Dalam ketidaksadaraannya, di alam yang lain entah dimana Luhan berada sekarang, dia tidak terlalu memikirkannya. Yang dia rasakan hanyalah sebuah perasaan bebas, tubuhnya begitu ringan seperti sebuah bulu yang terbang di terpa angin. Luhan tersenyum tipis sambil menutup matanya untuk merasakan hembusan angin yang menenangkan dirinya.
"Luhan."
Kening Luhan mengerut mendengar suara yang memanggil namanya. Perlahan dia membuka matanya.
"Luhan, aku tidak tahu mengapa kau begitu keras kepala bahkan hanya untuk membuat ku keluar saja kau tidak mengizinkannya. Kau terus menahan ku disini."
Luhan menoleh kesana kemari mencari suara yang berbicara kepadanya. Dia terlihat kebingungan mencari dimana asal sumber suara tersebut.
"Kau memang lemah. Kau memang penakut yang tidak bisa melakukan hal apapun. Kau pengecut. Kau seharusnya tidak pantas mendapatkan Minseok."
Luhan terdiam disaat suara itu menyebut nama Minseok.
"Minseok.." ucap Luhan pelan.
"Kau membiarkan Minseok melakukan hal yang akan membuatnya terluka dan lebih buruknya lagi kau akan kehilangan dia untuk selamanya jika kau terus mengurung rasa takut mu seperti ini."
Luhan meremas rambutnya pelan. Wajahnya mulai ketakutan ketika dia ingat nama Minseok, orang yang dia cintai.
"Minseok, maafkan aku."
Lucas memandang Luhan dari kejauhan dengan wajah malas. Dia mulai berjalan menghampiri Luhan yang terlihat ketakutan. Takut dengan semua resiko yang akan menimpanya.
Sebuah pukulan keras tepat Luhan rasakan di kepalanya. Dia menoleh kebelakang. Wajahnya terkejut melihat dirinya yang lain sedang berdiri di depannya sekarang. Lucas kembali memukul kepala Luhan keras untuk membuat Luhan sadar.
"Lucas.."
"Kau benar-benar bodoh Luhan. Jika kau seperti ini, bagaimana dengan nasib Minseok nanti?!"
Lucas menghela nafas berat. Dia berdecak sambil mengacak rambutnya gemas melihat Luhan bersikap bodoh. Lucas mendekati Luhan lalu menepuk kedua pundaknya dengan memasang wajah yang semeyakinkan mungkin.
"Dengar Luhan, aku memang tidak suka dengan dirimu yang bodoh, lemah, dan penakut ini tapi, dibalik itu semua kau mempunyai sisi yang kuat dan juga pemberani, yaitu aku, Lucas. Aku tahu kau tidak suka dengan diriku dan selalu berusaha untuk menyingkirkan ku selama ini, tapi tanpa diriku, hidup mu pasti akan selalu ditemani dengan kesendirian terlebih lagi tanpa diriku kau juga tidak akan bertemu dengan Minseok."
Lucas menarik nafas panjang sebelum dia melanjutkan perkataannya. Dia meremas pelan pundak Luhan.
"Untuk pertama kalinya, aku memohon kepada mu, izinkan aku menguasai dirimu sekarang. Aku akan melindungi Minseok. Aku akan membuat dirimu tidak terlihat bodoh dihadapan mereka berdua."
Luhan hanya diam memandang Lucas dengan wajah tak percaya. Lucas menghela nafas beratnya dan menunduk sambil mengumpat pelan.
"Minseok…"
Lucas segera mengangkat kepalanya dan menatap Luhan dengan wajah penuh pengharapan. Luhan tersenyum melihat wajah Lucas yang dibuat begitu memelas. Meskipun Luhan tidak percaya dengan apa yang Lucas katakan tapi, hanya Lucas yang bisa melindungi Minseok sekarang. Sudah tidak ada waktu lagi untuk memikirkan bagaimana baik buruknya sikap Lucas nantinya.
"Aku akan mengizinkan mu menguasi diriku, tapi kau harus berjanji, kau benar-benar akan melindungi Minseok. Jangan biarkan aku kehilangan dia."
