Minseok terbangun dari tidurnya. Dia meraih ponselnya untuk melihat jam berapa sekarang. Pukul 5 pagi. Minseok berbalik menghadap Luhan yang masih tertidur. Dia tersenyum malu mendapati Luhan yang sedang tertidur disampingnya. Pikiraannya mencoba mengingat kembali apa yang dia lakukan bersama Luhan semalam. Minseok tersipu malu dengan wajah yang mulai memerah ketika dia ingat dengan kejadian semalam.
Dia menyentuh hidung Luhan lalu turun menyentuh bibirnya. Mata Minseok masih tidak bisa dia alihkan dari wajah tampan Luhan ketika dia tidur. Minseok mengusap pelan pipi Luhan sambil terus tersenyum tanpa henti.
Luhan menggerakan kepalanya pelan. Dia mulai terbangun dari tidurnya. Luhan meraih tangan Minseok dan menciumnya pelan.
"Selamat pagi Luhan."
Luhan tersenyum. Dia maju mendekat pada Minseok dan mengecup kening Minseok sekilas. Rona merah di pipi Minseok terlihat. Minseok sedikit terkejut tapi dia begitu senang dengan apa yang Luhan lakukan barusan.
"Selamat pagi Minseok."
Luhan tersenyum melihat Minseok yang begitu malu. Dia mengusap pipi Minseok dan menarik dagu Minseok pelan.
"Apa semalam tidur mu nyenyak?"
Minseok mengangguk. Luhan menarik tubuh Minseok dan memeluknya. Dia kembali menutup matanya sambil mengusap kepala Minseok.
"Aku benar-benar tak percaya semalam kita melakukannya. Bahkan aku tak tahu semalam aku melakukannya dengan siapa. Dengan seorang Luhan atau dengan seorang Lucas?"
"Apa sekarang kau tahu aku ini siapa?"
Minseok menggeleng. Luhan melepaskan pelukannya. Dia melihat Minseok sambil tersenyum.
"Apa kau percaya jika aku ini adalah Lucas?"
Minseok kembali menggeleng.
"Apa perlu aku menyakiti mu untuk memuat mu yakin jika aku ini adalah Lucas?"
Minseok tertawa pelan. Matanya masih tak bisa dia alihkan dari wajah Luhan. Dia merasa bahwa dirinya sekarang tak ingin melepaskan orang yang berada di sampingnya untuk pergi meninggalkannya. Minseok masih ingin terus bersama dengan Luhan.
"Jika sekarang kau berbicara sebagai Lucas, apakah kau mulai mencoba belajar menjadi orang baik seperti Luhan?"
Luhan tertawa. Dia menggenggam tangan Minseok.
"Aku ingin bertanya kepada mu."
"Apa?"
Luhan mengusap tangan Minseok pelan. Dia diam sebentar melihat Minseok yang memandangnya dengan wajah yang tenang.
"Apa cinta ku padamu tidak cukup untuk membuat mu berani mencintai orang seperti ku?"
Minseok terkejut. Keningnya mengerut mendengar pertanyaan Luhan. Sebentar dia berpikir akan perasaannya kepada Luhan atau Lucas.
"Jangan mencintai orang lain selain diri ku, Minseok."
Luhan menempelkan keningnya pada kening Minseok. Dengan anggukan pelan, Minseok menyanggupi apa yang Luhan katakan. Dia tersenyum dan mencium bibir Luhan sebentar.
"Aku mencintai mu Luhan. Meskipun dalam diri mu ada orang yang aku benci, tapi nyatanya dia telah berhasil membuat ku jatuh dalam pesonanya juga. Aku mencintai kalian berdua. Aku mencintai dirimu dengan semua yang ada pada dirimu."
Luhan tersenyum manis. Dia mulai mencium Minseok lembut.
"Terima kasih. Setidaknya sekarang aku memiliki orang yang harus aku lindungi mulai sekarang."
Minseok tiba-tiba memasang wajah sendu. Dia bangun dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang. Minseok melihat Luhan yang memperhatikannya dengan wajah bingung. Dia mengelus rambut Luhan pelan.
"Aku berharap suatu saat nanti kau tidak akan kecewa kepada ku, Luhan."
"Aku tidak akan kecewa, Minseok."
Minseok tersenyum. "Nanti kau akan tahu maksud dari ucapan ku tadi."
Luhan hanya mengangguk. Dia tersenyum dan meraih tangan Minseok lalu menciumnya lembut.
"Sekarang kita bangun. Kita harus bersiap-siap ke sekolah. Aku akan menyiapkan sarapannya. Kau mandilah dulu."
Minseok mulai turun dari ranjang tapi Luhan menahannya untuk tidak pergi. Minseok tersenyum geli melihat Luhan yang tiba-tiba bersikap manja kepadanya.
"Kita mandi bersama saja, Minseok."
Minseok menggeleng. Dia mengelus rambut Luhan dan mencium keningnya sebelum dia keluar dari kamar. Luhan segera melempar bantal kearah pintu kamar ketika Minseok menjulurkan lidah kepadanya.
.
.
Di sekolah, Sehun menunggu kedatangan Minseok di depan kelasnya. Dia tersenyum ketika melihat Minseok yang telah muncul. Minseok mengehntikn langkahnya saat dia melihat Sehun yang sedang menunggunya di depan kelas. Dia menarik nafas sebentar sebelum kembali berjalan.
