan aneh Minseok lalu dia sadar bahwa orang yang ada di hadapannya sekarang adalah orang yang dia cari.
"Ahh…kau pasti Minseok hyung. Akhirnya aku bertemu denganmu."
Kening Minseok mengerut tak mengerti. "Kita tiap hari bertemu, Sehun."
Orang itu memiringkan kepalanya. Dia menyeringai sebentar lalu menatap Minseok dingin.
"Kau kemari membawa kekasih mu hyung."
Di belakang Minseok, kini Luhan sedang berdiri dengan tampang kesal. Dia langsung membuat tubuh Minseok menyingkir membentur tembok pembatas rumah dengan menggunakan telekinesisnya.
Luhan dengan segera mengambil tali dari dalam tasnya dan melilitkannya ke leher orang yang berdiri di depannya sekarang menggunakan telekinesisnya.
Luhan merentangkan kedua tangannya untuk menahan tubuh Minseok agar tidak bergerak dan tangan satunya dia gunakan untuk mengendalikan tali yang terus melilit semakin kuat di leher orang yang berada di depannya.
"Lucas! Heii Lucas hentikan! Sehun bisa mati!"
Kekuatan telekinesis Luhan semakin kuat ketika Minseok menyebut nama Sehun. Dia tidak peduli dengan apa yang Minseok katakan sekarang. Matanya terus menatap orang asing yang ada di depannya dengan tajam. Sebuah pisau tiba-tiba keluar dari dalam tas yang Luhan bawa dan dia dengan cepat mengendalikan pisau tersebut bergerak tepat di mata kiri orang asing itu.
"Lucas, jangan lakukan! Kau sudah berjanji kepada ku tidak akan melakukannya lagi."
Beberapa detik Luhan menahan diri untuk tidak menusuk mata orang asing itu hingga akhirnya dia memasukan pisau tersebut kembali ke dalam tas. Luhan juga merenggangkan lilitan tali yang ada di leher orang asing itu. Perlahan tubuh Minseok mulai bisa dia gerakan kembali.
"Kau selamat bocah. Tapi lain kali aku tidak akan membiarkan mu hidup."
Minseok langsung menghampiri orang yang dia anggap sebagai Sehun. Wajahnya penuh dengan kekhawatiran melihat keadaan orang itu.
"Sehun, kau tidak apa-apa?"
Luhan dengan cepat menarik Minseok pergi dari tempatnya. "Ayo kita pergi." Minseok meronta dalam gandengan tangan Luhan. Dia merengek meminta agar Luhan melepaskannya dan itu membuat Luhan semakin tak bisa menahan emosinya sejak tadi hingga akhirnya dia menampar keras pipi Minseok.
"Sadarlah Minseok! Dia bukan Sehun!"
Minseok menatap Luhan tak percaya. Tubuhnya lemas. Kini Minseok mulai menangis. Luhan menghela nafas dalam dan kembali melanjutkan perjalanannya sambil menarik Minseok. Dari kejauhan Minseok menoleh melihat sosok yang masih terus berdiri di depan rumah Sehun.
.
.
Luhan mengantar Minseok sampai ke rumahnya. Minseok masih terisak pelan. Luhan menarik nafas dalam. Dia menoleh melihat Minseok yang masih tak bisa menghentikan isakannya.
"Aku minta maaf Minseok. Aku tidak bermaksud untuk benar-benar menampar mu tadi. Aku hanya ingin membuat mu sadar jika orang itu bukan Sehun seperti yang kau lihat."
"Pergilah Lucas. Aku tidak ingin melihat mu."
"Sekalipun aku ini Luhan kau tetap menyuruh ku untuk pergi?"
Minseok langsung menoleh melihat Luhan. Matanya yang merah menatap tajam Luhan penuh kemarahan.
"Bahkan sekarang aku tidak tahu apakah kau ini adalah Lucas atau Luhan. Pergilah."
Minseok berjalan pelan masuk ke dalam rumahnya. Luhan hanya bisa menghela nafasnya melihat Minseok yang meninggalkannya sekarang.
.
.