Luhan kembali melihat Lucas. Wajahnya terlihat setengah tidak ingin Lucas melakukan hal itu tapi demi keselamatan Minseok, Luhan akan melakukannya. Kini, Lucas tersenyum senang dalam kemenangannya. Untuk pertama kalinya dia merasa akan bebas dalam waktu yang lama. Lucas melepaskan tangannya dari pundak Luhan.
"Baiklah aku akan melakukannya. Tapi, jika aku keluar, berjanjilah juga jangan mengganggu ku.
Jangan memaksa ku untuk kembali di tempat ini lagi. Tempat ku adalah tempat mu juga Luhan. Jadi untuk sekarang, kau harus tinggal disini untuk beberapa waktu sampai aku benar-benar kembali."
Luhan menghela nafas dalam. "Aku tidak berjanji akan hal itu, tapi jika itu yang terbaik untuk bisa membuat Minseok tetap hidup, aku akan melakukannya. Aku harap kau jangan menyakitinya. Aku akan membunuh mu jika kau menyakiti Minseok."
Lucas tertawa.
"Oke. Deal?"
Lucas mengulurkan tangannya untuk berjabat tanganya dengan Luhan. Senyum lebarnya masih mengembang sempurna di wajahnya. Luhan hanya menyeringai memandang Lucas. Dia menggelengkan kepalanya dan memasukan kedua tangannya di saku celana lalu mulai berjalan pergi meninggalkan Lucas tanpa berkata apa-apa.
Lucas mengepalkan tangannya dan berbalik sambil melambaikan tangannya pada Luhan.
"Aku anggap itu adalah sebuah kesepakatan kita. Kau tenang saja, tinggal disini tidak begitu buruk untuk mu."
Seringai Lucas mulai muncul. Matanya yang tajam memandang bayangan Luhan yang samar-samar mulai hilang dibalik gelapnya dinding antara dia dan Luhan.
"Luhan memang bodoh tapi tanpa dia aku tidak akan muncul di dunia ini."
.
.
"Minseok..honey~"
Minseok terkejut. Dia segera menoleh kebelakang melihat Luhan yang kini telah berdiri dalam keadaan yang sangat baik. Minseok menganga sebentar sebelum menghampiri Luhan.
"Mengapa kalian semua menatap ku seperti itu?"
Minseok tertawa tak percaya. Dia menghampiri Luhan dan langsung memeluknya erat.
"Terima kasih Lucas."
Lucas tersenyum dan melepaskan pelukan Minseok.
"Ini bukan waktu yang tepat untuk kita berpelukan. Kau bisa bebas memeluk ku jika kita berdua keluar dari sini."
Lucas tersenyum lebar. Minseok membalasnya hanya dengan tawa pelan dan sebuah isakan pelan. Lucas mengelus sebentar pipi Minseok untuk memberikan ketenangan padanya.
"Apakah drama kalian sudah selesai? Astaga aku tidak percaya jika kau benar-benar bangun dan terlihat baik-baik saja."
Sebastian bertepuk tangan sebentar lalu menatap Lucas tajam. Sebastian terlihat begitu tenang ketika melihat Luhan tiba-tiba terbangun dalam keadaan baik-baik saja, namun pada kenyataannya, dalam hatinya dia sangat terkejut. Sebastian tidak percaya jika racun yang dia berikan pada Luhan tidak memberikan efek apapun.
"Apakah racun yang aku berikan terlalu sedikit hingga kau bisa bangun kembali?"
"Racun yang kau berikan memang tidak berefek kepada ku."
Lucas menyeringai. Dia menarik Minseok untuk berada di sampingnya. Matanya yang tajam serta ekspresi wajahnya yang kelewat bersemangat untuk segera bermain dengan kembar bersaudara, Sehun dan Sebastian, membuat Lucas tertawa.
"Kau tunggu disini. Aku yang akan membereskan mereka berdua."
Minseok menggeleng dengan memasang wajah penuh kekhawatiran. Minseok tahu pasti jika Lucas akan membunuh Sehun dan Sebastian. Minseok tak ingin kejadian seperti ini memakan korban lagi, seperti Lay.
Lucas mengangguk mengerti apa yang Minseok inginkan. Dia menepuk pundak Minseok pelan lalu menghela nafas panjang sebelum melangkah maju.