"Selamat pagi Minseok hyung."
"Selamat pagi Sehun."
Minseok masuk ke dalam kelasnya diikuti dengan Sehun dari belakang. Sehun menarik kursi yang ada di depan bangku Minseok dan duduk disana. Dia memandang Minseok sambil menopang dagunya dengan senyumnya yang lebar.
"Aku minta maaf Sehun."
"Untuk apa?"
Minseok tersenyum kikuk. Dia merasa begitu canggung sekarang jika berbicara dengan Sehun karena kejadian kemarin dimana dia pergi meninggalkan Sehun ketika Sehun menyatakan perasaannya kepadanya.
"Soal kejadian di ruang kesehatan waktu itu. Aku minta maaf. Aku terkejut hingga aku berlari meninggalkan mu."
Sehun mengangguk mengerti. Dia hanya tertawa pelan.
"Tidak apa-apa hyung. Aku tahu kau pasti akan menolak ku karena kau telah memiliki seorang kekasih."
Minseok terkejut. Sebentar matanya menatap Sehun tajam. Dia menunduk malu. Sehun tersenyum miring melihat Minseok yang tersipu malu dengan ucapannya.
"Sepulang sekolah nanti, maukah kau menemani ku pergi ke perpustakaan kota? Aku ada tugas dan buku yang aku cari hanya ada disana."
"Tentu. Aku akan menemani mu kesana."
"Terima kasih hyung."
Sehun tersenyum. Dia beranjak dari kursinya dan berjalan keluar dari kelas Minseok. Dia menoleh ke samping kanan mendapati Lay yang sedang berdiri di ujung lorong sambil tersenyum. Sehun segera berjalan menghampiri Lay ketika Lay menyuruhnya untuk pergi mengikutinya.
Sehun dan Lay kini berada di rumah kaca dimana tempat itu merupakan tempat yang pernah Luhan lalukan untuk membunuh Tao. Lay tersenyum manis memperlihakan dimplenya yang dalam.
"Aku sudah mengajaknya. Sepulang sekolah kita akan melakukannya."
"Kerja yang Sehun."
Sehun tersenyum sinis. Dia berjalan mendekati Lay yang sedang melihat tanaman bunga. Senyum sinisnya semakin terlihat mengerikan ketika matanya menangkap Lay yang sedang memperhatikan salah satu bunga yang begitu familiar baginya.
"Deathly Nightsade."
Sehun menyentuh bunga itu. Dia menoleh memandang Lay.
"Aku tidak menyangka kau dan juga kakak ku sama-sama gila akan tanaman seperti ini."
Lay menyeringai. Dia membalas tatapan Sehun.
"Kita selesaikan malam ini."
Sehun berdecak. Dia memasukan kedua tangannya di saku. Dia berbalik dan mulai melangkah menuju pintu keluar.
"Aku akan merindukan Minseok hyung."
Sehun menggeleng pelan dan mulai berjalan pergi meninggalkan rumah kaca. Di dalam, Lay hanya menertawai apa yang baru saja Sehun katakan. Matanya menunjukan sesuatu yang begitu membuatnya menggebu-gebu untuk melakukan suatu hal yang selama ini dia ingin lakukan.
"Aku juga akan merindukan Minseok hyung."
.
.
Luhan dan Minseok menghabiskan jam istirahat mereka di atap sekolah. Luhan terus mengunyah makan siangnya dan tanpa sadar Minseok terus memperhatikannya. Minseok tersenyum gemas melihat Luhan yang begitu lahap mengunyah makanannya.
"Apa kau merasa tidak ada beban dalam hidup mu? Kau makan begitu lahap seolah-olah kau tidak mempunyai satu kesalahan sama sekali."
Luhan melihat Minseok dengan mulut yang penuh dengan makanan. Minseok tertawa dan mengambil sebutir nasi di pinggir mulut Luhan dan memakannya.
"Kau makan seperti anak kecil saja."
Luhan hanya tersenyum. Dia menelan makanannya dan meneguk minuman kalengnya hingga habis.
"Kemarin sore aku pergi ke kantor polisi bersama dengan Lay. Menanyakan kabar tentang kasus pembunuhan Kris, Chanyeol, dan Suho."
Luhan menoleh. Dia kembali mengunyah makanan ringan yang Minseok bawa.
"Kau sepertinya dekat dengan Lay."
Minseok tersenyum. "Aku memang dekat dengannya. Dia adalah orang yang aku percaya selain Kris."
Luhan tertawa pelan. Dia meneguk minuman kaleng milik Minseok.
"Kadang, orang yang kita percaya bisa berkhianat pada kita. Seperti menusuk kita dari belakang. Orang seperti itu yang seharusnya patut kita curigai."
Minseok menggeleng pelan. Ruat wajahnya tiba-tiba sedih melihat Luhan.
"Sepertinya kali ini kau yang akan dicurigai Luhan."
Kening Luhan mengerut. Dia memandang Minseok dengan raut wajah tak mengerti.
