-Masa Kini-
Minseok sedang mengaduk segelas kopi untuk Lucas yang kini sedang duduk menatapnya lewat meja makan yang tak jauh dari dapur. Minseok terus merasa tegang semenjak kemunculan Lucas yang tak terduga. Dia tahu hal ini akan terjadi dari jauh hari sebelumnya ketika dia menyadari saat sang wartawan mengunjunginya di hari pertama mereka bertemu. Dia berusaha memikirkan bagaimana caranya agar hari dimana dia akan bertemu dengan Lucas tidak akan terjadi tapi, sebuah pemikiran dari lubuk hatinya mengatakan bahwa dia tidak boleh menghindari hal tersebut. Minseok meyakinkan dirinya untuk bisa melawan Lucas tanpa ada rasa takut seperti dulu.
"Apakah membuat segelas kopi membutuhkan waktu yang begitu lama?"
Suara nyaring Lucas membuat Minseok kembali sadar dari lamunannya. Minseok segera membawa kopi yang dibuat untuk Lucas.
Lucas tersenyum bahagia ketika dia meminum kopi buatan Minseok. Dia melihat Minseok dengan wajah yang terlihat gembira.
"Bagaimana kabar mu? Sepertinya hidup mu terlihat tenang tanpa diriku. Ini membuat ku iri. Kau bisa hidup tenang dan melewatkan sisa hidup mu dengan nyaman dengan tinggal di apartemen mewah seperti ini, sedangkan diriku ..."
Lucas menyeringai. Dia menghentikan ucapannya ketika melihat mata Minseok yang menatapnya tak suka. Lucas ingin tertawa. Menertawai tatapan Minseok kepadanya. Yang Lucas inginkan ketika dia pertama melihat Minseok adalah sebuah senyuman manis dan kecupan lembut di bibirnya, bukan mendapatkan sebuah tatapan benci yang sekarang dia terima.
Lucas mulai berdiri. Dia berjalan pelan mengelilingi apartemen Minseok. Wajahnya terlihat begitu ingin tahu tentang isi apartemen Minseok, sedangkan Minseok masih duduk manis di tempat dia berada. Menahan gejolak emosinya yang kian meledak.
"Kau seharusnya mengunjungiku setiap hari, jadi aku tidak akan merasa kesepian di tempat aneh itu. Kau tahu apa yang aku rasakan setelah mengetahui bahwa kau tidak lagi mengunjungiku?"
Lucas berbalik melihat kearah Minseok yang masih diam.
"Aku merasa seperti diriku tidak ada di dunia ini lagi. Semuanya telah menghilang. Aku merasa seperti tidak ada gairah untuk hidup ketika kau tidak lagi mengunjungiku. Terutama bagi Luhan."
Mata Minseok menajam saat Lucas menyebut nama Luhan. Minseok mengepalkan kedua tangannya begitu kuat dan terus berusaha menahan emosinya.
"Luhan...kasihan sekali dia. Dia bahkan mengira kau benar-benar meninggalkannya. Aku telah memberikannya kesempatan untuk melihat dunia ini lagi tapi, dia membuat keputusan yang salah hanya karena dia mengira kau pergi meninggalkannya. Merasa putus asa dan tidak berguna kemudian dia lebih memilih untuk tinggal di tempat yang begitu gelap menggantikan posisi ku."
Lucas tertawa senang. Tawanya begitu kencang hingga membuat telinga Minseok terasa sakit saat mendengarnya. Minseok sudah tidak bisa lagi menahan semua emosinya terhadap Lucas. Dia berdiri dan membanting gelas kopi milik Lucas.
"Kau yang lebih pantas pantas tinggal di tempat seperti itu. Luhan..kau sudah membuat Luhan terbunuh dalam dirinya sendiri saat kejadian itu. Kau telah membunuh 3 sekaligus, Sehun, Sebastian, dan juga Luhan."
Lucas tertawa pelan. Dia mengayunkan tangannya dan langsung menarik Minseok dengan paksa untuk mendekat padanya lalu menjambak rambut Minseok begitu kuat. Terdengar suara kesakitan Minseok ketika Lucas manarik paksa rambutnya.