"Akhirnya kita bisa bertemu lagi, Sebastian. Aku menunggu saat seperti ini agar kita bisa melakukan emm..yahh kau tahu hal yang selalu aku inginkan, seperti saat aku membunuh ibu ku."
Mata Lucas melirik kearah Sehun yang nampak terkejut dengan ucapannya. Lucas menyeringai senang mendapati Sehun mulai ketakutan.
Sehun menatap Lucas penuh ketakutan. Wajahnya menjadi pucat ketika Sehun mengingat kembali kejadian dimana dia melihat Lucas membunuh ibu kandungnya sendiri di balik jendela kamarnya yang terbuka.
Sebastian menoleh melihat keadaan Sehun yang terlihat buruk. Dia menepuk punggung Sehun pelan yang membuat Sehun sedikit tersentak.
"Sebentar lagi mimpi buruk itu tidak akan kembali menghantui mu, Sehun. Aku akan melakukannya. Kau tenanglah."
Sehun menggigit bibir bawahnya. Dia menahan tangisnya yang akan keluar. Sehun mengangguk pelan sambil memandang Sebastian.
"Aku percaya kepada mu, hyung."
Sebastian tersenyum. Dia mulai melangkah maju berhadapan dengan Lucas. Wajahnya terlihat begitu yakin akan bisa melenyapkan Lucas sekarang.
"Aku tidak suka bertele-tele. Kita langsung selesaikan sekarang."
Sebastian hanya tersenyum miring mendengar perkataan Lucas.
"Bukankah lebih cepat lebih baik."
Lucas mengangkat salah satu alisnya sambil menyeringai lebar. Kemudian detik selanjutnya, Lucas membuat tubuh Sebastian tak bisa bergerak. Dia menghentikan semua pergerakan Sebastian. Sekuat tenaga Sebastian berusaha untuk menggerakan tubuhnya namun tetap saja dia tidak akan sanggup bergerak.
Sehun menggigit bibir bawahnya. Wajahnya nampak takut dan khawatir melihat Sebastian yang tak bisa menggerakan tubuhnya. Pikirannya kembali mengingat kejadian dimana saat dia menyelamatkan Suho dari dalam garasi mobil rumah Luhan dulu. Ketika dia dan Suho tidak bisa menggerakan tubuhnya sama sekali. Dia merasa hal itu sama seperti yang Sebastian rasakan sekarang. Matanya melihat kearah Minseok. Dia ingat Minseok lah yang membuat tubuhnya dan Suho bisa bergerak kembali tapi dia tidak tahu cara apa yang Minseok gunakan sehingga tubuhnya bisa bergerak lagi.
Sehun berpikir, itu tidak akan mungkin jika Minseok hyung akan menghentikan Lucas sekarang. Sehun yakin pasti Minseok akan terus mendukung Lucas untuk membunuhnya. Sehun berdecak kesal. Dia tidak ingin melihat Sebastian terbunuh.
Mata Sehun menangkap pisau yang ada dalam kantong plastik. Dia melihat sebentar kearah Sebastian kemudian segera memakai sarung tangan dan mengambil pisau tersebut.
"Setidaknya aku tidak lupa memakai sarung tangan agar sidik jari Luhan hyung masih menempel dipisau ini."
Sehun kembali melihat kearah Sebastian yang masih berusaha untuk melepaskan dirinya dari telekinesis Lucas.
"Kau benar-benar pengecut! Kau tidak akan bisa membunuh ku."
Lucas marah. Dia merasa kesal mendengar ucapan Sebastian yang mengejeknya seorang pengecut. Lucas langsung menarik tubuh Sebastian dengan kencang dan melemparkannya ke tiang penopang gudang dengan sangat keras.
Sebastian hanya tertawa. Dia tertawa begitu kencang hingga membuat Lucas semakin marah. Matanya yang dingin memandang Sebastian tajam. Lucas membuat patahan kayu yang lancip terbang begitu cepat dan menancapkan di dada Sebastian.
Mata Sehun melebar tak percaya dengan yang barusan Lucas lakukan kepada Sebastian. Sehun menggenggam erat pisau yang dia bawa. Dia mulai bersiap untuk menyerang Lucas sekarang.
"Lucas hentikan." teriak Minseok.