"Saat aku di kantor polisi, aku menanyakan kasus kematian Kris, Chanyeol, dan Suho. Ada penyidik yang memukan barang bukti milik mereka yang tidak begitu jauh dari tempat kejadian mereka dibunuh. Ponsel Kris telah di temukan dalam keadaan rusak dengan layar ponsel yang retak akibat pukulan benda tumpul. Di ponsel itu ada sebuah sidik jari yang mencurigakan. Ketika di periksa, sidik jari itu terlihat begitu samar-samar hingga sulit di deteksi, tapi kemungkinan itu milik sang pelaku."
Wajah Luhan tiba-tiba terlihat pucat. Raut mukanya begitu terkejut mendengar perkataan Minseok. Jantungnya mulai berdebar cepat.
"Lalu Chanyeol, ada sebuah tanda dengan huruf L berada di pergelangan tangannya. Sepertinya Chanyeol menuliskan inisial nama pembunuhnya dengan menggunakan darahnya ketika dia sedang disiksa. Tanda itu juga di temukan di gudang yang kau gunakan sebagai tempat membunuh kedua teman sekolah kita, Kyungsoo dan Baekhyun. Ketika tubuh Kyungso akan di evakuasi, ternyata dia masih bisa bergerak. Sebelum Kyungsoo benar-benar tak bernyawa, dia sempat menuliskan tanda L di lantai gudang sambil berucap huruf L dengan suara lirih."
Minseok menghentikan ucapannya. Wajahnya cemas melihat wajah pucat Luhan. Dia meraih tangan Luhan dan menggenggamnya erat.
"Kau tidak apa-apa Luhan? Apa perlu aku melanjutkannya?"
Luhan mengangguk cepat. Keadaan Luhan mulai terlihat tak baik. Wajahnya sangat pucat dari biasanya. Tangannya mulai bergetar takut. Minseok mendekat pada Luhan dan segera memeluknya erat. Dia terus menggenggam tangan Luhan erat sambil mengelusnya pelan untuk menenangkannya.
"Bagaimana dengan Suho?"
"Suho...polisi telah menemukan racun yang digunakan untuk membunuhnya. Racunnya berasal dari sebuah tanaman bunga. Ketika mayat Suho di otopsi, dokter menemukan efek dari racun tersebut telah menyebar di seluruh tubuh Suho begitu banyak. Sepertinya pembunuh itu memberikan racun dengan dosis yang sangat tinggi pada Suho. Tubuh bagian dalam Suho telah membusuk dan rusak akibat racun itu."
Minseok mengelus rambut Luhan pelan. Wajah Luhan masih terlihat begitu pucat dengan tangan yang bergetar dan dingin. Perasaannya masih takut dengan apa yang akan terjadi dengan dirinya nanti jika polisi menemukan bahwa dialah pelaku pembunuhan itu.
Minseok tersenyum dan mencium semua bagian wajah Luhan untuk menghilangkan wajah pucat serta perasaan cemas Luhan. Dia mengusap kedua pipi Luhan masih dengan senyumnya yang terus dia tampilkan.
Di balik pintu atap sekolah, Sehun terus memperhatikan apa yang Minseok lakukan pada Luhan. Pandangannya tak suka melihat sikap Minseok yang begitu perhatian dengan orang yang ingin dia lenyapkan. Kedua tangan Sehun mengepal keras menahan gejolak amarahnya yang muncul.
"Tidak lama lagi kau tidak akan bisa merasakan sikap manis Minseok hyung kepada mu."
Sehun berbalik dan berjalan meninggalkan tempat persembunyiannya di balik pintu. Seringai licik di wajahnya terus terlihat. Dia merasa kemenangannya akan segera tiba.
.
.
Bel pulang sekolah berbunyi. Sehun segera mengemasi barang-barangnya dan berlari cepat menuju kelas Minseok. Setibanya disana, dia melihat Lay dan Luhan bercakap ria bersama dengan Minseok di dalam kelas. Sehun merasa tak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang. Dia menarik nafas sebentar sebelum dia berjalan masuk ke dalam kelas Minseok.
"Apa yang sedang kalian bicarakan? Sepertinya seru sekali."
Sehun merangkul pundak Lay. Dia melirik sebentar kearah Luhan. Wajahnya terlihat tak suka.
Minseok hanya tersenyum melihat kedatangan Sehun. Dia menatap Luhan yang kini memasang wajah sedikit takut. Minseok menarik tangan Luhan untuk mendekat kepadanya.
"Ahh Sehun, kau tahu, mereka berdua telah resmi berpacaran sekarang."
Lay menunjuk kearah Minseok dan Luhan dengan wajah bahagia. Sedangkan Sehun hanya biasa saja menanggapi perkataan Lay tentang status hubungan mereka.
"Aku sudah tahu jika kalian akhirnya benar-benar berpacaran."
Minseok meremas tangan Luhan pelan ketika dia merasa Luhan mulai kesal dengan sikap Sehun sekarang. Minseok menggeleng pelan.
"Bisakah kalian berdua menunggu di luar sebentar. Aku ingin bicara berdua dengan Luhan."
"Heii hyung, aku juga ing-"
Lay segera menyikut perut Sehun keras. Dia mengangguk mengerti dan langsung menarik Sehun keluar dari kelas. Minseok menggeleng dan tertawa pelan melihat sikap Lay dan Sehun. Dia berbalik melihat Luhan.
"Kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa. Tadi aku merasa Lucas akan keluar ketika melihat sikap Sehun tadi. Dia ingin sekali segera membunuhnya."