"Luhan berada disana bukan karena diriku. Dia yang bodoh telah membuat keputusan sempit seperti itu."
Minseok menyeringai. Matanya menatap tajam Lucas penuh kebencian.
"Semua akan berakhir dengan segera. Aku akan membuat Luhan kembali lagi dan membuat mu kembali ketempat dimana kau seharusnya berada."
Lucas mengambil pisaunya dari balik punggungnya dan segera melukai leher Minseok, namun sepertinya keberuntungan sedang berpihak pada Minseok sekarang. Disaat waktu yang sama ketika Lucas melukai leher Minseok, ada seseorang yang tiba-tiba memencet bel apartemen Minseok kemudian disusul dengan suara keras yang mengatakan bahwa mayat wartawan yang tergeletak di depan pintu telah di evakuasi dan menunggu Lucas untuk keluar dari tempatnya.
"Sekarang bukan lagi kemenangan mu Lucas."
Minseok yang menyadari pertahan Lucas lengah, dengan segera dia memberikan pukulan keras pada perut Lucas dan melepaskan tangan Lucas dari rambutnya. Minseok melemparkan semua benda yang ada di dekatnya kepada Lucas sambil terus berjalan mundur menuju arah pintu apartemen.
Lucas mulai merasa bosan. Dia berdiri dan mulai berjalan mengikuti Minseok yang telah sukses kabur darinya. Lucas mengejar Minseok dengan perasaan penuh amarah. Dia berpikir akan benar-benar melenyapkannya segera.
"Kim Minseok! Aku bisa mengejar mu, baby. Kau tidak akan bisa lari dariku lagi."
Tiba-tiba sebuah tembakan terdengar saat Minseok telah berada di luar gedung apartemen. Banyak polisi yang kini sedang berjaga di depan gedung apartemen Minseok untuk menangkap Lucas. Tembakan kembali terdengar ketika Lucas mulai menampakan diri.
Lucas berdecak. Dia melihat Minseok yang berjalan dengan nafas terengah-engah mendekati kumpulan polisi yang siap menangkapnya.
"Brengsek!"
Dengan cepat, Lucas membuat pergerakan Minseok terhenti. Lucas tidak akan membiarkan Minseok begitu mudah mengalahkannya. Dalam pikiran Lucas sekarang hanyalah bagaimana caranya untuk mendapatkan Minseoknya lagi. Dia hanya ingin hidup bersama Minseoknya yang dulu.
Lucas berjalan keluar dari gedung apartemen. Seorang penempak jitu mulai membidikan tembaknya tepat kearah kepala Lucas. Ketika sang penembak akan menembakan pelurunya, dengan cepat Lucas membuat pergerakan semua polisi terhenti termasuk sang penembak juga ikut berhenti. Lucas langsung menarik tubuh Minseok dan menyeretnya kembali masuk ke dalam apartemen.
"Lucas lepaskan aku!"
Minseok memberontak dalam cengkraman Lucas. Tanpa peduli dengan ocehan Minseok, Lucas terus menyeret Minseok masuk ke dalam apartemen. Keadaan mulai kembali normal. Beberapa polisi segera memberikan tembakan ke udara sebagai peringatan kepada Lucas, namun hal itu tidak membuat Lucas menghentikan langkahnya untuk melepaskan Minseok.
Salah satu polisi memberanikan diri untuk masuk ke dalam apartemen mengikuti Lucas. Suara tembakan di udara terdengar kembali. Kini Lucas mulai menghentikan langkahnya.
"Jangan mengikuti kami. Lebih baik kau keluar saja. Jangan pedulikan aku."
Minseok menatap seorang polisi yang terus melangkah mendekati mereka dengan wajah takut. Dia menggeleng cepat kepada sang polisi untuk berhenti mengikuti mereka.
"Jangan bergerak! Lepaskan dia sekarang juga."
