Malam hari dimana setelah Minseok menyuruh Luhan untuk pergi, dia memilih untuk duduk di depan rumah Minseok sambil memandangi jendela kamar Minseok. Perasaannya saat ini begitu campur aduk antara marah dan sedih.
Di depan rumah Minseok itulah, Luhan juga terus melawan Lucas yang selalu ingin keluar mendominasi tubuhnya untuk kembali menyerang orang asing yang telah Lucas lawan. Luhan menangis. Dia menggeleng tak ingin agar Lucas kembali keluar.
Saat Luhan mulai larut terlalu dalam dengan perasaan bersalahnya pada Minseok, saat itu juga Lucas dengan sekuat tenaga langsung keluar dan mendominasi tubuh Luhan kembali.
"Jangan melawan ku dengan tubuh lemah mu Luhan. Aku tahu apa yang menjadi kelemahan mu."
Lucas berdiri. Dia melihat sebentar kearah jendela Minseok kemudian dia berjalan menembus gelapnya malam dengan seringainya yang mengerikan.
Dalam perjalanannya menuju rumah Sehun, Lucas mendengar suara orang yang sedang tertawa. Dia segera menghampiri sumber suara tersebut dengan semangat. Senyumnya begitu lebar ketika melihat ada dua orang remaja sedang berjalan santai. Lucas langsung mengayunkan tangannya untuk menghentikan gerakan kedua remaja itu.
Lucas berjalan menghampiri kedua remaja yang kini tidak bisa menggerakan tubuh meraka sendiri. Lucas menyeringai bahagia melihat wajah kedua remaja itu yang begitu ketakutan. Segera Lucas memukul kedua kepala mereka berdua dengan botol kaca yang ada di pinggir jalan hingga mereka tak sadarkan diri.
Dalam gudang yang kosong, Lucas membawa kedua remaja tersebut masuk ke dalam sana. Mengikat tubuh mereka di tiang kayu. Salah satu remaja itu mulai tersadar. Matanya yang bulat begitu terkejut mendapati dirinya berada di tempat asing dengan tubuh yang terikat.
"Heii! Kau siapa? Lepaskan aku!"
Lucas menoleh melihat pada remaja bermata bulat. Wajahnya datar dengan mata yang dingin. Dia berjalan menghampirinya dengan membawa pisau di tangannya. Wajah remaja itu begitu takut. Deru nafasnya semakin cepat ketika Lucas telah berada di hadapannya.
Lucas tersenyum. Dia menjambak rambut remaja bermata bulat sambil menepuk pipinya pelan.
"Kau menjadi yang pertama untuk bermain dengan ku."
Lucas merogoh semua saku celana remaja itu dan mengambil dompetnya. Dia melihat kartu identitas milik remaja itu sambil menahan tawanya.
"Do Kyungsoo. Ternyata kau satu sekolah dengan ku. Apa kau mengenal ku? Tidak. Ohh sayang sekali kau tidak mengenal ku."
Lucas menggelang sambil melempar dompet Kyungsoo. Detik berikutnya Kyungsoo menjerit keras dan memanggil nama temannya yang berada di sampingnya.
"Baekhyun bangunlah!"
Lucas tertawa remeh. Dia mengambil sapu tangan dari dalam tasnya dan memasukannya ke dalam mulut Kyungsoo.
"Suaramu membuat telinga ku sakit."
Kyungsoo mulai menangis. Wajahnya yang ketakutan membuat Lucas tertawa.
"Kyungsoo, apa yang terjadi? Ini dimana?"
Lucas menoleh melihat teman Kyungsoo yang telah sadar. Dia mendekatkan dirinya pada Kyungsoo dan berbisik padanya.
"Sepertinya aku merubah pikiran ku. Kau akan menjadi penonton agar kau bisa melihat apa yang akan aku mainkan dengan teman mu itu."
Kyungsoo menggeleng cepat. Dia menjerit sebisa mungkin tapi suara jeritannya tidak akan menyeruak keluar karena sapu tangan yang membekap mulutnya. Tangis Kyungsoo semakin menjadi. Tubuhnya dia goyangkan terus menerus mencoba mungkin saja ikatan tali ditubuhnya akan terlepas.
"Aku harus berbuat apa dengan mu? Wajah mu begitu manis."
Baekhyun hanya memandang Lucas dengan wajah takutnya. Dia tak berani mengeluarkan suara apapun. Rasanya seperti ada sesuatu yang tersangkut di tenggorakannya sehingga dia tidak berani untuk menjerit seperti yang Kyungsoo lakukan.