Pagi harinya, Lay mendapati Minseok yang telah bangun terlebih dahulu. Dia tersenyum menyapa Minseok yang sedang membuatkan sarapan untuk mereka. Lay berjalan menuju pintu rumah dan keluar untuk mengirup udara segar. Keningnya mengerut ketika dia melihat ada seseorang yang sedang duduk bersandar di depan pagar rumah.
"Hei kau siapa? Mengapa kau ada di depan rumah ini?"
Ternyata seorang Luhan tidak kembali ke rumahnya dan hanya menunggu Minseok semalaman di depan rumah Minseok. Rasa bersalahnya membuat Luhan begitu ingin bertemu dengan Minseok namun dia tahu pasti Minseok tidak ingin bertemu dengannya. Luhan masih terus berusaha untuk membuat Minseok selalu mengerti dengan posisinya sekarang.
"Apa Minseok sudah bangun?"
"Ahh kau teman Minseok hyung. Masuklah. Minseok hyung sudah bangun."
Lay tersenyum dan menyuruh Luhan untuk mengikutinya masuk ke dalam rumah.
Mata Minseok melebar dengan wajah yang begitu terkejut melihat Lay membawa Luhan masuk ke dalam rumah. Dia langsung menaruh piring berisi sarapannya dengan Lay di meja makan tanpa berbicara. Dia hanya bisa menatap tak percaya melihat Lay yang tersenyum mempersilahkan Luhan untuk bergabung dengannya di meja makan.
"Hyung, lihatlah teman mu. Dia begitu kasihan menunggu mu di luar rumah. Dia mencari mu."
Tangan Minseok mengepal keras menahan perasaan emosinya yang mulai muncul. Luhan hanya bisa tersenyum terpaksa sambil mengelus lehernya. Suasana di ruang makan begitu terasa canggung.
"Tadi kau bilang nama mu adalah Luhan."
Luhan mengangguk pelan.
Minseok masih terus menatap Luhan dengan tajam. Dia melirik sebentar kearah tas ransel yang dibawa Luhan. Pikirannya kembali mengingat kejadian semalam. Minseok langsung menggeleng cepat dan kembali melanjutkan kegiatannya menyiapkan sarapan pagi.
Lay mempersilahkan Luhan untuk duduk dan bergabung bersama dengannya dan Minseok untuk sarapan. Luhan menggeleng pelan. Matanya terus melihat Minseok. Dia ingin sekali berbicara dengannya sekarang.
Lay yang melihat sikap aneh antara Luhan dan Minseok, dia segara berdiri dari kursinya.
"Minseok hyung, sepertinya aku ingin membeli sesuatu di supermarket. Aku pergi dulu."
Minseok langsung berbalik. Dia memanggil nama Lay agar Lay tidak pergi meninggalkannya dengan Luhan. Minseok menghela nafas lelah. Lay benar-benar membuatnya terkurung bersama dengan Luhan di rumahnya.
Minseok langsung melihat Luhan yang masih terus menatapnya. Dia tersenyum kesal mendapati Luhan yang masih saja melihatnya dengan wajah yang dibuat kasihan. Minseok berjalan menuju ruang tv dan duduk di sofa. Dia menyandarkan tubuhnya yang lelah di sandaran sofa sambil menutup matanya.
"Bukankah aku sudah mnyuruh mu untuk pergi?"
Luhan menunduk. Dia hanya diam.
"Apakah semalam kau menunggu ku di luar rumah sampai pagi ini?"
Luhan menghampiri Minseok dan duduk di sampingnya.
"Seperti yang kau bilang tadi. Aku menunggu mu semalaman hingga pagi ini."
Minseok tertawa pelan. Dia membuka matanya. Kepalanya dia miringkan untuk melihat kearah Luhan.
"Aku minta maaf Minseok. Aku sungguh menyesal telah menampar mu."
"Kau berbicara sebagai Lucas atau Luhan?"
"Aku berbicara sebagai Luhan dan aku meminta maaf atas apa yang telah Lucas lakukan kepada mu. Lucas bagian dari diri ku dan itu sama saja bahwa aku juga telah malakukannya."
Luhan menunduk. Dia menyembunyikan wajah sedihnya.
"Jelaskan kepada ku apa maksud dari kejadian semalam. Aku akan memaafkan mu jika kau mengatakan semua yang Lucas ketahui. Sampai sejauh mana dia tahu tentang saksi mata pembunuhan yang telah dia lakukan."