Lucas hanya diam. Tangannya masih mencengkram erat rambut Minseok. Sang polisi terus maju perlahan mendekati mereka berdua dengan perasaan gugup dan takut. Wajahnya yang begitu tegang terlihat begitu jelas.
"Aku bilang lepaskan dia sekarang juga!"
Kemudian sebuah peluru langsung menembus punggung Lucas. Sebuah tembakan dari jarak dekat telah polisi berikan pada Lucas agar melepaskan Minseok dengan segera. Lucas masih bisa menahannya. Dia masih bisa berdiri meskipun dia merasakan sakit di punggungnya.
Minseok seketika terkejut melihat darah yang keluar dari punggung Lucas. Dia menyuruh polisi itu untuk tidak menembaknya lagi tapi sang polisi tidak menghiraukan apa yang Minseok katakan. Polisi itu kembali memberikan tembakan jarak dekat pada lengan Lucas hingga tangan Lucas melepaskan cengkramannya dari rambut Minseok. Lagi, polisi itu menempakan pelurunya kearah Lucas dan mengenai kaki Lucas.
Minseok segera membantu Lucas ketika tubuhnya akan jatuh. Minseok begitu cemas dengan keadaan Lucas sekarang. Darah terus keluar dari lengan, punggung, dan juga kaki Lucas. Wajah Lucas mulai terlihat memucat. Polisi mulai menarik paksa Minseok untuk mengikutinya kabur dari Lucas tapi Minseok terus menahan dirinya untuk tidak meninggalkan Lucas dalam keadaan yang terlihat parah.
"Heii ayo, kau harus segera keluar dari sini! Cepatlah!"
Minseok terus menggeleng tak mau. Sang polisi berdecak kesal. Dia berlari meninggalkan Minseok sementara bersama dengan Lucas. Dia memanggil bala bantuan untuk datang.
"Kau baik-baik saja? Bertahanlah sebentar. Aku akan memanggil bantuan."
Lucas menarik tangan Minseok ketika dia akan berdiri. Dia menggeleng pelan. Tangannya terus menahan lengannya yang terus mengeluarkan darah.
"Jika seperti ini terus kau akan mati kehabisan darah."
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku, Minseok."
Lucas tersenyum dengan manis. Minseok terdiam ketika melihat senyum Lucas yang begitu tenang.
"Aku senang bisa melihatmu lagi, Minseok. Kau tidak akan meninggalkanku lagi, kan?"
Minseok terkejut. Matanya memandang Lucas dengan wajah tak percaya.
"Lu..Luhan."
Luhan hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. Minseok segera memeluknya erat dengan semua air mata yang mulai mengalir keluar.
"Luhan..aku merindukanmu. Mengapa Lucas begitu tega melakukan hal ini kepada mu?"
Minseok terus menangis dalam pelukan Luhan. Luhan hanya bisa tersenyum miris mendengar seruan Minseok yang menangis.
"Aku tidak sekuat Lucas yang bisa melawan semua orang dan juga menahan rasa sakit seperti ini. Tapi dengan sekuat tenaga yang mampu aku lakukan, akhirnya aku bisa keluar dari tempat yang gelap yang mengurungku selama beberapa tahun ini."
"Jangan tinggalkan aku lagi, Luhan."
Minseok melepaskan pelukannya. Dia menghapus air matanya lalu tersenyum malu. Minseok melihat keadaan Luhan yang tidak terlihat baik. Darah terus keluar begitu banyak dari luka tembakan yang polisi berikan tubuh Luhan.
Minseok merasa bingung. Dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Perasaannya bercampur aduk tak jelas melihat keadaan Luhan yang semakin lemah. Minseok menggigit bibir bawahnya sambil berusaha berpikir mencari cara untuk menyelamatkan Luhan.
Sementara mencari cara untuk menyelamatkan Luhan, Minseok membantu Luhan berdiri dan menuntunnya untuk berjalan. Namun detik selanjutnya terdengar tembakan keras dan membuat tubuh Luhan jatuh seketika. Minseok terkejut. Dia menoleh kebelakang mendapati bebeapa polisi kini sedang menghampiri mereka berdua.