Lucas tak mempedulikan suara Minseok yang menyuruhnya untuk berhenti. Kemudian tanpa Lucas sadari, Sehun langsung menyerangnya dari belakang dan melukai pinggang Lucas dengan pisau. Sehun terus menusuk pisau itu semakin dalam ke pinggang Lucas. Lucas segera menoleh melihat Sehun dengan tatapan mata yang terlihat mengerikan.
Ketika Sehun akan melepaskan tangannya dari pisau tersebut, Lucas menahan tangan Sehun begitu kuat. Minseok segera menghampiri Lucas. Dia terus menyuruh Lucas untuk melepaskan Sehun.
"Aku bilang lepaskan, Lucas."
Lucas melepaskan tangan Sehun. Dia menarik pisau yang masih berada di pinggangnya. Dengan rasa nyeri yang begitu menyakitkan, Lucas menahannya sekuat tenaga. Terdengar deru nafas Lucas yang begitu cepat.
Minseok melihat luka di pinggang Lucas begitu parah. Darah terus keluar dari luka tusukan itu. Dia menyuruh Lucas untuk melepaskan jaketnya yang digunakan untuk menekan luka tersebut agar darah Lucas tidak terus keluar.
Lucas menyingkirkan tangan Minseok dari pinggangnya. Dia kembali berdiri. Dia tidak peduli dengan luka di pinggangnya sekarang. Kini Lucas benar-benar marah. Lucas berpikir, sudah saatnya dia akan membunuh mereka berdua tanpa ampun seperti yang dia lakukan kepada semua korbannya.
"Aku akan membunuh mu jika kau melakukannya Lucas."
Minseok mengarahkan balok kayu kearah Lucas yang dia gunakan sebagai senjata untuk melawannya.
"Aku telah menelfon polisi. Mereka akan segera kemari sebentar lagi. Jangan membuat polisi semakin mencurigai mu dan membuat mu sebagai tersangka jika mereka melihat apa yang kau lakukan kepada mereka berdua."
Lucas memandang Minseok tajam. Tak ada seringaian ataupun senyum manis yang Lucas berikan. Hanya sebuah tatapan menusuk penuh kemarahan yang Lucas berikan untuk Minseok.
Minseok terus memegang kuat balok kayu itu dengan kuat. Minseok merasa Lucas begitu berbeda dari biasanya. Dia merasa saat ini bukanlah Lucas yang di kenal. Minseok yakin jika Lucas tidak akan melukainya ataupun membuatnya terbunuh tapi sekarang Minseok merasa bahwa Lucas akan benar-benar melakukan hal itu kepadanya.
"Kau sama seperti Luhan yang terlalu lemah. Aku benci orang yang seperti itu."
Lucas berbalik memandang Sehun. Tangannya mengepal kuat. Dia berjalan menghampiri Sehun yang masih berusaha untuk membantu Sebastian melepaskan kayu yang menancap dada Sebastian.
Minseok menggeleng tak kuat. Dengan cepat dia berlari mendekati Lucas dan memukul punggungnya dengan balok kayu. Lucas langsung menghentikan langkahnya. Dia berbalik perlahan dan memandang Minseok sebentar kemudian dia langsung memberikan pukulan keras tepat di wajah Minseok. Lucas menjambak rambut Minseok kuat lalu kembali memukulnya dan memberikan tendangan keras di perut Minsok hingga Minseok terkapar.
Lucas mengambil balok kayu dan memberikan beberapa pukulan keras tepat di kepala Minseok. Rasa pening yang amat sangat sakit Minseok rasakan di kepalanya. Dengan pandangan yang tak terlalu jelas, samar-samar Minseok hanya bisa melihat Lucas yang kini tengah lepas kendali. Minseok masih bisa melihat bagaimana Lucas beritu gila membunuh Sehun dan Sebastian di depannya meskipun pandangannya tak begitu jelas. Hanya warna merah pekat yang bisa Minseok ingat dan jeritan memohon Sehun serta jeritan rasa sakit dari suara Sehun dan Sebastian yang Minseok dengar ketika dia benar-benar mulai kehilangan kesadarannya.
.
.
-Masa Kini-
Saat Minseok dan sang wartawan keluar dari pintu apartemen, tiba-tiba orang tak dikenal menyerang wartawan tersebut dan menusuknya hingga tewas seketika. Minseok begitu terkejut. Wajahnya begitu takut dan pucat melihat tersangka pembunuhan wartawan tersebut.