Minseok menghela nafas dan memeluk Luhan sebentar.
"Hari ini aku akan menemani Sehun ke perpustakaan kota. Maaf kita tidak bisa pulang bersama."
"Kau yakin ingin menemaninya?"
Perasaan Luhan benar-benar tak enak sekarang. Dia merasa ada sesuatu hal yang aneh dengan Sehun. Wajahnya terlihat khawatir. Dia menggenggam kedua tangan Minseok erat.
"Aku akan ikut dengan mu."
"Apa kau mengkhawatirkan ku?"
"Tentu saja Minseok."
Minseok tersenyum. Dia mendekat pada Luhan dan berbisik padanya.
"Kau jangan kawatir. Aku bisa menjaga diri ku dengan baik. Aku mencintai mu."
Lalu dengan cepat Minseok mencium pipi Luhan dan melepaskan genggaman Luhan dari tangannya. Dia tersenyum sambil mengambil tasnya dan keluar dari kelas dengan melambaikan tangan pada Luhan.
Luhan hanya memandang kepergian Minseok dengan raut wajah khawatir. Dia merasa ada hal aneh yang akan terjadi nanti.
.
.
Dalam perjalan menuju perpustakaan kota, Sehun terus tersenyum senang mendapati Minseok kini berjalan disampingnya. Minseok menatap Sehun tak mengerti.
"Kau tidak apa-apa Sehun?"
"Aku baik- baik saja hyung."
Minseok mengangguk paham.
"Sayang sekali Lay tidak ikut."
"Lay hyung selalu seperti itu kan. Pergi entah kemana dengan alasan ada urusan yang harus dia selesaikan."
Minseok tertawa.
"Kau benar. Dia tidak berubah sama sekali."
Minseok menghentikan langkahnya ketika dia melihat kedai kopi di sebrang jalan. Dia langsung menarik Sehun untuk mengikutinya menuju kedai kopi. Sebentar kening Minseok mengerut saat tangannya menarik tangan Sehun. Dia menoleh melihat Sehun dengan wajah bertanya.
"Ada apa hyung? Kau ingin minum kopi?"
Minseok menggeleng cepat. Dia kembali menyentuh tangan Sehun. Gambaran yang samar-samar dimana memperlihatkan dirinya dan juga Luhan tengah duduk terikat di sebuah gedung kosong dengan tiga orang di depan mereka.
Minseok langsung melepaskan tangannya dari tangan Sehun. Dia menyuruh Sehun menunggunya sebentar untuk menelpon Luhan.
Tangan Minseok mulai bergetar. Wajahnya nampak pucat ketakutan. Dia berdecak kesal ketika sambungan telponnya tak diangkat oleh Luhan. Minseok terus mencoba menghubungi Luhan tapi, tiba-tiba Sehun memukul tengkuknya dengan tongkat baseball hingga membuatnya tak sadarkan diri.
Sehun mengambil ponsel Minseok dan melihat nama Luhan tertera di layar ponselnya. Dia menyeringai sebentar lalu menggendong Minseok pergi ke suatu tempat.
.
.
Dalam gedung kosong yang nampak telah usang tempat dimana Minseok berada sekarang. Tubuhnya terikat duduk di kursi dengan mulut yag tertutup oleh lak ban. Minseok mulai sadar dari pingsannya. Matanya samar-samar melihat tempat yang pernah dia lihat sebelumnya.
"Kau sudah sadar hyung."
Suara yang begitu familiar di telinganya. Dia memandang kearah orang yang kini duduk di depannya. Ketika dia sadar siapa orang yang ada di depannya sekarang, matanya melebar tak percaya.
Sehun tertawa. Dia melepaskan lak ban yang ada di mulut Minseok.
"Apa-apaan ini? mengapa aku ada disini? Mengapa tubuh ku diikat seperti ini?"
Sehun terus memandangi Minseok yang meronta dalam ikatannya. Senyumnya mengembang lebar melihat Minseok yang tampak begitu takut.
"Sehun lepaskan aku!"
"Apa perlu aku melepaskan mu? Kau sudah membuat ku sakit hati hyung."
Minseok terkejut dengan perkataan Sehun.
"Luhan! dimana Luhan sekarang?"
"Tenang. kekasih mu nanti akan bergabung dengan mu disini. Hyung tunggu saja."
Minseok masih tak percaya dengan apa yang Sehun lakukan kepadanya. Gambaran yang dilihat olehnya saat dia menyentuh tangan Sehun benar-benar terjadi.
"Jadi kau melakukan hal ini karena kau sakit hati kepada ku? karena aku lebih memilih Luhan dan menolak pernyataan cinta mu. Begitu?"
Minseok tersenyum miring. Dia menatap Sehun tajam.
Sehun beranjak dari kursinya. Dia menarik kerah seragam Minseok dengan kuat. Tatapannya yang dingin dan menusuk membuat Minseok ingin sekali memukul wajahnya.
"Kau telah mempermainan ku hyung. Kau bilang kau mencintai ku dan dengan bodohnya aku telah masuk ke dalam perangkap cinta mu, tapi apa yang aku dapatkan? nyatanya kau lebih mencintainya. Kau lebih mencintai seorang pembunuh seperti Luhan hyung."