"Tidak! Ini tidak boleh terjadi."
Deru nafas Luhan mulai terdengar melemah. Wajahnya semakin memucat.
"Terima kasih telah bersama ku dalam detik ini, Minseok."
Minseok menggeleng kuat. Dia tidak terima jika Luhan pergi begitu saja. Minseok segera membantu Luhan untuk berdiri tetapi salah satu polisi langsung menarik kuat tangan Minseok untuk menjauh dari Luhan. Minseok menjerit dan meronta memohon untuk melepaskannya. Polisi itu terus menarik paksa Minseok untuk segera keluar dari gedung apartemen. Beberapa polisi lainnya langsung menangkap Luhan yang mulai lemah.
Minseok seketika ingat dengan perkataan Luhan bahwa dia tidak sekuat seperti Lucas, kemudian tanpa pikir panjang Minseok langsung menjerit memanggil nama Lucas begitu keras. Minseok berpikir bahwa jika dia memanggil Lucas dalam keadaan Luhan yang lemah tak berdaya bisa membuat Lucas kembali dalam diri Luhan. Meskipun Minseok begitu tak suka dengan Lucas, tapi hanya Lucas satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan tubuh Luhan sekarang.
"LUCAS! AKU YAKIN KAU BISA BERTAHAN!"
"LUCAS BANGUNLAH KAU BRENGSEK!"
Tubuh Luhan masih tak bisa bergerak. Pertahanannya masih melemah. Hanya suara jeritan Minseok yang terdengar samar-samar di telinganya saja yang bisa membuatnya tersenyum sebentar. Lalu beberapa detik berlalu, Lucas mulai bisa sadar dari kelemahannya. Meskipun tubuhnya sangat sakit tapi dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia bisa melawan mereka semua. Seringaian tajam mulai terlihat di wajah Lucas sekarang.
Sekuat tenaga Lucas melepaskan diri dari polisi dan mengeluarkan pisaunya dari balik jaket yang dia gunakan. Dengan sisa tenaga yang di punya, dia melawan beberapa polisi dan membunuhnya dengan cepat.
Berjalan dengan lemah sampai darah di tubuhnya menetes memberikan jejak di lantai gedung apartemen, Lucas mengejar Minseok hingga keluar dari gedung apartemen.
"Heii kau! Lepaskan Minseok!"
Semua polisi yang masih terus berjaga disana tertegun melihat Lucas yang masih bisa berjalan dengan banyak darah yang keluar dari luka tembakan yang polisi berikan. Lucas berjalan pelan mendekati arah perkumpulan polisi yang kini telah menodongkan tembak mereka pada Lucas.
Lucas langsung mengangkat kedua tangannya ke depan. Dengan cepat tangan kanannya melayangkan semua mobil polisi dan melemparnya jauh. Tangan kirinya mengayun ke semua tembak yang tengah polisi bawa dan melemparnya menjauh dari pengawasan polisi. Semua polisi terlihat diam dan terkejut dengan yang Lucas lakukan.
Salah satu polisi yang mencuri gerak dari pandangan Lucas yang membuatnya harus menerima lemparan berjarak beberapa meter jauhnya dari tempat dia berada. Semua pandangan polisi terlihat takut sekaligus terkejut dengan apa yang Lucas lakukan pada salah satu kelompok mereka.
"Lucas, cukup. Hentikan!"
Pandangan Lucas tertuju pada Minseok. Dia menatap tajam kearah Minseok. Pandangan matanya yang begitu menusuk dan dingin membuatnya terlihat menakutkan dimata Minseok sekarang. Minseok menggeleng pelan. Dia menyadari apa yang baru saja Lucas lakukan, yaitu membunuh semua polisi yang tadi menangkapnya. Mata Minseok menyipit. Di melihat ke semua polisi.
"Jangan ada yang melakukan pergerakan apapun. Untuk sekarang biarkan aku yang akan menanganinya."