"Jangan melihat ku dengan wajah seperti itu. Aku paling tidak suka jika ada orang yang melihat ku layaknya mereka tahu apa yang aku lakukan."
Lucas tersenyum pada Baekhyun. Dia mengelus pipi Baekhyun pelan kemudian menjambak rambutnya dengan kuat. Seketika itu suara jeritan kesakitan Baekhyun keluar.
"Jika kau masih melihat ku dengan mata mu itu, aku akan membuat mu tak bisa melihat dunia ini lagi."
Baekhyun menggeleng cepat.
"Kau ingin tahu bagaimana aku melakukannya?"
Baekhyun terus menggeleng tak mau. Matanya dia tutup serapat mungkin dengan air mata yang mulai keluar.
Senyum Lucas semakin lebar yang membuatnya tampak mengerikan. Lucas mengayunkan tangannya kearah tasnya dan mengeluarkan dua pisau. Dia memaksa Baekhyun untuk melihat kearah Kyungsoo. Mata Baekhyun yang masih menutup tak mau melihat apapun. Lucas membenturkan kepala Baekhyun ke tiang kayu dengan keras untuk membuat Baekhyun mau membuka matanya.
Lucas menggeleng pelan. Baekhyun tetap tak mau membuka matanya. Dia berdecak kesal dan melepaskan tangannya dari rambut Baekhyun. Dia menurunkan pisau yang melayang diatas tasnya.
Lucas berjalan menghampiri Kyungsoo. Wajahnya mulai tak bisa menampilkan senyuman lebar lagi. Lucas sudah tidak ingin bermain lagi dengan mereka berdua. Matanya menatap tajam Kyungsoo yang melihatnya dengan wajah ketakutan.
"Aku tidak suka bermain begitu lama. Sekarang aku akan melakukannya."
Kedua tangan Lucas mengepal kuat. Wajahnya begitu dingin dengan mata yang penuh kemarahan. Dia membuat kedua pisau yang ada di tasnya melayang dan terbang dengan cepat menusuk kedua mata Baekhyun yang masih menutup.
Layaknya melempar batu ke dalam air, Lucas kembali melayangkan pisau yang ada di mata Baekhyun menuju ke perutnya. Menusuknya semakin kuat dan merobek perut Baekhyun hingga isi perut Baekhyun keluar.
Baekhyun menjerit kesakitan. Dia terbatuk hingga mulutnya mengeluarkan darah begitu banyak. Sekarang Baekhyun terlihat begitu mengerikan dengan ususnya yang menggantung keluar.
Tangis Kyungsoo semakin menjadi. Dia menutup matanya yang bulat tak berani melihat apa yang Lucas lakukan pada temannya itu. Kyungsoo menggeleng dan terus memohon pada Lucas untuk menghentikannya.
Lucas menjambak rambut Kyungsoo kuat. Menyuruhnya untuk membuka matanya terus dan melihat bagaimana Lucas membunuh Baekhyun.
"Jika kau berani menutup mata mu, aku akan melakukan hal yang sama seperti apa yang aku lakukan pada teman manis mu itu."
Kyungsoo menggeleng.
"Kau mengerti?"
Kyungsoo mengangguk pasrah. Lucas melepaskan jambakannya dari rambut Kyungsoo kemudian berjalan menghampiri Baekhyun. Matanya yang terus memancarkan kemarahan terus menatap tubuh Baekhyun tanpa kasihan.
Lucas mengambil sarung tangan dari saku celananya setelah itu dia menarik pisau yang ada di perut Baekhyun. Dengan cepat Lucas langsung menusuk leher Baekhyun hingga menembus ke tenggorokannya. Dia merobek leher Baekhyun sampai ke bawah tepat di dadanya. Baekhyun merasa seperti tersedak sesuatu. Deru nafasnya perlahan melemah.
Lucas berdecak tak suka ketika cipratan darah Baekhyun mengenai wajah dan jaketnya. Dia menoleh melihat Kyungsoo yang nyatanya dia tidak melakukan apa yang Lucas suruh. Kyungsoo terus menutup matanya.
"Mata, mulut, dan tubuh harus dilenyapkan agar tidak ada yang tahu."