Minseok memang telah bersalah kepada Sehun. Dia telah salah mengambil cara bagaimana melindungi Sehun dari Luhan waktu dulu. Sekarang dia mendapatkan buah dari hasil kesalahannya. Sehun begitu marah dan kecewa dengannya. Itu sudah menjadi resiko bagi Minseok untuk menerima semua kemarahan Sehun akibat kesalahannya terdahulu.
Minseok mengalihkan pandangannya tak mau melihat Sehun. Sehun melepaskan tangannya dari kerah seragam Minseok. Matanya berair merasakan peraasaan sakit hatinya yang dia pendam dari kemarin.
"Aku telah mencoba berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, tapi semuanya tidak terlihat baik."
"Aku minta maaf Sehun. Semuanya adalah kesalahan ku."
Sehun tertawa pelan. Dia marah mendengar Minseok berkata maaf kepadanya. Baginya, kata maaf tak cukup untuk mengobati rasa sakit hatinya sekarang. Sehun mulai meneteskan air matanya.
"Saat aku mulai dekat dengan mu, aku merasa bahwa setiap hari adalah hari yang begitu bahagia bagi ku. Aku sangat senang ada seseorang yang begitu berbarti dalam hidup ku. Tapi sekarang, di hidup ku tidak ada yang namanya kebahagiaan. Hanya ada rasa sakit."
Minseok meneteskan air matanya. Dia menangis merasakan kesalahan yang telah dia lakukan terhadap Sehun. Dia tidak bisa mengeluarkan kata-kata kecuali terus berucap kata maaf pada Sehun meskipun Sehun tak peduli dengan semua permintaan maaf Minseok.
Tiba-tiba terdengar tepuk tangan yang kencang. Terlihat seseorang yang menggunakan jaket hoodie hitam berjalan menghampiri Sehun dan Minseok disusul dengan seseorang di belakangnya sambil menyeret tubuh orang yang tak sadarkan diri.
"Sudah cukup drama kalian berdua. Sehun, kau bantulah Lay mengikat Luhan di kursi."
Minseok tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Matanya menatap lebar kearah Lay yang kini sedang mengikat tubuh Luhan. Minseok benar-benar dibuat terkejut dengan apa yang dia lihat sekarang. Jadi tiga orang yang dilihatnya dalam kilatan gambaran ketika dia menyentuh Sehun adalah mereka bertiga. Lay, Sehun, dan kembaran Sehun.
Minseok menggeleng masih tak percaya. Terlebih pada Lay yang merupakan seorang teman yang begitu dia percaya. Minseok menoleh melihat keadaan Luhan yang masih tak sadarkan diri. Mata dan mulut Luhan ditutup begitu rapat.
"Lay, sebenarnya ada apa ini? mengapa kau bisa melakukan hal ini?"
Lay hanya melempar senyumnya dengan dimple yang begitu dalam. Dia berjalan mendekati Minseok.
"Sama seperti Sehun. Aku terlalu sakit hati dengan mu hyung dan aku muak dengan sikap kepolosan mu itu, terlebih pada Kris. Kris begitu menyukai mu tapi kau sama sekali tidak mengerti dengan sikapnya yang sudah ketara sekali kepada mu. Aku yang lebih dulu menyukainya, aku yang selalu bersama dengannya setiap waktu sama sekali tidak pernah mendapat perhatiannya sama sekali."
Minseok diam mendengarkan perkataan Lay. Matanya terus melihat begitu tajam untuk mencari kelucuan yang Lay buat. Minseok masih berpikir bahwa ini hanyalah sebuah kejutan yang mengerikan untuknya. Dia berpikir bahwa Lay dan Sehun sedang merencanakan sebuah kejutan besar entah itu apa yang jelas Minseok terus berpikir positif terhadap Lay.
"Kau tahu alasan ku pergi ke China untuk apa?"
"Kau pindah sekolah disana."
Lay menggeleng pelan sambil tertawa.
"Alasan ku yang sebenarnya adalah aku mencoba untuk membuat mu dan Kris bersama. Aku menyuruh mu untuk menjaganya selama aku di berada China agar hubungan kalian berdua menjadi lebih dekat. Aku menahan rasa sakit hati ku ketika memutuskan hal itu. Tapi apa yang kau lakukan kepadanya? Kau telah membuat orang yang aku sayangi terbunuh begitu saja."
Lay memukul pelan pipi Minseok. Dia menarik leher Minseok dan berbisik.
"Aku juga akan melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan pada Kris. Orang yang ada di samping mu itu akan benar-benar mati."
Lay tersenyum dan kembali memukul pelan pipi Minseok. Sebastian, yang merupakan kakak Sehun, memutar matanya malas melihat kembali drama yang terjadi antara Lay dan Minseok. Dia mengambil sarung tangan dan mengeluarkan pisau dari tas yang Sehun bawa.
Sehun segara menahan kakakanya ketika dia akan menghampiri Lay. Sehun menggeleng menyuruh Sebastian untuk tidak membunuh Lay. Sebastian hanya tersenyum dan mendorong tubuh Sehun untuk menjauh.
Sebastian menepuk pundak Lay. Lay menoleh dan berbalik menghadapnya kemudian dengan cepat Sebastian langsung menusuk perut Lay begitu dalam. Lay terkejut. Matanya melebar menatap Sebastian yang tiba-tiba menusuknya tanpa sebab. Dia segera menahan perutnya yang mengeluarkan banyak darah.