Tapi di belakang sana, salah satu polisi telah memberikan aba-aba pada salah satu penembak jitu yang kini tengah berada di atas gedung sebrang yang sedang mengawasi Lucas. Polisi itu menyuruh sang penembak untuk langsung menembak Lucas jika Lucas mulai bergerak maju.
Minseok kembali melihat Lucas. Dia mengepalkan kedua tangannya untuk memberikan semangat pada diri sendirinya. Minseok berpikir, inilah saatnya aku akan menyelesaikan semuanya. Tidak akan ada lagi korban yang berjatuhan.
Minseok mulai berjalan pelan menghampiri Lucas. Suasana yang tenang tapi begitu menegangkan membuat salah satu polisi tak sabar ingin segera mengakhiri semua tragedi yang sekarang sedang terjadi. Dengan hati-hati, melalui walkie talkie, polisi itu langsung menyuruh sang penembak untuk segera menembak Lucas.
Dalam sekejap, sang penembak mulai melepaskan tembakannya tetapi tembakannya meleset dan hanya mengenai dada Lucas. Seketika Lucas langsung jatuh memegangi dadanya yang tertembak. Minseok yang terkejut segera berlari mendekati Lucas.
Minseok menoleh kesana kemari mencari pelaku yang menembak Lucas. Dengan wajah khawatir, Minseok menangis sambil memukul Lucas pelan.
"Kau tahu Lucas, aku benci melakukan hal ini. Aku ingin hidup dengan tenang tanpa ada hal mengerikan terjadi lagi dalam hidup ku seperti dulu. Aku tidak mau lagi melihat mimpi buruk ini terjadi kembali."
"Kau ingin mengakhirinya bukan?"
Suara Lucas yang terdengar serak membuat Minseok memandangnya dengan wajah tak mengerti. Lucas mengambil pisau dari balik punggungnya dan langsung menusuk perut Minseok dalam sekejap.
"Apa yang kau lakukan? Mengapa kau -?"
Kembali Lucas menusuk perut Minseok hingga Minseok tak bisa lagi merasakan apa-apa. Tubuh Minseok mulai terasa berat dan tangannya mulai berlumuran darah begitu banyak ketika memegang perutnya yang tertusuk pisau. Pandangan mata Minseok mulai kabur perlahan hingga suara tembakan yang keras membuat dirinya jatuh berguling ke tanah.
Tidak begitu jelas. Pandangan yang terlalu kabur. Namun, Minseok masih bisa melihat dengan jelas ketika tubuh Lucas mulai ambruk tanpa bisa melawan lagi. Padangannya yang kabur hanya bisa melihat warna merah pekat dari darah yang kental keluar dari kepala Lucas dan tak disangaka itu adalah hari terakhir dimana Minseok bisa melihat Lucas dalam tubuh Luhan.
Minseok yang tak kuat dengan kondisi tubuhnya kini lebih memilih menutup rapat matanya. Minseok berharap ketika dia bangun nanti, semua hal mengerikan itu hanyalah sebuah mimpi buruk yang kedua dalam hidupnya.
.
.
-Masa Lalu-
Panti Rehabilitasi Jiwa – Gilmore Blandy Erskine Carl
Dimana Minseok kini berada. Tempat yang membuat Minseok ingin keluar dari mimpi buruknya. Mimpi buruk yang berawal dari seseorang yang kini sedang dirawat di panti tersebut, Luhan.
Minseok berdiri ketika orang yang ingin dia kunjungi datang. Dia terlihat tenang tapi sebenarnya Minseok begitu cemas. Dia merasa ketakutan setiap kali melakukan kunjungannya.
Minseok kembali duduk saat Luhan mulai duduk di tempatnya. Beberapa menit mereka berdua hanya diam. Luhan terus menatap Minseok tanpa ekspresi apapun sedangkan Minseok merasa tak nyaman dengan tatapan Luhan yang terlihat begitu menakutkan.
Tidak. Itu bukan Luhan. Minseok masih begitu sadar bahwa orang yang kini sedang menatapnya adalah pribadi Luhan yang lain yang Minseok benci. Seorang Lucas yang sama sekali tidak ingin Minseok lihat keberadaanya.