Lucas melotot dengan wajah yang kelewat menyeramkan. Dia dengan cepat melmpar pisau yang dia bawa tepat kearah wajah Kyungsoo hingga melukai mata sebelah kanan Kyungsoo. Jeritan kesakitan Kyungsoo tertahan akiat sumpalan sapu tangan yang ada di mulutnya.
Lucas menghampiri Kyungsoo dan mencabut pisau yang ada di matanya. Dia kembali menusuk mata Kyungsoo sebelah kiri. Lucas kemudian melepaskan sapu tangan di mulut Kyungsoo.
"Matamu sekarang tidak bisa melihat. Tapi –" Lucas menyentuh mulut Kyungsoo dengan pucuk pisaunya. "Mulutmu bisa mengatakan semuanya." Dengan cepat Lucas merobek mulut Kyungsoo sampai ke telinganya hingga wajahnya terlihat seperti sedang tersenyum lebar.
Cipratan darah Kyungsoo yang mengenai wajahnya membuat Lucas kembali berdecak tak suka. Dia langsung menusukan pisau tepat di jantung Kyungsoo berkali-kali sampai tubuh Kyungsoo penuh dengan darah.
Deru nafas Lucas terdengar begitu cepat. Nafasnya naik turun tak beraturan. Matanya yang tajam melihat kedua korbannya kini telah mati. Seringaian yang lebar kemudian disusul dengan tawa kencang membuat Lucas merasa bebas.
"Entah apa yang aku lakukan nanti jika aku bertemu dengan orang itu. Apa aku perlu bermain sebentar atau langsung membunuhnya?"
Lucas tersenyum manis sebelum dia pergi meninggalkan tubuh Baekhyun dan Kyungsoo di dalam gudang.
.
.
Pukul 1 siang, Lay kembali ke rumah Minseok. Dia melihat Minseok yang sedang tertidur pulas di kursi sofa. Dia menghampiri Minseok dan duduk berjongkok memandanginya.
"Damai sekali melihat dia tidur sepulas ini."
Lay menyibakan rambut Minseok yang menutupi matanya. Dia tersenyum aneh melihat wajah Minseok yang sedang tertidur.
"Nyawa di bawar dengan nyawa. Entah aku bisa melakukannya atau tidak. Tapi aku bisa memanfaatkan mereka."
Lay mengelus rambut Minseok pelan.
"Tidur yang nyenyak hyung."
.
.
-Masa Kini-
Setiap kali Minseok menceritakan kisahnya pada sang warwatan, hatinya terus merasa cemas. Kekhawatiran yang dia rasakan benar-benar membuatnya tak tenang. Wajahnya terus menunjukan ekspresi ketakutan.
"Tuan Kim, kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa."
"Wajah mu terlihat pucat. Perlu aku ambilkan minum?"
Minseok mengangguk. Sang wartawan berdiri dan mengambilkan segalas air untuknya. Minseok tersenyum dan mengatakan terima kasih pada wartawan. Tapi wajahnya tiba-tiba menjadi tegang ketika tangannya tak sengaja menyentuh tangan sang wartawan.
Sebuah gambaran tak jelas di apartemennya akan segera terjadi. Peristiwa yang akan membuat salah satu dari mereka akan mati. Minseok menatap sang wartawan dengan wajah takut. Dia menggeleng tak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.
"Jika nanti ada orang yang mengetuk pintu, lebih jangan di buka. Biarkan saja."
"Memangnya kenapa? Apa ada sesuatu?"
Minseok hanya diam. Dia menunduk melihat kedalam gelas yang dia bawa. Tangannya bergetar hingga air dalam gelas tumpah sedikit demi sedikit.
"Tuan Kim kau tidak apa-apa?"
Tiba-tiba terdegar suara bel berbunyi. Minseok langsung menoleh kearah pintu apartemennya. Matanya menatap horror pintu tersebut. Dia meletakan gelas minumnya di meja dan langsung meraih tangan sang wartawan untuk menahannya agar tidak membuka pintu.
Minseok menggeleng cepat. Wajahnya pucat ketakutan.
"Jangan buka pintunya. Kumohon."
Wartawan itu melihat Minseok penuh tanya. Dia mengangguk mengerti.
"Aku tidak akan membukanya."
Minseok melepaskan tangannya dari sang wartawan. Matanya masih terus menatap horror pintu apartmennya. Debaran jantungnya sejak tadi berdebar begitu cepat hingga dia merasa jantungnya akan terlepas dari tubuhnya.