"Mengapa kau ..?"
"Aku sudah selesai dengan mu. Kau sudah tidak berguna lagi. Terima kasih untuk semua kerja keras mu. Kau tenang saja, aku akan membunuhnya seperti yang kau inginkan."
Sebastian kembali menusuk Lay tepat di bagian jantungnya lalu detik selanjutnya Lay terkapar jatuh di depan Minseok. Minseok bagaikan patung yang hanya bisa diam memperhatikan tubuh Lay tergeletak di depannya dengan wajah yang kelewat terkejut. Mulutnya menganga lebar tak percaya dengan apa yang baru saja dia saksikan.
"Maaf membuat mu melihatnya secara langsung."
Sebastian tersenyum melihat Minseok yang masih terkejut. Dia kemudian berbalik dan berjalan menghampiri Sehun yang sama terkejutnya seperti Minseok.
"Hyung, ini tidak ada dalam rencana. Mengapa kau harus membunuh Lay hyung juga?"
Sebastian menyuruh Sehun untuk diam. Dia menepuk pundak Sehun pelan sambil tersenyum.
"Kau tidak akan tahu apa yang akan di lakukan seorang pengkhiatan dalam sebuah grup. Pengkhianat tetap pengkhianat."
Sehun menatap horror tubuh Lay yang mengeluarkan banyak darah. Dalam diam, dia memakai sarung tangan dan berjalan takut mendekati tubuh Lay yang telah kaku. Sehun menelan salivanya dan masih memandang tubuh Lay dengan wajah takut.
"Kau bisa melakukannya atau tidak? Cepat singkirkan tubuhnya!"
Suara Sebastian yang nyaring membuat Sehun tersentak. Dia segera menyeret tubuh Lay menjauh dari depan Minseok. Sehun menggeleng pelan melihat jejak darah Lay yang ketara di lantai gudang. Dia langsung berjalan cepat menghampiri Sebastian yang kini sedang mempersiapkan sebuah racun untuk Luhan.
Minseok menoleh melihat Luhan yang kini telah sadar dari pingsannya. Minseok membuat suara sekecil mungkin untuk memanggil Luhan.
"Luhan! Heii Luhan!"
Luhan hanya merespon dengan erangan pelan. Pening di kepalanya masih terasa begitu sakit. Matanya yang tertutup oleh kain membuatnya bertanya-tanya dimana dia sekarang. Luhan mencoba menggerakan tubuhnya yang dia rasa telah terikat kuat dengan tali.
"Luhan! ini aku Minseok. Kau tidak apa-apa, kan?"
Minseok begitu cemas dengan keadaan Luhan. Wajahnya yang takut sekaligus begitu sedih melihat Luhan yang terlihat tak berdaya di sampingnya.
"Luhan, tenanglah. Kau jangan berisik nanti mereka akan kemari."
Minseok menoleh melihat kearah Sehun dan Sebastian. Mereka berdua sepertinya tidak mendengar percakapan Minseok. Perasaan Minseok begitu tegang mencoba mencari cara untuk melepaskan dirinya dari ikatan di tubuhnya.
"Aku akan mencari cara untuk melepaskan tali ini dan kita akan melarikan diri dari tempat ini segera. Kau tunggu sebentar."
Luhan masih terus berontak dalam ikatannya. Minseok kini sedang berusaha menggerakan kedua tangannya agar tali yang mengikat tangannya longgar. Dengan nafas yang terengah-engah dan wajah yang cemas jika Sehun dan Sebastian melihat dirinya berusaha melepaskan ikatan talinya.
"Ayolah. Aku pasti bisa melakukannya."
Sebuah decitan kursi yang Luhan bunyikan membuat Sehun dan Sebastian menoleh. Sebastian menyuruh Sehun untuk memeriksa keadaan Minseok dan Luhan.
Sehun melihat sebentar kearah Minseok yang terdiam dengan pandangan lurus kedepan. Dia melihat Luhan yang kini mulai diam. Sehun menghela nafas dalam kemudian dia melepaskan lak ban yang berada di mulut Luhan.
"Lepaskan aku! Siapa yang berani memperlakukan ku seperti ini?"
Sehun berdecak sambil menggeleng pelan. Dia menaruh tangannya di dagu. Berpikir sebentar apakah dia perlu melepaskan ikatan di mata Luhan atau tidak. Beberapa detik berpikir, akhirnya Sehun memutuskan untuk tidak melepaskan ikatan di mata Luhan.
"Hai Luhan hyung. Kau pasti tahu aku ini siapa."
Sehun tersenyum sebentar. Dia menoleh melihat Minseok yang memandangnya dengan wajah tak suka. Meskipun Minseok masih merasa bersalah pada Sehun tapi melihat sikap Sehun yang menjadi mengerikan membuat Minseok begitu geram kepadanya.
"Minseok hyung, mengapa kau melihat ku dengan wajah seperti itu? Kemana senyuman mu yang begitu manis itu?"
"Kau jangan berani menyentuh Luhan."
Sehun menahan tawanya mendengar ucapan Minseok. Dia berbalik melihat Sebastian.