Minseok merasa, Lucas pasti akan membunuhnya sewaktu-waktu jika dia telah berhasil keluar dari tempat rehabilitasinya. Dan Minseok akan terus dibayangi masa-masa kelam dimana dirinya akan terus melihat gambaran tentang kejadian ketika Lucas akan membunuhnya suatu saat nanti.
"Well..bagaimana kabar mu Luhan?"
Lucas tersenyum miring. Dia sedikit mencondongkan tubuhnya untuk bisa lebih dekat dengan Minseok.
"Lucas. Dan kabar ku baik."
Minseok berdeham pelan. Dia mengatur posisi duduknya agar merasa nyaman.
"Aku tahu kau pasti kecewa dan tentu saja kau juga marah dengan ku atas kejadian yang baru saja terjadi. Tapi ini lebih baik daripada memasukan mu ke dalam penjara. Disini tempat yang tepat untuk dirimu."
"Kau benar. Aku seharusnya berterima kasih kepada mu karena kau telah meminta jaksa serta pengacara untuk membiarkan ku membusuk di dalam tempat aneh ini."
Minseok menghela nafas berat. Sebentar dia memandang Lucas dengan mata sendunya. Minseok merindukan Luhan. Luhannya yang memiliki kepribadian hangat dan membuatnya nyaman. Minseok menahan dirinya untuk tidak menangis.
"Dulu, aku telah mengatakan kepada mu bahwa aku berharap kau tidak kecewa kepada ku, dan kau pun menjawab, kau tidak akan kecewa. Tetapi itu semua karena terbawa oleh perasaan cinta sesaat. Setelah kau mengetahuinya seperti kejadian yang telah terjadi kemarin, kau begitu kecewa dengan ku."
Lucas tertawa pelan.
"Kau sama seperti Luhan. Kalian berdua begitu bodoh. Mengapa dulu kau tidak mengatakan hal ini kepada ku? jika kau mengatakannya jauh hari sebelumnya, pasti kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi dan kau tidak akan kehilangan Luhan seperti sekarang."
Minseok hanya diam. Dia menunduk tak berani melihat Lucas. Matanya mulai berair dan sebentar lagi air matanya akan keluar.
"Aku tidak menceritakannya kepada mu karena aku yakin kau tidak akan melakukan hal itu lagi. Aku yakin juga jika kau dan Luhan bisa saling mengerti dengan keadaan kalian masing-masing. Aku merasa jika kau dan Luhan juga sudah bisa berdamai. Luhan tidak lagi membuatmu terkurung dalam dirinya."
Lucas berdiri. Dia berjalan mendekati jendela dan memasukan tangannya ke saku celana.
"Tunggulah saatnya dimana kau juga akan berada di posisi yang sama seperti teman-teman mu nanti."
"Aku tahu. Dan dari sikap bodoh ku itu yang terlalu yakin kepada mu, aku akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada teman-teman ku. Aku menantikan hal itu. Melawan mu adalah hal yang menakutkan untuk ku tapi dalam waktu yang cukup lama kau berada disini, aku bisa mempersiapkan diriku untuk melawan mu nanti."
Minseok mulai berdiri. Lucas hanya memberikan senyum manis padanya.
"Dan aku berharap jika kita bertemu kembali, aku pasti bisa membuat Luhan kembali menjadi dirinya lagi."
Minseok langsung berbalik dan berjalan keluar dari ruang kunjungan. Lucas tertawa tak suka mendengar seruan Minseok yang terdengar begitu yakin jika Minseok bisa mengeluarkan Luhan dari dinding gelap pemisah antara dirinya dan Luhan.
.
.
-Masa Kini-
Minseok membuka matanya pelan. Pandangan matanya untuk pertama kali bisa melihat warna biru langit yang cerah. Minseok tersenyum melihat putihnya awan sedang berberak lambat membentuk beberapa gumpalan empuk di langit.
"Kau sudah bangun?"
Minseok menoleh kesamping mendapati seseorang sedang duduk di sampingnya. Dia bangun dan terkejut melihat siapa yang sedang dia pandang sekarang.