Tidak ada suara bel berbunyi lagi. Minseok berdiri dengan tubuh yang bergetar. Dia kemudian mengambil pisau yang ada di meja dan berjalan pelan menuju pintu apartemennya. Matanya menatap pintu apartemen dengan wajah yang sangat takut.
Sang wartawan melotot tak percaya melihat Minseok yang tiba-tiba menodongkan pisau makan di depan pintu apartemen. Dia berjalan cepat menghampiri Minseok dan menahan tangannya.
"Tuan Kim, apa yang kau lakukan?"
Keringat membasahi seluruh tubuh Minseok. Wajahnya begitu pucat dengan tubuhnya yang terus bergetar. Dengan pelan, wartawan itu meraih pisau yang Minseok bawa dan membuangnya ke lantai. Dia kemudian memapah Minseok kembali ke kursinya.
"Tenang Tuan Kim. Tidak akan terjadi apa-apa."
Wajah Minseok yang semakin pucat membuat sang wartawan begitu cemas dengan keadaan Minseok sekarang. Tiba-tiba Minseok membekap mulutnya dan berlari menuju kamar mandi. Dia memuntahkan seluruh sarapannya pagi ini. Sang wartawan langsung menghampiri Minseok. Dia memijit pelan tengkuk Minseok yang masih memuntahkan isi perutnya.
"Tuan Kim, sepertinya keadaan mu memburuk. Kita ke dokter saja. Kau harus memeriksa kesehatan mu."
Minseok berjalan lemas setelah memuntahkan semua isi perutnya. Dia membasuh seluruh wajahnya dengan air lalu melihat bayangannya di cermin. Dirinya terlihat begitu kacau sekarang. Minseok menuduk dalam dan mulai menangis.
.
.
-Masa Lalu-
Sehun berjalan masuk ke kamarnya dengan perasaan marah. Dia membanting pintu kamarnya sangat keras. Deru nafasnya naik turun dengan cepat.
"Aku seharusnya tahu jika mereka berdua memiliki suatu hubungan khusus."
Sehun memukul pintu kamarnya keras. Dia kemudian membaringkan dirinya di ranjang. Pikirannya tak bisa dia alihkan ke hal lain untuk menghilangkan ingatan saat dimana dia melihat Luhan dan Minseok sedang berciuman ketika dia berkunjung ke rumah Minseok. Hatinya begitu sakit melihat orang yang dia sukai ternyata melakukan hal itu dengan orang yang pernah dekat dengannya dulu.
"Jika aku tadi tidak bertemu dengan Lay hyung di supermarket, jika aku tadi mendengarkan apa yang Lay hyung katakan, pasti aku tidak akan merasa sesakit ini. Tapi dengan kejadian itu aku sekarang tahu jika mereka berdua memiliki hubungan yang begitu dekat. Atau memang mereka berdua telah berpacaran?"
Sehun berdecak kesal. Dia melempar bantalnya kearah pintu kamar yang ternyata bantal itu mengenai seseorang yang tiba-tiba saja membuka pintu kamar Sehun.
"Apa yang membuat mu begitu marah hingga kau melempar ku dengan bantal?"
Sehun melihat orang kini berdiri di depan pintu kamarnya sambil membawa bantalnya. Dia berbalik memunggungi orang yang tidak ingin Sehun temui.
"Apa yang kau lakukan di kamar ku? Aku sudah bilang jangan masuk ke kamar ku."
Orang itu tersenyum lebar. Dia berjalan masuk ke dalam kamar Sehun dan duduk di pinggir ranjang.
"Kau tahu, sejak kecil aku selalu mengalah terlalu banyak dengan mu. Orang tua kita, khususnya ibu, dia selalu menyayangi mu daripada diri ku. Aku selalu bertanya dalam hati, mengapa ibu selalu menyayangi mu sedangkan kepada ku tidak sama sekali. Lalu peristiwa itu terjadi, sikap ibu mulai berubah kepada ku. Dia mulai menyayangi ku seperti yang dia lakukan kepada mu. Hingga aku mulai merasa jika sikap sayang ibu itu hanya kepalsuan belaka. Dia bersikap layaknya sayang kepada ku hanya untuk melindungi mu. Ibu menyuruh ku untuk menggantikan posisi mu dengan iming-iming dia akan menyayangi ku dan memanjakan ku seperti apa yang dia lakukan kepada mu. "
Sehun terdiam. Dia mendengarkan orang itu berbicara tanpa mau menyelanya.