Luhan mengangkat kepalanya.
"Untuk sekarang, biarkan aku yang membuat dirimu tenang Minseok. Tenangkan pikiran mu agar kau tidak tertekan dengan semua masalah yang telah Lucas lakukan."
Minseok dan Luhan saling memandang sebentar. Mata Minseok tak bisa menipu jika dia ingin sekali menangis melihat wajah Luhan yang sangat menyedihkan. Luhan tersenyum miris sambil menyentuh pipi Minseok yang dia tampar semalam.
"Aku hanya ingin melindungi mu Minseok."
Minseok tak bisa menahan air matanya lagi. Dia mulai menangis.
Luhan segera menghapus air mata Minseok dan menarik tubuh Minseok untuk memberikan pelukan padanya. Luhan memeluk Minseok erat sambil mengelus rambut Minseok pelan untuk menenangkannya.
Selang beberapa menit, Minseok mulai berhenti menangis. Dia tidak mau melepskan pelukan Luhan meskipun Luhan menariknya pelan untuk melepaskannya. Luhan hanya tersenyum tipis dan masih mengelus rambut Minseok pelan.
"Maaf aku selalu membuat mu menangis. Setiap kau bersama ku, aku tidak bisa membuat mu bahagia. Aku hanya bisa memberikan kesedihan kepada mu. Aku sudah terlalu sering membuat mu kecewa."
Minseok menggeleng pelan dalam pelukan Luhan lalu dia mendongak melihat Luhan.
"Ketika kau menyentuh pipi ku tadi, aku melihat masa depan mu begitu suram jika Lucas masih terus ada bersama mu. Hidup mu akan berakhir di tempat yang tidak ingin kau tuju. Lucas benar-benar membuat hidup mu kacau. Aku tidak ingin hal itu terjadi kepada mu."
Luhan tersenyum. Dia mengusap pipi Minseok pelan.
"Terima kasih telah mengkhawatirkan hidup ku Minseok."
"Jika aku bisa membantu mu menyingkirkan Lucas, masa depan mu pasti akan bisa dirubah."
"Kau bisa membantu ku."
"Bagaimana caranya?"
Luhan mendekatkan wajahnya pada Minseok dan menarik menarik dagu Minseok.
"Teruslah berada di samping ku. Selamanya jangan pernah meninggalkan ku."
Kemudian Luhan mencium bibir Minseok dengan lembut. Minseok berkedip sebentar lalu dia menutup matanya perlahan. Dia begitu menikmati ciuman Luhan yang dirasa telah membuat dirinya nyaman.
Minseok menarik wajah Luhan semakin mendekat padanya. Dia membalas ciuman Luhan. Minseok terlalu nyaman dengan ciuman mereka berdua hingga mereka enggan untuk melepaskan pagutan bibir mereka. Tapi dibalik ciuman tersebut, kini seseorang telah terbakar dengan perasaan cemburu yang begitu menyakitkan hatinya. Perasaan sakit hati yang dia rasakan ketika melihat Minseok dan Luhan sedang berciuman membuat dirinya ingin sekali memisahkan keduanya, namun dia memilih untuk pergi keluar dari rumah Minseok dan menahan gejolak emosi yang tidak bisa dia terima.
"Sudah lebih baik?"
Minseok mengangguk malu. "Aku sudah merasa lebih baik sekarang."
Luhan mengelus rambut Minseok pelan. "Baguslah. Kau terlihat lebih fresh."
Minseok tertawa pelan. Dia merasa wajahnya begitu hangat. Pasti rona merah telah keluar di kedua pipinya sekarang.
"Aku ke kamar mandi dulu."
Luhan berjalan menuju kamar mandi dengan wajah yang bahagia. Minseok terus memperhatikan punggung Luhan berjalan ke arah kamar mandi dengan perasaan gugup. Dia mengibaskan kedua tangannya di wajahnya dengan senyum yang terus mengembang.
Mata Minseok melihat tas Luhan yang berada di lantai. Dia segera mengambil tas itu dan membukanya. Minseok terbelalak melihat isi tas Luhan. Ekspresi wajahnya berubah menjadi begitu bertanya-tanya dengan apa yang telah Luhan lakukan semalam setelah kejadian di depan rumah Sehun.