"Luhan."
Orang itu, Luhan, menoleh dan melempar senyum manisnya pada Minseok. Dia mengusap pelan rambut Minseok masih dengan senyum manis yang tercetak di wajah tampannya.
Minseok mengedarkan pandangannya melihat sekitar. Hanya ada hamparan rumput hijau yang sangat luas dengan hembusan angin yang tenang. Minseok melihat Luhan yang kini tengah menutup matanya.
"Ini ada dimana?"
Luhan membuka matanya. Dia menoleh melihat Minseok dan kembali tersenyum.
"Tempat dimana aku berada sekarang. Lucas benar, dia akan membawa mu kemari."
Minseok sama sekali tak mengerti dengan apa yang Luhan katakan. Dia masih merasa bingung dimana dia berada sekarang. Apakah ini hanyalah sebuah mimpi saja? itu yang kini tengah Minseok pertanyakan pada dirinya.
Minseok tersenyum memandang Luhan yang hanya diam. Dia mendekat dan menyandarkan kepalanya di pundak Luhan.
Dalam hati Minseok berkata, jika ini memang hanya mimpi, aku tidak ingin bangun. Biarkan aku menghabiskan sisa hidup ku berada dalam mimpi indah ini bersama dengan Luhan. Aku sangat merindukan dia.
"Apa kau senang berada disini?" tanya Luhan.
Minseok mengangguk senang dan tersenyum lebar. Luhan merangkul pundak Minseok lalu mencium puncak kepala Minseok dengan lembut.
"Aku tidak akan lagi melihat mimpi buruk dalam hidup ku."
"Setidaknya kau bisa bertemu dengannya meskipun dalam mimpi."
Suara seseorang tiba-tiba terdengar. Minseok mengerutkan keningnya ketika suara yang dia dengar begitu familiar di telinganya.
Luhan tersenyum dan membantunya untuk berdiri. Dia menggandeng tangan Minseok dan membawanya berjalan menghampiri seseorang yang sedang berdiri memunggungi mereka berdua.
"Dia siapa?"
"Diriku yang lain."
Minseok semakin tak paham dengan apa yang dia lihat. Dia hanya mengikuti langkah Luhan hingga menemukan sebuah jawaban dari semua kebingungannya.
"Kalian berdua ..."
Luhan melepaskan genggaman tangannya dan berjalan mendekati dirinya yang lain. Minseok terkejut melihat Luhan dan Lucas yang kini tengah berdiri dihadapannya sekarang.
"Senang bisa melihatmu lagi, Minseok. Ini memang begitu terlambat tapi aku akan mengatakannya kepada mu. Maafkan aku. Kata maaf sepertinya memang tidaklah cukup untuk memaafkan atas semua perbuatan yang telah aku lakukan kepada semua orang, terlebih kepada dirimu. Kau adalah orang yang sudah membuat hidup ku begitu menyenangkan."
Minseok hanya tertawa mendengar ucapan Lucas. Dia mengangguk pelan mengerti apa yang Lucas katakan.
"Terima kasih pernah bersamaku, Minseok. Aku tidak akan banyak berkata. Aku hanya akan berkata bahwa aku mencintaimu."
Rona merah terlihat di kedua pipi Minseok. Dia tersenyum malu mendengar ucapan Luhan.
Luhan berjalan menghampiri Minseok. Dia merapikan rambut Minseok yang terus diterpa angin.
"Sekarang saatnya kau bisa melanjutkan hidupmu kembali tanpa ada mimpi buruk yang menghantuimu. Sudah saatnya kau kembali, Minseok."
"Apa maksudmu?"
Luhan mencium kening Minseok lembut lalu bersamaan dengan itu semua pemandangan yang dia lihat tiba-tiba menghilang dan hanya menyisakan ruang kosong dimana Minseok kini tengah berdiri sendiri.
Bunyi alarm jam membangunkan Minseok dari tidurnya. Dia terbangun dengan senyum mengembang lebar di wajahnya yang manis.