"Kemudian aku berpikir, jika aku membunuh mu maka kasih sayang yang ibu berikan kepada mu nantinya hanya akan menjadi milik ku seorang. Lalu aku mulai tertarik dengan semua tanaman beracun dan belajar begitu giat untuk meracik racun dari tanaman tersebut."
Orang itu menoleh melihat Sehun yang masih tidur memunggunginya. Dia tersenyum melihat Sehun yang tak mau melihat dirinya.
"Tapi ibu tahu apa tujuan ku belajar dengan tanaman beracun itu. Dia begitu marah kepada ku sampai dia begitu tega akan mengusir ku dari rumah. Ayah, dia hanya diam melihat sikap ibu yang memukul ku dan menyuruh ku untuk keluar dari rumah. Selanjutnya kau tahu sendiri kan."
"Hyung…"
Sehun berbalik dan melihat saudaranya yang mulai meneteskan air mata. Dia bangun dan menepuk punggung hyung nya pelan. Sehun mulai duduk di samping hyung nya.
"Asal hyung tahu, aku juga begitu iri dengan mu. Kau begitu pintar, kau selalu bisa mendapatkan banyak teman ketika di sekolah dan mereka semua menyukai mu. Sedangkan aku, aku hanya bisa duduk sendiri tak berani mencari seorang teman."
Sehun tersenyum miris mengingat masa kecilnya dulu. Dia menghela nafas dalam sebelum kembali berbicara.
"Waktu kecil aku begitu mengagumi mu. Aku bangga bisa memiliki seorang kakak seperti mu. Kau selalu menjaga ku di sekolah. Bahkan sampai sekarang aku masih begitu mengagumi mu. Meskipun aku masih marah dengan rencana mu untuk meracuni ku, tapi dari hati ku ini, aku sangat menyayangi mu. Kau adalah satu-satunya keluarga yang aku punya."
Sehun menggenggam tangan hyung nya erat. Dia tersenyum memandang hyungnya.
"Aku ingin setelah semua kejadian ini selesai, kita harus mencari orang tua kandung kita. Meskipun sekarang kita mempunyai orang tua yang menyayangi kita, tapi aku tetap ingin mencari orang tua kita yang sebenarnya."
Orang itu merangkul pundak Sehun. Dia menggeleng pelan.
"Aku sebenarnya ingin mengatakan hal ini kepada mu, tapi aku takut jika kau akan sedih."
Sehun mengerutkan keningnya. "Apa maksud hyung?"
"Orang tua kandung kita telah meninggal. Mereka telah pergi ketika umur kita baru 5 bulan."
Sehun sangat terkejut dengan apa yang hyung nya katakan. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Bagaimana hyung tahu?"
"Ketika kita berumur delapan tahun, pemilik panti asuhan menceritakannya kepada ku. Awalnya dia berkata ada orang yang ingin mengadopsi kita berdua, lalu aku bertanya padanya dimana orang tua kita yang sebenarnya."
Sehun masih sangat terkejut. Di terdiam cukup lama untuk menerima informasi tentang orang tua kandungnya yang dia dengar dari hyung nya sendiri.
"Tapi kau jangan terlalu berpikir tentang hal itu, bukan saatnya kau sedih sekarang. Masih ada yang harus kita lakukan untuk menyelesaikan kejadian ini. Luhan, dia harus segera mati."
Sehun menatap hyung nya. Dia mengangguk pasti.
Hyung Sehun mengacak rambut Sehun sebelum dia keluar dari kamar Sehun. Di ujung pintu dia berhenti.
"Oh iya, aku semalam bertemu dengan Minseok dan juga Luhan. Luhan mencoba membunuh ku tapi aksinya gagal karena Minseok terus menyuruhnya untuk berhenti melakukannya. Minseok menganggap aku adalah dirimu."
Sehun terdiam sebentar. Tangannya mengepal keras. Dia semakin marah dengan Luhan.
"Hyung, lakukan secepat mungkin agar dia segera lenyap dari duni ini. Aku tidak ingin melihat dia terus berada bersama dengan Minseok hyung."
Hyung Sehun tertawa pelan. "Padahal dulu kau begitu menyukainya tapi sekarang kau ingin dia mati."
Sehun menoleh memandang hyung nya sambil tersenyum. "Karena dia telah merebut Minseok hyung dari ku. Lagi pula, dulu aku mendekatinya hanya karena alasan tertentu agar kau bisa membunuhnya."