"Hyung, apakah aku boleh bermain sebentar dengan mereka berdua?"
"Lakukan sesuka mu tapi jangan sampai kau lepas kendali."
"Aku tahu. Aku bukan seperti mu."
Sehun kembali berbalik menghadap Luhan. Dia berkacak pinggang dan berpikir apa yang seharusnya dia lakukan pada Luhan. Sehun melirik Minseok. Senyumnya mengembang lebar. Dia menghampiri Minseok dan menunduk menatap Minseok begitu dekat.
"Katakan pada ku, apa yang seharusnya aku lakukan padanya?"
Sehun menunjuk kearah Luhan. Minseok membuang mukanya tak mau melihat Sehun. Dia lebih memilih melihat Luhan.
"Baiklah hyung, kau sudah membuat pilihan. Aku akan melakukannya sekarang. Kau harus melihat apa yang aku lakuan terhadap orang yang sangat kau cintai itu."
Mata Minseok melebar melihat Sehun menghampiri Luhan.
"Apa yang akan kau lakukan Sehun?"
"Hyung lihat saja apa yang akan aku lakukan dengan orang ini."
Sehun menyeringai lebar dan dia begitu semangat bersiap untuk memberikan sebuah pukulan keras di wajah Luhan. Detik selanjutnya sebuah pukulan keras tepat Sehun berikan pada Luhan. Sudut bibir Luhan mengelurkan darah. Minseok terkejut dengan apa yang baru saja Sehun lakukan. Dia menyuruh Sehun untuk menghentikan aksinya ketika Sehun akan kembali memukul Luhan.
Sehun tertawa begitu semangat. Dia terus memberikan pukulan keras pada wajah Luhan. Mulut dan hidung Luhan mulai megeluarkan banyak darah. Wajah Luhan terlihat mengenaskan dengan banyak darah dan memar akibat pukulan yang Sehun berikan.
Luhan hanya tertawa menerima pukulan Sehun. Dia tersenyum remeh dan mengejek Sehun karena pukulannya begitu pelan. Sehun yang terbakar amarah karena ejekan Luhan, dia terus menerus memukul Luhan tanpa henti. Dia sama sekali tidak peduli dengan seruan Minseok yang menyuruhnya untuk berhenti memukul Luhan.
Minseok memanggil nama Luhan begitu keras ketika Sehun memukul kepala Luhan dengan balok kayu. Deru nafas Sehun terdengar sangat cepat. Dia melempar balok kayu itu menjauh. Sehun menyeringai puas melihat Luhan yang tiba-tiba terdiam. Dia menjambak rambut Luhan untuk melihat apakah Luhan telah menyerah dengan pukulannya.
"Sehun hentikan."
Sebastian berjalan menghampiri Sehun. Dia menggeleng dan berdecak sebentar. Sehun melepaskan tangannya dari rambut Luhan dan mundur mendekat ke samping Sebastian. Dia menyeringai melihat Minseok yang begitu sedih dengan keadaan Luhan sekarang.
"Minseok hyung."
Minseok melihat Sebastian yang kini berada di hadapannya sekarang. Matanya menatap Sebastian begitu tajam. Dia begitu marah dengan apa yang telah dilakukan kakak beradik itu. Dia juga terus mengutuk mereka berdua agar segera mendapatkan ganjaran atas apa yang telah mereka berdua lakukan.
"Aku akan memberikan mu sebuah pilihan." Sebastian menoleh melihat kearah Luhan sebentar sebelum dia melanjutkan ucapannya. "Aku tidak akan membunuh Luhan dan aku akan membebaskan mu dengan syarat kau harus mau memberikan kesaksian palsu saat di pengadilan nanti terkait pembunuhan Lay. Tapi jika kau melawan, kau akan tahu apa akibatnya. Aku tidak akan segan-segan untuk membunuh Luhan di depan mata mu."
Sebastian menyuruh Sehun mengambil tasnya. Ketika Sehun memberikan tasnya, Sebastian mengeluarkan dua buah kantong plastik berukuran sedang. Mata Minseok begitu familiar dengan salah satu benda yang berada di dalam kantong plastik itu. Ponsel Kris.
"Ada dua barang yang menjadi barang bukti atas kematian dua orang teman mu. Kau pasti tidak asing dengan barang ini kan?"
Sebastian menyeringai ketika menujukan ponsel Kris pada Minseok.
"Aku menyuruh seseorang untuk mengambil barang bukti ini di kantor polisi. Kau pasti tahu kan siapa pelakunya."
Sebastian menoleh melihat tubuh Lay yang sudah tak bernyawa. Dia berpura-pura memasang wajah sedih sambil membuat suara tangis yang dibuat-buat.
"Dan ini adalah dompet milik orang yang bernama Kyungsoo. Dua barang ini akan aku gunakan sebagai barang bukti untuk menunjukan bahwa Luhan benar-benar seorang pembunuh yang selama ini polisi cari."
Sebastian dan Sehun mulai menggunakan sarung tangan. Sebastian menyuruh Sehun untuk mengeluarkan barang bukti dari dalam kantong plastik dan menempelkan sidik jari Luhan ke barang bukti tersebut. Dia juga menyuruh Sehun untuk menempelkan sidik jari Luhan di pisau yang Sebastian gunakan untuk membunuh Lay.