"Setidaknya aku bisa melihatmu lagi meskipun dalam mimpiku."
.
.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Minseok mulai bisa kembali dalam kehidupannya seperti dulu. Mempunyai banyak teman serta orang-orang yang menyayanginya. Minseok juga telah banyak membantu orang disekitarnya dengan menggunakan sisi supranaturalnya, yaitu psychometry.
"Tuan Kim, terima kasih telah membantu anak kami. Jika Anda tidak ada pasti anak kami telah berada dalam bahaya sekarang."
Minseok tersenyum. Dia meminum kopinya dengan tenang.
"Tapi Tuan Kim, saya begitu penasaran dengan wartawan yang meminta Anda untuk menceritakan masa lalu Anda. Siapa sebenarnya wartawan tersebut?"
Minseok melempar senyum pada dua orang tua yang duduk di depannya. Memandangnya dengan wajah penasaran.
"Dia hanyalah wartawan biasa. Tapi sebenarnya profesi asli sang wartawan itu adalah seorang penulis novel. Dia ingin membawa masa lalu ku untuk masuk ke dalam bukunya nanti."
Kedua orang tua itu mengangguk mengerti. Minseok kembali tersenyum melihat wajah lega dari kedua orang tua itu. Dia meminum kembali kopinya dan memandang keluar jendela.
Minseok melihat jam tangannya. Pukul 4 sore. Dia menaruh gelas kopinya dan berpamitan untuk segera pergi kepada kedua orang tua pemilik apartemen dimana dia tinggal sekarang. Minseok langsung melajukan mobilnya kearah pemakaman kota dimana tempat yang akan dia tuju.
Minseok menaruh bunga mawar merah di depan batu nisan seseorang. Dia tersenyum manis melihat nama yang terukir di batu nisan tersebut.
"Bagaimana caranya aku menghilangkan dirimu, jika kepergianmu justru adalah kesepianku sepanjang waktu untuk ku."
Minseok menunduk sebentar sebelum dia kembali melihat nama batu nisan itu. Dia mengelus pelan ukiran nama itu dengan wajah sendu.
"Aku bisa mencoba untuk melupakan apa yang terjadi, tapi aku tidak akan pernah bisa melupakan apa yang aku rasakan. Terutama perasaanku kepadamu, Luhan."
Minseok tersenyum miris. Bahkan dia ingin tertawa tidak tahu harus memanggil namanya dengan dua nama sekaligus atau hanya satu nama saja.
"Aku telah banyak bertemu dengan orang-orang dari berbagai kalangan, dan tidak sedikit pula orang-orang itu yang ingin menjadi kekasihku, tapi aku menolak mereka semua karena dari banyaknya orang tersebut, aku hanya ingin dirimu. I still only want you and it hurts so much to want something you can't have. Sampai sekarang aku masih merasakan hal itu."
Minseok menahan semua rasa emosionalnya. Dia terlihat ingin menangis tapi dia memilih untuk menahannya. Minseok menunduk sebentar menenangkan dirinya lalu setelah dia kembali tenang, dia tersenyum mamandang batu nisan di depannya.
Sebelum Minseok benar-benar pergi meninggalkan tempat pemakaman, dia berkata, "I love you Luhan. I love you. I have so much of you in my heart."
-Selesai-
.
.
.
Akhirnya selesai juga ff ini /tarik nafas panjang/ xD so, emm..setelah baca final chapter nya, silahkan kalian boleh nyinyirin ff ini macam gmn hahah aku terima dengan baik semua review kalian dari yang jleb bgt sampai yang bikin senyum2 sendiri krn reviewnya absurd :D
Terima kasih buat yang setia nungguin ff ini sampai selesai. Akhirnya rasa penasaran kalian akan ff ini telah terbayarkan ^^ Terima kasih juga yang udah ngefollow dan ngefav ff ini ^^ Maaf jika ending dari ff nya weird gitu xD dan /mungkin/ gag sesuai dengan apa yg udah jd 'perkiraan' kalian setelah baca dari chapter awal hingga terakhir ini :D