Hyung Sehun menggeleng tak percaya. Dia berjalan meninggalkan kamar Sehun dengan senyum yang mengembang.
.
.
Minseok terbangun dari tidurnya. Dia melihat kearah jam dinding yang menunjukan pukul 3 sore. Dia kembali merebahkan tubuhnya di sofa.
"Aku tidur lama sekali."
Minseok merasa rumahnya begitu sepi. Tak ada suara yang terdengar padahal Lay tinggal bersamanya sekarang. Minseok beranjak dari sofa dan mengetuk pintu kamar Lay untuk mengecek apakah dia ada di dalam kamarnya atau tidak. Minseok tersenyum manis ketika melihat Lay membuka pintu kamarnya. Dia terlihat baik-baik saja.
"Kau sudah bangun hyung. Wahh kau terlihat begitu lelah hingga kau tertidur begitu lama."
Minseok hanya tersenyum. Dia menepuk pundak Lay pelan lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Hyung, aku minta maaf tentang kejadian tadi pagi. Aku langsung pergi begitu saja."
Minseok hanya tertawa dan mengatakan tidak apa-apa tanpa berbalik melihat Lay. Raut wajah Lay berubah ketika melihat punggung Minseok berjalan santai ke arah kamar mandi. Dia kembali masuk ke dalam kamarnya.
.
.
Lay mengetuk pintu kamar Minseok yang terbuka sedikit. Minseok tersenyum melihat Lay masuk ke dalam kamarnya.
"Hyung mau kemana?"
"Kantor polisi."
Kening Lay mengerut. Dia memandang Minseok dengan wajah tak mengerti.
"Apa yang dilakukan seorang pelajar di kantor polisi? Ingin melaporkan sesuatu?"
Minseok tertawa pelan. Dia berbalik melihat Lay yang sedang duduk memandanginya.
"Aku hanya ingin mencari informasi tentang kasus kematian Suho dan juga ingin bertanya pada polisi kabar lebih lanjut tentang kasus pembunuhan Kris dan Chanyeol."
Sebentar Lay terdiam dengan raut wajah dingin kemudian dia tersenyum. Lay berdiri dan menghampiri Minseok. Dia menepuk pundak Minseok pelan.
"Apa perlu aku menemani mu?"
"Boleh jika kau tidak keberatan."
"Tentu saja tidak hyung. Aku akan bersiap-siap."
Minseok mengangguk pelan. Lay segera meninggalkan kamar Minseok dan kembali ke kamarnya.
Minseok melihat pantulan dirinya di cermin. Dia tersenyum memandang dirinya sendiri.
"Mungkin dengan kehadiran Lay bisa membantu ku untuk menyelesaikan ini semua."
Minseok kembali tersenyum pada dirinya sendiri di cermin. Dia langsung mengambil tas ranselnya dan memasukan kotak keleng milik Suho ke dalam tasnya. Suara ketukan pintu membuat Minseok menoleh dan mendapati Lay telah bersiap untuk pergi menemaninya pergi ke kantor polisi.
.
.
Malam harinya Minseok menyuruh Lay kembali ke rumah terlebih dahulu. Dia mengatakan pada Lay akan pulang larut karena ada urusan dengan seseorang. Lay hanya tertawa dan menggoda Minseok tentang seseorang yang akan Minseok temui nanti.
"Hyung harus mengenalkan ku kepada 'seseorang' itu?"
Minseok tertawa sambil memukul lengan Lay.
"Kau sudah bertemu dengannya tadi pagi."
"Luhan?"
Minseok mengangguk dengan rona merah yang tiba-tiba muncul di pipinya.
"Ahh jadi orang yang sedang mendekati mu saat ini adalah Luhan."
Minseok tersenyum malu. Dia mengibaskan tangannya untuk menghilangkan rona merah di pipinya.
"Baiklah aku mengerti hyung. Aku pulang dulu."
Lay berjalan meninggalkan Minseok di pinggir jalan. Dia berbalik dan berjalan mundur sambil melambaikan tangannya pada Minseok. Minseok terus tersenyum melihat Lay yang mulai menjauh dari pandangannya.
Dalam perjalan menuju rumah Minseok, Lay menelfon Sehun untuk memberitahukan bahwa Minseok akan bertermu dengan Luhan. Dia tersenyum lebar hingga dimplenya begitu terlihat dalam ketika dia menutup sambungan telfonnya dengn Sehun.
"Kita tunggu apa yang akan terjadi nanti."