Minseok menggeleng tak percaya. Hari dimana Minseok akan bertemu dengannya akhirnya terjadi. Hari dimana yang selalu membuat Minseok ingin menghindari kejadian buruk ini. Mimpi buruk kembali Minseok rasakan sekarang.
"Aku menantikan hal seperti ini sepanjang hidup ku ketika aku berada di sebuah tempat terapi khusus untuk orang-orang aneh."
"Itu tempat yang bagus untuk jiwa mu, Lucas."
Lucas, sang tersangka tertawa pelan.
"Aku senang mendengar suara mu menyebut nama ku."
Lucas mengeluarkan sapu tangannya dan mengelap pisaunya yang penuh darah. Minseok menahan dirinya untuk tetap tenang melawan Lucas sekarang. Dia mengepalkan kedua tangannya keras untuk menahan dirinya dari perasaan kesalnya yang kini mulai muncul.
Minseok menghela nafas panjang. Dia tidak ingin dipandang lemah seperti dulu. Minseok berpikir, waktu ini memang akan segera tiba dan aku telah berjanji kepada diri ku sendiri bahwa aku akan menyelesaikan masalah ini sampai tuntas tanpa melukai orang di sekitar ku lagi seperti dulu.
"Aku akan sangat senang jika kau mentraktir ku minum kopi sekarang. Suasana hati ku sedang bahagia hari ini. Setelah itu aku ingin mengajak mu ke suatu tempat dimana hanya ada kita berdua."
"Bagaimana kau bisa masuk kemari? Banyak polisi berjaga dibawah."
"Ooh honey, apa kau tidak mengizinkan kekasih mu ini untuk masuk ke dalam?"
Minseok melirik sebentar kearah kamera yang berada di sudut lift dekat kamarnya. Lucas menyeringai mengetahui apa yang Minseok lihat.
"Itu tidak akan membantu sama sekali. Mereka tidak akan bisa menyelamatkan mu seperti dulu."
Minseok menatap Lucas penuh kemarahan. Dia langsung membuka pintu apartemennya kemudian Lucas segera masuk ke dalam. Minseok masih berdiri di tempatnya. Dia melihat jasad sang wartawan yang tergeletak di depan pintunya.
"Kau tenang saja. Nanti ada orang yang akan mengurusnya."
.
.
-Masa Lalu-
Minseok membuka matanya perlahan, membiasakan cahaya yang terang masuk dalam penglihatannya yang kini mulai jelas. Minseok masih merasakan sakit di kepalanya. Dia lebih memilih untuk tetap berbaring di tempatnya sekarang.
Suster yang mengecek keadaan Minseok melihat Minseok yang kini telah sadar. Dia tersenyum pada Minseok.
"Oh kau telah sadar. Aku akan memanggil dokter untuk mengecek keadaan mu. Tunggu sebentar."
Beberapa menit berlalu, dokter telah memeriksa keadaan Minseok dan menyatakan bahwa keadaan Minseok telah membaik. Ketika suster akan keluar, Minseok menahannya. Dia bertanya pada suster tersebut apa yang terjadi pada dirinya sehingga dia mendapatkan perawatan di rumah sakit.
"Kau adalah korban yang selamat dari aksi pembunuhan yang dilakukan oleh teman mu sendiri."
Suster itu melempar senyum pada Minseok sebelum dia keluar dari kamar Minseok. Minseok hanya memandang langit kamarnya sambil memikirkan perkataan suster tersebut.
"Korban selamat dari pembunuhan yang dilakukan oleh teman ku."
Minseok berusaha mengingat apa yang terjadi pada dirinya hingga dia bisa terjebak dalam kamar inap rumah sakit. Dia menutup matanya dan terus mencoba untuk mengingat kembali kejadian yang menimpa dirinya.
"Teman ku sendiri. Siapa?"
Sebuah wajah seseorang muncul dalam ingatan Minseok. Minseok langsung membuka matanya lebar. Dia menyentuh kepalanya yang diperban dan berusaha untuk menahan rasa sakitnya ketika pening di kepalanya muncul.
"Lucas..dia membunuh mereka semua."
…