Entah apa yang kini Minseok harus lakukan. Dia merasa dirinya tak berguna. Dia tidak bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan dirinya dan juga Luhan. Minseok hanya bisa terdiam.
Sehun memasukan kembali barang bukti ke dalam kantong plastik. Dia tersenyum dan memukul wajah Luhan pelan. Sebastian mengusap rambut Sehun pelan. Dia tersenyum bangga melihat kerja keras Sehun selama ini.
"Kau memang adik yang berguna."
Sehun menepis tangan Sebastian dari rambutnya.
"Sekarang pilihan ada di tangan mu Minseok. Kau memilih untuk menyelamatkan kekasih mu ini atau tidak?"
Sebastian menyuruh Sehun untuk melepaskan ikatan Minseok. Dia menodongkan pisau ke leher Minseok ketika ikatan Minseok telah lepas. Sehun melingkarkan tangannya di leher Minseok masih dengan menodongkan pisaunya.
Sebastian menjambak rambut Luhan kuat. Terdengar erangan lemas Luhan yang keluar. Dia kemudian mengeluarkan sebuah suntik dan menujukannya pada Minseok.
"Aku akan memberikan suntikan ini padanya. Dengan dosis yang sedikit tapi efeknya akan membuat dirinya sangat tenang seperti terbang bebas melayang ke udara."
"Jangan lakukan. Kumohon hentikan."
Minseok menangis. Dia terus menggeleng memohon pada Sebastian untuk tidak menyuntikan racun pada Luhan. Sehun mengeratkan tangannya ke leher Minseok mendengar rengekan Minseok yang berisik.
Tanpa peduli dengan permohonan Minseok, Sebastian langsung menyuntikan racun ke tubuh Luhan. Dia kemudian melepaskan ikatan di mata Luhan dan melambaikan tangannya di depan wajah Luhan.
"Maaf aku sudah menyuntikannya. Efeknya akan beraksi bebepa menit lagi. Kita tunggu saja."
Luhan terlihat begitu linglung. Dia merasakan sakit di kepalanya begitu kuat tapi seperti ada sebuah sensasi yang menenangkan dalam dirinya sekarang. Pandangannya mulai terlihat kabur.
"Minseok."
"Dengar, nama siapa yang dia panggil?"
"Luhan. Kau baik-baik saja?"
Minseok terus menangis. Hatinya begitu sakit melihat keadaan Luhan yang tak berdaya sekarang. Dia menggeleng tak kuat mendengar Luhan yang terus memanggil namanya begitu pelan.
"Baiklah aku akan melakukan apa yang kau suruh, tapi kumohon lepaskan Luhan sekarang juga. Jangan sakiti dia lagi."
Sebastian tertawa keras. Dia bertepuk tangan dengan senang.
"Cinta memang menakutkan. Kau akan melakukan apapun demi menyelamatkan orang yang kau cintai."
Sebastian kembali bertepuk tangan. Dia kemudian melepaskan ikatan Luhan dan menyuruh Sehun untuk melepakan Minseok. Sehun menggeleng tak mau. Dia terus mengeratkan tangannya di leher Minseok. Dia tak ingin Minseok pergi melihat keadaan Luhan.
"Ohh ayolah Sehun. Kau sudah ditolak olehnya. Apa lagi yang kau inginkan darinya? Dia tidak akan membalas cinta mu. Lihatlah tatapan matanya yang sangat benci melihat mu."
Sehun berdecak kesal. Dia melepaskan tangannya dari leher Minseok dan mendorong tubuh Minseok menjauh. Sebastian tertawa pelan melihat raut muka Sehun yang kesal.
"Aku memberikan waktu pada mu untuk bersama dengannya. Hanya sebentar saja tidak perlu lama-lama. Aku tidak suka melihat kisah drama kalian semua."
Minseok segara menghampiri Luhan yang tergeletak di lantai. Dia memeluk Luhan erat dengan air mata yang terus keluar. Air mata Minseok keluar deras ketika melihat wajah Luhan yang penuh dengan memar dan darah.
"Maafkan aku Luhan."
"Minseok."
Minseok kembali memeluk Luhan erat.
"Aku disini. Aku akan membebaskan mu. Tenanglah."
"Aku akan membunuh mereka. Aku tidak akan membiarkan mereka melukai mu."
Miseok hanya diam. Dia terus memeluk tubuh Luhan yang lemah sambil memikirkan cara untuk bisa melarikan diri dari Sehun dan Sebastian. Minseok menatap tajam kearah pisau yang Sehun bawa. Sebuah ide tib-tiba terlintas dalam pikirannya. Ide yang begitu nekat yang bisa saja melukai atau bahkan membunuh salah satu diantara mereka berempat atau bahkan mereka berempat akan mati bersama. Minseok menghapus air matanya. Dia mulai memantapkan hatinya untuk menjalankan ide nekatnya itu.
"Luhan, aku mencintai mu. Kau tidak perlu membantu ku. Biarkan aku yang akan menyelesaikan ini semua."
Minseok mencium bibir Luhan sekilas. Dia membaringkan tubuh Luhan dan berdiri menatap tajam kearah Sehun dan Sebastian. Meskipun Minseok begitu percaya diri namun di balik hatinya yang dalam ada perasaan takut yang dia rasakan.
"Aku bisa melakukannya."
…