Lay memasukan kedua tangannya di saku. Berjalan dengan perasaan bahagia dengan senyum manisnya yang terus dia tampilkan.
.
.
Di kedai kopi yang menjadi tempat pertemuan Luhan dan Minseok, kini mereka berdua tengah duduk santai menikmati secangkir kopi kesukaan mereka. Luhan terus tersenyum melihat Minseok yang duduk di depannya. Sedangkan Minseok hanya memutar matanya malas melihat Luhan yang terus menyunggingkan senyum padanya.
"Kau jangan salah paham dulu Luhan. Aku ingin bertemu dengan mu karena ingin menanyakan suatu hal kepada mu."
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
Minseok mengambil tasnya dan mengeluarkan kotak kaleng milik Suho. Dia mengamati Luhan sebentar untuk melihat apakah orang yang sedang berbicara dengannya ini adalah Luhan atau Lucas. Dirasa Minseok begitu yakin dia sedang berbicara dengan Luhan, dia menyerahkan kotak kaleng itu padanya.
"Ini apa? Kau memberi ku sebuah hadiah?"
Luhan tersenyum senang. Dia segera membuka kotak kaleng tersebut. Keningnya mengerut mendapati apa yang dia lihat di dalam kotak kaleng itu hanyalah berisi artikel dari koran lawas.
"Ini apa Minseok?"
"Artikel yang berisi tentang saksi mata pembunuhan yang telah Lucas lakukan."
Mata Luhan melebar tak percaya. Dia mengambil selembar artikel dan membacanya. Raut wajahnya nampak sangat terkejut saat dia membaca artikel itu.
"OSH? Maksudnya adalah Sehun?"
Minseok mengangguk. Dia mengambil cangkir kopinya dan meneguknya pelan sambil melihat Luhan.
"Apakah dulu kau tidak merasa ada sesuatu yang aneh ketika Sehun mendekati mu? Kau dulu sangat dekat dengannya."
Luhan menggeleng pelan.
"Pasti Lucas yang telah bertemu dengannya."
"Pantas saja Lucas menyuruh ku untuk menjauhi Sehun karena dia tahu Sehun adalah saksi mata pembunuhan yang telah dia lakukan."
Minseok menghela nafas dalam. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Apakah menurut mu Sehun sedang merencakan sesuatu?"
"Aku tidak yakin jika dia sedang merencakan sesuatu. Dia terlihat begitu baik dan polos."
Minseok memandang Luhan malas. Dia mengambil kotak kaleng itu dan memasukannya kembali ke dalam tasnya.
"Kau juga terlihat sangat baik Luhan, tapi nyatanya apa? di dalam diri mu ada seseorang yang begitu mengerikan."
Minseok memasang wajah kesal. Luhan hanya tersenyum melihat Minseok yang begitu kesal pada Lucas. Dimata Luhan, kini Minseok terlihat menggemaskan.
"Tapi kata Lucas, orang yang aku temui kemarin malam itu bukan Sehun. Wajahnya mirip sekali dengan Sehun. Apakah Sehun mempunyai kembaran?"
"Dia tidak pernah mengatakan tentang saudara atau kembarannya kepada ku."
Minseok kembali meneguk kopinya. Wajahnya tampak begitu serius memikirkan masalah Sehun sekarang.
"Minseok, kau mendapatkan kotak kaleng itu darimana?"
"Aku menemukannya di kamar Suho."
"Semua artikel itu milik Suho?"
Minseok mengangguk.
"Sepertinya Suho mengetahui segalanya tentang dirimu dan Lucas, dan juga tentang Sehun. Tapi bukan Lucas yang membunuh Suho. Ada orang lain yang telah membunuh Suho dengan cara dia memberikan racun padanya."
"Racun?" Luhan tertawa pelan. Dia menggeleng tak pecaya. "Tentu saja bukan Lucas. Lucas tidak akan suka membunuh orang dengan cara seperti itu."
"Lalu apakah Sehun yang membunuh Suho? tapi itu juga tidak mungkin. Sehun terus bersama ku waktu itu. Atau dia membayar seseorang untuk membunuh Suho?"
Minseok mengacak rambutnya kesal. Kepalanya dia tidurkan di meja untuk menenangkan pikirannya yang mulai terasa pening. Luhan tersenyum manis melihat tingkah Minseok yang sangat menggemaskan sekarang. Dia membelai rambut Minseok pelan untuk membuatnya tenang.