Minseok segera menyalakan tv dan mencari siaran berita yang sedang menayangkan berita tentang kasus pembunuhan yang baru saja terjadi. Minseok menggeleng tak percaya dengan apa yang di dengar.
"Minseok sayang, apa yang sedang kau tonton?"
Minseok menoleh menatap Luhan begitu tajam. Tangannya kini sedang memegang jaket milik Luhan. Luhan begitu terkejut mendapati Minseok yang membawa jaketnya sekarang. Dia langsung melihat ke arah tasnya yang isinya telah dikeluarkan oleh Minseok.
"Sekarang jelaskan semuanya kepada ku."
"Menjelaskan apa?"
Minseok berdecak kesal. Dia melempar jaket Luhan kearah Luhan sendiri.
"Apa yang telah kau lakukan pada Baekhyun dan Kyungsoo semalam?"
Luhan semakin tak bisa menyembunyikan rahasia yang sedang dia sembunyikan dari Minseok. Tentu saja Minseok tahu apa yang telah Luhan lakukan semalam hanya dengan menyentuh jaket Luhan dan beberapa barang yang ada di tasnya. Minseok hanya ingin Luhan sendirilah yang mengatakan semuanya. Dia hanya ingin Luhan jujur kepadanya.
"Lucas, aku tahu ini kau. Kau membuat hidup Luhan begitu menyedihkan. Mengapa kau tega melakukan hal yang begitu keji disaat Luhan tidak ingin melakukannya?"
Lucas menaruh jaketnya. Dia mencoba mendekati Minseok dengan membuat wajahnya sebisa mungkin terlihat polos.
"Aku hanya melampiaskan kekesalan ku pada mereka berdua karena aku tidak bisa membunuh orang yang kau anggap sebagai Sehun. Tolong maafkan aku honey. Hasrat ku untuk membunuh orang itu terlalu tinggi hingga aku tidak bisa mengendalikannya."
Minseok terpaksa tertawa mendengar apa yang baru saja Lucas katakan. Dia menatap Lucas tajam.
"Kau ingin membunuh Sehun karena aku mencintainya atau karena dia adalah saksi mata ketika kau membunuh ibumu sendiri?"
"Keduanya."
Lucas menarik Minseok dan memeluk pinggangnya. Dia mendekatkan wajahnya pada Minseok hingga hidung mereka berdua saling bersentuhan.
"Dengar Minseok, aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin ada orang lain yang menghalangi semuanya termasuk orang yang kau sukai."
Minseok memundurkan kepalanya. Dia membuat posisi tubuhnya menjauh dari Lucas meskipun Lucas masih memeluk pinggangnya.
"Jika memang kau sangat mencintai ku, kau harus percaya kepada ku. Jangan membunuh Sehun. Biar aku yang akan menyelesaikan masalah itu dengannya."
Lucas menyeringai. Dia melepaskan pelukannya dan berjalan mengambil jaketnya. Dia mengemasi semua barang-barangnya masuk ke dalam tas.
"Jangan mencampuri urusan ku dengan Sehun. Kau tidak tahu apa-apa."
Lucas bersiap untuk pergi dari rumah Minseok. Dia melihat Minseok sebentar sebelum dia berjalan menuju pintu rumah namun Minseok segera menarik lengan Lucas untuk menahannya agar tidak pergi.
"Maaf jika aku sudah mencampuri urusan mu tapi, aku akan melindungi teman-teman ku semampu yang aku bisa. Dan aku pastikan kau akan menghilang selamanya dari pandangan Luhan."
Lucas memberikan senyum manis pada Minseok. Dengan pelan Lucas melepaskan tangan Minseok.
"Well jika memang itu yang ingin kau lakukan, lakukan saja. Tapi, jangan salahkan diri ku jika nanti Luhan akan pergi meninggalkan mu selamanya."
Senyuman Lucas semakin lebar. Dia menepuk kepala Minseok pelan sebelum dia pergi dari rumah Minseok. Tangan Minseok mengepal kuat dengan tatapan penuh kekesalan melihat Lucas yang berjalan keluar dari rumahnya.
…