Minseok mengangkat kepalanya melihat Luhan dengan wajahnya yang sekarang terlihat kusut. Senyum Luhan semakin lebar melihat ekspresi Minseok yang sangat menggemaskan di matanya. Dia ingin segera menarik Minseok masuk ke dalam pelukannya tanpa ingin melepaskan Minseok.
"Apa yang membuat senyum mu begitu lebar, Luhan? Jika kau ingin tertawa, tertawa saja."
Saat Luhan akan mencubit pipi Minseok, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangannya. Minseok begitu terkejut melihat Sehun yang datang dan langsung memukul Luhan tanpa sebab. Dia segera melerai perkelahian mereka berdua.
"Sehun, mengapa kau memukul Luhan begitu tiba-tiba?"
Sehun hanya diam dengan pandangan yang begitu marah melihat Minseok menolong Luhan yang terjatuh. Ketika Luhan akan membalas Sehun, Minseok menahan tubuh Luhan sekuat mungkin dan langsung menarik Luhan keluar dari kedai kopi.
.
.
Minseok mengantar Luhan ke rumahnya. Dia langsung menyandarkan tubuh Luhan di kursi dan mencari kotak obat. Setelah menemukannya, Minseok segera mengobati luka Luhan akibat pukulan keras dari Sehun.
Luhan mengerang kesakitan ketika Minseok mengobati lukanya.
"Sialan! Apa maksudnya anak itu datang begitu tiba-tiba dan langsung memukul ku seperti ini?"
Luhan berdecak kesal. Minseok mengerutkan keningnya. Dia masih diam mengobati luka Luhan.
"Kau juga! Mengapa kau tadi menahan ku ketika aku akan membalasnya?"
Minseok menekan kuat kapas yang dia gunakan untuk mengobati luka Luhan. Wajahnya terlihat kesal sekarang. Dia tidak peduli dengan erangan kesakitan Luhan.
"Kau ingin membuat kedai kopi menjadi rusak karena perkelahian mu dengan Sehun?"
"Jika memang itu bisa membuatnya kalah, aku tidak akan segan-segan melakukannya."
Minseok berdecak kesal. Dia memukul kepala Luhan keras.
"Mengapa kau memukul kepala ku? aku salah apa?"
Minseok menghelas nafas dalam. Dia memandang Luhan begitu tajam. Minseok segera menggeser posisi duduknya untuk menjauh dari Luhan saat dia menyadari jika yang sedang berbicara dengannya adalah Lucas.
"Mengapa disaat seperti ini kau harus keluar? Bisakah kau tidak keluar disaat aku ingin bersama dengan Luhan?"
Lucas menyeringai. Dia melihat Minseok yang masih menunjukan wajah kesal.
"Apa kau membenci ku sweetie?" tanya Lucas dengan nada menggoda.
"Sudah berulang kali aku katakan bahwa aku sangat membenci mu. Kau selalu merusak segalanya."
"Itu bagus jika kau membenci ku."
Minseok melirik kearah Lucas. Dia melipat tangannya di dada masih dengan raut wajah yang kesal.
"Mengapa kau berkata demikian?"
Lucas mendekati Minseok. Dia memandang Minseok begitu dekat hingga Minseok memundurkan tubuhnya sedikit menjauh.
"Lebih baik berawal dari benci menjadi cinta daripada awalnya indah dengan cinta lalu berakhir dengan benci."
Minseok menoleh menatap Lucas dengan wajah terkejut. Matanya melihat Lucas dengan pandangan yang begitu penasaran.
"Mengapa kau menyukai ku, Lucas?"
"Aku tidak mempunyai tipe orang yang aku sukai. Jika aku menyukai mu, aku menyukai mu. Dan jika aku menyukai mu, kau sangat special untuk ku karena aku tidak pernah menyukai orang sebelumnya."
Minseok berkedip dengan wajah yang polos. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang saat matanya terus memandang Lucas tanpa mau mengalihkannya. Lucas tiba-tiba mencium bibir Minseok dengan lembut.
"Aku juga bagian dari Luhan. Kau sangat menyukainya. Apakah kau tidak bisa menyukai ku juga?"
Lucas kembali mencium bibir Minseok dengan pelan. Dengan perasaan berdebar, Minseok mulai membalas ciuman Lucas. Untuk pertama kalinya Minseok merasakan tubuhnya begitu terbakar ketika Lucas terus mencium bibirnya dan berganti menciumi lehernya dengan sangat lembut.
…
